Tampilkan postingan dengan label THAILAND. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THAILAND. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Desember 2010

TNI AL Amankan Kapal Ikan Thailand di Natuna

0

Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Laut mengamankan dua kapal ikan Thailand yang tengah menangkap ikan secara tidak sah (ilegal) di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Selasa.

Juru bicara TNI Angkatan Laut Kolonel Laut (S) Tri Prasodjo mengatakan, kedua kapal ikan itu masing-masing Kapal Motor (KM) Jitruangporn 7 dan KM Karuna Samut.

"Keduanya ditangkap oleh Kapal Perang RI Abdul Halim Perdana Kusuma-355 yang sedang melaksanakan operasi laut dalam rangka penegakan kedaulatan dan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Ia mengungkapkan, KM Jitruangporn 7 berbobot 80 ton, dinakhodai Tarasi, diawaki delapan orang yang seluruhnya berkewarganegaraan Thailand, serta telah berhasil menangkap kurang lebih satu ton ikan campuran.

"Satu ton ikan itu, ditemukan di dalam palka kapal," kata Tri.

Sementara itu, KM Karuna Samut dari perusahaan yang sama, berbobot 80 ton, dinakhodai Padid, diawaki delapan orang warga negara Thailand telah berhasil menangkap ikan campuran kurang lebih tiga ton yang disimpan pula di palka kapal.

"Kedua kapal ikan asing tersebut berada di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan melakukan penangkapan ikan tidak dilengkapi dokumen pada saat diperiksa sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku," ujar Tri.

Ia menambahkan, kedua kapal beserta 18 orang warga negara Thailand dan sejumlah barang bukti lainnya dikawal ke Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tarempa untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum selanjutnya.

Kapal Ikan Indonesia

Sementara itu, KRI Kalahitam-828 yang mengamankan laut sehari-hari di perairan Kepulauan Riau berhasil menangkap kapal berbendera Indonesia "KM Muara Harapan" di Selat Riau karena mengangkut berbagai jenis barang, diantaranya semen 575 ton tidak sesuai ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.

Kapal yang dinahkodai Abdul Rahim tersebut tidak dilengkapi Surat Kecakapan Nakhoda, anak buah kapal, tidak memiliki Surat Perjanjian Kerja Laut, Surat Ijin Berlayar dan sejumlah persyaratan lainnya demi keamanan dan keselamatan kapal serta muatannya.

Atas tindakan itu, kapal yang berawak delapan orang digiring ke Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjung Pinang, Kepulauan Riau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.

Sedangkan KRI Wiratno-879 yang beroperasi di Laut Sulawesi menangkap KM Wahyu karena diduga menyalahgunakan BBM bersubsidi. Pada saat pemeriksaan di atas kapan juga ditemukan keberadaan PPNS BPH Migas yang tidak masuk dalam daftar manives kapal.

KM Wahyu berbobot 91 ton yang dinakhodai Octo S. Hamel dan diawaki 30 orang itu selanjutnya dikawal ke Lantamal VIII Manado untuk proses hukum selanjutnya.

Tri Prasodjo menegaskan, unsur-unsur operasional TNI Angkatan Laut senantiasa bertindak tegas sesuai ketentuan perundang-undangan dan hukum yang berlaku tanpa pandang bulu.

"Justru cuaca sangat buruk seperti sekarang ini, kapal perang TNI Angkatan Laut meningkatkan intensitas kehadirannya di laut selain melaksanakan penegakan kedaulatan dan hukum juga untuk pengamanan pelayaran dan SAR.

Sumber: ANTARA


Rabu, 24 November 2010

Thailand dan Indonesia Patroli Bersama

0

Kapal perang Thailand HTMS Naresuan F421

DENPASAR, KOMPAS.com - Kapal perang Thailand HTMS Naresuan F421 meninggalkan Pulau Dewata dengan terlebih dulu melakukan kegiatan patroli bersama dengan KRI Fatahillah di Perairan Selat Badung.

"Tadi siang pukul 11.00 Wita, kapal perang Thailand dan KRI Fatahillah meninggalkan dermaga Pelabuhan Benoa, Denpasar," kata Perwira Operasi Pangkalan TNI AL (Lanal) Benoa Mayor Laut (P) Teguh Wibowo, Rabu (24/11/2010).

Ia menjelaskan, pelepasan kedua kapal perang itu dipimpin Komandan Lanal Benoa Kolonel Laut (P) I Wayan Suarjaya.

Selanjutnya kedua kapal perang itu sama-sama meneruskan perjalanan masing-masing, namun lebih dulu melakukan latihan dalam bentuk patroli bersama sektor perairan di Selat Badung yang terletak antara Pulau Bali dengan Pulau Nusa Penida.

Sesuai misi kedatangannya, kapal HTMS berkecepakatan 32 knot itu untuk latihan pelayaran sehingga kesempatan itu dimanfaatkan oleh kedua kepal perang untuk mengantisipasi terhadap segala potensi ancaman dan gangguan di perairan.

"KRI Fatahillah kembali ke pangkalannya di Koarmatim di Surabaya, sedangkan kapal perang Thailand meneruskan perjalanan ke Australia dengan misi yang tak jauh beda," ucapnya.

Dia mengatakan, selama berada di Bali, seluruh personel kedua kapal perang itu juga menggelar kegiatan olah raga bersama, yakni bermain sepak bola.

"Selasa sore digelar pertandingan sepak bola antara personel TNI AL dan Angkatan Laut Thailand di Lapangan Pegok, Sesetan," ujarnya.

Dari penuturan para tentara asing selama beberapa hari di Bali, mereka yang sempat jalan-jalan mengaku terkesan dan senang berada di Pulau Dewata.

Teguh mengaku bersyukur selama dua hari kedatangan tamu kehormatan tentara asing maupun TNI AL, semua agenda kegiatan berjalan lancar.

"Syukurlah mereka senang selama berada di Bali dan harapan kami semoga bisa kembali dengan selamat," katanya berharap.

Kapal kawal rudal Thailand HTMS Nareswan F-421 bersandar di dermaga Pelabuhan Benoa, Senin (22/11). Kapal yang dikomandani Kapten Borinoon Emtip itu disambut Komandan Pangkalan TNI Benoa Denpasar Kolonel Laut (P) Wayan Suarjaya.

Kapal itu membawa pejabat berpangkat bintang satu (laksamana) Real Admiral Suria Forn Suriya, bersama sekitar 240 personel angkatan laut.

"Misi kunjungan kapal perang Thailand dalam rangka muhibah dan latihan pelayaran," ujar Suarjaya.

Sumber: KOMPAS


Senin, 18 Oktober 2010

F16A Thai Air Force ditemukan jatuh

0

illustrasi

Sebuah jet tempur F16 Thai Angkatan Udara jatuh di provinsi Tak utara, menewaskan pilot, ujar Gubernur Tak Samart Loyfa.

Jet tempur menghilang dari radar jam 10 pagi sementara itu terbang ke Wing 41 di utara propinsi Chiang Mai dari Wing 4 di pusat provinsi Nakhon Sawan bersama dengan tiga jet tempur. Namun, tiga lainnya dilaporkan tiba di Chiang Mai dengan aman.

Tim investigasi pergi untuk memeriksa daerah tersebut setelah warga desa setempat mengatakan mereka mendengar suara menerjang dan mendesak pihak berwenang untuk pergi ke sana.

Jet tempur ditemukan jatuh di daerah pegunungan di distrik Tak Ban, Tak provinsi. Tubuh pilot dimutilasi dan diidentifikasi namanya dia sebagai Letnan Penerbangan Ekthakorn Luangrungwaree, 31 tahun.

Menurut juru bicara Angkatan Udara Gp. Kapten Monton Satchukorn, Komite Penyelidikan Kecelakaan Pesawat telah diperintahkan untuk memeriksa daerah di mana kecelakaan terjadi untuk mengklarifikasi apakah cuaca buruk menyebabkan tragedi tersebut.

Ini jet empur F16A satu kursi telah digunakan di Royal Thai Air Force sejak 1997.

Sumber: Global Times / MIK


Jumat, 01 Oktober 2010

Thailand - F-16 Mid-Life Upgrade

0

F-16 Thailand

Washington - The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Sept. 29 of a possible Foreign Military Sale to Thailand of a three-phased program to upgrade 18 F-16A/B Block 15 aircraft with the Mid-Life Upgrade (MLU) and associated parts, equipment, and logistical support for a complete package worth approximately $700 million.

The Government of Thailand has requested a possible sale of a three-phased program to upgrade 18 F-16A/B Block 15 aircraft with the Mid-Life Upgrade (MLU). Each phase will upgrade six aircraft over a three-year period, with each phase overlapping by one year. The MLU with Modular Mission Computer includes APG-68(V)9 Radar, APX-113 Combined Interrogator and Transponder, ALQ-213 Electronic Warfare Management System, ALE-47 Countermeasures Dispenser System, spare and repair parts, tools and support equipment, publications and technical data, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering and technical support services, and other related elements of logistics support. The estimated cost is $700 million.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a major non-NATO ally.

Thailand needs this MLU program in order to upgrade its aging F-16 fleet and to increase air sovereignty fighter aircraft effectiveness and interoperability with U.S. forces. The proposed sale will enhance the Royal Thailand Air Force's capability to conduct day, night, and adverse weather air defense operations. Thailand, which already has F-16s in its inventory, will have no difficulty absorbing these upgrades into its armed forces.

The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.

From: ASD News


Selasa, 24 Agustus 2010

Kasad Terima Kunjungan Panglima AD Kerajaan Thailand

0

JAKARTA (Pos Kota) – Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI George Toisutta, didampingi Wakasad Letjen TNI Johanes Suryo Prabowo, Asisten Pengamanan Kasad Mayjen TNI Tisna Komara, Asisten Operasi Kasad Mayjen TNI Hariyadi Soetanto, Koorsahli Kasad Mayjen TNI Agung Revulton, Kadispenad Brigjen TNI S. Widjonarko dan Paban V/Hublu Kolonel Infanteri Afanti S. Uloli, menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand Jenderal Anupong Paojinda beserta rombongan di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, Senin (23/8).

Sebelum diterima Kasad, Jenderal Anupong Paojinda disambut dengan Upacara Penghormatan Militer dilanjutkan dengan perkenalan dengan pejabat teras TNI AD. Sedangkan malam harinya Kasad mengadakan jamuan makan malam resmi untuk Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand bersama rombongan di Balai Kartini.

Dalam kesempatan ini Kasad menyampaikan sambutan kepada Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand, kunjungan Jenderal Anupong Paojinda beserta rombongan memiliki makna yang sangat positif bagi upaya meningkatkan persahabatan dan kerjasama yang sudah dibangun selama ini. khususnya antara Angkatan Darat Kerajaan Thailand dengan TNI Angkatan Darat, dan meningkatkan semangat persaudaraan antara kedua bangsa pada umumnya.

Kasad mengatakan, kerjasama militer yang dibangun oleh kedua Angkatan Darat, telah berlangsung dengan baik dan kesemuanya itu sangat bermanfaat bagi peningkatan profesionalitas prajurit. Selain itu itu kedua Angkatan Darat telah melaksanakan berbagai program kerjasama yang meliputi, pertukaran kunjungan perwira senior, pertukaran personel dalam pendidikan maupun kegiatan latihan bersama. Kasad juga percaya bahwa kerjasama kedua Angkatan Darat kedua Negara akan semakin memiliki peluang yang sangat luas untuk dikembangkan di masa yang akan datang.

Kasad mengungkapkan, sehubungan dengan akan berakhirnya Memorandum of Understanding program kerjasama militer antara TNI AD dan Angkatan Darat Kerajaan Thailand, maka TNI AD menganggap perlu untuk memperpanjang Memorandum of Understanding tersebut, agar program kerjasama militer yang telah dilaksanakan selama ini dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan di masa yang akan datang.

Hal ini penting karena dengan adanya Memorandum Of Understanding kerjasama militer kedua negara, maka program kerjasama yang direncanakan akan lebih jelas kemana arah dan tujuannya, sehingga masing-masing kedua Angkatan Darat kedua negara dapat melaksanakan program kerjasama tersebut dengan baik sesuai dengan isi MOU, tambah kasad.

Sumber: POSKOTA


Selasa, 10 Agustus 2010

Kapal Perang Thailand Kunjungi Semarang

0

Kapal perang Kerajaan Thailand Makut Rajakumarn

SEMARANG - Kapal perang Kerajaan Thailand Makut Rajakumarn, Senin (9/8) kemarin bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas. Armada angkatan laut tersebut dipimpin oleh Komandan Konglar Toomphu, dalam rangka misi menjalin kerja sama dan mempererat persahabatan dengan beberapa negara.

Menurut Konglar Toomphu saat berkunjung ke kantor Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Semarang Jl Arteri Yos Sudarso, armada dengan 104 kru yang dia pimpin akan berada di Semarang selama dua hari. Selain meningkatkan hubungan kerjasama bilateral antara kedua angkatan laut masing-masing negara, sekaligus sebagai sarana pelatihan peningkatan kemampuan berlayar, mereka juga akan memberi dukungan logistik bagi Indonesia. “Dengan kunjungan ini kami berharap hubungan antarangkatan laut dapat semakin dekat dan erat. Kami juga akan mengunjungi Candi Borobudur untuk beribadah,” katanya.

Kapal bernomor lambung F-433 dengan panjang 97,56 meter, lebar 10,97 meter, dan berat 1.900 ton tersebut, akan melanjutkan perjalanan ke Darwin, Australia pada 10 Agustus. Diperkirakan mereka akan tiba pada 15 Agustus, kemudian menuju ke Bali pada 4 September dan tiba di Bali pada 7 September, lalu melanjutkan pelayaran pada 10 September.

Konglar Thoomphu yang diterima oleh Komandan Lanal Semarang Kolonel Laut (T) NRP 8682/P Mulyanto dan Perwira Pelaksana (Palaksa) Lanal Semarang Letkol Laut (P) NRP 10702/P Sisyani mengatakan, armada angkatan laut Thailand juga akan mengunjungi beberapa negara seperti Singapura, Jepang, New Zealand, Prancis, India, Brunei, dan Filipina.

Di hari yang sama, rombongan kapal juga diterima Wali Kota Soemarmo HS. Dalam kesempatan pertemuan di ruang VIP Balai Kota, antara Soemarmo dan kru kapal berbincang-bincang dibantu penerjemah. Diakhir pertemuan, kru kapal diberi cenderamata berupa replika Tugu Muda. ‘’Mereka hanya kulanuwun di Semarang,’’ kata Soemarmo.

Sumber: SUARA MERDEKA


Rabu, 21 Juli 2010

Taktik Militer Thai Redam Pemberontakan

0

Tentara Thailand bersama dengan warga lokal di Provinsi Pattani (Foto: VIVAnews)

VIVAnews - Jumlah insiden penyerangan oleh pihak pemberontak di sejumlah provinsi di kawasan selatan Thailand dalam beberapa tahun terakhir menurun drastis. Salah satu penyebabnya adalah perubahan strategi dari pihak militer, yang kini menitikberatkan pendekatan kemanusiaan ketimbang pendekatan bersenjata.

Demikian ungkap Letnan Jenderal Pichate Wisaijorn, Panglima Komando Militer Wilayah IV Thailand. "Sesuai arahan Raja [Bhumibol Adulyadej] dan dukungan pemerintah, kami dalam beberapa tahun terakhir menerapkan pendekatan yang lebih humanis kepada masyarakat dan tidak menonjolkan kekuatan bersenjata," kata Pichate kepada delegasi wartawan asing, termasuk VIVAnews dari Indonesia di Kamp Sirindhorn, Provinsi Pattani, Selasa 20 Juli 2010.

Sejak 2008 Pichate diserahi tanggungjawab untuk menegakkan keamanan di provinsi-provinsi di kawasan ujung Selatan Thailand - yaitu Pattani, Yala, dan Narathiwat. Wilayah-wilayah itu mendapat khusus lantaran situasi keamanan belum sepenuhnya stabil akibat serangan-serangan dari pihak pemberontak.

Pichate mengungkapkan, saat ini militer Thailand menempatkan 30.000 personil yang ditempatkan di 2.000 desa di tiga provinsi tersebut. Namun, setengah dari jumlah personil militer itu bukanlah tentara bersenjata. "Mereka melakukan tugas-tugas sipil, seperti tenaga medis, insinyur, dan petugas penyuluhan," kata Pichate.

Militer, menurut Pichate, tidak memperbanyak pos pemeriksaan melainkan mendirikan Pusat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat. Didirikan pada Desember 2008, Pusat itu membentuk sejumlah pondok untuk memberikan pelatihan usaha kepada masyarakat, seperti peternakan ayam, pembuatan pupuk dan biogas, budidaya ikan dan lain-lain. Selain itu juga didirikan sekolah rehabilitasi bagi penderita ketergantungan obat terlarang.

"Kami juga rutin mengadakan pos-pos layanan kesehatan kepada masyarakat, mulai dari perawatan gigi hingga akupunktur," kata Pichate. Dia optimistis bahwa pendekatan yang humanis ini mendapat perhatian besar dari masyarakat. "Mereka kini merasa diperhatikan dan turut menjadi bagian dari Thailand. Saya yakin pendekatan seperti ini merupakan cara yang ampuh dalam menegakkan keamanan sekaligus mencairkan hubungan antara penduduk dengan pihak keamanan," ujar Pichate.

Sementara itu, Kepala Staf dari satuan elit King's Guard, Kolonel Songwit Noonpackdee, mengungkapkan bahwa jumlah insiden di tiga provinsi kawasan selatan Thailand dalam tiga tahun terakhir menurun dratis. "Pada 2008, terjadi 1.700 insiden. Namun pada tahun lalu hanya berlangsung 800 insiden, sedangkan sejak awal tahun ini kami mencatat hanya terjadi 500 kasus," kata Songwit.

Menurut dia, belajar dari operasi penumpasan pemberontakan komunis pada 30 tahun yang lalu, pendekatan humanitarian kini merupakan strategi ampuh bagi militer untuk mengatasi gangguan keamanan.

Sumber: VIVA NEWS


Senin, 19 Juli 2010

TNI AU LAKSANAKAN OPERASI "EIS"

0

ilustrasi

Tanjungpinang, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara bersama dengan Angkatan Udara Malaysia, Singapura, dan Thailand melakukan operasi "Eyes in the Sky" di Selat Malaka dan Singapura.

Kapten Pilot pesawat cassa TNI AU, Kapten Pnb Muhammad Arif di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Minggu, mengatakan operasi pengamanan wilayah udara dan laut di jalur perdagangan tersibuk di dunia itu merupakan patroli regional dalam rangka mempererat hubungan negara tetangga dalam hal pertahanan dan keamanan.

"Di bawah program EiS ini negara peserta akan melaksanakan pesawat patroli maritim (maritime patrol aircraft/MPA) untuk melaksanakan patroli di Selat Malaka dan Singapura sebagai bagian dari usaha untuk mempertinggi keamanan di jalur perairan dan selat itu sendiri," ujarnya.

Menurut dia, operasi "Eyes in the Sky" (EiS) sejak 2005 tersebut dilaksanakan dari 16 sampai 18 Juli 2010.

Operasi tersebut menurut dia, tidak berprasangka kepada posisi dari seluruh negara yang terkait ke semua area yang sedang dipersengketakan atau yang belum ada batasnya.

"Area dari operasi ini akan mencakup internasional dan nasional wilayah udara di atas perairan dari Selat Malaka dan Singapura," katanya menegaskan.

Pejabat Sementara (Pjs.) Kepala Seksi Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan TNI AU Tanjungpinang, Lettu Lek Wardoyo, mengatakan EiS merupakan sistem pengaturan terbuka dengan persetujuan dari tiga negara daerah pesisir, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

"Beberapa negara lain dapat diundang untuk berpartisipasi dengan dasar sukarela dengan persetujuan dan izin dari ketiga negara tersebut," ujar Wardoyo.

Menurut dia, negara peserta akan menyediakan berturut-turut aset udara untuk melaksanakan operasi yang harus dilengkapi dengan benar.

"Pusat operasi EiS bertanggung jawab kepada jadwal dari penerbangan atau `observer` dan menyebarkan informasi ini ke masing-masing negara yang bersangkutan," katanya menambahkan.

Sumber: DEPHAN


Selasa, 13 Juli 2010

Enam Pesawat Tempur Thailand Singgahi Bali

0

F-16 Thailand

Denpasar (ANTARA News) - Enam pesawat tempur jenis F16 milik Thailand telah menyinggahi Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Bali di Tuban, Kabupaten Badung, Selasa, kemudian melanjutkan penerbangan ke Australia.

"Keenam pesawat F16 Thailand itu sudah mendapatkan izin mendarat di Ngurah Rai. Kami sebagai tuan rumah berupaya menyambutnya dengan baik," kata Komandan Lanud Ngurah Rai, Letkol Pnb Aldrin P Mongan di Tuban, Kuta, Kabupaten Badung.

Seusai menyambut kedatangan keenam pesawat super canggih tersebut, dijelaskan bahwa hal itu dalam rangka transit untuk melakukan pengisian bahan bakar, kemudian langsung bertolak meneruskan perjalanan ke Australia.

"Keenam pesawat tempur itu diterbangkan dalam misi latihan perang bersama dengan negara Australia," kata Aldrin.

Dijelaskan bahwa keenam pesawat tersebut mendarat dengan selamat sekitar pukul 11.30 Wita, kemudian terbang lagi pukul 13.30 Wita menuju Australia. "Praktis hanya transit tiga jam. Sejak mendarat dan terbang kembali berjalan aman serta lancar," imbuhnya.

Pesawat tempur buatan Amerika Serikat itu mendarat di "base ops" Lanud Ngurah Rai, langsung mendapat pengamanan cukup ketat dari aparat TNI AU dan tidak ada warga yang bisa mendekat.

Selama melintas di Pulau Dewata itu bunyi suara enam pesawat tersebut cukup keras dan menggelegar, sehingga warga masyarakat di sekitar bandara banyak yang penasaran untuk melihatnya.

Banyak warga melihat ke langit guna menyaksikan pesawat tempur tersebut terbang berkecepatan tinggi dan mengeluarkan suara cukup menggelegar.

Menurut Aldrin, meski kedatangan pesawat tempur asing, namun tidak sampai terjadi perubahan atau penundaan jadwal penerbangan pesawat lainnya.

"Semua jadwal dan prosedur penerbangan sudah diatur otoritas bandara, sehingga tidak sampai mengganggu aktivitas penerbangan yang ada," jelas Aldrin.

Setelah tiga jam singgah, empat pesawat secara berturutan "take off" dan selang seperampat jam diikuti dua pesawat F16 lainnya.

"Semenjak saya menjabat, ini untuk pertamakalinya pesawat F16 asing mendarat di sini," akunya.

Sumber: ANTARA


Senin, 24 Mei 2010

Krisis Thailand Tidak Pengaruhi Patroli Selat Malaka

0


Jakarta (ANTARA News) - Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar), Laksamana Muda Marsetio, mengemukakan bahwa krisis politik di Thailand tidak berimbas pada kerja sama patroli terkoordinasi antara Thailand Indonesia, Malaysia dan Singapura di Selat Malaka.

"Tidak berpengaruh, semua berjalan baik. Termasuk kerja sama yang telah terjalin baik di Selat Malaka," katanya, ketika dikonfirmasi ANTARA News usai menghadiri penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama antara TNI Angkatan Laut dan Bank Mandiri di Jakarta, Senin.

Ia menegaskan, kerja sama empat negara dalam bentuk patroli terkoordinasi di Selat Malaka telah dapat menurunkan tingkat kejahatan di wilayah perairan tersebut. "Semua tetap berjalan baik, tidak terpengaruh," kata Marsetio menegaskan.

Patroli terkoordinasi di Selat Malaka pertama kali dilakukan oleh tiga negara pantai yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura dalam kerangka Malsindo yang diluncurkan pada Juli 2004.

Namun, dengan maraknya kejahatan laut terutama di wilayah perairan Thailand di sebelah utara Selat Malaka maka Indonesia meminta Thailand untuk ikut serta dalam pengamanan Selat Malaka.

Keikutsertaan Thailand dalam kerja sama patroli terkoordinasi di Selat Malaka bersama tiga negara pantai yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura sempat tersendat-sendat karena krisis politik terus melanda Negeri Gajah Putih tersebut.

Setelah krisis politik di Thailand mereda akhirnya pemerintah dan militer negara itu sepakat untuk membantu pengamanan di Selat Malaka bersama tiga negara pantai lainnya.

Selat Malaka dibatasi Pulau Rondo hingga Pukhet di sebelah utara dan di sebelah selatan dibatasi oleh Pulau Karimun hingga Tanjung Piai, dengan panjang seluruhnya mencapai sekitar 500 mil atau 926 kilometer.

Sumber: ANTARA


Kamis, 20 Mei 2010

Khattiya Sawasdipol dan "Kopassus" Thai

0


Khattiya Sawasdipol adalah sosok menarik dalam dunia militer dan politik Kerajaan Thailand. Perwira Korps Kavaleri ini diketahui memimpin sekelompok mantan pasukan Ranger, yakni pasukan elite Kerajaan Thailand yang kualifikasi pendidikannya seperti Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Republik Indonesia.

Pasukan Ranger semula dibentuk oleh jenderal yang kelak menjadi Perdana Menteri Chalavalid Yongchayudh. Mantan Atase Pertahanan Kerajaan Thailand untuk Republik Indonesia Kolonel Vichai Chucherd pada satu kesempatan bercerita betapa anggota Ranger harus mengalami dipatuk ular kobra berbisa sebagai syarat kelulusan dari pendidikan dasar komando mereka.

”Ranger adalah pasukan elite. Mereka bertugas dalam misi- misi penting di Thailand,” ujar Vichai dalam satu kesempatan.

Pada awal kelahirannya, Ranger diketahui bertugas dalam penumpasan sindikat narkotika dan ladang opium di segitiga emas, yakni provinsi utara di Chiang Rai dan Provinsi Chiang Mai yang berbatasan dengan Myanmar dan Laos.

Kewibawaan pemerintah Kerajaan Thailand dipertaruhkan dalam pembersihan sindikat narkoba di segitiga emas. Raja Bhumibol Adulyadej kala itu turun langsung mendorong masyarakat melakukan alih profesi dari peladang opium menjadi petani baik-baik yang menanam tanaman legal dan sektor pariwisata.

Militer Thailand menghadapi tantangan serius di segitiga emas, sebagian jaringan narkoba adalah bekas kawan jadi lawan (pasukan rezim Guo Min Dang, baca Kuo Min Tang) dukungan Amerika Serikat semasa Perang Saudara Tiongkok (1945-1949) menjadi penguasa segitiga emas dengan persenjataan lengkap. Operasi Ranger di kawasan itu dinilai berhasil dan diacungi jempol.

Ranger

Ranger juga membantu pemerintah dalam perang terhadap narkoba beberapa tahun lalu di kota Bangkok yang menelan korban ribuan orang. Situasinya lebih kurang seperti peperangan terhadap kartel narkoba di Meksiko saat ini.

Selain itu, Ranger juga dipercaya mengamankan perbatasan di Thailand Selatan yang berbatasan dengan Malaysia akibat pemberontakan komunis dan kelompok separatis. Daerah itu memang bergejolak, terutama selepas Kolonial Inggris pada awal abad ke-20 memaksa Raja Rama V (Raja Chulalongkorn) yang menghadiahkan patung gajah ke Museum Nasional di Jakarta melepaskan wilayah Kedah, Kelantan, dan Trengganu.

Kondisi itu memicu bangkitnya sentimen etnis Melayu di empat provinsi—ketika itu disebut Kerajaan Siam—yakni Songkhla, Satun, Yala, Narativat, dan Pattani. Persoalan itu berlanjut hingga abad ke-21.

Ranger ke ”Boys in Black”

Nyoman Sawitra, warga negara Indonesia yang sedang bermukim di Thailand, mengatakan, krisis domestik Thailand kini mendudukkan kekuatan militer melawan militer. ”Jenderal Khattiya memimpin sekelompok besar mantan Ranger yang disebut sebagai Boys in Black. Diketahui anggota pasukannya juga bergabung diam-diam ke dalam masa ”Kaus Merah”. Khattiya lulusan angkatan 11 adalah yunior dari Thaksin Sinawatra di Preparation Cadet School yang lulus di angkatan 10,” ujar Nyoman.

Senioritas memang penting dalam dunia militer Thailand seperti terekam dalam catatan almarhumah wartawan senior Kompas, Threes Nio, dalam buku Laporan dari Lapangan menulis dan membandingkan kudeta militer Thailand tahun 1973 dan 1976. Threes Nio mencatat, ”Senioritas sangat penting dalam militer Thailand. Seorang yunior yang lebih muda meski berbakat tidak bisa melampaui dan harus mematuhi senior”.

Menurut Nyoman, di pihak pemerintah militer sudah diperintahkan menggunakan peluru hidup (live round) dan di pihak Kaus Merah ada orang- orang Khattiya—para Black Boy—yang masih aktif atau nonaktif di militer memiliki kemampuan perang. ”Bayangkan perasaan mereka melihat komandannya ditembak di depan mata. Tidak heran terjadi serangkaian aksi sniper dalam krisis politik yang berlarut-larut ini,” ujar Nyoman.

Keterlibatan eks Ranger memang bukan sekadar spekulasi. Harian The Bangkok Post yang berbahasa Inggris pada tanggal 25 April 2010 melaporkan adanya orang-orang dengan masker ski (balaklava) warna hitam berada di antara kelompok Kaus Merah. Mereka diketahui menyerang tentara, melucuti polisi, dan membongkar barikade militer dengan terampil dan taktis.

Bangkok Post menulis, Jenderal Panlop Pinmanee mengatakan telah meminta Khattiya Sawasdipol untuk menolongnya setelah mengetahui banyak mantan Ranger dari tangsi militer Pak Tong Chai bergabung dengan pengunjuk rasa Kaus Merah.

Akhir krisis Thailand masih jauh dari usai!

Sumber: KOMPAS


Senin, 17 Mei 2010

Mayjen Thailand yang Membelot Akhirnya Meninggal

0

Khattiya Sawasdiphol


REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK--Kondisi politik di Thailand makin mendidih. Seorang jenderal Angkatan Bersenjata Thailand yang membelot dan bergabung dengan massa Kaus Merah akhirnya tewas setelah lima hari akibat luka tembak yang dialaminya. Ia ditembak lima hari lalu oleh seorang penembak jitu tepat di kepalanya.

Televisi Channel 9 melaporkan, Mayjen Khattiya Sawasdiphol, meninggal Senin. Khattiya adalah ahli strategi militer untuk massa demonstran. Dia ditembak di kepala pada Rabu.

Insiden penembakan itu memicu makin meluasnya pertempuran antara demonstran anti-pemerintah dan tentara di Bangkok tengah. Setidaknya 36 orang - semuanya warga sipil - telah tewas dalam kerusuhan itu. Kaus Merah telah memprotes sejak pertengahan Maret menuntut pengunduran diri Perdana Menteri segera Abhisit Vejjajiva, pembubaran parlemen, dan pemilihan umum dipercepat.

Hingga hari ini, ketegangan di Bangkok belum mereda. Suara tembakan dan ledakan sebelum fajarbergema di luar hotel-hotel mewah yang berbatasan dengan zona pendemo. Para tamu di hotel kelas atas Dusit Thani yang bergegas ke ruang bawah tanah untuk menyelamatkan diri setelah pendemo menyerbu hotel.

Wartawan di tempat kejadian mengatakan tembakan itu datang baik dari pasukan pemerintah dan demonstran bersembunyi di dalam perkemahan yang tampaknya memiliki senjata dalam jumlah besar.

Pemimpin pengunjuk rasa mengatakan mereka ingin perundingan ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sumber: REPUBLIKA


Korban Tewas di Thailand Bertambah 36

0

Pendukung Kaus Merah berlindung (Foto: Reuters)

BANGKOK - Jumlah korban tewas akibat bentrokan antara militer Thailand dengan kelompok anti-pemerintah terus bertambah. Hingga hari ini, korban tewas dipastikan bertambah menjadi 36 jiwa.

"Dua orang lagi tewas tadi malam. Korban tewas termasuk seorang prajurit dan seorang pengunjuk rasa," ungkap seorang petugas rumah sakit di Bangkok, seperti dikutip AFP, Senin (16/5/2010).

Sedangkan korban luka akibat bentrokan yang terjadi sejak Kamis 13 Mei lalu, meningkat menjadi 255 orang. Diantara korban terluka terdapat enam warga asing.

Pihak rumah sakit juga menambahkan, jika prajurit yang tewas pada Senin 15 Mei tengah malam waktu setempat, merupakan anggota Angkatan Udara Thailand yang saat itu sedang melakukan patroli. Prajurit berusia 31 tahun tersebut meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Menyusul bentrokan yang terjadi di Bangkok, pihak Kedutaan Besar Australia menutup layanannya di Bangkok. Penutupan layanan ini akan berlangsung sejak hari ini hingga waktu yang tidak ditentukan.

Penutupan yang dilakukan pihak Australia ini mengikuti langkah serupa yang dari pihak Kedubes Inggris dan Belgia.

Sumber: OKEZONE


Minggu, 16 Mei 2010

Jet Tempur Kanada Kawal Cathay Pacific

0


VIVAnews - Jet tempur Kanada mengawal sebuah pesawat milik maskapai Cathay Pacific hingga mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Vancouver, Sabtu waktu setempat, 15 Mei 2010. Pengawalan pesawat yang terbang dari Hong Kong tersebut dilakukan menyusul ancaman bom.

Kepolisian Kanada mengatakan, para penumpang telah dievakuasi dan ancaman bom tersebut tidak terbukti. "Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam pesawat. Tapi saat ada informasi ancaman bom, kami selalu menganggapnya serius, dan penyelidikan akan berlanjut," kata juru bicara kepolisian Kanada, Sherrdean Turley.

Sebelumnya, jet tempur CF-18 Hornet menerima perintah dari North American Aerospace Defense Command (NORAD) untuk mengawal pesawat Airbus 8340 dengan 283 penumpang dan 14 kru tersebut. Perintah itu muncul setelah informasi mengenai ancaman bahaya pada pesawat tersebut. "Untuk berjaga-jaga, jet tempur mengawal pesawat hingga mendarat dengan selamat di Vancouver," kata juru bicara NORAD, Holly Apostoliuk.

Para penumpang mengatakan tidak diberi informasi apapun terkait masalah dalam penerbangan. Seorang penumpang mengatakan pada CTV News bahwa jet tempur Kanada mulai terlihat sekitar 128 kilometer dari Vancouver.

"Saya sangat takut," kata penumpang tersebut. "Jet tempur itu sangat dekat dengan pesawat kami, sangat dekat," lanjutnya.

Sumber: VIVA NEWS


Jumat, 14 Mei 2010

Komandan Militer Ditembak, Pasukan 'Kaos Merah' Tak Gentar

0


Bangkok - Demonstrasi anti-pemerintah 'kaos merah' di Bangkok, Thailand kian sigap mengamankan diri usai bentrok yang menyebabkan seorang tewas dan delapan luka-luka akibat bentrok dengan petugas keamanan. Bahkan pemimpin kaos merah, Mayor Jenderal Khattiya Sawasdipol ikut terluka akibat tembakan di kepalanya.

Dikutip detikcom dari AFP, Jumat (14/5/2010), para demonstran mengenakan pakaian hitam-hitam. Mereka mempersenjatai diri dengan senjata tradisional seperti ketapel dan panah. Mereka juga menutup salah satu jalan utama kota Bangkok.

"Jika Anda berpikir penembakan terhadap Seh Daeng (Mayor Jenderal Khattiya Sawasdipol) membuat kita takut, Anda salah," ujar salah satu pemimpin demonstran, Jatuporn Prompan di lokasi demo.

"Tidak peduli apa senjatanya. Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sebagai pecundang," imbuhnya.

Kekerasan yang terjadi Kamis malam (13/5/2010) muncul setelah Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva berencana mengadakan pemilihan umum lebih awal pada bulan November. Namun rencana yang awalnya disepakati tersebut berubah menjadi huru hara setelah para demonstran menuntut pengadilan terhadap pelaku penembakan terhadap 25 pendemo yang tewas dalam beberapa bulan terakhir.

Pasukan kaos merah menuding pemerintah tidak demokratis karena mengudeta mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

Sumber: DETIK


Rabu, 05 Mei 2010

Indonesia Berpartisipasi dalam Latihan Militer

0

Militer dari 14 negara termasuk Indonesia berencana untuk berpartisipasi dalam Rim of the Pacific Exercise atau Rimpac. Latihan militer tersebut akan dimulai musim panas ini, pada 23 Juni sampai 1 Agustus.

Rimpac adalah latihan maritim internasional terbesar di dunia yang bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas antara angkatan bersenjata Pacific Rim, sebagai sarana untuk meningkatkan stabilitas di kawasan itu demi kepentingan semua negara yang berpartisipasi.

Pasukan Angkatan Laut AS akan menjadi tuan rumah dalam latihan yang akan melibatkan 20 ribu personel, 34 kapal, lima kapal selam, dan lebih dari 100 pesawat terbang.

Selain AS dan Indonesia, latihan militer itu diikuti juga oleh Australia, Kanada, Cile, Kolombia, Prancis, Jepang, Malaysia, Belanda, Peru, Korsel, Singapura, dan Thailand.

Para pejabat militer AS mengatakan Rimpac menunjukkan komitmen negara-negara di dunia untuk bekerja sama menjaga jalur laut, melindungi kepentingan negara di luar negeri, dan menjamin kebebasan navigasi yang merupakan dasar dari perdamaian dan kemakmuran global.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Senin, 15 Maret 2010

Granat Meledak di Pangkalan Militer Thailand

0

BANGKOK, KOMPAS.com - Situasi kota Bangkok, Thailang makin memanas. Tiga granat meledak di sebuah markas militer di pusat kota itu, Senin, dan melukai dua orang tentara.

Ledakan granat itu bersamaan dengan aksi unjuk rasa anti-pemerintah yang mengepung sebuah barak militer lain di pinggir kota Bangkok. Tidak jelas apakah ledakan itu terkait dengan aksi unjuk rasa puluhan ribu orang "kaus merah" yang mendukung mantan perdana menteri yang terguling, Thaksin Shinawatra, yang dimulai Jumat lalu.

Para pengunjuk rasa memberi ultimatum kepada Perdana Menteri, Abhisit Vejjajiva, untuk membubarkan parlemen pada Senin siang ini. Namun tuntutan para pengunjuk rasa itu ditolak Abhisit.

"Seorang terluka di perut dan yang lain di tangan," kata Kolonel Nattawat Attanibutt kepada Reuters. Ia menambahkan, granat-granat itu telah tembakan dengan sebuah peluncur granat M-79 dari luar markas yang terletak di Vihavadi-Rangsit Rd itu.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 04 Maret 2010

Kamboja Melakukan Tes Atas Roket Miliknya

0

KAMPONG CHHNANG - Militer Kamboja tidak biasanya melakukan tes terhadap roket yang mereka miliki. Namun hari ini pengetesan tersebut dilakukan di tengah-tengah pertikaian tapal batas dengan negara tetangga mereka, Thailand.

Dalam latihan militer yang diketahui secara publik untuk pertama kalinya usai perang saudara beberapa dekade lalu, Kamboja menembakan lebih dari 200 roket dari truk pelontar roket. Tes ini dilakukan di sebuah pangkalan udara yang terletak sekira 180 kilometer dari perbatasan dengan Thailand.

Namun seorang pejabat militer Kamboja menolak tuduhan ini sebagai aksi provokasi kepada Thailand.

"Latihan ini bukan bentuk ancaman ataupun unjuk gigi kepada negara tetangga kami (Thailand) atau pun negara lainnya," ungkap juru bica Kementrian Pertahanan Kamboja, Chhum Socheat, seperti dikutip AFP, Kamis (4/3/2010).

Sementara Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, juga sempat menepis anggapan provokasi sebelum latihan perang ini dilakukan. Menurutnya latihan ini diadakan untuk memperkuat kemampuan militer Kamboja untuk memenuhi tugas menghadapi ancaman musuh.

PM Hun Sen juga menambahkan jika roket yang ditembakan tersebut tidak lebih untuk mengetahui kualitas roket buatan Rusia dan China yang dibiarkan terbengkalai sejak perang dingin. Roket-roket ini sendiri sebelumnya dibiarkan tidak terurus di gudang militer Kamboja.

Hubungan Kamboja dan Thailand memang terus mengalami ketegangan, pengerahan pasukan kedua negara di perbatasan yang diperebutkan sejak Juli 2008 hingga kini masih terus berlangsung.

Sengketa perbatasan itu sendiri terjadi sejak Unesco memberikan status warisan dunia kepada Kuil Preah Vihear yang dibuat pada abad 11, yang diberada di wilayah kamboja yang juga diklaim Thailand.

Sumber: OKEZONE


Kamis, 11 Februari 2010

Thailand Komitmen Bantu Pengamanan Selat Malaka

0

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Thailand menegaskan komitmennya untuk membantu pengamanan Selat Malaka bersama tiga negara lainnya yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura.

"Thailand akan terus mendukung upaya pengamanan Selat Malaka," kata Kepala Staf Angkatan Laut Thailand Laksamana Khamthorn Phumhiran saat bertemu Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana TNI Agus Suhartono di Jakarta, Kamis.

Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul ketika dimintai konfirmasi ANTARA News, tentang bentuk dukungan nyata Thailand di Selat Malaka, mengatakan, Phumhiran tidak menyatakan secara rinci.

"Yang jelas, Thailand telah bergabung dengan tiga negara lainnya yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura dalam patroli terkoordinasi di Selat Malaka. Namun tidak disebut rinci berapa kekuatan yang dikerahkan, baik di laut maupun udara," kata Iskandar.

Selat Malaka dibatasi Pulau Rondo hingga Pukhet di sebelah utara dan di sebelah selatan dibatasi oleh Pulau Karimun hingga Tanjung Piai, dengan panjang seluruhnya mencapai sekitar 500 mil atau 926 kilometer.

Pada Juli 2004, untuk mengamankan Selat Malaka, Indonesia membentuk kerjasama keamanan trilateral dengan Malaysia dan Singapura yang dinamakan Patroli Terkoordinasi (Coordinated Patrol) Malsindo.

Dalam kegiatan pengamanan Selat Malaka lewat Malsindo itu, dibangun beberapa titik pengawasan (point control) masing-masing di Belawan dan Batam (Indonesia), Lumut (Malaysia) dan Changi (Singapura).

Dengan keikutsertaan Thailand dalam patroli terkoordinasi di Selat Malaka, kemungkinan akan dibangun titik pengawasan tambahan di Pukhet.

Selain menegaskan, komitmennya untuk mengamankan Selat Malaka bersama tiga negara lainnya dalam pertemuan itu juga dibicarakan perkembangan kerja sama angkatan laut kedua negara.

Iskandar mengatakan, kedua angkatan laut sepakat untuk meningkatkan kerja sama baik di bidang operasi, pendidikan dan latihan.

Sumber: ANTARA


Thailand Batalkan Dakwaan 5 Penyelundup Senjata Korut

0

BANGKOK - Pengadilan Thailand membatalkan dakwaan terhadap lima kru pesawat yang diduga membawa senjata ilegal dari Korea Utara.

Menurut Juru Bicara Kejaksaan Agung Thailand, kelima orang tersebut akan dideportasi ke negara mereka masing-masing untuk menghadapi pengadilan di negara mereka.

Kelima orang tersebut, empat di antaranya berasal dari Kazakhstan, sementara satu orang lainnya berasal dari Belarusia. Demikian diberitakan BBC, Kamis (11/2/2010).

Kelimanya ditangkap oleh pihak keamanan Bandara Bangkok pada 12 Desember lalu, saat melakukan transit untuk mengisi bahan bakar. Saat dilakukan pemeriksaan, pesawat berjenis Ilyushin tersebut membawa kargo seberat 35 ton yang terdiri dari bahan peledak, peluncur granat, komponen misil jarak jauh, serta senjata lainnya.

Hal ini berbeda dengan data dalam manifes di mana pesawat pesawat hanya membawa komponen pertambangan minyak dengan tujuan Sri Lanka. Hingga saat ini tujuan utama dari pesawat tersebut masih belum diketahui. Sebelumnya pesawat yang terbang dari Pyongyang, Korea Utara tersebut diduga akan berangkat menuju Iran.

Tetapi juru bicara pemerintahan Thailand Panitan Wattanayarkorn mengatakan, keterangan yang menyebutkan senjata tersebut menuju Iran adalah hal yang tidak benar. Senjata yang ditemukan dalam pesawat tersebut dilaporkan berupa senjata tempur ringan, termasuk granat (yang hampir tidak mungkin bagi Iran yang memiliki persenjataan modern membutuhkannya).

Terbongkarnya penjualan senjata dari Korea Utara ini, makin memperlemah kedudukan negeri komunis tersebut di mata Dewan Keamanan PBB. Korut sendiri sebenarnya masih dijatuhi sanksi pelarangan penjualan senjata oleh PBB.

Sumber: OKEZONE




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin