Tampilkan postingan dengan label VENEZUELA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VENEZUELA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

Venezuela Beli Senjata Rusia

0

Sukhoi AU Venezuela

Caracas (ANTARA News) - Rusia memberikan kredit empat miliar dolar kepada Venezuela untuk membeli senjata ketika Presiden Hugo Chavez mengunjungi Moskow bulan lalu, menambah miliaran dolar yang sudah dikeluarkan negara itu untuk memperlengkapi kembali senjata tentara.

Venezuela dan Rusia telah menjalin hubungan erat dalam sektor energi dan pertahanan, dengan investasi Rusia pada daerah pertambangan minyak pada saat yang sama ketika Chavez menjadi salah satu dari pelanggan-pelanggan paling penting Moskow.

Washington memandang dengan curiga pembelian tank-tank, pesawat-pesawat tempur dan sistem-sistem pertahahan udara yang dilakukan Chavez dalam beberapa tahun belakangan ini tetapi presiden itu mengatakan itu untuk mememordernisasi peralatan tempur yang sudah usang.

Kami berada di Rusia tidak berapa lama dan pemerintah Rusia kini memberikan kami kredit 4 miliar dolar untuk membantu kami dengan peralatan pertahanan," kata Chavez, Sabtu dalam satu acara peringatan 90 tahun angkatan udara Venezuela.

"Kami hanya melakukan tugas mempertahankan tanah air dari ancaman "empire" dan sekutu-sekutunya."

Chavez tidak merinci tentang peralatan yang akan dibeli dengan menggunakan uang Rusia itu. Pada April, Perdana menteri Rusia Vladimir Putin mengatakan Venezuela sedang mempertimbangkan pembelian senjata senilai 5 miliar dolar.

Hubungan diplomatik yang buruk antara Chavez, yang pertama menang pemilihan presiden 12 tahun lalu dan Amerika Serikat yang ia sebut satu "empire", menyebabkan AS mengenakan embargo senjata terhadap Venezuela tahun 2006.

Tanpa akses ke suku cadang, armada sekitar 20 pesawat tempur F-16 buatan AS tidak bisa diperbaiki, memberikan alasan kuat bagi Chavez untuk membeli peralatan baru dari Rusia dan China.

Venezuela sedang menunggu kiriman tank-tank dan sistem pertahanan udara dari Rusia dan akan membeli 12 pesawat transpor Y-6 dari China. Beijing telah menjual kepada Venezuela pesawat latih K-8 dan satu sistem radar ekstensif untuk menggantikan sistem pengintai yang hilang akibat embargo AS.

Juga pada Sabtu, Chavez menaik pangkat Jendral Henry Rangel Silva menjadi pangkat tertinggi dalam militer. Rangel Silva masuk dalam daftar AS sebagai "gembong" karena dituduh membantu pemberontak Kolombia FARC menyelundupkan kokain.

Chavez mengatakan tuduhan-tuduhan seperti itu dimotivasi oleh satu keinginan AS untuk mendiskreditkan pemerintahnya dan mengatakan pembelian peralatan militer belum lama ini seperti sistem-sistem radar akan membantu memerangi para pedagang narkoba.

Sumber: ANTARA


Sabtu, 27 November 2010

Venezuela Beli 12 Pesawat Transpor China

0

Pesawat Angkut Y-8

KARAKAS--MICOM: Venezuela berencana akan membeli 12 pesawat transpor Y-8 dari China, kata seorang pejabat militer senior, Jumat (26/11), yang menambah satu daftar pembelian peralatan pertahanan dari negara Asia itu.

Mayjen Jorge Oropeza mengatakan pemerintah sedang merundingkan pembelian antara 10 dan 12 pesawat transpor jarak menengah yang memiliki jangkauan terbang 7,5 jam.

"Pesawat-peswat Y-8 ini akan menambah operasi-operasi kami dengan Hercules C-130," katanya. Jangkauan terbang pesawat-pesawat itu meluas di seluruh Amerika Selatan dan ke Spanyol.

Ia tidak mengungkapkan dana bagi pengadaan pesawat-pesawat itu.

Presiden Venezuela Hugo Chavez telah membeli perangkat keras militer miliaran dolar Amerika Serikat dari Rusia dan China untuk mengganti peralatan yang sudah usang.

Embargo senjata yang diberlakukan Amerika Serikat menyebabkan armada udara Venezuela tidak bisa diperbaiki.

China tahun ini mengirim 18 jet latih K-8 ke negara Amerika Selatan itu dan juga menjual satu jaringan radar.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 24 November 2010

Pengamat : Perang Korea Mempercepat Pembentukan Blok Baru

0

Korut Menembakkan Artileri Di Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan 3Km Dari Perbatasan Korut-Korsel(Foto: theglobeandmail.com)

Jakarta - Serangan terbuka Korea Utara ke Korea Selatan, pada 23 November 2010, bisa memancing pihak-pihak lain untuk terlibat dalam perang tersebut, atau membuka perang di belahan dunia lain. Meski tidak ada lagi Blok Barat dan Blok Timur, namun perang Korea masih memancarkan terjadinya peperangan kedua blok itu. Korea Utara sebagai negara yang masih menganut ideologi komunisme sosialisme, sementara Korea Selatan berwajah negara kapitalisme.

Perang Korea menjadi simbol perlawanan dari kelompok yang selama ini ditindas oleh Amerika Serikat dengan kelompok yang menjadi sekutu Amerika Serikat, sehingga perang Korea itu bisa jadi sangat menarik dan mendapat dukungan dari Iran dan Venezuela. Sebab selama ini Korea Utara, Iran dan Venezuela adalah negara yang merasakan arogansi Amerika Serikat.

Dengan adanya Perang Korea, maka negara yang selama ini mempunyai visi dan misi yang sama untuk melawan ketidakadilan dunia, notabene dilakukan oleh Amerika Serikat, maka negara itu akan mempercepat pembentukan blok baru. Pembentukan blok baru itu bagi mereka adalah sebuah keniscayaan sebab Amerika Serikat sebagai sebuah negara dalam menjalan politik luar negerinya tidak sendiri. Di belakang Amerika Serikat, ada Inggris, Australia dan beberapa negara Eropa lainnya.

Salah satu kemungkinan terjadinya pembentukan blok baru itu adalah persekutuan negara-negara Amerika Latin dan Iran. Rintisan itu sudah dilakukan oleh Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Presiden Venezuela Hugo Chaves, Presiden Bolivia Evo Moralles, dan Brasil ketika dipimpin oleh Lula da Silva.

Paling semangat dalam melawan arogansi Amerika Serikat dilakukan oleh Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves. Bisa dikatakan hubungan antara Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves sebuah hubungan yang unik dan sangat spesial. Di antara kedua pemimpin itu disebut telah mengadakan pertemuan hingga sampai 9 kali. Dalam setiap pertemuan, kedua pemimpin selain menyepakati peningkatan hubungan kedua negara, keduanya secara lantang juga menyerukan perlawanan terhadap kekuatan imperalisme dan globalisasi yang dikemudikan oleh Amerika Serikat.

Perbedaan ideologi dan agama kedua negara bukan menjadi sekat atau hambatan kedua negara untuk bersatu melawan arogansi Amerika Serikat. Setiap kebijakan politik luar
negeri yang dikeluarkan oleh Mahmud Ahmadinejad pasti akan didukung oleh Hugo Chaves, demikian sebaliknya. Ketika Eropa, Amerika Serikat, dan Israel, merasa prihatin atas terpilihnya Mahmud Ahmadinejad dalam pilpres Iran yang lalu, Hugo Chaves justru orang yang mengucapkan selamat atas terpilihnya Mahmud Ahmadinejad.

Dalam pertemuan di Iran, Oktober 2010, Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves menyepakati komitmen untuk membangun tata dunia baru guna menghapus dominasi Barat di pentas global. Saat di Teheran, Hugo Chaves bahkan mengatakan, imperialisme (Amerika Serikat) telah memasuki tahap penurunan dan seperti seekor gajah yang sedang menuju pemakaman.

Dalam menggalang kekuatan baru dunia, Mahmud Ahmadinejad tidak hanya bersepakat dengan Hugo Chaves, namun juga dengan Presiden Brasil, saat itu Luiz Inacio Lula da Silva. Dalam sebuah lawatan ke Brasil, Mahmud Ahmadinejad mengatakan, tata dunia baru harus segera dibangun di muka bumi ini. Keinginan Ahmadinejad di Brasil itu sepertinya gayung bersambut sebab Lula da Silva menyambut hangat kedatangan Mahmud Ahmadinejad itu. Bagi Amerika Serikat, sikap hangat Lula da Silva itu secara implisit mendukung program nuklir Iran. Apa yang dilakukan oleh negara bola itu bagi Amerika Serikat sebagai suatu sikap yang tidak pada tempatnya.

Apa yang diinginkan Mahmud Ahmadinejad di Brasil menjadi sebuah kenyataan, saat di Teheran, Iran, pada Mei 2010, bisa menjadi sebuah saksi bangkitnya kekuatan untuk menciptakan tata dunia baru yang selama ini didominasi oleh Barat. Pada bulan itu, Lula da Silva, PM Turki Turki Recep Erdogan, dan Mahmud Ahmadinejad mensepakati pertukaran bahan uranium Iran ke Turki, begitu sebaliknya, dari Turki ke Iran.

Kesepakatan itu otomatis akan 'melawan' kesepakatan sebelumnya, yakni Iran harus mengirim uraniumnya ke Rusia dan Perancis, dan selanjutnya Rusia dan Perancis akan mengirimkan kembali ke Iran. Dengan kesepakatan itu, maka Iran dengan di-back up oleh Brasil dan Turki akan melaksanakan kesepakatan yang baru dan mengacuhkan kesepakatan lama.

Adanya kesepakatan tiga negara tersebut, Brasil-Turki-Iran, membuat Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi berang. Dalam pembicaraan telepon dengan Erdogan, Obama mengatakan pembahasan rancangan sanksi baru terhadap Iran di forum DK PBB akan terus berlanjut walau ada kesepakatan segitiga itu.

Mengapa Turki, Iran dan negara-negara di kawasan Amerika Latin seolah-olah hendak membentuk semacam aliansi? Faktornya adalah pertama, pemimpin-pemimpin negara di kawasan Amerika Latin banyak yang berlatar belakang berideologi kiri (neososialis). Di Amerika Latin, saat ini banyak tokoh-tokoh yang berhaluan kiri, dari yang radikal sampai moderat, terpilih menjadi kepala negara atau kepala pemerintahan. Banyaknya tokoh kiri menjadi pemimpin membuat Amerika Latin bergerak ke kiri (baru). Kiri yang dimaksud di sini bisa dibaca bebas sebagai pemerintahan sosialis-marxis yang radikal seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, Cuba, ataupun sosialis-demokrat yang moderat semisal Brasil dan Cile. Meski Lula da Silva mengakhiri jabatannya sebagai presiden, sepertinya penggantinya akan meneruskan kebijakan Lula da Silva.

Kedua, di Turki bangkitnya Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP, Adalet ve Kalkinma Partisi) sebagai kekuatan baru yang mampu mengendalikan arah politik dalam dan luar negeri. Kemenangan AKP itu terlihat rakyat Turki setuju amandemen konstitusinya. Selama ini konstitusi yang dibuat oleh para jenderal yang setia kepada ideologi Mustafa Kemal Ataturk tidak menghasilkan tatanan yang demokratis. Kebebasan yang seharusnya dimiliki oleh rakyat dan partai politik pemenang pemilu sering dirampas oleh para tentara dengan alasan yang terkadang sering subjektif.

Ini terjadi ketika pada tahun 1995 ketika Partai Islam Refah yang dipimpin Necmettin
Erbakan memenangi pemilu, kemenangan itu partai Islam itu dicurigai akan mengubah haluan Turki dari sekular menuju negara Islam. Berangkat dari kecurigaan tersebut maka militer pada tahun 1997 melakukan kudeta dengan alasan mengamankan haluan negara.

Keberhasilan AKP dalam menempatkan dirinya, sejak kemenangannya pada Pemilu 2002, di mata Uni Eropa tidak menjadi masalah sebab partai itu bisa diajak kerjasama dalam membangun Uni Eropa. Keseriusan AKP untuk menjadikan Turki bagian dari Uni Eropa menjadikan negara-negara Eropa tidak mengkhawatirkan Turki sebagai sebuah ancaman. Meski Turki berubah haluan itu tidak menjadi masalah sebab Turki sudah menunjukan 'kesetiaannya' kepada Uni Eropa. Turki adalah anggota NATO dan meski mayoritas
berpenduduk Muslim.

Meski AKP ingin menjadi bagian dari Eropa, namun AKP tetap kritis dalam berhubungan
dengan negara-negara Eropa dalam mensikapi masalah nuklir Iran dan Israel. Sikap AKP
di bawah pimpinan Tayyip Erdogan dalam masalah nuklir Iran dan Israel ini menarik
simpati dan sejalan dengan mayoritas keinginan rakyat Turki, yakni melawan kesewenang-wenangan Amerika Serikat, Uni Eropa dan Israel yang melakukan ketidakadilan terhadap negara-negara Islam.

Ketiga, Blok China-Korea Utara. Perang Korea ini bagi Amerika Serikat merupakan sebuah pilihan yang sulit. Secara kepentingan, baik ideologi dan ekonomi, pasti Amerika Serikat mendukung Korea Selatan, namun tidak mudah bagi Amerika Serikat untuk menerjunkan bantuan militer dan alutsistanya kepada Korea Selatan. Bila Amerika Serikat secara vulgar menggelar kekuatan militernya untuk mendukung Korea Selatan dalam melawan Korea Utara, maka hal demikian akan memancing China untuk juga terlibat dalam perang itu. Sebagai sekutu lama dan seideologi komunis-sosialis, tentu China akan mendukung Korea Utara.

Apa yang dilakukan Turki, China, Iran, Korea Utara, Brasil, Venezuela, Bolivia dan negara lain yang sefaham dengan negara-negara itu merupakan sebuah sikap positif untuk membentuk tatanan dunia baru. Setidak-tidaknya mencegah kesewenangan-wenangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara lain.

Sumber: DETIK


Senin, 09 Agustus 2010

Venezuela-Kolombia akan berunding

0

Presiden baru Kolombia Presiden Juan Manuel Santos dan Presiden Venezuela Hugo Chavez akan bertemu hari Selasa.

Kedua presiden akan membahas sengketa diplomatik bilateral, kata kementerian luar negeri Kolombia.

Setelah pelantikan Santos hari Sabtu, Chavez mengatakan dia ingin untuk bertemu langsu dengan dia.

Sebelumnya, Chavez menyeru kelompok pemberontak sayap kiri terbesar Kolombia, Farc, membebaskan seluruh sanderanya.

Chavez di masa lalu berhasil menjadi penengah dalam kesepakatan dengan Frac untuk membebaskan sebagian sandera.

Pekan lalu, Farc mengatakan mereka bersedia untuk mencari penyelesaian politik atas konflik yang telah berlangsung 46 tahun.

Dan, Juan Manuel Santos mulai menjabat presiden dengan mengisyaratkan dia akan bersedia berunding dengan pemberontak jika mereka setuju membebaskan sandera.

Hubungan membaik
Pemberontak sudah bertahun-tahun menjadi sumber sengketa antara Venezuela dan Kolombia.

Sengketa menghangat lagi bulan lalu, di bawah kepemimpinan presiden terdahulu Kolombia, ketika Kolombia meminta sidang luar biasa Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) untuk resmi mengadukan tuduhan bahwa pemberontak Kolombia muncul di wilayah Venezuela.

Dutya besar Kolombia mengajukan video, foto dan peta. Menurut dia, semuanya membuktikan ada sekitar 1.500 pemberotnak hidup dan berlatih di kamp-kamp di Venezuela.

Hugo Chavez langsung membantah tuduhan Kolombia dan memutus hubungan diplomatik negaranya dengan Kolombia.

Ketegangan kemudian mereda; Presiden Chavez mengirimkan Menteri Luar Negeri Nicolas Maduro ke pelantikan Presiden Santos hari Sabtu.

Maduro dan Menlu Kolombia, Maria Angela Holguin, mengadakan pembicaraan di Bogota hari Minggu. Pertemuan itu membuka jalan bagi pertemuan antara Presiden Chavez and Presiden Santos.

Namun, meski hubungan dua negara bertetangga itu bakal membaik, Chavez mengisyaratkan tidak akan ada perbaikan dengan Amerika Serikat.

Hari Minggu, dia menolak nama duta besar baru yang diajukan Presiden AS untuk Venezuela.

Chavez mengatakan tidak akan menerima Larry Palmer sebagai duta besar, sebab dia pernah menyatakan secara terisrat bahwa moral di jajaran militer Venezuela dan mengangkat kekhawatiran soal pemberontak Farc mendapatkan tempat berlindung di Venezuela.

Sumber: DETIK


Sabtu, 31 Juli 2010

Chavez: Venezuela Telah Kirim Tentara

0

Pasukan Perbatasan Venezuela(foto:www.abc.net.au)

Caracas (ANTARA News) - Presiden Hugo Chaves mengatakan, Jumat, bahwa Venezuela telah mengerahkan sejumlah unit militer dan tentara ke perbatasan Kolombia, karena Presiden Alvaro Uribe yang akan mengakhiri masa tugas "mampu melakukan apa saja" ketika perselisihan meluas di antara keduanya.

Chavez memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia pada 22 Juli lalu, sepekan setelah Uribe menuduh Venezuela menyembunyikan 1.500 pemberontak sayap kiri Kolombia di wilayahnya, tuduhan yang Chavez bantah dengan keras, sebagaimana dikutip dari AFP.

"Kami telah mengerahkan unit-unit militer, pasukan udara, infantri, tapi dengan diam-diam karena kami tidak ingin mengganggu siapapun, penduduk," kata Chavez pada televisi VTV milik pemerintah dalam wawancara melalui telpon.

Pemimpin sayap kiri itu tidak menyebutkan berapa banyak tentara dan apa tepatnya perlengakpan militer yang terlibat dalam tindakan tersebut.

"Uribe mampu melakukan apa saja dalam beberapa hari terakhir ini" sebelum ia meninggalkan jabatannya pada 7 Agustus, tegas Chavez, yang juga mengancam untuk memutus pasokan minyak ke Amerika Serikat jika negara itu mendukung serangan oleh Kolombia, sekutu utamanya di kawasan itu.

Ahad lalu presiden itu membatalkan perjalanan ke Kuba, dengan menyatakan risiko serangan Kolombia yang lebih besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Uribe dan Chavez telah sering berselisih pada masa lalu, Pada November tahun lalu, Chaves memutuskan hubungan diplomatik karena perjanjian pangkalan militer AS-Kolombia yang ia katakan merupakan ancaman bagi stabilitas kawasan.

Dala perkelahian terakhir mereka, Kolombia membawa tuduhannya ke Organisasi Negara Amerika (OAS) yang bermarkas di Washinton pada 22 Juli lalu. Sementara itu, Venezuela awal pekan ini pergi ke hadapan pertemuan para menteri luar negeri badan regional Unasur, Uni Negara Amerika Selatan, yang meminta pertemuan puncak presiden untuk berupaya memecahkan krisis itu.

Menlu Venezuela Nicolas Maduro Selasa mengatakan ada hal-hal yang mungkin dapat ditambal-sulamkan antara Caracas dan Bogota ketika presiden terpilih Kolombia Juan Manuel Santos mengambilalih jabatan presiden dari Uribe pekan depan.

"Jika pemerintah baru Kolombia meralat sepenuhnya (sikapnya) dan mengadopsi sikap hormat sepenuhnya pada pemerintah Venezuela dan negara kami, kami yakin kita dapat membangun jalan baru," kata Maduro.

Tapi baru sehari sebelumnya, seorang pejabat penting Venezuela lainnya telah menimbulkan ketegangan yang meningkat dengan Kolombia, dengan memperingatkan bahwa pemerintahnya "tidak takut perang jika mereka memaksakannya pada kami".

Menteri Perlistrikan Ali Rodriguez menyatakan tuduhan Bogota bahwa Venezuela menyembunyikan para pemimpin pemberontak Kolombia adalah "buruk, vulgar dan dalih ofensif untuk menyerang Venezuela".

Sumber: ANTARA


Sabtu, 24 Juli 2010

Venezuela Kerahkan Pasukan

0

ilustrasi

caracas, jumat - Venezuela menempatkan pasukannya di sepanjang perbatasan, Jumat (23/7), setelah memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia. Pemutusan hubungan diplomatik menandai kian tajamnya ketegangan di antara dua negara tetangga tersebut.

Presiden Venezuela Hugo Chavez mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Kolombia, Kamis, menyusul tudingan bahwa Venezuela melindungi kelompok Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

”Saya mengumumkan dengan tangisan dalam hati: Venezuela mulai saat ini memutuskan semua hubungan dengan Pemerintah Kolombia,” kata Chavez.

Pengumuman itu diikuti perintah oleh Menteri Luar Negeri Venezuela Nicolas Maduro kepada Kolombia untuk menarik semua diplomatnya dari Venezuela dan menutup kedutaan besar di Caracas dalam tempo 72 jam. Venezuela juga memanggil duta besarnya dan menutup kedutaan besar di Bogota.

Tindakan Chavez dipicu oleh pernyataan Utusan Kolombia untuk Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) Luis Alfonso Hoyos di Washington bahwa ada 1.500 anggota FARC di Venezuela dan mereka terbagi dalam lusinan kamp yang didirikan beberapa tahun belakangan ini. Hoyos menampilkan foto, video, pengakuan saksi mata, dan peta-peta yang diduga kamp tersebut serta menantang Venezuela untuk membiarkan pemantau independen memeriksanya.

Dia mengatakan, Pemerintah Kolombia telah berulang kali meminta kerja sama Venezuela untuk mencegah anggota FARC menyusup ke perbatasan sepanjang 2.300 kilometer yang memisahkan kedua negara. ”Kami memiliki hak untuk menuntut Venezuela tidak menyembunyikan orang-orang yang diburu Kolombia,” kata Hoyos.

Pekan lalu, Presiden Kolombia Alvaro Uribe menuding bahwa anggota FARC dan kelompok yang lebih kecil, Angkatan Pembebasan Nasional (ELN), menggunakan Venezuela sebagai ”basis belakang”. Empat pemimpin FARC dan satu pemimpin ELN, kata Uribe, berada di Venezuela, beroperasi dari negara itu dengan kekebalan.

Chavez menuding foto itu tipuan dan menyebut Uribe ”bisa melakukan apa saja”. ”Uribe bahkan bisa membuat kamp palsu di sebuah hutan di Venezuela untuk menyerang, mengebom, dan menciptakan perang antara Kolombia dan Venezuela,” katanya.

Chavez menegaskan, Venezuela melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk mencegah anggota FARC masuk ke Venezuela.

Hampir perang

Kolombia dan Venezuela membekukan hubungan diplomatik tahun lalu setelah Bogota dan Washington menyepakati kerja sama militer yang dianggap Chavez membahayakan keamanan regional. Chavez berpendapat bahwa pejabat-pejabat AS memanfaatkan Kolombia dalam rencana yang lebih luas untuk mencitrakan dirinya sebagai pendukung kelompok teroris guna memberikan alasan intervensi militer AS di Venezuela.

Kedua negara itu juga hampir berperang tahun 2008 menyusul penggerebekan oleh militer Kolombia ke Ekuador untuk menghancurkan kamp-kamp pemberontak. Saling tuding antara Chavez dan Uribe turut memperburuk situasi.

Akan tetapi, konfrontasi militer di antara kedua negara tampaknya tidak akan terjadi. Kedua negara sama-sama rugi jika melakukannya. Saat Chavez menghentikan perdagangan dengan Kolombia sebagai protes atas izin Bogota bagi pasukan AS untuk menggunakan pangkalan militer Kolombia, nilai perdagangan langsung anjlok.

Laura Gil, pengamat politik dan kolumnis surat kabar Kolombia, El Tiempo, mengatakan, ketegangan kedua negara tidak akan berlangsung lama. Chavez mengarahkan tudingan langsung kepada Uribe yang habis masa jabatannya pada 7 Agustus.

Menilik komentar Chavez, dia berharap hubungan kedua negara membaik di bawah presiden Kolombia yang baru terpilih, Juan Manuel Santos. Santos, yang tengah berkunjung ke Meksiko, menolak berkomentar tentang perselisihan tersebut.

Politisi oposisi Venezuela, Julio Borges, menuding Chavez berusaha mengalihkan perhatian publik dari persoalan-persoalan mendesak di Venezuela, seperti melejitnya inflasi dan merajalelanya kejahatan, menjelang pemilu legislatif pada September.

”Ini usaha lain pemerintah untuk mengalihkan perhatian,” ungkap Borges.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 14 Juli 2010

Venezuela protes penyusupan pesawat tempur Belanda

0

J-055 pesawat tempur belanda(Foto: AIRPLANE)

Caracas - Pemerintah Venezuela, Selasa (Rabu, 14/7 WIB) memprotes pelanggaran wilayah udaranya oleh pesawat militer Belanda. Caracas mengingatkan, pelanggaran berulang itu dapat merusak hubungan diplomatik kedua negara.

Dalam pernyataan yang dirilis pemerintahan Presiden Hugo Chavez, dikutip washingtonpost.com, militer venezuela mendeteksi tiga pelanggaran pekan lalu, meskipun pesawat tempur itu berusaha menggunakan teknologi anti-radar.

"Venezuela menuntut pemerintah Belanda mengambil langkah untuk memastikan hal provokatif itu tidak terulang. Jika tidak hubungan diplomatik akan memburuk," ujar pernyataan itu.

Venezuela tidak merinci asal penerbangan pesawat tempur itu, namun sebelumnya Presiden Chavez menyindir bahwa di masa lalu Belanda pernah mempersilakan Amerika Serikat menggunakan wilayah kepulauan di lepas pantai Venezuela yang didudukinya, untuk menyerang Venezuela.

Sumber: PRIMAIRONLINE


Selasa, 25 Mei 2010

Venezuela plant to make 50 million Kalashnikov rounds annually

0


An ammunition plant being built by Russia in Venezuela will have the capacity to produce over 50 million rounds for Kalashnikov assault rifles per year, a Russian defense industry official said on Tuesday.

The Urals-based Izhevsk Mechanical Plant (IMP) supplied 100,000 AK-103 assault rifles to Venezuela, and signed a new contract in 2007 licensing production of Kalashnikov rifles in the Latin American country.

Under the contract, Russia is building an assembly line for AK-103 assault rifles and an ammunition plant to produce 7.62-mm ammunition for the rifle.

"The ammunition plant will be capable of producing over 50 million rounds annually," said Nikolai Maslyaev, general director of the Izhevsk-based design bureau for automated assembly lines.

The ammunition plant, which is being constructed near the Kalashnikov rifle assembly plant in Venezuela's Aragua State, is expected to be ready for production by the end of 2010.

Oil-rich Venezuela is a major purchaser of Russian weapons and hardware. Since 2005, Venezuela has bought $4-billion worth of Russian weapons, including warplanes, helicopters, and Kalashnikov assault rifles.

Russian Prime Minister Vladimir Putin said in April after an official visit to Venezuela that the Latin American country could sign more than $5-billion worth of new contracts for Russian arms and military equipment in the near future.

From: RIA


Rabu, 28 April 2010

AS: Tidak Ada Militer Iran di Venezuela

0


WASHINGTON, KOMPAS.com - Seorang perwira tinggi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) menepis laporan Pentagon tentang peran pasukan elit Iran di Venezuela.

Komandan Komando Selatan AS, Jenderal Douglas Fraser, Selasa (27/4/2010) mengatakan, kegiatan-kegiatan Iran di Venezuela hanya terkait dengan urusan diplomasi dan perdagangan, bukan militer.

Pernyataan Jenderal Fraser itu berseberangan dengan isi laporan Pentagon yang dikirimkan ke Kongres awal April lalu.

Dalam laporan itu, Pentagon menyebutkan, pasukan elit Garda Revolusi Qods Iran menunjukkan kehadirannya yang meningkat di kawasan Amerika Latin, khususnya Venezuela. Klaim Pentagon ini ditolak tegas Presiden Chavez.

Dalam penjelasan persnya kepada wartawan di Washington, Jenderal Douglas Fraser yang memimpin Komando Selatan AS yang bertugas mengamati sebagian besar Amerika Latin ini mengatakan, tidak ada kehadiran militer Iran di Venezuela.

"Kami melihat kepentingan dan keterlibatan Iran meningkat di Venezuela. Itu kehadiran diplomatis dan bisnis. Saya tidak melihat bukti kehadiran militer (di sana)," katanya.

Ditanya apakah dia menolak laporan Pentagon dan pernyataan direktur Badan Intelijen Pertahanan AS sebelumnya, Fraser mengatakan, dia tidak melihat hal itu sebagai sebuah "pertentangan".

"Saya memang melihat kehadiran Iran yang meningkat di Amerika Latin. Saya tidak punya penjelasan rinci tentang apa yang dimaksud dengan itu," katanya.

Sebelumnya, AS menuduh pasukan elit Qods mendukung para gerilyawan di Irak dan Lebanon. Militer AS juga menuduh Qods memanfaatkan pengaruh diplomasi negaranya dan duta besar mendatang Iran di Irak sebagai perwira Qods.

Presiden Chavez yang selama ini merupakan pengeritik keras AS di Amerika Latin, Senin, menolak mentah-mentah isi laporan Pentagon soal kehadiran militer Iran tersebut.

Menteri Pertahanan Robert Gates awal April lalu menegaskan bahwa Venezuela bukanlah ancaman militer bagi AS. "Saya juga tidak melihat adanya potensi konflik," katanya dalam perjalanan ke Amerika Selatan awal April lalu.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 09 April 2010

Chavez: Jangan Bodoh Yankee!

0

CARACAS, KOMPAS.com — Presiden Venezuela Hugo Chavez, Kamis, menyebut para pejabat AS bodoh karena mengkritik kebijakan pembelian senjata Venezuela dengan Rusia.

Pemimpin kiri itu telah menghabiskan milaran dollar AS untuk membeli senjata dari Rusia dan China semenjak AS memberlakukan embargo terhadap negara produsen minyak tersebut. Embargo dilakukan karena Venezuela mengusir petugas badan penegakan obat bius (DEA) AS yang dituduh sebagai mata-mata.

"Mereka di AS merasa khawatir karena Venezuela membeli entah berapa banyak senjata untuk mempersenjatai diri, entah untuk menyerang siapa. Jangan bodoh, Yankee!" kata Chavez saat upacara penerimaan delapan kapal patroli pertama yang dibeli dari Spanyol.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, yang pekan lalu mengunjungi Venezuela, menurut laporan kantor berita RIA Novosti, mengatakan bahwa pembelian senjata bisa melebihi 5 miliar dollar AS dan bisa termasuk tank T-72 dan misil antipesawat canggih S-300. Venezuela juga telah menghabiskan lebih dari 4 miliar dollar AS untuk membeli senjata dari Rusia.

Washington menuduh Chavez, sekutu Kuba dan Iran, memulai perlombaan persenjataan di kawasan tersebut sehingga negara di sekitar meningkatkan kekuatan militer dalam beberapa tahun ini. Mereka juga menyatakan, Chavez mendukung gerilyawan FARC yang berperang dengan Pemerintah Kolombia sejak setengah abad lalu.

"Kami sampai sekarang belum melihat kenapa Venezuela membutuhkan peralatan ini," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, PJ Crowley. "Bila Venezuela akan meningkatkan peralatan militernya, kami yakin tidak ingin peralatan ini pindah ke bagian lain dalam kawasan tersebut," tambahnya.

Chavez mengatakan, ia hanya memperbarui peralatan yang sudah kedaluwarsa dan memperkuat pertahanan bila ada kemungkinan akan diserang oleh Kolombia dan AS. Dia juga mengecam kesepakatan keamanan yang dilakukan oleh Kolombia, yang memperbolehkan tentara AS mengakses markas militernya di daerah Andean.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 03 April 2010

Rusia akan Terus Pasok Senjata ke Venezuela

0

SU-30 Venezuela
CARACAS--MI: Rusia akan terus memasok peralatan militer kepada Venezuela guna membantu negara Amerika Latin itu meningkatkan pertahanan nasionalnya. Hal itu ditegaskan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Sabtu (3/4).

"Kami akan terus mendukung pembangunan angkatan bersenjata Venezuela. Seperti anda ketahui, Rusia telah mengirim pesawat tempur berat Su-30 yang paling efisien, dan perlengkapan militer lainnya ke Venezuela," kata Putin dalam konferensi pers bersama setelah bertemu dengan Presiden Venezuela, Hugo Chavez, di Caracas.

Perdana menteri Rusia tiba di Venezuela, Jumat, untuk melakukan pembicaraan mengenai berbagai masalah termasuk kerjasama teknik-militer dan proyek-proyek bisnis gabungan terutama di bidang energi. Putin mengatakan Rusia siap untuk memberikan bantuan hibah kepada Venezuela senilai 2,2 miliar dolar, yang Chavez ajukan dalam kunjungannya ke Moskow tahun lalu.

Tank T-72

Paling tidak, bagian dari pinjaman ini akan digunakan untuk pembelian tank-tank 90 T-72 dan sejumlah peluncur roket multiguna Smerch, atau bahkan kapal selam bertenaga disel serta sistem pertahanan udara S-300. Sejak 2005, Venezuela telah membeli senjata Rusia senilai empat miliar dolar, termasuk pesawat-pesawat terbang, helikopter dan senjata Kalashnikov.

Helikopter Mi-17
Tidak ada perjanjian teknik-militer baru yang ditandatangani dalam pertemuan Jumat itu. Namun Rusia mengirimkan empat dari 38 helikopter transportasi militer Mi-17, yang dibeli sebelumnya oleh Venezuela. Chavez, yang kebijakan dalam negeri dan internasionalnya belakangan dikecam oleh negara-negara musuhnya, mengatakan, Venezuela ingin meningkatkan kemampuan pertahanannya.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rusia Perluas Jejak di Amerika Latin

0


Caracas, Jumat - Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Bolivia Evo Morales, Jumat (2/4), untuk menandatangani kerja sama energi dan militer. Kerja sama itu memperluas jejak Rusia di Amerika Latin.

Kunjungan Putin untuk pertama kalinya ke Venezuela menegaskan mendalamnya hubungan Rusia dan Amerika Latin. Rusia dan Venezuela pernah menandatangani 12 kesepakatan militer tahun 2005 dan 2007 senilai sekitar 4,4 miliar dollar AS yang memicu kekhawatiran para pembuat kebijakan di AS.

Presiden Hugo Chavez, Kamis malam, mengatakan, kunjungan Putin merupakan hari penting bagi Amerika Latin. ”Kita membangun dunia yang baru dan multipolar,” katanya.

Putin dan Chavez akan menandatangani kesepakatan yang tidak sebatas pada soal militer dan energi, tetapi juga isu sosial, kebudayaan, dan kesehatan. Puncak agenda adalah pembentukan bank pembangunan Rusia-Venezuela untuk membiayai perusahaan patungan eksplorasi minyak dan gas di Orinoco, wilayah timur Venezuela yang kaya minyak.

Perusahaan patungan itu—60 persen dimiliki Venezuela dan 40 persen dimiliki sebuah konsorsium perusahaan Rusia—diperkirakan akan menghasilkan 450.000 barrel minyak per hari.

Hubungan

Hubungan Rusia-Venezuela meningkat belakangan ini. Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengunjungi Venezuela pada akhir tahun 2008 dalam sebuah latihan bersama angkatan laut, sementara Chavez mengunjungi Moskwa, September tahun lalu.

Adapun Putin dan Morales akan membahas perusahaan patungan kedua negara untuk eksplorasi minyak dan gas di Bolivia, yang merupakan pemilik cadangan gas alam terbesar kedua di Amerika Latin. Saat berkunjung ke Moskwa pada Februari lalu, Morales dan Medvedev menandatangani memorandum kerja sama energi untuk mengembangkan jaringan pipa gas di Bolivia.

Morales juga diperkirakan akan mencari pinjaman sebesar 100 juta dollar AS dari Rusia untuk membeli perangkat militer, termasuk pesawat Antonov untuk dipergunakan presiden. Kepala Badan Kerja Sama Militer Rusia Mikhail Dmitriyev mengatakan, Moskwa siap memberikan Bolivia pinjaman tersebut.

Rusia adalah pengekspor minyak terbesar kedua di dunia dan produsen gas terbesar dunia. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di Amerika Latin dan 7,9 persen cadangan minyak dunia.

Perdagangan antara Rusia dan Venezuela mencapai 957,8 juta dollar AS (2008), turun 15 persen dari 1,13 miliar dollar AS pada tahun sebelumnya. Ekspor Rusia ke Venezuela, kebanyakan pesawat militer, menjadi bagian terbesar dalam perdagangan itu dengan nilai 957,4 juta dollar AS. Ekspor Venezuela ke Rusia hanya 400.000 dollar AS.

Di bidang kerja sama militer, Rusia mengirim dua pengebom berkapasitas nuklir jarak jauh Tu-160 ke Venezuela pada September 2008 dalam sebuah ”misi pelatihan”. Pada tahun yang sama, Moskwa juga mengirim kapal penjelajah berkemampuan nuklir, Peter the Great; sebuah kapal perusak; dan kapal-kapal lain ke perairan Karibia dalam latihan gabungan dengan Angkatan Laut Venezuela.

Pada Maret 2009, Chavez mengatakan kepada Medvedev bahwa dia memperbolehkan pesawat-pesawat Rusia menggunakan pangkalan udara di salah satu pulau Venezuela, La Orchila.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/03/0512089/rusia.perluas.jejak.di.amerika.latin


Minggu, 14 Maret 2010

Venezuela Terima Enam Pesawat Karakorum

0


KARAKAS, KOMPAS.com - Angkatan udara Venezuela menerima enam pesawat pertama dari 18 pesawat latih atau serang ringan Karakorum yang dipesan dari China, termasuk sistem pengawasan untuk memelihara pesawat-pesawat itu.

"Karena kami akan mengubah Venezuela menjadi kekuatan ekonomi, sosial dan teknologi, kami membutuhkan kemampuan untuk membela (diri sendiri)," kata Preiden Hugo Chavez dalam suatu upacara seraya memuji persahabatannya dengan China sosialis dan revolusioner.

Pemerintah Venezuela dan China telah merundingkan penerimaan pesawat-pesawat itu pada akhir 2008 sebagai bagian dari langkah Caracas untuk memodernisasi dan mengganti armadanya yang telah tua, yang sebagian besar berdasar pada teknologi AS.

K-8 adalah pesawat dua tempat duduk yang dapat mencapai ketinggian 12,190 meter dan diperlengkapi dengan senjata mesin dan bom ringan. Pesawat itu dikembangkan bersama oleh China dan Pakistan untuk mendukung operasi darat.

Jenderal Jorge Arevalo mengatakan tahun lalu bahwa China akan melakukan tiga pengiriman pesawat-pesawat itu pada 2010, memulai dengan penempatan enam unit pertama.

Rusia, China, Belarus adalah pemasok militer penting Venezuela.

Tahun lalu, Caracas mengatakan Venezuela telah memperoleh kredit 2,2 miliar dolar dari Rusia untuk membeli 100 tank T-72 dan serangkaian sistem roket anti-pesawat dari sekutu strategisnya itu.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 05 Maret 2010

Hugo Chavez: Gempa Haiti Uji Coba Senjata Tektonik AS

0

CARACAS, KOMPAS.com - Presiden Venezuela Hugo Chavez melontarkan tudingan serius pada AS. Ia menengarai gempa bumi yang menimpa Haiti bukan gempa bumi biasa tetapi disebabkan oleh persenjataan milik AS.

Menurut Chavez, gempa yang mengguncang Haiti tanggal 12 Januari kemarin adalah dampak dari uji coba “senjata tektonik” yang dilakukan AS.

Surat kabar Spanyol yang terbit awal minggu ini mengutip pernyataan Chavez yang mengatakan bahwa AS sedang “bermain-main menjadi Tuhan” dengan membuat senjata yang mampu menimbulkan dampak seperti yang ditimbulkan bencana alam seperti gempa bumi.

Uji coba senjata “gempa bumi” itu, lanjut Chavez, dilakukan di lepas pantai Haiti sehingga menimbulkan gempa yang menewaskan 100.000 lebih penduduk Haiti. Spekulasi bahwa gempa berkekuatan 7 skala Richter yang menimpa Haiti bukan gempa biasa, juga dilansir oleh banyak media massa di Venezuela yang menduga gempa itu kemungkinan ada hubungannya dengan proyek HAARP yang sedang digarap AS.

HAARP atau High Frequency Active Auroral Research Program adalah sebuah sistem yang bisa menimbulkan perubahan iklim yang drastis dan ganas. Pusat penelitian HAARP berada di Alaska yang diarahkan pada rekonfigurasi lapisan yang menyelubungi bumi, ionosfer untuk meningkatkan komunikasi satelit.

Kecurigaan bahwa AS sedang mengembangkan senjata “perusak lingkungan” bukan tanpa alasan karena mantan Menteri Pertahanan AS William Cohen pada tahun 1997 pernah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap negara-negara yang mengembangkan senjata “teroris” yang bisa mengubah kondisi iklim, menimbulkan gempa bumi, gunung meletus dan sejenisnya dengan menggunakan gelombang elektromagnetik.

Gempa di Chile juga dipergunjingkan oleh media yang kritis kepada AS, juga akibat teknologi HAARP. Chile, demikian menurut berita itu, punya cadangan minyak yang sangat besar, Karena itulah gempa dibuat di kawasan itu sehingga AS akan masuk dibuktikan dengan masuknya tentara AS, dan kemudian akan mengambil cadangan minyak itu.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin