Tampilkan postingan dengan label SINGAPORE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SINGAPORE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

LATMA MANYAR INDOPURA DI LANUD PEKANBARU

0

Guna meningkatkan kemampuan para penerbang Helikopter TNI AU dan RSAF (Republik Singapore Airforce), khususnya dalam bidang Search And Rescue, latihan bersama dengan sandi “Manyar Indopura 06/2011”, kembali digelar di Lanud Pekanbaru, Selasa (18/1).

Pada “Manyar Indopura 06/2011” RSAF melibatkan empat unit pesawat helikopter, yaitu dua helikopter Colibri dan dua helikopter Apache dengan jumlah personel sebanyak 52 orang, sedangkan TNI AU melibatkan helikopter Colibri dan didukung oleh seluruh unsur yang ada di Lanud Pekanabru. Latihan bersama Manyar Indopura yang telah dimulai sejak tahun 2009 tersebut, pada Manyar 06/2011 ini direncanakan akan berlangsung hingga 28 Januari mendatang.

Latihan rutin yang digelar setiap tahun tersebut, selain untuk meningkatkan kemampuan para penerbang kedua Negara, juga bertujuan untuk meningkatkan hubungan baik antar kedua Negara bertetangga tersebut.

Sumber: TNI AU


Kamis, 06 Januari 2011

KONFRONTASI Sepak Terjang Pasukan Katak TNI di Singapura-Johor

0

Ist

Di belahan dunia barat, Perang Korea, pada tahun 1950-1953, dikenal sebagai perang yang terlupakan (forgotten war). Di Asia Tenggara, peristiwa Konfrontasi ”Ganjang Malaysia” (1963-1966) juga menjadi perang terlupakan di antara Indonesia melawan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Persemakmuran Inggris Raya.

”Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang kala itu berpangkat kelasi dua pada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL), Selasa (4/1) di Tangerang.

Di Singapura, Iin menggelar operasi intelijen berupa agitasi, provokasi, hingga upaya sabotase. ”Saya mendatangi kelompok pemuda Tionghoa dan pemuda Melayu untuk membangun kecurigaan antara mereka. Saya menghasut kelompok melawan kelompok. Saya menyamar bekerja sebagai buruh pada taukeh Tionghoa di daerah Jurong,” kata Iin mengenang operasi intelijen tahun 1963-1965 itu.

Sambil mengantar barang dagangan berupa hasil bumi ke Singapura atau berlayar mengantar barang selundupan elektronik, celana, dan rokok dari Singapura ke Kepulauan Riau, Iin menyelundupkan bahan peledak berulang kali ke pelbagai lokasi aman di seantero Singapura.

”Saya sering kucing-kucingan dengan Es Ai Di (yang dimaksud adalah Reserse Kepolisian Singapura alias CID). Harus kasih uang suap hingga 50 straits dollar,” kata Iin yang fasih berdialek Melayu Semenanjung dan sedikit menguasai dialek Hokkian yang lazim digunakan di Singapura,

Sebelum bertugas di Kepulauan Riau, Iin melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dia melatih TNKU di kamp pelatihan milik TNI di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Anggota Kopaska menyusup ke Singapura dari pangkalan di Kepulauan Riau di sekitar Batam, Tanjung Balai Asahan, dan daerah sekitarnya. Mereka biasanya menggunakan perahu kecil dengan motor tempel dan menyamar menjadi warga setempat yang memang biasanya memiliki kerabat di Semenanjung Malaya dan Singapura.

Idjad (70), seorang kopral Kopaska asal Sulawesi Selatan, mengaku masuk ke kawasan perkotaan Singapura dan ke Johor di Semenanjung Malaya. ”Saya punya kontak agen lokal bernama Usman yang sangat pro-Indonesia. Usman tinggal di daerah Kampung Melayu. Ketika saya dan teman-teman tertangkap, dia juga ikut ditahan di Singapura,” kata Idjad, yang juga anggota Kopaska.

Idjad mengingat ketiga rekannya sesama Sukarelawan (Sukwan) Dwikora ditangkap di perbatasan Singapura-Johor di Causeway di dekat Kranji dan Woodlands. Ketika itu, para Sukwan sudah bersiap-siap mengebom pipa air yang memasok kebutuhan air di Singapura dari Johor.

Idjad pun masih teringat saat-saat terakhir ketika Sersan KKO (Marinir) Usman Djanatin akan menyeberang ke Singapura sebelum ditangkap, lalu akhirnya dihukum gantung karena mengebom pusat perbelanjaan di Orchard Road bersama rekannya yang bernama Harun. ”Dia minta dicukur kumis sebelum berangkat agar terlihat rapi,” kenang Idjad.

Ketika dibebaskan dari tahanan di Singapura setelah perjanjian damai Indonesia-Malaysia, Usman masih ditahan di Singapura. Idjad mengaku bertemu kembali dengan Usman pada tahun 1972 saat berlangsung latihan gabungan militer Indonesia-Malaysia dan Singapura. Usman tinggal di daerah Changi dan masih terlihat paranoid karena merasa selalu diawasi aparat. ”Meski begitu, dia yakin Merah Putih seharusnya berkibar di Singapura dan Malaysia,” ujar Idjad.

Seorang veteran lainnya, Liem Hwie Tek (71), asal Cirebon yang ditemui tahun lalu, mengaku, para veteran Dwikora di daerah asalnya semakin terlupakan. Liem masih menyimpan ribuan negatif foto konfrontasi di sektor Kepulauan Riau, tempatnya bertugas di seberang Singapura yang belum dipublikasikan hingga kini.

Meski peran mereka terlupakan, para veteran Konfrontasi di Indonesia bangga dan tetap yakin pada cita-cita politik Soekarno menentang neokolonialisme melalui pembentukan Malaysia kala itu.

Fakta hari ini memang membuktikan, tahun 2000-an, bentuk penjajahan baru dari imperialisme perusahaan-perusahaan asing asal negara maju memang menguasai bangsa-bangsa Asia-Afrika yang gagal membangun kemakmuran pascakolonialisme seusai Perang Dunia II. Kita pun boleh mengingat pesan Bung Karno, ”Djangan Sekali-kali Meloepakan Sedjarah”....

Sumber: KOMPAS


Rabu, 22 Desember 2010

Armabar Tidak Setuju Ekspor Pasir Laut ke Singapura

0

TANJUNGPINANG, tribunkaltim.co.id- Komandan Gugus Keamanan Laut Armada RI Kawasan Barat Kolonel Laut (P) Ari Atmaja menyatakan tidak setuju dilakukan ekspor pasir laut walaupun ada wacana melegalkannya dari pemerintah daerah.

"Secara pribadi saya tidak setuju melegalkan ekspor pasir laut, karena akan berakibat rusaknya lingkungan bahkan ada pulau yang hilang akibat pengerukan pasir laut," kata Ari saat berbicara di hadapan anggota Komisi IV DPR RI di Tanjungpinang, Selasa.

Dia mengatakan, wacana yang dilontarkan pemerintah daerah untuk melegalkan ekspor pasir laut akibat adanya indikasi pencurian bukan solusi yang baik.

"Saya rasa melegalkan karena ada aksi pencurian sangat menyedihkan," ujarnya yang mengaku menjadi komandan pasukan saat menggagalkan aksi penyelundupan pasir laut ke Singapura dari Kepri beberapa tahun lalu.

Danguskamla Armabar tersebut mengatakan, saat aksi penyelundupan pasir laut hampir tidak ada karena pola pengamanan yang dilakukan TNI AL bekerja sama dengan Singapura sangat ketat dan mendapat pengakuan internasional.

"Kalau pun ada penyelundupan masih dengan cara tradisional sehingga akan ketahuan," katanya.

Namun dia mengakui keterbatasan armada untuk melakukan pengawasan aksi pencurian pasir laut untuk ekspor tersebut.

Sebelumnya Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengakui hingga saat ini masih terjadi penggalian dan penyelundupan pasir laut ke luar negeri.

"Saya memang pernah dengar ada ekspor pasir laut," kata Kepala Dinas Pertambangan Provinsi Kepri Isdianto menjawab pertanyaan Komisi VII DPR RI di Batam, Senin (20/12).

Ia mengatakan sebenarnya, kata dia, pasir laut masih dilarang untuk diekspor, namun banyak terjadi pencurian.

Menurut dia, ketimbang maraknya pencurian, lebih baik ekspor pasir laut dilegalkan.

"Lebih bagus dilegalkan ketimbang dicuri," kata dia.

Bila ekspor pasir laut dilegalkan, kata dia, maka kontribusi untuk daerah jelas. Asalkan, pelegalan ekspor pasir di bawah satu pintu, agar memudahkan pengawasan.

Sumber: TRIBUN


Kamis, 09 Desember 2010

Wapres Sambut Positif Sekolah Penerbang Tempur

0

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Boediono menyambut positif pengaktifan kembali sekolah penerbang tempur antara RI dan Singapura.

"Wapres tersenyum dan menyambut positif gagasan pendirian kembali sekolah penerbang tempur antara Indonesia dan Singapura," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai mendampingi Wapres Boediono menerima Wakil Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean di Jakarta, Kamis.

Dalam pertemuan tertutup selama 30 menit itu, kedua wakil pemerintahan itu membahas berbagai hal terkait hubungan kedua negara di berbagai bidang terutama pertahanan dan militer.

"Ibaratnya, sekolah penerbang itu setingkat S-3 di sekolah umum, bertujuan meningkatkan kemampuan dan profesionalisme para penerbang tempur kedua negara," katanya.

Pada pembahasan lebih rinci, Purnomo mengatakan, pengaktifan kembali sekolah penerbang tempur itu akan diserahkan sepenuhnya kepada angkatan udara masing-masing negara.

"Apa yang diperlukan, materinya apa saja, bagaimana bentuk latihannya itu kan angkatan udara kedua negara yang tahu," katanya.

Usai melakukan kunjungan kehormatan kepada Wapres Boediono, Wakil PM Hean yang juga merangkap sebagai Menteri Pertahanan Singapura mengadakan pertemuan khusus dengan mitranya Menhan Purnomo Yusgiantoro di Kementerian Pertahanan.

Sekjen Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto mengatakan, sekolah penerbang tempur antara RI-Singapura didirikan pada 1999 dan telah berjalan baik.

"Namun, memang diperlukan dukungan sarana prasarana yang lebih memadai, mengingat latihan menyangkut rangkaian taktik dan teknik tempur. Semisal, kawasan "tactical air weaponary range" atau lokasi simulasi dimana terdapat sejumlah sasaran seperti landasan, perkantoran bahkan pesawat, untuk dibom dan lain-lain," katanya.

Tentang lokasi latihan yang akan digunakan, Eris mengatakan, masih dijajaki kedua negara agar sesuai dengan kebutuhan latihan.

"Yang jelas di Indonesia, mengingat Singapura kan tidak ada lahan," katanya.

Indonesia dan Singapura telah 30 tahun melakukan kerja sama latihan antara angkatan udara kedua negara dengan sandi "Elang Indopura".

Sumber: YAHOO


MENHAN: LATIHAN INDOPURA PERERAT TNI AU DAN RSAF

0


Bali - Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengemukakan, latihan bersama tahunan TNI AU dengan Angkatan Udara Singapura (RSAF) yang telah berlangsung 30 tahun dengan sandi "Indopura 2010" mempererat hubungan angkatan udara kedua negara.

"Kali ini memang sedikit istimewa karena memperingati 30 tahun kerja sama latihan yang tujuannya meningkatkan kemampuan awak tempur dan pendukung kedua angkatan udara. Antara Indonesia dan Singapura selama ini telah terjalin hubungan militer dengan militer yang baik sekali," kata Menhan di Pangkalan Udara TNI AU Ngurah Rai, Bali, Rabu.

Hadir pada latihan yang dilaksanakan sejak 12 hari lalu itu, Menhan Singapura Teo Chee Hean, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan Kepala Kepolisian Negara Indonesia Jenderal Polisi Timur Pradopo.

Selain itu turut hadir Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Imam Sufaat dan koleganya dari RSAF Marsekal Muda Ng Chee Kern.

Kedua pucuk pimpinan angkatan udara kedua negara itu tiba di landasan pacu pangkalan udara TNI AU mendahului kehadiran Menteri Pertahanan Indonesia dan Menhan Singapura.

Bila Yusgiantoro dan Teo datang memakai pesawat angkut, maka Sufaat dan Ng Chee Kern tiba memakai pesawat tempur andalan negara masing-masing, yaitu Sukhoi 30-MKI dari Skuadron Udara 11 TNI AU dan F-15SG Singapura yang berpangkalan di Australia.

Kedua pesawat tempur itu merupakan bagian dari satu "flight" berformasi pesawat tempur kedua negara yang sebelumnya mengarungi udara Pulau Bali dan sekitarnya sebelum mendarat, yang dikawal satu F-16 seri B milik TNI AU.

Bahkan beberapa manuver tempur sempat dilakukan saat kedua pucuk pimpinan kedua angkatan udara itu masih berada di dalam masing-masing pesawat tempur. Di antara manuver itu adalah teknik menikung tajam yang bisa menimbulkan gaya hingga 5 gravitasi.

Kedua negara melibatkan setengah skuadron udara pesawat tempur yang dimiliki. Indonesia mengerahkan empat pesawat tempur F-16 seri A dan dua F-16 seri B, sementara Singapura melibatkan pesawat serupa namun dari seri yang lebih muda dan canggih dari sisi avionika tempurnya, yaitu F-16 Blok 52.

Selain ketiga tipe pesawat tempur F-16 itu, deretan pesawat tempur taktis ringan F-5 Tiger II milik Angkatan Udara Singapura juga dilibatkan, sementara satu helikopter NAS-332 Super Puma dari Skuadron Udara 8 disiagakan untuk kepentingan SAR bila diperlukan.

Menurut Menhan Singapura Teo Chee Hean, kerja sama seperti ini akan ditingkatkan terus pada masa mendatang. "Kami yakin ini memberi banyak sekali manfaat bagi kedua negara serumpun ini. Apalagi perkembangan masa mendatang akan sangat dinamis," katanya.

Dalam latihan tempur "Indopura 2010" kali ini, berbagai jenis latihan dan manuver tempur dan serang dari udara ke udara dan udara ke darat dilakukan secara simultan.

Di antara materi latihan adalah teknik tempur udara "dog fight", dimana satu penyerang berusaha memusnahkan lawannya yang terbang di depan sementara sang lawan akan mati-matian melepaskan diri dari "kuncian" musuhnya di belakang.

"Kalau bisa, malah posisinya harus dibalik dari diserang menjadi menyerang. Selain itu juga materi penyergapan di udara oleh pesawat tempur yang sedang berpatroli terhadap pesawat tidak dikenal yang melanggar teritori udara," kata seorang penerbang tempur TNI AU yang terlibat dalam latihan itu.

Sedangkan latihan serang udara ke darat adalah teknik pengeboman dan penembakan beruntun terhadap satu bidang sasaran darat dari udara. Untuk yang terakhir ini, amunisi asli tidak digunakan melainkan cuma tiruannya saja.

Menurut jadwal latihan, selama delapan hari latihan itu diterbangkan dua gilir penerbangan. Akan tetapi hal itu juga tidak bisa selalu terjadi karena pertimbangan cuaca yang terkadang kurang mendukung jalannya latihan.

Selain dengan Singapura, Indonesia juga melaksanakan latihan udara serupa dengan Malaysia, Thailand, dan Filipina. Singapura sejak beberapa belas tahun lalu merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang memiliki armada angkatan udara terkuat.

Negara itu bahkan menitipkan tiga skuadron tempur dan satu skuadron latihnya di Australia dalam satu ikatan perjanjian bilateral, dengan pertimbangan keterbatasan lahan dan arena berlatih.

Jika satu pesawat terbang tinggal landas dari Bandar Udara Internasional Changi di Singapura ke arah tenggara, maka dalam hitungan kurang dari lima menit dia telah memasuki wilayah udara perbatasan negara itu dengan Indonesia.

Sumber: DEPHAN


Rabu, 08 Desember 2010

Singapura-RI Bikin Sekolah Penerbang

0


DENPASAR, 8/12 - LATIHAN INDONESIA-SINGAPURA. Lima pesawat tempur membentuk formasi di udara saat latihan bersama "Elang Indopura" di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Rabu (8/12). Latihan tempur antara Indonesia - Singapura itu untuk mempererat hubungan kedua negara yang melibatkan 5 pesawat jenis F-16 dari Indonesia sedangkan Singapura 4 pesawat F-16 dan 4 pesawat F-5. FOTO ANTARA/Edoardo/nym/Koz/mes/10.

DENPASAR, KOMPAS.com- Sebagai bentuk peningkatan kerjasama pertahanan dua negara, Indonesia dan Singapura, Rabu (8/12/2010), sepakat mendirikan sekolah untuk instruktur penerbang tempur di Indonesia. Hal itu merupakan salah satu hasil pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil PM Singapura Teo Chee Hean di Nusa Dua, Bali, Rabu (8/12) petang WITA.

Demikian disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, yang mendampingi Presiden dalam pertemuan itu, saat ditanya pers, seusai pertemuan. "Kepakatan itu akan dibahas lagi oleh masing-masing Kepala Staf TNI-AU dan KASAU Singapura," ujar Purnomo.

Staf Khusus Presiden bidang Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengaku hal itu belum dibahas. Namun, saat disebutkan bahwa hal itu disampaikan oleh Menhan kepada pers, Faizasyah mengaku akan mengeceknya lagi. "Saya akan lihat lagi dalam catatan saya," ujar Faizasyah sambil melihat-lihat buku catatannya.

Sebelumnya, Faizasyah menyatakan, dalam pertemuan Presiden dengan Wakil PM Singapura, banyak dibahas berbagai persoalan. Mulai dari peningkatan investasi Singapura di Indonesia sampai soal perbatasan laut.

Sumber: KOMPAS


Indonesia-Singapura Siap Bahas Perbatasan

0

DENPASAR, 8/12 - LATIHAN INDONESIA-SINGAPURA. Lima pesawat tempur membentuk formasi di udara saat latihan bersama "Elang Indopura" di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Rabu (8/12). Latihan tempur antara Indonesia - Singapura itu untuk mempererat hubungan kedua negara yang melibatkan 5 pesawat jenis F-16 dari Indonesia sedangkan Singapura 4 pesawat F-16 dan 4 pesawat F-5.

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan bahwa Indonesia dan Singapura siap membahas masalah perbatasan laut pada sisi selain sisi barat yang telah terselesaikan.

Usai pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean di Laguna Resort & Spa, Nusa Dua, Bali, Rabu, Faizasyah mengatakan, kedua pihak memaklumi bahwa perbatasan di sisi lain (di luar sisi barat) akan menempuh suatu proses yang berbeda karena melibatkan juga pihak Malaysia.

"Digarisbawahi memang bahwa kedua negara bergembira bahwa masalah perbatasan laut wilayah barat sudah selesai dan juga hal ini disusul dengan pertukaran instrumen ratifikasi. Ini adalah suatu hal yang positif dan tentunya kedua negara menyatakan kesiapannya untuk pada waktunya membahas perbatasan laut di sisi lainnya," jelas Faizasyah.

Pertemuan bilateral selama 30 menit itu, lanjut dia, tidak membahas secara detail tentang persoalan perbatasan karena kedua pemimpin hanya melakukan peninjauan menyeluruh mengenai isu-isu bilateral.

Kedua pemimpin antara lain membahas tentang perdagangan dan kerja sama di bidang pertahanan. "Dari keseluruhan dapat disimpulkan bahwa hubungan bilateral kedua negara dalam kondisi sangat baik," ujar Faizasyah.

Meski pihak Singapura tidak secara spesifik menyatakan komitmen peningkatan kerja sama ekonomi, Faizasyah mengatakan Presiden Yudhoyono menyampaikan imbauan bahwa sangat terbuka peluang bagi Singapura meningkatkan investasi di Indonesia karena kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik.

"Wakil Perdana Menteri Singapura sendiri telah menekankan bahwa Indonesia adalah mitra investasi yang menonjol. Sepuluh besar mitra investasi asing di Indonesia adalah Singapura," tutur Faizasyah.

Kerja sama di bidang pertahanan, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang mengikuti pertemuan bilateral tersebut mengatakan, Indonesia-Singapura telah sepakat untuk membentuk sekolah instruktur penerbang pesawat tempur yang lokasinya disetujui berada di Indonesia.

"Jadi saya kira ini satu hal yang baru yang kita sepakati dan tadi dibicarakan dengan Presiden dan saya kira itu cukup baik sekali," ujar Purnomo.

Menurut dia, hal teknis mengenai kesepakatan kerjasama itu akan dibicarakan lebih lanjut oleh kedua negara pada tingkat kepala staf angkatan udara.

Selain membahas membahas masalah bilateral, Presiden Yudhoyono dan Wakil PM Singapura juga membicarakan isu-isu regional dan global dalam konteks kerja sama G20.

Faizasyah menjelaskan kedua pemimpin juga membicarakan tentang posisi Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada 2011.

"Ada semacam kesamaan pandangan antara Presiden dan Wakil PM Singapura bahwa ASEAN telah dan tetap memainkan peranan yang sangat potensial dalam setting agenda di kawasan," ujarnya.

Faizasyah mengatakan Presiden Yudhoyono menekankan bahwa beberapa hal yang akan didorong Indonesia ketika menjabat Ketua ASEAN antara lain pembahasan isu-isu konkret seperti masalah keamanan di kawasan.

Sumber: ANTARA


LATIHAN INDONESIA-SINGAPURA

0


DENPASAR, 8/12 - LATIHAN INDONESIA-SINGAPURA. Lima pesawat tempur membentuk formasi di udara saat latihan bersama "Elang Indopura" di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Rabu (8/12). Latihan tempur antara Indonesia - Singapura itu untuk mempererat hubungan kedua negara yang melibatkan 5 pesawat jenis F-16 dari Indonesia sedangkan Singapura 4 pesawat F-16 dan 4 pesawat F-5. FOTO ANTARA/Edoardo/nym/Koz/mes/10.

Sumber: ANTARA


Rabu, 01 Desember 2010

Prajurit TNI AD – Singapura Latihan Bersama di Cipatat

0

Seorang prajurit TNI AD membidik sasaran. Latgab ini diikuti sekitar 600 prajirut, 300 prajurit SAF dan 300 TNI AD dari Brigif 13 Kostrad, Bataliyon 303 dan 321. (Foto: DETIK)

BANDUNG (Pos Kota) – Brigif 13 (kombinasi) dan perkuatannya melakukan operasi serangan dengan taktik penerobosan infanteri diperkuat satuan anoa (kompi mekanis) dan mendapat perlawanan secara maksimal dari kelompok insujensi bersenjata yang bertahan.

Demikian skenario latihan bersama TNI Angkatan Darat dengan Angkatan Darat Singapura atau SAFKAR INDOPURA ke 22 yang digelar di daerah latihan Cipatat dan Rajamandala, Bandung, Selasa (30/11).

Akhirnya, pasukan Brigif 13 (kombinas) dapat menghancurkan seluruh kekuatan kelompok Insurjensi bersenjata yang bertahan, sehingga sisa-sisa kekuatan kelompok insurjensi bersenjata yang masih hidup sebagian besar dapat ditawan dan sebagian kecil lainnya yang melarikan diri ke arah kedudukan pasukan penutup sehingga dapat ditangkap/dilumpuhkan. Secara taktis kekuatan sisa-sisa kelompok insurjensi bersenjata telah dilumpuhkan serta tidak memiliki lagi kekuatan untuk melakukan perlawanan bersenjata.

Kepala Staf Angkatan Darat ( Kasad ) Jenderal TNI George Toisutta yang didampimgi Kepala Staf Angkatan Darat Singapura Mayor Jenderal Chan Chun Sing, seusai menyaksikan langsung puncak latihan ini mengatakan, tujuan latihan bersama SAFKAR INDOPURA ini selain meningkatkan koordinasi dan kerjasama persahabatan yang lebih erat tentara kedua negara, juga untuk membangun hubungan yang baik.

”Ini latihan yang baru pertama latihan operasi lawan insurjensi yang selama ini lawan insurjensi di indonenasi merupakan tugas khusus atau dikatakan operasi khusus, tapi untuk sekarang operasi insurjensi ini bersifat umum karena selama pengalaman operasi keamanan dalam negeri lawan insurjensi ini kita gunakan sehingga ini perpaduan insurjen pada saat di pemukiman dari Angkatan Darat Singapura yaitu pertempuran kota, kalau di kita ada pertempuran jarak dekat ”, tambah Kasad.

Menurut Kasad , latihan bersama SAFKAR INDOPURA ke 22 ini merupakan salah satu metode latihan untuk meningkatkan kemampuan dan kerjasama di bidang militer yang mana kegua belah pihak sebagai unsur atau bagian dari program pertahanan kedua negara.

Pada latihan bersama ini, melibatkan 600 personil, masing 300 personil dari TNI Angkatan Darat dari Batalyon 303 dan Batalyon 321 Kostrad, dan 300 personil dari Angkatan Darat Singupara. Latihan bersama ini berlangsung sejak 21 Nopember hingga 30 Nopember 2010.

Sumber: POS KOTA


Selasa, 30 November 2010

Penerbang TNI AU-Singapura Tempur di Udara

0


JAKARTA (Pos Kota) – Pertempuran udara (Dog Fight) antara penerbang-penerbang tempur TNI AU dan RSAF baik satu lawan satu maupun satu lawan dua akan terjadi di wilayah udara Rembiga NTB.

Pertempuran tersebut dilakukan dalam Latihan bersama (Latma) dengan sandi ”Elang Indopura 16/10” antara TNI AU dengan Republic of Singapore Air Force (RSAF) di Lanud Ngurah Rai Bali, selama dua minggu.

Dalam Air Manuver Exercise (AMX) TNI AU mengerahkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, sedangkan RSAF mengerahkan pesawat jenis F-16 Fighting Falcon Blok D yang berpangkalan di Tindal Air Force Base (AFB) Australia dan F-5 Tiger.

Tujuan latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para penerbang tempur dalam melaksanakan operasi udara bersama dan kerjasama kedua negara khususnya kedua Angkatan Udara.

Sebelum pelaksanaan AMX dilakukan penerbangan Observasi pengenalan wilayah latihan dengan Route Ngurah Rai-Rembiga.

Selain F-16 TNI AU dan F-16 serta F-5 RSAF, kedua Angkatan Udara juga menyiapkan pesawat lainnya diantaranya, TNI AU juga menyiapkan pesawat F-5 Tiger II dan SU-30 MK sebagai pesawat escort dan RSAF menyiapkan F-15 SG, serta didukung pesawat angkut C-130 Hercules dan pesawat helikopter SAR SA-330 Puma.

Sebelum pelaksanaan AMX, telah dilaksanakan pula kegiatan Command Post Exercise (CPX) selama empat hari (19-22/10) di Payalebar Air Force Base Singapura.

Sumber: POS KOTA


Jumat, 12 November 2010

Singapore's C-130 upgrade makes progress

0


A major programme to upgrade the capabilities of the Republic of Singapore Air Force's 10 Lockheed Martin C-130 Hercules transports made a significant advance recently, with the redelivery of its first modified example.

Handed over by Singapore Technologies Aerospace in late September, the C-130B had undergone an extensive flight deck upgrade using technology provided by Rockwell Collins Communications.

"With this upgrade, the RSAF gains a modern digital cockpit enabling greater mission effectiveness for their C-130 fleet and providing them with access to global airspace," says Dave Nieuwsma, head of mobility and rotary wing solutions at Rockwell Collins.

The upgrade includes a new flight management system, central engine displays to replace analogue gauges, improved voice communications, digital autopilot and flight director and a digital weather radar.

Flightglobal's MiliCAS database says the air force operates five C-130H transports and five KC-130B/H tankers. "This aircraft will be on a par with the RSAF's younger fleet of C-130H aircraft in terms of mission availability," ST Aero says.

From : FG


Senin, 01 November 2010

RI-Singapura Rayakan 30 Tahun Kerja Sama Angkatan Udara

0

Kerjasama Militer Indonesia - Singapura (Foto: beritamiliter.com)

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan Indonesia dan Singapura merayakan 30 tahun kerja sama Angkatan Udara kedua negara.

Peringatan 30 tahun kerjasama Angkatan Udara ini ditandai dengan peresmian Unveiling of Archived Artefacts oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Wakasau), Marsekal Madya TNI Sukirno KS dan Chief of Staff (Air Staff) Republic of Singapure Air Force (RSAF) Air Marshall Boo Cher Mou di Singapura baru-baru ini.

Menurut Bambang Samoedro dalam siaran persnya yang diterima Jurnal Nasional, Minggu (31/10), dalam kurun waktu 30 tahun kedua Angkatan Udara telah menjalin berbagai kerjasama seperti latihan militer dan operasi udara bersama, di antaranya Elang Indopura (Pesawat tempur), Camar Indopura (Pesawat Intai) dan Manyar Indopura (Helikopter).

Menurutnya, latihan bersama Indonesia Singapura (Latma Indopura) ini, selain meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, juga dapat meningkatkan kemampuan para personel kedua angkatan udara dalam mengasah kemampuan taktik dan teknik operasi udara sesuai dengan Standart Operation Procedure (SOP) yang berlaku.

Pada kesempatan tersebut, kata Bambang, diadakan Command Post Exercise (CPX) Elang Indopura antar TNI AU dan RSAF, sedangkan Air Maneuver Exercise (AMX) akan dilaksanakan di Lanud Ngurah Rai Bali akhir November mendatang.

Sumber: JURNAL


Jumat, 15 Oktober 2010

PT PAL Serahkan Kapal Pesanan Singapura

0

INILAH.COM, Jakarta - PT PAL Indonesia menyerahkan kapal double skin bulk carrier 50.000 DWT pesanan Azurite Invest Ltd, British Virgin Island, Singapura.

Kapal-kapal tersebut di hari ini dikenal dengan nama STAR 50. "Ini bentuk dari kepercayaan pasar terhadap industri galangan kapal nasional, khususnya PT PAL," kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam siaran pers Kementerian BUMN, Jumat (15/10).

Sejak tahun 1980, PT PAL telah menyelesaikan kapal lebih dari 230 kapal, dengan berbagai ukuran dan jenis, seperti kapal niaga, dan kapal perang. Kapal dengan nama STAR 50 merupakan hasil rancangan dan rakitan putra-putri bangsa Indonesia yang merupakan produk unggulan PT PAL untuk pasar Internasional.

Kapal itu merupakan yang kesembilan dari kelas kapal Double Skin Bulk Carrier 50.000 DWT yang diekspor ke berbagai negara, di antaranya 4 unit ke Hong Kong, 2 unit ke Jerman, 2 unit ke Turki, dan 1 unit ke Singapura.

Spesifikasi kapal tersebut antara lain panjang keseluruhan 189,840 Meter, panjang di antara garis 182,516 Meter, lebar 30,50 meter. Serah terima kapal tersebut disaksikan oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar dan bertempat di Dermaga Divisi Kapal Niaga PT PAL Surabaya.

Sumber: INILAH


Rabu, 13 Oktober 2010

Menteri Pertahanan Cina Membahas Hubungan Dengan Indonesia Dan Singapura

0

HANOI, Oktober 12 (Xinhua) - Penasihat Negara Cina dan Menteri Pertahanan Liang Guanglie bertemu dengan menteri pertahanan Indonesia dan Singapura Selasa di sela-sela Rapat hubungan militer bilateral ASEAN pertama Menteri Pertahanan-Plus (ADMM-Plus).

Pada pertemuan dengan Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro, Liang mengatakan militer Cina berdiri siap untuk bekerja sama dengan militer Indonesia untuk memperluas kerjasama dan mengangkat hubungan militer bilateral yang lebih modern.

Purnomo mengatakan Indonesia ingin memperkuat kerjasama dengan China dalam konsultasi pertahanan, pelatihan militer, bantuan kemanusiaan dan isu-isu regional dan internasional lainnya.

Ketika pertemuan dengan Singapura Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Teo Chee Hean, Liang mengatakan Cina dan Singapura mengalami kemajuan dalam kerjasama pertahanan dalam dua dekade terakhir.

China bersedia untuk memperkuat pertukaran dan berkoordinasi dengan Singapura dalam kerangka ADMM-Plus dan berkontribusi untuk perdamaian dan stabilitas regional.

Teo mengatakan Singapura dan China telah mendorong kerjasama dalam pertukaran militer yang lebih maju, dialog kebijakan dan bidang lainnya dalam beberapa tahun terakhir.

Singapura diharapkan kedua belah pihak untuk memperkuat pemahaman dan kepercayaan untuk memperluas kerjasama, dan terus memajukan hubungan militer bilateral, katanya.

Sumber: Xinhua / MIK


Kamis, 02 September 2010

Perjanjian RI-Singapura Belum ke Daerah

0

Pulau Nipah

BATAM, KOMPAS - Koordinat yang disepakati dalam perjanjian batas wilayah laut antara Indonesia dan Singapura untuk segmen barat belum turun sampai aparat di lapangan meski secara resmi perjanjian itu berlaku per Senin (30/8). Sampai Rabu, batas yang sudah menjadi kepastian hukum tersebut belum menjadi acuan satu pun lembaga terkait di daerah.

Perjanjian batas wilayah laut antara Indonesia dan Singapura di bagian barat disepakati kedua negara dan ditandatangani di Jakarta, 10 Maret 2009. Namun, secara resmi, perjanjian tersebut baru berlaku mulai Senin saat Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan Menteri Luar Negeri Singapura George Yong Boon Yeo melakukan tukar-menukar instrumen ratifikasi di Singapura.

Sehubungan dengan pelaksanaan di lapangan, minimal ada empat lembaga yang terkait langsung di Kepulauan Riau karena memiliki tugas kepatrolian di laut. Mereka adalah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Polisi Perairan, Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), serta Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP).

Saat dihubungi, masing-masing pimpinan di daerah belum mendapat tembusan hasil perjanjian. Komandan Pangkalan TNI AL Batam Kolonel Iwan Isnurwanto dan Direktur Polisi Perairan Kepolisian Daerah Kepri Ajun Komisaris Besar M Yassin Kosasih, yang dihubungi terpisah, menyatakan, masing-masing belum mendapat koordinat yang telah disepakati dalam perjanjian tersebut. Untuk itu, keduanya masih menunggu informasi dari markas besar institusinya masing-masing.

”Saya belum dapat. Jadi, kami masih tunggu dari Mabes Polri. Tetapi, sebelum ada tembusan dari Mabes pun tidak ada masalah. Selama ini kami melakukan patroli dengan mengacu peta hidros yang dikeluarkan TNI AL. Di situ jelas di mana jalur internasionalnya,” kata Yassin.

Kepala KPLP Batam Agusman juga mengatakan pihaknya belum mendapatkan informasi tentang hasil perjanjian. Demikian pula dengan Kepala Satuan Kerja PSDKP Batam Yulisbar.

”Sampai sekarang kami belum dapat. Paling informasinya ke kantor pusat dulu baru ke kami,” kata Agusman.

Garis perbatasan di segmen barat berada di antara Pulau Nipa di Kepulauan Riau dan Tuas di Singapura. Mengacu siaran pers yang dikeluarkan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Singapura, garis batas wilayah Indonesia ditarik dari empat titik koordinat, yakni 1 (1’10’46.0” LU dan 103’40’14.6” BT), 1A (1’11’17.4” LU dan 103’39’38.5” BT), 1B (1’11’55.5” LU dan 103’34’20’4” BT), serta 1C (1’11’43.8” LU dan 103’34’00.0” BT).

Dua Besar RI untuk Singapura Wardana menyatakan, semestinya hasil perjanjian bisa segera diturunkan dari kementerian yang terlibat dalam perundingan teknis ke jajaran di bawahnya. Kementerian yang terlibat antara lain Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral, Mabes TNI, serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional.

Sebagaimana dikemukakan Marty seusai tukar-menukar instrumen ratifikasi di Singapura, Senin, penetapan garis batas tersebut akan mempermudah aparat keamanan dan pelaksana keselamatan pelayaran dalam menjalankan tugasnya. Hal itu juga akan menjadi faktor yang semakin meningkatkan kerja sama bilateral RI dengan Singapura.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 31 Agustus 2010

Batas Laut Barat RI-Singapura Mulai Berlaku

0

Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa (tengah) dan Menteri Luar Negeri Singapura George Yong Boon Yeo (kiri) seusai melakukan pertukaran instrumen ratifikasi perjanjian batas wilayah laut negara Indonesia-Singapura segmen barat di Singapura, Senin (30/8). Dengan langkah tersebut, perjanjian batas antara Pulau Nipa di Kepulauan Riau dan Tuas di Singapura resmi mulai berlaku.

SINGAPURA, KOMPAS Hasil perjanjian batas laut wilayah negara antara Indonesia dan Singapura di bagian barat mulai berlaku Senin (30/8). Hal ini ditandai dengan pertukaran instrumen ratifikasi yang dilakukan di Singapura oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan Menteri Luar Negeri Singapura George Yong Boon Yeo.

Pertukaran instrumen ratifikasi merupakan proses normatif dalam perjanjian internasional. Ini merupakan syarat untuk diberlakukannya perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya.

Dalam hal batas laut wilayah barat, pihak Indonesia dan Singapura telah menandatangani perjanjian di Jakarta, 10 Maret 2009.

Batas laut bagian barat yang dimaksud adalah antara Pulau Nipa di Kepulauan Riau dan Tuas di Singapura. Dasar yang digunakan kedua negara dalam menetapkan garis batas adalah Konvensi Hukum Laut 1982 di mana kedua negara adalah pihak yang berkonvensi.

Marty menyatakan, arti penting dari pertukaran instrumen ratifikasi tersebut adalah adanya kepastian hukum di antara kedua negara tentang batas wilayahnya masing-masing.

Hal itu sekaligus menjadi dasar kuat bagi kedua negara untuk meningkatkan kerja sama bilateral untuk pengelolaan kawasan perbatasan. Di antaranya adalah hal yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam.

”Pertukaran instrumen ratifikasi ini merupakan puncak dari proses yang sudah bergulir sejak tahun 2005 dengan delapan kali pertemuan. Hasilnya adalah sebuah kesepakatan yang sudah dicapai pada tahun 2009,” kata Marty.

George menyatakan, pertukaran instrumen ratifikasi tersebut menjadikan hubungan RI-Singapura yang selama ini telah baik menjadi semakin baik. ”Karena posisi kedua negara menjadi jelas,” kata Yeo.

Kedua menlu juga bersepakat untuk segera memulai perundingan batas laut wilayah di bagian timur, yakni Batam-Changi dan Pulau Bintan-Pulau Pedra Branca. Namun, sebagaimana dikemukakan George, pertama-tama yang akan menjadi fokus adalah Batam-Changi.

Sengketa dengan Malaysia

Persoalan batas antara Pulau Bintan dan Pulau Pedra Branca baru akan dibicarakan setelah ada kesepakatan soal Batam-Changi. Ini mengingat Pulau Pedra Branca masih menjadi sengketa antara Malaysia dan Singapura. Terkait hal itu, RI masih harus menunggu.

Selain pertukaran instrumen ratifikasi, kedua menteri juga menandatangani joint submission letter (semacam pernyataan bersama) untuk disampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal yang disampaikan adalah soal perjanjian batas barat itu sendiri.

Perjanjian antara Indonesia dan Singapura tentang penetapan garis batas laut wilayah ditandatangani pada 25 Mei 1973, tetapi belum semuanya disepakati. Baru pada 2005 perundingan dimulai kembali. Untuk perjanjian tentang batas bagian barat ditandatangani di Jakarta, 10 Maret 2009.

Kedua menlu juga membahas tindak lanjut dari kesepakatan di tingkat kepala pemerintahan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu Perdana Menteri Lee Hsien Loong di Singapura, 17 Mei 2010.

Dalam kesempatan itu disepakati juga pembentukan enam kelompok kerja yang meliputi bidang tenaga kerja, agribisnis, pariwisata, pertumbuhan ekonomi Batam-Bintan-Karimun dan kawasan ekonomi khusus lainnya, investasi, serta perhubungan udara.

Sehubungan dengan hal tersebut, kedua menlu juga sepakat mengadakan pertemuan informal dan formal enam bulan sekali. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi perkembangan hubungan bilateral terkait kinerja enam kelompok kerja tersebut.

Sumber: KOMPAS


Senin, 30 Agustus 2010

RI-Singapura Sepakati Garis Batas Laut di Selat Singapura

0

ilustrasi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa hari ini, Senin 30 Agustus 2010 bertolak ke Singapura untuk melakukan pertukaran Piagam Pengesahan Perjanjian tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah Indonesia-Singapura di bagian barat Selat Singapura dengan Menteri Luar Negeri Singapura, George Yong-Boon Yeo.

Pada kesempatan ini, Menteri Luar Negeri Kedua Negara juga meneken Joint Submission Letter untuk mendepositkan perjanjian tersebut kepada Sekretaris Jenderal PBB.

Seperti dilansir dari Situs Resmi Kementerian Luar Negeri, perjanjian tersebut merupakan hasil dari delapan putaran perundingan antar kedua negara sejak tahun 2005. Dengan dilakukannya pertukaran piagam ini, perjanjian berlaku mulai hari ini.

Adapun garis batas laut wilayah yang disepakati dalam perjanjian ini adalah kelanjutan dari perjanjian Indonesia-Singapura sebelumnya, yaitu tanggal 25 Mei 1973. Penetapannya dilakukan berdasarkan Konvensi Hukum Laut 1982. Dalam menentukan garis batas laut wilayah ini, Indonesia menggunakan referensi titik dasar (basepoint) Indonesia di Pulau Nipa serta garis pangkal kepulauan Indonesia (archipelagic baseline) yang ditarik dari Pulau Nipa ke Pulau Karimun Besar.

Tim Teknis Perunding batas maritim Indonesia kali ini terdiri atas instansi lintas sektoral terkait yaitu Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Mabes TNI, Mabes TNI AL, Dinas Hidro-Oseanographi TNI AL, serta Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Tim juga memperoleh masukan dari Tim Pakar yang terdiri dari para pakar dan akademisi.

Dengan selesainya batas laut wilayah pada segmen barat ini, maka masih terdapat segmen timur 1 dan timur 2 yang perlu dirundingkan. Segmen timur 1 adalah di wilayah Batam – Changi dan segmen timur 2 adalah wilayah sekitar Bintan-South Ledge/Middle Rock/Pedra Branca yang masih menunggu hasil negosiasi lebih lanjut dengan Malaysia.

Sumber: TEMPO


Rabu, 25 Agustus 2010

Latma TNI AU-Singapura Digelar di Lanud Pekanbaru

0

PEKANBARU (Pos Kota) – Guna meningkatkan kemampuan para penerbang helikopter kedua Negara, khususnya dalam bidang Search And Rescue, latihan bersama (Latma) dengan sandi “Manyar Indopura 05/2010” antara TNI Angkatan Udara (TNI AU) dengan Republic Of Singapore Air Force (RSAF) kembali digelar di Lanud Pekanbaru, Riau.

Pembukaan latihan secara resmi dilaksanakan oleh perwakilan kedua Negara, yakni Kolonel Pnb Emir Panji Darmawan dari TNI AU sekaligus selaku Direktur Latihan dan LTC Mun Kok Shing dari RSAF serta dihadiri oleh Komandan Lanud Pekanbaru, Kolonel Pnb Nanang Santoso.

Pada “Manyar Indopura 05/2010” RSAF melibatkan empat unit pesawat helikopter, yaitu helikopter Colibri dan helikopter Apache dengan jumlah personel sebanyak 45 orang, sedangkan TNI AU melibatkan helikopter Colibri. Latihan bersama yang telah dimulai sejak tahun 2009 tersebut direncanakan akan berlangsung hingga 2 September yang akan datang.

Selain meningkatkan kemampuan para prajurit kedua Negara, tentunya pelaksanaan latihan bersama ini juga bertujuan untuk meningkatkan hubungan baik antar kedua Negara bertetangga tersebut.

Sumber: POS KOTA


Rabu, 11 Agustus 2010

Militer RI-Singapura Luncurkan Radar Surpic 2

0

radar Surveillance Picture(Foto: DEFENSE STUDIES)

JAKARTA--MI: TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Singapura meluncurkan radar Surveillance Picture (Surpic) 2 untuk memantau keamanan laut di wilayah kedua negara, terutama di Selat Malaka.

Peluncuran radar itu disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Agus Suhartono dan Kepala Staf Angkatan Laut Singapura Laksamana Muda Chew Men Leong, di Mabes TNI Angkatan laut di Cilangkap, Jakarta, Selasa (10/8).

Di sela-sela peluncuran itu diadakan demo yang diskenariokan ada dua insiden di tempat yang berbeda.

Insiden pertama, diskenariokan kapal kargo Singapura MV Sanuki pada 10 Agustus 2010 pukul 08.00 waktu setempat pada posisi 01 14.36N 104 09.20E yang mendekat wilayah Indonesia dengan kecepatan tinggi yang terdeteksi Information Fusion Centre (IFC).

Laporan yang diterima "Surpic 2" diterima Puskodal Batam yang juga dimonitor Mabes TNI Angkatan Laut, yang langsung ditindaklanjuti dengan mengerahkan KRI Boa-807 untuk melakukan penyelidikan.

Beberapa waktu kemudian terjadi insiden kedua, yakni kapal tanker MV Laut Adriatik berbendera Liberia melaporkan telah mendeteksi sebuah perahu mencurigakan mendekati kapal pada 10 Agustus 2010 pukul 08.30 waktu setempat pada posisi 01 09.27N 103 42.38E.

IFC kemudian melaporkan melalui "Surpic 2" yang diterima Puskodal Batam dan diteruskan ke Satgas Keamanan Laut (MSTF) Singapura dan ditindaklanjuti dengan mengerahkan kapal Angkatan Laut Singapura RSS Dauntless.

Radar "Surpic 2" itu dapat difungsikan secara maksimal oleh TNI AL dan RSN pada medio Desember 2010.

"Surpic" merupakan instrumen atau instalasi elektronika radar modern yang dapat memonitor perkembangan situasi di perairan Selat Malaka secara real time.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Selasa, 10 Agustus 2010

Pemerintah Makassar Promosi Wisata ke Tentara Singapura

0

Republic Singapura Ship (RSS) Tenacious

TEMPO Interaktif, Makassar - Kunjungan dua kapal perang Singapura ke Kota Angin Mamiri, hari ini, dimanfaatkan Pemerintah Kota Makassar untuk mempromosikan wisata di daerah ini. Dinas pariwisata memperkenalkan beberapa obyek wisata andalan Sulawesi Selatan seperti Tana Toraja, dan Tanjung Bira Kabupaten Bulukumba.

"Kami sudah membagikan brosur. Semoga setelah mereka pulang bisa mempromosikan ke keluarga mereka di Singapura," kata Rusmayani Madjid, Kepala Dinas Disbudpar Kota Makassar.

Ada dua kapal perang Singapura yang berlabuh di pelabuhan Peti Kemas Makassar sekitar pukul 09.00 Wita yaitu Republic Singapura Ship (RSS) Tenacious dengan komandan kapal LTC Chong Keng Shin, dan RSS Vigour dengan komandan kapal LTC Tung Kong Seng.

RSS Tenacious memiliki panjang 114,8 meter, lebar 16 meter, dan berat kapal 3.200 meter, serta kecepatan 27 knot. Dan RSS Vigour sepanjang 62 meter, lebar 8,2 meter, berat kapal 600 ton, dan kecepatan 24 knot. RSS Tenacious membawa 70 orang, dan RSS Vigour 46 orang.

Menurut Kapten Laut Imam Danu Pranoto dari Lantamal Makassar, kedua kapal perang tersebut berlabuh di Makassar untuk kepentingan bekal ulang logistik setelah melakukan latihan bersama TNI Angkatan Laut di perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya, Laut Jawa dan Selat Singapura.

"Rencananya kapal ini akan berlabuh selama tiga hari," kata Imam Danu.

Dia mengatakan, pada hari ketiga komandan kapal perang Singapura tersebut akan bertemu dengan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. "Mungkin pada agenda itu, mereka bisa menjelaskan lebih jauh mengenai perjalanannya," katanya.


Sumber: TEMPO




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin