Tampilkan postingan dengan label YAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YAMAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Pesawat Tak Berawak Disiapkan Beroperasi di Yaman

0


Jenis pesawat Predator yang dipakai di Irak, menurut foto dokumentasi tahun 2004. Jenis pesawat inilah yang diberitakan tengah disiapkan oleh AS untuk dipakai pula di Yaman guna memerangi salah satu sayap Al Qaeda di negeri itu.

Berita yang dilansir harian The Washington Post, Minggu (7/11), dan dikutip media-media di Timur Tengah, bahwa pesawat tempur tanpa awak AS tipe Predator dalam beberapa bulan terakhir ini telah terbang di atas teritorial udara Yaman untuk memantau gerakan Tanzim Al Qaeda sayap Jazeera al-Arab yang berbasis di Yaman, menunjukkan betapa Washington kehilangan kesabaran menghadapi ancaman AQAP.

Hal tersebut sekaligus sebagai sinyal mulai kehilangan kepercayaan Washington terhadap kemampuan Pemerintah Yaman memerangi Tanzim Al Qaeda sayap Jazeera al-Arab (AQAP). Sementara AQAP semakin mengukuhkan dirinya sebagai jaringan Tanzim Al Qaeda yang memberi fokus serangannya terhadap sasaran di AS.

AQAP, misalnya, terlibat pengiriman dua paket bom yang ditemukan di bandar udara Dubai dan Inggris (East Midlands Airport) pada 29 Oktober lalu dalam pengiriman menuju AS.

AQAP juga terlibat pengiriman pria asal Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab, yang gagal meledakkan pesawat Northwest Airlines yang mengangkut 278 penumpang saat mendarat di Detroit dari Amsterdam pada 25 Desember 2009.

Bagi AS, tidak ada pilihan lain kecuali memperlakukan Yaman seperti Pakistan. AS beberapa tahun terakhir ini telah menggunakan pesawat tempur tanpa awak untuk menggempur tempat persembunyian aktivis Tanzim Al Qaeda di wilayah suku Pakistan dekat perbatasan dengan Afganistan.

Pesawat tempur tanpa awak AS itu cukup efektif dalam berandil membunuh tokoh-tokoh Al Qaeda yang bersembunyi di wilayah perbatasan Pakistan- Afganistan, meskipun sering juga membawa korban warga sipil.

Namun, AS juga harus membayar harga mahal kepada Pemerintah Yaman, seperti halnya yang juga terjadi di Pakistan, sebagai imbalan izin pesawat tanpa awak AS itu terbang di wilayah udara Yaman.

Di Pakistan, AS membayar dengan janji bantuan dana sebanyak 5 miliar dollar AS selama lima tahun kepada pemerintahan Islamabad. Di Yaman, AS meningkatkan bantuan dana untuk pembasmian teroris kepada Pemerintah Yaman dari hanya 4,6 juta dollar AS pada tahun 2006 menjadi 155 juta dollar AS pada tahun 2010.

AS juga berniat akan meningkatkan bantuan militer kepada Yaman hingga senilai 250 juta dollar AS tahun 2011. AS bertekad pula menjual sejumlah helikopter tempur dan peralatan militer lainnya kepada militer Yaman untuk meningkatkan kemampuan aparat keamanan negara itu dalam memerangi AQAP.

Di Yaman, pesawat tanpa awak AS diberitakan belum menembakkan rudal-rudalnya, tetapi sekadar mencoba mendeteksi tempat persembunyian tokoh-tokoh AQAP, terutama tokoh sekelas Anwar al-Aulaqi dan Samir Khan (tokoh intelektual AQAP) serta komandan lapangan AQAP semacam Qasim al-Rimi dan Ibrahim al-Asiri. Akan tetapi, aksi pesawat tanpa awak AS menembakkan rudal-rudalnya di Yaman hanya menunggu situasi politik saja yang akan terjadi setiap saat pada masa mendatang.

Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengungkapkan adanya kesepakatan kerja sama keamanan antara AS dan Yaman untuk memerangi AQAP.

Menurut pejabat AS yang tak mau disebut namanya seperti dikutip harian berbahasa Arab Al Quds al-Arabi, salah satu butir dalam kesepakatan keamanan AS-Yaman itu menegaskan, pasukan AS dilarang terjun langsung di wilayah Yaman, tetapi tidak melarang pesawat tanpa awak AS menembakkan rudal-rudalnya terhadap sasaran yang telah diyakini sebagai tempat persembunyian aktivis AQAP.

AS melihat pengerahan pesawat tanpa awak di Yaman itu sebagai jalan kompromi di tengah Pemerintah Yaman masih menolak keras penyebaran langsung pasukan khusus AS dan Barat untuk memburu aktivis AQAP di negara itu.

Pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman memandang kehadiran langsung pasukan AS di negara itu akan membawa reaksi negatif di Yaman ataupun di dunia Arab, seperti halnya yang terjadi di Irak saat ini. Bahkan, sebaliknya, bisa mendorong para loyalis Al Qaeda dari negara lain datang ke Yaman untuk berjihad melawan pasukan AS, seperti halnya yang terjadi di Afganistan dan Irak selama ini.

Sumber: KOMPAS


Senin, 07 Juni 2010

AS Dituding Membantai Pakai Bom Curah

0


LONDON, KOMPAS.com - Amnesti Internasional (AI) menuding AS bertanggung jawab atas penggunaan bom curah (cluster bomb) dalam serangan di Yaman yang menewaskan 55 orang, Desember tahun lalu. Sebagian korban diketahui sebagai warga sipil.

Kelompok hak asasi yang bermarkas di London itu mengeluarkan foto-foto yang mereka katakan puing sebuah rudal Tomhawk buatan AS dan bom curah yang tak meledak. Senjata tersebut diduga digunakan dalam serangan 17 Desember 2009 terhadap masyarakat desa Al Maajala di provinsi Abyan di Yaman Selatan.

"Amunisi curah semacam itu memiliki efek sembarangan dan bom yang tak meledak mengancam jiwa dan mata pencaharian selama beberapa tahun sesudahnya," kata Mike Lewis, peneliti dari AI.

Dalam serangan tersebut, Kementerian Pertahanan Yaman menyatakan bertanggung jawab sepenuhnya tanpa menyebut peran AS. Mereka mengatakan antara 24 dan 30 gerilyawan telah tewas di tempat yang diduga kamp pelatihan Al Qaeda itu.

Tapi seorang pejabat lokal setempat mengatakan 49 warga sipil, di antara mereka 23 anak dan 17 wanita, tewas akibat serangan yang sembarangan itu. Menurut AI, sebuah komisi parlemen Yaman telah melaporkan pada Februari lalu bahwa selain 14 yang diduga gerilyawan Al Qaida Yaman, 41 warga setempat, termasuk 14 wanita dan 21 anak, tewas dalam serangan itu.

"Fakta bahwa begitu banyak korban sebenarnya wanita dan anak mengindikasikan bahwa serangan itu sebetulnya terlalu tak bertanggung jawab, terutama karena kemungkinan penggunaan amunisi curah," kata Philip Luther, wakil direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara AI.

AI menyatakan foto-foto yang mereka peroleh menunjukkan puing hancur dari rudal jelajah serangan darat Tomhawk BGM-109D. Tipe rudal ini, yang dilancarkan dari kapal perang atau kapal selam, dirancang untuk membawa muatan 166 sub-munisi (bomblet) curah yang masing-masing meledak menjadi 200 lebih pecahan baja tajam yang dapat menimbulkan luka (pada orang) hingga 150 meter jauhnya. Material pembakar di dalam amunisi itu juga menyebarkan pecahan zirconium yang membakar yang dirancang untuk membakar sasaran yang mudah terbakar di dekatnya.

Komisi parlemen Yaman itu, ketika mengunjungi tempat tersebut, mengatakan bahwa semua rumah dan isinya terbakar dan semuanya tinggal bekas furnitur. AI menyatakan mereka telah minta informasi mengenai serangan itu dari Pentagon, tapi belum menerima jawaban. Menurut AI, mereka memperleh foto-foto itu dari sumber mereka sendiri, tapi tidak mereka keluarkan sebelumnya dalam rangka untuk memastikan keasliannya dan memberi AS waktu untuk menanggapinya. AS dan Yaman sendiri belum menandatangani Konvensi mengenai Amunisi Curah, perjanjian yang dirancang PBB untuk melarang secara komprehensif senjata itu yang akan mulai berlaku 1 Agustus 2010.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 16 Maret 2010

Yaman Lancarkan Serangan Udara ke Persembunyian Al-Qaeda

0

SANAA--MI: Angkatan Udara Yaman melancarkan serangan ke tempat-tempat persembunyian Al-Qaeda. Serangan udara ini dimulai pada Minggu (14/3).

Wakil Gubernur Provinsi Abyan Selatan Saleh al-Shamsi, mengatakan tiga serangan udara diluncurkan Senin (15/3) ini. Dia mengaku tidak memiliki informasi terkait lokasi target. Sementara itu, serangan pada hari sebelumnya menewaskan dua anggota al-Qaeda dan melukai orang lain.

Departemen Pertahanan Yaman menuturkan, serangan pendahuluan pada hari Minggu lalu itu berguna untuk mencegah Al-Qaeda menyerang sebuah lokasi strategis.

Yaman, lanjutnya, telah bekerja sama dengan intelijen AS guna mendorong upaya kontraterorisme untuk memerangi meningkatnya kehadiran Al-Qaeda. Cabang Al-Qaeda di Yaman telah dikaitkan dengan upaya pemboman yang gagal di Detroit pesawat terikat pada Hari Natal.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Senin, 15 Februari 2010

Helikopter Militer Yaman Jatuh, 10 Tewas

0

SANA’A - Sebuah helikopter militer Yaman jatuh di daerah pegunungan wilayah Saada, Minggu waktu setempat. Akibat kejadian itu, 10 tentara dilaporkan tewas.

Saksi mata seperti dilaporkan AFP, Senin (15/2/2010), menyatakan helikopter jatuh di daerah yang dikuasai gerilyawan Syiah.

Halikopter jatuh di Gunung Kahlan, sebelah utara Ibu Kota Provinsi Saada. Wilayah tersebut dikenal sebagai ladang pertempuran antara gerilyawan Syiah dan tentara pemerintah selama 6 bulan terakhir.

Namun pada Kami selalu pejuang dan pemerintah menyepakati perjanjian perdamaian.

Seorang sumber menyatakan kapten pilot Letnan Kolonel Sadek Al Junaid, termasuk di antara korban tewas. Belum diketahui penyebab pasti kecelakaan.

Sumber: OKEZONE


Jumat, 12 Februari 2010

Yaman Umumkan Gencatan Senjata dengan Pemberontak Syi'ah

0

SANAA, KOMPAS.com - Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh hari Kamis mengumumkan gencatan senjata selama enam bulan dengan pemberontak Syiah. Gencatan senjata itu diumumkan dalam sebuah dekrit yang disiarkan televisi negara setempat.

"Kami memutuskan untuk menghentikan operasi militer di barat laut mulai tengah malam nanti," kata Saleh.

Pemimpin pemberontak Abdul Malak Al Huthi pun mengeluarkan perintah bagi pasukannya untuk menghentikan pertempuran di semua wolayah, saat gencatan senjata diumumkan oleh pemerintah.

"Setelah gencatan senjata ini, kami akan memproses untuk membuka kembali jalan dan pembongkaran pos pemeriksaan serta sejumlah barikade," katanya.

Saleh mengumumkan hal itu setelah sebelumnya pemerintah dan pemberontak Zaidi Syiah, yang juga dikenal sebagai Huthis, mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran.

Gencatan senjata ini dimungkinkan setelah pemberontak menerima enam kondisi yang diajukan oleh pemerintah untuk penghentian permusuhan.
Yakni, penarikan diri dari gedung-gedung pemerintah, pembukaan kembali jalan-jalan di utara, menyita senjata dari jasa keamanan, pembebasan semua tahanan, termasuk Saudi, serta meninggalkan posisi-posisi militer di pegunungan dan janji untuk tidak menyerang Arab Saudi.

Meskipun demikian, seorang pejabat kepada AFP sebelumnya mengatakan, pada hari Kamis kemarin, sebuah bentrokan masih terjadi mengakibatkan 12 tentara dan 24 pemberontak tewas di provinsi Amran utara ibukota Sanaa.

Pertempuran meletus pada hari Rabu malam di daerah Al Shamsi Burkat menyusul serangan pemberontak yang dilakukan tiba-tiba. Hal yang sama juga terjadi di Al Uqab Saada, pinggiran kota, yang menewaskan tujuh tentara dan 11 pemberontak.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin