Tampilkan postingan dengan label KOREA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOREA. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

Korsel Akan Membuat Pesawat Tempur Siluman Pada Tahun 2015

1

Seoul - (WDN/MIK):Korea Selatan akan merencanakan pembelian dari armada pesawat tempur canggih dengan kemampuan tempur stealth pada tahun 2015, sebuah proyek diperkirakan yang menelan biaya sebesar 10 milyar won ($ 9 miliar), Yonhap News melaporkan pada hari Minggu.

Langkah itu diambil sebagai ketegangan di semenanjung Korea yang disebabkan pengembangan rudal oleh Korut yang menyebabkan keprihatinan Korsel, sementara Cina menegaskan awal bulan ini telah melakukan uji coba penerbangan pertama pesawat tempur silumannya.

AS dan perusahaan pertahanan Eropa telah bersiap-siap untuk tahap ketiga program modernisasi pesawat tempur Korea Selatan untuk menggantikan F-4E dan F-5E yang telah mengalami kecelakaan fatal dalam beberapa tahun terakhir.

F-15 Boeing Co, F-35 Joint Strike Fighters Lockheed Martin Corp dan EADS Eurofighter jet multinasional akan bergabung dalam kompetisi.

"Ada konsensus di dalam pemerintah untuk mempercepat generasi proyek pesawat tempur," Yonhap mengutip sumber dari pejabat pemerintah yang dirahasiakan identitasnya.

"Anggaran sebesar 300 juta won yang dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan tahun ini, tapi (pemerintah) untuk menyediakan anggaran tambahan melalui penyesuaian anggaran jika diperlukan."

Berdasarkan jadwal semula, Korea Selatan akan menerima proposal dari perusahaan pertahanan awal tahun depan dan akan menyeleksi pada bulan Agustus 2012 untuk memperkenalkan jet tempur dengan kemampuan siluman antara 2016 dan 2020.

Sumber : The Star/Reuters/WDN/MIK


Selasa, 25 Januari 2011

RI- Republik Korea Akan Tingkatkan Kerjasama Industri Pertahanan

0

Tank XK2 Buatan Korsel.

Jakarta, DMC - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat (21/1), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Republik Korea HE Kim Ho-Young, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Kedatangannya kali ini adalah untuk menyampaikan dua hal yaitu mengenai kunjungan utusan khusus Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang akan bertemu dengan Pemerintah Republik Korea dan persiapan mengenai konten kerjasama industri pertahanannya.

Dubes Republik Korea mengharapkan diadakannya pertemuan antara pihak Republik Korea dengan Kementerian Pertahanan RI dan TNI sebelum utusan khusus Presiden RI bertemu dengan Pemerintah Republik Korea untuk menindaklanjuti kemungkinan kerjasama ini.

Sementara itu Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan bahwa berdasarkan laporan dari Sekjen Kemhan mengenai hasil dari pertemuan antara Presiden RI dengan Presiden Korea pada akhir tahun kemarin. Informasi tersebutlah yang mendorong Kementerian Pertahanan untuk proaktif berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Perekonomian tentang agenda yang menjadi fokus pertemuan tersebut.

Kementerian Pertahanan sampai saat ini masih membahas hasil pertemuan kedua pimpinan negara tersebut dengan Kemenko Perekonomian mengenai pembicaraan tentang kerjasama industri pertahanan dalam pertemuan tersebut. Menhan Purnomo Yusgiantoro mengharapkan hasil pertemuan antara kedua Kepala Pemerintahan tersebut dapat direalisasikan sesegera mungkin.

Pada akhir tahun yang lalu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Republik Korea mengadakan pertemuan tingkat tinggi yang didalamnya membicarakan beberapa hal penting diantaranya kerjasama industri pertahanan antara kedua negara. Dan kedatangan Dubes Korsel kali ini adalah untuk mengetahui tindak lanjut upaya peningkatan kerjasama industri pertahanan kedua tersebut.

Kerjasama industri pertahanan ini antara lain pembangunan tank, panser, kapal patroli serta pesawat tempur. Yang dibicarakan oleh Presiden RI kepada Presiden Republik Korea sebenarnya sama dengan keinginan Wakil Menhan yang diungkapkan sebelumnya yaitu peningkatan kerjasama strategis di bidang industri pertahanan. Saat menerima Dubes Republik Korea, Wamenhan didampingi Kepala Badan Ranahan Kemhan Laksda TNI Susilo dan Dir Tekind Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Agus Suyarso.

Sumber: DMC


Transfer Teknologi Alutsista Harus secara Bertahap

0

JAKARTA – Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI), Edy Prasetyono, mengatakan alih teknologi dalam pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista) membutuhkan tahapan dan waktu yang tidak singkat. Alih teknologi harus dilakukan secara bertahap agar industri pertahanan dalam negeri bisa memperkuat alutsista yang dibutuhkan TNI. “Pada dasarnya, teknologi, apalagi teknologi dalam bidang pembuatan alutsista, harus diupayakan sendiri.

Kita harus mampu belajar dari proses, lalu mengembangkan sendiri,” kata Edy kepada Koran Jakarta, di Jakarta, Minggu (23/1). Tak hanya membuat sendiri, Edy juga berharap Indonesia seharusnya bisa mempersiapkan infrastrukturnya, keberlanjutannya, termasuk urusan finansial. “Jika mungkin, dalam hal pemasarannya,” ujarnya. Secara terpisah, Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana Soeparno mengatakan TNI AL berencana mengembangkan ka pal selam asli Indonesia secara bertahap.

Untuk mencapai tahap itu, TNI AL berencana melakukan transfer teknologi sedikit demi sedikit dari lima proyek kapal selam yang akan dibuat. “Satu kapal selam yang akan kita adakan pada tahun ini memang murni dari luar negeri dan diharapkan bisa selesai akhir tahun,” katanya. Untuk empat kapal selam selanjutnya, akan mulai dilakukan transfer teknologi. Soeparno mengandaikan, untuk pengadaan kapal selam kedua, mungkin baru seperempatnya yang merupakan produksi dalam negeri.

Tiga perempatnya masih berasal dari luar negeri. Pada pembuatan kapal selam ketiga, porsi produksi dalam negeri meningkat menjadi dua perempat. Dan pada pembuatan kapal selam kelima barulah murni dibuat di dalam negeri. “Saya berharap ahliahli di Indonesia sudah bisa membuat kapal selam sendiri pada pengadaan kapal selam kelima,” kata Soeparno. Alih teknologi secara bertahap ini dilakukan karena kapal selam memiliki spesifi kasi kerumitan tersendiri. Kapal selam juga merupakan senjata strategis yang teknologinya cukup tinggi sehingga sangat sulit untuk langsung membuatnya di dalam negeri.

Untuk negara yang akan dituju dalam pembangunan kapal selam ini, Soeparno mengaku belum menentukan. Namun, dia menegaskan bisa jadi negara yang akan diajak bekerja sama dalam pengadaan pertama hingga keempat bisa berganti- ganti. “Bergantung pada kesanggupan mereka dalam transfer teknologi,” ujarnya. Kerja Sama Untuk alutsista Angkatan Udara, TNI AU belum mau menerima tawaran keja sama pengadaan pesawat tempur dengan China dan Pakistan. Kepala Staf TNI (Kasau) Marsekal Imam Sufaat mengakui memang ada permintaan kerja sama dari kedua negara itu, namun masih sebatas tawaran.

“Jika pertimbangan politik dan pertimbangan lainnya dinilai positif, mungkin kerja sama (dengan kedua negara itu) akan ditindaklanjuti. Saat ini kita akan fokus mengembangkan pesawat tempur jenis KFX dengan Korea Selatan,” kata Imam. Dia mengatakan dalam pembuatan pesawat KFX, Indonesia akan ikut dengan tim Korea Selatan, mulai dari opsi keuangan hingga opsi teknik. Prototipe pesawat diharapkan bisa selesai pada 2020 mendatang, dan bisa dikembangkan sendiri. Imam mengatakan TNI AU memang membutuhkan pesawat tempur yang spesifi kasinya melebihi F16 tetapi tidak lebih canggih dari F35.

Pesawat tempur jenis KFX dinilai merupakan jawaban dari kebutuhan itu. Edy mengatakan khusus untuk kerja sama pengadaan pesawat tempur jenis KFX yang baru bisa menciptakan prototipe pada 2020, Edy melihat hal itu merupakan hal yang wajar walau pun saat ini pesawat jenis KFX tak secanggih pesawat F35 maupun pesawat yang baru saja diluncurkan China, J20, yang merupakan produk generasi kelima. “Wajar, sebab harus melalui serangkaian uji coba sesuai kebutuhan dan keandalan yang tinggi. Waktu yang lama pun wajar dalam produksi alutsista,” katanya.

Sumber: KORAN JAKARTA


Senin, 24 Januari 2011

Gandeng Korsel, Pemerintah RI Ciptakan Pesawat Tempur Baru

0

Ist

Malang - Pemerintah Indonesia akan membuat pesawat tempur guna menunjang alat utama sistem kesenjataan (alutsista) di masa mendatang. Pesawat tempur yang diberinama KF-X ini dikerjakan bersama Korea Selatan.

"Proyek ini untuk memenuhi kebutuhan alutsista jangka panjang. Guna menyongsong
kemandirian alutsista," ujar Dirjen Pertahanan Nasional, Mayjen TNI Puguh Santoso usai mengisi kuliah tamu di universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Senin (24/1/2011).

Proyek ini, lanjut Puguh, dilakukan hingga 2018 mendatang. Diharapkan ke depan alutsista khususnya pesawat tempur buatan sendiri. "Ini kebijakan pemerintah, untuk
pengadaan alutsista mandiri," tuturnya.

Puguh menambahkan, kemandirian pengadaan alutsista ini dilakukan pemerintah untuk menghilangkan ketergantungan terhadap negara lain. "Selama ini kita didekte oleh negara lain, kita sudah bosan dengan itu. Makanya mengadakan alutista secara mandiri," imbuhnya.

Puguh mengungkapkan, KF-X merupakan model pesawat jet tempur yang mempunyai kemampuan di atas Sukhoi buatan Rusia. Dengan memiliki pesawat ini, TNI tidak lagi membeli pesawat impor.

"Keunggulannya empat setengah di atas Sukhoi, jadinya sudah bagus," ungkapnya.

Puguh sendiri enggan membeberkan berapa nilai investasi untuk pembuatan pesawat tempur tersebut. Ditanya mengapa Korea Selatan menjadi negara pilihan untuk digandeng membuat pesawat tersebut, Korsel dinilai telah memiliki teknologi yang sama. Disampingkan itu juga sudah menjadi kebijakan Kementerian Pertahanan.

"Korsel memiliki teknologi yang sama. Itu menjadi pertimbangan kami," bebernya.

Tahun 2015 mendatang, sambung dia, pesawat tempur tak layak pakai akan diganti dengan pesawat ini. "KF-X akan menjadi pesawat temput andalan TNI," pungkasnya.

Sumber: DETIK


Jumat, 21 Januari 2011

2 WNI Berhasil Diselamatkan Pasukan Korsel

0

Seoul - Pasukan khusus Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel) telah berhasil menyelamatkan 21 pelaut termasuk 2 WNI yang disandera para bajak laut Somalia pekan lalu. Kapal kargo mereka yang dibajak juga berhasil direbut kembali.

Dalam operasi itu, delapan bajak laut tewas. Presiden Korsel Lee Myung-bak pun memuji keberhasilan operasi penyelamatan tersebut.

"Militer kami telah melakukan operasi tersebut dengan sangat baik di bawah situasi yang sulit. Saya menghargai itu dan mengirimkan pesan dukungan," tutur Lee dalam pidatonya yang disiarkan stasiun televisi Korsel dan diberitakan kantor berita resmi Korsel, Yonhap, Jumat (21/1/2011).

Operasi ini mengakhiri misi pasukan Korsel di Laut Arab yang dimulai awal pekan ini. Dalam misi penyelamatan itu, kapal penghancur Korsel, Choi Young beserta sekitar 300 prajurit khusus SEAL dilibatkan untuk mengejar kapal Samho Jewelry yang dibajak tersebut.

"Pasukan khusus kami menyerbu kapal Samho Jewelry yang dibajak pagi tadi dan membebaskan semua sandera," kata Letjen Lee Seong-ho, kepala operasi tempur untuk Kepala Staf Gabungan Korsel.

"Dalam operasi, pasukan kami menewaskan beberapa pembajak Somalia dan seluruh sandera dikonfirmasikan selamat," ujar pejabat militer Korsel itu kepada para wartawan.

Diimbuhkan Lee, pasukan Korsel menangkap hidup-hidup lima pembajak Somalia. Keseluruhan ada 13 pembajak di atas kapal Samho Jewelry seberat 11.500 ton tersebut.

"Operasi ini meunjukkan tekad kuat pemerintah kita bahwa kita tak akan lagi mentolerir aktivitas ilegal oleh para pembajak," tandas Lee.

Dikatakan Lee, nakhoda kapal mengalami luka tembak di perutnya selama operasi penyelamatan. Namun kondisinya tidak membahayakan.

Kapal Samho Jewelry dibajak pada Sabtu, 15 Januari lalu di Laut Arab saat dalam perjalanan menuju Sri Lanka dari Uni Emirat Arab. Kapal tersebut mengangkut bahan-bahan kimia. Kapak tersebut membawa 21 kru yang terdiri dari delapan warga Korsel, dua WNI dan 11 warga Myanmar.

Sumber: DETIK


Kamis, 20 Januari 2011

AS "Dirayu" Tingkatkan Jangkauan Rudal Korsel

0

Rudal Korea Selatan.

SEOUL, RABU - Korea Selatan berencana meningkatkan daya jangkau peluru kendali yang mereka miliki untuk mengantisipasi sikap agresif negara tetangga, Korea Utara.

Upaya itu juga sekaligus untuk meningkatkan efek penggentar bagi Korut. Untuk merealisasikan niat tersebut, Korsel akan bekerja sama dan berkonsultasi dengan negara sekutunya, Amerika Serikat.

Langkah negosiasi dilaporkan sudah digelar kedua negara sejak akhir tahun lalu. Jika jadi dilakukan, daya jelajah peluru kendali Korsel bakal meningkat dari hanya mencapai radius 300 kilometer menjadi lebih dari 1.000 kilometer.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Rabu (19/1), menolak berkomentar. Namun, Perdana Menteri Korsel Han Seung-soo pernah menyampaikan di depan parlemen Korsel soal pentingnya upaya tersebut, apalagi menyusul langkah uji coba peluncuran peluru kendali Korut pada April 2009.

Sayangnya isu itu tidak mengemuka dan berlanjut dalam pertemuan keamanan bilateral tahun 2009. Ketika itu AS khawatir upaya tersebut hanya akan memicu perlombaan senjata di kawasan timur laut Asia.

Akan tetapi, isu tersebut kembali mencuat dan dinilai mendesak untuk segera direalisasikan, terutama pasca-serangan terhadap kapal perang Korsel, diduga dilakukan Korut. Dalam insiden itu 46 prajurit Angkatan Laut Korsel tewas.

Serangan Korut kembali terjadi saat mereka menyerang Pulau Yeonpyeong, Korsel, dan menewaskan empat orang dengan tembakan ratusan peluru artileri meriam Korut.

Saat ini diyakini Korut memiliki sedikitnya 1.000 peluru kendali dengan berbagai macam tipe dan 800 peluru kendali balistik. Kebanyakan dari peluru kendali itu diarahkan langsung ke Seoul atau ke sejumlah daerah lain di Korsel. Sejumlah peluru kendali Korut diketahui memiliki daya jelajah menengah, hingga 3.000 kilometer.

Hal itu berarti Korut memiliki kemampuan ”menghajar” basis militer AS yang ada di Jepang dan di Guam. Pada April 2009 Korut menguji coba tiga peluru kendali balistik antarbenua mereka. Salah satu peluru kendali itu melintas terbang di atas wilayah udara Jepang dan mendarat di Samudra Pasifik.

Dalam tur kunjungan kawasannya pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Robert Gates memperkirakan dalam lima tahun mendatang Korut sudah menguasai peluru kendali balistik antarbenua, yang mampu menjangkau negaranya. Dari sanalah kemudian muncul pernyataan Gates bahwa Korut telah menjadi ancaman langsung bagi AS.

Lebih lanjut, untuk bisa menjalankan rencananya meningkatkan daya jelajah peluru-peluru kendalinya, Korsel harus terlebih dahulu mendapat persetujuan AS untuk merevisi pakta perjanjian bilateral kedua negara, yang ditetapkan tahun 2001. Dalam pakta itu disebutkan, peluru kendali balistik Korsel dibatasi hanya memiliki daya jelajah maksimal 300 kilometer dan membawa bahan peledak sampai 500 kilogram.

”Saat ini pembicaraan tentang hal itu masih sangat awal dan dini, terutama untuk bisa mengetahui apakah rencana tersebut bisa dilakukan atau tidak,” ujar salah seorang sumber dari dalam pemerintahan Korsel.

Selama ini AS menjamin pertahanan Korsel dengan menggelar 30.000 personel pasukan militernya di kawasan tersebut.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 19 Januari 2011

Jet J-20, KFX, dan Pertahanan Negara

0

Ist

Bagi dunia penerbangan militer, kabar mutakhir yang banyak menjadi wacana hangat adalah tentang jet siluman (tak kasatradar) rancangan China, J-20. Selain itu sebenarnya juga ada kabar tentang pesawat tempur rancangan India, yakni light combat aircraft (LCA).

Untuk jet terakhir ini, Kementerian Pertahanan India, pekan silam, mengeluarkan izin (clearance) operasi awal bagi pesawat tempur serbaguna yang dikembangkan sendiri oleh India ini yang kini diberi nama ”Tejas”.

Bagi pengamat luar, keputusan di atas seperti menyiratkan bahwa militer India semakin bergerak menuju ke arah kemandirian (Sushant Singh, The Wall Street Journal, 18/1). Namun, hal itu tampaknya tidak melukiskan hal sebenarnya karena, dari seluruh perlengkapan militer India, kandungan lokal hanya 30 persen dan selebihnya merupakan produk impor. Tejas juga tak bisa dijadikan contoh karena proyek sudah dimulai pada 1969 hingga malah memunculkan pertanyaan apakah India sebenarnya serius mengembangkan kemampuan domestik di bidang pertahanan.

Sebaliknya terjadi pada China. Didorong kemajuan ekonomi, yang lalu memberi banyak dana untuk litbang militer, serta ambisi menjadi kuasa utama dunia, China konsisten untuk menguasai desain dan rekayasa, dari mainan anak-anak, produk teknologi informasi komunikasi komersial, seperti telepon seluler dan laptop, hingga pesawat terbang canggih.

J-20 dan F-22

Dari hasil rekayasa China, satu karya yang hangat dibicarakan seiring dengan lawatan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates ke Beijing, pertengahan Januari lalu, adalah jet yang didaku China berkemampuan mengelak dari radar.
J-20 merupakan jet tempur bermesin dua yang disebut-sebut masuk kategori jet tempur generasi kelima, setara dengan jet F-22 Raptor dan F-35 Lightning II. Seperti diberitakan (Kompas, 7/1), J-20 bahkan punya badan lebih besar dan panjang, menyiratkan ia diproyeksikan mengangkut senjata lebih banyak dan menjangkau sasaran lebih jauh.

J-20 terbang perdana pada 11 Januari 2011 di Chengdu, yang—bersama Shenyang di Provinsi Liaoning dan Xi’an di Provinsi Shaanxi—merupakan pangkalan industri kedirgantaraan China yang paling maju (China Daily, Asia Weekly, 14-20/1).

Memang dari penerbangan perdana kemarin orang belum bisa menyimpulkan, apakah J-20 benar-benar merupakan pesawat tempur generasi kelima. Sekadar catatan, dalam dunia penerbangan militer, definisi generasi kelima masih sering diperdebatkan. Namun, satu hal sudah jelas, jet generasi kelima merupakan pesawat tempur yang supercanggih. Selain memiliki teknologi stealth yang membuatnya sulit dideteksi radar, ia juga berkemampuan manuver unggul, demikian pula avionik (elektronika penerbangan) yang maju. Komputer penerbangan yang ada di pesawat membuat pesawat juga terintegrasi dengan medan tempur, bisa mengkaji situasi dengan cepat.

Dewasa ini, satu-satunya jet tempur yang punya kemampuan seperti itu adalah F-22 Raptor yang kini dioperasikan AU AS (USAF) untuk mempertahankan keunggulan udara (air supremacy) adidaya satu-satunya.

China, yang memandang pertahanan negaranya juga harus tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonominya, melihat keunggulan udara seperti AS juga harus dimiliki. Kini, meski masih harus membuktikan kemampuan J-20, China setidaknya sudah bisa membuktikan, ia bisa membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir ini. Sejumlah analis mengatakan, penerbangan perdana J-20 menjadi petunjuk bahwa China membuat kemajuan lebih cepat daripada yang diduga orang dalam membuat tandingan F-22 (Reuters/Jakarta Post, 12/1).

Melihat munculnya program jet tempur supercanggih, negara lain, seperti Jepang, jelas tak bisa berpangku tangan. Setelah permintaan membeli F-22 sejauh ini ditolak AS, Jepang sempat memperlihatkan niat untuk membuat sendiri jet tempur siluman.
Negara lain peminat F-22 adalah Australia. Namun, sebagaimana Jepang, Australia, sebagai sekutu dekat AS, pun masih belum diizinkan membeli jet yang dihitung dari biaya pengembangannya merupakan jet tempur paling mahal di dunia, dengan harga satuan sekitar 250 juta dollar AS (sekitar Rp 2,25 triliun). Berikutnya, seiring penambahan produksi, harga F-22 disebut menjadi 130 juta dollar AS per unit (Kompas, 25/7/2007).
Secara kemampuan, F-22 bisa melumpuhkan jet tempur apa pun di dunia sekarang ini. Lawan tak akan pernah tahu, F-22 ada di mana dan akan datang menyerang dari arah mana, tetapi tahu-tahu ia akan jadi sasaran rudal udara-ke-udara (seperti AIM-120 AMRAAM) yang dibawa F-22.

Memetik pelajaran

Dewasa ini, Indonesia juga tengah mengembangkan kerja sama dengan Korea Selatan untuk membuat jet tempur canggih generasi 4,5. Ini berarti, kemutakhiran pesawat di atas F-16C/D, tetapi masih di bawah F-22 atau F-35.

Sebagian kalangan memang masih mempertanyakan kemanfaatan program ini, dari sisi biaya ataupun dari sisi pemilihan mitra. Pada era munculnya jet tempur canggih, seperti F-22 atau J-20, membuat jet seperti KFX yang digagas Korsel-Indonesia terkesan kehilangan relevansi. Namun, di pihak lain, ada sejumlah faktor positif untuk mendukung program semacam ini.

Selain memajukan kemandirian, melalui program semacam KFX bisa dikembangkan pula kemampuan rekayasa insinyur penerbangan Indonesia, yang berikutnya diharapkan bisa menghasilkan spin-off atau manfaat ikutan, yang memicu produk atau kemampuan lain.
Namun, satu hal juga dapat ditarik dari program seperti J-20, yaitu proyek pertahanan yang dilaksanakan dengan biaya mahal ini tak lalu menghasilkan produk seperti LCA Tejas India. Pemerintah dan industri nasional harus sepenuhnya mendukung program nasional ini dan menjadikannya ujung tombak penguasaan teknologi serta alutsista yang dibutuhkan negara.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 15 Januari 2011

Pasukan AS di Jepang dan Korsel Siap Hadapi Korut

0

ist

Seoul, Jumat - Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengakhiri kunjungan ke Asia dengan menyinggahi Seoul, Korea Selatan, Jumat (14/1). Salah satu masalah krusial yang ditekankan Gates adalah pasukan AS di Jepang dan Korsel akan terus dipertahankan demi menghadapi provokasi Korea Utara ”yang suka perang”.

Berbicara sebelum menemui Menteri Pertahanan Korsel Kim Kwan-jin, ia mengatakan akan berdiskusi dengan Kim untuk menciptakan bentuk koordinasi yang baik dan erat sebelum menghadapi setiap provokasi yang mungkin dilakukan Korut dan sekutunya, China, pada masa mendatang.

Washington dan Seoul menuduh Pyongyang menorpedo sebuah kapal perang Korsel pada Maret 2010 yang menewaskan 46 pelautnya. Pyongyang membantah tuduhan itu. Meski demikian, serangan yang paling menyakitkan bagi Korsel adalah ketika Korut menghujani Pulau Yeonpyeong di perbatasan dua negara serumpun itu pada 23 November 2010. Dua marinir dan dua warga sipil Korsel tewas saat itu.

Washington memiliki 28.500 tentara di Korsel. Gates juga mengatakan, meski didukung kekuatan militer, AS tetap mengutamakan pendekatan diplomatik terhadap Korut.

Dalam pembicaraan dengan para pejabat Jepang, Kamis, Gates membahas penyusunan kembali ”postur kekuatan” militer AS-Jepang menanggapi ancaman Korut dan China. Pembicaraan Gates di Tokyo dan Beijing terpusat, sebagian, pada Korut. Uji coba pesawat tempur China baru-baru ini juga dilihatnya sebagai unjuk kekuatan.

Sumber : KOMPAS


Kamis, 13 Januari 2011

KF-X Motivasi Indonesia Bangun Pesawat Tempur

0

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio menyatakan, kerja sama pembangunan pesawat tempur Korean Fighter eXperimental (KF-X) antara Indonesia dengan Korea Selatan bisa memotivasi produsen dalam negeri untuk membangun pesawat tempur secara mandiri.

"Keinginan kita (pemerintah dan TNI-Red), bagaimana Indonesia mampu membuat pesawat itu," ujar Wayan Midhio kepada Suara Karya di Jakarta, Rabu (12/1).

Indonesia dan Korsel telah sepakat membangun KF-X generasi 4,5, yakni pesawat berteknologi setingkat di atas F-16 buatan Amerika Serikat. Indonesia akan mengeluarkan dana 20 persen sampai tahun 2020. "Itu bagian proyek yang akan diproduksi mulai tahun 2020. Kalau kita ambil bagian, kita bisa buat di Indonesia," ujar Wayan. Proses kerja sama untuk pengadaan pesawat tempur KFX sudah pada tahap pembahasan MoU dan kekayaan intelektual. Selain Indonesia, beberapa negara juga berminat menanamkan investasi pembangunan KF-X.

Wayan menyatakan, kerja sama pembangunan KF-X memakan waktu 10 tahun, mulai 2010 - 2020. Hingga saat ini, Kemhan belum membicarakan dana yang akan dikeluarkan. "Jadi belum ada deal apapun, cuma dalam bentuk MoU bagaimana kerja sama dilakukan. Keinginan kita, bagaimana Indonesia mampu membuat pesawat itu. Saya kira detilnya masih dalam proses kerja sama pengadaan," ujarnya.

Karena itu, menurut dia, rencana kerja sama pembangunan KF-X masih pada level teknis sehingga belum perlu dibahas di parlemen. "Proses kerja sama belum pada tahap alokasi anggaran," kata Wayan.

Konflik Korea

Sebelumnya, Komisi I DPR meminta Kemhan menimbang kembali rencana kerja sama pembuatan KF-X. Pasalnya, kerja sama itu bisa mempengaruhi hubungan politik bebas aktif Indonesia dengan Korea Utara.

"Secara politik, kerja sama pembuatan pesawat tempur Indonesia dengan Korea Selatan bisa mengganggu hubungan Indonesia dengan Korut. Jadi kerja sama itu sebaiknya ditimbang ulang untuk saat ini," ujar wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin.

Ia mengakui kerja sama pembuatan KF-X Indonesia dan Korea Selatan pada awalnya bersifat teknis sebagai bagian pembangunan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI. Namun, munculnya ketegangan antara Korsel dan Korut, mau tak mau memengaruhi Indonesia, khususnya menyangkut pembuatan pesawat tersebut.

"Dalam rencana kerja sama itu DPR sama sekali tidak diberitahu karena itu menyangkut teknis. Tapi, kondisinya sekarang berbeda karena menyangkut hubungan politik internasional. Indonesia harus berada di posisi netral tanpa embel-embel kerjasama pembangunan pesawat tempur Korsel-Indonesia," ujar dia.

Hasanuddin menambahkan, proyek pembangunan pesawat tempur KF-X generasi 4,5 mulai tahun 2012 dipimpin Korsel, meskipun melalui urunan dana kedua negara. Indonesia menanamkan saham 20 persen.

Anggota Komisi I DPR Nurhayati Ali Assegaf, menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah dan TNI membangun kekuatan pertahanan melalui pembenahan kekuatan tempur.

Sumber: SUARA KARYA


Selasa, 11 Januari 2011

DPR: Kaji Ulang Kerja Sama Pesawat Tempur

0

Ist

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah, terutama Menteri Pertahanan, diminta untuk mengkaji ulang kerja sama pembuatan pesawat tempur Korean Fighter eXperimental antara Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan. Dorongan ini disampaikan menyusul ketegangan antara Korea Selatan dan tetangganya, Korea Utara.

Di tengah situasi ini Indonesia memang memiliki kerja sama urunan dengan Korsel untuk proyek pembuatan pesawat tempur generasi 4,5 mulai tahun 2012. Meski keduanya akan urunan dana pembiayaan, politikus PDI-P, Hasanuddin, mengatakan, Korsel akan memimpin proyeknya.

"Mau tak mau, suka tak suka, leader-nya adalah Korsel. Dengan demikian, visi dan misi ke depan dari KFX itu tentu acuannya harus dengan kekuatan yang melawan pesawat dari Korut. Dari sisi pertahanan kita barangkali enggak besar pengaruhnya, tapi dari sisi politik kita keluar dari politik bebas aktif karena menjadi tidak fair terhadap Korut," katanya di Gedung MPR/DPR/DPD, Selasa (11/1/2011).

Oleh karena itu, Hasanuddin ini meminta Menteri Pertahanan mempertimbangkan ulang perjanjian kerja sama itu. Menurutnya, selama ini pemerintah tak pernah membicarakannya dengan DPR karena perjanjian kerja sama tersebut bersifat teknis. Namun, secara politik, bisa mengganggu hubungan Indonesia dengan Korut. "Jadi kerja sama saja dengan negara yang lebih netral," tandasnya.

Sumber: KOMPAS


Senin, 10 Januari 2011

Hadang Kapal Selam, Korsel Pasang Sensor Bawah Laut Dekat Korut

0

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL--Serangkaian tindakan antisipatif dilakukan kedua negara yang tengah 'bertikai' yakni Korea Selatan dan Korea Utara. Salah satunya yang dilakukan Kosel, yakni dengan memasang sensor bawah laut dekat perbatasan lautnya dengan Korea Utara untuk mengantisipasi serangan kapal selam dari seterunya itu, menurut laporan pada Senin (10/1).

Harian bisnis The Maeil mengatakan militer Korsel berencana untuk menempatkan sensor itu di pulau terluar yang berada di Laut Kuning, tempat pertempuran luat berdarah pada 1999, 2002 dan November 2009. Sebuah korvet Korsel tenggelam dekat wilayah perbatasan yang masih dalam sengketa pada Maret tahun lalu, yang menurut Korsel merupakan serangan torpedo dari kapal selam Korut, sebuah tuduhan yang dibantah Pyongyang. Tenggelamnya kapal itu merenggut nyawa 46 orang.

Pada November tahun lalu Korut juga membombardir Pulau Yeonpyeong yang menewaskan empat orang termasuk warga sipil. "Kami merencanakan untuk menempatkan sejumlah sensor bawah laut guna meningkatkan kapabilitas pertahanan di kepulauan penting timur laut seperti Baengnyeong dan Yeonpyeong menyusul penenggelaman kapal perang Cheonan," kata seorang perwira militer yang tidak diidentifikasi seperti dikutip koran itu.

Pusat kontrol yang akan memantau sensor tersebut akan ditempatkan di pulau Baengnyeong, titik terdekat dengan perbatasan Korut, tulisnya. Namun kementerian pertahanan menolak berkomentar terhadap laporan itu dengan menyebut informasi semacam itu tergolong rahasia.

Ketegangan lintas perbatasan kedua Korea semakin akut sejak bombardir Korut terhadap pulau Yeonpyeong. Sejak itu Korsel telah menggelar sejumlah latihan militer, baik laut maupun daratan, termasuk sebuah latihan besar yang melibatkan Amerika Serikat, dalam upaya untuk unjuk kekuatan terhadap Pyongyang.

Sumber: REPUBLIKA


Selasa, 04 Januari 2011

Ekspor Pertahanan Korsel Jauh Dari Target Senilai 1,5M Pada Tahun 2010

0

Ist

Ekspor disektor pertahanan tahun lalu menjadi $ 1187970000 merupakan catatan terbaik yang pernah dicapai pada korsel, tetapi tahun 2010 target ekspor jauh dari harapan yaitu 1,5 miliar dolar AS. Pesawat T-50 yang merupakan proyek pesawat latih buatan korsel ini sangat berpotensi diekspor seperti Singapura tetapi tahun ini tender gagal atau tertunda, kata seorang pengamat.

Menurut DAPA a predator, seperti kapal hunryeonham sebagai dukungan logistik sebesar $ 365.480.000, amunisi sebesar $ 333.760.000, K9, termasuk self-propelled gun, senjata api termasuk $ 114.910.000, dengan total ekspor $ 1187970000. Meningkat 1,9% dibandingkan pada tahun 2009 yaitu sekitar $ 1165920000.

Target tahun ini sebesar $ 1,5M sangat jauh dari harapan yang telah direncanakan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) telah gagal mengkspor T-50 ke Singapura, Dan tertundanya ekspor T-50 ke Indonesia, serta self-propelled gun K-9 ke Australia pada tahun ini.

Dalam hal negara menurut perdagangan AS, komitmen dari ekspor mesin pesawat dan amunisi, termasuk bear metal dan kontrak sebesar $ 480.000.000 merupakan angka tertinggi yang tercatat. dukungan logistik dan kembali ke Malaysia setelah hunryeonham mengekspor 360 juta dolar AS. Secara umum, ekspor kapal dan amunisi pesawat telah meningkat secara signifikan.

Dapa telah menarget ekspor sebesar 16 juta dolar untuk tahun ini, seperti self-propelled gun K-9 dan pelatih militer untuk mendukung ekspor dan berencana untuk fokus pada isu-isu strategis. sistem Pembebasan untuk mengekspor barang-barang untuk meningkatkan royalti ekspor impor dan sistem perizinan untuk menyederhanakan perencanaan.

Tahun ini United Arab Emirates, Uzbekistan, the Norwegian Radiation Space Agency dan Ekuador telah menandatangani sebuah MOU untuk kerja sama, kerja sama pertahanan kedua internasional telah meningkat menjadi 31 negara. MOU chegyeolhu dilaksanakan dalam 11 kali selama tahun lalu dan Logistik Pertahanan jeongryejeok gongdongwi diadakan untuk mencari peluang ekspor. Dan lima kali di negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab kegiatan pengembangan pasar, dan memberikan subsidi ke Singapura, Malaysia untuk mendorong berpartisipasi dalam pameran luar negeri.

Sumber: NAEIL/WDN/MIK


Korsel Tambah Kekuatan Pesawat Anti Kapal Selam

0

Pesawat pengintai P-3CK Korsel

SEOUL--MICOM: Korea Selatan (korsel) mengirimkan lima pesawat patroli anti-kapal selam untuk menjaga kemungkinan potensi serangan Korea Utara, menurut satu laporan Selasa (4/1), di tengah tingginya ketegangan di perbatasan laut yang disengketakan.

Pihak militer Sabtu mengirimkan lima pesawat pengintai P-3CK sebagai tambahan 11 pesawat anti-kapal selam yang telah beroperasi mematroli pantai timur dan lepas laut barat, kata surat kabar Joong Ang Ilbo.

Langkah itu "bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi kapal-kapal selam setelah terjadinya serangan kapal selam Korea Utara terhadap kapal perang Cheonan," kata surat kabar itu mengutip seorang pejabat militer.

Seoul, merujuk pada hasil investigasi multinasional, menyalahkan Pyongyang menorpedo kapal perangnya, Cheonan, pada Maret 2010, yang menewaskan 46 pelaut, namun tuduhan tersebut dibantah keras Korea Utara.

"Dengan pengiriman tambahan pesawat pengintai maritim itu kami bisa mengintensifkan pemantauan gerakan-gerakan kapal selam Korea Utara di Laut Timur dan Laut Kuning," kata pejabat itu.

Pesawat tersebut, yang dijuluki "pembunuh kapal selam" berkemampuan mendeteksi dan menyerang kapal-kapal selam, menjadi bagian dalam latihan-latihan militer besar termasuk pelatihan angkatan laut bersama dengan Amerika Serikat pada Juli lalu, menurut surat kabar itu.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Kamis, 30 Desember 2010

Purnomo Yusgiantoro: Tahun 2020 Indonesia Produksi Pesawat Tempur F-33

0

Ist

JAKARTA,RIMANEWS ---– Indonesia menargetkan pada 2020 mampu memproduksi pesawat tempur modern F-33. Pemerintah menggandeng Korea Selatan untuk merealisasikan target tersebut.

“Saat ini, masih dalam tahap research and development. Namun, kami targetkan pada 2020, sudah bisa diproduksi,” ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, saat berkunjung ke kantor redaksi Suara Pembaruan, Jakarta, Selasa (21/12).

Target tersebut merupakan bagian dari program reformasi industri pertahanan. Pemerintah, kata Purnomo, akan terus mematangkan dan menyempurnakan industri pertahanan. Salah satu cara adalah memroduksi sendiri peralatan tempur.

Pesawat tempur modern F-33 diproduksi untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Udara. Dalam tahap awal, pesawat yang akan diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ini, sedang dilakukan penelitian dan pengembangan (litbang). Hasil penelitian dan pengembangan menyebutkan, Indonesia bisa memroduksi pada 2020, atau sepuluh tahun ke depan.

Pesawat tempur modern F-33 merupakan generasi terbaru setelah F-16 dan Sukhoi. “Selama belum F-33, kita menjembataninya dengan F-16 dan Sukhoi,” ujar Menhan. Untuk merealisasikan target tersebut, Indonesia bekerja sama dengan Korea Selatan. Kendati demikian, dalam proses produksi, kata Purnomo, Indonesia tetap memiliki hak paten.

Selain pesawat tempur modern, reformasi industri pertahanan juga direalisasikan melalui produksi alutsista di bidang darat dan laut. Di bidang laut, kata Purnomo, PT PAL sedang menyiapkan kapal selam. Terkait hal itu, beberapa negara, di antaranya Jerman dan Rusia, telah menawarkan lisensi. Menyikapi tawaran tersebut, Indonesia menginginkan proses produksi dilakukan di dalam negeri. “Ini menyangkut penggunaan lokal konten,” ujar Purnomo.

Sedangkan untuk peralatan darat, saat ini sedang dikembangkan industri pembuatan roket. Selain memperkuat alat utama system pertahanan (alutsista) nasional, pengembangan industri pertahanan juga juga berorientasi kepada kemandirian masing-masing industri.

“Dengan demikian, masing-masing industri bisa menghasilkan devisa,” jelas Purnomo.

Pada bagian lain, Menhan menegaskan, alokasi anggaran pembelian alutsista baru masih terbatas. Dari anggaran Rp 45 triliun yang diterima Kementerian Pertahanan, hanya 30%-nya untuk belanja alutsista. Sebanyak 20% untuk pemeliharaan, sedangkan 50%-nya sebagian besar untuk gaji prajurit. “Ada 460 ribu prajurit,” ujar Menhan.

Sementara itu, mengenai pengamanan daerah perbatasan, Kemenhan dan TNI mengklasifikasi menjadi pengamanan perbatasan barat dan timur. Perbatasan barat sebagian besar meliputi kawasan laut dangkal, sedangkan timur laut dalam. “Di barat, karena termasuk lautan dangkal, kami tempatkan kapal-kapal yang tak terlalu besar. Sementara di timur, karena lautnya dalam, ditempatkan kapal-kapal besar,” paparnya.

Salah satu perbatasan kawasan timur yang dikawal kapal besar adalah Ambalat. Di sini, ditempatkan kapal jenis fregat dan beberapa kapal patroli cepat.

Sumber: RIMA


Rabu, 22 Desember 2010

Media Korsel : Indonesia Akan Umumkan Pembelian T-50 Pada Januari 2011

0


Potensi Ekspor Korea pesawat latih T-50 mendapatkan lampu hijau. Setelah Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) gagal melakukan negosiasi pesawat Alenia Aermacchi Italia sehingga T-50 memiliki kesempatan untuk melakakukan pengadaan pesawat latih Buatan Italia tersebut.

Indonesia akan mengumumkan pada bulan Januari tahun depan, sebelum sujujeon mengatakan Pesawat latih tersebut merupakan tawaran terakhir dan T-50 memiliki peluang yang sangat tinggi untuk mengekspor pesawat tersebut.

Menurut Majelis Nasional pemerintah Uni Emirat Arab baru-baru ini memiliki spesifikasi ahereumakisawa (kinerja) untuk pesawat latih Italia dan transfer teknologi, dll. Sehingga menyebabkan Aermacchi M-346 didiskualifikasi dalam pengadaan pesawat tersebut.

Komisi Pertahanan Nasional secara resmi mengatakan "pemerintah United Arab Emirates dan pesawat latih ahereumakisaga untuk memberikan kursus untuk menunjukkan pendapat yang berbeda yang menyebabkan kegagalan negosiasi" dan "informal Alenia Aermacchi M-346 dicabut sebagai status pemenang tender"katanya.

Pejabat juga mengatakan bahwa "United Arab Emirates melalui sumber-sumber lokal, juga telah memberitakan kegagalan negosiasi antara pemerintah dan Alenia Aermacchi" dan "membuat pengumuman resmi yang akan dirilis terhadap pembatalan tersebut"katanya.

Sehingga T-50 mempunyai potensi ekspor sekali lagi. Bahkan, Alenia Aermacchi sebagai pemenang tender hal ini merupakan sebuah kabar buruk akibat pembatalan tersebut. Itu menyebabkan Korea Aerospace Industries (KAI) T-50 bertolak ke UEA untuk agresif melobi untuk pengadaan pesawat tersebut.

Awalnya pemerintah Uni Emirat Arab dan Aermacchi Alenia menandatangani perjanjian definitif pada Oktober tahun lalu. Tetapi pihak Aermacchi Alenia tidak dapat memenuhi persyaratan kesepakatan UEA telah yang tertunda.

Knowledge Economy dan DAPA official "Apakah United Arab Emirates belum mengumumkan secara resmi untuk memverifikasi tentang masalah tersebut" tetapi "Pemerintah United Arab Emirates pembicaraan resmi dengan pemerintah Italia meminta kami untuk bernegosiasi. Ini akan memperbesar peluang T-50 untuk diekspor, "katanya.

Sementara itu, pada bulan Januari tahun depan Indonesia akan mengumumkan pemenang tender pesawat latih, Dari proyek pengadaan pesawat latih, T-50 merupakan calon terkuat dalam pengadaan pesawat tersebut. Saat ini T-50 dan Yak-130 Rusia bersaing ketat dalam tender tersebut. Dalam hal ini, baru-baru ini Menteri Pengetahuan Ekonomi Hwan kembali dari Indonesia dan "Dia tahu T-50 sudah melalui tahap akhir untuk diekspor ke Indonesia," katanya "Ini baik karena mendapatkan dukungan dari lokal" katanya.

Sumber: FN NEWS


Senin, 20 Desember 2010

Komisi I : Kapal Selam Korsel Paling Mungkin Direalisasikan Di tanah Air

0

DSX 3000 Merupakan Prototype Kapal Selam Korse;.

JAKARTA – Kerja sama dengan Korea Selatan (Korsel) paling mungkin direalisasikan untuk proyek pengadaan kapal selam di Tanah Air. Korsel dinilai paling baik dan pas karena sudah tidak asing lagi dengan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia. Kedua negara ini sudah sering bekerja sama di bidang pertahanan.

“Tarik-menarik antara Korsel dan Rusia memang kuat. Namun, Korsel sudah berpengalaman bekerja sama dengan Indonesia. Paling mutakhir, kedua negara ini bekerja sama dalam mengembangkan pesawat tempur jenis KFX yang diharapkan lebih mo dern dari pesawat tempur F16,” kata Ketua Centre for Security and Defence Studies Koesnadi Kardi saat dihubungi di Jakarta, Minggu (19/12).

Koesnadi mengatakan kapal selam yang berasal dari Rusia sebenarnya canggih, namun kapal jenis Kilo tersebut masih sebatas prototipe. “Masa kita mau membeli kapal selam yang belum tahu kemampuannya,” ujar dia. Pembelian kapal selam, tam bah dia, sedikit susah kare na membutuhkan dana yang besar. Selain itu, Indonesia hanya membutuhkan empat kapal selam.

Kendala-kendala ter sebut membuat banyak ne gara menolak melakukan transfer teknologi. Menunggu Sementara itu, Direktur Teknik dan Industri Kementerian Pertahanan Agus Suyarso mengatakan teknologi kapal selam seperti apa yang diinginkan TNI AL untuk mendukung sistem keamanan dan pertahanan di kawasan laut Indonesia belum diketahui secara jelas.

Kementerian Pertahanan belum bisa mengetahui dengan negara mana Indonesia akan bekerja sama untuk pengadaan alutsista seharga sekitar 2,7 triliun rupiah ini. “Kami sedang menunggu, user (TNI AL, red.) inginnya kapal selam seperti apa. Jika sudah ditentukan, baru kita akan mempertimbangkannya secara komprehensif,” katanya.

Agus tak begitu mengetahui kapan TNI AL akan memberikan spesifi kasi kapal selam yang dibutuhkan ke Kementerian Pertahanan. Kapal selam memang sangat dibutuhkan Indonesia, terutama untuk menjaga daerah-daerah perbatasan strategis, seperti Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Sunda, dan Selat Makassar. Indonesia hanya memiliki dua kapal yang saat ini tak bisa digunakan karena sedang diperbaiki.

Dua kapal selam tersebut adalah buatan Jerman tahun 1981 dengan kelas U 209/1300 yang diberi nama KRI Cakra dan KRI Nanggala. Karena amat dibutuhkan, Kementerian Pertahanan sempat mewacanakan akan membeli empat kapal selam dari negara produsen kapal selam. Ada beberapa negara yang dibidik, yakni Korsel, Prancis, Jerman, dan Rusia.

Agus tak menampik jika produk Perancis belum teruji. Hal itu diperlihatkan dengan tidak maksimalnya produk mereka saat Malaysia memesannya. Namun, Agus belum bisa memastikan negara mana yang akan dimintai kerja sama. Sebelumnya, Komisi I DPR berharap Kementerian Pertahanan membeli satu paket kapal selam dari satu negara agar memungkinkan adanya transfer teknologi.

Januari atau Februari 2011 ini pemerintah diminta sudah menetapkan negara mana yang dipilih untuk bekerja sama. “Kami berharap kerja sama yang akan dijalin bisa menguntungkan Indonesia dan bisa mengikutsertakan industri pertahanan dalam negeri sebagai langkah revitalisasi,” kata Ketua Komisi 1 DPR Mahfudz Siddiq.

Sumber: Koran Jakarta


Jumat, 17 Desember 2010

Korut Inginkan Perang Nuklir dengan Korsel

0

illustrasi Perang Nuklir Korut - Korsel.

SEOUL - Korea Utara (Korut) kembali memperingatkan negara tetangganya Korea Selatan (Korsel) tentang keterlibatan senjata nuklir dalam perang kedua negara. Menurut Korut perang nuklir hanya tinggal menunggu waktu.

"Kebijakan perang Korsel yang terlalu gegabah, membuat perang perang besar di Semenanjung Korea hanya tinggal menunggu waktu," pernyataan website resmi Pemerintah Korut Uriminzokkiri, seperti dikutip AFP, Jumat (17/12/2010).

"Jika perang akhirnya pecah, akan memicu perang nuklir dan tentunya perang tidak hanya terpusat pada Semenanjung Korea," lanjut pernyataan.

Sementara dalam komentar lainnya, suratkabar Korut Rodong Sinmun menggambarkan kondisi semenanjung saat ini tak ubahnya tempat paling berbahaya di dunia.

"Semenanjung Korea adalah wilayah paling berbahaya saat ini dan terancam perang besar," menurut Rodong Sinmun. "Kondisi ini merupakan buah keterlibatan Amerika Serikat (AS) yang terus mendesak kebijakan agresi kepada Korut," cetus Rodong Sinmun.

Sejak memanasnya hubungan kedua Korea setelah serangan artileri Korut ke Korsel 23 November lalu, Negeri Kim Jong-Il ini terus menebarkan ancaman perang nuklir. Meskipun dianggap sebagai gertakan belaka, patut dicemaskan karena Korut dicurigai memiliki senjata nuklir canggih.

Sumber: OKEZONE


Latihan Perang Digelar Lagi, Korut akan Serang Korsel

0

Serangan Korut Di pulau Yeonpyeong pada 23 November.

Seoul, CyberNews. Korea Utara, Jumat (17/12) mengatakan akan melancarkan serangan ke Korea Selatan jika latihan perang yang direncanakan Seoul di satu pulau yang disengketakan tetap dilakukan. Korut bahkan mengatakan akan memberikan serangan yang lebih kuat ketimbang penembakan bulan lalu.

Pengumuman yang disiarkan kantor berta Korea Utara (Korut) KCNA itu dikeluarkan saat Korea Selatan (Korsel) bersiap-siap untuk melakukan latihan militer dengan menggunakan peluru tajam di pulau Yeonpyeong, dekat satu perbatasan militer yang disengketakan dengan Korut.

Latihan ini digelar untuk pertama kali sejak baku tembak artileri November. Latihan miiter Korsel itu akan diselenggarakan 18-21 Desember.

"Serangan itu akan meningkatkan situasi lebih serius ketimbang 23 November dalam hal kekuatan dan luas serangan itu," kata KCNA.

Korut mengatakan serangannya terhadap pulau Yeonpyeong pada 23 November adalah untuk menanggapi "provokasi-provokasi" Korsel.

Peringatan Korut itu muncul setelah Seoul berjanji akan melakukan tanggapan yang lebih keras setiap serangan lebih jauh terhadap wilayahnya. Penembakan terhadap pulau itu adalah pertama kali sejak Perang Korea 1950-1953 bahwa Korut menyerang wilayah Korsel.

China, pendukung utama Korut, mengatakan bahwa Pyongyang berjanji akan menahan diri dan ancaman serangan baru Korut itu datang saat China mengemukakan kepada Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat James Steinberg bahwa kedua negara besar itu harus bekerja sama lagi untuk meredakan ketegangan di semenanjung Korea.

Sumber: SUARA MERDEKA


Angkatan Darat Korsel Miliki Jenderal Perempuan

0


(Ist)

Metrotvnews.com, Seoul: Angkatan Darat Korea Selatan mengangkat pangkat seorang tentara perempuan menjadi jenderal, Kamis (16/12). Song Myung-Soon menjadi perempuan pertama yang berpangkat jenderal dari Kesatuan Kepala Staf Gabungan.

Song mengatakan Korea Selatan pernah memiliki lima jenderal perempuan sejak 2001. Namun, semuanya berasal dari korps perawat. Sementara ia berasal dari militer. Ia berharap kenaikan pangkatnya membuka peluang lima ribu wanita di militer Korsel.

"Saya rasa promosi kenaikan pangkat ini adalah penghargaan bagi wanita lain yang akan menempuh jalan menuju kesuksesan dan terhadap upaya keras mereka," kata wanita yang berusia 52 tahun itu.

Song pernah ditugaskan di Korps Wanita Angkatan Darat pada 1981 setelah lulus dari Universitas Yeungnam dengan gelar sarjana di ilmu politik dan hubungan internasional. Ia juga memiliki gelar di bidang keamanan nasional dari Universitas Kyonggi. Ia kemudian mengabdi sebagai komandan pasukan khusus dan komandan batalion di Korps Wanita Angkatan Darat serta pernah menjalani karir di Komando Pasukan Gabungan.

Perempuan pertama yang menjadi perwira tinggi berpangkat jenderal di Korea Selatan adalah Brigjen Yang Seung-sook, mantan Kepala Akademi Keperawatan Angkatan Bersenjata.

"Saya percaya bahwa wanita berseragam tidak hanya memiliki peran di tanah airnya sendiri namun juga di luar negeri," katanya.

Sumber: METRO TV


Kamis, 16 Desember 2010

Korsel Merombak Militernya

0

Foto yang dibuat Rabu (24/11) oleh kantor wilayah Ongjin memperlihatkan rumah-rumah yang hancur di Pulau Yeongpyeong akibat kontak senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan dalam sengketa perairan di Laut Kuning sehari sebelumnya.

SEOUL, KOMPAS.com — Korea Selatan, Kamis, mengumumkan perombakan besar untuk memperkokoh dan mereformasi militernya terhadap ancaman-ancaman Korea Utara setelah terdapat kecaman sengit di dalam negeri atas responsnya terhadap serangan Korea Utara bulan lalu.

Kementerian Pertahanan mengumumkan promosi bagi 111 perwira, 75 dari angkatan darat, 14 dari angkatan laut, dan 22 dari angkatan udara. Kementerian itu mengatakan, mereka adalah bagian dari reformasi yang dilakukan Presiden Lee Myung-bak setelah tenggelamnya satu kapal perang Korea Selatan pada Maret lalu, yang menewaskan 46 orang.

Seoul menyalahkan serangan torpedo dilakukan Korea Utara, tuduhan yang dibantah Pyongyang. Seruan-seruan reformasi makin menguat setelah serangan artileri Korea Utara terhadap satu pulau perbatasan Korea Selatan, Yeonpyeong, bulan lalu, yang merupakan serangan pertama terhadap daerah sipil sejak Perang Korea 1950-1953 berakhir.

"Dengan perombakan ini, militer akan membangun angkatan bersenjata yang kuat yang mampu bertempur dan menang serta menjamin tegas kesiapan tempur," kata kementerian itu dalam pernyataannya.

Panglima militer baru, Jenderal Kim Sang-ki, juga mengambil alih jabatan, Rabu malam, setelah pendahulunya Jenderal Hwang Eui-don dipecat berkaitan investasi properti yang kontroversial.

Ketegangan-ketegangan masih tinggi setelah bombardemen ke pulau itu yang menewaskan empat orang, termasuk warga sipil. Marinir di pulau tersebut membalas serangan artileri Korea Utara, tetapi tidak disusuli dengan serangan udara.
Menteri Pertahanan baru Kim Kwan-jin telah berikrar menggunakan kekuatan udara jika Korea Utara menyerang lagi, setelah pendahulunya mengundurkan diri di tengah berondongan kritik dari media dan oposisi karena respons terlalu lemah terhadap serangan itu.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin