Tampilkan postingan dengan label Korvet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korvet. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

Korut Tawarkan Penyidikan Kapal Cheonan

0

BEIJING, KOMPAS.com - Korea Utara tetap menawarkan bantuan penyelidikan kapal Korea Selatan yang tenggelam pada Maret.

Korut pada Selasa menawarkan menyediakan sejumlah sampel torpedonya untuk membuktikan keterlibatan Pyongyang.

Tim penyelidikan bersama antara sipil dan militer, berisi pakar dari AS, Australia, Inggris dan Swedia, menyimpulkan, kapal selam Korut menembakkan dan menenggelamkan kapal korvet Cheonan, yang menewaskan 46 pelaut.

"Itu merupakan rencana awal agar Korut mengumumkan informasi secara ilmiah setelah penyelidikan lapangan kami," kata seorang konsulat senior Jong Hyun-U di Kedutaan Besar Korut di Beijing di hadapan sejumlah kecil wartawan.

Serpihan torpedo yang ditemukan oleh Korsel setelah kejadian penenggelaman tidak mungkin berasal persenjataan Korut, karena torpedo Korut terbuat dari besi baja, bukan aluminium, yang ditemukan di dasar laut, kata Jong.

"Kami masih bersedia untuk memberikan contoh besi baja kepada AS dan komplotan pengkhianat Lee Myung-bak," tambahnya.

Menurut laporan penyidikan pada Mei, pecahan torpedo yang ditemukan lokasi kejadian, di lepas pesisir barat semenanjung Korea, sesuai dengan senjata buatan Korut yang pernah diamankan oleh pihak Korsel tujuh tahun lalu.

Korut secara konsisten menyangkal tanggung jawab atas serangan tersebut, dan kantor berita nasional Korut, KCNA, menerbitkan pernyataan pertama mengenai kebenaran di balik kasus Cheonan, dan berjanji untuk memberikan rincian lainnya.

Jong tidak bersedia berspekulasi akan penyebab penenggelaman kapal tersebut atau pelaku atas kejadian itu, mensinyalir bahwa sepantasnya mencurigai AS dan Korsel.

"Penyelidikan yang dilakukan AS merupakan buatan dan sandiwara konspirasi", tambahnya.

Penenggelaman itu memicu sanksi keras baru kepada Pyongyang oleh Seoul dan Washington.

Korsel mengatakan Korut harus mengakui tanggung jawabnya atas karamnya kapal perang mereka sebelum bisa kembali ke meja perundingan.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 14 September 2010

Dirilisnya Laporan lengkap pada tenggelamnya Cheonan

0


Duk Yoon-yong, wakil ketua tim investigasi bersama internasional, sebuah alamat
konferensi pers di Departemen Pertahanan Nasional di Seoul pada hari Senin. (Hoon Ahn / Korea The Herald)

Departemen Pertahanan Nasional pada hari Senin merilis hasil penyelidikan penuh multinasional ke tenggelamnya Maret dari korvet Cheonan, berharap untuk menghilangkan keraguan atas bencana yang dilangyangkan terhadap Korea Utara.

Laporan, yang diterbitkan setelah hasil sementara diumumkan pada 20 Mei, menegaskan bahwa penyebab eksternal ledakan bawah air disebabkan oleh Korea Utara yang menerpedo kapal Cheonan tenggelam. Tapi tidak secara jelas alamat beberapa pertanyaan kunci atas insiden tersebut.

Pada tanggal 26 Maret kapal 1.200 ton tenggelam di dekat perbatasan barat laut antar-Korea, yang telah berulang kali menjadi tempat pertempuran laut. Dari 104 awak kapal, 46 tewas.

"Kapal Cheonan pecah dan tenggelam karena gelombang kejut dan efek gelembung yang dihasilkan oleh ledakan sebuah torpedo bawah air," kata laporan 313-halaman, yang berisi lebih dari 300 gambar dan tabel untuk membantu menjelaskan tim investigasi dan eksperimen.

"Lokasi ledakan berada 3 meter dari pusat ruang turbin gas dan kedalaman 6-7 meter. Sistem yang digunakan adalah torpedo jenis CHt-02d dengan sekitar 250 kilogram bahan peledak yang diproduksi dan digunakan oleh Korea Utara.

Pada tanggal 15 Mei, tim investigasi yang dipimpin Seoul, yang meliputi 24 ahli asing dari Amerika Serikat, Australia, Britania dan Swedia, meninvestigasi "bukti" dari lokasi kejadian - motor penggerak sistem torpedo CHt-02d diproduksi oleh Korea Utara. Bagian yang diambil memiliki bukti lebih kritis - sebuah tanda, yang mengatakan "Tidak 1 "dalam huruf gaya Korea Utara.

Tim investigasi lagi menepis kemungkinan ledakan "non-," untuk contoh kecelakaan tabrakan dengan terumbu karang, sebagai penyebab yang tenggelam itu. Laporan itu mengatakan bahwa sistem sonar di bagian bawah kapal tetap utuh.

Mengenai bengkok baling-baling di sisi kanan kapal, tim menilai bahwa kapal tersebut membungkuk bukan karena benturan dengan karang, tapi dari kekuatan "inersia" dibuat ketika baling-baling tiba-tiba berhenti dan Axel diberikan dorongan.

Tim juga mengatakan bahwa sebagian besar tetap baling-baling kiri rusak - meski ledakan terjadi di dekat sisi kiri itu - karena baling-baling kiri berhenti lebih lambat dan menerima tekanan kurang dari baling-baling di sisi kanan.

Dari investigasi meninggalkan kekecewaan adalah bahwa tim gagal untuk membuktikan bahwa tinta yang digunakan dalam menandai "Tidak 1 "pada bagian torpedo diproduksi oleh Korut. Hal ini dilakukan analisis rinci dari tinta, tapi tidak bisa memverifikasi asal torpedo tersebut karena banyak negara yang menggunakan bahan serupa yang ditemukan dalam tinta.

Laporan ini juga gagal memberikan penjelasan yang memadai mengenai mengapa residu bahan peledak ditemukan di lambung rusak tidak ditemukan pada bagian-bagian diselamatkan dari torpedo.

Tim menjelaskan bahwa sulit untuk menemukan residu bagian kecil torpedo, menunjukkan bahwa bahkan dari bangkai kapal, yang jauh lebih besar daripada torpedo, hanya sejumlah kecil residu itu ditemukan.

Dokumen ini juga termasuk penjelasan dari para prajurit yang masih hidup dan catatan komunikasi antara kapten Cheonan yang masih hidup, CDR. Choi Won-il, dan atasan langsungnya, Komandan Skuadron Kapten Lee Won-bo, pada saat yang tenggelam itu.

Segera setelah serangan itu, Choi dilaporkan kepada Lee, mengatakan, "Saya pikir kami sudah terkena sesuatu" Lee bertanya, "Apa yang Anda pikir itu adalah" dan? Choi menjawab., "Pikir saya tampaknya menjadi torpedo. "

Mereka yang memimpin tim investigasi dari empat negara yang diberikan tanda tangan mereka untuk menunjukkan bahwa mereka setuju dengan hasil penyelidikan. Namun, hasilnya dengan tim Rusia yang berkunjung ke Korea untuk penyelidikan satu minggu pada akhir Mei tidak disertakan dalam laporan.

pemerintah akan mendistribusikan laporan kepada Majelis Nasional, badan pemerintah, kedutaan asing, dan akademik domestik dan asing dan lembaga penelitian, kata para pejabat.

Laporan ini juga akan dapat diakses di internet dan dijual untuk umum di ₩ 20.000. Departemen ini juga menerbitkan buku kartun, "Kebenaran dari Serang pada Cheonan" untuk membantu masyarakat mudah memahami kejadian-kejadian sekitar tenggelam itu.

Sumber: TKH/MIK


Jumat, 20 Agustus 2010

Kapal Korvet TNI Buatan PT. PAL Sudah Tahap Penyelesaian

2

Korvet Nasinal Buatan PT.PAL(foto GOOGLE)

TEMPO Interaktif, Palu - TNI Angkatan Laut tengah menyiapkan kapal Korvet Kelas Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) V. Kapal yang dibuat bekerja sama dengan PT PAL ini akan dioperasikan untuk memperkuat sistem pertahanan matra laut.

“Saat ini dalam proses penyelesaian, Insya Allah dalam waktu dekat ini sudah dioperasikan,” kata Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso kepada wartawan di Palu, Sulawesi Tengah seusai buka puasa bersama dengan jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan petinggi TNI setempat.

Menurut Djoko, Korvet Sigma berteknologi terkini, kapal ini dapat menjadi jembatan transformasi dan standardisasi teknologi kapal-kapal kombatan TNI AL. Sehingga akan terjadi efisiensi dalam pengadaan, pemeliharaan dan perawatan alat utama sistem senjata TNI AL, termasuk pada aspek logistik, pendidikan, dan pelatihan personel pengawaknya.

Djoko mengatakan, percepatan proyek kapal Korvet ini akibat tingginya kasus insiden antara aparat keamanan Indonesia dan petugas perairan negara lain seperti Malaysia, yang terjadi diatas perbatasan atau di wilayah perairan Indonesia.

Soal kasus ketegangan Malaysia dan Indonesia di Selat Malaka belakangan ini, Djoko menyatakan sudah ada kesepahaman antara Indonesia, Singapura dan Malaysia bahwa bila ada sengketa yang terjadi di selat itu diselesaikan dengan jalan dialog. “Kapal ini bukan untuk persiapan perang,”katanya.

Djoko berharap dengan bertambahnya armada penjaga perbatasan khususnya di kawasan perairan, akan menambah semangat anggotanya dalam menjalankan tugas dan menjadi penjaga wilayah Indonesia saat negara lain mencoba menganggu wilayah kedaulatan Indonesia.

Sumber: TEMPO


Industri Pertahanan Gagal jika Ada Korupsi

0

korvet Nasional yang telah gagal

Jakarta, Kompas - Wakil Presiden Boediono mengingatkan, revitalisasi industri di bidang pertahanan jangan sampai terperangkap dan terjerumus dalam proses serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme atau KKN.

”Jika ada KKN, apa pun yang dilakukan dalam programnya pasti akan gagal,” kata Wapres Boediono saat memberikan pembekalan di hadapan peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIV Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (19/8).

Menurut Wapres, jika hal itu terjadi, program apa pun yang akan dilakukan pasti tidak akan berjalan sehingga yang akan menjadi korban adalah rakyat.

Dalam acara itu hadir Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan Gubernur Lemhannas Muladi serta 100 peserta PPRA yang berasal dari sejumlah kalangan dan negara.

Di industri pertahanan negara maju, tambah Wapres, saat ini dikenal dengan fenomena atau sindrom military-industrial complex atau semacam persekongkolan kepentingan militer dan industri. ”Jadi, apa pun harus bersih dari KKN. Jangan sampai kita masuk dalam situasi dan fenomena persekongkolan kepentingan militer dan industri tersebut,” ujarnya.

Boediono menambahkan, dalam industri pertahanan, yang harus disiapkan dan dijalankan adalah memperkuat industri pertahanan, menyeleksi alat pertahanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, serta harus menyesuaikan diri dengan program soft power atau ideologi dan visi bangsa serta program hard power, seperti teknologi dan industri.

”Catatan saya agar revitalisasi industri pertahanan juga berupaya untuk mewujudkan satu mata rantai dalam mendukung industri pertahanan secara sistematis,” kata Wapres.

Korvet

Dalam pertemuan di Istana Wapres itu juga dilakukan tanya-jawab peserta PPRA dengan Wapres dan Menko Polhukam.

Menjawab pertanyaan peserta PPRA XLIV mengenai nasib program nasional korvet untuk TNI, yaitu pengadaan empat buah korvet—dua akan dibangun di Belanda dan dua lainnya akan dibangun di PT PAL, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia—Djoko Suyanto mengaku, program itu berhenti di tengah jalan karena ketidaksiapan BUMN strategis dan bukan dari pihak luar.

”Pada waktu sekitar enam tahun lalu, selain soal dana, manajemennya mungkin kebetulan juga kurang baik di PAL, Pindad, dan Dirgantara Indonesia karena situasi saat itu tengah dilanda krisis,” katanya.

Namun, lanjut Djoko, dengan kebijakan baru satu atau dua tahun terakhir ini, program nasional korvet diharapkan bisa berlanjut mengingat kebijakan pendanaan ditetapkan dalam jangka panjang dengan dukungan perbankan nasional. ”Saya kira prosesnya akan terus dilanjutkan. Tidak hanya di PAL, Pindad, tetapi juga di Dirgantara Indonesia. Bahkan, bukan cuma korvet, melainkan juga pesawat dan senjata lainnya,” kata Djoko.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 10 Juli 2010

Korsel Serukan Korut Minta Maaf

0

Seoul (ANTARA News) - Korea Selatan pada Sabtu menyerukan Korea Utara untuk minta maaf atas tenggelamnya salah satu kapal perangnya, Cheonan, setelah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengecam serangan tersebut.

Kementerian pertahanan Korea Selatan mengatakan, tidak ada perubahan untuk rencana melakukan latihan perang laut gabungan dengan Amerika Serikat di Laut Kuning, meskipun terdapat keberatan dari China, sebagaimana dikutip dari AFP.

Dewan Keamanan PBB Jumat dengan suara bulat menyetujui pernyataan yang menyesalkan tenggelamnya kapal perang Korea Selatan, Cheonan, di Laut Kuning pada Maret, yang menewaskan 46 pelautnya. Namun sesaat setelah itu PBB menghentikan kecaman terhadap negara komunis itu.

Pernyataan itu menggarisbawahi "pentingnya mencegah terjadinya serangan-serangan semacam selanjutnya atau permusuhan terhadap (Korea Selatan)," dan memuji Seoul karena telah menunjukkan sikap "menahan diri" sejak serangan itu.

Kementerian luar negeri Korea Selatan menyambut baik sikap PBB tersebut.

"Pernyataan Dewan Keamanan (DK) sangat penting sebagai kecaman masyarakat internasional atas serangan Korea Utara terhadap Cheonan dengan satu suara, dan menegaskan pentingnya pencegahan provokasi-provokasi lebih lanjut terhadap Korea Selatan," ujarnya.

"Pemerintah menyerukan Korea Utara agar menghormati semangat dari pernyataan itu, menerima dengan tegas tanggung jawabnya dan minta maaf."

Seorang juru bicara kementerian pertahanan mengatakan, Korea Selatan akan terus maju dengan latihan angkatan laut dengan AS di Laut Kuning, meskipun terdapat protes-protes dari China.

"Tidak ada perubahan sikap kami untuk melakukan latihan militer bersama," kata juru bicara itu kepada AFP, beberapa jam setelah pernyataan DK PBB dikeluarkan.

"Namun demikian, tanggal dan metode latihan belum diputuskan," katanya menambahkan.

Kantor berita Yonhap mengutip seorang pejabat tinggi militer yang tidak disebut namanya Sabtu mengatakan, bahwa sebuah kapal induk AS tampaknya akan ikut ambil bagian dalam latihan tersebut.

China Kamis memperingatkan AS dan Korea Selatan terhadap rencana latihan militer di dekat wilayah perairannya, dan menyerukan kepada mereka agar tidak menambah ketegangan-ketegangan dengan sekutunya, Korea Utara.

Korea Selatan, merujuk penemuan-penemuan investigasi multinasional, menuduh Korea Utara men-torpedo kapal perangnya.

Pyongyang marah dan menolak bertanggungjawab serta mengancam akan melakukan perang atau mati dalam membalas kecaman di PBB mengenai insiden itu.

Latihan militer semula akan dilakukan bulan lalu, namun ditunda sampai DK PBB menyelesaikan pembahasan tenggelamnya kapal tersebut.

Korea Selatan mengumumkan pihaknya juga melakukan balasan non militer terhadap Korea Utara, termasuk larangan sebagian perdagangan dan menyerukan DK PBB mengeluarkan kecaman kepada Pyongyang.

Sumber: ANTARA


Korsel Sambut Baik Pernyataan Soal Kapalnya

0

Seoul (ANTARA News) - Korea Selatan hari Jumat menyambut baik pernyataan Dewan Keamanan PBB mengenai penenggelaman kapal perang negara itu. PBB mendesak Korea Utara mengendalikan diri dari provokasi lebih lanjut dan mengakui kesalahan atas serangan itu.

DK PBB mengecam penenggelaman kapal Cheonan pada 26 Maret namun tidak secara langsung menyalahkan Korea Utara, meski AS dan Korea Selatan meminta kecaman PBB terhadap negara komunis itu.

"Pernyataan presiden DK itu mengandung makna penting bahwa masyarakat internasional mengecam serangan Korea Utara terhadap kapal Cheonan dengan satu suara dan menekankan pentingnya mencegah provokasi selanjutnya" terhadap Korea Selatan, kata juru bicara kementerian luar negeri di Seoul, Kim Young-sun, seperti dikutip kantor berita Yonhap.

"Pemerintah mendesak Korea Utara tidak melakukan lagi provokasi atau bertindak yang melukai perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea, dengan menanggapi secara serius sikap kuat masyarakat internasional bahwa provokasi terhadap Korea Selatan tidak akan ditoleransi," katanya.

Kim juga mendesak Korea Utara mengakui tanggung jawabnya dan meminta maaf, kata Yonhap.

Teks pernyataan Dewan Keamanan PBB tidak secara langsung menyalahkan Korea Utara (DPRK) atas serangan tersebut, meski penyelidikan internasional menyalahkan Pyongyang atas insiden mematikan itu.

Pernyataan yang dibacakan presiden DK saat ini, Duta Besar Nigeria untuk PBB Joy Ogwu, mengatakan bahwa terkait dengan hasil penyelidikan "yang menyimpulkan bahwa DPRK bertanggung jawab atas penenggalaman Cheonan, DK mengungkapkan keprihatinan terbesarnya".

Korea Utara membantah terlibat dalam tenggelamnya kapal Cheonan di dekat perbatasan laut yang disengketakan kedua negara Korea itu.

Hubungan antara kedua negara Korea itu memanas akhir-akhir ini terkait dengan tenggelamnya kapal Korea Selatan itu.

Penyelidik internasional pada 20 Mei mengumumkan hasil temuan mereka yang menunjukkan bahwa sebuah kapal selam Korea Utara menembakkan torpedo berat untuk menenggelamkan kapal perang Korea Selatan itu, dalam apa yang disebut-sebut sebagai tindakan agresi paling serius yang dilakukan Pyongyang sejak perang Korea 60 tahun lalu.

Sebanyak 46 orang awak Korea Selatan tewas ketika kapal perang itu tenggelam di dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan dengan wilayah utara pada Maret lalu dalam kondisi misterius setelah ledakan yang dilaporkan.

Korea Selatan mengumumkan serangkaian pembalasan yang mencakup pemangkasan perdagangan dengan negara komunis tetangganya itu.

Korea Utara membantah terlibat dalam insiden tersebut dan membalas tindakan Korea Selatan itu dengan ancaman-ancaman perang.

Seorang diplomat Korea Utara mengatakan, Kamis (3/6), ketegangan di semenanjung Korea setelah tenggelamnya kapal perang Korea Selatan begitu tinggi sehingga "perang bisa meletus setiap saat".

Dalam pernyataan pada Konferensi Internasional mengenai Perlucutan Senjata, wakil utusan tetap Korea Utara untuk PBB di Jenewa, Ri Jang-Gon, menyalahkan "situasi buruk" itu pada Korea Selatan dan AS.

"Situasi semenanjung Korea saat ini begitu buruk sehingga perang bisa meletus setiap saat," katanya.

Kedua negara Korea itu tidak pernah mencapai sebuah perjanjian pedamaian sejak perang 1950-1953 dan hanya bergantung pada gencatan senjata era Perang Dingin.

Sumber: ANTARA


Rabu, 23 Juni 2010

Kim Diduga Perintahkan Tenggelamkan Cheonan

0


Seoul (ANTARA News) - Seorang mantan agen Korea Utara - yang mengaku pernah menjalankan perintah Kim Jong-Il mengebom pesawat terbang Korea Selatan pada 1987 - mengatakan, dia percaya bahwa Kim juga yang memerintahkan menenggelamkan kapal perang Korea Selatan itu Maret lalu.

Kim Hyun-Hee, wanita agen yang dijatuhi hukuman mati namun kemudian dimaafkan karena peranannya dalam peledakan pesawat yang menewaskan 115 orang itu, dikutip oleh Monthly Chosun, majalah bulanan yang diterbitkan oleh surat kabar Chosun Ilbo, sebagaimana dikutip dari AFP.

"Tidak ada insiden besar seperti itu yang bisa terjadi tanpa perintah Kim Jong-Il," kata mantan agen tersebut, yang kini hidup di bawah pengawalan Korea Selatan.

"Meskipun rencana dan persiapan dilakukan oleh militer, namun konfirmasi akhir harus datang dari Kim."

Kim Jong-Il secara resmi mengambil alih sebagai pemimpin Korea Utara setelah ayahnya Kim Il-Sung meninggal pada 1994. Namun dia telah mengembangkan peranannya sejak tahun 1980-an.

Ketegangan-ketegangan lintas-perbatasan telah meningkat tajam sejak Korea Selatan - merujuk pada hasil penemuan investigasi multinasional - menuduh tetangganya itu mentorpedo kapal perang tersebut pada Maret, yang menewaskan 46 pelaut.

Korea Utara, yang membantah terlibat, mengancam akan melakukan balasan militer jika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) menjatuhkan kecaman seperti yang diinginkan Seoul.

Mantan agen Kim itu mengatakan, orang yang menolak menerima hasil penyelidikan "takut pada kebenaran bahwa Korea Utara yang melakukan, dan mereka tidak menyukai hal itu."

Dia mengatakan, Korea Utara masih membantah keterlibatannya dalam pemboman penerbangan Korean Air pada 1987.

"Itu adalah penolakan tetap terhadap sesuatu yang telah lewat. Penenggelaman kapal perang Cheonan membuat saya menyadari bahwa strategi Korea Utara tidak berubah."

Bekas agen itu mengatakan, Korea Utara meledakkan bom pesawat itu ketika dalam penerbangan di atas lautan, untuk menghancurkan bukti,

"Berusaha untuk menjatuhkan pesawat ke lautan dalam untuk menghabis semua jejak, dan berusak menghancurkan semua bukti bahwa mereka menyerang kapal selam itu dengan torpedo ... semuanya sama,"

Korea Selatan, menurutnya, "Harus mengambil kebijakan keras terhadap teroris untuk mencegah hal seperti ini terjadi lagi."

Pesawat tersebut dalam penerbangan dari Baghdad ke Seoul melalui Bangkok ketika pesawat itu meledak di atas Lautan Andaman.

Dua agen Korea Utara naik dari Baghdad dan keluar dari pesawat saat singgah di Teluk, setelah meninggalkan sebuah bom waktu di kompartemen atas.

Mereka ditahan ketika mereka berusaha meninggalkan Bahrain dengan menggunakan paspor palsu Jepang.

Keduanya kemudian segera menelan kapsul cyanida. Agen pria itu tewas namun Kim bertahan hidup.

Dia dibawa ke Seoul, di mana dia mengakui bahwa Kim Jong-Il pribadi mengetahui misinya tersebut.

Setelah mendapat penangguhan hukuman mati, Kim menerbitkan sebuah buku berjudul "Tears of My Soul" yang menuturkan pelatihannya di sekolah intel Korea Utara.

Dia menyumbangkan semua pendapatan dari buku tersebut kepada keluarga-keluarga korban pemboman itu.

Dia menikah dengan salah seorang pengawal keamanannya dan kini dalam usia akhir 40 tahunan.

Sumber: ANTARA


Minggu, 20 Juni 2010

Indonesia Akan Beli Tiga Kapal Corvette dari Belanda

0


TNI Berencana Membeli 3 Korvet Dari Belanda
TEMPO Interaktif, Garut - Untuk membantu armada tempur di lapangan, Depertemen Pertahanan berencana membeli tiga kapal Corvette. Kapal perang ini merupakan kapal terbaru dengan teknologi kemiliteran terkini yang akan dimiliki lembaga pertahanan Indonesia.

“Ini sudah sebuah kebutuhan di lapangan, kita datangkan tiga kapal itu,” ujar Kepala Depertemen Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertahanan Republik Indonesia Pos M Hutabarat, saat mengikuti peluncuran Roket mitigasi bencana di Garut, Minggu (20/6).

Dijelaskan Pos, kapal tersebut memiliki daya jelajah yang handal, cepat dengan kemampuan daya tempur yang luar biasa. Diharapkan keberadaannya akan membantu teknologi pertahanan negara. “Teknologi yang dimilikinya terbaik untuk saat ini,” ujarnya.

Namun untuk merealisasikan hal itu tidak mudah. Sebab, harga satu kapal perang tersebut sebesar Rp 1,6 triliyun. Sehingga tak sedikit anggaran negara yang terpakai untuk membeli empat kapal perang yang didatangkan dari negeri ratu Beatrix tersebut.

"Bisa dibayangkan untuk satu kapal itu sebanding dengan 600 Puskesmas atau 400 ribu ton beras," ujarnya.

Untuk mendukung langkah itu, kata dia, langkah yang dilakukan adalah lembaganya telah mengajukan anggaran ke Dewan Perwakilan Rakyat dengan mengganggarkan dari kas negara. Hingga kini Dewan telah mengganggarkan sekitar Rp 800 miliar.

Sedangkan tahap kedua akan melakukan kerjasama dengan pihak luar yang mampu membiayai pembelian kapal tersebut dengan jangka pembayaran bertahap. “Diharapkan pembayarannya bisa dilakukan antara 7-10 tahun,”ujarnya.

Sumber: TEMPO


Sabtu, 29 Mei 2010

Korut Kembali Menolak Bukti Tenggelamnya Kapal Perang Korsel

0


SEOUL--MI: Korea Utara (Korut) menolak mentah-mentah bukti yang menunjukkan negara itu mentorpedo kapal perang Korea Selatan sehingga menewaskan 46 orang, dan mengatakan Pyongyang tidak memiliki kapal selam kecil yang dituduh digunakan untuk menyerang korvet Cheonan Maret lalu.

Komisi Pertahanan Nasional (NDC) Korea Utara, yang memiliki kekuasaan besar dan dipimpin oleh pemimpin Kim Jong-Il, mengadakan konferensi pers yang jarang dilakukan Jumat (28/5), dan membantah keterlibatan Pyongyang, menurut media resmi Korea Utara.

Mayjen Pak Rim Su, direktur bagian kebijakan NDC, mengatakan Korea Utara tidak memiliki kapal selam "kelas-Salmon" dengan bobot 130 ton, yang menurut Korea Selatan telah mentorpedo korvet Cheonan, 1.200 ton di perbatasan kedua negara, Laut Kuning.

"Kami tak punya kapal selam sejenis kelas-Salmon 130 ton," kata Pak seperti dikutip oleh TV Chungang, saat berbicara dengan para wartawan. Investigasi multinasional yang dipimpin Seoul awal bulan ini menyimpulkan bahwa tenggelamnya kapal itu pada 26 Maret disebabkan oleh serangan torpedo Korea Utara.

Para penyelidik Korea Selatan mengatakan kapal selam kecil kelas-Salmon telah menerobos ke dalam perairan Korea Selatan melalui perairan internasional. Namun Pak mengatakan, "Tak mungkin dipandang dari segi militer bahwa kapal selam berbobot 130 ton membawa torpedo seberat 1,7 ton menyusuri laut terbuka memasuki perairan Korea Selatan, menenggelamkan kapal dan kembali ke tanah air."

Dia juga membantah tuduhan Seoul bahwa kepingan yang diambil dari torpedo dirancang khusus yang ditampilkan di brosur Korea Utara, yang diduga dikirimkan kepada pembeli potensial yang tak disebutkan identitasnya dari torpedo Korea Utara. "Siapa di dunia ini yang menyerahkan rancang-bangun torpedo pada saat penjualannya," katanya.

Kolonel senior Ri Son Gwon mengesampingkan nomor seri tulisan tanga pada kepingan torpedo, yang terbaca 1 beon atau nomor satu adalah palsu. Korea Selatan mengatakan nomor seri tulisan tangan dalam bahasa Korea itu adalah bukti kuat keterlibatan Pyongyang dalam tenggelamnya kapal tersebut.

"Ketika kami mengambil nomor seri pada senjata-senjata itu, kami mengukirnya dengan mesin," kata Ri. "Kami gunakan 'bun' hanya untuk para pemain sepak bola atau bola basket," ia menjelaskan.

Ri mengecam insiden itu sebagai bikinan "panglima angkatan bersenjata negara boneka dan bos militernya". Pak mengatakan tim investigasi multinasional yang dipimpin Seoul tidak dalam posisi untuk melakukan pemeriksaan obyektif, dan menyerang Seoul berkaitan dengan penolakan tuntutan Pyongyang bahwa pihaknya akan memberangkatkan tim investigasi mereka.

Sumber: MEDIA INDONESIA


China tidak Akan Lindungi Penyerang Kapal Korsel

0


SEOUL--MI: China tidak akan melindungi siapapun yang bersalah atas tenggelamnya sebuah kapal perang Korea Selatan.

Perdana Menteri China Wen Jiabao yang mengunjungi Seoul, Jumat (28/5), membuat pernyataan itu dalam satu pertemuan dengan Presiden Kora Selatan Lee Myug Bak.

Korea Selatan menyalahkan Korea Utara atas tenggelamnya sebuah kapal perangnya 26 Maret yang menewaskan 46 awaknya. Seoul mendesak China mendukung usaha diplomatiknya untuk mengenakan sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara.

Wen mengemukakan kepada Lee bahwa China akan memutuskan sikapnya mengenai masalah itu "secara adil" setelah meninjau
penyelidikan-penyelidikan internasional.

"Pemerintah China akan meninjau hasil penyelidikan-penyelidikan internasional dengan cermat dan mempertimbangkan reaksi-reaksi yang serius dari negera-negara yang terkait," kata Wen yang dikutip juru bicara Presiden Lee.

"China kemudian akan menentukan sikapnya mengenai masalah ini dalam sikap yang obyektif dan adil. Menurut hasil penyelidikan, China tidak akan melindungi siapapun."

China adalah satu-satunya sekutu penting Korea Utara. Tidak seperti halnya negara-negara lain. China sejauh ini tidak menyalahkan Pyongyang atas insiden tenggelamnya kapal perang Cheonan Korea Selatan itu.

Sumber: Media Indonesia


Senin, 24 Mei 2010

AS Minta China Bekerjasama Soal Tenggelamnya Kapal Korsel

0


BEIJING--MI: Menlu AS Hillary Clinton meminta China untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh penenggelaman kapal angkatan laut Korea Selatan oleh Korea Utara.

Ia menyampaikan permintaan itu pada awal pembicaraan tingkat tinggi dengan China di Beijing, Senin (24/5). AS ingin China ikut dalam pengecaman internasional terhadap Korea Utara, yang Korea Selatan katakan bertanggungjawab karena mentorpedo kapal perangnya, Cheonan, pada 26 Maret, yang menewaskan 46 tentara.

China adalah pendukung politik dan ekonomi besar satu-satunya Korea Utara, dan Beijing telah menghindari komentar tegas terbuka mengenai tenggelamnya kapal itu, malahan menyampaikan simpati pada orang-orang Korea Selatan yang tewas dan minta semua pihak untuk menunjukkan pengendalian diri.

China telah menjengkelkan Korea Selatan awal bulan ini dengan menjadi tuan rumah bagi pemimpin Korut Kim Jong-il dalam lawatan ke luar negeri yang jarang dilakukannya.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Minggu, 23 Mei 2010

Korut Minta Penyelidiknya Diikutkan Periksa Cheonan

0


illustrasi Komisi Pertahanan Nasional (NDC)


SEOUL--MI: Korea Utara Sabtu (22/5) menuntut Korea Selatan harus menerima tim investigasi Pyongyang dan menunjukkan kepada mereka bukti bahwa Korea Utara yang menorpedo kapal perang Korea Selatan. Insiden tersebut menewaskan 46 pelaut itu.

"Tidak ada alasan apapun bagi pihak selatan untuk menolak menerima kelompok inspeksi dari Komisi Pertahanan Nasional (NDC), jika hasil-hasil investigasi tersebut obyektif dan ilmiah, seperti yang diakui oleh pihak selatan," kata Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Yong-Chun dalam pesan yang dikirim ke Selatan.

"Pihak selatan harus segera menerima kelompok inspeksi ini... dan menunjukkan materi bukti tanpa sobekan yang meragukan sebelumnya," katanya seperti yang dikutip oleh Kantor Berita Resmi Korea Utara, KCNA.

Satu penyelidikan multinasional yang dipimpin Korea Selatan Kamis (20/5) menyimpulkan bahwa ada bukti kuat bahwa torpedo Korea Utaralah yang membuat korvet berbobot 1.200 ton itu terbelah menjadi dua pada 26 Maret, di Laut Kuning, perbatasan yang mereka sengketakan.

Dalam tanggapan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, NDC yang memiliki kekuasaan besar di Korea Utara, yang dipimpin pemimpin Kim Jong-Il, Kamis mengatakan, laporan-laporan itu berdasarkan 'bikinan belaka.'

Namun Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Tae-Young, Jumat menolak tuntutan Korea Utara itu sebagai 'pencemaran', dan mengatakan bahwa hal itu 'sama saja dengan seorang perampok atau pembunuh yang bersikeras minta diperiksa di tempat kejadian.'

Korea Selatan Jumat mengatakan, Korea Utara harus menghadiri perundingan militer dengan Komando Perserikatan Bangsa Bangsa (UNC) yang dipimpin Amerika Serikat, setelah komando tersebut menyelesaikan investigasi meninjau ulang penemuan-penemuan penyelidikan, dan memutuskan apakah itu pelanggaran gencatan senjata karena menyebabkan Cheonan tenggelam.

UNC telah berada di Korea Selatan sejak PBB mengirim pasukan internasional untuk mempertahankan gencatan senjata, setelah Perang Korea pecah pada 1950.

Konflik tersebut berakhir pada 1953 dengan gencatan senjata tapi tanpa adanya perjanjian perdamaian.

Namun demikian, menteri keamanan Korea Utara Sabtu mengatakan, UNC tidak berwenang ikut campur dalam urusan ini, dan menegaskan masalah itu ada kaitannya dengan kedaulatan wilayah perairan kedua Korea yang harus ditangani oleh militer kedua pihak.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Kamis, 20 Mei 2010

China Imbau Dua Korea Menahan Diri

0


BEIJING, KOMPAS.com — Meningkatnya ketegangan antara dua Korea akibat tenggelamnya kapal perang Korea Selatan memaksa China ikut campur tangan.

Pemerintah China mengimbau Korea Selatan dan Korea Utara untuk saling menahan diri menyikapi hasil dari penyidikan terkait tenggelamnya kapal Angkatan Laut Korea Selatan yang diduga akibat serangan terpedo yang mematikan.

Pihak Pemerintah China juga menyatakan akan mempelajari penemuan penyelidikan itu. "Kami mengimbau agar kedua Korea tetap tenang dan berusaha menahan diri," kata juru bicara kementerian luar negeri, Ma Zhaoxu, Kamis (20/5/2010).

"Kami bersikap demi menyelamatkan perdamaian dan stabilitas kawasan, mempromosikan perundingan enam negara dan perlucutan senjata nuklir di semenanjung Korea," katanya, merujuk pada perundingan-perundingan yang macet untuk menghentikan program nuklir Korea Utara.

Menurutnya, China juga membuat prakiraan dari hasil-hasil penyelidikan internasional. Namun, ini tidak berarti Beijing akan melancarkan pemeriksaan sendiri.

Negara adidaya dunia mengecam Korea Utara berkaitan dengan insiden tenggelamnya kapal perang Korea Selatan yang menewaskan 46 orang. AS, Jepang, dan PBB mengutuk insiden tersebut.

Sumber: KOMPAS


Korut Bantah Tenggelamkan Kapal Korsel

0


SEOUL--MI: Korea Utara Kamis (20/5) kembali membantah telah menenggelamkan kapal perang Korea Selatan dan memperingatkan 'perang skala penuh' jika sanksi baru dijatuhkan, kantor berita Korsel Yonhap melaporkan.

Bantahan tersebut dilakukan Komisi Pertahanan Nasional Utara (NDC) menanggapi laporan yang dikeluarkan di Seoul oleh tim multinasional yang telah menyelidiki tenggelamnya kapal perang jenis korvet tersebut pada 26 Maret itu.

Laporan itu mengatakan sebuah kapal selam Korea Utara telah menembakkan torpedo yang meledakkan sebagian kapal dan mengakibatkan 46 orang tewas.

Yonhap, yang memonitor media Korea Utara, menyatakan, NDC dalam pernyataan yang disiarkan di radio Utara melukiskan laporan itu sebagai pemalsuan.

Pernyataan itu mengatakan Utara akan mengirim penyelidiknya sendiri ke Selatan untuk memeriksa bukti yang dimaksudkan.

"Kami akan mengambil tindakan keras termasuk perang skala penuh jika sanksi terhadap Korea Utara diterapkan," kata badan siaran itu seperti dikutip oleh Yonhap.

NDC, yang dipimpin oleh pemimpin Korut Kim Jong-Il, adalah badan negara yang sangat berpengaruh di Utara yang komunis. Pernyataannya melukiskan Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak sebagai seorang 'pengkhianat'.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Kamis, 13 Mei 2010

Korea Selatan Persalahkan Korea Utara

0


SEOUL, KOMPAS.com - Para pejabat senior Korea Selatan Kamis (13/5/2010) memberikan isyarat, Korea Utara akan dipersalahkan karena karamnya kapal perang Korea Selatan yang menelan banyak korban, di perbatasan laut mereka.

"Karamnya kapal Cheonan menunjukkan kepada dunia betapa kejam perpecahan di Semenanjung Korea," kata Menteri Unifikasi Korea Selatan, Hyun In-taek, dalam satu forum di Seoul.

Komentarnya itu muncul beberapa jam setelah pembantu presiden bidang politik mengatakan, dugaan serangan pihak luar sangat tinggi yang menyebabkan karamnya korvet berbobot 1.200 ton di Laut Kuning itu.

"Dari sudut pandang ini, ini adalah situasi gawat yang memprihatinkan keamanan nasional," kata Park Hyung-joon dalam wawancara radio.

Berbagai skenario, seperti menabrak karang atau faktor kelelahan telah diuji untuk menjelaskan karamnya kapal pada 26 Maret, yang menewaskan 46 awak kapal itu.

Namun para penyelidik Korea Selatan, dibantu oleh beberapa negara termasuk Amerika Serikat, mengatakan bahwa ledakan di luar kapal itu mungkin disebabkan oleh hantaman terpedo, itu sebab yang paling mungkin.

Mereka memperkirakan akan mengumumkan hasil pemeriksaan mereka itu secepat mungkin pada pekan depan, kata para petinggi Seoul.

Pada awal bulan ini, Presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak, menyatakan kemungkinan kapal itu karam karena insiden biasa, dan berjanji akan memberikan tindakan tegas bagi yang bertanggungjawab.

Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih dalam status perang setelah Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian.

Angkatan laut kedua negara terlibat tiga pertempuran singkat di perbatasan Laut Kuning sejak 1999, bentrokan terakhir terjadi pada November tahun lalu.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 07 Mei 2010

Kapal Korsel Karam akibat Terpedo

0


SEOUL--MI: Para penyelidik kapal angkatan laut Korea Selatan yang karam dan menelan banyak korban pada Maret dekat Korea Utara menyimpulkan, bahwa terpedo menjadi penyebab ledakan yang merusak kapal perang tersebut.

Tim Korea Selatan dan para penyelidik asing menemukan jejak ledakan-ledakan yang digunakan dalam terpedo pada beberapa bagian kapal yang tenggelam itu, di samping kepingan-kepingan logam yang digunakan dalam senjata sejenis itu, kata kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mengutip seorang penjabat senior pemerintah, Jumat (7/5).

Para penjabat Korea Selatan secara tidak resmi menuduh Korea Utara, namun hanya sedikit rahasia yang mereka miliki tentang keterlibatan Pyongyang terkait tenggelamnya korvet Cheonan berbobot 1.200 ton itu.

Peristiwa itu terjadi di dekat perbatasan laut yang mereka sengketakan, diduga sebagai balasan atas serangan yang membuat terbakarnya kapal angkatan laut Korut tahun lalu.

Serpihan logam dan residu kimia yang ditemukan sama seperti jenis terpedo buatan Jerman. Ini mengisyaratkan bahwa Korut diduga sedang berusaha menyimpangkan keterlibatannya dengan menghindarkan senjata buatan China sekutunya dan Rusia, kata Yonhap mengutip penjabat itu.

Korea Utara telah membantah keterlibatannya dan menuduh pemerintah Presiden Korsel Lee Myung-Bak berupaya menggunakan insiden itu untuk meraih dukungan politik menjelang pemilihan lokal Juni depan.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Minggu, 25 April 2010

Korsel: Torpedo Penyebab Tenggelamnya Kapal

0


SEOUL--MI: Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengatakan, torpedo kemungkinan menjadi penyebab ledakan yang menenggelamkan kapal perang AL mereka di dekat batas perairan yang menjadi sengketa dengan Korea Utara (Korut).

"Efek 'buble jet', yang mengakibatkan kapal tenggelam, kemungkinan besar disebabkan oleh torpedo berdaya ledak kecil," kata Menteri Pertahan Korsel Kim Tae-young, Minggu (25/4).

Meski demikian, Pemerintah Korsel tidak langsung menuduh seterunya Korut, namun tetap menaruh curiga terkait aksi-aksi provokasi penyerangan-penyerangan terhadap Korsel.

Kapal perang AL Korsel Cheonan sedang melakukan patroli rutin pada 26 Maret lalu ketika ledakan membelah kapal tersebut dan akhirnya tenggelam. Peristiwa ini merupakan peristiwa terburuk sepanjang sejarah AL Korsel. Sedikitnya 40 kru kapal tewas.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 21 April 2010

Kapal Korsel Ditembaki Torpedo

0


Seoul, Selasa - Hubungan negara serumpun Korea Selatan dan Korea Utara menegang lagi. Ketegangan muncul setelah tim penyelidik Korsel memastikan bahwa kapal korvetnya berbobot 1.200 ton, KM Cheonan, yang tenggelam 26 Maret, diduga ditembaki torpedo Korut.

Seorang aktivis berbasis di Seoul, Selasa (20/4), menuduh tentara Korut ada di balik insiden tenggelamnya Cheonan. Aktivis mengutip penjelasan seorang perwira militer dari Korut yang mengaku bertanggung jawab atas musibah ”peledakan” hingga kapal tenggelam. Saat itu 58 awak selamat dan 38 orang tewas.

Hasil investigasi tim Korsel tidak lama setelah insiden itu menjelaskan, kapal meledak bukan dibom, melainkan ditembaki torpedo. Penyelidik belum memastikan asal torpedo. Penjelasan aktivis semakin menegaskan dugaan pejabat Korsel sebelumnya bahwa torpedo itu ditembakkan Angkatan Laut Korut.

Terkait kasus Cheonan, Seoul tetap tidak terang-terangan menyalahkan Pyongyang. Korut menyangkal bahwa torpedo yang menyasar ke korvet Korsel itu berasal dari angkatan lautnya. Persoalan ini membuat hubungan kedua negara tegang lagi. Korut, Selasa, mengancam mengakhiri proyek kerja sama di sebuah kawasan industri di perbatasan kedua negara, tepatnya di Kaesong.

Kedua Korea ini memang tidak pernah menandatangani perjanjian damai sejak Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata. Meski begitu, kedua negara serumpun itu sudah tiga kali terlibat bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan laut. Terakhir terjadi pada November lalu.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 03 April 2010

Russia's Black Sea Fleet may lose all warships by 2015

0


The majority of warships in the Russian Black Sea Fleet have been in service for over 30 years and would not be fit for sea missions by 2015, a Russian newspaper said.
"The crews will certainly try to keep their ships in decent condition until the last moment, but the "iron" has its service life. Nobody would dare to set sail on a ship whose bottom has rotten away," the Gazeta newspaper said on Friday citing a Navy source.
Earlier reports indicated that the Black Sea Fleet is set to decommission the Ochakov destroyer and a diesel submarine built in 1982. Next on the "scrap" list are the Kerch destroyer and several large support ships.
The fleet does not expect any additions in 2010 and the prospects of new deliveries in the next few years are also quite slim, the source said.
The official said the only solution for the looming crisis would be the construction of at least a dozen of Project 20380 corvettes which have been designed to protect Russia's coastal waters and oil and gas sea transportation routes, especially in the Baltic Sea and the Black Sea.
The first Project 20380 corvette, the Steregushchy, was put into service with Russia's Baltic Fleet in October 2008. The second, the Soobrazitelny, was floated out on March 31, and two other ships of the same series, the Boyky and the Stoyky, are under construction.
The source said that the Russian shipbuilding industry simply does not have the capacity to build the sufficient number of warships and submarines to satisfy the needs of the fleet.
"All shipbuilding yards are swamped with foreign orders years ahead, and it is difficult to raise the production capacity even with sufficient financing because they do not have enough skilled workers," the source said.
He expressed hope that Russia would be able to order some warships to be built at Ukrainian shipyards now that Moscow and Kiev have set step on the way to improve relations that soured during the presidency of Viktor Yushchenko.

From: http://en.rian.ru/mlitary_news/20100403/158417122.html


Selasa, 30 Maret 2010

Russia set to float out 2nd stealth corvette

0

St. Petersburg's Severnaya Verf shipyard will float out on Wednesday a new corvette featuring stealth technology, a Russian Navy spokesman said.

The Soobrazitelny is the second Project 20380 corvette designed by the Almaz Central Marine Design Bureau.

"The corvette features innovative solutions regarding hull design, armament, communications and electronics," the spokesman said.

The first Project 20380 corvette, the Steregushchy, was put into service with Russia's Baltic Fleet in October 2008, and two other ships of the same series, the Boyky and the Stoyky, are under construction.

The Project 20380 corvette can be deployed to destroy enemy surface ships, submarines and aircraft, and to provide artillery support for beach landings. It uses stealth technology to reduce the ship's secondary radar field, as well as its acoustic, infrared, magnetic and visual signatures.

Russia plans to have up to 30 vessels of this class to ensure the protection of its coastal waters, as well as its oil and gas transportation routes, especially in the Black and the Baltic seas.

Each corvette has a displacement of 2,000 metric tons, maximum speed of 27 knots, and a crew of 100

From: RIA




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin