Tampilkan postingan dengan label BELANDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BELANDA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2010

Damen Shipyards Gorinchem Jajaki Investasi di Sabang

0

Galangan Kapal Damen Shipyards Gorinchem.

Sabang (ANTARA News) - Perusahaan perkapalan Belanda, Damen Shipyards Gorinchem, menjajaki investasi bidang industri galangan kapal di kawasan Pulau Weh, Sabang, Provinsi Aceh.

Manajer Pemasaran Damen Shipyards Gorinchem untuk Asia Pasifik, Maarten Jongen, di Sabang, Rabu, mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan studi kalayakan apakah Pulau Weh ideal untuk membangun galangan kapal.

"Kami memang butuh waktu untuk meneliti apakah kawasan Sabang ini cocok untuk didirikan sebuah galangan kapal. Kami belum bisa memutuskan sebelum adanya studi kelayakan ini," katanya.

Dalam kunjungan ke Sabang, perwakilan manajemen Damen Shipyards Gorinchem, didampingi Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Ketua Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Ruslan Abdul Ghani, dan Wali Kota Sabang, Munawar Liza Zein.

Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan pihak Pemerintah RI. Salah satunya yakni PT PAL di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, dengan membuat empat kapal perang TNI AL.

Ketua Dewan Pengawas dan Asistensi Kawasan Sabang, Adnan Ganto, menjelaskan bahwa pihaknya sangat berkeinginan adanya sebuah galangan kapal di Sabang, namun bukan untuk membuat kapal perang tapi komersial.

Sabang, katanya, memiliki potensi cukup baik bagi investasi bidang maritim, termasuk industri galangan kapal komersial karena letak Pulau Weh yang strategis berada di jalur lintas perairan internasional.

Adnan Ganto, yang juga penasehat Kementerian Pertahanan RI di Bidang Ekonomi, menjelaskan bahwa dipilihnya Damen Shipyards Gorinchem untuk membangun industri perkapalan komersial di Sabang itu karena perusahaan Belanda tersebut sudah berpengalaman.

Menurut dia, perusahaan perkapalan asal Belanda itu telah menyelesaikan pembuatan empat kapal perang TNI AL, yakni KRI Diponegoro, KRI Hasanudin, KRI Sultan Iskandar Muda dan KRI Kaisabu.

"Saya pikir pemerintah sangat puas terhadap hasil kerja perusahaan Damen dalam membuat kapal perang itu," katanya.

Kemudian, Adnan menjelaskan, dalam pertemuan lanjutan antara president Damen dengan Menteri BUMN beberapa waktu lalu di Jakarta, manajemen Damen berkeinginan melebarkan sayap perusahaannya ke kawasan Asia.

"Dari hasil pembicaraan dengan Menteri BUMN, maka saya mencoba menggaet Damen untuk melihat potensi di Sabang yang memungkinkan perusahaan tersebut membuka sayapnya di Pulau Weh ini," kata dia.

Adnan Ganto menjelaskan bahwa hasil pertemuannya dengan pimpinan perusahaan Damen di Belanda membuat manajemen perusahaan tersebut memutuskan untuk meninjau Sabang.

"Kunjungan Maarten Jongen hari ini ke Sabang merupakan awal dan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya. Mudah-mudahan akan berlanjut untuk kehadiran industri perkapalan di Sabang ini," katanya menambahkan.

Sumber: ANTARA


Selasa, 14 Desember 2010

TNI Minta Belanda Dukung Kapal "Light Fregat"

0


Jakarta (ANTARA News) - TNI meminta Pemerintah Belanda untuk konsisten mendukung pembangunan kapal "light fregat" yang merupakan jenis perusak kawal rudal (PKR) yang dibuat oleh PT PAL bersama supervisi dari perusahaan galangan kapal "Schelde" Belanda.

"Ya kami meminta dukungan Belanda untuk lebih konsisten dalam supervisi pembangunan kapal tersebut, karena ada beberapa hal yang tidak bisa dikerjakan PT PAL," kata juru bicara TNI Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul di Jakarta, Selasa.

Dikonfirmasi usai menghadiri pertemuan tertutup Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dengan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd F. De Zwaan, ia mengatakan, konsistensi Belanda untuk pembangunan kapal tempur modern itu tetap diperlukan tanpa mengabaikan upaya pemberdayaan daya mampu dari PT PAL sebagai salah satu industri strategis nasional.

"Ini semua dilakukan juga dalam rangka revitalisasi industri pertahanan nasional, khususnya PT PAL untuk dapat memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan TNI termasuk kapal perang `light fregat`," ujar Iskandar.

TNI Angkatan Laut sedang membenahi kekuatan tempurnya dalam kerangka kekuatan pokok minimum, dengan memodernisasi persenjataan tempurnya. Saat ini terdapat 154 KRI berbagai jenis dan ditargatkan menjadi 274 KRI.

Terkait itu, Kementerian Pertahanan telah meluncurkan program pembangunan kapal "light fregat" PKR bekerja sama dengan Belanda. Kementerian Pertahanan mentargetkan pembuatan 10 unit kapal.

Pembangunan satu kapal perang itu diperkirakan menghabiskan dana sebesar 220 juta dolar AS dengan lama pembangunan selama empat tahun.

Selain pembangunan kapal `light fregat`, dalam pertemuan itu dibahas berbagai hal menyangkut hubungan bilateral kedua negara, yang telah berjalan baik termasuk hubungan militer kedua pihak.

Sumber: ANTARA


Minggu, 05 Desember 2010

Menhan: Indonesia Akan Beli 24 Unit Bell 412EP Dan 16 Unit Pesawat Latih

0

T-50 Buatan KAI Korea Selatan merupakan Pesawat Latih Dan Pesawat Tempur Ringan.

JAKARTA, Niat Indonesia untuk melakukan pemesanan terhadap pesawat tempur latih dan tertarik dalam memperluas armada pesawat tempur, helikopter dan pesawat angkutnya. Menteri pertahanan
Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, tiga kandidat pesawat tempur latih Korea Selatan, Rusia dan Republik Ceko, yaitu T-50, Yakovlev Yak-130 dan Vodochody Aero L-159. Purnomo mengatakan kepada AVIATION WEEK bahwa keputusan dibuat dengan cepat dan Indonesia menyediakan 16 pesawat, cukup untuk satu skuadron. "Hal ini sudah dalam tahap akhir," katanya, tanpa mencatat jangka waktu tertentu.

"Kami mencari pesawat yang dapat digunakan untuk pelatihan dan sebagai pesawat tempur serang ringan," katanya. " Fighter yang baik untuk mencegat pesawat ringan yang melintasi wilayah NKRI tanpa pemberitahuan sebelumnya." Indonesia membutuhkan pesawat tempur latih karena sebagian pesawat BAE hawks sudah digrounded, Purnomo mengatakan, Indonesia sangat mengalami kesulitan untuk mendapatkan suku cadang dan peralatan untuk Hawks. "Untuk meningkatkan hubungan, saya(purnomo) menegaskan bahwa Presiden BAE, berjanji akan melakukan pengadaan suku cadang dan peralatan untuk hawks." katanya, bila tidak ada perbaikan suku cadang dan peralatan maka Indonesia akan menggrounded hawks secara bertahap.

Korea Selatan mungkin akan memimpin dalam kompetisi untuk pengadaan pesawat tempur latih untuk TNI AU karena kedekatan hubungan strategis dengan Indonesia. "TNI AU sebagai pengguna pesawat tempur sedang melakukan pengkajian dan membuat evaluasi teknis untuk pesawat tempur latih tersebut" kata Purnomo.tetapi apabila AU telah membuat pemilihan pesawat yang terbaik.maka proposal akan diajukan ke markas besar TNI untuk disetujui,dan kemudian diserahkan kepada departemen pertahanan"katanya. Menhan "mengerti apa yang dibutuhkan oleh pemerintah," tambahnya".

Indonesia dan Korea Selatan menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juli untuk mengembangkan sebuah pesawat tempur baru, KF-X, dimana PT DI ikut dilibatkan untuk memproduksi pesawat tempur tersebut. Purnomo mengatakan Indonesia ingin mulai memasukkan pesawat tempur KF-X dalam armada TNI AU pada tahun 2025 untuk mengantikan pesawat tempur F-16.

Tetapi dalam jangka pendek, Indonesia bisa mengambil keuntungan dari Lockheed Martin. "Kita mempunyai anggaran untuk membeli F-16 tipe terbaru atau menerima hibah f-16", kata Purnomo. "dengan menggunakan F-16 kita dapat mengupgrade sendiri (dengan bantuan luar negeri),yang membuat kami menjadi tertarik." Tetapi jika Indonesia menerima hibah F-16, maka harus memperhitungkan lifetime pesawat tempur tersebut. Indonesia telah memiliki F-16 A / B Blok 15 dan Purnomo menegaskan bahwa Indonesia ingin upgrade F-16.

Sekarang Amerika Serikat mencabut embargo atas Indonesia, tetapi ada beberapa masalah teknis yang akan terus kita kaji. Purnomo mengatakan Indonesia dapat mengupgrade F-16 dari perusahan non-AS karena "Ada Turki. Mereka memiliki armada terbesar F-16 setelah Amerika Serikat, "katanya.

Bell Helicopter dan Eurocopter baru-baru ini menerima tawaran melalui kerjasama dengan produsen pesawat PT DI, Karena PT DI bisa membantu dalam memproduksi helikopter. Purnomo mengatakan TNI baru-baru ini menandatangani kontrak dengan PT DI untuk pengadaaan 24 helikopter Bell 412EP. Ia juga mengatakan TNI AU juga membeli helikopter AS332 Super Puma, yang dibuat oleh PT DI.

Indonesia dalam waktu dekat juga membutuhkan helikopter untuk ditempatkan di korvet AL,heli ini jg dapat digunakan untuk peperangan anti kapal selam. 4 kapal korvet sigma buatan belanda yang telah dibeli baru baru ini,dan juga kapal korvet kelima yang dalam pengerjaan di PAL Surabaya.

Untuk kedepannya maka akan diadakan pembelian pesawat tempur Sukhoi. Indonesia telah mempunyai 10 pesawat tempur Sukhoi dan purnomo mengatakan pemerintah berencana membeli 6 lagi sehingga jumlahnya akan menjadi satu skadron.

Dalam hal transpor militer,upgrade model C130 yang sudah menua masuk dalam daftar belanja. Pemerintah juga berencana untuk membeli CN 235 dari PTDI serta mencari dan menggantikan psawat F 27 yang sudah tua dengan EADS CASA CN 295 dalam tender.

Sumber: AVIATION WEEK/MIK


Selasa, 30 November 2010

Geger, Amerika Punya Nuklir di Belanda!

0


RAHASIA - Kalimat dalam dokumen diplomatik yang dirilis WikiLeaks dan menunjukkan Amerika Serikat memiliki senjata nuklir di Eropa, tepatnya di Jerman, Belanda dan Belgia.

KOMPAS.com - Situs WikiLeaks bikin geger lagi dengan rilis terbarunya yang masih terkait pembongkaran dokumen rahasia diplomatik secara bertahap.

Kali ini, Senin (29/11/2010), organisasi yang didirikan Julian Assange itu merilis informasi sensitif soal proyek senjata nuklir Amerika Serikat di Eropa.

Itu terungkap lewat memo dari Duta Besar AS untuk Jerman yang diunggah WikiLeaks pada laman ini.

Dalam sebuah diskusi tentang penarikan senjata AS dari Eropa, memo tersebut menyatakan: "Penarikan senjata nuklir dari Jerman dan mungkin dari Belgia dan Belanda bisa sangat mempersulit secara politik bagi Turki untuk mempertahankan cadangannya sendiri."

Memo itu ditulis oleh Duta Besar AS, Philip Murphy pada November 2009. Kerajaan tidak pernah menyatakan bahwa nuklir tersebut berada di negeri Belanda.

Anggota Parlemen dari Partai Sosialis Belanda, Harry van Bommel, mendesak kepada pemerintah agar tidak lagi diam, dan mengakui keberadaan nuklir tersebut.

Menurut koran Volkskrant, WikiLeaks memiliki 3.021 memo yang dikirim oleh Duta Besar AS di Den Haag, namun belum dipublikasikan.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Belanda tahun 2003-2007, Ben Bot, sudah merasa bahwa dokumen yang dibocorkan WikiLeaks itu akan menjadi pukulan telak bagi diplomasi Amerika.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 25 November 2010

Pengeran Benhard Terlibat Perdagangan Senjata pada 1950-an Di Indonesia

0

Pangeran Benhard

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM--Pangeran Benhard dari Belanda terlibat perdagangan senjata di Indonesia sekitar tahun 1950. Demikian pakar sejarah Gerard Aalders dari Institut Dokumentasi Perang Belanda (NIOD) dalam bukunya berjudul Bernhard Zakenprins.

Aalders tidak menemukan bukti bahwa Pangeran Benhard terlibat secara langsung sebagai pedagang yang aktif menjual dan membeli senjata. Namun peneliti ini menyatakan ada bukti bahwa Pangeran Benhard terlibat dalam perdagangan senjata di Indonesia, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan baru di Indonesia.

"Beberapa pedagang senjata mengenal Pangeran Benhard secara pribadi dan konon pegadang senjata asal Afganistan Ali Shah mengadakan pertemuan dengan pangeran Benhard di Soestdijk untuk membicarakan urusan tersebut," tulis Alders dalam buku itu.

Aalders berkata 98 persen bukti mendukung kesimpulan tersebut. Banyak laporan penting yang menurutnya masih menjadi rahasia.

Sumber: REPUBLIKA


Senin, 11 Oktober 2010

DPR Dorong Perjanjian Bilateral RI-Belanda

0

Pacitan (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI, Ramadhan Pohan, mendesak agar Kementerian Luar Negeri secepatnya menjajaki kemungkinan membangun perjanjian bilateral di bidang pertahanan dan keamanan (Hankam) dengan pemerintah Belanda.

"Kemenlu RI harus segera merancang klausul kerjasama bilateral itu seperti halnya telah dilakukan dengan pemerintah Australia melalui `Lombok Treaty`," katanya saat berkunjung di Pacitan, Jawa Timur, Minggu.

Kerjasama bilateral semacam itu menurut Pohan dinilai sangat penting untuk meminimalisir ancaman keamanan negara di negara lain.

Contoh konkretnya adalah kasus digelarnya sidang tuntutan organisasi Rakyat Maluku Selatan (RMS) yang meminta Pengadilan Den Haag menangkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Belanda, 5 Oktober lalu.

"Perjanjian bilateral di bidang hankam semacam ini memungkinkan pemerintah RI untuk menekan ruang gerak kelompok separatis di luar negeri," ujarnya.

Perjanjian Lombok ("Lombok Treaty") itu sendiri meliputi 21 area kerjasama untuk 10 bidang.

Di antaranya adalah kerjasama di bidang pertahanan, keamanan laut, keselamatan dan keamanan penerbangan, terorisme, penegakan hukum, dan intelijen.

Dengan kesepakatan seperti itu, diharapkan negara-negara sahabat tidak lagi menjadi basis gerakan separatisme.

Sebab, diakui atau tidak hal itu menjadi ganjalan dalam konteks hubungan antarnegara.

Sebagaimana diketahui, lanjut Pohan, negara Australia dahulu pernah digunakan sebagai pusat gerakan separatis Timor Leste sebelum akhirnya meraih kemerdekaan saat masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Tidak adanya perjanjian kerjasama bilateral antara RI-Australia saat itu membuat sejumlah kelompok gerakan separatis tumbuh subur.

"Aktivitas kelompok separatis di Australia selanjutnya bisa dicegah setelah pemerintah RI membangun kerjasama bilateral melalui `Lombok Treaty` tersebut," kata Pohan menjelaskan.

Dalam perjanjian itu, khususnya pada pasal 2 ayat 3 disebutkan bahwa masing-masing pihak tidak akan mendukung dalam bentuk apapun dalam kegiatan-kegiatan yang bisa menjadi ancaman stabilitas, kedaulatan, maupun intergitas teritorial negara lain.

"Termasuk menggunakan wilayahnya untuk mendorong atau melakukan kegiatan-kegiatan separatisme di wilayah pihak lain," katanya.

Kerjasama bilateral seperti telah dilakukan dengan pemerintah Australia semacam inilah yang diharapkan Pohan bisa diterapkan dengan pemerintah Kerajaan Belanda.

"Antisipasi harus secepatnya dilakukan karena sepertinya saat ini gerakan RMS masih berkembang di sana," kata Pohan.

Sumber: ANTARA


Jumat, 08 Oktober 2010

Kemerdekaan RI Tak Butuh Pengakuan Resmi Belanda!

2

INILAH.COM, Jakarta - Presiden SBY diminta untuk tidak mementingkan pengakuan tertulis Belanda atas kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Anggota Komisi I DPR Teguh Juwarno mengatakan, pengakuan resmi Belanda terhadap kemerdekaan dan proklamasi 17 Agustusn 1945 tidaklah penting.

"Inggris tidak pernah memberikan dokumen resmi kemerdekaan Amerika pada 1776 kok, Pakistan merdeka juga tanpa pengakuan India. Jadi tidak masalah kok," ujar Teguh kepada INILAH.COM, Jumat (8/10/2010).

Menurut Sekretaris FPAN di DPR ini, jika kunjungan Presiden SBY ke Belanda menyebabkan pembatalan pengakuan tertulis kemerdekaan Indonesia maka hal itu tak perlu disesali.

"Tanpa pengakuan tertulis Belanda toh Indonesia sudah merdeka, PBB mengakui, semua negara mengakui. Hari gini masih perlu pamitan sama Belanda?" ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Presiden SBY mendadak membatalkan kunjungan kenegaraan ke Belanda karena mendapat kabar pengadilan setempat menggelar pengadilan pelanggaran HAM di Maluku dan Papua. Salah satu agenda pertemuan atas undangan Ratu Belanda itu adalah penyerahan pengakuan tertulis kemerdekaan Indonesia.

"Ini menyangkut harga diri dan kehormatan bangsa," ujar Presiden dalam jumpa pers di ruang VIP landasan udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Selasa (5/10).

Sumber: INILAH


Rabu, 15 September 2010

Densus 88 Polri Didanai AS, Aussie & Belanda

0

INILAH.COM, Jakarta - Mabes Polri mengakui adanya dukungan dana asing terhadap operasional Datasemen Khusus (Densus) 88 Polri.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Iskandar Hasan mengatakan, dana operasional Polri temasuk Densus 88 berasal dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (Dipa) APBN.

"Dana operasional kita semua dari DIPA APBN," ujar Iskandar di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (15/9).

Iskandar mengakui adanya bantuan negara asing yang diberikan kepada Polri khususnya Densus 88, namun bantuan itu tidak berupa dana tunai untuk operasional Densus.

"Yang didapat itu dalam bentuk paket proyek, baik itu pelatihan maupun pembangunan seperti di Semarang, JCLEC (Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation) membangun komplek itu. Dana itu tidak berupa dukungan dana operasional dana tunai," paparnya.

Negara yang memberi bantuan terhadap Densus 88 Polri, ditambahkannya tidak hanya Australia saja, melainkan ada sejumlah negara lain seperti Belanda dan Amerika Serikat.

Sebelumnya disebut-sebut Pemerintah Australia ingin memeriksa kinerja Densus 88 Polri, karena Pemerintah Australia menyumbang dana jutaan dolar Australia kepada Densus 88 untuk memerangi terorisme.

Sumber: INILAH


Minggu, 29 Agustus 2010

Dunia Jatuh Hati pada Dewaruci

0

KRI Dewa Ruci Saat Sail Amsterdam

Kedatangan ataupun kepergian Kapal Perang Republik Indonesia Dewaruci ke suatu daerah selalu ditandai dengan parade yang memukau penonton. Penampilan drumband kadet yang atraktif juga menyedot perhatian warga.

Namun, sejatinya bukan itu alasan yang membuat mereka terpikat. Justru keramahtamahan dan kehangatan awak kapal yang mampu membuat orang dari berbagai belahan penjuru dunia jatuh hati kepada Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci.

Perempuan bule muda yang selalu mengikuti ke mana pun rombongan awak Dewaruci dalam Sail Amsterdam 2010 memancing rasa penasaran saya untuk mendekatinya. Apalagi di setiap penampilan drumband kadet, dia selalu melambaikan bendera Merah Putih kecil dan berteriak menyemangati.

”Saya datang kemari memang khusus untuk Dewaruci. Bagi saya, Dewaruci adalah Indonesia dan Indonesia adalah segalanya,” kata perempuan tadi, yang belakangan diketahui bernama Pamela Wasro (26), warga Le Havre, Perancis, Senin (23/8).

Pamela menempuh perjalanan 12 jam naik kereta api, bus, dan feri, untuk bertemu awak Dewaruci. Lebih dari itu, ia yang sehari-hari menjadi perawat di salah satu rumah sakit di Le Havre bahkan mengajukan izin tidak masuk kerja empat hari agar bisa datang ke Amsterdam untuk bertemu awak Dewaruci. Selama empat hari di Amsterdam itu pula, Pamela tinggal dan makan bersama awak Dewaruci.

Perjumpaan Pamela dengan Dewaruci pertama kali terjadi pada tahun 2003, saat Dewaruci singgah di Le Havre. Saat itu ia dan adiknya, Carole Poupel (24), bertandang ke kapal, layaknya pengunjung lain.

Jatuh hati kepada kadet

Beragam kesenian dan masakan tradisional yang disajikan pada kesempatan itu makin memikat hati keduanya. Lebih dari itu, Carole bahkan kepincut dengan salah satu kadet. Saat Dewaruci meninggalkan Le Havre menuju Rouen, masih di Perancis, mereka berdua juga menyambangi kota itu.

Ketika KRI Dewaruci hendak meninggalkan Rouen, Carole menangis tiada henti. Bahkan ia nekat hendak menghalang-halangi kapal yang hendak berangkat. Setelah diberi pengertian, barulah ia mau melepas kepergian Dewaruci.

Waktu bergulir dan pada tahun 2005 Dewaruci kembali menyambangi Perancis. Di tiga kota yang disinggahi Dewaruci, yakni Cherbourg, Brest, dan Lisboa, Pamela juga setia mendatanginya. Kecintaannya kepada Dewaruci makin besar sehingga ia terobsesi untuk mendapatkan jodoh orang Indonesia.

Obsesinya tercapai saat ia diundang di suatu acara di Kedutaan Besar RI di Perancis pada 2007. Saat itu ia bertemu dengan Wasro, pemuda asal Cirebon, yang ingin belajar bahasa Perancis. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Keduanya berjodoh dan akhirnya menikah.

Tahun ini hampir di tiap kota di Eropa yang disinggahi KRI Dewaruci selalu ia datangi. Mulai dari Le Havre (Perancis), Antwerp (Belgia), Hartlepool (Inggris), Cherboug (Perancis), hingga Amsterdam (Belanda). Setiap kali datang ke Dewaruci, ia ikut bernyanyi, menari, makan, dan bahkan berjaga di geladak bersama awak kapal.

Masih di Amsterdam, saya bertemu dengan gadis setempat bernama Floor Krbijn (20). Meski selama KRI Dewaruci di sana ia tidak tinggal di kapal, hampir setiap hari ia datang ke kapal dan baru pulang pada larut malam. Seluruh kegiatan awak Dewaruci diikutinya, termasuk saat jamuan makan malam di rumah Duta Besar RI untuk Belanda JE Habibie.

”Dewaruci seperti keluarga baru bagi saya. Saya terkesan dengan keramahannya, makanannya, dan semuanya. Mereka semua menyenangkan dan juga menyayangi saya seperti adik sendiri,” kata Floor.

Pada malam pesta di atas geladak KRI Dewaruci, Floor juga larut dalam kegembiraan seluruh awak kapal. Sayangnya, saat pesta berlalu dan Floor harus pulang karena keesokan harinya harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia merasakan kepedihan yang mendalam. Ia pun tak kuasa menahan tangis saat berpamitan satu per satu dan memeluk awak kapal yang selama ini dekat dengannya.

Berjalan tanpa tongkat

Bukan hanya gadis-gadis muda yang terpikat dengan Dewaruci. Seorang nenek bernama Catherine (70) dari Perancis juga terpikat dengan Dewaruci. Saya mendapatkan cerita ini dari Kapten Laut (Pelaut) Andre Dotulung, Kepala Departemen Bahari KRI Dewaruci, yang sempat sekabin dengan saya.

Menurut Andre, Mama Catherine datang ke KRI Dewaruci pada 2003 saat singgah di LeHavre. Saat itu ia datang menggunakan tongkat karena kakinya yang sebelah lumpuh. Tidak lama berselang setelah pulang dari KRI Dewaruci, Mama Catherine merasakan kakinya sembuh total dan ia bisa berjalan tanpa tongkat. Dokter yang memeriksanya keheranan, tetapi Mama Catherine hanya memberi tahu bahwa ia baru saja mendapat mukjizat setelah mengunjungi Dewaruci.

”Boleh percaya boleh tidak, tapi itulah kesaksian yang pernah diceritakan Mama Catherine,” tutur Andre.

Buatan Jerman

Jika Anda berpikir wajar saja yang terpikat dengan Dewaruci adalah kaum hawa karena di sana banyak kadet atau prajurit yang selalu terlihat sopan dan gagah dengan seragamnya, Anda keliru. Klaus Neumann (56) tahun adalah salah satu buktinya.

Klaus, yang berkebangsaan Jerman, adalah seorang konsultan teknik maritim dan jurnalis lepas. Ia tinggal di Hamburg, kota tempat KRI Dewaruci dibuat pada 1952 di galangan kapal HC Stulchen & John Ship.

Perjumpaan Klaus dengan Dewaruci pertama kali terjadi pada tahun 2003, saat kapal singgah di Hamburg. Ia tertarik karena Dewaruci memiliki ikatan historis dengan Hamburg. Perusahaan yang membuat Dewaruci sudah tutup dan bisa jadi kapal itu menjadi satu-satunya yang masih bertahan.

Hampir di setiap perjumpaan dengan KRI Dewaruci, Klaus mengabadikan lebih dari 1.000 foto. Tahun 2005, Klaus berkesempatan mengikuti pelayaran Dewaruci dari Bremerhaven (Jerman) ke Amsterdam. Banyak kisah yang dituliskannya selama di perjalanan itu dan dituangkannya dalam blog www.dewaruci.net. Ia juga berkontribusi dalam membuat buku bagi Kedutaan Besar RI di Jerman.

Sebagai konsultan teknik maritim, Klaus paham betul seluk-beluk mesin Dewaruci. Bahkan ketika bertemu Dewaruci lagi pada lima tahun kemudian, ia masih mengenali bagian mana saja yang mengalami perubahan. Ia juga melakukan riset menelusuri jejak Albert Frederick Hermann Rosenow, orang Jerman yang menjadi komandan pertama Dewaruci. Dari penelusurannya itu, Rosenow merupakan orang yang dimintai tolong Presiden Soekarno untuk membangun Angkatan Laut Indonesia dan mencari kapal latih bagi Akademi Angkatan Laut Indonesia. Klaus sempat bertemu dengan putri Rosenow yang menceritakan kisah tersebut.

”Jika tahun 2005 saya ikut berlayar dari Bremerhaven ke Amsterdam, tahun 2010 ini saya berkesempatan ikut berlayar dari Amsterdam ke Bremerhaven,” katanya. Klaus memang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi ia tengah mengejar obsesinya membuat buku tentang Dewaruci.

Saking cintanya dengan Dewaruci, Klaus juga berharap kapal latih ini tidak dipensiunkan, apalagi jika sampai dijual ke swasta. Menurut dia, Dewaruci sebenarnya masih bisa berlayar hingga seabad mendatang.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 22 Agustus 2010

Selamat Datang di Amsterdam

0

KRI Dewa Ruci mnegikuti Sail Amsterdam

Langit biru yang menaungi Kota Amsterdam, Belanda, menjadi saksi kemeriahan puluhan ribu warga dari berbagai penjuru dunia yang memadati tepian Kanal Het Ij di kota itu. Mereka larut dalam gempita penyambutan konvoi 39 kapal peserta Sail Amsterdam 2010.

Sorak-sorai dan decak kagum melengkapi lambaian tangan warga kala Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci melintas dalam formasi parade roll. Dalam formasi kebanggaan KRI Dewaruci itu, puluhan kadet Akademi Angkatan Laut berdiri dan menari di atas tiang layar di ketinggian hingga 35 meter.

Sambutan meriah itu cukup beralasan. Hanya KRI Dewaruci yang bernyali melakukan tradisi parade roll di ajang ini. Mungkin hanya Indonesia dan Meksiko yang masih memiliki tradisi itu.

Meski bukan menjadi kapal terbesar yang ikut dalam ajang ini, penampilan KRI Dewaruci sangat mencolok dengan berkibarnya bendera Merah Putih berukuran 9 meter x 12 meter di buritan kapal. Biasanya KRI Dewaruci mengibarkan bendera Merah Putih ukuran 6 meter x 9 meter.

Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Den Haag Kolonel Laut (Pelaut) Wisnu Sumarto, sejumlah anggota staf Kedubes RI di Den Haag dan Paris, serta masyarakat Indonesia di Belanda turut menyambut KRI Dewaruci yang dikomandani Letnan Kolonel Laut (P) Suharto.

KRI Dewaruci yang memiliki panjang 58,3 meter dan lebar 9,5 meter itu tidak asing bagi masyarakat Eropa, khususnya di Belanda. Hampir setiap ajang lomba kapal layar internasional yang digelar di sana, KRI Dewaruci dinanti dengan antusias.

Buktinya, saat membuka diri untuk kunjungan ke dalam kapal, hampir seribuan warga silih berganti datang untuk melihat KRI Dewaruci dari dekat. Bahkan, mereka rela mengantre untuk naik ke geladak kapal. Di dalam kapal, pengunjung disambut keramahtamahan para awak kapal.

Hampir semua pengunjung mengabadikan bagian kapal yang unik-unik. Mulai dari bagian dasar tiga tiang layar utama yang berbentuk ukiran Dayak, Jawa, serta Papua; patung Dewaruci di bagian ujung depan kapal; hingga ukiran di anjungan kapal tidak luput dari bidikan.

Di geladak kapal, pengunjung juga diajak bernyanyi dan berjoget ”poco-poco”. Informasi budaya dan wisata di Indonesia tersedia dalam brosur, bisa mereka dapatkan secara cuma-cuma. Pengunjung juga bisa membeli cendera mata dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari wayang kulit, mainan tradisional, batik, kain tenun, patung, hingga replika kapal pinisi.

Fotografer Belanda, Mae Olan, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil gambar KRI Dewaruci dari berbagai penjuru. Bagi dia, kapal ini unik dan eksotis dibandingkan kapal yang lain.

Masyarakat Indonesia di Belanda juga antusias melihat KRI Dewaruci. Selain sebagai pengobat rasa rindu terhadap Tanah Air, mereka juga bangga dengan KRI Dewaruci.

”Saya bangga Indonesia punya KRI Dewaruci. Lihat saja, orang berdecak kagum melihat keberanian awak kapal berdiri dan menari di atas tiang,” kata Nani Saragih, warga Medan yang bersuamikan warga Belanda.

Lomba ketiga

Sail Amsterdam kali ini merupakan lomba kapal layar internasional ke-3 yang diikuti KRI Dewaruci sepanjang 2010. Negara lain yang ikut dalam ajang ini, antara lain, Rusia, Inggris, Finlandia, Jerman, dan tentu saja tuan rumah Belanda.

Untuk urusan penyelenggaraan ajang lomba kapal layar internasional, Belanda bisa dibilang jagonya. Mereka bisa menyedot perhatian ribuan penonton dari sejumlah negara untuk memadati tepian kanal di sepanjang lebih kurang 10 mil.

Kemeriahan makin terasa kala hari mulai gelap. Lampu-lampu kapal membentuk siluet badan dan tiang kapal terlihat artistik. Pesta kembang api yang ditingkahi lengkingan peluit kapal dan dentuman meriam membuat suasana kian semarak.

Warga tidak hanya menikmati kemeriahan dari tepi kanal, tetapi juga dari atas kapal besar dan kecil yang hilir mudik. Gadis-gadis cantik berjoget, menyanyi, dan minum-minum, diiringi alunan keras suara musik.

Usahawan Belanda, Bert Kos, di atas kapalnya yang saya tumpangi untuk berkeliling mengabadikan KRI Dewaruci, dengan bangga menyatakan, ”Malam ini lebih dari 2.000 kapal besar kecil turut dalam pawai di kanal. Orang-orang dari banyak negara ada di sini. Hebatnya lagi, tidak ada satu kecelakaan pun.”

Suasana ingar-bingar itu baru berakhir dini hari, sekitar pukul 02.00. Benar-benar penyambutan luar biasa khas Belanda yang yang memang sebagian besar penduduknya menghidupi budaya maritim. Tidak salah jika pendatang yang hadir benar-benar merasakan apa yang mereka sebut welkom in Amsterdam, selamat datang di Amsterdam.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 15 Agustus 2010

Indonesia Tidak Pernah Dijajah 350 Tahun

0

MEDAN, KOMPAS.com — Sejarahwan Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, mengatakan tidaklah benar bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Karena jika angka tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran, maka awal mula penjajahan di Indonesia adalah tahun 1592.

"Padahal, bangsa Belanda pada tahun 1592 itu belum tiba di Indonesia. Belanda sendiri tiba di Indonesia, yakni di Banten, pada tahun 1552 di bawah pimpinan Cornelius De Houtman untuk menjajaki potensi perdagangan di Indonesia," katanya di Medan, Sabtu.

Oleh karena itu, kata dia, yang benar adalah bahwa Belanda memerlukan waktu selama lebih kurang 300 tahun untuk menaklukkan Indonesia.

Hal ini ditandai oleh maraknya penentangan pemerintahan di sejumlah daerah untuk menolak intervensi Belanda seperti Raja Tallo, Iskandar Muda, dan Sultan Agung yang semuanya muncul dari beberapa wilayah di Indonesia.

Ia mengatakan, masa penjajahan di Indonesia tidak bisa digeneralisasikan untuk semua kawasan di Indonesia karena setiap daerah memiliki masa waktu berbeda untuk dijajah oleh bangsa asing.

Oleh karena itu, dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, mutlak dilakukan reformasi pembelajaran sejarah.

Sementara itu, staf peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas negeri Medan (Unimed), Erond Damanik, merujuk pada pendapat GJ Resink Tahun 1987 dalam bukunya Raja dan Kerajaan Yang Merdeka Di Indonesia Tahun 1850-1910. Disebutkan bahwa dalam kurun waktu tahun 1850 hingga 1910, masih banyak daerah di Indonesia yang masih merdeka atau belum diduduki oleh Kolonial Belanda.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masa Indonesia dijajah Belanda tidak benar selama 350 tahun, karena hingga tahun 1907 masih banyak wilayah yang bebas dari pengaruh Belanda.

Misalnya, di Sumatera Utara ada perang Sisingamangaraja (1887-1907), Kiras Bangun (1901-1905), Rondahaim (1870-1889), maupun Datuk Sunggal masih mengobarkan perang terhadap Belanda termasuk wilayah Aceh.

"Justru yang benar adalah sebaliknya, yakni Belanda membutuhkan waktu sekitar 300 tahun untuk menaklukkan seluruh wilayah di Indonesia. Jadi, mari sama-sama kita luruskan perjalanan bangsa ini. Kita tidak pernah dijajah selama 350 tahun, tapi justru yang terjadi adalah Belanda memerlukan waktu selama 300 tahun untuk menaklukkan kita," katanya.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 05 Agustus 2010

Belanda Tak Mampu Gaji Tentara Baru

0


AMTERDAM, KOMPAS.com - Krisis rupanya sudah menerpa ke mana-mana. Militer Belanda saat ini menghadapi kesulitan yang sebelumnya tidak mereka alami. Ada banyak pemuda-pemudi Belanda yang berminat mengabdikan diri menjadi tentara, tetapi negara tidak memiliki cukup uang.

Kementerian Pertahanan Belanda mengatakan, Selasa (3/8), bahwa mereka akan menunda perekrutan tentara baru karena pengetatan anggaran. Padahal, sudah ada 467 tentara baru yang sudah mendaftar dan dinyatakan diterima masuk ke dinas tentara. Ternyata negara tidak memiliki cukup uang untuk menggaji mereka.

Mereka menambahkan bahwa calon tentara baru tersebut memahami apa yang menjadi kesulitan pemerintah. Militer Belanda adalah salah satu institusi bergengsi di negara itu. Untuk tahun ini, kementerian hanya merekrut pegawai baru untuk bidang teknik dan medis. Perekrutan berikutnya akan diadakan pada tahun 2011.

Belanda mulai menarik pulang 2.000 tentaranya dari Afganistan hari Minggu lalu. Hal itu merupakan konsekuensi dari perselisihan politik yang terjadi di pemerintahan tahun ini.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 14 Juli 2010

Venezuela protes penyusupan pesawat tempur Belanda

0

J-055 pesawat tempur belanda(Foto: AIRPLANE)

Caracas - Pemerintah Venezuela, Selasa (Rabu, 14/7 WIB) memprotes pelanggaran wilayah udaranya oleh pesawat militer Belanda. Caracas mengingatkan, pelanggaran berulang itu dapat merusak hubungan diplomatik kedua negara.

Dalam pernyataan yang dirilis pemerintahan Presiden Hugo Chavez, dikutip washingtonpost.com, militer venezuela mendeteksi tiga pelanggaran pekan lalu, meskipun pesawat tempur itu berusaha menggunakan teknologi anti-radar.

"Venezuela menuntut pemerintah Belanda mengambil langkah untuk memastikan hal provokatif itu tidak terulang. Jika tidak hubungan diplomatik akan memburuk," ujar pernyataan itu.

Venezuela tidak merinci asal penerbangan pesawat tempur itu, namun sebelumnya Presiden Chavez menyindir bahwa di masa lalu Belanda pernah mempersilakan Amerika Serikat menggunakan wilayah kepulauan di lepas pantai Venezuela yang didudukinya, untuk menyerang Venezuela.

Sumber: PRIMAIRONLINE


Jumat, 25 Juni 2010

Indonesia-Belanda Nostalgia soal Perang

0

Diorama koleksi Museum ABRI Satria Mandala, Jakarta.

KOMPAS.com — Untuk pertama kali orang Indonesia dan orang Belanda berbicara terus terang tentang perang di zaman revolusi. Hal itu dilakukan oleh sekitar 70 orang peserta diskusi panel yang berjudul Pluralisation of Narrafives of the history of Indonesian Independence (Pluralisasi Kisah tentang Sejarah Kemerdekaan Indonesia) belum lama ini di Belanda. Tapi peserta diskusi itu tidak hanya membicarakan soal perang.

Setelah Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945, Belanda mengirim tentaranya ke Indonesia atau Hindia Belanda, sebutan Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Rakyat Indonesia pun melakukan perlawanan. Bagi Indonesia, masa itu adalah masa revolusi atau masa perang melawan Belanda yang mau menduduki kembali negerinya.

Semua lapisan masyarakat pada saat itu bangkit melawan Belanda dengan semangat luar biasa. Mereka menggunakan bambu runcing untuk melawan tentara Belanda yang bersenjata lengkap. Namun, bagi pihak Belanda yang terjadi antara 1945 sampai 1949 itu bukan perang, melainkan penertiban umum atau aksi polisi, yang dalam bahasa Belanda disebut politionele actie.

Petisi

Beberapa saat silam sekelompok intelektual Belanda meminta Pemerintah Belanda untuk mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Petisi inilah yang mendorong sekelompok warga Indonesia di Belanda untuk menggelar diskusi panel ini.

Salah seorang penandatangan petisi tadi adalah Profesor Nico Schulte Nordholt, guru besar di Universitas Twente. "Beliau memiliki keterkaitan masa lalu yang cukup erat dengan Indonesia karena beliau lahir di Indonesia pada saat bapaknya bertugas di sana," kata Alpha Amirrachman, ketua panitia diskusi panel yang digelar 19 Juni 2010 di gedung Universitas Leiden itu.

Pertemuan itu adalah kesempatan untuk mengungkapkan cerita-cerita yang lebih personal yang belum terungkap tentang masa antara tahun 1945 sampai 1949. "Misalnya anaknya Pak Nico itu pernah menangis ketika mendengar bahwa tentara Belanda mati ditusuk oleh bambu runcing," kata mahasiswa PhD di Universitas Amsterdam ini. "Ada baiknya kalau cerita itu diketahui oleh orang Indonesia," tandasnya.

Walhasil dari pukul 10 pagi sampai 4 sore, para hadirin yang merupakan keturunan pihak-pihak bermusuhan itu dengan serius tapi santai—dan kadang-kadang dibubuhi humor—bertukar cerita.

Pengakuan sejati

Pada perayaan 17 Agustus 2005, Ben Bot Menlu Belanda saat itu telah menyatakan "Pemerintah Belanda menerima 17 Agustus 1945 sebagai fakta sejarah awal kemerdekaan Indonesia". Menanggapi hal ini, Nico Schulte Nordholt, yang juga bertindak sebagai panelis, menilai itu tidak cukup. Ia ingin agar Pemerintah Belanda menyatakan pengakuan sejati 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan RI.

Tjitske Lingsma, seorang wartawan Belanda, dalam makalahnya mengkritik perilaku penjajahan Belanda habis-habisan. Ia juga mengkritik Perdana Menteri Belanda demisioner, Jan Peter Balkenende, yang membanggakan "masa kejayaan VOC". Ia juga menyinggung Westerling, serdadu Belanda yang banyak membantai warga Sulawesi Selatan.

Dan yang menarik pula ia mengecam sikap warga dan Pemerintah Belanda yang menuntut Jerman dan Jepang minta maaf, tapi segan minta maaf sama Indonesia. "Oleh karena itu, akan pantas bagi Pemerintah Belanda untuk meminta maaf atas suatu perbuatan yang tidak berlangsung bukan selama tiga tahun, tapi tiga abad," katanya.

Buku sejarah bersama

Nyonya Joty ter Culve, seorang warga Belanda kelahiran Indonesia atau tepatnya Hindia Belanda, memuji warga Indonesia yang memiliki gagasan menyelenggarakan pertemuan ini. "You are a hero (Anda pahlawan)," katanya.

Alpha Amirrachman merasa puas atas kelancaran diskusi yang banyak mengungkap informasi ini. Ia membenarkan apa yang dikatakan Yoty ter Culve, pemimpin Yayasan Linggarjati itu. "Jadi ini upaya pertama yang digulirkan yang kebetulan dimulai oleh pihak Indonesia," tandasnya kepada Radio Nederland Wereldomroep.

Keputusan diskusi panel yang konkret adalah berupaya untuk menyusun buku sejarah bersama yang memuat dua versi: Indonesia dan Belanda.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 05 Mei 2010

Indonesia Berpartisipasi dalam Latihan Militer

0

Militer dari 14 negara termasuk Indonesia berencana untuk berpartisipasi dalam Rim of the Pacific Exercise atau Rimpac. Latihan militer tersebut akan dimulai musim panas ini, pada 23 Juni sampai 1 Agustus.

Rimpac adalah latihan maritim internasional terbesar di dunia yang bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas antara angkatan bersenjata Pacific Rim, sebagai sarana untuk meningkatkan stabilitas di kawasan itu demi kepentingan semua negara yang berpartisipasi.

Pasukan Angkatan Laut AS akan menjadi tuan rumah dalam latihan yang akan melibatkan 20 ribu personel, 34 kapal, lima kapal selam, dan lebih dari 100 pesawat terbang.

Selain AS dan Indonesia, latihan militer itu diikuti juga oleh Australia, Kanada, Cile, Kolombia, Prancis, Jepang, Malaysia, Belanda, Peru, Korsel, Singapura, dan Thailand.

Para pejabat militer AS mengatakan Rimpac menunjukkan komitmen negara-negara di dunia untuk bekerja sama menjaga jalur laut, melindungi kepentingan negara di luar negeri, dan menjamin kebebasan navigasi yang merupakan dasar dari perdamaian dan kemakmuran global.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 24 Februari 2010

Menhan Menerima Dubes Polandia dan Belanda Bicarakan Kerjasama Pertahanan

0


Jakarta, DMC - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Selasa (23/1) secara berturut –turut menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Polandia dan Duta Besar Belanda di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Dalam kunjungan Dubes Polandia Tomasz Lukaszuk kepada Menhan tersebut, diantaranya dibicarakan mengenai Defence Cooperation Agreement / DCA (perjanjian kerjasama pertahanan) antara RI-Polandia.

Dubes Polandia menyampaikan, pemerintah Polandia berharap Defence Cooperation Agreement antara RI – Polandia dapat segera diratifikasi oleh Indonesia. Setelah diratifikasi maka pembicaraan kerjasama pertahanan kedua negara akan semakin terbuka, baik melalui kerjasama di bidang industri pertahanan, pertukaran perwira maupun kerjasama dalam bidang pendidikan.

Dubes Polandia menambahkan, kemungkinan kerja sama lainnya yang dapat dilakukan kedua negara diantanya juga kegiatan dalam persiapan personel untuk pasukan perdamaian. Hal itu memungkinkan dapat dilaksanakan, karena Polandia mempunyai pusat pendidikan untuk persiapan pasukan perdamaian, sementara Indonesia juga mempunyai pasukan yang memiliki pengalaman dalam misi penjaga perdamaian.

Lebih lanjut Dubes Polandia menyampaikan, pemerintah Polandia juga berharap adanya peningkatan kerjasama di bidang industri pertahanan antara RI - Polandia. Dijelaskannya, saat ini pembicaraan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara sudah dimulai antara industri pertahanan Polandia dengan PT. DI. Selain kerja sama dengan PT. DI, pemerintah Polandia berharap kerja sama di bidang industri pertahanan juga dapat dilakukan dengan industri pertahanan dalam negeri Indonesia lainnya.

Terakhir, Dubes Polandia menyampaikan kepada Menhan untuk berkenan berkunjung ke Polandia dan melakukan kunjungan ke Menhan Polandia bersamaan dengan kunjungan Presiden Eropa beberapa waktu yang akan datang. Diharapkan melalui kunjungan tersebut akan semakin meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan kedua negara.

Menanggapi Dubes Polandia, Menhan menyampaikan dalam perjalanan ke Eropa nanti, Menhan berharap dapat menyempatkan diri untuk berkunjung ke Polandia sebagai balasan kunjungan Menhan Polandia ke Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Menjelaskan tentang perkembangan Defence Cooperation Agreement antara RI-Polandia, Menhan mengatakan saat ini masih menunggu proses ratifiikasi dari DPR RI, namun demikian diharapkan pada saat pelaksanaan Indo Defence akhir tahun ini perjanjian kerjasama pertahanan kedua negara tersebut sudah diratifikasi.

Menhan menerima kunjungan Dubes Belanda

Sementera itu, saat kunjungan Dubes Belanda Nikolaos van Dam menyinggung mengenai kerjasama pertahanan antara RI - Belanda khususnya peningkatan kerjasama di bidang industri pertahanan. Dubes Belanda menyampaikan, setelah Indonesia membeli kapal korvert sebanyak empat buah ke belanda beberapa waktu yang lalu, kerjasama di bidang industri pertahanan antara kedua negara diharapkan dapat terus dilanjutkan khususnya kemungkinan untuk kerjasama pembuatan bersama kapal korvert dengan PT.PAL.

Menanggapi Dubes Belanda, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, kerjasama dibidang industri pertahanan antara RI - Belanda diharapkan memungkinkan adanya transfer of technology (alih teknologi). Karena, dengan kerja sama alih teknologi tersebut, kedepan Indonesia berharap dapat mencapai kemandirian di bidang industri pertahanan sesuai dengan program revitalisasi industri pertahanan yang dicanangkan oleh Kemhan RI. Oleh karenanya, lebih lanjut Menhan berharap ada konsep konkrit mengenai kerjasama transfer of technology antara RI - Belanda tersebut.

Sumber: DMC




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin