Tampilkan postingan dengan label Amerika Latin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika Latin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

EKUADOR HARAPKAN KERJASAMA ANGKATAN UDARA DENGAN INDONESIA

0

Pesawat Super Tucano Milik AU Ekuador.

Jakarta, DMC – Pemerintahan Ekuador, mengharapkan kerjasama dalam bidang pertahanan dengan pemerintahan Indonesia, khususnya kerjasama Angkatan Udara kedua negara. Hal tersebut disampaikan Duta Besar Ekuador untuk Republik Indonesia, Eduarto Alberto, saat melakukan kunjungan kerja kepada Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (25/1).

Dubes Ekuador mengatakan, saat ini Ekuador lebih menitikberatkan pada kerjasama angkatan udara dan Indonesia diharapkan dapat membuka kerjasama tersebut melalui penawaran kursus-kursus pelatihan bagi staf maupun perwira Angkatan Udara kedua negara. Beberapa kursus atau pelatihan yang diselenggarakan misalnya dalam pemeliharaan pesawat dan perawatan mesin pesawat ataupun sistim kelistrikan pada pesawat, dari tingkat menengah sampai dengan mahir.

Menanggapi harapan Pemerintahan Ekuador, Menhan mengatakan akan mengkaji terlebih dahulu kemungkinan kerjasama yang dapat dilaksanakan kedua negara melalui Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kemhan dan mengharapkan Pemerintahan Ekuador melalui kedutaannya dapat terus berkomunikasi dengan Kemhan. Salah satunya yang mungkin dapat dijajaki adalah pemeliharaan pesawat Super Tocano, mengingat saat ini pesawat tersebut telah dimiliki Angkatan Udara Ekuador.

Pada kesempatan tersebut, Menhan juga sempat menyampaikan keprihatinannnya terhadap kerusuhan yang dialami Pemerintahan Ekuador pada akhir September 2010, di mana muncul permasalahan antara pemerintah dan pihak kepolisian karena rencana memotong bonus sekaligus memperpanjang periode bagi polisi untuk mendapat kenaikan pangkat, yaitu dari lima menjadi tujuh tahun.

Pada kesempatan tersebut, Menhan didampingi Dirjen Strahan, Mayjen TNI Puguh Santoso dan Kepala Puskomlik Kemhan RI, Brigjen TNI I Wayan Medhio.

Sumber: DMC


Rabu, 24 November 2010

Pengamat : Perang Korea Mempercepat Pembentukan Blok Baru

0

Korut Menembakkan Artileri Di Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan 3Km Dari Perbatasan Korut-Korsel(Foto: theglobeandmail.com)

Jakarta - Serangan terbuka Korea Utara ke Korea Selatan, pada 23 November 2010, bisa memancing pihak-pihak lain untuk terlibat dalam perang tersebut, atau membuka perang di belahan dunia lain. Meski tidak ada lagi Blok Barat dan Blok Timur, namun perang Korea masih memancarkan terjadinya peperangan kedua blok itu. Korea Utara sebagai negara yang masih menganut ideologi komunisme sosialisme, sementara Korea Selatan berwajah negara kapitalisme.

Perang Korea menjadi simbol perlawanan dari kelompok yang selama ini ditindas oleh Amerika Serikat dengan kelompok yang menjadi sekutu Amerika Serikat, sehingga perang Korea itu bisa jadi sangat menarik dan mendapat dukungan dari Iran dan Venezuela. Sebab selama ini Korea Utara, Iran dan Venezuela adalah negara yang merasakan arogansi Amerika Serikat.

Dengan adanya Perang Korea, maka negara yang selama ini mempunyai visi dan misi yang sama untuk melawan ketidakadilan dunia, notabene dilakukan oleh Amerika Serikat, maka negara itu akan mempercepat pembentukan blok baru. Pembentukan blok baru itu bagi mereka adalah sebuah keniscayaan sebab Amerika Serikat sebagai sebuah negara dalam menjalan politik luar negerinya tidak sendiri. Di belakang Amerika Serikat, ada Inggris, Australia dan beberapa negara Eropa lainnya.

Salah satu kemungkinan terjadinya pembentukan blok baru itu adalah persekutuan negara-negara Amerika Latin dan Iran. Rintisan itu sudah dilakukan oleh Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Presiden Venezuela Hugo Chaves, Presiden Bolivia Evo Moralles, dan Brasil ketika dipimpin oleh Lula da Silva.

Paling semangat dalam melawan arogansi Amerika Serikat dilakukan oleh Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves. Bisa dikatakan hubungan antara Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves sebuah hubungan yang unik dan sangat spesial. Di antara kedua pemimpin itu disebut telah mengadakan pertemuan hingga sampai 9 kali. Dalam setiap pertemuan, kedua pemimpin selain menyepakati peningkatan hubungan kedua negara, keduanya secara lantang juga menyerukan perlawanan terhadap kekuatan imperalisme dan globalisasi yang dikemudikan oleh Amerika Serikat.

Perbedaan ideologi dan agama kedua negara bukan menjadi sekat atau hambatan kedua negara untuk bersatu melawan arogansi Amerika Serikat. Setiap kebijakan politik luar
negeri yang dikeluarkan oleh Mahmud Ahmadinejad pasti akan didukung oleh Hugo Chaves, demikian sebaliknya. Ketika Eropa, Amerika Serikat, dan Israel, merasa prihatin atas terpilihnya Mahmud Ahmadinejad dalam pilpres Iran yang lalu, Hugo Chaves justru orang yang mengucapkan selamat atas terpilihnya Mahmud Ahmadinejad.

Dalam pertemuan di Iran, Oktober 2010, Mahmud Ahmadinejad dan Hugo Chaves menyepakati komitmen untuk membangun tata dunia baru guna menghapus dominasi Barat di pentas global. Saat di Teheran, Hugo Chaves bahkan mengatakan, imperialisme (Amerika Serikat) telah memasuki tahap penurunan dan seperti seekor gajah yang sedang menuju pemakaman.

Dalam menggalang kekuatan baru dunia, Mahmud Ahmadinejad tidak hanya bersepakat dengan Hugo Chaves, namun juga dengan Presiden Brasil, saat itu Luiz Inacio Lula da Silva. Dalam sebuah lawatan ke Brasil, Mahmud Ahmadinejad mengatakan, tata dunia baru harus segera dibangun di muka bumi ini. Keinginan Ahmadinejad di Brasil itu sepertinya gayung bersambut sebab Lula da Silva menyambut hangat kedatangan Mahmud Ahmadinejad itu. Bagi Amerika Serikat, sikap hangat Lula da Silva itu secara implisit mendukung program nuklir Iran. Apa yang dilakukan oleh negara bola itu bagi Amerika Serikat sebagai suatu sikap yang tidak pada tempatnya.

Apa yang diinginkan Mahmud Ahmadinejad di Brasil menjadi sebuah kenyataan, saat di Teheran, Iran, pada Mei 2010, bisa menjadi sebuah saksi bangkitnya kekuatan untuk menciptakan tata dunia baru yang selama ini didominasi oleh Barat. Pada bulan itu, Lula da Silva, PM Turki Turki Recep Erdogan, dan Mahmud Ahmadinejad mensepakati pertukaran bahan uranium Iran ke Turki, begitu sebaliknya, dari Turki ke Iran.

Kesepakatan itu otomatis akan 'melawan' kesepakatan sebelumnya, yakni Iran harus mengirim uraniumnya ke Rusia dan Perancis, dan selanjutnya Rusia dan Perancis akan mengirimkan kembali ke Iran. Dengan kesepakatan itu, maka Iran dengan di-back up oleh Brasil dan Turki akan melaksanakan kesepakatan yang baru dan mengacuhkan kesepakatan lama.

Adanya kesepakatan tiga negara tersebut, Brasil-Turki-Iran, membuat Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi berang. Dalam pembicaraan telepon dengan Erdogan, Obama mengatakan pembahasan rancangan sanksi baru terhadap Iran di forum DK PBB akan terus berlanjut walau ada kesepakatan segitiga itu.

Mengapa Turki, Iran dan negara-negara di kawasan Amerika Latin seolah-olah hendak membentuk semacam aliansi? Faktornya adalah pertama, pemimpin-pemimpin negara di kawasan Amerika Latin banyak yang berlatar belakang berideologi kiri (neososialis). Di Amerika Latin, saat ini banyak tokoh-tokoh yang berhaluan kiri, dari yang radikal sampai moderat, terpilih menjadi kepala negara atau kepala pemerintahan. Banyaknya tokoh kiri menjadi pemimpin membuat Amerika Latin bergerak ke kiri (baru). Kiri yang dimaksud di sini bisa dibaca bebas sebagai pemerintahan sosialis-marxis yang radikal seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, Cuba, ataupun sosialis-demokrat yang moderat semisal Brasil dan Cile. Meski Lula da Silva mengakhiri jabatannya sebagai presiden, sepertinya penggantinya akan meneruskan kebijakan Lula da Silva.

Kedua, di Turki bangkitnya Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP, Adalet ve Kalkinma Partisi) sebagai kekuatan baru yang mampu mengendalikan arah politik dalam dan luar negeri. Kemenangan AKP itu terlihat rakyat Turki setuju amandemen konstitusinya. Selama ini konstitusi yang dibuat oleh para jenderal yang setia kepada ideologi Mustafa Kemal Ataturk tidak menghasilkan tatanan yang demokratis. Kebebasan yang seharusnya dimiliki oleh rakyat dan partai politik pemenang pemilu sering dirampas oleh para tentara dengan alasan yang terkadang sering subjektif.

Ini terjadi ketika pada tahun 1995 ketika Partai Islam Refah yang dipimpin Necmettin
Erbakan memenangi pemilu, kemenangan itu partai Islam itu dicurigai akan mengubah haluan Turki dari sekular menuju negara Islam. Berangkat dari kecurigaan tersebut maka militer pada tahun 1997 melakukan kudeta dengan alasan mengamankan haluan negara.

Keberhasilan AKP dalam menempatkan dirinya, sejak kemenangannya pada Pemilu 2002, di mata Uni Eropa tidak menjadi masalah sebab partai itu bisa diajak kerjasama dalam membangun Uni Eropa. Keseriusan AKP untuk menjadikan Turki bagian dari Uni Eropa menjadikan negara-negara Eropa tidak mengkhawatirkan Turki sebagai sebuah ancaman. Meski Turki berubah haluan itu tidak menjadi masalah sebab Turki sudah menunjukan 'kesetiaannya' kepada Uni Eropa. Turki adalah anggota NATO dan meski mayoritas
berpenduduk Muslim.

Meski AKP ingin menjadi bagian dari Eropa, namun AKP tetap kritis dalam berhubungan
dengan negara-negara Eropa dalam mensikapi masalah nuklir Iran dan Israel. Sikap AKP
di bawah pimpinan Tayyip Erdogan dalam masalah nuklir Iran dan Israel ini menarik
simpati dan sejalan dengan mayoritas keinginan rakyat Turki, yakni melawan kesewenang-wenangan Amerika Serikat, Uni Eropa dan Israel yang melakukan ketidakadilan terhadap negara-negara Islam.

Ketiga, Blok China-Korea Utara. Perang Korea ini bagi Amerika Serikat merupakan sebuah pilihan yang sulit. Secara kepentingan, baik ideologi dan ekonomi, pasti Amerika Serikat mendukung Korea Selatan, namun tidak mudah bagi Amerika Serikat untuk menerjunkan bantuan militer dan alutsistanya kepada Korea Selatan. Bila Amerika Serikat secara vulgar menggelar kekuatan militernya untuk mendukung Korea Selatan dalam melawan Korea Utara, maka hal demikian akan memancing China untuk juga terlibat dalam perang itu. Sebagai sekutu lama dan seideologi komunis-sosialis, tentu China akan mendukung Korea Utara.

Apa yang dilakukan Turki, China, Iran, Korea Utara, Brasil, Venezuela, Bolivia dan negara lain yang sefaham dengan negara-negara itu merupakan sebuah sikap positif untuk membentuk tatanan dunia baru. Setidak-tidaknya mencegah kesewenangan-wenangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara lain.

Sumber: DETIK


Selasa, 02 November 2010

Bolivia-Iran Kerjasama Alutsista

0

La Paz - Iran sedang melangkah menjadi produsen teknologi dirgantara, hal tersebut terbukti ketika Bolivia menyatakan ketertarikan mereka untuk membeli sejumlah helikopter dan pesawat buatan Iran untuk latihan militer dan transportasi.

Menteri Keuangan Luis Arce mengatakan bahwa Bolivia akan melakukan pembelian terhadap helikopter dengan empat kursi, pesawat Fajr-3 dan S-68 pesawat transportasi dengan 52 sampai dengan 140 kursi penumpang. Namun tidak disebutkan berapa banyak dari masing-masing unit tersebut akan dibeli.

Arce mengatakan bahwa Presiden Evo Morales dan Mahmoud Ahmadinejad telah menandatangani kesepakatan letter of intent terhadap sejumlah pesawat tersebut ketika Morales berkunjung ke Teheran pekan lalu.

Bolivia juga akan bekerjasama dengan Iran untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir dan membentuk bank pembangunan bersama.

Seperti sekutunya Presiden Venezuela Hugo Chavez, Morales telah meningkatkan hubungan yang lebih erat dengan Teheran, meningkatkan kekhawatiran di Washington.

Sumber: WARTA NEWS


Minggu, 29 Agustus 2010

Castro: Osama Bin Laden Agen CIA

0



TEMPO Interaktif, London - Mantan Presiden Kuba Fidel Castro mengeluarkan pernyataan kontroversial. Castro mengatakan pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden adalah agen badan intelijen Amerika Serikat (CIA).

Bin Laden selalu dipanggil dan dibayar tiap kali mantan Presiden AS George W Bush membutuhkannya. Menurut Castro, Bush membutuhkan Bin Laden untuk menakut-nakuti dunia.

Castro mengaku mengetahui hal ini setelah membaca dokumen yang diposting di 'Wikileaks'. Dia juga menuduh Bin Laden bekerja untuk gedung putih. "Bush selalu didukung oleh Bin Laden, dia adalah bawahan Bush," kata Castro.

Menurut Castro, setiap saat Bush ingin menebar rasa takut dan membuat pidato soal itu, Bin Laden akan muncul dan mengancam orang dengan sebuah cerita tentang apa yang dia lakukan.

Castro juga mengatakan ribuan halaman dokumen rahasia milik pemerintah Amerika yang dimuat di Wikileaks itu juga menunjukkan siapa pemimpin Al Qaeda yang benar-benar bekerja.

Castro membuat pernyataan ini setelah bertemu dengan Daniel Estulin, penulis tiga buku tentang rahasia Bilderberg Club, sebuah klub rahasia yang memanipulasi ekonomi dan sistem politik. Anggota klub ini bekas Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Henry Kissinger, pejabat eropa terkemukan dan para eksekutif bisnis.

Sumber: TEMPO


Senin, 09 Agustus 2010

Venezuela-Kolombia akan berunding

0

Presiden baru Kolombia Presiden Juan Manuel Santos dan Presiden Venezuela Hugo Chavez akan bertemu hari Selasa.

Kedua presiden akan membahas sengketa diplomatik bilateral, kata kementerian luar negeri Kolombia.

Setelah pelantikan Santos hari Sabtu, Chavez mengatakan dia ingin untuk bertemu langsu dengan dia.

Sebelumnya, Chavez menyeru kelompok pemberontak sayap kiri terbesar Kolombia, Farc, membebaskan seluruh sanderanya.

Chavez di masa lalu berhasil menjadi penengah dalam kesepakatan dengan Frac untuk membebaskan sebagian sandera.

Pekan lalu, Farc mengatakan mereka bersedia untuk mencari penyelesaian politik atas konflik yang telah berlangsung 46 tahun.

Dan, Juan Manuel Santos mulai menjabat presiden dengan mengisyaratkan dia akan bersedia berunding dengan pemberontak jika mereka setuju membebaskan sandera.

Hubungan membaik
Pemberontak sudah bertahun-tahun menjadi sumber sengketa antara Venezuela dan Kolombia.

Sengketa menghangat lagi bulan lalu, di bawah kepemimpinan presiden terdahulu Kolombia, ketika Kolombia meminta sidang luar biasa Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) untuk resmi mengadukan tuduhan bahwa pemberontak Kolombia muncul di wilayah Venezuela.

Dutya besar Kolombia mengajukan video, foto dan peta. Menurut dia, semuanya membuktikan ada sekitar 1.500 pemberotnak hidup dan berlatih di kamp-kamp di Venezuela.

Hugo Chavez langsung membantah tuduhan Kolombia dan memutus hubungan diplomatik negaranya dengan Kolombia.

Ketegangan kemudian mereda; Presiden Chavez mengirimkan Menteri Luar Negeri Nicolas Maduro ke pelantikan Presiden Santos hari Sabtu.

Maduro dan Menlu Kolombia, Maria Angela Holguin, mengadakan pembicaraan di Bogota hari Minggu. Pertemuan itu membuka jalan bagi pertemuan antara Presiden Chavez and Presiden Santos.

Namun, meski hubungan dua negara bertetangga itu bakal membaik, Chavez mengisyaratkan tidak akan ada perbaikan dengan Amerika Serikat.

Hari Minggu, dia menolak nama duta besar baru yang diajukan Presiden AS untuk Venezuela.

Chavez mengatakan tidak akan menerima Larry Palmer sebagai duta besar, sebab dia pernah menyatakan secara terisrat bahwa moral di jajaran militer Venezuela dan mengangkat kekhawatiran soal pemberontak Farc mendapatkan tempat berlindung di Venezuela.

Sumber: DETIK


Sabtu, 31 Juli 2010

Chavez: Venezuela Telah Kirim Tentara

0

Pasukan Perbatasan Venezuela(foto:www.abc.net.au)

Caracas (ANTARA News) - Presiden Hugo Chaves mengatakan, Jumat, bahwa Venezuela telah mengerahkan sejumlah unit militer dan tentara ke perbatasan Kolombia, karena Presiden Alvaro Uribe yang akan mengakhiri masa tugas "mampu melakukan apa saja" ketika perselisihan meluas di antara keduanya.

Chavez memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia pada 22 Juli lalu, sepekan setelah Uribe menuduh Venezuela menyembunyikan 1.500 pemberontak sayap kiri Kolombia di wilayahnya, tuduhan yang Chavez bantah dengan keras, sebagaimana dikutip dari AFP.

"Kami telah mengerahkan unit-unit militer, pasukan udara, infantri, tapi dengan diam-diam karena kami tidak ingin mengganggu siapapun, penduduk," kata Chavez pada televisi VTV milik pemerintah dalam wawancara melalui telpon.

Pemimpin sayap kiri itu tidak menyebutkan berapa banyak tentara dan apa tepatnya perlengakpan militer yang terlibat dalam tindakan tersebut.

"Uribe mampu melakukan apa saja dalam beberapa hari terakhir ini" sebelum ia meninggalkan jabatannya pada 7 Agustus, tegas Chavez, yang juga mengancam untuk memutus pasokan minyak ke Amerika Serikat jika negara itu mendukung serangan oleh Kolombia, sekutu utamanya di kawasan itu.

Ahad lalu presiden itu membatalkan perjalanan ke Kuba, dengan menyatakan risiko serangan Kolombia yang lebih besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Uribe dan Chavez telah sering berselisih pada masa lalu, Pada November tahun lalu, Chaves memutuskan hubungan diplomatik karena perjanjian pangkalan militer AS-Kolombia yang ia katakan merupakan ancaman bagi stabilitas kawasan.

Dala perkelahian terakhir mereka, Kolombia membawa tuduhannya ke Organisasi Negara Amerika (OAS) yang bermarkas di Washinton pada 22 Juli lalu. Sementara itu, Venezuela awal pekan ini pergi ke hadapan pertemuan para menteri luar negeri badan regional Unasur, Uni Negara Amerika Selatan, yang meminta pertemuan puncak presiden untuk berupaya memecahkan krisis itu.

Menlu Venezuela Nicolas Maduro Selasa mengatakan ada hal-hal yang mungkin dapat ditambal-sulamkan antara Caracas dan Bogota ketika presiden terpilih Kolombia Juan Manuel Santos mengambilalih jabatan presiden dari Uribe pekan depan.

"Jika pemerintah baru Kolombia meralat sepenuhnya (sikapnya) dan mengadopsi sikap hormat sepenuhnya pada pemerintah Venezuela dan negara kami, kami yakin kita dapat membangun jalan baru," kata Maduro.

Tapi baru sehari sebelumnya, seorang pejabat penting Venezuela lainnya telah menimbulkan ketegangan yang meningkat dengan Kolombia, dengan memperingatkan bahwa pemerintahnya "tidak takut perang jika mereka memaksakannya pada kami".

Menteri Perlistrikan Ali Rodriguez menyatakan tuduhan Bogota bahwa Venezuela menyembunyikan para pemimpin pemberontak Kolombia adalah "buruk, vulgar dan dalih ofensif untuk menyerang Venezuela".

Sumber: ANTARA


Sabtu, 24 Juli 2010

Venezuela Kerahkan Pasukan

0

ilustrasi

caracas, jumat - Venezuela menempatkan pasukannya di sepanjang perbatasan, Jumat (23/7), setelah memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia. Pemutusan hubungan diplomatik menandai kian tajamnya ketegangan di antara dua negara tetangga tersebut.

Presiden Venezuela Hugo Chavez mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Kolombia, Kamis, menyusul tudingan bahwa Venezuela melindungi kelompok Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

”Saya mengumumkan dengan tangisan dalam hati: Venezuela mulai saat ini memutuskan semua hubungan dengan Pemerintah Kolombia,” kata Chavez.

Pengumuman itu diikuti perintah oleh Menteri Luar Negeri Venezuela Nicolas Maduro kepada Kolombia untuk menarik semua diplomatnya dari Venezuela dan menutup kedutaan besar di Caracas dalam tempo 72 jam. Venezuela juga memanggil duta besarnya dan menutup kedutaan besar di Bogota.

Tindakan Chavez dipicu oleh pernyataan Utusan Kolombia untuk Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) Luis Alfonso Hoyos di Washington bahwa ada 1.500 anggota FARC di Venezuela dan mereka terbagi dalam lusinan kamp yang didirikan beberapa tahun belakangan ini. Hoyos menampilkan foto, video, pengakuan saksi mata, dan peta-peta yang diduga kamp tersebut serta menantang Venezuela untuk membiarkan pemantau independen memeriksanya.

Dia mengatakan, Pemerintah Kolombia telah berulang kali meminta kerja sama Venezuela untuk mencegah anggota FARC menyusup ke perbatasan sepanjang 2.300 kilometer yang memisahkan kedua negara. ”Kami memiliki hak untuk menuntut Venezuela tidak menyembunyikan orang-orang yang diburu Kolombia,” kata Hoyos.

Pekan lalu, Presiden Kolombia Alvaro Uribe menuding bahwa anggota FARC dan kelompok yang lebih kecil, Angkatan Pembebasan Nasional (ELN), menggunakan Venezuela sebagai ”basis belakang”. Empat pemimpin FARC dan satu pemimpin ELN, kata Uribe, berada di Venezuela, beroperasi dari negara itu dengan kekebalan.

Chavez menuding foto itu tipuan dan menyebut Uribe ”bisa melakukan apa saja”. ”Uribe bahkan bisa membuat kamp palsu di sebuah hutan di Venezuela untuk menyerang, mengebom, dan menciptakan perang antara Kolombia dan Venezuela,” katanya.

Chavez menegaskan, Venezuela melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk mencegah anggota FARC masuk ke Venezuela.

Hampir perang

Kolombia dan Venezuela membekukan hubungan diplomatik tahun lalu setelah Bogota dan Washington menyepakati kerja sama militer yang dianggap Chavez membahayakan keamanan regional. Chavez berpendapat bahwa pejabat-pejabat AS memanfaatkan Kolombia dalam rencana yang lebih luas untuk mencitrakan dirinya sebagai pendukung kelompok teroris guna memberikan alasan intervensi militer AS di Venezuela.

Kedua negara itu juga hampir berperang tahun 2008 menyusul penggerebekan oleh militer Kolombia ke Ekuador untuk menghancurkan kamp-kamp pemberontak. Saling tuding antara Chavez dan Uribe turut memperburuk situasi.

Akan tetapi, konfrontasi militer di antara kedua negara tampaknya tidak akan terjadi. Kedua negara sama-sama rugi jika melakukannya. Saat Chavez menghentikan perdagangan dengan Kolombia sebagai protes atas izin Bogota bagi pasukan AS untuk menggunakan pangkalan militer Kolombia, nilai perdagangan langsung anjlok.

Laura Gil, pengamat politik dan kolumnis surat kabar Kolombia, El Tiempo, mengatakan, ketegangan kedua negara tidak akan berlangsung lama. Chavez mengarahkan tudingan langsung kepada Uribe yang habis masa jabatannya pada 7 Agustus.

Menilik komentar Chavez, dia berharap hubungan kedua negara membaik di bawah presiden Kolombia yang baru terpilih, Juan Manuel Santos. Santos, yang tengah berkunjung ke Meksiko, menolak berkomentar tentang perselisihan tersebut.

Politisi oposisi Venezuela, Julio Borges, menuding Chavez berusaha mengalihkan perhatian publik dari persoalan-persoalan mendesak di Venezuela, seperti melejitnya inflasi dan merajalelanya kejahatan, menjelang pemilu legislatif pada September.

”Ini usaha lain pemerintah untuk mengalihkan perhatian,” ungkap Borges.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 20 Juli 2010

Floating nuclear power plants

0


Rabu, 05 Mei 2010

Indonesia Berpartisipasi dalam Latihan Militer

0

Militer dari 14 negara termasuk Indonesia berencana untuk berpartisipasi dalam Rim of the Pacific Exercise atau Rimpac. Latihan militer tersebut akan dimulai musim panas ini, pada 23 Juni sampai 1 Agustus.

Rimpac adalah latihan maritim internasional terbesar di dunia yang bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas antara angkatan bersenjata Pacific Rim, sebagai sarana untuk meningkatkan stabilitas di kawasan itu demi kepentingan semua negara yang berpartisipasi.

Pasukan Angkatan Laut AS akan menjadi tuan rumah dalam latihan yang akan melibatkan 20 ribu personel, 34 kapal, lima kapal selam, dan lebih dari 100 pesawat terbang.

Selain AS dan Indonesia, latihan militer itu diikuti juga oleh Australia, Kanada, Cile, Kolombia, Prancis, Jepang, Malaysia, Belanda, Peru, Korsel, Singapura, dan Thailand.

Para pejabat militer AS mengatakan Rimpac menunjukkan komitmen negara-negara di dunia untuk bekerja sama menjaga jalur laut, melindungi kepentingan negara di luar negeri, dan menjamin kebebasan navigasi yang merupakan dasar dari perdamaian dan kemakmuran global.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Selasa, 27 April 2010

Paraguay Kerahkan 1.000 Tentara

0


ASUNCION, KOMPAS.com — Paraguay, Senin, mengirim 1.000 tentara dan polisi tambahan untuk memburu anggota kelompok sayap kiri bersenjata yang dipersalahkan atas serangan yang menewaskan empat orang, pekan lalu.

Kongres telah memberi pemerintah kekuasaan khusus untuk menindak keras kelompok itu, yang memiliki hubungan dengan sebuah kelompok pemberontak Kolombia. Presiden Paraguay Fernando Lugo mengatakan, pasukan keamanan dibolehkan menggunakan senjata. "Tujuan konkretnya adalah untuk membolehkan militer melakukan operasi bersenjata, yang tidak akan mungkin tanpa wewenang khusus," kata Lugo kepada wartawan.

"Tidak ada hak konstitusional akan ditangguhkan sebagai akibat dari hal ini. Rakyat boleh melakukan usaha biasa mereka di kawasan itu," kata presiden beraliran kiri itu.

Selain serangan mematikan pekan lalu itu, para pejabat juga menyalahkan anggota Militer Tentara Paraguay (EPP) karena beberapa penculikan dan pembunuhan di daerah yang luas sekali di perbatasan dengan Brasil dan Bolivia.

Langkah darurat itu, yang akan diterapkan di lima provinsi, memungkinkan pemerintah untuk menangkap para tersangka tanpa surat perintah serta melarang pertemuan umum dan unjuk rasa. Sejumlah tentara telah dikerahkan ke wilayah itu awal tahun ini untuk membantu polisi setempat memerangi gerilyawan EPP, yang bersenjata canggih dan terlatih untuk beroperasi di wilayah hutan.

Menurut pejabat polisi dan pemerintah, kelompok tersebut memiliki sekitar 100 anggota dan aktif di daerah-daerah penanaman mariyuana di negara miskin itu, yang merupakan pemasok penting obat bius regional.

Lugo, seorang bekas uskup Katolik, mendapat tekanan untuk menangkap para pemimpin EPP dalam 30 hari yang diberikan oleh kongres untuk melakukan tindakan keras keamanan. Penggunaan kekuasaan khusus adalah kontroversial di Paraguay karena kekuasaan itu sering kali digunakan dalam 35 tahun kediktatoran Jenderal Alfredo Stroessner, yang berakhir pada 1989, dan beberapa kelompok HAM mempertanyakan tindakan Lugo itu.

"Memberi pasukan bersenjata hak untuk bertindak dalam urusan keamanan dalam negeri adalah langkah mundur," kata kelompok HAM Peace dan Justice Service (SERPAJ-AL) dalam pernyataannya.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 23 April 2010

Peru membeli delapan helikopter Rusia untuk upaya memberantas narkoba

0

Peru akan membeli delapan helikopter Rusia digunakan untuk memberantas narkoba, the country's El Commercio paper , Jumat dikutip Menteri Pertahanan Rafael Rey.

Peru merupakan salah satu produsen utama kokain di Amerika Selatan bersama dengan Bolivia dan Columbia.

Menteri mengatakan enam helikopter Mi-17 transportasi dan dua Mi-35 serangan helikopter akan dibeli sekitar $ 250 juta.

Mereka akan menggunakan untuk melawan dengan "drug terrorism" dari Lembah Apurimac dan Ene Sungai.

Kawasan itu dinyatakan sebagai zona operasi militer pada bulan Agustus 2009 yaitu pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok gerilya Maois Sendero Luminoso ditingkatkan.

Sendero Luminoso, dianggap oleh Peru sebagai organisasi teroris, diyakini memiliki hubungan kuat dengan pengedar narkoba. Kelompok ini di Amerika Serikat dan Uni Eropa termasuk dalam daftar organisasi teroris.

Sumber: RIA


Rabu, 21 April 2010

Dua Helikopter Kolombia Jatuh

0


BOGOTA, KOMPAS.com — Dua helikopter bertabrakan lalu jatuh di Kolombia barat daya, Selasa (20/4/2010). Kecelakaan itu menewaskan enam personel militer termasuk seorang jenderal dan melukai lima orang lainnya.

Peristiwa tragis tersebut terjadi dalam peresmian satu pangkalan militer di Tolima, bagian barat daya Kolombia, kata Pasukan Militer Kolombia dalam satu pernyataan. Kedua helikopter itu, satu Bell 222 dari Vertical Aviation dan satu lagi jenis Huey milik Angkatan Bersenjata Kolombia, bertabrakan ketika sedang naik.

Di antara korban tewas adalah Brigadir Jenderal Fernando Joya Duarte, komandan pasukan militer di sebelah selatan Tolima, dua kolonel, dan tiga prajurit. Pemerintah menyatakan, satu komisi teknis Angkatan Udara telah dikirim untuk menyelidiki kecelakaan tersebut.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 08 April 2010

Kolombia Tak Tertarik Perlombaan Senjata

0

KARTAGENA, KOMPAS.com — Presiden Kolombia Alvaro Uribe mendeklarasikan di Forum Ekonomi Dunia di Kartagena, Kamis, bahwa pemerintahnya akan menjauhkan diri dari tren perlombaan pengadaan senjata di Amerika Latin.

Uribe menyebut topik seperti pemerintah, tanggung jawab sosial, dan koherensi sosial yang dapat menaikkan tingkat kepercayaan dari negara lain di dunia. Uribe mengatakan, Kolombia akan melewati masalah keamanan di dalam negerinya dan tidak akan memasuki perlombaan senjata regional.

Minggu lalu, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengunjungi Venezuela dan menandatangani beberapa kesepakatan dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez, termasuk kesepakatan penjualan senjata.

Presiden Kolombia itu menekankan pentingnya kolaborasi Kolombia dengan negara tetangga dalam melawan teroris, penyelundupan narkotika, dan penculikan. "Satu hal yang kami minta kepada tetangga kami ialah tidak melindungi teroris Kolombia, karena rakyat Kolombia mempunyai hak untuk menghilangkan terorisme," kata Uribe.

Uribe juga menyatakan kekhawatirannya terhadap delapan warga negara Kolombia yang dituduh sebagai mata-mata oleh pemerintah Venezuela, Selasa. "Kami meminta kepada pemerintah Venezuela, penegak hukum, Organisasi Negara Amerika (OAS), dan PBB untuk menjamin hak asasi warga negara kami yang dituduh melakukan tindakan mata-mata," katanya.

Hubungan perdagangan dan politik antara Venezuela dan Kolombia dibekukan karena perjanjian militer AS-Kolombia yang memperbolehkan kehadiran tentara AS di tujuh markas militer Kolombia.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin