Tampilkan postingan dengan label PRANCIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRANCIS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2011

Indonesia Membeli Sherpa Light Scout Dari Renault

0

Sherpa light Scout.

Renault Trucks Defense telah menandatangani dua kontrak dengan PT Pindad (Persero) untuk memasok kendaraan ringan jenis Sherpa Scout kit dan merakit powerpacks Panser, untuk memenuhi kebutuhan angkatan bersenjata Indonesia. Renault Trucks Defense memberikan PT Pindad, sebagai penyedia peralatan. Dari unit pertama Sherpa Scout dilengkap dengan top-loading hard drive. Angkatan bersenjata Indonesia telah memilih Sherpa sebagai kendaraan pengintai ringan untuk menemani Panser lapis baja 6 x 6. Renault Trucks Defense akan menyediakan 12 unit VAB powerpacks 320 (mesin, transmisi, sistem pendingin, kotak drop) untuk melengkapi kendaraan panser. Dua tahun lalu, Renault melakukan pengadaan 150 paket untuk powerpacks PT Pindad.

Sumber: RENAULT


Jumat, 07 Januari 2011

Mistral yang Memikat Rusia

0



Kapal induk helikopter terbaru buatan Perancis, Mistral, bersandar di tepi Sungai Neva dalam kunjungan ke kota St Petersburg, Rusia, 23 November 2009. Rusia akhirnya memutuskan membeli dua kapal kelas Mistral, akhir Desember 2010, untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Laut-nya. Ini adalah transaksi pembelian senjata terbesar yang dilakukan Rusia dengan negara anggota NATO.

Sepanjang sejarah, Rusia dikenal sebagai produsen dan eksportir senjata. Mulai dari pistol sampai kapal induk, negara itu memiliki kemampuan untuk membuat sendiri dan menjualnya ke negara lain. Tak pernah terbayangkan Rusia akan mengimpor alat utama sistem persenjataannya.

Namun, pekan lalu, dunia dikejutkan dengan kabar Rusia memutuskan membeli dua kapal perang kelas Mistral dari Perancis. Pembelian kapal induk helikopter Perancis oleh Rusia itu adalah transaksi perdagangan senjata terbesar antara Moskwa dan negara anggota NATO dalam sejarah.

Rusia dikabarkan akan mengeluarkan uang sebesar 1,37 miliar euro (Rp 16,4 triliun) untuk membeli dua kapal tersebut. ”Kapal pertama seharga 720 juta euro dan kapal kedua 650 juta euro,” tutur seorang pejabat Rusia yang mengikuti proses negosiasi pembelian kapal itu, seperti dikutip kantor berita RIA Novosti, 30 Desember 2010.

Perbedaan harga tersebut disebabkan Rusia berencana terlibat dalam pembuatan kapal. ”Jika pada kapal pertama Rusia memiliki andil 20 persen dalam proses pembuatan kapal, pada kapal kedua nanti peran Rusia bisa mencapai 40 persen,” tutur sumber yang dikutip RIA Novosti.

Rilis resmi dari Kantor Kepresidenan Perancis menyebutkan, kapal tersebut akan dibangun oleh sebuah konsorsium yang beranggotakan dua perusahaan Perancis, yakni DCNS dan STX, serta satu perusahaan Rusia, United Shipbuilding Corporation (OSK).

Menurut rencana, Rusia akan membeli total empat kapal jenis Bâtiments de Projection et de Commandement (BPC), kapal komando dan proyeksi kekuatan) itu. Dua kapal pertama dibangun di Perancis, sementara dua kapal berikutnya dibuat di galangan kapal Rusia.

Rencana transaksi alutsista di antara dua negara besar ini menuai protes jauh hari sebelumnya. Protes datang terutama dari sekutu Perancis sendiri di NATO, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Baltik eks Uni Soviet yang kini menjadi anggota NATO.

Hanya tiga hari setelah pengumuman transaksi itu, Menteri Pertahanan Lituania Rasa Jukneviciene menyebut keputusan Perancis menjual kapal-kapal perang canggih itu kepada Rusia adalah sebuah ”kesalahan besar”. Menurut Jukneviciene, keamanan kawasan Laut Baltik dipertaruhkan apabila Rusia nanti mulai mengoperasikan kapal-kapal itu.

Kekhawatiran senada dilontarkan Georgia, negara yang punya pengalaman pahit berperang dengan Rusia, 2008. Dalam salah satu bocoran kawat diplomatik rahasia AS di WikiLeaks, Menteri Luar Negeri Georgia Grigol Vashadze mengungkapkan kekhawatiran bahwa kapal-kapal kelas Mistral itu kelak tak hanya mengancam Georgia, tetapi juga seluruh kawasan Laut Hitam.

Kekhawatiran Georgia ini sangat beralasan mengingat dalam salah satu pernyataan pada tahun 2009 Kepala Staf Angkatan Laut Rusia Laksamana Vladimir Vysotsky menyebutkan, kapal-kapal buatan Perancis itu akan melipatgandakan kecepatan operasi pasukan Rusia.

Vysotsky mengambil contoh, dengan kapal itu, operasi penyerbuan seperti ke Georgia tahun 2008 bisa dilakukan hanya dalam tempo 40 menit, tidak 26 jam seperti yang dibutuhkan Armada Laut Hitam Rusia waktu itu.

Apa yang membuat kapal-kapal sekelas Mistral ini begitu hebat sehingga diminati negara sebesar Rusia dan ditakuti negara-negara lain?

Kapal tipe BPC pada awalnya dibangun oleh Perancis untuk meningkatkan kemampuan amfibi dan pendaratan pasukan AL Perancis. Kapal ini dirancang untuk menggantikan kapal-kapal pendarat tipe landing platform docks (LPD) kelas Ouragan dan Foudre yang sudah dioperasikan AL Perancis sejak akhir 1960-an.

Perang dan damai


Namun, pada perkembangannya, gagasan itu berkembang sesuai dengan tuntutan perang amfibi modern yang membutuhkan dukungan kekuatan udara serta kemampuan untuk mengangkut kendaraan tempur dan pasukan yang lebih besar.

Menurut naval-technology.com, kapal BPC itu dilengkapi dengan fasilitas komunikasi canggih buatan perusahaan elektronik Perancis, Thales. Itu yang membuat kapal tersebut bisa menjadi kapal komando dan mampu menjalankan operasi gabungan multinasional.

Saat ini, AL Perancis baru mengoperasikan dua BPC yang dibuat di galangan kapal Saint Nazaire, Perancis barat, yakni Mistral (dioperasikan sejak Februari 2006) dan Tonnerre (Februari 2007). Kapal ketiga, Dixmude, baru dipesan pada 2009 dan dijadwalkan mulai beroperasi 2012.

Berbobot 21.300 ton, panjang 199 meter dan lebar 32 meter, kapal BPC mampu mengangkut 16 helikopter tempur kelas menengah-berat, seperti SA330 Puma dan AS665 Tigre buatan Perancis atau Kamov Ka-50/52 buatan Rusia. Helikopter-helikopter itu disimpan di hanggar seluas 1.800 meter persegi di bawah geladak kapal.

Geladaknya dilengkapi landasan helikopter yang mampu mengakomodasi pergerakan enam helikopter secara simultan di enam titik pendaratan. Dengan kemampuan ini, kapal kelas Mistral lebih populer dengan sebutan kapal induk helikopter.

Di dalam perutnya, kapal yang dilengkapi dua sistem rudal anti-serangan udara Simbad ini juga mampu membawa satu batalyon kavaleri berisi 40 tank tempur utama sekelas Leclerc buatan Perancis atau T-90 buatan Rusia. Atau dalam konfigurasi lain, mengangkut 13 tank tempur utama dan 46 kendaraan militer lainnya.

Kapal ini juga bisa membawa 450 tentara untuk pelayaran selama enam bulan atau 700 tentara untuk misi yang lebih pendek durasinya. Pasukan tersebut bisa langsung didaratkan di daerah sasaran dengan empat perahu pendarat yang tersedia di dalam kapal itu.

BPC juga dilengkapi dengan rumah sakit seluas 900 meter persegi, yang memiliki 20 kamar, 69 ranjang perawatan, 2 kamar operasi, dan fasilitas lain setara sebuah rumah sakit di kota kecil. Dengan segala kemampuannya ini, sebuah kapal kelas Mistral juga bisa digunakan secara efektif untuk operasi kemanusiaan di samping misi-misi tempur.

Bahkan, misi perdana Mistral pada 2006 adalah mengungsikan warga negara Perancis dari Lebanon dalam konflik antara Israel dan milisi Hezbollah di Lebanon.

Pihak AL Rusia, seperti dikutip GlobalSecurity.org, menyebutkan, misi utama kapal-kapal BPC ini nantinya adalah untuk mengangkut pasukan, misi pemeliharaan perdamaian, misi penyelamatan, dan kemungkinan juga akan berpartisipasi dalam misi antibajak laut di perairan Somalia.

Tak perlu dikhawatirkan

Menurut pengamat pertahanan Pierre Conesa dari Paris, kapal-kapal BPC milik Rusia itu kemungkinan besar akan ditempatkan di Armada Pasifik Rusia, yang berpangkalan di Vladivostok, dekat Jepang dan Korea, jadi tak perlu dikhawatirkan oleh negara-negara Baltik.

Conesa menambahkan, kekhawatiran negara-negara Baltik dan Georgia itu menunjukkan negara-negara tersebut masih melihat ke masa lalu, bukan masa depan. ”Masa lalu mereka dan kita sangat berbeda. Mereka pernah diduduki oleh Uni Soviet, dan dalam kasus Georgia, pernah berkonflik dengan Rusia. Tetapi, jalan terbaik untuk membangun hubungan yang damai dan stabil dengan Rusia adalah dengan menganggap Moskwa adalah mitra kita,” papar Conesa.

Conesa juga menepis kekhawatiran bahwa penjualan kapal-kapal BPC itu ke Rusia akan berdampak pada ”transfer teknologi” militer NATO ke Rusia. Ia mengatakan, penjualan kapal perang itu harus dilihat dalam konteks masa kini, saat NATO berniat menggandeng Rusia dalam program perisai rudal Eropa.

”Dalam (program) sistem pertahanan antirudal itu nanti, kerja sama (antara Rusia dan negara-negara NATO) akan lebih dalam dan melibatkan teknologi yang lebih sensitif daripada yang terpasang di Mistral,” ujar Conesa.

Meski demikian, tak ada jaminan apa pun kapal-kapal itu nantinya tidak akan digunakan untuk misi agresif, seperti yang dilakukan terhadap Georgia. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin menegaskan, terserah Rusia untuk memutuskan di mana dan bagaimana mengoperasikan sistem persenjataannya.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 30 Desember 2010

Russia to pay over 700 million euros for first Mistral helicopter carrier

0

Mistral helicopter carrier

Russia will pay France approximately 720 million euros for its first Mistral-class helicopter carrier for its Navy, a source close to the negotiations process told RIA Novosti on Thursday.

At the initial stage, two Mistral-class helicopter carriers will be built jointly by France and Russia at the STX shipyard in Saint-Nazaire, France. Another two will be constructed later at the Admiralty Shipyards in St. Petersburg.

"The cost of the first ship will be 720 million euros, the second will cost 650 million euros," the source said.

Russian President Dmitry Medvedev told his French counterpart Nicolas Sarkozy last week over the phone that France had won the tender to build amphibious assault ships for Russia. The winner is a consortium comprised of French DCNS and Russia's United Shipbuilding Corporation (USC), the Kremlin press service said.

The first Mistral-class ship is expected to be built within 36 months after Russia makes an advance payment scheduled for January 2011.

Russia had previously held talks with France on the purchase of Mistral-class warships on a 2+2 scheme whereby Russia would buy one or two French-built Mistrals and build another two under license at home.

A Mistral-class ship is capable of transporting and deploying 16 helicopters, four landing vessels, up to 70 armored vehicles including 13 battle tanks, and 450 personnel.

From : RIA


Selasa, 21 Desember 2010

Indonesia & Perancis Melakukan Kerjasama Pertahanan

0

(Ist)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Prancis, di Jakarta, Selasa, akan menggelar Forum Konsultasi Bilateral II tingkat pejabat senior.

Menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin, forum konsultasi regular tersebut ditujukan untuk mengidentifikasikan upaya bersama guna meningkatkan dan memperkuat kerja sama bilateral antara Indonesia dan Prancis dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya.

Dalam bidang politik, kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerjasama kearah pembentukan sebuah kemitraan strategis antara Indonesia dan Prancis.

Selain itu kedua delegasi juga membahas upaya peningkatan kerja sama dalam bidang pertahanan dan kontra-terorisme.

Sementara itu, untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara, pertemuan tersebut membahas upaya peningkatan dan pengoptimalan kerja sama di bidang perdagangan, investasi serta di bidang energi dan mineral.

Di bidang sosial budaya, kedua negara sepakat untuk terus mengembangkan kerja sama yang telah terjalin selama ini khususnya di sektor pendidikan, pariwisata dan pertukaran kebudayaan.

Selain membahas mengenai hubungan bilateral, kedua delegasi juga bertukar pandangan terkait isu-isu internasional yang berkembang saat ini.

Dalam pertemuan Forum Konsultasi Bilateral (FKB) tersebut juga akan ditandatangani "Financial Protocol on Strengthening BMKG Climate and Weather Services Capacity" yang berupa pinjaman lunak senilai 30 juta Euro untuk pembiayaan proyek peningkatan kapasitas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Proyek tersebut diharapkan akan dapat membantu BMKG dalam meningkatkan sistem operasional Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika di Indonesia sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Dalam pertemuan tersebut Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Retno L.P Marsudi, sementara itu Delegasi Perancis dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Prancis, Pierre Sellal.

Sumber: ANTARA


Minggu, 19 Desember 2010

Hadapi AS, Selandia Baru Minta Bantuan China Dan Perancis

0

Foto: David Lange. (smh.com.au)

WELLINGTON - Mantan pemerintah Selandia Baru merayu China dan Prancis untuk melakukan upaya membatasi pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Australia di kawasan Pasifik. Demikian laporan yang mengutip bocoran kawat diplomatik WikiLeaks.

Pihak Selandia Baru juga mengatakan mereka telah mengesahkan undang-undang anti-nuklir dengan alasan penghematan biaya pertahanan serta alasan ideologis yang selalu diungkapkan ke publik. Kebijakan ini yang menimbulkan keretakan dengan Washington.

Seperti dilansir AFP pada Sabtu (18/12/2010), kawat diplomatik tahun 2004 itu diberi judul "Apa Yang Tidak Bisa Kita Katakan dalam Misi Kita". Kawat tersebut mengatakan Partai Buruh yang juga merupakan partai berkuasa di Selandia Baru pada awal dekade 2000an menggoda China dan Prancis membantu mereka membatasi pengaruh AS dan Australia di kawasan Pasifik.

Dalam sebuah kunjungan yang dilakukan Wakil Menteri Perdagangan China, Menteri Perdagangan Selandia Baru Jim Sutton mengklaim China sebagai mitra dagang yang paling penting dan berharga bagi Selandia Baru. Klaim tersebut telah membuat para pejabat Australia bertanya-tanya.

Pemerintah dari Partai Buruh, yang kala itu dipimpin David Lange, juga merupakan faktor mengapa Washington dan Wellington tidak memiliki hubungan yang terlalu baik. Lange adalah pihak yang memperkenalkan undang-undang anti nuklir pada dekade 1980an. Kebijakan yang tidak disukai AS itu terus dipertahankan hingga beberapa dekade.

Kawat tersebut juga mengungkapkan sejumlah pejabat pemerintahan senior Selandia Baru mengatakan kepada para pejabat AS bahwa mereka sesungguhnya mengetahui kebijakan (anti nuklir) akan membuat mereka dikeluarkan dari aliansi ANZUS (Australia, New Zealand, United States). Namun Selandia Baru justru senang dengan keputusan ini. Mereka mengatakan dengan keluar dari ANZUS, Selandia Baru akan dapat menghemat pengeluaran pertahanan di tengah masa krisis ekonomi dan fiskal.

Sumber: OKEZONE


Selasa, 02 November 2010

Prancis dan Inggris akan Uji Coba Senjata Nuklir

0

illustrasi

PARIS--MICOM: Pemimpin Prancis dan Inggris akan menandatangani persetujuan yang mensahkan kedua negara menguji coba senjata nuklir mereka di sebuah fasilitas gabungan di Prancis.

Demikian pernyataan yang dikelaurkan Kepresidenan Prancis, Selasa (2/11).

Sebuah pusat simulasi nuklir akan didirikan di Valduc, Prancis timur, sekitar 45 kilometer barat laut kota Dijon, serta akan mulai beroperasi pada 2014, ujar pernyataan dari Kepresidenan.

Pusat simulasi tersebut akan memungkinkan ilmuwan Prancis dan Inggris dapat memperagakan sejumlah kinerja material nuklir untuk memastikan "kelangsungan hidup, keselamatan, dan keamanan atas senjata nuklir jangka panjang kedua negara," ujar pernyataan itu.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, dan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, akan menandatangani persetujuan di London pada Selasa ini bagi kerja sama pertahanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Persetujuan kedua negara itu akan mencakup pembentukan pasukan militer gabungan dan berbagi kapal induk bagi pesawat.

Sumber: MEDIA INDONESIA


English News : Russian, French shipbuilders form consortium

0

Mistral-class helicopter carrier

Russia's United Shipbuilding Corporation (USC) and France's shipbuilder DCNS on Monday signed an agreement to form a consortium, in a move that may bring a pending helicopter carrier deal closer to completion, the USC president said.

The consortium is the most likely winner of a Russian tender to build two Mistral-class helicopter carriers as part of a Russian-French deal, analysts say.

Russia and France are currently in talks on a 2+2 scheme, whereby Russia will buy one or two French-built Mistrals and build another two at home. The contract is expected to be inked before the end of the year.

"We have signed a long-term agreement; it includes a transfer of technologies," Roman Trotsenko told journalists in St. Petersburg.

Trotsenko said the consortium is interested in building supply ships and icebreakers for the Arctic, but DCNS Chairman Patrick Boissier added that it is also ready to compete in all military tenders.

From : RIA


Senin, 01 November 2010

Inggris, Prancis di Ambang Kemitraan Pertahanan Ambisius

0

Inggris membeli pesawat refale dari Prancis untuk Kapal Induk AL Inggris

London (ANTARA News/AFP) - Inggris dan Prancis Selasa akan mengumunkan kemitraan yang belum pernah terjadi sebelumnya menyangkut pertahanan dalam upaya untuk memampukan kedua negara kekuatan menengah tersebut tetap menjadi pemain global, kata para pejabat dan diplomat.

Parahnya ekonomi nampaknya telah mencapai apa yang selama bertahun-tahun diplomasi gagal lakukan dengan memaksa rival historis bekerja bersama.

Presiden Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri David Cameron telah mengungkapkan tekadnya untuk membuka lembaran baru kerjasama, meskipun para pejabat dari kedua negara menekankan bahwa kedaulatan nasional akan dipertahankan.

Pada pertemuan puncak Prancis-Inggris di London Selasa, "hubungan ini akan diletakkan pada tingkatan baru -- paling dekat dari sebelumnya," Menteri Pertahanan Inggris Liam Fox menulis di surat kabar Sunday Telegraph.

Dia mengatakan sasarannya adalah untuk memperkuat hubungan "di semua jenjang", mulai dari latihan bersama hingga akuisisi peralatan dan teknologi dan sharing informasi, namun menambahkan: 'Kami akan mempertahankan kapabilitas otonom."

Sumber: ANTARA


Selasa, 26 Oktober 2010

English News : France ready to deliver helicopter carrier with transfer of technologies

0

Mistral class amphibious assault ship

France's shipbuilder DCNS announced on Tuesday it is ready to deliver Mistral class helicopter carriers to Russia with built-in domestic navigation technologies.

"There are no restrictions [in the transfer of technology]," DCNS Director Pierre Legros told RIA Novosti.

The technology is French-made, a spokesman for the French Navy, Hugues du Plessis d'Argentre, said.

Russia and France are currently in talks on a so-called 2+2 scheme, whereby Russia will buy one or two French-built Mistrals and build another two at home. The contract is expected to be inked before the end of the year.

Legros said he did not rule out that Russia could build four Mistrals.

He added that the French-built Mistrals under the contract will be different from their domestic analogues.

They will have thicker take-off decks and firmer hulls so as to avoid breakage when navigating through ice.

The winner of a Russian tender to deliver the Mistrals will be announced after November 4, Legros added.

"We are ready to receive the contract from November 4... and complete construction in 36 months," he said.

The Mistral class ship is capable of transporting and deploying 16 helicopters, four landing barges, up to 70 armored vehicles including 13 battle tanks, and 450 personnel.

From : RIA


Kamis, 16 September 2010

Meksiko Membeli Enam Helikopter Caracal

0

helikopter EC 725 Cougar(Foto:DS)

MESIKO CITY, KOMPAS.com - Meksiko telah menandatangani perjanjian dengan Prancis untuk membeli enam helikopter militer dari Eurocopter, di tengah tekanan yang meningkat terhadap tentaranya dalam gelombang kekerasan terkait obat bius.

"Keenam helikopter EC 725 Cougar, juga dikenal sebagai Caracal, itu akan bergabung dengan enam helikopter sejenis lainnya yang telah dikirim oleh unit helikopter raksasa angkasa Eropa EADS (Pertahanan Aeronautika dan Angkasa Eropa)," kata seorang pejabat kedutaan besar Prancis.

Perjanjian itu telah diumumkan pertama kali oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy di Meksiko tahun lalu.

Helikopter-helikopter itu akan digunakan untuk mengangkut staf, tidak hanya untuk operasi antiobat bius, tambah seorang pejabat kementerian pertahanan Mesksiko pada AFP.

Pemerintah telah mengerahkan sekitar 50.000 tentara di negara itu sejak 2006 untuk menghadapi kartel obat bius yang sangat berpengaruh.

Meningkatnya kekerasan terkait obat bius telah menyebabkan sekitar 28.000 orang tewas sejak itu, menurut beberapa pejabat.

Prancis juga telah meminjami Meksiko dua helikopter EC 725 untuk mengambil bagian dalam parade militer di ibu kota Meksiko Kamis (16/9/2010), pada saat dimulainya perayaan duaratus tahun kemerdekaan Meksiko dari Spanyol.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 24 Agustus 2010

Kasau Terima Athan Prancis, Kasal Terima Athan Turky

0

JAKARTA (Pos Kota) – Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., menerima kunjungan Atase Pertahanan (Athan) Prancis, Colonel Jacques Rinaudo dan Letcol Alexis Brossollet, di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (24/8).

Kunjungan Colonel Jacques Rinaudo tersebut bertujuan untuk berpamitan sehubungan telah selesainya tugas sebagai Athan Prancis di Kedubes Prancis Jakarta dan memperkenalkan penggantinya Letcol Alexis Brossollet sebagai Athan baru .

Kasau pada kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terima kasih kepada Colonel Jacques Rinaudo atas kerjasamanya selama ini yang telah terjalin dengan baik dan kepada Letcol Alexis Brossollet, Kasau meyampaikan selamat datang di Jakarta dan semoga dapat segera menyesuaikan serta melanjutkan kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan baik dan berharap dapat lebih ditingkatkan di kemudian hari.

Dalam kesempatan tersebut itu Kasau didampingi Asisten Pengamanan Kasau (Aspam) Marsda TNI Gunpanadi, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Bambang Samoedro, S.Sos dan Paban IV Hublu Kolonel Pnb. Andjar Sungkowo.

Kasal Terima Athan Turki

JAKARTA (Pos Kota) – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Agus Suhartono S.E. menerima kunjungan kerja Atase Pertahanan (Athan) Turki untuk Indonesia, Colonel Erden Kargin.

Kunjungan itu dalam rangka silaturahmi dan sekaligus memperkenalkan diri selaku pejabat Athan baru di Mabes TNI Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta, Selasa (24/8).

Sumber: POSKOTA

Sumber: POSKOTA


Jumat, 06 Agustus 2010

Kemhan Serah Terimakan Digital Radio Trunking System EADS Tetra kepada Mabes TNI

0



Jakarta, DMC - Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan (Ditjen Ranahan) Kemhan yang diwakili oleh PLT Dirjen Ranahan Laksma TNI Susilo melakukan penyerahan secara simbolis Digital Radio Trunking System EADS Tetra dari Kemhan kepada Mabes TNI selaku pengguna, Rabu (4/8), di gedung Ditjen Ranahan Kemhan, Jakarta. Dalam acara serah terima dan penandatanganan settlement agreement tersebut, pihak Mabes TNI diwakili oleh Waas Komlek Panglima TNI Brigjen TNI Supriyadi dan pihak EADS Perancis (European Aeronautic Defence and Space Company) diwakili oleh Head of Representative Laurent Godin.

Dalam sambutannya PLT Dirjen Ranahan menyampaikan harapannya agar Digital Radio Trunking System dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesiapan operasional sistem pengamanan garnisun ibukota maupun untuk mendukung kegiatan dan tugas-tugas operasional Mabes TNI lainnya.

Selaku wakil dari Kemhan, PLT Dirjen Ranahan menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan dan rekomendasinya dalam pelaksanaan instalasi, pelatihan, commisioning, dan uji fungsi dari Digital Radio Trunking System EADS Tetra.

Dalam kesempatan yang sama Waas Komlek Panglima TNI saat membacakan amanat Askomlek Panglima TNI menyampaikan bahwa pelaksanaan pembangunan Digital Tetra EADS didukung oleh peralatan modern yang ditempatkan di lima lokasi, telah berfungsi dengan baik serta siap operasional untuk digunakan oleh TNI khususnya Kodam Jaya dan jajarannya dalam rangka untuk mendukung pengamanan ibukota Jakarta.

Satu hal yang patut menjadi perhatian adalah masih rendahnya kesiapan dan penguasaan prosedur operasional Tetra EADS oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mengawaki peralatan tersebut. Mengingat peralatan tersebut tergolong canggih dalam pengoperasionalannya, serta komplesitas keseluruhan fitur-fitur yang ada didalamnya, maka diharapkan agar rencana penataan ulang oleh pihak EADS terhadap operator Satkomlek TNI, Hubdam Jaya, Hubrem dan Kodim tentang penggunaan sistem komunikasi data dapat dilaksanakan secepat mungkin. Sehingga penggunaan peralatan trunking EADS dan Network Management System oleh Kodam Jaya beserta jajarannya dapat berjalan dengan optimal.

Sekilas Mengenai Teknologi Tetra

Aplikasi monitoring pergerakan pasukan sistem komunikasi digital tetra merupakan salah satu aplikasi pada Sistem Komunikasi Digital Tetra yang merupakan teknologi komunikasi digital termodern saat ini yang akan segera digunakan oleh TNI. Aplikasi Monitoring Pergerakan Pasukan menggunakan fitur GPS yang ada pada terminal Tetra baik Handled Radio maupun Mobile Radio.

Aplikasi ini sangat membantu komando di pusat kendali (Command Control) melakukan pengendalian pasukan di lapangan pada situasi kerusuhan atau gangguan keamanan lainnya. Setiap Radio Tetra yang digunakan oleh pasukan di lapangan memiliki identitas yang khas (ID) yang kemudian diterjemahkan pada digital map yang ada di komando dengan identitas warna tertentu sesuai fungsinya di lapangan, misalnya: warna hijau untuk pasukan pemukul, warna merah untuk agen penyusup dan warna ungu untuk penembak jitu (sniper).

Aplikasi ini memungkinkan Komandan lapangan untuk melokalisir daerah sasaran (agen penyusup), mengetahui posisi unit penindak dan mengetahui pergerakan pasukan (auto personal tracking)

Sumber: DMC


Minggu, 01 Agustus 2010

Air Sarko One, kemewahan baru Sarkozy

0

Pesawat Kerpresidenan Pracis Air Sarko One (Foto:static.blogstorage.hi-pi.com)

Paris - Presiden Prancis Nicolas Sarkozy sudah lama mengidamkan pesawat kepresidenan semacam yang dimiliki Presiden Amerika Serikat, Air Force One. Kini impian Sarkozy terwujud dan pers Prancis menyebutnya "Air Sarko One".

Pesawat seharga hampir 200 juta euro (lebih dari Rp2 triliun) tersebut adalah edisi spesial A330-200, lengkap dengan kamar tidur, sistem penyaring udara sehingga Sarkozy bisa menghisap cerutu selama penerbangan, serta kamar mandi dengan shower. Pesawat tengah diuji coba di Bordeaux hingga Oktober mendatang.

Selain kemewahan, pesawat menyediakan ruang pertemuan untuk 12 orang, 60 tempat duduk kelas bisnis, serta dilengkapi sistem persenjataan misil. Demikian diberitakan telegraph.co.uk, Sabtu (31/7).

Sebelumnya, Sarkozy beberapa kali mengeluh soal Airbus A319s yang ia gunakan sebagai pesawat kepresidenan. Ia membandingkan dengan Boeing 747-200B milik Barack Obama.

Pengadaan pesawat mewah di tengah krisis ini langsung memicu kritik publik. Selain Air Sarko One, publik juga menjuluki pesawat baru itu dengan Air Carla One, merujuk pada istri Sarkozy, Carla Bruni, supermodel yang dinikahi sang Presiden setelah menjabat.

Sumber: PRIMAIRONLINE


Kamis, 29 Juli 2010

Menhan Prancis Batal ke Jakarta

0

menteri pertahanan perancis

Jakarta, Menteri Pertahanan (Men han) Prancis Herve Morin yang sedang melakukan kun jungan dinas ke Vietnam, dipanggil pulang ke Prancis, kemarin, menyusul terbunuhnya warga Prancis Michel Germaneau (78) oleh anggota ke lompok Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM). Keputusan Paris oto­matis mem batalkan jadwal ke datangan Morin ke Jakarta tanggal 27 dan 28 Juli ini.

Presiden Prancis Nicolas Sar­kozy kemarin mengkonfir­masikan pem bu nuhan Ger ma­neau. “Kami ber tekad le bih da ri sebelumnya un tuk memera ngi terorisme apa pun bentuk nya. Dan men dukung negara-negara yang memiliki kebera ni an meme rangi te rorisme yang keji ini,” tegas Sarkozy.

Germaneau, sukarelawan Prancis yang diculik di Nigeria 19 April lalu, dibunuh sebagai ak si balas dendam atas te was nya enam anggota Al-Qaeda dalam serangan Prancis di Mauritania, belum lama ini. Paris mengatakan, klaim pembu nuhan tersebut ditampilkan di stasiun TV Al-Jazeera.

“Kami mengumumkan, te lah mengeksekusi sandera Prancis Michel Germaneau, Sabtu 24 Juli 2010, untuk mem balas pem bunuhan enam saudara kami dalam serangan pengecut Prancis,” kata pim­pinan AQIM Abu Musab Ab dul Wadud dalam tayangan audio tersebut.

“(Presiden Prancis) Nicolas Sarkozy gagal untuk membe baskan warganya dalam ope rasi ini. Justru dia membawa warganya ke gerbang neraka,” sindir Wadud.

Sumber: RAKYAT MERDEKA


Jumat, 02 Juli 2010

Prancis Potong Dana Militer

0

Pesawat Rafale Prancis

PARIS, TRIBUN - Salah satu upaya untuk menstabilkan perekonomiannya, yang memang tengah dilanda masalah, pemerintah Prancis melakukan berbagai langkah efisiensi. Di antaranya, mengurangi anggaran pertahanannya senilai 3,5 miliar euro atau setara 4,28 miliar dolar AS. Rencananya, langkah itu efektif pada 2011 dan berlangsung hingga 2013.

Kementerian Pertahanan Prancis berharap, secara keseluruhan, jumlah pengurangan berkurang menjadi 1,5 miliar euro. Angka itu merupakan hasil penjualan barak dan frekuensi telkom senilai 2 miliar euro.

Pemotongan itu membuat anggaran militer Prancis menjadi 30,1 miliar euro pada 2011.Lalu, pada 2012 senilai 30,5 miliar euro, dan tahun berikutnya sejumlah 31 miliar euro. Pengurangan itu akan dilakukan pemerintah Prancis tanpa memengaruhi kontrak-kontrak besar.

Selain itu, pemotongan itu pun tidak berpengaruh pada program-program yang melibatkan pesawat Rafale, kapal pergat multi-tujuan Fremm, kendaraan lapis baja VBCI, kapal selam Barracuda atau sistem tempur infantri Fellin, termasuk program A400.

Sumber: Tribun Jabar


Rabu, 30 Juni 2010

Russia to hold talks with France on purchasing artillery navigation system

0

Smerch (Photo: RIA)


The Russian Defense Ministry will hold talks during an international engineering forum near Moscow with France's Sagem Defense Securite on the possible purchase of a Sigma 30 inertial navigation system.

The Engineering Technologies International Forum 2010 will be held from June 30 through July 4 in the town of Zhukovsky, 40 kilometers southeast of Moscow.

Earlier this month, Russian Deputy Defense Minister Vladimir Popovkin invited the French-based Sagem company (SAFRAN group), a European leader in defense and consumer electronics, for talks in Moscow.

Popovkin said Russia is interested in purchasing the Sigma 30 artillery navigation and pointing system as part of efforts to modernize its Smerch and Grad multiple rocket launchers.

"We are ready to offer Russia the Sigma 30 system for the modernization of the Russian artillery and multiple rocket launchers," a Sagem spokesman told RIA Novosti.

He said Sagem delivers Sigma systems to a wide range of Russian military manufacturers, including Sukhoi.

"There is a demand for the latest navigation and pointing systems because the firing range of the modernized multiple rocket launchers like the Grad has risen from 40 to 50-60 kilometers and fire control systems therefore also need to be modernized," the spokesman said.

The Sigma 30 artillery navigation and pointing system is designed for high-precision firing at short notice.

From: RIA


Rabu, 02 Juni 2010

India, France to hold joint air combat exercise next month

0


NEW DELHI, June 1 (Xinhua) -- India and France will hold a joint air combat exercise next month, where six Indian Sukhoi- 30MKI fighters, two IL-76 heavy-lift aircraft and a IL-78 mid-air refueler will take part, local media reported Tuesday.

"The exercise will help to further enhance interoperability between the Indian and French air forces since pilots as well as the ground crew will get to see each other's operational, technical and administrative practices from close quarters," local daily The Times of India quoted an Indian Air Force official as saying.

The exercise, Garuda-IV, will be held at the Istres airbase in France from June 14 to 25. It comes at a time when India and France are all set now to ink the around 100 billion rupee (2 billion U.S. dollars) deal to upgrade the 56 Mirage-2000 fighter jets in IAF's combat fleet.

The first four to six Mirages will be upgraded in France, with the rest 50 being upgraded in India under transfer of technology.

India's defense ties with France are quite broad-based, including as they do the over 200 billion rupee (4 billion U.S. dollars) project to build six French Scorpene submarines currently underway at Mazagon Docks.

France has also offered its multi-role Rafale fighter for the ongoing competition in the 10.4 billion U.S. dollar project to supply 126 medium multi-role combat aircraft to IAF, the report said.

From: Xinhua


Rabu, 05 Mei 2010

Indonesia Berpartisipasi dalam Latihan Militer

0

Militer dari 14 negara termasuk Indonesia berencana untuk berpartisipasi dalam Rim of the Pacific Exercise atau Rimpac. Latihan militer tersebut akan dimulai musim panas ini, pada 23 Juni sampai 1 Agustus.

Rimpac adalah latihan maritim internasional terbesar di dunia yang bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas antara angkatan bersenjata Pacific Rim, sebagai sarana untuk meningkatkan stabilitas di kawasan itu demi kepentingan semua negara yang berpartisipasi.

Pasukan Angkatan Laut AS akan menjadi tuan rumah dalam latihan yang akan melibatkan 20 ribu personel, 34 kapal, lima kapal selam, dan lebih dari 100 pesawat terbang.

Selain AS dan Indonesia, latihan militer itu diikuti juga oleh Australia, Kanada, Cile, Kolombia, Prancis, Jepang, Malaysia, Belanda, Peru, Korsel, Singapura, dan Thailand.

Para pejabat militer AS mengatakan Rimpac menunjukkan komitmen negara-negara di dunia untuk bekerja sama menjaga jalur laut, melindungi kepentingan negara di luar negeri, dan menjamin kebebasan navigasi yang merupakan dasar dari perdamaian dan kemakmuran global.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Prancis Bikin Kapal Antiperompak

0


LORIENT--MI: Galangan kapal Angkatan Laut Prancis DCNS mengatakan akan membuat kapal patroli yang dirancang untuk operasi anti-perompakan.

Kapal sepanjang 90 meter (295 kaki) itu direncanakan memiliki kecepatan tertingginya 21 knot (39Km per jam) guna memungkinkan kemampuan manuver cepat untuk naik kapal oleh tentara khusus atau penjaga pantai.

Kapal itu, yang akan diawaki oleh 30 orang, akan memiliki jangkauan 8.000 mil laut. Kapal itu akan memiliki sebuah landasan helikopter dan dapat menangani pesawat mata-mata, dan biayanya sekitar 30 juta euro (US$39 juta.

DCNS mengumumkan pembuatan kapal anti-perompakan itu dalam kunjungan Presiden Nicolas Sarkozy, , Selasa waktu setempat, untuk meluncurkan pembuatan sebuah kapal banyak peran angkatan laut Eropa.

Kapal patroli anti-perompakan itu merupakan bagian dari rencana galangan kapal tersebut, yang telah memusatkan perhatiannya pada kapal-kapal besar, untuk memperluas pasarnya.

Galangan itu mengharapkan akan membuat kapal pertamanya tersebut dalam 18 bulan. "Angkatan laut akan menguji-cobanya dan memperlihatkannya kepada langganan potensial," kata CEO galangan kapal itu, Patrick Boissier.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 14 April 2010

Sarkozy Confident Brazil Will Buy Rafales

0


WASHINGTON - French President Nicolas Sarkozy expressed confidence April 13 that Brazil would choose French-made Rafale fighter jets for its air force in a hotly contested bidding process.

"I am confident. Things are progressing," Sarkozy said when asked about the contract after meeting Brazilian President Luiz Inacio Lula da Silva on the sidelines of a nuclear security summit in Washington.

Brasilia has stated its preference to purchase 36 French-made, semi-stealth Rafale jets, but a firm deal has not been announced.

Lula is expected to announce his choice in mid-May, having pushed back a decision from April.

"If it's a decision taken by the president and the government, it's inevitably a political decision," Sarkozy said.

But, he said, "it's not just a political criterion. The Rafale is an excellent plane. ... President Lula and I really have a great bond. I know what he's thinking. There are no surprises on this issue."

The Rafale, made by Dassault, is seen as the front-runner in a tender also contested by Sweden's Gripen NG by Saab and by the F/A-18 Super Hornet by Boeing.

The deal is estimated to be worth between $4 billion and $7 billion, depending on details of armaments, maintenance and peripheral industrial involvement. Brazil could also end up buying up to another 100 fighter jets from the supplier over the long term.

Brazil has made technology transfer the main priority in the tender, so it can produce fighter aircraft itself and boost its aviation industry. Lula previously said the Rafale deal would be more advantageous in that respect for Brazil.

From: DN




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin