Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

SERTIFIKASI ROKET D-230 MASIH DIPROSES KEMHAN

0


Roket D-230(Foto: Alutsista)

Jakarta, Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengemukakan, sertifikasi prototipe Roket D-230 masih dalam proses di Kementerian Pertahanan dan pihaknya akan terus melakukan pengembangan serta uji coba teknologi kedirgantaraan militer.

Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin, Roket D-230 merupakan salah satu keberhasilan bekerjasama dengan Kemhan, BUMN, universitas dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

Kerja sama itu, antara lain, telah menghasilakan "Dirgantara 20-30 Km" atau yang disebut "Roket D-230". Kedepan, penguasaan teknologi dan industri peroketan khususnya untuk kaliber 122 mm akan dilakukan secara mandiri. "`Blueprint` desain `enginering` roket non kendali darat ke darat, pembuatan prototipe, uji statik dan uji terbang telah dilakukan," katanya.

Menurut menteri, sebanyak 20 Roket D-230 kaliber 122 mm telah berhasil diterbangkan dengan jarak terbang 11-14 km untuk "single stage" dan 18-20 km untuk "double stage".

"Saat ini, prototipe roket-roket tersebut dalam proses sertifikasi oleh Kementerian Pertahanan," katanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa PT LEN dan LAPAN bekerja sama mengembangkan sistem telemetri Roket Nasional D-230. Sistem telemetri merupakan payload (muatan) berisi modul elektronik yang menggantikan warhead (hulu ledak) roket.

Sistem akan mengirimkan sinyal data - posisi, ketinggian dan jarak terhadap stasiun peluncuran.

Sumber: DEPHAN


Selasa, 04 Januari 2011

Lapan Siap Uji Statik Roket Pengorbit Satelit

0

Ist

Jakarta, Kompas - Roket pengorbit satelit berdiameter 550 mm atau 0,55 meter telah berhasil dirancang bangun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Uji Statik roket RX-550 ini akan dilaksanakan akhir Januari setelah menjalani uji struktur.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewo Salatun di Jakarta, Senin (3/1), menjelaskan, pembuatan RX-550 ini melibatkan PT Krakatau Steel dalam tahap rekayasa. Keterlibatan industri strategis ini dalam pencetakan moncong roket atau nozzle.

Sementara itu, fabrikasi propelan dari material padat ini dilakukan bertahap, yaitu dengan mempertimbangkan ukurannya yang relatif besar, keterbatasan fasilitas yang dimiliki Lapan, dan keamanan proses.

Sutrisno, Kepala Bidang Propelan Lapan, mengatakan, pembuatan propelan yang terdiri dari delapan bagian ini dimulai September 2010. Setiap bagian atau segmen itu kemudian disatukan menjadi bentuk yang utuh.

Pemeriksaan struktur roket RX-550 yang dipamerkan dalam Indo Defence di Jakarta, November lalu, menurut Adi, dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional yang memiliki fasilitas non destructive test (NDT). Pengetesan ini untuk memeriksa hasil pengelasan pada sambungan setiap segmen dan kemungkinan adanya keretakan pada struktur.

Rencana uji statik RX-550 pada akhir Januari 2011 ini, menurut Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata, mundur dari jadwal semula, pertengahan Desember lalu. ”Pengunduran ini menyesuaikan pergeseran pelaksanaan NDT menggunakan sinar X. Kalau uji sinar X hasilnya baik, baru dilakukan uji statik,” ujar Soewarto.

Di Kabupaten Garut

Uji statik akan dilaksanakan di Instalasi Uji Terbang Roket di pantai selatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Jika uji statik ini berhasil, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan RX-550 untuk uji terbang. Sebelum itu, data uji statik akan dimasukkan dalam simulasi komputer untuk melihat sistem aerodinamika roket. ”Dalam simulasi, roket harus mampu masuk ke orbit pada ketinggian 200 kilometer,” ungkap Adi.

Sistem simulasi komputer ini akan dilaksanakan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia yang memiliki fasilitas tersebut.

Apabila pengujian ini tidak menunjukkan hasil yang memadai, diameter roket harus ditingkatkan. Selain itu juga perlu dilakukan peremajaan sistem pencampur propelan atau mixer untuk dapat membuat bahan bakar roket yang dapat meluncur hingga ketinggian di atas 230 kilometer. Dalam mempersiapkan peluncuran roket ini, Lapan juga akan bekerja sama dengan PT Pindad.

Sumber: KOMPAS


Senin, 03 Januari 2011

Lapan Uji Terbang Dua Roket Eksperimen

0


Jakarta, Lapan.go.id, Rabu (29/12), Lapan berhasil meluncurkan dua roket eksperimen berdiameter 200 mm dan 100 mm di stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Uji terbang bertujuan untuk penelitian roket ilmiah. Roket berdiameter 200 mm atau disebut RX-200 diluncurkan pertama, kemudian dilanjutkan dengan RKX-100 yang berdiameter 100 mm.
Peluncuran tersebut dihadiri oleh Kepala Pusat Teknologi Wahana Dirgantara, Ir. Yus kadarusman Markis, Dip. Ing serta para pejabat di lingkungan Kedeputian Bidang Teknologi Dirgantara.

Sumber: LAPAN


Kamis, 16 Desember 2010

Alutsita Pasukan Armed akan Diganti

0

Meriam 105 MM KH 178 buatan Korsel.

Magelang, CyberNews. Komandan Pusat Pendidikan dan Latihan Armed TNI AD (Danpussenarmed Kodiklat TNI AD) Brigjen A. Agung Gde Suardhana mengatakan alat utama sistem senjata (alutsita) Armada Medan (Armed) TNI AD Kostrad akan diregenerasi menjadi lebih canggih.

Langkah ini dilakukan demi mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. Diharapkan regenerasi alutsita ini akan membantu Armed dalam menjawab tantangan zaman yang lebih kompleks dan berat.

Roket WR 40 langusta buatan Polandia.

Menurut Brigjen Agung Gde Suardhana meriam 76 MM yang telah lama digunakan Armed digantikan meriam 105 MM KH 178 buatan Korsel yang lebih mutakhir. Pasukan Armed juga akan mendapat tambahan senjata baru yakni roket WR 40 langusta buatan Polandia.

"Penambahan dan regenerasi beberapa alutsita ini harus dijadikan tantangan untuk terus maju. Jangan dianggap sebagai kendala," tegas Brigjen A. Agung Gde Suardhana dalam pengarahan kepada 350 prajurit Armed 3/105 Tarik Magelang di Mako Armed 3, Kamis (16/12).

Dia berharap seluruh prajurit TNI AD khususnya di Armed 3 agar cepat belajar dan terus belajar agar tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi. Apalagi perkembangan iptek sekarang sangat cepat dan terus berubah.

Suadharna mengatakan pihaknya akan membentuk tiga divisi baru yakni divisi lintas udara (linud), raider (serang) dan divisi mekanis (mesin). Ketiga divisi tersebut untuk menggantikan Divisi Malang dan Jawa Barat.

Penambahan divisi ini dimaksudkan untuk mendukung pembinaan kesatuan agar lebih baik. "Jangan sampai prajurit Armed ketinggalan zaman dan teknologi. Kita harus terus belajar dan belajar," kata dia.

Sumber: SUARA MERDEKA


Jumat, 03 Desember 2010

Korut Kerahkan 5.200 Unit Peluncur Roket

0


Seorang pengunjung mengambil gambar replika rudal Scud B Korea Utara dan rudal-rudal Korea selatan yang dipajang di Korean War Memorial di Seoul pada 28 June, 2010.

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Utara menempatkan banyak peluncur roket yang mampu menjangkau Seoul di tengah ketegangan yang meninggi terkait serangan artileri mematikan ke sebuah pulau perbatasan Korea Selatan, demikian menurut sebuah laporan, Jumat (3/12). "Korea Utara baru-baru ini meningkatkan jumlah peluncur roket sekitar 100 unit menjadi 5.200 unit," kata kantor berita Yonhap yang mengutip seorang sumber militer.

"Roket-roket tersebut bisa meningkatkan serangan terkonsentrasi dari pangkalan-pangkalan mereka terhadap Seoul dan daerah sekitarnya," kata sumber itu, yang menambahkan, roket-roket itu memiliki jangkauan efektif 60 kilometer. Departemen Pertahanan dan Pimpinan Staf Gabungan menolak mengomentari laporan tersebut. Seoul berjarak hanya sekitar 40 kilometer dari perbatasan dan penduduknya selalu hidup di bawah ancaman serangan roket dan artileri jarak jauh Korea Utara.

Sumber itu tidak mengatakan apakah roket-roket yang baru dikerahkan itu telah diletakkan di dekat perbatasan yang dijaga ketat. Seoul dan kota-kota satelit di dekatnya merupakan tempat tinggal bagi hampir setengah dari 50 juta penduduk Korea Selatan. Serangan artileri dan roket Korea Utara ke Pulau Yeonpyeong pada 23 November lalu menewaskan dua warga sipil dan dua marinir serta menghancurkan hampir 30 rumah. Itu merupakan serangan pertama ke area sipil sejak perang Korea tahun 1950-1953.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 24 November 2010

AS Luncurkan Satelit Mata-mata Terbesar di Dunia

0

Roket Delta 4-Heavy Membawa Satelit Mata-Mata

INILAH.COM, New York –Amerika Serikat (AS) meluncurkan satelit mata-mata yang diklaim sebagai satelit terbesar yang pernah ada. Satelit ini diluncurkan menggunakan roket terkuat di dunia.

Satelit ini merupakan bagian dari operasi sangat rahasia AS. Dikabarkan, AS menggunakan satelit ini untuk kegiatan mata-mata. Sayangnya, pemerintah AS tak mau mengungkapkan lebih jauh karena masalah keamanan.

Roket yang membawa satelit ini ke orbit Delta 4-Heavy diluncurkan ke luar angkasa pada 17.58 waktu setempat. Roket itu diluncurkan dari Cape Canaveral Air Force Station di Florida dan merupakan roket tak berawak.

Brigadir Jenderal Angkatan Udara Ed Wilson menyaksikan peluncuran roket itu. Setelah roket diluncurkan, ia mengungkapkan, “Misi rahasia ini untuk membantu memastikan sumber daya NRO vital terus memperkuat pertahanan nasional kita,” seperti dikutip dari TG Daily.

Delta 4-Heavy merupakan roket berbahan bakar cair terkuat di AS. Roket ini memiliki tinggi 235 kaki (71,6 meter), dan selama peluncuran roket ini menciptakan lebih dari dua juta tenaga dorong. Delta 4-Heavy digunakan AS sejak 2004.

Sumber : INILAH


Selasa, 23 November 2010

LAPAN UJI TERBANG LIMA BUAH ROKET EKSPERIMEN

0


Garut, Lapan.go.id - Senin (22/11), Lapan berhasil menguji terbang lima buah roket eksperimen berdiameter 200 mm dan 100 mm di stasiun peluncuran roket Lapan, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Kelima roket tersebut membawa muatan Global Positioning System (GPS) untuk mengetahui posisi roket. Menurut Ka Pustekwagan Lapan, Ir. Yus Kadarusman Markis, Dipl. Ing., pengujian terbang ini tidak hanya untuk mengetahui posisi roket, tetapi juga dilakukan pengujian fungsi sistem separasi dan sustainer.

Selain muatan GPS, masing-masing roket juga membawa misi muatan lainnya. Untuk roket RX-200 membawa muatan untuk tracking radar, yakni alat untuk mengetahui posisi roket secara penghitungan jarak dengan menggunakan frekuensi radio yang dipasang dari tiga titik ground station. Sedang, roket RWX-200 dan RWX-100, memasang fungsi sistem separasi dan sustainer sebagai roket kedua.

Ir. Hermayudi Irwanto, M. Eng. menambahkan, roket RWX-200 merupakan pengembangan lebih lanjut dari RWX-100. Dan semua ini berjalan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah direncanakan. Sedangkan untuk roket RTX-100, dilakukan pengujian sistem folded wing. Maksud pengujian ini untuk mengetahui pengontrolan sistem terbukanya sayap mulai dari keadaan tertutup dan kestabilan sayap saat setelah terbuka.

Selanjutnya, untuk roket RKX-200, ia menjelaskan, tujuan pengujiannya ditekankan pada pendeteksian sistem manuver roket, mulai dari roll (guling), pitch (anggukan), dan yaw (gelengan) dari pergerakan roket saat meluncur.

Dari semua pengujian terbang roket-roket eksperimen Lapan kali ini, Yus Kadarusman menegaskan, semua data yang diperoleh berjalan dengan baik. “Tentunya, ini masih tetap harus dikembangkan lebih lanjut agar mendapatkan hasil yang lebih optimal,” tegasnya.

Sumber : LAPAN


2014 Jangkauan Roket Buatan Lapan Lebih 400 Km

0

Salah Satu Roket Buatan Lapan

Dr Soewarto Hardhienata meninggalkan Pusat Latihan Tempur TNI di Baturaja, Palembang, pukul 13.30 WIB, dua pekan silam dengan hati lega. Setengah jam sebelumnya, empat roket yang menjadi proyek gabungan beberapa lembaga penting, termasuk Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), tempatnya bekerja sebagai Deputi Kepala Bidang Teknologi Dirgantara, kembali sukses diuji coba.

Roket-roket berjangkauan 14 kilometer dan berdiameter 12,2 sentimeter itu semuanya bisa diluncurkan dan mengenai sasaran pada akhir pekan itu. Keberhasilan ini tidak hanya membuat proyek semakin mencorong di depan anggota kabinet yang hadir, termasuk Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro serta Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, tapi juga menjadi tonggak penting.

"Ini untuk pertama kalinya roket Lapan diberi hulu ledak," kata Soewarto. Sebelumnya, roket-roket buatan Lapan cenderung hanya untuk kepentingan riset. Belum ada roket yang benar-benar dimanfaatkan. Setelah sukses uji coba mutakhir itu, Kementerian Pertahanan pun mengumumkan akan memasang roket bernama R-Han 122 di kapal-kapal tempur Indonesia dan ditargetkan pada 2014 sudah diproduksi 500 buah.

Proyek pembuatan roket ini relatif cepat, hanya sekitar tiga tahun. "Ini proyek kolaborasi, jadi cepat," kata Dr Timbul Siahaan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan.

Beberapa lembaga negara memang sudah memiliki teknologinya. Lapan memiliki teknologi roket, Pindad sudah puluhan tahun berpengalaman di bidang pembuatan hulu ledak, serta PT Dirgantara Indonesia memiliki fasilitas dan berpengalaman membuat torpedo. Semuanya bergabung. "Kalau dari awal (penelitian sendiri), tidak akan cukup waktunya," kata Timbul.

Roket R-Han 122-yang berarti roket pertahanan berdiameter 122 milimeter-merupakan turunan roket Lapan RX-120. Roket Lapan ini sedikit diperbesar dengan alasan sederhana. "Kalau di militer ada standar roket 122," kata Soewarto. Salah satu roket seukuran yang digunakan Indonesia adalah roket yang diluncurkan dari RM-70 Grad, peluncur roket buatan Republik Cek.

Dalam dunia militer, roket seukuran ini disebut roket artileri karena fungsinya persis seperti meriam: menyapu pasukan musuh. Di "kelas" berikutnya, roket jarak menengah dan antarbenua. Sejumlah negara-di Asia bukan hanya Jepang, India, atau Cina, melainkan juga Iran dan Korea Utara-sudah mampu memproduksi roket berjangkauan ratusan kilometer. Indonesia saat ini sedang dalam taraf pengembangan dan targetnya pada 2014 sudah memproduksi roket jarak jauh yang tidak hanya bisa membawa bom ke benua lain, tapi juga satelit ke antariksa (baca "Empat Tahun Lagi").

Roket R-Han 122 tidak memiliki kendali sendiri dan tanpa sistem navigasi. Untuk mengarahkannya, personel yang meluncurkan harus menghitung sudut peluncuran. Akurasinya juga bukan titik, melainkan area dengan radius sekitar 500 meter. Saat terbang, roket akan meluncur sambil berguling. Ini membuat jangkauan roket makin jauh dan terarah.

Dengan sistem ini, roket R-Han 122 menjalani uji coba cukup lama. Tahap awal, setelah desain, seperti biasa uji coba di darat untuk menguji sistem pendorongnya. Baru kemudian dilakukan uji coba peluncuran yang sesungguhnya. "Sekitar 25 kali uji coba peluncuran," kata Soewarto, "semuanya sukses."

Uji coba itu dijalankan di Pameungpeuk dekat Garut, Lumajang di Jawa Timur, serta Baturaja, Palembang. Saat uji coba di Pameungpeuk dan Lumajang, roket diluncurkan ke arah laut. Sayang sekali, saat uji coba di Lumajang, ada kecelakaan meski bukan oleh roket R-Han 122. Kecelakaan itu mencederai dua warga yang berada di gubuk sekitar lapangan peluncuran. "Kalau roket ini (R-Han 122), tidak ada masalah," kata Soewarto.

Uji coba berikutnya dilakukan di Baturaja, Palembang. Sebagai roket artileri, roket akan diisi peledak betulan. Uji coba mesti dilakukan dengan sasaran darat. "Karena harus menguji hulu ledak, tidak bisa di laut," kata Soewarto. Mereka memilih Baturaja karena tempatnya luas, 23 ribu hektare, sehingga relatif aman jika ada masalah. Uji coba ini juga sukses.

Tapi tim ini tidak puas dengan jangkauan hanya 14 kilometer. Tim sudah mengembangkan R-Han 122 dengan jangkauan 23 kilometer, hampir dua kilometer lebih jauh dari roket RM-70 Grad. Jangkauan lebih jauh ini dicapai dengan cara sederhana: bahan bakar diperpanjang. Dalam versi sekarang, bahan bakar memiliki panjang satu meter. Dalam versi selanjutnya, panjangnya sampai dua meter. Versi lebih panjang ini sudah diuji coba di darat. "Akan segera diuji coba terbang dalam waktu dekat ini," kata Soewarto.

Proyek lain juga sudah menunggu. "Kita sedang mengembangkan R-Han 200," kata Siahaan. Roket sebesar itu, menurut Soewarto, mampu menjangkau sekitar 40 kilometer.

Empat Tahun Lagi

Meski menjadi bagian penting dalam proyek R-Han 122 atau R-Han 200 menaikkan gengsi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), konsentrasi utama lembaga para ahli roket ini adalah membuat roket yang bisa mengirim satelit ke antariksa. Target Lapan pada 2014: bisa memproduksi roket bernama RPS-01 untuk mengirim satelit. "Sejauh ini tahap-tahap (ke arah sana) berlangsung baik," kata Dr Soewarto Hardhienata, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan.

Roket itu terdiri atas empat tingkat. Tingkat teratas roket RX-320 yang sudah diproduksi dan sukses diuji coba Lapan. Tiga tingkat di bawahnya semula direncanakan terdiri atas RX-420 semua plus dua roket pendorong (booster) di kiri-kanan. RX-420 sudah sukses diuji coba sejak tahun lalu dan menjadi roket terbesar buatan Indonesia.

Tapi sejumlah perhitungan membuat Lapan kemudian mencoba menghilangkan sepasang booster itu. Salah satu alasannya: kerumitan perhitungan. Jika tenaga dua roket itu tidak benar-benar sama, arah luncuran bisa kacau, bisa melenceng. Sebagai gantinya, roket tingkat pertama tidak lagi berdiameter 420 milimeter, tapi diperbesar menjadi 550 milimeter. "Bulan depan ini uji statis RX 550 di Pameungpeuk (dekat Garut)," kata Soewarto.

Ini kemajuan mengingat, sejak 1960-an sampai 2006, Lapan seperti berhenti membuat roket. Mereka berkonsentrasi pada urusan seperti pengindraan jarak jauh. Selama empat dekade itu teknologi roket Indonesia berhenti pada diameter 250 milimeter.

Selain mampu membawa satelit, roket empat tingkat berjangkauan hampir 400 kilometer itu bisa diubah menjadi roket militer. "Muatannya bisa diganti hulu ledak," kata Soewarto.

Sumber: TEMPO


Selasa, 16 November 2010

Lapan Riset Desain Pesawat Tempur

0

ilustrasi KFX Kerjasama Antara Indonesia - Korea

Serpong, Kompas - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mengembangkan riset desain dan teknologi supersonik pesawat tempur untuk menunjang pertahanan dalam negeri. Realisasi produksinya bekerja sama dengan Korea Selatan.

”Riset ini untuk pengembangan keahlian Lapan, sekaligus memanfaatkan potensi industri penerbangan yang sudah dimiliki PT Dirgantara Indonesia,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewa Salatun dalam konferensi pers Seminar Penerbangan dan Antariksa 2010 di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong, Tangerang, Senin (15/11).

Lapan saat ini berhasil mengembangkan produksi roket dan satelit, di antaranya roket pengorbit satelit RX 550 yang akan diuji statis pada Desember 2010 di instalasi pengujian Pantai Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

”Untuk mencapai kemampuan mengorbitkan satelit di luar angkasa, roket harus teruji mampu memiliki kecepatan delapan kilometer per detik dalam keadaan meluncur secara horizontal. Kita lihat hasil pengujiannya nanti,” kata Adi.

Lapan juga merancang satelit kembar Lapan-A2 dan Lapan- Orari. Masing-masing berfungsi untuk menunjang pengamatan permukaan Bumi dan komunikasi pada saat bencana alam terjadi. Satelit ini akan diluncurkan pada November 2011 dari stasiun pengorbit di India.

Audit penerbangan

Pada kesempatan itu, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata menekankan pentingnya audit potensi teknologi penerbangan dan antariksa. Selanjutnya, agar didorong kerja sama antarindustri maupun lembaga riset untuk mengembangkan teknologi penerbangan dan antariksa tersebut. ”Pemerintah akan menyediakan panggung kolaborasi,” ujar Suharna.

Suharna mengatakan, panggung kolaborasi tetap berbasis pada kebijakan masing-masing institusi.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 12 November 2010

Misil Tercepat Produksi India

0


Rudal BRAHMOS

KOMPAS.com - India, negeri yang selama ini dikenal dengan film dan tariannya, ternyata juga handal dalam industri pertahanan. Negeri ini mampu menciptakan misil yang bisa mengalahkan missil-missil lain produksi negara maju.

"Missil Brahmos, itu nama misil produksi kami. Keunggulannya, misil kami merupakan missil supersonic tercepat di dunia sekaligus dengan akurasi yang tinggi. Kecepatannya bisa mencapai 1km/detik," kata Praveen Pathak, Addl GM (Marketing Promotion) Brahmos Aerospace, perusahaan yang memproduksi missil ini dalam pameran Indo Defence 2010 di Pekan Raya Jakarta, Jumat (12/11/2010).

Dibandingkan dengan misil subsonic yang dipasarkan saat ini, misil buatan India ini mampu bergerak lebih cepat 3 kali lipatnya. Selain itu, jarak tempuh yang bisa diraih juga bisa mencapai 2,5 - 3 kali lipat dari misil subsonic. Dan yang paling penting, daya hancur misil ini bisa mencapai 9 kali lipat dari misil subsonic populer dunia.

Pathak mengatakan, "Keunggulan lain dari misil ini adalah kemampuannya untuk diinstal dimana saja, mulai helicopter, pesawat, kapal hingga kapal selam." Selain itu, sistem kendali misil mampu melaksanakan Salvo Firing atau penembakan serentak, target Assignment atau penugasan target dan memastikan sekelompok target baik di darat maupun di laut. Salvo pada 9 proyektil dapat menembus dan menghancurkan kelompok kapal musuh terdiri dari tiga fregat dengan pertahanan anti misil modern.

Misil-misil yang akan diluncurkan diinstal di dalam alat luncur. Misil tersebut akan dikirim lengkap dengan daya pendorongnya di dalam Transportation and launch Conister (TLC). Misil versi udaranya dimodifikasi sehingga memiliki berat yang lebih ringan tetapi lebih kuat selama proses peluncuran.

Menurut Pathak, misil tercepat produksinya ini berbiaya murah jika dilihat dalam jangka panjang. "Harga misil pada awalnya mungkin tak jauh berbeda dengan misil lain. Tapi, biaya perawatan misil ini jauh lebih murah. Anda hanya perlu maintenance misil selama sekali dalam tiga tahun, berbeda dengan misil lain yang menuntut perawatan secara terus-menerus," kata Pathak.

Brahmos Aerospace yang memproduksi misil ini sendiri merupakan perusahaan joint venture antara Rusia dan India. Namun, seluruh pengembangan teknologi, proses produksi, tenaga kerja damn tempat produksi berasal dan dilakukan di India.

"Kami memilih Rusia karena mereka memiliki pengalaman dalam soal mesin, sementara kami memiliki pengalaman dalam soal sistem sehingga kami akan mampu memproduksi misil yang paling baik," kata Pathak. Joint Venture sendiri sudah dimulai pada tahun 1998 dan pada tahun 2005 berhasil meluncurkan produk ini.

Secara umum, misil ini unggul karena jarak tempuh yang jauh, garis lengkung arah peluru yang lebar, dilengkapi dengan anti pertahanan kapal perang serta energi kinetik yang terpasang yang membantu daya rusak kapal.

Sumber: KOMPAS


Senin, 08 November 2010

Update : Menhan: Penantian Enam Tahun Telah Berakhir

0

PALEMBANG (Suara Karya): Pemerintah Indonesia akhirnya mewujudkan impiannya untuk memiliki alat utama sistem senjata (alutsista) roket pertahananan RHAN-12. Roket ground to ground ini sebagai bagian dari alutsista TNI untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, penantian untuk memiliki roket pertahanan relatif lama dan telah menjadi cita-cita TNI maupun pemerintah Indonesia. "Enam tahun kita menanti lahirnya RHAN-12. Sekarang, kita bisa menyaksikan bersama bahwa roket itu telah ada dan telah diluncurkan," ujar Purnomo usai uji coba terakhir (finalisasi) peluncuran RHAN-12 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI Angkatan Darat, Baturaja, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (6/11).

Tampak hadir, Menristek Suharna Surapranata, Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Marsdya Edy Hardjoko, Sekjen Kemhan Marsdya Eris Herriyanto, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, Kepala Balitbang Kemhann Pos M Hutabarat, Direktur Utama PT DI Budi Santoso, dan Direktur Utama PT Pindad Adik A Soedarsono, Komandan Diklat TNI AD, Pangdam Sriwijaya, serta Kepala BPPT.

RHAN-12 adalah hasil karya anak bangsa, yang dielaborasi melalui kerja sama pemerintah dengan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP), serta kalangan akademisi. Di bawah koordinasi Menteri Pertahanan (Menhan), RHAN-12 diformulasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemhan, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan), PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Roket yang akan menjadi bagian dari sejarah kemandirian alutsista Indonesia ini, telah dua kali melaksanakan uji coba peluncuran. Uji coba peluncuran pertama di tempat sama pada 12 Oktober 2010. "Namun, sebelum proses uji coba peluncuran, kita sudah melakukan penelitian dan analisa selama enam tahun," ujarnya. Selama enam tahun, kocek yang harus dikeluarkan untuk meneliti RHAN-12 mencapai Rp 7,8 miliar.

RHAN-12 tipe un-guide dan ground to ground ini, punya kecepatan terbang maksimum 1,8 mach dan waktu terbang bisa mencapai 63 second pada jarak jangkau 13 kilometer pada sudut elevasi 50 derajat.

Pos Hutabarat menjelaskan, 90 persen material RHAN-12 berasal dari dalam negeri. Hanya tabung dan proklam roket yang masih diekspor dari luar negeri, karena industri dalam negeri belum bisa membuatnya.

"Kami sudah meminta PT Pindad yang sudah bekerjasama dengan perusahaan di Malang untuk pengadaan roket ini," katanya. Ia menyakini, jangkauan RHAN-12 bisa ditingkatkan hingga 20 ataupun 30 kilometer.

Kebangkitan Industri Pertahanan

Purnomo menargetkan, dalam empat tahun ke depan 2010-2014, Indonesia akan membuat 1000 RHAN-12. Sebanyak 500 unit akan menjadi bagian dari alutsista TNI dan sebagian lagi akan diproduksi oleh negara luar yang menaruh minat untuk membeli RHAN-12.

"Harga satu roket diperkirakan hanya Rp 75 juta. Lebih murah jika beli dari luar yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket," katanya.

Kasum TNI mengatakan, selama ini TNI masih bergantung kepada Amerika serikat untuk pengadaan roket pertahanan. "Kemampuan RHAN-12 dengan produk yang dikeluarkan AS hampir sama. Tapi, kita bisa menekan anggaran dengan keberadaan RHAN-12," ujar Edy.

Sementara itu, Suharna menyakini, terwujudnya hasil karya anak bangsa untuk melahirkan roket RHAN-12 akan memacu anak bangsa lainnya, pemerintah dan para stacholder untuk berlomba-lomba menciptakan teknologi terbaru yang berguna bagi bangsa dan negara. "Tanpa teknologi, kita tak akan mampu bersaing dalam era modernisasi dan globalisasi," ujarnya.

RHAN-12 memompa kreatifitas Kemenristek dan lembaga teknologi lainnya yang dimiliki Indonesia untuk membantu membangun persenjataan yang canggih. Keberhasilan untuk membangun alutsista akan tercapai apabila terbangun atas atas dasar sinergitas program.

Sumber: SUARA KARYA


Minggu, 07 November 2010

Roket R-Han 122 Berkecepatan 1,8 Mach Akan Dipasang Disebagian Besar KRI

0

SUKSES besar uji coba peluncuran roket R-Han 122 dari Lapangan Tembak Dodik Latpur Rindam II/Sriwijaya KM 8 Kemelak Baturaja, Kabupaten OKU, menjadi titik awal kebangkitan industri pertahanan RI.

“Kasih selamat dong kepada tim work kita,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Prof Dr Ir Purnomo Yusgiantoro MA MSc setelah roket uji coba terakhir selesai diluncurkan, Sabtu (6/11).

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang tegak di samping Menhan tak sanggup menyembunyikan kegembiraannya setelah perhelatan besar ini sukses seusai harapan.

Begitu juga Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Marsmadya TNI Edy Harjoko, Sekjen Kemhan Marsmadya Eris Heriyanto, Kabalitbang Kemhan DR Ir Pos M Hutabarat MA, Direktur PT Pindad Adika

Seodarsono, dan Direktur PT Dirgantara Indonesia serta pejabat terkait lainnya yang hadir, meluapkan kegembiraan bersama.

“Kita harus bangun kemandirian di bidang pertahanan,” ucap Menristek optimis,seraya menambahkan kehadiran R-Han 122 ini bisa memacu peneliti-peneliti Indonesia untuk

menumbuhkembangkan kemandirian bangsa dalam penelitian dan pengembangan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara.

Roket R-HAN -122 masuk jajaran Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan) TNI dalam rencana pengembangan roket pertahanan mulai tahun ini hingga tahun 2014 medatang akan diproduksi minimal 500 unit roket siap pakai.

Roket berkaliber 122 mm ini merupakan karya putera Bangsa Indonesia yang akan ditempatkan sebagian besar di KRI (Kapal-kapal perang RI).

Roket dengan kecepatan maksimum 1,8 mach merupakan hasil kerjasama antara Kemhan dengan Kementerian/instansi pemerintah terkait dan BUMN. Untuk membuat roket R-Han 122 dilakukan riset selama enam tahun yang menggunakan uang negara hampir Rp 9 miliar.

Pengembangan roket R-Han 122 juga dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industeri pertahanan dalam negeri.

Selama ini menurut Menhan, Indonesia masih membeli roket dari Amerika. “Harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta. Artinya untuk 500 roket Rp 37,5 miliar jauh lebih murah jika

membeli dari luar negeri,” jelas Menhan seraya menambahkan, 500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit.

Menyinggung apakah roket R-Han 122 hasil karya anak bangsa ini akan dijual ke luar negeri, Menhan mengataka, suatu produk bila sudah teruji baru dipasarkan.

“Untuk saat ini R-Han 122 dipakai sendiri,” katanya seraya menggarisbawahi, Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya.

Sumber: SRIWIJAYA POST


Update : Roket R-Han 122 Resmi Diluncurkan

0

Tampak satu unit roket R =Han 122 baru diluncurkan dari lapangan tembak Dodik Latpur Rindam II/Srwiijaya KM 8 Kemelak Baturaja Sabtu (6/11) pukul 13.40. Roket ke-1 ini penekanan tombol peluncurannya dilakukan Menteri Pertahanan RI Prof DR Ir Purenomo Yusgiantoro, MA, MSc.

BATURAJA - Uji coba peluncuran empat unit roket R-Han 122 yang dipusatkan dilapangan Dodik Latpur Rindam II/Sriwijaya Km 8 Kemelak Baturaja, Sabtu (6/11) kemarin berlangsung sukses.

Rudal pertama dan kedua diluncurkan pukul 13.40 yang penekanan tombol peluncurkan dilakukan oleh Menteri Pertahanan RI Prof DR Ir Purenomo Yusgiantoro MA MSc didampingi Menristek Suharna Soeryapranata, Kasum TNI Marsmadya TNI Edy Harjoko, Sekjen Kemhan Marsmadya Eris Heriyanto, Kabalitbang Kemhan, DR Ir Pos M Hutabarat MA serta Direktur PT Pindad Adika Seodarsono.

Peluncuran R-Han 122 kedua dan ketiga dilakukan pukul 14.00 yang penekanan tombolnya dilakukan oleh Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH didampingi Pangdam II/SWJ Mayjen TNI Agus Gunaidi Pribadi dan Kapolda Sumsel Irjen Pol Hasyim Irianto.

Empat roket berkaliber 122 mm terdiri dari tiga unit warhead smoke (asap) dan satu unit wearhead live (tajam) yang diluncurkan lapangan tembak Dodiklatpur ini jatuh di Pusat Latihan Tempur Martapura OKU TIMUR (sesuai target). Sebelumnya tanggal 12 Oktober lalu sudah dilakukan uji coba peluncuran pertama.

Yusgiantoro dalam jumpa pers seusai peluncuran mengatakan roket R-Han 122 merupakan hasil kerjasama yang sinegri antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (KRT), Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya.

Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km. Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead diharakan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.

Serangkaian ujicoba roket itu, disebut sebagai bagian target awal pengadaan sebanyak 500 rudal di Kementrian Pertahanan RI, untuk peningkatan alat utama sistim persenjataan (alutsista) TNI.

“Setelah ini tidak ada lagi uji coba, kita akan segera masuk tahap komersial (penjualan),“ kata Menhan seraya menambahkan hingga tahun 2014 minimal akan diproduksi 500 unit roket untuk kebutuhan alutsista TNI AL.

Dipilihnya daerah Baturaja menjadi ujicoba dan peluncuran dengan pertimbangan daerah ini paling pas karena memiliki dianggap sangat cocok. Pasalnya, daerah tersebut cukup aman dan jangkauan penduduk dan jauh dari pemukiman penduduk.

Dikatakan Purnomo, keberhasilan peluncuran berkat kerja keras selama enam tahun terakhir. Pada tiga tahun pertama, sebagai tahap penelitian dari institusi terkait seperti LAPAN, PT DI, PT Pindad, Balitbang dan Kemenristek. Hasil penelitian lalu disatukan/kolaborasi bersama Kemenhan yang menghasilkan ujicoba peluncuran.

Pembiayaan untuk pengadaan roket itu sendiri menurut Purnomo akan dibiayai melalui APBN. Untuk satu rudal yang memiliki daya jangkau sekitar 15 Km tersebut membutuhkan biaya Rp 75 juta. Harga pembuatan rudal produksi dalam negeri itu dinilai lebih murah ketimbang harus membeli roket dari luar yang cost-nya lebih mahal.

Sumber: SRIWIJAYA POST


Sabtu, 06 November 2010

Menhan: Indonesia akan Punya 500 Roket

0

illustrasi

Waykanan, Lampung (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro mengatakan dalam jangka waktu selama empat tahun ke depan Indonesia akan memiliki 500 roket sebagai pertahanan negara.

"Insya Allah nanti pada tahun 2014 paling sedikit ada 500 roket R-Han 122 yang akan masuk dalam jajaran pertahanan kita karena ini merupakan hasil karya anak negeri selama enam tahun," kata Menhan di Waytuba, Waykanan, Lampung, Sabtu.

R-Han 122, lanjut Menhan, berfungsi sebagai senjata yang berdaya ledak optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11 sampai dengan 14 km sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dengan luar negeri.

"Selama ini Alustsista kita dibeli dari Amerika, namun karena kita sudah memiliki roket sendiri yang selama ini hanya diaplikasikan untuk kepentingan ilmiah atau sipil, diantaranya penginderaan jarak jauh, penelitian atmosfer, pemantauan cuaca atau peluncuran satelit, diharapkan dapat digunakan semaksimal mungkin, terlebih merupakan industri dalam negeri," ujarnya

R-Han 122 merupakan kerja keras anak-anak bangsa Indonesia selama enam tahun.

"R-Han 122 ini adalah hasil kerja keras selama enam tahun. Tiga tahun pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh intitusi LAPAN, Pindad, PT Dirgantara Indonesia, Kementerian Pertahanan dan Menristek dan pada tiga tahun selanjutnya telah dikolaborasikan," ujarnya.

Kebijakan pembangunan sarana pertahanan, lanjut Menhan, merupakan bagian terpadu dari kebijakan pembangunan kekuatan pertahanan yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kondisi geografi, demografi, sumber kekayaan alam buatan maupun kemampuan anggaran negara.

"Indonesia sebagai kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya," tegasnya.

Selain itu juga, lanjut dia, kebutuhan peralatan pertahanan dalam menghadapi era globalisasi semakin meningkat dan kompleks jenisnya sehingga memerlukan peningkatan fasilitas Alutsista penunjang.

"Alustita penunjang diantaranya adalah `prototype warhead` dan `impact fuze` pada roket caliber 122 mm yang perlu diintegrasikan sebagai Alutsista pertahanan," katanya.

Terkait daya jual R-Han 122, kata dia, tentu sangan memungkinkan jika teruji bagus sebagaimanan Anoa yang dibeli oleh Malaysia.

"Anoa bisa kita jual ke Malaysia karena sudah kita pakai di Lebanon dan teruji bagus serta didukung oleh PBB," ujarnya.

Sumber: ANTARA


Kamis, 04 November 2010

KEMHAN PROGRAMKAN PRODUKSI 1.000 ROKET

0

ilustrasi

Jakarta, 4/11/2010 (Kominfo-Newsroom) Komitmen memperkuat pertahanan di wilayah laut salah satunya diwujudkan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam program produksi 1.000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Laut. Program ini akan selesai pada 2014 mendatang.

Sebanyak 750 roket diperkirakan selesai pada 2013. Selain roket, dilakukan juga pembelian super tocano (pesawat pengganti), pengembangan produk bom udara untuk pesawat Sukhoi, dan pembuatan parasut untuk TNI Angkatan Darat.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pada Sabtu (6/10) mendatang akan dilakukan ujicoba terakhir roket di Pusat Latihan Tempur Baturaja, Sumatera Selatan.

“Diharapkan roket ini bisa digunakan untuk TNI AL maupun TNI AD,” kata Purnomo di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Kamis (4/11).

Produksi roket ini menurut Purnomo dilakukan untuk melengkapi alat utama sistem senjata (Alutsista) di wilayah laut, terutama wilayah perbatasan. Roket yang diberi nama RHAN-122 ini bisa menjangkau sasaran hingga 14,5 kilometer.

Pada 2012, Kemhan bahkan akan meningkatkan jangkauan hingga 20 kilometer. Dan di tahun 2013, jangkauan akan diusahakan mencapai 33 kilometer.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemhan, Pos M Batubara mengatakan 90 persen material rudal berasal dari dalam negeri. Hanya tabung dan proklam roket yang masih diekspor dari luar negeri karena industri dalam negeri belum bisa membuatnya.

“Kami sudah meminta PT Pindad yang sudah bekerjasama dengan perusahaan di Malang untuk pengadaan roket ini,” kata Pos.

Menurutnya, harga satu roket diperkirakan hanya 75 juta rupiah. Lebih murah jika beli dari luar yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket.

Sumber: KOMINFO


Rabu, 22 September 2010

Roket RX-550 Buatan LAPAN Akan Dipamerkan Di IDAM Expo 2010

0


Kementerian Pertahanan setiap dua tahun sekali menyelenggarakan kegiatan pameran yang bersifat internasional yaitu Indo Defence Expo dan Forum. Untuk Tahun 2010, penyelenggaraan Indo Defence 2010 agak berbeda dengan pelaksanaan dua kali sebelumnya. Kali ini selain melibatkan peralatan darat juga peralatan laut dan udara. Dengan demikian Indo Defence 2010 dapat disebut Indo Defence, Indo Aerospace dan Indo Marine Expo (IDAM) 2010.

Dalam rangka mempersiapkan partisipasi stakeholder terkait riset dan iptek pada kegiatan IDAM 2010, Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan rapat koordinasi pada Selasa, 21 September 2010. Rapat yang dipimpin oleh Asisten Deputi Produktivitas Riset Iptek Strategis, Goenawan Wybisana dihadiri perwakilam dari Balitbang Kementerian Pertahanan, LPNK Ristek, perguruan tinggi dan industri strategis bidang hankam.

Menurut Gunawan Wybisena, Kementerian Riset dan Teknologi pada kegiatan IDAM 2010 akan menyerahkan secara simbolis 20 perangkat peralatan komunikasi untuk keperluan tempur yang diproduksi PT. LEN kepada Kementerian Pertahanan. Peralatan yang bernama Manpack Alkom FISCOR-100 tersebut beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 30 Mhz dengan 256 channel dengan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level pleton hingga batalion.

illustrasi

Selain itu, pada IDAM 2010, Kementerian Riset dan Teknologi berencana untuk memamerkan roket RX-550 buatan LAPAN yang memiliki diameter 550 mm dan tinggi 18 meter di pintu gerbang Jakarta Internasional Expo, Kemayoran yang akan menjadi tempat pelaksanaan IDAM 2010 pada tanggal 10-13 November mendatang. Gunawan berharap kehadiran roket RX-550 pada pameran tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri kepada masyarakat.

Kementerian Pertahanan selaku penyelenggara menargetkan kegiatan IDAM 2010 ini akan diikuti peserta dari luar negeri yang berasal dari 38 negara dan dalam negeri sebanyak sebanyak 550 perusahaan, dengan target pengunjung sekitar 20.000 orang.

Sumber: RISTEK


Senin, 02 Agustus 2010

Lapan Akan Bangun Bandar Antariksa di Bengkulu

0

RX-420

Jakarta - Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) akan meluncurkan roket pengorbit satelit (RPS) yang pertama pada 2014 mendatang. Guna mewujudkan hal itu, Lapan terlebih dulu akan membangun bandar antariksa di Bengkulu.

"Guna meluncurkan RPS, Lapan memerlukan bandar antariksa profesional yang berfungsi sebagai fasilitas untuk meluncurkan roket pengantar satelit ke orbitnya," kata Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilisnya pada detikcom, Senin (2/8/2010).

Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu dianggap sebagai tempat yang pas untuk pembangunan bandar antariksa. Pasalnya, Enggano memiliki populasi penduduk yang tidak terlalu banyak dan tidak berhubungan langsung dengan wilayah negara lain. Selain itu, Enggano juga memiliki luas wilayah yang luas dan lingkungan aman.

"Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memenuhi persyaratan sebagai bandar antariksa. Untuk itulah, Lapan dan Pemerintah Provinsi Bengkulu akan bekerja sama membangun fasilitas peluncuran roket di pulau tersebut," katanya.

Enggano dianggap cukup ideal karena memiliki kawasan luas yang masih kosong. Selain letaknya strategis, pulau yang berada di selatan Bengkulu ini juga berhadapan langsung dengan laut bebas, yaitu Samudera Hindia.

Dengan demikian, wilayahnya aman dan memiliki risiko yang kecil akibat kegiatan peluncuran roket. Selain bekerja sama untuk fasilitas peluncuran roket, kedua instansi juga akan bekerja sama dalam bidang teknologi dirgantara lainnya. Bidang tersebut adalah pemanfaatan data penginderaan jauh dan sains antariksa untuk pengembangan provinsi Bengkulu, serta pengembangan sumber daya manusia.

Sebelumnya, Lapan telah memiliki fasilitas peluncur satelit di Pameungpeuk, Jawa Barat. Fasilitas tersebut selama ini digunakan untuk meluncurkan berbagai roket eksperimen hasil penelitian dan pengembangan Lapan. Namun, untuk meluncurkan roket pengorbit satelit yang berukuran besar, Lapan membutuhkan bandar antariksa yang lebih luas.

Untuk mewujudkan terbangunnya bandar antariksa di Pulau Enggano, Lapan dan Pemerintah Provinsi Bengkulu akan menandatangani naskah kerja sama pada Senin, 2 Agustus 2010 pukul 09.00 WIB di kantor pusat Lapan, Jl. Pemuda Persil No. 1, Rawamangun, Jakarta Timur.

Sumber: DETIK


Selasa, 13 Juli 2010

TNI Butuh Pesawat Tempur Sergap dan Peluru Kendali

0

illustrasi F-16 CD

JAKARTA (Suara Karya): TNI Angkatan Udara (AU) sangat membutuhkan alat utama sistem senjata (alutsista) modern dan canggih untuk mengamankan wilayah udara nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Paling substansi dibutuhkan, yakni pesawat tempur sergap dan angkut, peluru kendali, serta radar pendeteksi pesawat musuh.
"Untuk mampu mengamankan wilayah udara nasional, Kohanudnas harus didukung dengan peralatan alutsista yang memadai agar dapat mengawasi seluruh wiludnas sehingga tugas pokok Kohanudnas akan dapat dilaksanakan dengan baik," ujar Panglima Komando Pertahana Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsekal Muda TNI Dradjad Rahardjo di sela-sela kunjungan Komisi I DPR ke Markas Kohanudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (11/7).
Kunjungan Komisi I DPR, untuk mengetahui dan menyerap aspirasi satuan-satuan TNI secara langsung. Masukan dari TNI AU akan dibawa dalam rapat dengar pendapat DPR dengan Kementerian Pertahanan/TNI dalam rangka pemenuhan alutsista ideal.
Menurut Dradjad, keberadaan alutsista TNI AU masih jauh dari ideal. Bahkan, secara kuantitas dan kualitas, alutsista yang dimiliki TNI AU sangat minim. "Kondisi ini merupakan kemunduran dan harus diperjuangkan," ujarnya.
Selain alutsista, Panglima Komando Operasi TNI AU I melalui Kepala Staf Kroops TNI AU I Marsma TNI Bagus Puruhito mengatakan, TNI AU membutuhkan pesawat angkut untuk mendukung operasi Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) ke daerah. "Pesawat angkut yang kita miliki cukup minim," ujarnya.
Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman menjanjikan akan memperjuangkan kebutuhan TNI.
"Kami sangat merespons tentang kondisi alutsista yang dibutuhkan TNI khususnya masalah Hanudnas, maupun dukungan alutsista lainnya. Kami akan memperjuangkan agar TNI ke depan lebih baik," ujarnya.
Bela Negara

Secara terpisah, 60 mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran yang tergabung dalam kegiatan Integrasi Mahasiswa Dewasa (Simada) IV mengunjungi Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar), Senin (12/7). Rombongan yang dipimpin Rektor UPN Veteran Laksda Purn Budiman Djoko Said diterima Pangarmabar Laksda TNI Marsetio.
Menurut Marsetio, peran dan kepedulian mahasiswa terhadap pulau-pulau terluar di Indonesia punya nilai strategis untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatn NKRI, khususnya di wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga.
"Dengan adanya program dari UPN Veteran untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan sekaligus melaksanakan kerjasama dengan masyarakat yang berada di pulau-pulau terluar, karena mahasiswa memilki peran yang penting dalam hal bela negara," ujarnya.
Bela negara bukan hanya tugas TNI, melainkan juga tugas seluruh warga negara termasuk mahasiswa. Dijelaskan Budiman, Simada diarahkan pada kegiatan pembangunan masyarakat yang cinta tanah air dan memiliki kesadaran bela negara.

Sumber: SUARA KARYA


Selasa, 29 Juni 2010

Kompetisi Roket Yogya Dilirik Ilmuwan Jepang dan Malaysia

0

(Foto: KOMPAS)
TRIBUNNEWS.COM, BANTUL- Kompetisi Roket Indonesia (KORINDO) 2010 yang diikuti 40 tim dari 38 perguruan tinggi ternyata menarik minat pengamat dan ilmuwan Jepang maupun Malaysia. Ilmuwan Jepang yang tergabung dalam Asia-Pasifik Regional Space Agency Forum (APRSAF) khusus menyaksikan kompetisi roket yang digelar di Bantul itu.

"Saya sangat senang mendapatkan kesempatan untuk dapat menghadiri KORINDO," kata Co-chairman of Space Education and Awareness Working Group, Takashi Kubota dari Jepang, mewakili APRSAF, usai pembukaan Minggu yang dirilis kemendiknas, Senin (28/6).

Takashi menilai, ajang Kompetisi Roket ini akan meningkatkan kesadaran publik akan keuntungan dan pentingnya pendidikan kedirgantaraan. Selain itu, kata dia, untuk mempromosikan bidang kedirgantaraan kepada para generasi muda. Hadir juga sebagai pengamat tiga dosen dari Universiti Kebangsaan Malaysia yaitu Wayan Suparta, Geri Gopir, dan Helmi Sanusi.

Acara pembukaan dilanjutkan dengan demo peluncuran roket yang membawa spanduk KORINDO 2010. Disusul roket kedua dan ketiga, demo membawa muatan robotik dari Akademi Angkatan Udara dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Selanjutnya, kompetisi diawali dengan peluncuran roket BAROK dari Politeknik Banyuwangi, ASTEROID (Ciung Wanara) dari Politeknik Negeri Bandung, RU-ITek dari STMIK Teknokrat, dan Posedon dari Institut Pertanian Bogor.

Sumber: TRIBUN


Politeknik Elektronika Surabaya Meraih Juara

0


Persiapan peluncuran roket pada Kompetisi Roket Indonesia di Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Minggu (27/6). Kompetisi yang diikuti 31 tim dari sejumlah universitas tersebut ditujukan, antara lain, untuk meningkatkan kecintaan generasi muda pada teknologi kedirgantaraan.

Bantul, Kompas - Tim mahasiswa dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya menjadi pemenang Kompetisi Roket Indonesia atau Korindo 2010, yang diselenggarakan di Pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta, 26–28 Juni 2010.

Penetapan juara dilakukan setelah para peserta mempresentasikan data yang diperoleh dari rancangan muatan sensor meteorologi yang diluncurkan dengan roket tipe RUN 70-100 bikinan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Roket ini diluncurkan hingga ketinggian sekitar 400 meter.

Dari sebanyak 31 tim peserta, satu tim mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara mengundurkan diri. Hal ini karena komunikasi data dari rancangan muatan roketnya yang mengungkap suhu, kelembaban udara, tekanan, akselerasi, dan arah mata angin, itu gagal ditransmisikan ke stasiun darat di lokasi peluncuran.

Para peserta mempresentasikan data pada Senin (28/6) kemarin di gedung Pemerintah Kabupaten Bantul secara bergiliran.

Tim EEPISky 10 dari Politeknik Elektronik Negeri Surabaya sebagai peraih juara pertama, beranggotakan Ahmad Fuady (Jurusan Mekatronika), Eko Budi Utomo (Jurusan Elektronika), dan Prabanca Adi (Jurusan Mekatronika). Mereka mendapatkan hadiah uang Rp 10 juta.

Juara kedua diraih Universitas Pelita Harapan Jakarta. Kemudian juara ketiga diraih tim mahasiswa dari Politeknik TEDC Bandung.

Gagal ”homing”

Anggota Dewan Juri, Wahidin Wahab, menuturkan, semua peserta Korindo 2010 masih gagal ”homing”, yaitu kriteria untuk rancangan muatan setelah terlontar dari roket, harus diupayakan kembali ke titik peluncuran. Bobot muatan diatur tidak boleh melampaui 1 kilogram.

Muatan itu akan terlontar dan jatuh dengan parasut setelah bahan bakar propelan di dalam roket habis terbakar. Muatan selain dilengkapi sensor data meteorologi, juga dilengkapi motor yang bisa dikendalikan secara jarak jauh untuk mengarahkan jatuhnya ke titik peluncuran.

Kepala Instalasi Validasi dan Sertifikasi Lapan Atik Bintoro mengatakan, secara teori pengembalian muatan roket ke titik peluncuran bisa dilakukan. Dengan pengendalian jarak jauh, arah jatuh muatan bisa diubah arah 180 derajat dari gerak roket.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin