Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UAV. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

UAV Sriti Sudah Diproduksi Tetapi Belum Digunakan TNI

0

Pesawat Tanpa Awak Buatan BPPT.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, alat utama sistem persenjataan (Alutsista) produksi dalam negeri sudah 99,7 persen diserap oleh TNI. Dia mengatakan, penggunaan alutsista lokal akan terus dimaksimalkan oleh pemerintah. "Penyerapan secara overal untuk 2010 itu 99,7 persen," kata Purnomo di Mabes TNI, Cilangkap, Rabu (19/1).

Dia mengingatkan, produsen Alutsista lokal mampu memenuhi standar yang ditetapkan oleh TNI. Oleh karenanya, setiap Alutsista harus melalui uji coba. "Saya cukup puas, beberapa sudah dipakai, beberapa lagi masih uji coba, karena harus ada kepastian sebelum dipakai di lapangan," kata Purnomo.

Dia mengatakan, pihaknya ingin mendorong industri Alutsista nasional, namun mereka juga harus bisa memenuhi dan memperbaiki standar. Terkait modal bagi Alutsista nasional, Purnomo mengatakan, pihaknya hanya pemakai Alutsista. "Tapi, kami juga ingin memberi dukungan. Caranya, kita beri kesempatan bagi para pemakai produk mereka," katanya. Mengenai masalah korporasi, hal itu diatur Kementerian BUMN.

Dalam kesempatan sama, Chief Engineering produk Pesawat Tanpa Awak (PUNA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) M Dahsyat mengatakan, pesawat tanpa awak dengan nama Sriti sudah diproduksi BPPT sejak 2003, namun belum digunakan oleh TNI.

"TNI nanti akan menggunakan, sekarang kita sedang terus uji coba," kata Dahsyat. Dia mengatakan, PUNA produksi BPPT harganya bisa 20-40 persen dari harga produk sejenis produksi luar negeri. Satu paket produk Sriti ini berharga sekitar Rp 3 miliar sebanyak tiga unit.

Sumber: REPUBLIKA


Senin, 03 Januari 2011

Amerika Gelar Satu Pesawat Intelijen Terbaru di Afghanistan

0

Gorgon Stare

WASHINGTON--MICOM: Militer Amerika Serikat berencana mengggelar satu pesawat intelijen baru di Afghaistan yang menurut para pakar militer akan memungkinkan pasukan AS memantau medan operasional jauh lebih luas ketimbang sebelumnya, kata surat kabar Washington Post, Minggu (2/1).

Surat kabar itu memberitakan sistem pengintaian udara itu disebut Gorgon Stare dan akan dapat mengirim gambar video langsung tentang gerakan fisik di seluruh satu kota.

Pada 2010, 711 tentara internasional tewas di Afghanistan, kata laman internet ICasualties. Ini jumlah korban tewas tahunan tertinggi sejak perang itu dimulai 2001.

Sistem itu terdiri atas sembilan kamera video yang ditempelkan di pesawat dikendalikan dari jarak jauh yang dapat mengirim 65 gambar langsung pada pasukan di lapangan atau kepada para analis yang melacak gerakan-gerakan musuh.

Tidak sama dengan itu, pesawat-pesawat Angkatan Udara yang sekarang membuat video dari satu kamera di satu daerah sempit seluas satu atau dua gedung.

"Gorgon Stare akan menyoroti seluruh satu kota. Jadi sama sekali tidak diketahui musuh tentang apa yang kita intai dan kita dapat melihat segalanya," kata surat kabar itu mengutip Mayjen James Poss, asisten wakil kepala staf Angkatan Udara untuk urusan intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

Ada sekitar 140.000 tentara internasional yang memerangi gerilyawan Taliban di Afghanistan. Sekitar dua pertiga pasukan ini dari Amerika Serikat. (Ant/OL-5)


Iran 'tembak pesawat pengintai Barat'

0

Iran mengklaim sudah banyak pesawat pengintai Barat yang ditembak

Seorang komandan senior Iran dikutip mengatakan, Pasukan Pengawal revolusi Iran menembak jatuh dua "pesawat mata-mata Barat" di kawasan Teluk.

"Banyak" pesawat pengintai Barat lain juga sudah ditembak jatuh dalam periode waktu yang tidak disebutkan, demikian komandan itu dikutip kantor berita Fars.

Tetapi perwira itu, Kepala Angkatan Udara Pasukan Pengawal Revolusi Amir Ali Hajizadeh, tidak memberikan bukti yang mendukung pernyataannya.

Dia mengatakan ini merupakan pertama kalinya berita mengenai insiden seperti itu dilaporkan.

Pesawat-pesawat pengintai itu sebagian besar digunakan di Irak dan Afghanistan tetapi juga terjadi "sejumlah pelanggaran di kawasan kita", kata Hajizadeh.

Pasukan Pengawal Revolusi Iran didirikan menyusul revolusi Islam tahun 1979 dan para komandannya sering menyampaikan berbagai peringatan kepada Israel.

Bulan Agustus lalu Iran mengumumkan pesawat pengintai baru yang dilaporkan dibuat di dalam negeri untuk pertama kalinya yang bernama Karrar.

Pesawat tak berawak itu dilaporkan bisa terbang sejauh 1.000 kilometer dan bisa mengangkut bom seberat 115 kg.

Tidak ada verifikasi independen terhadap klaim terbaru Iran itu.

Sumber: BBC INDONESIA


Minggu, 12 Desember 2010

PUNA Sriti, Pesawat Tanpa Awak Karya Dalam Negeri

0



Sebagai negara maritim, kedaulatan Negara menjadi hal yang wajib untuk diperjuangkan. Apalagi berhubungan dengan daerah perbatasan wilayah dengan Negara tetangga maupun batas teritorial. Namun, wilayah yang luas itu memiliki risiko tersendiri dari segi pe...

Sebagai negara maritim, kedaulatan Negara menjadi hal yang wajib untuk diperjuangkan. Apalagi berhubungan dengan daerah perbatasan wilayah dengan Negara tetangga maupun batas teritorial. Namun, wilayah yang luas itu memiliki risiko tersendiri dari segi pengamanannya. Berkaitan dengan latar belakang pengawasan keamanan tersebut, para ahli di BPPT membuat sebuah pesawat tanpa awak yang bertujuan sebagai pendukung pertahanan keamanan nasional dan pengintai teroris. Pesawat ini dibuat untuk mempermudah kerja TNI sekaligus menghemat biaya pengawasan terhadap wilayah Indonesia.

Kegiatan Rancang Bangun PUNA ini masih dilanjutkan dengan pengembangan PUNA tipe Sriti dengan bobot 6,5 kg dan luas jangkauan 10 km. Pada prinsipnya PUNA seperti layaknya pesawat komersil biasa. Hanya saja ukurannya tidak sama. Kemampuan terbang dan daya tembus PUNA terhadap cuaca buruk pun sebenarnya sama saja. Pengoperasian dalam jangka waktu yang sangat lama dapat meliputi patroli rutin perbatasan negara, patroli kelautan, pengamatan lalu lintas, dan lain-lain.

Sriti berbahan bakar metanol seperti yang dipakai di pesawat aeromodelling. Jarak pengendalian maksimum Sriti adalah 45 km. Pengendalian pesawat menggunakan ground control station (GCS). GCS terdiri dari remote control yang digunakan saat lepas landas dan mendarat. Saat di udara, Sriti bergerak autonomus, sesuai titik-titik yang telah ditentukan di komputer.

Sumber: TEMPO


Jumat, 10 Desember 2010

Israel Kirim Pesawat Mata-mata ke Rusia

0

illustrasi

MOSKWA, KOMPAS.com — Israel telah mengirim sejumlah pesawat mata-mata ke Rusia, dalam pengiriman pertama pesanan Rusia.

Menurut kantor berita Interfax, Jumat (10/12/2010), Moskwa berusaha untuk merevitalisasi angkatan udaranya yang merosot.

Pengiriman pesawat itu ditujukan untuk mendorong kemampuan dalam mengumpulkan data intelijen Rusia.

Perjanjian pembelian pesawat mata-mata Israel senilai 550 juta dollar AS tersebut ditandatangani tahun lalu.

"Semua pesawat mata-mata itu ditetapkan melalui kontrak yang telah dikirim ke Kementerian Pertahanan Rusia. Satu kelompok perwira Rusia telah menjalani pelatihan dalam penggunaan peralatan itu," kata sebuah sumber diplomatik militer yang tak disebutkan namanya, Kamis, seperti dikutip Interfax.

Perang lima hari Rusia dengan bekas republik Soviet, Georgia, pada 2008 telah menyingkap sistem intelijen dan komunikasinya yang buruk.

Perjanjian dengan Israel untuk meningkatkan Angkatan Udara Rusia itu merupakan bagian dari penjualan yang memperoleh persetujuan Moskwa untuk mengalihkan penjualan sistem rudal pertahanan udara S-300 Rusia ke Iran, menurut kawat diplomatik AS, yang dipublikasikan WikiLeaks.

Rusia telah membekukan pesanan rudal permukaan-ke-udara itu ke Iran awal tahun ini, dengan menyebut putaran baru sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Teheran karena aktivitas nuklirnya yang seperti bayangan.

Rusia menyatakan, mereka ingin membeli pesawat mata-mata Israel untuk mengetahui konstruksi dan teknologinya.

Sebuah sumber industri pertahanan Israel mengatakan kepada Reuters, Kamis, bahwa pengiriman itu merupakan hasil dari perjanjian yang ditandatangani satu setengah tahun lalu.

Wakil Menteri Pertahanan Rusia Vladmir Popovkin sebelumnya mengatakan, Rusia telah mempertimbangkan 14 pesawat mata-mata Israel dalam pesanan pertamanya.

Pada Oktober Rusia memesan dua kali lipat jumlahnya dari pesanan April lalu untuk satu set pesawat mata-mata lainnya.

Beberapa pengamat mengatakan, Angkatan Udara Rusia membutuhkan kira-kira 100 pesawat pengintai bagi pengumpulan data intelijen efektif jika terjadi konflik militer.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 05 Desember 2010

Pesawat Mata-mata AS Pulang ke Bumi

0

X-37B milik NASA

INILAH.COM, Jakarta- Pesawat tak berawak pertama AS mendarat ke bumi setelah perjalanan 7 bulan. Sebelum diambil alih pihak militer, X-37B ini milik NASA. Kabarnya pesawati ini menyimpan rahasia.


Tujuan keberangkatan X-37B tetap menjadi rahasia meskipun telah menyentuh tanah di Pangkalan Udara Vandenberg, California, 130 mil sebelah barat laut Los Angeles. Pesawat ini diluncurkan dengan roket Atlas 5 dari Cape Canaveral, Florida pada 22 April.

Dengan durasi misi maksimal 270 hari, pesawat itu diduga sebagai perangkat mata-mata yang canggih. Juga dikenal sebagai Kendaraan Uji Orbital, pesawat Boeing itu dibangun awalnya untuk proyek NASA sebelum diambil alih oleh militer.

Jeremy Eggers, juru bicara pangkalan udara Vandenberg mengatakan bahwa kesuksesan pendaratan pesawat itu sangat menarik. Rencananya, X-37B akan kembali ke luar angkasa tahun depan.

Eggers tidak mengatakan isi di dalam kargo pesawat tersebut namun menegaskan bahwa tujuan utama dari misi itu adalah hanya menguji pesawat.

Sebelumnya, teori marak muncul terkait peluncuran pesawat rahasia. Beberapa ahli menyebutkan bahwa pesawat itu merupakan upaya Amerika untuk mendominasi sistem militer di ruang angkasa.

Di sisi lain, pejabat AS hanya merilis gambaran umum dari tujuan misi itu termasuk pengujian alat, navigasi, kontrol, perlindungan termal dan operasi otonom saat meluncur dan pendaratan. Ratusan juta dolar telah dihabiskan untuk program itu. Namun, biaya total belum dirilis.

Sumber: INILAH


Kamis, 02 Desember 2010

Indonesia Antisipasi Perang Robotik

0

UAV Buatan Israel

Jakarta, Kompas - Mengikuti perkembangan teknologi yang ada dewasa ini, TNI memandang penting perkembangan teknologi alat utama sistem persenjataan robotik, seperti pesawat terbang tanpa awak, pesawat udara nirawak, unmanned aerial vehicle untuk udara, remotely-operated vehicle untuk darat, dan unmanned underwater vehicle untuk bawah air.

Kol Achmad Djamaludin yang mewakili Asisten Perencanaan Umum Panglima TNI menyampaikan hal itu dalam Lokakarya Komisi Teknis Pertahanan-Keamanan Dewan Riset Nasional (DRN) di Jakarta, Selasa (30/11).

Selain memang menjadi tren dalam peperangan, TNI pun merasakan adanya kebutuhan untuk memiliki peralatan jenis robotik, juga menguasai teknologi pendukungnya. Misalnya saja remotely-operated vehicle (ROV) untuk membantu pasukan infanteri dan pasukan khusus dalam perang kota atau unmanned aerial vehicle (UAV) untuk patroli perbatasan dan pengarah bantuan tembakan.

Selain Kol Djamaludin, ikut tampil sebagai panelis Deputi Menteri Ristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek Teguh Rahardjo serta staf pengajar Institut Teknologi Bandung, Prof Muljowidodo. Teguh menjelaskan berbagai regulasi yang disiapkan pemerintah untuk mendukung kemandirian riset teknologi pertahanan robotik, sementara Muljowidodo menjelaskan aspek-aspek teknis yang ada pada alutsista robotik serta iptek apa saja yang dibutuhkan untuk menguasai pengembangan alutsista robotik.

Peneliti LIPI, Estiko, dalam komentarnya menegaskan pentingnya teknologi robotik yang, antara lain, dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pertahanan serta menghindari kematian manusia.

Meski mengakui banyak manfaatnya, upaya menguasai teknologi alutsista robotik masih terkendala oleh sejumlah faktor, misalnya belum sinkronnya program industri pengembang alutsista robotik dan kriteria pengguna. Sejumlah teknologi sensitif, seperti sensor, menurut Muljowidodo, juga masih belum kita kuasai. Di tengah situasi yang belum kondusif ini, sejumlah tenaga ahli di bidang alutsista robotik dikabarkan mendapat tawaran menarik di negara lain.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 11 November 2010

Pesawat Tak Berawak Disiapkan Beroperasi di Yaman

0


Jenis pesawat Predator yang dipakai di Irak, menurut foto dokumentasi tahun 2004. Jenis pesawat inilah yang diberitakan tengah disiapkan oleh AS untuk dipakai pula di Yaman guna memerangi salah satu sayap Al Qaeda di negeri itu.

Berita yang dilansir harian The Washington Post, Minggu (7/11), dan dikutip media-media di Timur Tengah, bahwa pesawat tempur tanpa awak AS tipe Predator dalam beberapa bulan terakhir ini telah terbang di atas teritorial udara Yaman untuk memantau gerakan Tanzim Al Qaeda sayap Jazeera al-Arab yang berbasis di Yaman, menunjukkan betapa Washington kehilangan kesabaran menghadapi ancaman AQAP.

Hal tersebut sekaligus sebagai sinyal mulai kehilangan kepercayaan Washington terhadap kemampuan Pemerintah Yaman memerangi Tanzim Al Qaeda sayap Jazeera al-Arab (AQAP). Sementara AQAP semakin mengukuhkan dirinya sebagai jaringan Tanzim Al Qaeda yang memberi fokus serangannya terhadap sasaran di AS.

AQAP, misalnya, terlibat pengiriman dua paket bom yang ditemukan di bandar udara Dubai dan Inggris (East Midlands Airport) pada 29 Oktober lalu dalam pengiriman menuju AS.

AQAP juga terlibat pengiriman pria asal Nigeria, Umar Farouk Abdulmutallab, yang gagal meledakkan pesawat Northwest Airlines yang mengangkut 278 penumpang saat mendarat di Detroit dari Amsterdam pada 25 Desember 2009.

Bagi AS, tidak ada pilihan lain kecuali memperlakukan Yaman seperti Pakistan. AS beberapa tahun terakhir ini telah menggunakan pesawat tempur tanpa awak untuk menggempur tempat persembunyian aktivis Tanzim Al Qaeda di wilayah suku Pakistan dekat perbatasan dengan Afganistan.

Pesawat tempur tanpa awak AS itu cukup efektif dalam berandil membunuh tokoh-tokoh Al Qaeda yang bersembunyi di wilayah perbatasan Pakistan- Afganistan, meskipun sering juga membawa korban warga sipil.

Namun, AS juga harus membayar harga mahal kepada Pemerintah Yaman, seperti halnya yang juga terjadi di Pakistan, sebagai imbalan izin pesawat tanpa awak AS itu terbang di wilayah udara Yaman.

Di Pakistan, AS membayar dengan janji bantuan dana sebanyak 5 miliar dollar AS selama lima tahun kepada pemerintahan Islamabad. Di Yaman, AS meningkatkan bantuan dana untuk pembasmian teroris kepada Pemerintah Yaman dari hanya 4,6 juta dollar AS pada tahun 2006 menjadi 155 juta dollar AS pada tahun 2010.

AS juga berniat akan meningkatkan bantuan militer kepada Yaman hingga senilai 250 juta dollar AS tahun 2011. AS bertekad pula menjual sejumlah helikopter tempur dan peralatan militer lainnya kepada militer Yaman untuk meningkatkan kemampuan aparat keamanan negara itu dalam memerangi AQAP.

Di Yaman, pesawat tanpa awak AS diberitakan belum menembakkan rudal-rudalnya, tetapi sekadar mencoba mendeteksi tempat persembunyian tokoh-tokoh AQAP, terutama tokoh sekelas Anwar al-Aulaqi dan Samir Khan (tokoh intelektual AQAP) serta komandan lapangan AQAP semacam Qasim al-Rimi dan Ibrahim al-Asiri. Akan tetapi, aksi pesawat tanpa awak AS menembakkan rudal-rudalnya di Yaman hanya menunggu situasi politik saja yang akan terjadi setiap saat pada masa mendatang.

Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengungkapkan adanya kesepakatan kerja sama keamanan antara AS dan Yaman untuk memerangi AQAP.

Menurut pejabat AS yang tak mau disebut namanya seperti dikutip harian berbahasa Arab Al Quds al-Arabi, salah satu butir dalam kesepakatan keamanan AS-Yaman itu menegaskan, pasukan AS dilarang terjun langsung di wilayah Yaman, tetapi tidak melarang pesawat tanpa awak AS menembakkan rudal-rudalnya terhadap sasaran yang telah diyakini sebagai tempat persembunyian aktivis AQAP.

AS melihat pengerahan pesawat tanpa awak di Yaman itu sebagai jalan kompromi di tengah Pemerintah Yaman masih menolak keras penyebaran langsung pasukan khusus AS dan Barat untuk memburu aktivis AQAP di negara itu.

Pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman memandang kehadiran langsung pasukan AS di negara itu akan membawa reaksi negatif di Yaman ataupun di dunia Arab, seperti halnya yang terjadi di Irak saat ini. Bahkan, sebaliknya, bisa mendorong para loyalis Al Qaeda dari negara lain datang ke Yaman untuk berjihad melawan pasukan AS, seperti halnya yang terjadi di Afganistan dan Irak selama ini.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 05 November 2010

English News : Ukraine may deliver engines for Russian UAVs

0

Searcher Mk II

Russia's Vega and Ukraine's Motor Sich are discussing the possible delivery of Ukrainian-made engines for Russia's unmanned aerial vehicles (UAVs), Vega CEO Vladimir Verba said on Saturday.

"We lagging behind on such vehicles," Verba said. "First of all, there is a shortfall in engines."

Motor Sich CEO Vyacheslav Boguslayev confirmed the companies are in talks.

"We are discussing issues regarding this topic," he said.

Motor Sich delivers engines to 11 countries around the world, Boguslayev said, adding that "we have nothing against Russia being the twelfth country."

The Russian Federal Security Service (FSB) is "happy" with the quality of home-made UAVs, Verba said on Friday, while not ruling out that the Defense Ministry may buy UAVs abroad.

He said Vega's UAVs would be able to compete with those produced abroad by 2013.

According to various estimates, the Russian military needs up to 100 UAVs and at least 10 guidance and control systems to ensure effective battlefield reconnaissance.

Russia has reportedly signed two UAV contracts with Israel. Under the first contract, signed in April 2009, Israel delivered two Bird Eye 400 systems (worth $4 million), eight I View MK150 tactical UAVs ($37 million) and two Searcher Mk II multi-mission UAVs ($12 million).

The second contract was for the purchase of 36 UAVs, worth a total of $100 million, to be delivered later this year.

Russia and Israel are currently negotiating the establishment of a joint $300-million venture to produce UAVs.

Russian Defense minister Anatoly Serdyukov has said that alongside Israel, France could become one of Russia's partners in making UAVs.

From: RIA


Kamis, 04 November 2010

DPR : Kemhan Diminta Pakai Alutsista Lokal

0

UAV Buatan Indonesia

JAKARTA(SINDO) – DPR meminta Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengutamakan alat utama sistem senjata (alutsista) produk dalam negeri terkait pengadaan pesawat intai tanpa awak.

“Pengadaan pesawat intai tanpa awak ke depan harus diproduksi dalam negeri. Sementara, untuk empat pesawat yang akan datang pada 2011,kita maklumi jika dipesan dari luar negeri karena keperluannya sangat mendesak,” tegas Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin di Jakarta kemarin. Seperti diketahui,TNI segera membangun skuadron pesawat intai untuk mengamankan seluruh wilayah RI,khususnya di perbatasan baik darat, laut,maupun udara.

Rencananya, empat pesawat intai tanpa awak akan tiba pada medio 2011 dari satu skuadron yang direncanakan. Skuadron pesawat intai tanpa awak itu nantinya akan bermarkas di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak. Menurut mantan sekretaris militer era Presiden Megawati Soekarnoputri ini, agar industri alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri bisa tumbuh dan berkembang, maka pengadaan pesawat intai yang saat ini dibutuhkan TNI harus melibatkan industri dalam negeri.

Apalagi,menurut Hasanuddin, pesawat intai tersebut tidak termasuk teknologi tinggi seperti pesawat tempur yang seharusnya dapat diproduksi di dalam negeri. “Untuk memperkokoh industri dalam negeri, apa yang bisa diproduksi di dalam negeri tidak perlu membeli dari luar. Apalagi, saya dengar insinyur dari institut teknologi terkemuka negeri ini sudah dapat mengembangkan pesawat jenis ini,”katanya.

Hasanuddin menegaskan pemerintah dan DPR telah menyepakati pengadaan alutsista untuk mengutamakan produksi dalam negeri agar ada pertumbuhan industri lokal.Sekaligus,bisa mengurangi ketergantungan kepada luar negeri. Dia mengatakan, pengadaan pesawat intai sangat strategis mengingat luasnya daerah perbatasan yang harus diawasi.

“Untuk kebutuhan patroli, penggunaan pesawat intai tanpa awak terbilang cukup ekonomis.Pesawat ini dapat terbang rendah dan tanpa suara. Sehingga,cocok untuk perbatasan daratan yang minim jalur transportasi serta dapat menggantikan peran pesawat dengan awak yang tentunya memerlukan cost yang lebih tinggi,”tandasnya. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Bambang Samoedro enggan menyebutkan negara asal pesawat intai tanpa awak yang sudah dipesan TNI tersebut.

Dia mengatakan,pengoperasian pesawat tanpa awak itu menjadi bagian dari upaya pengawasan pulau terluar, laut dan kepulauan, serta wilayah perbatasan. Selain itu, untuk mendukung kegiatan intelijen di udara. “Pesawat ini juga untuk mendukung kerja Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI,”katanya. Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar menyatakan, berhasil atau tidaknya revitalisasi industri strategis pertahanan tergantung dari dukungan negara.

Sebab, menurut dia,dukungan penuh dari negara dalam mengalokasikan anggaran sangat menentukan perkembangan sektor industri strategis. Untuk industri strategis atau pertahanan di Indonesia, Mustafa mengakui bahwa pelaksanaannya masih cukup banyak menemui kendala. Salah satunya, industri yang fokus pada bisnis produksi alutsista memiliki ketergantungan yang sangat besar pada arah kebijakan Kemhan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan.

“Jadi, pasarnya sangat spesifik,” ujarnya. Belum lagi dibutuhkan skala atau besaran produksi tertentu hanya untuk dapat mencapai titik impas. Selain itu,belum adanya sistem anggaran yang tepat, teratur, dan terencana secara baik untuk pengadaan alutsista dalam negeri. “Serta belum adanya komitmen dan konsisten penganggaran pengadaan alutsista yang berkesinambungan dalam tahun jamak (multiyears),” paparnya.

Penganggaran multiyears ini perlu karena pada umumnya pengadaan alutsista memerlukan waktu lebih satu tahun. Karena itu, kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam rangka revitalisasi industri strategis adalah dengan melakukan inisiatif merumuskan Rancangan Undang- Undang tentang Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan dan Keamanan Nasional.

Sumber: SINDO


Rabu, 27 Oktober 2010

Update : Pesawat Tanpa Awak Pantau Perbatasan

0

illustrasi

Pontianak, Kompas - Pesawat tanpa awak diduga sudah lama dioperasikan oleh Malaysia untuk melakukan patroli di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Masyarakat yang melihat patroli pesawat tanpa awak itu bahkan telah dilaporkan kepada pihak pemerintah. Oleh karena itu, TNI Angkatan Udara pun menyiapkan pesawat tanpa awak untuk memantau wilayah perbatasan.

Bupati Sambas Burhanuddin A Rasyid, Selasa (26/10), mengatakan, pihaknya sering mendapat laporan masyarakat tentang adanya patroli pesawat tanpa awak di perbatasan Kabupaten Sambas dan Negara Bagian Sarawak. ”Beberapa kali masyarakat Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, melaporkan adanya pesawat tanpa awak yang berpatroli di perbatasan,” tutur Burhanuddin.

Menurut Burhanuddin, Kecamatan Paloh sebetulnya pernah disiapkan Pemerintah Indonesia sebagai bandar udara ketika berkonfrontasi dengan Malaysia.

”Landasannya sekitar 750 meter masih terlihat walaupun sudah tertutup rumput. Namun, kantor klimatologinya hingga kini masih berfungsi. Pemerintah pusat sudah mengizinkan Pemerintah Kabupaten Sambas jika akan membangun bandar udara itu, yang tentu akan membantu mobilisasi masyarakat dan pertahanan keamanan di wilayah perbatasan,” katanya.

Terkait pemantauan wilayah perbatasan itu, Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa, mengatakan, pesawat tanpa awak itu direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2011. Ada empat pesawat yang dioperasikan dari Pangkalan TNI AU Supadio, Pontianak.

”Pengoperasian pesawat tanpa awak itu menjadi bagian dari upaya pengawasan pulau terluar, laut dan kepulauan, serta wilayah perbatasan, juga untuk mendukung kegiatan intelijen di udara,” kata Imam.

Imam menjelaskan, pesawat tanpa awak dinilai sesuai dengan kebutuhan pertahanan keamanan Indonesia dan mendukung kerja Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. ”Pesawat tanpa awak itu bisa terbang sangat rendah tanpa diketahui oleh orang di darat karena suaranya pelan,” tutur Imam.

Untuk pengamanan dan mengontrol wilayah perbatasan, tutur Imam, pesawat tanpa awak bisa melakukan pengindraan atau pemotretan, baik pada siang maupun malam hari. ”Pontianak dipilih untuk penempatan skuadron pesawat tanpa awak karena tipenya akan dinaikkan menjadi bintang satu. Salah satu syaratnya harus memiliki setidaknya dua skuadron,” ujar Imam.

Pangkalan TNI AU Supadio saat ini termasuk tipe B. Skuadron yang sudah ditempatkan di Supadio adalah pesawat tempur jenis Hawk.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 26 Oktober 2010

TNI Tempatkan Skuadron Pesawat tanpa Awak di Perbatasan

0

UAV Heron Buatan Israel yang Digunakan Australia Dan Singapura

PONTIANAK--MICOM: TNI Angkatan Udara akan menempatkan satu skuadron pesawat udara tanpa awak di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

"Kami rencanakan tahun depan pesawat itu sudah bisa dioperasikan, untuk memperkuat satu skuadron (pesawat tempur) yang sudah ada saat ini," kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, seusai membuka Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) Nusantara XXXI, di Pontianak, Selasa (26/10).

KSAU mengatakan keberadaan skuadron baru ini guna memperkuat pengamanan di wilayah perbatasan negara dan pulau-pulau terluar. Bukan hanya di wilayah Kalimantan Barat melainkan mencakup seluruh Indonesia.

"Landasan (pangkalan) tetap di pontianak, tetapi pesawat itu nantinya bisa diangkut ke wilayah barat atau timur dengan Hercules," ujarnya.

Skuadron baru ini terdiri dari empat armada. Setiap armada antara lain memiliki kemampuan penginderaan jarak jauh secara elektronik dan bisa dioperasikan pada malam hari. Dipilihnya pesawat tanpa awak untuk mengamankan perbatasan di antaranya demi efektifitas pemantauan dan memperkecilkan resiko terdeteksi oleh negara lain.

"Banyak sekali keuntungannya. Di antaranya, saat terbang pesawat ini tidak akan diketahui dari bawah (daratan) karena suaranya sangat rendah," jelas KSAU.

KSAU mengatakan penempatan satu skuadron baru di Lanud Supadio ini juga terkait persiapan peningkatan status pangkalan tersebut, dari type B yang dikepalai seorang perwira perpangkat kolonel menjadi type A yang dipimpin perwira berpangkat Marsekal pertama.

"Dengan adanya skuadron tambahan (Lanud Supadio) diharapkan memenuhi persyaratan, karena pangkalan type A minimal harus memiliki dua skuadron udara," ujarnya

Menurut KSAU Lanud Supadio memang sudah seharusnya naik tingkat menjadi type A. Ini sesuai dengan surat keputusan Panglima TNI yang dikeluarkan pada 2002. Oleh karena itu, perubahan status tersebut mungkin akan dilakukan bersamaan dengan pengoperasian skuadron pesawat tanpa awak.

Mantan Komandan Lanud Supadio ini menambahkan, selain di Pontianak, satu skuadron pesawat tanpa awak lainnya juga akan ditempatkan di Pangkalan TNI Angkatan Udara di Pekanbaru, Riau.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Senin, 25 Oktober 2010

TNI Siapkan Infrastruktur Pesawat Intai Tanpa Awak

0

illustrasi

Metrotvnews.com, Jakarta: TNI telah mempersiapkan infrastruktur bagi skuadron pesawat intai tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

"Kami percepat pembangunannya seperti hanggar dan segala perlengkapan yang menyertainya, seperti peralatan intai, intelijen dan lainnya" kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat usai memimpin upacara serah terima jabatan Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I di Jakarta, Senin (25/10).

TNI segera membangun skuadron pesawat intai untuk mengamankan seluruh wilayah RI, terutama di perbatasan baik darat, laut maupun udara. "Rencananya, empat pesawat intai tanpa awak akan tiba pada medio 2011, dari satu skuadron yang direncanakan," ungkap Imam.

Ia mengemukakan, skuadron pesawat intai tanpa awak meski akan bermarkas di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, namun pengoperasiannya di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Mabes TNI.

Soal jumlah personel dan teknisi yang dipersiapkan, KSAU mengatakan, "Hal itu, terkait organisasi, dan karena kita belum memiliki skuadron pesawat intai tanpa awak sebelumnya maka kita tengah mempelajari susunan dan bentuk organisasinya".

Imam mengemukakan, pihaknya tengah menjajaki bentuk dan susunan organisasi skuadron pesawat intai tanpa awak dari Australia dan Singapura. "Kita pelajari bentuk dan susunan organisasinya sambil mempersiapkan yang lain, karena kita kan belum pernah memiliki skuadron pesawat intai tanpa awak," paparnya.

Sebelumnya, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Ery Biatmoko mengemukakan, personel yang mengoperasionalkan tidak banyak, sekitar dua orang untuk memantau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama di perbatasan darat, laut dan udara.

Pesawat intai tanpa awak itu, dapat dioperasikan lima sampai enam jam per hari."Sehingga, semisal, kita ingin memantau wilayah tengah Indonesia, kita bisa terbangkan hingga Tarakan, kembali lagi ke Pontianak. Begitu untuk ke wilayah lainya di Indonesia," tuturnya menjelaskan.

Sumber: Metro TV


Kamis, 21 Oktober 2010

Sistem Pemantau Nusantara

0


Memiliki belasan ribu pulau yang tersebar luas dan kerap kali tertutup awan, tidak mudah bagi Indonesia memantau kondisi sumber daya alamnya secara menyeluruh sepanjang tahun. Penginderaan jauh sistem radar dapat mengatasi kendala itu. Namun, sistem tersebut telah berkembang jauh.

Sistem observasi jarak jauh ini telah dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan dengan menggunakan pesawat tanpa awak dan satelit kecil.

Observasi permukaan bumi dalam segala cuaca ini memerlukan keandalan sistem, baik pada sensor maupun wahana yang menjadi tumpangannya. Untuk sistem pemantauan yang berfungsi sebagai ”mata”, penggunaan Synthetic Aperture Radar (SAR) di Indonesia terbukti dapat berfungsi baik untuk memetakan wilayah yang tertutup awan.

Sensor ini bukan hanya digunakan di wilayah Nusantara yang sebagian besar wilayahnya selalu tertutup awan. Dan, karena bekerja sama dengan gelombang radio, sensor ini dapat dioperasikan pada malam hari sehingga 24 jam dapat digunakan untuk mengamati permukaan bumi dan informasi lapisan bumi di dalamnya.

Apabila sensor optik seperti kamera hanya mengetahui informasi permukaan bumi saja, sensor SAR dapat digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi di kedalaman sampai beberapa meter dari permukaan bumi, tergantung dari kondisi permukaan dan gelombang mikro yang digunakan oleh sensor ini.

Sistem SAR ini dikembangkan lebih lanjut oleh Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Center for Environmental Remote Sensing, Universitas Chiba, Jepang. Sensor baru ini disebut Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR).

Beberapa kelebihan dapat dicapai pada CP-SAR dibandingkan sensor radar konvensional. ”Dengan sistem SAR yang lama digunakan beberapa antena. Untuk menyimpan citra diperlukan dua memori dan unit penyuplai daya berukuran besar. Sedangkan sistem baru hanya menggunakan daya lebih kecil sehingga sistem tersebut lebih kecil dan ringan,” kata Josaphat.

Ringannya alat tersebut dicapai CP-SAR yang hanya menggunakan satu antena. Dengan pengembangan sistem sensor yang baru tersebut, aplikasinya untuk kegiatan search and rescue (SAR) dapat lebih cepat untuk menampilkan citra hasil penginderaan jauh.

Dengan CP-SAR dapat dilakukan sistem pantulan gelombang melingkar. Datanya dapat langsung diklasifikasi oleh stasiun penerima citra. Pada sistem SAR lama, analisis citra satelit memakan waktu beberapa hari.

Sistem ini dikembangkan Josaphat sejak 2005. Peneliti yang pernah bergabung di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini juga mengembangkan aplikasi SAR pada satelit dan pesawat tanpa awak. Uji coba sensor pada simulasi pesawat tanpa awak telah dilakukan di Jepang pada 2008.

Josaphat berharap, pengujian sensor CP-SAR dengan wahana satelit dapat dilakukan pada 2014 sejalan dengan program Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menargetkan peluncuran roket pengorbit satelit empat tahun mendatang.

Untuk aplikasinya pada wahana satelit dan pesawat tanpa awak, Josaphat bekerja sama dengan peneliti dari Lapan. Uji coba SAR yang baru ini dengan menggunakan pesawat tanpa awak akan dilakukan Desember mendatang di stasiun peluncuran roket di Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat, dan Bandara Margahayu, Bandung.

Sementara itu, uji coba di Jepang akan dilakukan di Shikabe Hokkaido dan Pulau Iwojima.

Pesawat tanpa awak

Pemantauan permukaan bumi dari udara untuk berbagai keperluan telah lama dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang dan satelit. Selain itu, dikembangkan pula pesawat terbang tanpa awak (PTTA).

Wahana tak berpilot ini dari beberapa aspek memiliki kelebihan dibandingkan dua sarana tersebut. Untuk kegiatan survei udara, PTTA biaya produksinya lebih rendah. Wahana nir-awak ini mampu menjelajah medan berbahaya yang tidak mungkin dilakukan pesawat biasa, seperti terbang rendah untuk pemantauan wilayah kebakaran hutan dan wilayah perbatasan.

Saat ini telah ada empat prototipe PTTA, termasuk model unmanned aerial vehicle (UAV-530). Tiga prototipe lainnya dibuat oleh ITB, Robo Aero Indonesia, dan UAVindo.

Pembuatan UAV-530 sendiri merupakan program riset khusus bidang teknologi pertahanan di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi yang melibatkan instansi pemerintah dan swasta nasional, di antaranya Lapan, BPPT, Balitbang TNI AU, dan Balitbang Kementerian Pertahanan. Untuk komponennya, rancang bangun, dan rekayasanya didukung PT Pindad, PT LEN Industri, PT Dirgantara Indonesia, dan ITB. Program ini dimulai Maret 2007 dan berakhir tahun ini.

Pesawat UAV-530 memiliki beberapa kelebihan, yaitu struktur sayap dapat dilipat sehingga mampu menjelajah wilayah yang sulit ditempuh pesawat kecil. ”Untuk pemantauan yang memerlukan terbang lambat, sayap itu direntangkan dengan sistem kendali jarak jauh,” kata Hari Purwanto, Staf Ahli Menristek Bidang Hankam.

Pesawat tersebut dikendalikan melalui sistem komunikasi yang ditempatkan di darat atau remotely piloted vehicle (RPV). Pada UAV-520 ada dua sistem komunikasi, yaitu sistem kendali dan kamera yang secara real time menampilkan citra di layar monitor di darat.

Sebelum mencapai tahap UAV-530, hingga Desember 2007 telah disiapkan tiga prototipe berkecepatan rendah dan berkecepatan tinggi. Prototipe berkecepatan rendah hingga 180 km per jam. Wahana tanpa awak ini mampu melayang di atas ketinggian sekitar 1 km dan radius operasional 15 km.

Prototipe kedua memiliki kecepatan 380 km per jam dengan kemampuan jelajah di atas ketinggian 1 km. Dua prototipe PTTA ini menggunakan minyak tanah. Namun, UAV-530 menggunakan avtur seperti pesawat terbang umumnya.

Sumber: KOMPAS


Senin, 18 Oktober 2010

India Uji Coba Pesawat Tak Berawak

0

UAV Heron Buatan Israel Yang Dibeli Oleh Angkatan Laut India(Foto:indianmilitaryhistory.org)
NEW DELHI, KOMPAS.com - India, Minggu, mengatakan telah menyelesaikan uji coba penerbangan perdana sebuah pesawat mata-mata tak berawak bikinan sendiri, yang telah dikembangkan sebagai bagian dari upaya negara itu untuk mengurangi impor peralatan militer.

"Pesawat itu terbang dalam cara yang tepat seperti yang direncanakan, mencapai ketinggian 3.000 kaki (900 meter), tetap terbang selama 30 menit dan merampungkan semua persyaratan misinya," kata jurubicara Organisasi Riset dan Pengembangan Pertahanan, Ravi Kumar Gupta, mengenai penerbangan, Sabtu itu.

Menurut beberapa pejabat, pesawat mata-mata itu, yang dinamai Rustom, memiliki waktu penerbangan maksimal 15 jam dan merupakan prototipe yang militer ingin kembangkan ke model yang lebih maju.

Israel, yang tahun 2005 menandatangani perjanjian senilai 220 juta dolar untuk menjual 50 pesawat mata-mata tak berawak kepada India, tetap salah satu pemasok terbesar pesawat mata-mata ke negara itu. India telah mempercepat usaha untuk memperoleh peralatan militer, termasuk dengan pembelian pesawat mata-mata, sejak serangan di Mumbai tahun 2008 oleh sejumlah gerilyawan yang telah menyebabkan 166 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka.

Amerika Serikat secara tetap menggunakan pesawat mata-mata yang ditempatkan di pangkalan di Afganistan untuk menyerang gerilyawan Taliban dan pejuang terkait Al Qaeda di wilayah suku di bagian baratlaut Pakistan.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 16 Oktober 2010

Kemhan Diminta Utamakan Pesawat Intai Produk Nasional

0

SMART EAGLE II Buatan PT. Aviator Teknologi Indonesia (Foto: imageshack)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-DPR mengingatkan Kementerian Pertahanan dan TNI agar mengutamakan produksi dalam negeri dalam pengadaan pesawat intai dalam 3-4 bulan mendatang ini. Pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sudah disepakati agar mengutamakan produksi dalam negeri agar ada pertumbuhan industri lokal. Selain itu, alutsista produksi dalam negeri bisa mengurangi ketergantungan kepada luar negeri.

Hal itu disampaikan anggota Komisi I DPR Hayono Isman ketika dihubungi, Sabtu (16/10). "Perlu saya ingatkan bahwa Komisi I telah membentuk Panja yang bertugas membantu Kementerian Pertahanan dalam hal pembelian alutsista," kata Hayono. Saat ini, ujarnya, Indonesia sudah memiliki BUMN Strategis yang sudah mampu memproduksi alutsista.

Menurut Hayono, agar industri alutsista dalam negeri ini bisa tumbuh dan berkembang, maka pengadaan pesawat intai yang saat ini dibutuhkan TNI harus melibatkan industri dalam negeri. "Untuk memperkokoh industri dalam negeri, apa yang bisa diproduksi di dalam negeri tidak perlu membeli dari luar," katanya. Hayono setuju jika TNI harus memiliki pesawat intai mengingat luasnya daerah perbatasan yang harus diawasi.

"Kita mendukung penambahan alutsista untuk memenuhi minimum essential forces," kata Hayono. Hal itu, kata dia, sudah menjadi agenda pokok yang sedang menjadi perhatian Komisi I. Meski demikian, Hayono mengingatkan, upaya untuk membangun minimum essential forces itu harus bisa menggerakkan industri dalam negeri.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui bahwa negara memerlukan kekuatan militer yang cukup dengan postur yang tangguh. Selain itu, diperlukan tentara yang terlatih dengan kekuatan persenjataan yang modern. Pengembangan kekuatan bisa dilakukan dengan modernisasi persenjataan.

"Alutsista angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara, kita harapkan dapat makin kita lengkapi," kata Presiden dalam Upacara Parade Peringatan HUT TNI ke-65 di lapangan Skadron 17 Lanud Halim Perdanakusumah, Selasa (5/10). Presiden juga ingin lebih banyak lagi satuan tempur darat yang terlatih baik dan profesional, serta siap dikerahkan kemana pun dan kapan pun untuk mengemban tugas-tugas negara.

Berkaitan dengan pembangunan kekuatan dan modernisasi alutsista TNI ini, kata Presiden, pemerintah dengan dukungan DPR, telah bersepakat untuk mengalokasikan anggaran yang lebih besar bagi sektor pertahanan, tanpa mengabaikan dan mengorbankan kepentingan untuk terus meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pimpinan Kementerian Pertahanan dan jajaran TNI diinstruksikan untuk menyusun rencana strategis pembangunan kekuatan pertahanan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan APBN, dengan kerangka waktu yang dipercepat serta dengan sasaran yang tepat pula. Presiden berharap dalam satu dasawarsa ke depan dapat diwujudkan postur pertahanan yang makin kuat dan mencukupi.

Sumber: REPUBLIKA


TNI Segera Miliki Pesawat Intai Tanpa Awak Pertengahan 2011

0

UAV Heron Buatan Israel Merupakan Salah Satu UAV Yang Diminati TNI

Jakarta (ANTARA News) - TNI segera membangun skuadron pesawat intai untuk mengamankan seluruh wilayah RI, khususnya di perbatasan baik darat, laut, maupun udara.

"Rencananya, empat pesawat intai tanpa awak akan tiba pada medio 2011, dari satu skuadron yang direncanakan," kata sumber ANTARA di Mabes TNI Jakarta, Sabtu.

Ia menambahkan, skuadron pesawat intai tanpa awak itu nantinya akan bermarkas di Pangkalan Udara Supadio Pontianak, namun pengoperasiannya di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Mabes TNI.

Personel yang mengoperasionalkan tidak banyak, sekitar dua orang untuk memantau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama di perbatasan darat, laut dan udara.

Pesawat intai tanpa awak itu dapat dioperasikan lima sampai enam jam per hari.

"Sehingga semisal kita ingin memantau wilayah tengah Indonesia, kita bisa terbangkan hingga Tarakan, kembali lagi ke Pontianak. Begitu untuk ke wilayah lainya di Indonesia," katanya.

Komisi I DPR mendukung pembentukan skuadron Pesawat Tanpa Awak (UAV) yang akan dibangun TNI AU di Landasan Udara (Lanud) Supadio.

Ia mengatakan, skuadron pesawat intai tanpa awak merupakan salah satu solusi menjaga wilayah RI terutama di perbatasan.

Selain pesawat intai tanpa awak, TNI juga akan segera menambah radar di tiga wilayah di Indonesia Timur dalam memaksimalkan pengamanan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak disebutkan pesawat tanpa awak jenis apa yang telah dipesan oleh TNI dan dari mana alat utama sistem persenjataan itu didatangkan.

Sumber: ANTARA


Selasa, 12 Oktober 2010

Taiwan Kembangkan Pesawat Tanpa Awak

0

Pesawat tanpa Awak Buatan Taiwan In-Cheung-2 (Foto: www.global-military.com)

TAIPEI, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Taiwan, Selasa (12/10/2010), mengatakan, negara itu sedang mengembangkan pesawat pemantau tanpa awak. Pernyataan tersebut menunjukkan, perlombaan senjata dengan China tidak berakhir meski hubungan membaik.

Yu Sy-tue, juru bicara untuk Menteri Pertahanan Kao Hua-chu, mengatakan kepada AFP bahwa Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Chung Shan di dekat Taipei telah memulai penelitian mengenai pesawat tidak berawak, tanpa merinci lebih lanjut. Kao melalui juru bicara itu menyangkal laporan bahwa Taiwan telah menjadikan prioritas utama untuk memiliki Global Hawk, pesawat tanpa awak berdaya terbang tinggi, sekaligus dengan pesawat jet tempur dari Washington.

Pesawat, yang dapat dikendalikan dari jarak jauh dan bertugas memantau serta melakukan misi menyerang, tampak sebagai pengganti pesawat mata-mata U-2 yang sudah usang. Militer China sudah terlebih dahulu menggunakan pesawat udara tanpa awak.

Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou, menekankan pada akhir pekan bahwa negara pulau tersebut akan tetap membeli persenjataan dari Washington karena tidak bisa semata-mata bergantung pada penguatan hubungan dengan China guna memastikan keamanannya.

Pesawat jet tempur F-16 C/D merupakan daftar prioritas perbelanjaan persenjataan utama untuk menggantikan armada F-5 untuk mengimbangi kemampuan militer China yang terus dikembangkan.

Ma telah terpilih tahun 2008 dengan janji memperbaiki ekonomi Taiwan, utamanya melalui peningkatan perdagangan dengan China. Selama jabatannya, hubungan antara Taiwan dan China telah membaik, tetapi China tetap menolak melepas kemungkinan menggunakan kekuatan bila pulau tersebut mendeklarasikan kemerdekaan.

Penjualan F-16 C/D ke Taiwan pasti akan memicu kegusaran Beijing, yang bereaksi sangat marah saat Amerika Serikat pada Januari lalu mengumumkan paket persenjataan senilai 6,4 miliar dollar AS kepada negara pulau tersebut.

Sumber: KOMPAS


Senin, 04 Oktober 2010

Jepang Beli Pesawat Tak Berawak AS

0

UAV Global Hawk Buatan US

Tokyo (ANTARA News) - Kementerian Pertahanan Jepang akan membeli tiga pesawat mata-mata tak berawak Global Hawk buatan Amerika Serikat, untuk membantu memantau gerakan-gerakan militer China dan program rudal serta nuklir Korea Utara, kata laporan Senin.

Jepang berharap akan menggunakan pesawat tak bersenjata namun dilengkapi kamera itu untuk mendukung kemampuan penghimpunan data intelijen negara pasifik tersebut secara resmi, mengawasi pulau-pulau terpencil dan memantau kapal-kapal yang mencurigakan, kata kantor berita Kyidi News.

Pesawat pengintai berjelajah tinggi itu masing-masing seharga 50 juta dolar AS, kata Kyodo, mengutip sumber-sumber di kementerian pertahanan yang tak bersedia disebut namanya.

Dilengkapi dengan alat-alat komunikasi berkemampuan canggih, Global Hawk bisa terbang pada ketinggian 18.000 meter (60.000 kaki) - sekitar dua kali lipat setinggi pesawat-pesawat penumpang komersil - untuk kurang lebih 30 jam dengan pilot-otomatis, katanya.

Berkaitan dengan sengketa wilayah dengan China yang dimulai ketika Tokyo menahan seorang kapten kapal pukat China dalam sengketa perairan, di perairan yang disengketakan di Laut China Timur sekitar empat pekan lalu, telah mencabik hubungan diplomatik antara dua kekuatan Asia itu.

Kementerian pertahanan Jepang berharap untuk memasukkan rencana pembelian pesawat tanpa awak itu di dalam program pertahanan setengah-periode barunya, yang mencakup periode sampai Maret 2016, kata Kyodo.

Berkaitan rencana yang dipastikan akan meningkatkan ketegangan dengan China itu, Jepang dan AS juga berencana akan mengadakan latihan militer bersama pada Desember dengan fokus mempertahankan pulau-pulau terpencil Jepang, kata Kyodo dalam laporan terpisah.

Latihan itu menggunakan skenario yang menggambarkan pulau-pulau terpencil diserang oleh pasukan bersenjata, akan mengirimkan kapal induk AS yang berpangkalan di jepang USS George Washington dalam latihan laut dan latihan perang darat tentara Jepang, menurut Kyodo.

Sumber: ANTARA


Senin, 06 September 2010

Rusia-Israel Teken Kerjasama Militer

0


TEMPO Interaktif, Moskow - Rusia dan Israel, Senin, teken kerjasama militer di bidang persenjataan dan teknologi.

"Kami telah teken kesepakatan kerjasama militer dalam jangka panjang," kata Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov usai pertemuan dengan rekannya dari Israel Ehud Barak.

"Kerjasama ini sangat penting bagi kami dalam rangka transisi imej, pasukan Rusia menggunakan pengalaman angkatan bersenjata Israel," jelas Serdyukov, seperti disampaikan oleh kantor layanan pres Menteri Pertahanan.

Namun demikian, kementerian tidak menjelaskan secara detail isi kesepakatan tersebut. Hubungan Rusia dengan Israel sempat merenggang sejak 1991 saat Uni Soviet bubar, dan mendukung negara-negara Arab di Timur Tengah.

Rusia, yang memulai membeli perlengkapan militer asing untuk memperkuat kekuatan militernya, berusaha membangun pesawat tanpa awak sejak Georgia menggunakan pesawat tanpa awak buatan Israel untuk melawan Rusia pada perang 2008.

Oleh karena itu, kini Rusia membeli 12 pesawat tanpa awak dari Israel dan melatih 50 pasukannya untuk mengoperasikannya.

Israel meminta Rusia tidak menjual persenjataan tersebut kepada Syria dan Iran. "Rusia merupakan kekuatan sentral di dunia dan sangat dominan dan memiliki kekuatan yang berpengaruh di Timur Tengah," kata Barak kepada Serdyukov.

Sumber: TEMPO




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin