Tampilkan postingan dengan label AFGANISTAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AFGANISTAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2011

Amerika Gelar Satu Pesawat Intelijen Terbaru di Afghanistan

0

Gorgon Stare

WASHINGTON--MICOM: Militer Amerika Serikat berencana mengggelar satu pesawat intelijen baru di Afghaistan yang menurut para pakar militer akan memungkinkan pasukan AS memantau medan operasional jauh lebih luas ketimbang sebelumnya, kata surat kabar Washington Post, Minggu (2/1).

Surat kabar itu memberitakan sistem pengintaian udara itu disebut Gorgon Stare dan akan dapat mengirim gambar video langsung tentang gerakan fisik di seluruh satu kota.

Pada 2010, 711 tentara internasional tewas di Afghanistan, kata laman internet ICasualties. Ini jumlah korban tewas tahunan tertinggi sejak perang itu dimulai 2001.

Sistem itu terdiri atas sembilan kamera video yang ditempelkan di pesawat dikendalikan dari jarak jauh yang dapat mengirim 65 gambar langsung pada pasukan di lapangan atau kepada para analis yang melacak gerakan-gerakan musuh.

Tidak sama dengan itu, pesawat-pesawat Angkatan Udara yang sekarang membuat video dari satu kamera di satu daerah sempit seluas satu atau dua gedung.

"Gorgon Stare akan menyoroti seluruh satu kota. Jadi sama sekali tidak diketahui musuh tentang apa yang kita intai dan kita dapat melihat segalanya," kata surat kabar itu mengutip Mayjen James Poss, asisten wakil kepala staf Angkatan Udara untuk urusan intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

Ada sekitar 140.000 tentara internasional yang memerangi gerilyawan Taliban di Afghanistan. Sekitar dua pertiga pasukan ini dari Amerika Serikat. (Ant/OL-5)


Rabu, 17 November 2010

950 Pelatih Militer Kanada Siap ke Afghanistan

0

Ottawa (ANTARA News) - Kanada akan mengirim sebanyak 950 pelatih militer ke Afghanistan untuk membantu tentara Afghanistan mengambialih keamanan setelah tentara tempur Kanada keluar dari negara itu tahun depan, demikian kata beberapa menteri, Selasa.

"Sejak misi itu dimulai, Kanada, bersama dengan mitra-mitra internasional kami, telah membantu melatih dan menasehati sekitar 50.000 tentara Afghanistan," jelas Menteri Pertahanan Peter MacKay pada konferensi pers yang diapit oleh Menteri Luar Negeri Lawrence Cannon dan Menteri Pembangunan Internasional Bev Oda, sebagaimana dikutip dari AFP

"Misi pelatihan bukan-tempur pasca-2011 akan terus menyumbang pada tujuan untuk mempersiapkan Afghanistan guna memikul tanggungjawab atas keamanan mereka sendiri," kata MacKay.

"Warisan pasukan Kanada di Afghanistan akan bertahan dalam kemampuan profesional Pasukan Keamanan Afghanistan untuk memberikan lingkungan yang lebih aman dan stabil pada rakyat Afghanistan."

Kanada sekarang ini memiliki 2.800 tentara tempur di Afghanistan. Mereka telah diperintahkan oleh parlemen untuk pulang pada pertengahan 2011 setelah sembilan tahun berusaha membasmi gerilyawan sebagai bagian dari Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Para pelatih militer itu sebagian besar "dipusatkan di sekitar Kabul", akan melakukan pekerjaan di dalam kelas dan instruksi lainnya dalam "menangani senjata api, pelatihan fisik, tipe latihan yang kami lakuka , sebenarnya, di markas-markas di sini di Kanada," kata MacKay.

"Itu akan mencakup hal-hal seperti latihan keahlian menembak, infantri, lapis baja, artileri dan logistik. Kami mungkin akan melakukan beberapa pelatihan khususc dengan pesawat terbang, tergantung pada apa perlengkapan yang Afghanistan sediakan ... untuk memberikan keterampilan yang pasukan keamanan Afghanistan perlukan untuk melakukan tugas yang akan kami kerjakan untuk mereka," katanya.

"Tidak akan ada kepenasehatan" di medan tempur, ia menambahkan.

Kanada akan tetap di Afghanistan hingga 2014, kata para menteri itu.

Mereka memperkirakan biaya misi pelatihan itu, dan juga bantuan pembangunan, diplomasi regional dan bantuan kemanusiaan sebesar 700 juta dolar per tahun.

Empatpuluh-lima polisi Kanada juga akan terus melatih para pejabat polisi Afghanistan, menurut satu pernyataan.

Sumber : ANTARA


Senin, 15 November 2010

Panglima Tentara Inggris: Mustahil Barat Kalahkan Al-Qaeda

0

REPUBLIKA.CO.ID, Panglima Angkatan Bersenjata Inggris, Jenderal David Richards, mengungkapkan, Barat tidak akan mampu mengalahkan al-Qaeda dan milisi bersenjata lainnya yang berafiliasi dengan kelompok ini. "Kita tidak perlu mengalahkan milisi bersenjata muslim dan mengalahkan mereka pun adalah hal yang mustahil," demikian ungkap David Richards dalam wawancaranya dengan Sunday Telegraph edisi khusus Daily Telegraph cetakan Ahad (14/11).

Ia juga menandaskan bahwa Barat hanya mampu mengontrol dan membatasi gerak Al-Qaeda serta milisi bersenjata lainnya sehingga ancaman terhadap warga sipil di berbagai negara termasuk Inggris dapat dibendung. David Richards, 58 tahun yang menjabat komando militer Inggris sejak bulan lalu menambahkan, ancaman al-Qaeda dan berbagai kelompok yang berafiliasi dengannya dapat mengancam keamanan nasional Inggris selama 30 tahun.

Ia mengklaim bahwa perang yang digelar Barat terhadap ideologi al-Qaeda seperti perang anti Nazi di perang dunia kedua. Dalam wawancaranya, David Richards mengakui bahwa militer dan pemerintah Inggris melakukan kesalahan karena tidak mengetahui secara detail kondisi sebenarnya di Afghanistan.

"Rakyat Afghanistan telah lelah dengan kelemahan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam menjalankan janji-janjinya di negara ini," tambah Richards.

Inggris saat ini menempatkan sekitar 10.000 tentaranya di Afghanistan dan mayoritasnya bertugas di Provinsi Helmand, sejak tahun 2001 hingga kini 343 serdadu Inggtris tewas di Afghanistan.

Frank Gardner, analis bidang pertahanan di BBC seraya mengisyaratkan wawancara David Richards mengatakan, pernyataan komando militer Inggris menunjukkan pandangan realistis terkait perang anti teroris di Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Ia menambahkan, jika pernyataan ini diungkapkan lima tahun lalu dapat disebut sebagai pengakuan kekalahan dan membangkitkan kemarahan banyak pihak. David Richards dalam wawancaranya juga mengatakan, senjata terbaik untuk menghadapi al-Qaeda adalah metode antisipasi dan meningkatkan pendidikan serta demokrasi.

Ia menambahkan, saya saat ini tidak melihat dalih bagi militer Inggris untuk kembali terlibat dalam perang seperti di Afghanistan dan Irak di negara-negara lain. Namun demikian ia menyebut dungu bagi pernyataan yang mengatakan kejadian seperti ini di masa mendatang tidak akan terjadi.

Sumber: REPUBLIKA


Karzai: Kurangi Intensitas Militer AS

0

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL--Presiden Afganistan, Hamid Karzai, mengatakan, agar Amerika Serikat (AS) mengurangi intensitas operasi militernya, khususnya pada malam hari. Hal ini untuk mengurangi intensitas penyerangan kelompok anti-AS dan serangan pemberontakan Taliban.

Tentunya imbauan Presiden Afganistan tersebut berbanding terbalik dengan perkataannya kepada Washingtin Post yang mewawancarainya, Sabtu (13/11) lalu yang mengatakan, akan meningkatkan tekanan kepada kelompok pemberontak. Akan tetapi, pada saat bersamaan, ia menyiapkan sebuah lembaga perdamaian dengan pimpinan tertinggi Taliban.

“Sudah waktunya untuk mengurangi operasi militer serta mengurangi campur tangan asing dalam kehidupan Afganistan,” kata Karzai, Ahad (14/11).

Karzai juga mengaku telah bertemu dengan satu atau dua orang pemimpin tertinggi Taliban sekitar tiga bulan lalu, tetapi dengan proses perdamaian yang mereka inginkan. Ia mengatakan, percaya dengan pemimpin Taliban, Mullah Omar dalam diskusi tersebut.

''Mereka merasakan hal yang sama dengan kami. Banyak rakyat Afganistan yang menderita akibat perang yang tanpa alasan. Keluarga mereka pun menderita,” pungkasnya.

David Patraeus, komandan tentara AS dan NATO di Afghanistan, mengklaim sebanyak 30 ribu tentara AS dan ribuan tentara koalisi internasional yang dikirim pada tahun ini telah mengalami perkembangan yang substantif.

Patraeus mengatakan, tentaranya berhasil memukul mundur kelompok pemberontak, meski ia tidak menyatakan kemenangannya dalam peperangan melawan Taliban. “Pada tiga bulan terakhir, 300 pemberontak ditangkap dan tewas, lebih dari 850 militan tingkat menengah telah terbunuh dan 2.170 tentara bawahan telah ditangkap,” klaimnya.

Sumber: REPUBLIKA


Kamis, 04 November 2010

Militer AS Bangun Jaringan GSM Rp 606 Miliar di Afghanistan

0

Jakarta - Amerika Serikat menambahkan fasilitas baru bagi pasukannya yang sedang bertugas di Afghanistan. Militer AS bakal menyediakan jaringan telekomunikasi GSM yang khusus diperuntukkan bagi para serdadu.

Adalah perusahaan Mantech International yang bakal menggawangi proyek bernama Expeditionary Cellular Communications Service (ECCS) itu. Mereka memenangkan kontrak dari militer AS sebesar USD 68 juta atau sekitar Rp 606 miliar.

Dikutip detikINET dari CellularNews, Kamis (4/11/2010), ManTech akan membangun dan merawat sistem komunikasi terintegrasi bagi tentara AS di Afghanistan. Tujuannya agar mereka terjamin telekomunikasinya nyambung terus via ponsel.

"Komunikasi yang tak terganggu sangat penting bagi tentara kami di wilayah terpencil. Kami bangga mendapat kesempatan ini" cetus Louis M. Addeo, Presiden ManTech Technical Services Group

Mantech pun bersiap-siap mendirikan menara telekomunikasi permanen maupun mobile di kawasan markas AS. Sepertinya hal ini mengindikasikan pasukan AS masih akan berlama-lama di Afghanistan.

Sumber: DETIK


Senin, 30 Agustus 2010

Jenderal Amerika Serikat Kritik Taktik Militer Inggris di Afganistan

0



Pasukan Inggris Di Afganistan

TEMPO Interaktif, London - Bekas jenderal Amerika Serikat di Afganistan, Senin, mengiritik taktik militer Inggris di Provinsi Helmand, Afganistan. Para komandan Inggris, sejak 2006, dianggap tak memberikan tekanan kepada Taliban.

Dalam wawancara dengan koran Inggris Times, Letnan Jenderal Benjamin Freakley, mengatakan para serdadu Inggris menyebar sebagaimana jika mereka berhadapan dengan gerilyawan Irlandia Utara.

Pada 2006, sebanyak 9500 pasukan Inggris di Provinsi Helmand bertempur sengit dengan Taliban.

Freakley, komandan operasi paling senior Amerika Serikat di utara dan selatan Afganistan dari 2006-2007, mengatakan taktik Inggris di Helmand mengirimkan pasukan dalam jumlah kecil ke pusat-pusat distrik seperti di Musa Qala dan Sangit terbukti "membawa bencana."

"Mereka berpikir seperti sebuah peleton sebagaimana di Irlandia Utara. Di Afgansitan kondisinya berbeda, Anda harus terus bergerak melawan Taliban." kata Freakley kepada Times.

"Anda tak boleh dalam posisi diam, sebab Taliban akan menghantam Anda."

Pasukan asing dipimpin Amerika Serikat pada 2001 menginvasi Afganistan guna mengusir Taliban dari kekuasaan. Sebaliknya Taliban, kini berjuang keras melawan 150 ribu pasukan asing untuk kembali berkuasa.

Presiden Amerika Serikat Obama menyatakan akan menarik keluar pasukannya dari Afganista, Juli 2001. Sementara Perdana Menteri Ingrris David Cameron, bula lalu, berharap pasukannya ditarik pada awal tahun depan.

Sumber: TEMPO


Jumat, 02 Juli 2010

Parlemen AS Setujui Rp 298,7 T Untuk Tentara AS di Afghanistan

0

Ilustrasi (New York Times)

Jakarta - Parlemen Amerika Serikat (AS) menyetujui dana untuk membiayai penambahan tentara AS di Afghanistan sebesar 33 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 298,7 triliun. Namun hal ini menuai komplain dari kubu Partai Demokrat.

Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (2/7/2010). Jumlah sebanyak itu nyaris sepertiga APBNP 2010 negeri kita yang sekitar Rp 1.000 triliun.

Kubu Partai Demokrat justru terkesan menunda-nunda penggelontoran dana tersebut. Mereka tidak bertindak pada waktunya untuk menggelontorkan dana sebesar 33 miliar dollar AS bagi tentara AS pada 4 Juli seperti yang diminta Pentagon.

Sesuai amandemen, jadwal penarikan tentara AS dari Afghanistan ditunda. Penundaan yang disetujui oleh 162 anggota Parlemen tersebut menjadi suara anti-perang terbesar dalam Parlemen bagi Afghanistan. Namun, 9 anggota Fraksi Partai Demokrat, termasuk Ketua Parlemen Nancy Pelosi, menolaknya.

Pimpinan Parlemen menambahkan miliaran dolar AS dalam pengeluaran non-militer sebelum membahas dana perang ini. Langkah selanjutnya diserahkan kepada Senat, karena Senat juga sedang membahas dana perang dan berencana menyalurkannya pada Mei mendatang.

Baik Parlemen maupun Senat harus menyetujui RUU yang sama, sebelum akhirnya diajukan kepada Presiden Obama untuk ditandatangani. Namun sayangnya, Senat sendiri sedang dalam masa reses hingga 12 Juli.

Parlemen AS menyetujui RUU tentang anggaran yang mencakup hampir 4 miliar dolar AS untuk bantuan ekonomi ke Afghanistan dan Pakistan. Dana perang ini merupakan tambahan bagi dana 130 miliar dolar AS yang telah disetujui Kongres untuk dikirimkan bagi Afghanistan dan Irak tahun ini.

Sumber: DETIK NEWS


Sabtu, 24 April 2010

NATO 'Tinggalkan' Afghan Mulai November

0


Jakarta - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berencana menyerahkan segala urusan pemerintahan dan keamanan di seluruh Afghanistan pada otoritas setempat. Penyerahan tanggung jawab itu akan dimulai pada November mendatang.

"Kami sepakat untuk mulai melakukan transisi," ujat Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen seperti dilansir AFP, Sabtu (24/4/2010).

Pengalihan tampuk kendali ini sudah terjadi di Kabul. Di ibukota Afghanistan itu, otoritas lokal sudah bertanggung jawab atas keamanan dan pemerintahannya.

"Hari ini, kami memiliki roadmap. Pada titik tertentu masyarakat akan melihat perkembangan yang selama ini mereka sering tanyakan," lanjut Rasmussen.

Dia berharap pemerintah Afghanistan dan komunitas internasional dapat mendukung rencana ini dalam konferensi yang digelar di Kabul pada Juli mendatang. Sementara itu serah terima kekuasaan akan berlangsung November saat NATO menggelar pertemuan tahunannya di Lisbon.

Selama masa transisi berlangsung NATO akan bertindak sebagai pengawas. Pasukan di garis depan yang selama ini bertugas memerangi pemberontak akan ditarik ke garis belakang.

Sumber: DETIK COM


Selasa, 09 Februari 2010

Operasi Militer Besar-besaran Segera Dimulai

0

Kandahar, Senin - Komandan pasukan NATO memperingatkan agar kelompok Taliban menyerah. Pasukan AS dan internasional, Senin (8/2), mempersiapkan diri untuk melancarkan operasi besar-besaran ke basis kekuatan Taliban di kota Marjah, Provinsi Helmand.

Operasi di Marjah, yang diberi nama Mushtarak (Bersama), merupakan operasi terbesar sejak Presiden AS Barack Obama mengumumkan penambahan pasukan di Afganistan. Operasi tersebut juga merupakan yang terbesar sejak invasi AS ke negara itu tahun 2001. Diperkirakan operasi dimulai pada pekan ini.

Kelompok Taliban menyatakan memilih tinggal dan berperang melawan. ”Pasukan Afganistan dan pasukan asing telah datang ke wilayah Marjah dan anggota kami juga berada di area itu untuk menembaki mereka dengan roket,” kata Yousuf Ahmadi, juru bicara Taliban, kepada kantor berita AFP dari lokasi yang tidak diketahui.

Ribuan tentara asing dan tentara Afganistan telah berada di sekitar lembah Sungai Helmand untuk menggempur Taliban. Komandan pasukan AS dan pasukan NATO di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, mengatakan, operasi di Marjah tidak dimaksudkan untuk sekadar menewaskan anggota Taliban sebab kebanyakan dari mereka adalah warga lokal miskin yang berperang demi uang daripada dukungan bagi ideologi Taliban.

Menurut McChrystal, keberhasilan operasi itu bergantung pada bagaimana meyakinkan warga sipil bahwa Pemerintah Afganistan akan memperbaiki cara pengelolaan negara saat Taliban sudah ditumpas.

Warga mengungsi

Pada Minggu, pesawat AS menjatuhkan selebaran di atas Marjah untuk memperingatkan warga tentang operasi yang akan dilancarkan. Peringatan itu membuat ribuan warga Marjah khawatir dan meninggalkan kota. Mereka khawatir akan terjebak di tengah pertempuran saat operasi dimulai.

Ghulam Farooq Noorzai, Kepala Departemen Pengungsi Provinsi Helmand, mengatakan, lebih dari 400 keluarga atau sekitar 2.000-3.000 orang telah direlokasi dan masih banyak orang yang sedang berusaha meninggalkan Marjah. Otoritas provinsi telah menyiapkan tenda dan stok makanan untuk 10.000 orang.

Salah seorang warga, Shir Ali Khan, yang tiba kemarin di Lashkar Gah bersama 25 anggota keluarganya menuturkan, dia akan tinggal di kota itu sampai Marjah aman.

”Kami pergi karena banyak sekali pesawat yang terbang dan banyak tentara bergerak maju dan mundur,” tutur Khan.

Para pejabat AS telah lama mengincar Marjah. Di tempat itu, juga di provinsi tetangga, Kandahar, terkonsentrasi gerakan perlawanan Taliban. Di wilayah yang subur itu pula lahan pertanian telah diubah menjadi perkebunan opium.

Sumber: Kompas


Operasi Militer Besar-besaran Segera Dimulai

0

Kandahar, Senin - Komandan pasukan NATO memperingatkan agar kelompok Taliban menyerah. Pasukan AS dan internasional, Senin (8/2), mempersiapkan diri untuk melancarkan operasi besar-besaran ke basis kekuatan Taliban di kota Marjah, Provinsi Helmand.

Operasi di Marjah, yang diberi nama Mushtarak (Bersama), merupakan operasi terbesar sejak Presiden AS Barack Obama mengumumkan penambahan pasukan di Afganistan. Operasi tersebut juga merupakan yang terbesar sejak invasi AS ke negara itu tahun 2001. Diperkirakan operasi dimulai pada pekan ini.

Kelompok Taliban menyatakan memilih tinggal dan berperang melawan. ”Pasukan Afganistan dan pasukan asing telah datang ke wilayah Marjah dan anggota kami juga berada di area itu untuk menembaki mereka dengan roket,” kata Yousuf Ahmadi, juru bicara Taliban, kepada kantor berita AFP dari lokasi yang tidak diketahui.

Ribuan tentara asing dan tentara Afganistan telah berada di sekitar lembah Sungai Helmand untuk menggempur Taliban. Komandan pasukan AS dan pasukan NATO di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, mengatakan, operasi di Marjah tidak dimaksudkan untuk sekadar menewaskan anggota Taliban sebab kebanyakan dari mereka adalah warga lokal miskin yang berperang demi uang daripada dukungan bagi ideologi Taliban.

Menurut McChrystal, keberhasilan operasi itu bergantung pada bagaimana meyakinkan warga sipil bahwa Pemerintah Afganistan akan memperbaiki cara pengelolaan negara saat Taliban sudah ditumpas.

Warga mengungsi

Pada Minggu, pesawat AS menjatuhkan selebaran di atas Marjah untuk memperingatkan warga tentang operasi yang akan dilancarkan. Peringatan itu membuat ribuan warga Marjah khawatir dan meninggalkan kota. Mereka khawatir akan terjebak di tengah pertempuran saat operasi dimulai.

Ghulam Farooq Noorzai, Kepala Departemen Pengungsi Provinsi Helmand, mengatakan, lebih dari 400 keluarga atau sekitar 2.000-3.000 orang telah direlokasi dan masih banyak orang yang sedang berusaha meninggalkan Marjah. Otoritas provinsi telah menyiapkan tenda dan stok makanan untuk 10.000 orang.

Salah seorang warga, Shir Ali Khan, yang tiba kemarin di Lashkar Gah bersama 25 anggota keluarganya menuturkan, dia akan tinggal di kota itu sampai Marjah aman.

”Kami pergi karena banyak sekali pesawat yang terbang dan banyak tentara bergerak maju dan mundur,” tutur Khan.

Para pejabat AS telah lama mengincar Marjah. Di tempat itu, juga di provinsi tetangga, Kandahar, terkonsentrasi gerakan perlawanan Taliban. Di wilayah yang subur itu pula lahan pertanian telah diubah menjadi perkebunan opium.

Sumber: Kompas


Senin, 01 Februari 2010

Tentara AS Tewas Akibat Bom Rakitan Taliban

0

KABUL, KOMPAS.com - Sebuah bom menewaskan seorang tentara AS, yang bertugas dengan NATO di Afghanistan selatan, medan tempur penting dalam menghadapi Taliban, kata Pasukan Bantuan Keamanan Internasional NATO (ISAF), Senin (1/2/2010).

Lokasi terjadinya serangan bom rakitan itu tidak dijelaskan, namun sebagian besar wilayah selatan selalu diganggu pemberontakan Taliban.

Bahkan serangan Taliban ini kini mencapai rekor tertinggi, sejak serangan yang dipimpin AS pada 2001, yang menumbangkan pemerintahan rezim Taliban.

"Seorang anggota petugas ISAF dari Amerika Serikat tewas pada hari ini, dalam serangan bom rakitan di Afghanistan selatan," kata ISAF.

Korban terakhir itu menjadikan jumlah tentara asing yang tewas di Afghanistan, sampai tahun ini saja, mencapai 45 orang, menurut perhitungan yang dilakukan AFP.

Pada tahun lalu, aksi kekerasan diklaim menyebabkan meninggalnya 520 tentara internasional di tahun yang paling mematikan, setelah perang lebih dari delapan tahun.

Di negara tersebut kini terdapat sekitar 113.000 prajurit internasional, di mana pasukan yang dipimpin AS berencana menumpas Taliban dengan memutuskan meningkatkan jumlah tentara asing menjadi sekitar 150.000 pada tahun ini.

Sumber: Kompas




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin