Tampilkan postingan dengan label BRAZIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRAZIL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

Pengamat : Perang Korea Mempercepat Pembentukan Blok Baru

0

Korut Menembakkan Artileri Di Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan 3Km Dari Perbatasan Korut-Korsel(Foto: theglobeandmail.com)

Jakarta - Serangan terbuka Korea Utara ke Korea Selatan, pada 23 November 2010, bisa memancing pihak-pihak lain untuk terlibat dalam perang tersebut, atau membuka perang di belahan dunia lain. Meski tidak ada lagi Blok Barat dan Blok Timur, namun perang Korea masih memancarkan terjadinya peperangan kedua blok itu. Korea Utara sebagai negara yang masih menganut ideologi komunisme sosialisme, sementara Korea Selatan berwajah negara kapitalisme.

Perang Korea menjadi simbol perlawanan dari kelompok yang selama ini ditindas oleh Amerika Serikat dengan kelompok yang menjadi sekutu Amerika Serikat, sehingga perang Korea itu bisa jadi sangat menarik dan mendapat dukungan dari Iran dan Venezuela. Sebab selama ini Korea Utara, Iran dan Venezuela adalah negara yang merasakan arogansi Amerika Serikat.

Dengan adanya Perang Korea, maka negara yang selama ini mempunyai visi dan misi yang sama untuk melawan ketidakadilan dunia, notabene dilakukan oleh Amerika Serikat, maka negara itu akan mempercepat pembentukan blok baru. Pembentukan blok baru itu bagi mereka adalah sebuah keniscayaan sebab Amerika Serikat sebagai sebuah negara dalam menjalan politik luar negerinya tidak sendiri. Di belakang Amerika Serikat, ada Inggris, Australia dan beberapa negara Eropa lainnya.

Salah satu kemungkinan terjadinya pembentukan blok baru itu adalah persekutuan negara-negara Amerika Latin dan Iran. Rintisan itu sudah dilakukan oleh Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Presiden Venezuela Hugo Chaves, Presiden Bolivia Evo Moralles, dan Brasil ketika dipimpin oleh Lula da Silva.

Paling semangat dalam melawan arogansi Amerika Serikat dilakukan oleh Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves. Bisa dikatakan hubungan antara Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves sebuah hubungan yang unik dan sangat spesial. Di antara kedua pemimpin itu disebut telah mengadakan pertemuan hingga sampai 9 kali. Dalam setiap pertemuan, kedua pemimpin selain menyepakati peningkatan hubungan kedua negara, keduanya secara lantang juga menyerukan perlawanan terhadap kekuatan imperalisme dan globalisasi yang dikemudikan oleh Amerika Serikat.

Perbedaan ideologi dan agama kedua negara bukan menjadi sekat atau hambatan kedua negara untuk bersatu melawan arogansi Amerika Serikat. Setiap kebijakan politik luar
negeri yang dikeluarkan oleh Mahmud Ahmadinejad pasti akan didukung oleh Hugo Chaves, demikian sebaliknya. Ketika Eropa, Amerika Serikat, dan Israel, merasa prihatin atas terpilihnya Mahmud Ahmadinejad dalam pilpres Iran yang lalu, Hugo Chaves justru orang yang mengucapkan selamat atas terpilihnya Mahmud Ahmadinejad.

Dalam pertemuan di Iran, Oktober 2010, Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves menyepakati komitmen untuk membangun tata dunia baru guna menghapus dominasi Barat di pentas global. Saat di Teheran, Hugo Chaves bahkan mengatakan, imperialisme (Amerika Serikat) telah memasuki tahap penurunan dan seperti seekor gajah yang sedang menuju pemakaman.

Dalam menggalang kekuatan baru dunia, Mahmud Ahmadinejad tidak hanya bersepakat dengan Hugo Chaves, namun juga dengan Presiden Brasil, saat itu Luiz Inacio Lula da Silva. Dalam sebuah lawatan ke Brasil, Mahmud Ahmadinejad mengatakan, tata dunia baru harus segera dibangun di muka bumi ini. Keinginan Ahmadinejad di Brasil itu sepertinya gayung bersambut sebab Lula da Silva menyambut hangat kedatangan Mahmud Ahmadinejad itu. Bagi Amerika Serikat, sikap hangat Lula da Silva itu secara implisit mendukung program nuklir Iran. Apa yang dilakukan oleh negara bola itu bagi Amerika Serikat sebagai suatu sikap yang tidak pada tempatnya.

Apa yang diinginkan Mahmud Ahmadinejad di Brasil menjadi sebuah kenyataan, saat di Teheran, Iran, pada Mei 2010, bisa menjadi sebuah saksi bangkitnya kekuatan untuk menciptakan tata dunia baru yang selama ini didominasi oleh Barat. Pada bulan itu, Lula da Silva, PM Turki Turki Recep Erdogan, dan Mahmud Ahmadinejad mensepakati pertukaran bahan uranium Iran ke Turki, begitu sebaliknya, dari Turki ke Iran.

Kesepakatan itu otomatis akan 'melawan' kesepakatan sebelumnya, yakni Iran harus mengirim uraniumnya ke Rusia dan Perancis, dan selanjutnya Rusia dan Perancis akan mengirimkan kembali ke Iran. Dengan kesepakatan itu, maka Iran dengan di-back up oleh Brasil dan Turki akan melaksanakan kesepakatan yang baru dan mengacuhkan kesepakatan lama.

Adanya kesepakatan tiga negara tersebut, Brasil-Turki-Iran, membuat Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi berang. Dalam pembicaraan telepon dengan Erdogan, Obama mengatakan pembahasan rancangan sanksi baru terhadap Iran di forum DK PBB akan terus berlanjut walau ada kesepakatan segitiga itu.

Mengapa Turki, Iran dan negara-negara di kawasan Amerika Latin seolah-olah hendak membentuk semacam aliansi? Faktornya adalah pertama, pemimpin-pemimpin negara di kawasan Amerika Latin banyak yang berlatar belakang berideologi kiri (neososialis). Di Amerika Latin, saat ini banyak tokoh-tokoh yang berhaluan kiri, dari yang radikal sampai moderat, terpilih menjadi kepala negara atau kepala pemerintahan. Banyaknya tokoh kiri menjadi pemimpin membuat Amerika Latin bergerak ke kiri (baru). Kiri yang dimaksud di sini bisa dibaca bebas sebagai pemerintahan sosialis-marxis yang radikal seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, Cuba, ataupun sosialis-demokrat yang moderat semisal Brasil dan Cile. Meski Lula da Silva mengakhiri jabatannya sebagai presiden, sepertinya penggantinya akan meneruskan kebijakan Lula da Silva.

Kedua, di Turki bangkitnya Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP, Adalet ve Kalkinma Partisi) sebagai kekuatan baru yang mampu mengendalikan arah politik dalam dan luar negeri. Kemenangan AKP itu terlihat rakyat Turki setuju amandemen konstitusinya. Selama ini konstitusi yang dibuat oleh para jenderal yang setia kepada ideologi Mustafa Kemal Ataturk tidak menghasilkan tatanan yang demokratis. Kebebasan yang seharusnya dimiliki oleh rakyat dan partai politik pemenang pemilu sering dirampas oleh para tentara dengan alasan yang terkadang sering subjektif.

Ini terjadi ketika pada tahun 1995 ketika Partai Islam Refah yang dipimpin Necmettin
Erbakan memenangi pemilu, kemenangan itu partai Islam itu dicurigai akan mengubah haluan Turki dari sekular menuju negara Islam. Berangkat dari kecurigaan tersebut maka militer pada tahun 1997 melakukan kudeta dengan alasan mengamankan haluan negara.

Keberhasilan AKP dalam menempatkan dirinya, sejak kemenangannya pada Pemilu 2002, di mata Uni Eropa tidak menjadi masalah sebab partai itu bisa diajak kerjasama dalam membangun Uni Eropa. Keseriusan AKP untuk menjadikan Turki bagian dari Uni Eropa menjadikan negara-negara Eropa tidak mengkhawatirkan Turki sebagai sebuah ancaman. Meski Turki berubah haluan itu tidak menjadi masalah sebab Turki sudah menunjukan 'kesetiaannya' kepada Uni Eropa. Turki adalah anggota NATO dan meski mayoritas
berpenduduk Muslim.

Meski AKP ingin menjadi bagian dari Eropa, namun AKP tetap kritis dalam berhubungan
dengan negara-negara Eropa dalam mensikapi masalah nuklir Iran dan Israel. Sikap AKP
di bawah pimpinan Tayyip Erdogan dalam masalah nuklir Iran dan Israel ini menarik
simpati dan sejalan dengan mayoritas keinginan rakyat Turki, yakni melawan kesewenang-wenangan Amerika Serikat, Uni Eropa dan Israel yang melakukan ketidakadilan terhadap negara-negara Islam.

Ketiga, Blok China-Korea Utara. Perang Korea ini bagi Amerika Serikat merupakan sebuah pilihan yang sulit. Secara kepentingan, baik ideologi dan ekonomi, pasti Amerika Serikat mendukung Korea Selatan, namun tidak mudah bagi Amerika Serikat untuk menerjunkan bantuan militer dan alutsistanya kepada Korea Selatan. Bila Amerika Serikat secara vulgar menggelar kekuatan militernya untuk mendukung Korea Selatan dalam melawan Korea Utara, maka hal demikian akan memancing China untuk juga terlibat dalam perang itu. Sebagai sekutu lama dan seideologi komunis-sosialis, tentu China akan mendukung Korea Utara.

Apa yang dilakukan Turki, China, Iran, Korea Utara, Brasil, Venezuela, Bolivia dan negara lain yang sefaham dengan negara-negara itu merupakan sebuah sikap positif untuk membentuk tatanan dunia baru. Setidak-tidaknya mencegah kesewenangan-wenangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara lain.

Sumber: DETIK


Sabtu, 20 November 2010

Indonesia considers more Embraer Tucanos

0

Super Tucano

JAKARTA, Nov. 19 (UPI) -- Indonesia could double its order for eight Embraer EMB-314 Super Tucano light attack turboprops, an air force official said.

The first of the eight aircraft will arrive in 2012 and includes ground-support stations and a logistics package.

The firm order for the eight, announced earlier this month, was the first for the Super Tucano in the Asia-Pacific region, but more could follow.

"Air force headquarters has decided to replace our Rockwell OV-10 Broncos with as many as 16 Super Tucanos," Indonesian air force operational commander Yushan Sayuti said.

Embraer won the deal over Korea Aerospace Industries KT-1, of which 11 are being used as trainers with Indonesia's air force. A 12th aircraft crashed at Bali Airport in June but the pilot and trainee-pilot ejected safely.

The KT-1 is a South Korean single-engine turboprop, basic training aircraft. It was developed by KAI and the Agency for Defense Development as the first completely indigenous South Korean aircraft. It first flew in 1991 but wasn't until some years later that it was inducted into the South Korean air force, which remains the aircraft's primary user with around 80 units.

Turkey operates around 40 of the KT-1, with an option to buy 15 more.

Indonesia urgently needs the Super Tucano because it is believed to have grounded at least 10 of its 12 aging OV-10F versions of the Bronco, a plane that first flew in 1965.

"The Super Tucano has been chosen to replace the Broncos because of its flexibility to perform a broad range of missions, including light attack, surveillance, air-to-air interception and counter insurgency," Embraer said in a written statement.

Indonesia's Broncos served in many surveillance and light attack roles, especially during the country's 1975 foray into neighboring East Timor, and which is now independent Timor Leste. Broncos also were used for bombardment during civil disruptions around the large mining operations of Freeport-McMoRan in the country's West Papua region.

Indonesia's versions of the Bronco are fitted with 12.7 mm Browning heavy machine guns in place of the lighter 7.62 mm machine guns favored by the U.S Navy.

At the Singapore Air Show in February, Boeing, which acquired the aerospace and defense units of Rockwell in 1996, said export interest for the Bronco was still high. Boeing said it would go on with its development of the aircraft even if it failed to win the U.S. Air Force tender for 100 light attack and armed reconnaissance aircraft.

The Super Tucano first flew in 1999 and was introduced into the Brazilian air force in 2003.

The Super Tucano's power is from a single Pratt & Whitney Canada PT6A-68C turboprop producing 1,600 hp. Maximum speed is nearly 350 mph with a range of around 975 miles and a ceiling height of 35,000 feet. Armaments include two 12.7 mm FN Herstal M3P machine guns in wings and cannon pods and two MAA-1 Piranha missiles.

Other weapons can include conventional and laser-guided bombs. The aircraft also carries an electro-optical infrared sensor, laser designator and secure radios with data links.

Apart from the air force of Brazil, other users include the Dominican Republic and Colombia. Chile and Ecuador have placed orders.

Competitors to the Super Tucano include the Beechcraft T-6 Texan II, the Piper PA-48 Enforcer, the Turkish-made TAI Hurkus and the Pilatus PC-21 from Switzerland.

From : UPI


Kamis, 11 November 2010

Indonesia Beli 8 Pesawat Tempur Brasil

0

Super Tucano Buatan Embraer Brasil

SAO PAULO, KOMPAS.com — Raksasa penerbangan Brasil, Embraer, Rabu (10/11/2010), mengumumkan, perusahaan itu memenangi kompetisi internasional untuk menyediakan delapan pesawat serang ringan bermesin turbojet Super Tucano bagi Angkatan Udara Republik Indonesia.

Embraer tidak membeberkan berapa besar nilai perjanjian tersebut, tetapi koran lokal menyebutkan angka 10 juta dollar AS. Perjanjian itu mencakup stasiun pendukung di darat dan suatu paket logistik yang terintegrasi. Pengiriman pesawat ke Indonesia dimulai tahun 2012.

"Kami sangat senang bahwa Angkatan Udara Indonesia menjadi pelanggan terbaru dari Sistem Pertahanan Embraer," kata Orlando Jose Ferreira Neto, Wakil Presiden Eksekutif Embraer. "Super Tucano merupakan pesawat serang ringan yang sudah terbukti dan pesawat latih yang sudah maju, yang saat ini sudah digunakan oleh lima angkatan udara. Kami yakin, pesawat itu sangat sesuai dengan kebutuhan Indonesia," tambahnya.

Embraer, pembuat pesawat terbesar ketiga di dunia, pada kuartal ketiga tahun 2010 memiliki pendapatan senilai 128 juta dollar.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 27 Oktober 2010

Indonesia Layak Masuk Kelompok BRIC

0

JAKARTA--MICOM: PT Bank Mandiri Tbk menilai Indonesia bisa masuk ke dalam jajaran negara berkembang yang paling berpengaruh, yaitu kelompok Brasil, Rusia, India, dan China atau biasa dikenal dengan BRIC.

Indonesia dinilai memiliki karakteristik yang sama dengan BRIC secara kapasitas ekonomi.

"Dengan luas wilayah lebih dari 3 juta kilometer persegi dan penduduk di atas 100 juta dan memiliki kapasitas ekonomi yang tinggi ditinjau baik dari sumber daya maupun potensi pasar, serta membukukan kinerja ekonomi yang istimewa, yaitu pertumbuhan ekonomi di atas 5% per tahun, Indonesia layak disejajarkan dengan BRIC, ungkap Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Riswinandi, Rabu (27/10).

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki semua prasyarat yang harus dimiliki untuk masuk ke dalam jajarang BRIC. Maka menurutnya tidak ada alasan Indonesia masuk ke dalam jajaran BRIC.

Indonesia akan masuk ke dalam BRIC dengan menambahkan akronim tersebut dengan huruf menjadi BRICI,katanya.

Untuk bisa sejajar dengan BRIC, Indonesia harus meningkatkan daya saingnya.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Kamis, 07 Oktober 2010

Brasil Beli Jet Tempur Usai Pemilu

0

ilustrasi

SAO PAULO, KOMPAS.com — Brasil menunggu hasil pemilihan umum presiden pada akhir Oktober untuk memutuskan pembelian jet tempur baru seharga multi-miliar dollar AS yang tertunda, kata Menteri Pertahanan Brasil, Nelson Jobim, Rabu.

Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, yang akan demisioner, akan membicarakan rencana itu kepada siapa pun yang terpilih untuk menggantikannya dalam pemilu putaran kedua pada 31 Oktober, kata Jobim di Sao Paulo. "Jika putaran kedua telah usai, kami akan merundingkan wacana F-X," katanya mengacu kepada kode pesanan 36 jet tempur moderen bagi Angkatan Udara Brasil. "Pelaksanaan F-X akan berada di bawah keputusan pemerintah baru. Oleh karena itu, Presiden harus membicarakan F-X dengan presiden terpilih nanti," tambahnya.

Tiga perusahaan pembuat pesawat berebut untuk mendapatkan pesanan Brasil yang diperkirakan menelan anggaran empat hingga tujuh miliar dollar AS. Pilihan Lula pada akhir tahun 2009 menempatkan jet tempur Rafale buatan Dassault dari Perancis di urutan pertama pada daftar pesanan, disusul jet Grippen NG buatan Saab dari Swedia, serta F/A-18 Super Hornet buatan perusahaan raksasa AS, Boeing. Namun, prospek tawaran Perancis telah pudar seiring waktu pemilu Brasil, dan Angkatan Udara Brasil dengan jelas telah memberitahu melalui media bahwa mereka lebih tertarik kepada jet tempur Swedia yang lebih murah.

Brasil yang dapat meningkatkan pembeliannya hingga 100 pesawat bersikeras pada perjanjian itu agar dapat meningkatkan perubahan teknologi sehingga dapat memajukan sektor penerbangannya.

Calon pilihan Lula yang seorang mantan ketua kabinet, Dilma Rousseff, saat ini memimpin pemilihan presiden, yang bersaing dengan rival terberatnya, seorang mantan Gubernur Negara Bagian Sao Paulo, Jose Serra.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 23 September 2010

Pabrik Pesawat Embraer Bidik Indonesia

0

Embraer 170

Jakarta ( Berita ) : Pabrik pesawat jet ternama dunia, dari Brazil, Embraer akan memfokuskan diri untuk penjualan pesawat jet komersial di wilayah Asia Pasifik terutama Indonesia karena pasar masih sangat menjanjikan di masa depan.

Executive Vice President untuk jet eksekutif, Embraer, Luis Carlos Affonso dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis [23/09] mengatakan, Embraer mempertimbangkan pertumbuhan potensial dalam lalu lintas udara global, khususnya di Asia Tenggara.

Untuk tiga tahun kedepan, pertumbuhan lalu lintas global akan meningkat sebesar 4,9 persen, ujarnya. Pertumbuhan terbesar masih tetap dialami oleh China sebesar 7,3 persen, namun secara keseluruhan untuk China dan Asia Pasifik termasuk Indonesia akan mewakili lebih dari dua pertiga lalu lintas udara global pada 029.

Dalam penerbangan nonstop pertamanya dari Mumbai, India ke Airport Luton London (LTN), Inggris, Lineage 1000 menempuh jarak 4.015 nautical miles (7.435 km) dalam waktu 9 jam dan 15 menit. Jarak ini sama dengan jarak 4.400 nautical miles (8.149 km ) tanpa angin halus, katanya.

Luis Carlos Affonso mengatakan, perusahaan dengan jet eksekutif berukuran besar khusus demontrasi Lineage 1000, telah menunjukkan pencapaian yang luar biasa terhadap dunia penerbangan dan merasa bangga dengan pencapai penerbanan jarak jauh oleh jet Embraer.

Terbukti para pelanggan memberikan apresiasi atas gabungan daya jarak tempuh dan kenyamanan yang ditawaran Lineage 1000. khususnya bagi kedua kota tersebut yang menghubungkan pasar benua Asia dengan Eropa, katanya.

Penerbangan tersebut berjalan dengan memenuhi seluruh persyaratan atas cadangan bakar dari Direktorat Jenderal Penerbanbgan sipil India (DGCA) dengan tujuh orang penumpang-tiga orang kru kabin dan empat orang dalam sebuah Lineage 1000 berperalatan standar.

Melalui jalur penerbangan antar dua kota ini, para pemilik penumpang maupun penerbangan potensial untuk pesawat jet berukuran sangat besar yang sangat modern dan mewah.

Sumber: BERITA SORE


Sabtu, 18 September 2010

Brasil Tolak Peran NATO

0


Rio de Janeiro, Rabu - Menteri Pertahanan Brasil Nelson Jobim Made menegaskan penolakan atas campur tangan militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara atas keamanan di Amerika Latin. Brasil menyatakan, kawasan merupakan tanggung jawab sejumlah negara di Amerika Latin.

”Keberadaan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) di kawasan ini tidak tepat,” kata Jobim, Kamis (16/9), kepada wartawan Brasil sebagaimana dikutip kantor berita UPI. ”Cara-cara pengamanan di dua sisi Atlantik jelas berbeda,” ujar Jobim.

Brasil menentang manuver NATO, terutama Amerika Serikat, yang berniat menancapkan kuku pertahanan di kawasan. Brasil juga ingin mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan di kawasan lewat sebuah kursi permanen di Dewan Keamanan PBB, yang diupayakan Presiden Brasil Luiz Inacio ”Lula” da Silva lewat lobi-lobi dengan sejumlah anggota PBB.

Sejak 2008, Lula da Silva sudah mencanangkan program regenerasi militer. Hal ini juga terkait dengan penemuan sejumlah lokasi pertambangan minyak di Brasil. Pengembangan kekuatan militer juga didorong kesadaran Brasil sebagai salah satu kekuatan utama kawasan yang sedang bertumbuh.

Brasil ingin menekankan hubungan yang setara dengan NATO. Untuk memperkuat ambisi itu, Brasil juga menekankan tentang perlunya kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara di kawasan, termasuk Argentina. ”Brasil ingin menjadi kekuatan utama setelah menyadari posisinya di kawasan,” kata pakar hubungan internasional dari Akademi Angkatan Laut Brasil, Sabrina Medeiros.

Belanja senjata

Sehubungan dengan itu, Brasil kini sedang gencar mengadakan jenis-jenis persenjataan untuk mendukung ambisinya. Kedutaan Besar Inggris di Brasil, Selasa lalu, mengungkapkan, Inggris kini berusaha memenuhi pesanan Brasil untuk membuat 11 kapal perang untuk memperkuat pertahanan laut.

Hal ini ditujukan untuk menjaga cadangan minyak yang banyak ditemukan di lepas pantai negara itu. Brasil pada tahun 2007 menemukan ladang minyak besar di lepas pantai Rio de Jeneiro dan Sao Paulo. Penemuan tersebut dapat membawa Brasil menjadi penghasil minyak terbesar dalam 20 tahun mendatang, yang akan mampu memproduksi 7,9 miliar barrel.

”Menteri Pertahanan Inggris Gerald Howarth telah menyampaikan hal tersebut kepada Panglima Angkatan Laut Brasil Julio Soares de Moura Neto,” ungkap keterangan pers Kedubes Inggris di Brasil.

Howarth mengungkapkan, telah mewaspadai Brasil tentang kemungkinan ada tawaran internasional lain menyangkut pertahanan. Namun, lanjut Howarth, Inggris punya keyakinan tentang bobot kontrak pertahanan Inggris-Brasil karena merupakan proyek antarpemerintah.

Howarth menegaskan, permintaan Brasil bahwa kontrak tersebut meliputi paket alih teknologi secara penuh bukan merupakan halangan.

Ia menambahkan, Inggris memiliki pengalaman luas dalam hal ini, seperti kesepakatan kontrak penjualan pesawat tempur ke India yang juga meliputi alih teknologinya.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 15 September 2010

Inggris Mau Bikin 11 Kapal Perang Brasil

0

illustrasi

RIO DE JANEIRO, KOMPAS.com - Inggris menawarkan diri untuk membuat 11 kapal perang baru bagi Brasil, demikian penjelasan Kedutaan Besar Inggris, Selasa.

Tawaran itu disampaikan Inggris saat Brasil menjajaki kontrak pertahanan lautnya untuk melindungi temuan cadangan minyak lepas pantai yang berjumlah besar. Kedubes Inggris menyebutkan, Wakil Menteri Luar Negeri Inggris untuk Kementerian Pertahanan, Gerald Howarth, menyampaikan tawaran itu kepada Pejabat Menhan Brasil, Julio Soares de Moura Neto, di atas Kapal Perang Inggris HSM Ocean.

Howarth mengatakan, ia menyadari bahwa Brasil juga membuka peluang pihak asing lainnya untuk ikut memberikan penawarannya tetapi ia yakin tawaran Inggris sedikit unggul karena masuk proyek antar-pemerintah. Dia mengatakan, tawaran Inggris itu meliputi pembangunan lima kapal patroli pantai, lima kapal pengawal dan satu kapal pendukung logistik.

Brasil telah menandatangani kontrak pembelian kapal selam dan helikopter dengan Perancis dan akan segera mengumumkan pemenang tender kontrak pengadaan 27 jet tempur senilai miliaran dolar AS.

Tahun 2007, Brasil menemukan ladang minyak laut dalam di sepanjang lepas pantai Rio De Janeiro dan Sao Paulo. Cadangan minyak itu merupakan penemuan terbesar di dunia dalam 20 tahun terakhir karena diprediksi mengandung sekitar 7,9 miliar barel minyak mentah.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 08 September 2010

Brasil akan Putuskan Beli F/A18, Rafale, atau Gripen

0

Brasilia (ANTARA News) - Presiden Brazilia Luiz Inacio Lula da Silva akan memutuskan pihak yang mendapat kontrak membangun jet-jet tempur Brasil seharga miliaran dolar, setelah pemilu Oktober mendatang.

Namun putusan itu dilakukan sebelum dia meninggalkan kantor kepresidenan 1 Januari, kata menteri pertahanan, Selasa.

Para finalis saat ini yang sedang berjuang untuk keluar dalam tahap akhir tender adalah Rafale Prancis buatan Dassault, Gripen NG Swedia oleh Saab dan F/A-18 Super Hornet oleh perusahaan raksasa Boeing Amerika Serikat.

"Setelah pemilihan (3 Oktober), presiden akan mempelajari masalah itu. Dia akan membuat keputusan tahun ini, masih dalam pemerintahannya," kata Menteri Pertahanan Nelson Jobim setelah memimpin satu parade Hari Kemerdekaan, seperti dikutip oleh kantor berita Brasil, Agencia.

Kesepakatan itu diperkirakan akan senilai antara empat sampai tujuh miliar dolar, tergantung detil persenjataan, pemeliharaan dan keterlibatan industri sekitarnya.
Lula telah menyatakan preferensi untuk membeli 36 model-Prancis, jet-jet Rafale semi pengintai.

Lula akan mengundang sidang dewan pertahanan nasionalnya dan mengumumkan keputusannya, setelah mendengar saran penasehatnya.

Sumber: ANTARA


Minggu, 18 Juli 2010

Produksi Jet Tempur Angkat Harkat Bangsa

0

JAKARTA (SI) – Kesepakatan kerja sama yang diteken Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel) dalam proyek produksi pesawat tempur siluman KF-X dinilai sebagai momentum tepat bagi Indonesia untuk mengembalikan pamor Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekuatan militer terbaik di dunia, termasuk kekuatan udara.

Pengamat militer dan intelijen Wawan Purwanto melihat kerja sama tersebut strategis dan harus didukung. ”Kerja sama itu penting dan sangat strategis.Bila kerja sama itu berjalan baik,kita bisa lebih percaya diri dengan negara-negara lain karena kembali memiliki pesawat tempur canggih,” ujar Wawan saat dihubungi harian Seputar Indonesia (SI) kemarin.

Dia mengingatkan, sebagai negara kepulauan yang sangat luas, Indonesia harus memiliki pesawat tempur yang memadai untuk memantau dan menjaga negara dari serangan atau ancaman negara lain.Keberadaan pesawat tempur canggih seperti KF-X dibutuhkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.“Kita harus bergerak cepat agar tidak dilecehkan dan tidak tertinggal. Maka kepemilikan pesawat tempur harus sesuai dengan tuntutan zaman,”katanya.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU Marsekal Pertama Bambang Samudro mengakui, keterlibatan Indonesia dalam memproduksi sendiri pesawat tempur akan mendukung kedirgantaraan di Tanah Air dan mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia. “Ini akan bermanfaat dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Republik Indonesia, baik wilayah darat maupun air secara umum. Upaya pemerintahinipatutdiapresiasi, dapat dicatat sebagai prestasi bangsa yang teknologinya maju berkembang,”ungkapnya.

Kemampuan memproduksi pesawat tempur sendiri, lanjut dia,juga bisa menambah kepercayaan diri bangsa sebagai negara maritim yang memiliki wilayah udara cukup luas.Dia menambahkan, kemampuan Indonesia memproduksi pesawat tempur akan berguna dalam menghadapi embargo sekaligus menambah keuntungan secara ekonomi. “Karena itu, keberhasilan ini juga nantinya akan menjadi titik balik dari kebangkitan dirgantara nasional serta membangkitkan kepercayaan diri dalam pergaulan di dunia internasional,”ujarnya.

Dia kemudian menuturkan, dalam kesepakatan yang dilakukan di Seoul tersebut, produksi prototipe secara bertahap akan dilakukan pada 2019. Setelah sukses dan tidak ada halangan, rencana pemerintah untuk memproduksi secara massal baru dapat dilakukan pada 2021. ”Semua perlu dilakukan secara bertahap,” ungkap mantan Komandan Pangkalan Udara Iswahyudi itu.

Kerja sama proyek KF-X yang tertunda beberapa tahun karena kendala keuangan dan teknis diteken Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dengan Korsel 15 Juli kemarin. Kedua negara bersepakat bersama memproduksi dan memasarkan jet tempur generasi baru tersebut.

Dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekjen Kemhan RI Marsekal Madya TNI Erris Herryanto, disepakati bahwa Indonesia akan menanggung 20% dari total biaya senilai USD 8 miliar dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebihi F-16 ini. Berdasar informasi yang berkembang, pesawat single seat bermesin ganda ini adalah jenis pesawat siluman (stealth) yang kemampuannya di atas pesawat Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih di bawah Lockheed Martin F-35.

Dalam hal kemampuan tempur juga tidak usah diragukan karena pesawat ini lebih unggul dibandingkan pesawat F-16 Block 60. Indonesia sendiri sudah siap mengerjakan proyek tersebut.Perusahaan dirgantara nasional PT Dirgantara Indonesia (DI) menyatakan kesiapannya karena memiliki kompetensi, baik desain, sumber daya manusia, teknologi maupun quality control.

Perusahaan pelat merah yang berkedudukan di Kota Bandung itu selain berpengalaman memproduksi pesawat sipil, juga pernah menggarap proyek pesawat militer pada era 1986–1990, yakni menggarap tujuh komponen untuk 40 pesawat tempur F-16 dengan hasil sangat memuaskan. Wawan menilai,dengan pengalaman yang sudah dimiliki, PT DI layak ditunjuk sebagai rekanan produsen pesawat tempur KF-X.

Dia sendiri menilai, langkah Korsel merangkul Indonesia merupakan bentuk pengakuan Negeri Ginseng tersebut terhadap kemampuan Indonesia. ”PT DI adalah aset Indonesia yang membanggakan bagi Indonesia. Tapi dalam kerja sama ini, kita harus lebih melihat manfaatnya dan bisa dipastikan Indonesia dapat mengambil manfaat dari kerja sama ini,” terangnya. Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanudin menyambut baik rencana Indonesia yang akan memproduksi pesawat tempur KF-X bersama dengan Korsel.

SUPER TUCANO Buatan Brasil

Menurut dia, Indonesia bukan hanya siap memproduksi pesawat, tapi teknologi persenjataan udara dan radar juga sudah dikuasai bangsa Indonesia. Bahkan,menurutnya, saat ini bukan hanya Korsel yang tertarik untuk bekerja sama memproduksi pesawat tempur, tapi juga Brasil. Hal ini diketahuinya saat pembelian pesawat tempur ringan Super Tucano dari Brasil untuk keperluan satu skuadron.

”Brasil mau saja memproduksi pesawat itu di sini kalau kita membeli untuk keperluan empat skuadron,” terangnya.Yang mengejutkan, lanjutnya, ternyata banyak tenaga ahli dari Indonesia yang dilibatkan dalam produksi pesawat antigerilya berkecepatan 560 km per jam tersebut. Namun politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengingatkan pemerintah untuk menghitung soal pemasaran pesawat tempur KF-X.

Dia menunjuk kasus ketika BJ Habibe kesulitan meyakinkan negara lain untuk membeli pesawat produksi PT DI yang saat itu masih bernama IPTN meski kualitasnya bagus. ”Masalah marketing ini tidaklah mudah karena secara psikologis negara lain bisa saja ragu meski pesawat itu nanti sudah teruji,” terangnya. Dia juga mengingatkan jangan sampai keputusan untuk bergabung dalam proyek KF-X tersebut ternyata malah mengganggu perekonomian nasional.

Sumber: SI


Rabu, 14 April 2010

Sarkozy Confident Brazil Will Buy Rafales

0


WASHINGTON - French President Nicolas Sarkozy expressed confidence April 13 that Brazil would choose French-made Rafale fighter jets for its air force in a hotly contested bidding process.

"I am confident. Things are progressing," Sarkozy said when asked about the contract after meeting Brazilian President Luiz Inacio Lula da Silva on the sidelines of a nuclear security summit in Washington.

Brasilia has stated its preference to purchase 36 French-made, semi-stealth Rafale jets, but a firm deal has not been announced.

Lula is expected to announce his choice in mid-May, having pushed back a decision from April.

"If it's a decision taken by the president and the government, it's inevitably a political decision," Sarkozy said.

But, he said, "it's not just a political criterion. The Rafale is an excellent plane. ... President Lula and I really have a great bond. I know what he's thinking. There are no surprises on this issue."

The Rafale, made by Dassault, is seen as the front-runner in a tender also contested by Sweden's Gripen NG by Saab and by the F/A-18 Super Hornet by Boeing.

The deal is estimated to be worth between $4 billion and $7 billion, depending on details of armaments, maintenance and peripheral industrial involvement. Brazil could also end up buying up to another 100 fighter jets from the supplier over the long term.

Brazil has made technology transfer the main priority in the tender, so it can produce fighter aircraft itself and boost its aviation industry. Lula previously said the Rafale deal would be more advantageous in that respect for Brazil.

From: DN


Senin, 29 Maret 2010

Latest Deadline For Brazil Fighter Decision: April

0

SAO PAULO, Brazil - Brazil plans to announce in early April the winner of a multibillion-dollar competition for modern fighter jets meant to cement its new role as Latin America's preeminent military power.

The tender, though, has been marked by infighting between Brazil's air force and government, and fierce rivalry between the nations vying to score the deal.



The finalists now include France's Rafale made by Dassault, Sweden's Gripen NG by Saab, and the F/A-18 Super Hornet by Boeing.

President Luiz Inacio Lula da Silva's stated preference for the ultra-sophisticated, semi-stealth Rafale jet annoyed the Air Force, which preferred the much cheaper and easier-to-maintain Gripen.

The Super Hornet, in contrast, has languished in the race - less because of performance comparisons than Brazil's hard-learned lessons that U.S. companies are more reluctant to give full access to their military technology.

Throughout the competition, Lula and his defense minister, Nelson Jobim, have underscored technology transfer as their top priority so that Brazil could not only build its own next-generation fighters but also export them.

That ambition derives from Brazil's growing global clout, and the expectation that Latin America's biggest economy now deserves a seat at the top table alongside U.N. Security Council permanent members Britain, China, France, Russia and the United States.

France's jet bid was bolstered by the fact that Brazil's strategic pact with Paris that has already seen it sign a $12 billion deal in early 2009 to buy 50 helicopters and five submarines from France. One of the submarines will be built to run on nuclear power.

The value of the jet fighter contract has not been revealed, but it is estimated at between $4 billion and $10 billion, depending on the final choice, maintenance costs and armaments.

The initial purchase will be for 36 aircraft to patrol Brazil's vast airspace over the next 30 years, with an option to add nearly 100 more.

Faced with such a juicy opportunity and eyeing other open tenders in India and Kuwait, the competing companies have gone all out to land the Brazilian tender.

French President Nicolas Sarkozy lent his negotiating skills to the endeavor, and he and President Lula issued a joint statement in September saying Brazil had entered into exclusive negotiations to buy the Rafales.

But when the two sidelined contenders cried foul and Brazil's air force showed its displeasure through leaks to the media, Lula had to backtrack and say the competition was still wide open.

The United States used the opening to send top envoys, including national security adviser Jim Jones, to try to convince Brazil the U.S. government was ready to transfer "necessary" technology to win the deal.

Not be outdone, Dassault reportedly cut $2 billion off its asking price, according to the Folha de Sao Paulo daily. The French company did not confirm the discount, saying only it was "confidently" awaiting Brazil's decision.

Then in late February, the aircraft carrier Carl Vinson was morphed into a floating showroom when it was sent to Brazil with its contingent of F/A-18s on display. Boeing representatives were handily available on land to answer questions.

U.S. Secretary of State Hillary Clinton followed up with a visit in early March, during which she also lobbied for the Super Hornet.

Sweden's Saab, which has emphasized that Brazil could be a partner in the Gripen NG's development right from the prototype stage, has sought to have the last word.

Swedish King Carl XVI Gustaf and Queen Silvia made visit to Brazil this week, during which Swedish business leaders, including Saab CEO Aake Svensson. talked up the business opportunities from a Gripen win.

Under such formidable pressure - domestic and international - Brazil's government has repeatedly pushed back its decision date.

The head of the Air Force, Gen. Juniti Saito, had said the winner would be announced by the end of March.

But Jobim, the defense minister, said March 25 that the victor would now not be declared before April 5, after Brazil's Easter break.

From: DENFENSE NEWS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin