Tampilkan postingan dengan label Pesawat Patroli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Patroli. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Januari 2011

TNI AU Museumkan Pesawat OV-10 Bronco

0


Pesawat OV-10 Bronco di museum Dirgantara Mandala.

YOGYAKARTA - TNI Angkatan Udara mengistirahatkan untuk selamanya, pesawat tempur latih buatan Amerika Serikat, OV-10 Bronco.

Pesawat berjuluk Kuda Liar ini, diserahkan langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat kepada Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Letkol TNI Sudarno, di Yogyakarta, Selasa (25/1).

Masuknya OV-10 Bronco menambah koleksi museum Dirgantara Mandala. "Museum Dirgantara Mandala merupakan museum kebanggaan TNI AU yang punya koleksi lengkap sebagai wahana pembinaan minat dirgantara," ujarnya.

Untuk itu, tutur KSAU, Museum Dirgantara perlu kepedulian semua pihak. "Bentuk kepedulian tersebut salah satunya adalah dengan penambahan koleksi, yaitu pesawat OV-10 Bronco," ujar KSAU.

Koordinator Staf Ahli KSAU Marsekal Muda TNI Pandji Utama menyebutkan, OV-10 Bronco buatan AS tiba di Indonesia pada tahun 1976. Pesawat ini banyak melaksanakan operasi di Tanah Air.

Sumber: SUARA KARYA


Sabtu, 20 November 2010

Indonesia considers more Embraer Tucanos

0

Super Tucano

JAKARTA, Nov. 19 (UPI) -- Indonesia could double its order for eight Embraer EMB-314 Super Tucano light attack turboprops, an air force official said.

The first of the eight aircraft will arrive in 2012 and includes ground-support stations and a logistics package.

The firm order for the eight, announced earlier this month, was the first for the Super Tucano in the Asia-Pacific region, but more could follow.

"Air force headquarters has decided to replace our Rockwell OV-10 Broncos with as many as 16 Super Tucanos," Indonesian air force operational commander Yushan Sayuti said.

Embraer won the deal over Korea Aerospace Industries KT-1, of which 11 are being used as trainers with Indonesia's air force. A 12th aircraft crashed at Bali Airport in June but the pilot and trainee-pilot ejected safely.

The KT-1 is a South Korean single-engine turboprop, basic training aircraft. It was developed by KAI and the Agency for Defense Development as the first completely indigenous South Korean aircraft. It first flew in 1991 but wasn't until some years later that it was inducted into the South Korean air force, which remains the aircraft's primary user with around 80 units.

Turkey operates around 40 of the KT-1, with an option to buy 15 more.

Indonesia urgently needs the Super Tucano because it is believed to have grounded at least 10 of its 12 aging OV-10F versions of the Bronco, a plane that first flew in 1965.

"The Super Tucano has been chosen to replace the Broncos because of its flexibility to perform a broad range of missions, including light attack, surveillance, air-to-air interception and counter insurgency," Embraer said in a written statement.

Indonesia's Broncos served in many surveillance and light attack roles, especially during the country's 1975 foray into neighboring East Timor, and which is now independent Timor Leste. Broncos also were used for bombardment during civil disruptions around the large mining operations of Freeport-McMoRan in the country's West Papua region.

Indonesia's versions of the Bronco are fitted with 12.7 mm Browning heavy machine guns in place of the lighter 7.62 mm machine guns favored by the U.S Navy.

At the Singapore Air Show in February, Boeing, which acquired the aerospace and defense units of Rockwell in 1996, said export interest for the Bronco was still high. Boeing said it would go on with its development of the aircraft even if it failed to win the U.S. Air Force tender for 100 light attack and armed reconnaissance aircraft.

The Super Tucano first flew in 1999 and was introduced into the Brazilian air force in 2003.

The Super Tucano's power is from a single Pratt & Whitney Canada PT6A-68C turboprop producing 1,600 hp. Maximum speed is nearly 350 mph with a range of around 975 miles and a ceiling height of 35,000 feet. Armaments include two 12.7 mm FN Herstal M3P machine guns in wings and cannon pods and two MAA-1 Piranha missiles.

Other weapons can include conventional and laser-guided bombs. The aircraft also carries an electro-optical infrared sensor, laser designator and secure radios with data links.

Apart from the air force of Brazil, other users include the Dominican Republic and Colombia. Chile and Ecuador have placed orders.

Competitors to the Super Tucano include the Beechcraft T-6 Texan II, the Piper PA-48 Enforcer, the Turkish-made TAI Hurkus and the Pilatus PC-21 from Switzerland.

From : UPI


Jumat, 12 November 2010

Pesawat Pengintai Jatuh di Korsel

0

McDonnell Douglas RF-4C Milik ROKAF

TRIBUNNEWS.COM, SEOUL --- Sebuah pesawat pengintai jatuh di Korea Selatan, Jumat (12/11/2010). Pesawat milik angkatan laut Korea Selatan menghilang dari radar di sekitar Jeonju, sekitar 240 kilometer selatan ibukota Seoul.

Dua awak pesawat tewas. Jenazah mereka ditemukan di rongsokan pesawat. Pesawat jenis McDonnell Douglas RF-4C biasanya dikerahkan di perbatasan dengan negara tetangga dan musuh bebuyutan Korea Utara.

Pesawat pengintai terbang sangat rendah ketika jatuh. Namun, hingga kini belum diketahui jelas apa penyebab kecelakaan pesawat itu.

Terkait denan KTT G20 itu, Pemerintah Korea Selatan menyiapsiagakan aparat keamanannya.

Sumber : TRIBUN


Kamis, 11 November 2010

Indonesia Beli 8 Pesawat Tempur Brasil

0

Super Tucano Buatan Embraer Brasil

SAO PAULO, KOMPAS.com — Raksasa penerbangan Brasil, Embraer, Rabu (10/11/2010), mengumumkan, perusahaan itu memenangi kompetisi internasional untuk menyediakan delapan pesawat serang ringan bermesin turbojet Super Tucano bagi Angkatan Udara Republik Indonesia.

Embraer tidak membeberkan berapa besar nilai perjanjian tersebut, tetapi koran lokal menyebutkan angka 10 juta dollar AS. Perjanjian itu mencakup stasiun pendukung di darat dan suatu paket logistik yang terintegrasi. Pengiriman pesawat ke Indonesia dimulai tahun 2012.

"Kami sangat senang bahwa Angkatan Udara Indonesia menjadi pelanggan terbaru dari Sistem Pertahanan Embraer," kata Orlando Jose Ferreira Neto, Wakil Presiden Eksekutif Embraer. "Super Tucano merupakan pesawat serang ringan yang sudah terbukti dan pesawat latih yang sudah maju, yang saat ini sudah digunakan oleh lima angkatan udara. Kami yakin, pesawat itu sangat sesuai dengan kebutuhan Indonesia," tambahnya.

Embraer, pembuat pesawat terbesar ketiga di dunia, pada kuartal ketiga tahun 2010 memiliki pendapatan senilai 128 juta dollar.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 04 November 2010

Indonesia Akan Membeli Dua Skuadron Super Tucano

0

Super Tucano

Pemerintah juga akan menandatangani sejumlah MoU pengadaan alutsista yang melibatkan sejumlah perusahaan strategis dan pertahanan dalam negeri.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan MoU akan ditandatangani pada hari pembukaan Indo Defense, yang akan diadakan di Jakarta International Expo di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 10-13 November.

Purnomo mengatakan MoU termasuk pembelian dua skuadron standar pesawat ringan serangan Super Tucano untuk menggantikan penuaan Angkatan Udara OV-10 Bronco
.

"Kami akan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia [DI] untuk pekerjaan pemeliharaan. Kami juga berharap DI dapat memproduksi beberapa suku cadang dan komponen, "katanya.

Bom P-100
MoU lain yang akan ditandatangani meliputi pembelian bom P-100 dan P-100L buatan perusahaan swasta lokal yang berbasis di Malang kemudian bekerjasama dalam pengadaan senjata dan amunisi buatan PT Pindad.

Bom tersebut untuk pengadaan perlengkapan persenjataan Sukhoi Su-27/30.

Sumber: THE JAKARTA POST


Menhan : Penandatangan Super Tucano Pada Indo Defense 2010

0

Indonesia Akan Meneken Kontrak Super Tucano Pada Waktu Indo Defense

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah mendukung pengembangan industri bidang pertahanan dan keamanan oleh pelaku-pelaku usaha dalam negeri. Melalui pameran industri pertahanan yang akan digelar 10-13 November nanti, pemerintah mendorong terjalinnya kontak bisnis dan transfer teknologi yang dapat dimanfaatkan bagi perkembangan industri pertahanan tanah air. "Pameran ini terbuka bagi mereka yang tertarik pada industri pertahanan, dari dalam dan luar negeri," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam jumpa pers di kantornya, di Jakarta, Kamis (4/11).



Pameran bertajuk 'Indodefence Expo and Forum' ini merupakan langkah awal dalam rencana jangka panjang pemerintah untuk membangun industri pertahanan dan keamanan di tanah air. Pameran yang akan digelar untuk keempat kalinya ini, lanjut Purnomo, sejalan dengan rencana pemerintah untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI dan kepolisian menggunakan produk-produk industri dalam negeri. "Tentunya yang kualitasnya sudah teruji," ucap dia.


Purnomo mengatakan, meski bukan pameran khusus antarnegara, pameran akan diikuti oleh lebih dari 400 peserta dari 38 negara, termasuk pabrikan-pabrikan peralatan militer terkemuka. "Tidak harus diwakili oleh negara, tapi oleh industrinya. Misalnya, Amerika Serikat dan Cina. Pabriknya yang tertarik untuk memasarkan produk-produknya," ujar dia.


Selain pameran peralatan pertahanan dan keamanan, lanjutnya, pemerintah juga akan meneken beberapa kesepakatan kerja sama. Di antaranya, pembelian pesawat Super Tucano menggantikan pesawat OV-10 Bronco, serta pengembangan produk bom udara untuk pesawat tempur Sukhoi hasil kerjasama PT Pindad dan perusahaan asal kota Malang, Jawa Timur. Juga ada pembuatan payung parasut untuk pasukan khusus Angkatan Darat yang diproduksi oleh perusahaan asal Tulungagung.


Pemerintah, kata Purnomo, juga tengah memproduksi seribu roket pertahanan jenis RHan-122 dengan daya tembak sejauh 14,5 km dan berhulu ledak radius 150 meter. Roket sudah diuji coba di Pusat Latihan Tempur TNI di Baturaja, dan masih terus dikembangkan. Roket RHan-122 akan digunakan untuk pertahanan TNI Angkatan Laut.

Sumber: TEMPO


Rabu, 03 November 2010

PT DI Garap Sembilan CN-235

0


Bandung, CyberNews. PT Dirgantara Indonesia tengah menggarap sembilan unit CN-235, pesawat produksi andalan mereka untuk kebutuhan tiga negara. Dua pesawat di antaranya dijadwalkan bakal diserahkan dalam waktu dekat di pengujung 2010.

Kesembilan pesawat propeller itu merupakan pesanan Korsel sebanyak 4 unit produksi baru, kemudian Senegal terdiri dari 2 unit yang merupakan pesawat modifikasi, dan Kemenhan RI bagi operasional TNI AL jenis patroli maritim baru 3 unit.

Menurut Jubir PT DI, Rakhendi Triyatna, dua pesawat yang diserahkan dalam waktu dekat masing-masing satu versi pesawat transport militer milik Senegal dan patroli maritim Korea.

"CN-235 Senegal sudah selesai, tinggal diserahkan, sedangkan yang Korea sudah memasuki tahap perakitan akhir. Kami yakin akan berjalan sesuai jadwal pada akhir tahun ini," tandasnya di Bandung, Rabu (3/11).

Di luar itu, Rakhendi menambahkan pihaknya bersiap pula menyerahkan satu unit helikopter Super Puma versi transport militer kepada TNI-AU. Dijelaskannya, CN-235 Korea merupakan realisasi kontrak yang diperoleh pada Desember 2008 senilai 94,5 Juta US Dollar.

Jadwal penyerahan pesawatnya dilakukan antara 2010-2011. Untuk nilai kontrak dengan Kemenhan RI bernilai 80 Juta US Dollar yang ditandatangani kedua belah pihak pada Desember 2009. Jadwal penyerahan pertama pesawat dijadwalkan 2012.

Nilai kontrak dengan Senegal tidak diungkapkan. Hanya saja, PT DI memodifikasi CN-235 versi penumpang menjadi kepentingan militer. Harga pesawat tersebut, imbuhnya, bergantung pada opsi yang ingin dilekatkan pada fasilitas pesawat sayap tetap itu.

Opsi tersebut dalam rangka memenuhi misi yang diinginkan terhadap operasional pesawat itu di samping sistem avionik dan electroniknya. Terlebih ini adalah pesawat militer.

Sumber: SUARA MERDEKA


Sabtu, 16 Oktober 2010

DPR Menyetujui Pembelian Super Tucano 2011

0

Super Tucano Buatan Brazil Pesawat Patroli yang DiMinati TNI AU(Foto: MATANEW)

JAKARTA (SINDO) – Tentara Nasional Indonesia (TNI) merencanakan pembelian satu skuadron pesawat intai mengingat luasnya wilayah perbatasan yang harus diawasi.

Kepala Staf Umum TNI Marsekal Madya Edy Harjoko mengatakan, pesawat-pesawattersebutakan ditempatkan di daerah yang langsung berbatasan dengan negara tetangga seperti daerah Kalimantan. “Kami sangat membutuhkan pesawat intai untuk pengawasan daerah perbatasan baik darat maupun laut,”kata Edy seusai pelepasan Kontingen Garuda (Konga) XXH ke Kongo, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta,kemarin. Menurut dia,jenis dan kemampuan serta jumlah pesawat intai tersebut akan disesuaikan dengan kondisi geografis serta kemampuan anggaran pertahanan.

Rencana ini sudah dialokasikan dalam anggaran 2011. “Jadi nanti disesuaikan dengan tingkat kemampuan anggaran kita.Tapi minimum tahap awal kita harus punya tiga sampai empat pesawat,”ujarnya. Anggota Komisi I DPR Yahya Sacawiria mengatakan pengadaan pesawat intai oleh TNI sudah dibahas dalam rapat dengan Komisi I DPR.

Dia menyebutkan yang ada dalam anggaran pembelian alat utama sistem persenjataan tersebut pesawat jenis Super Tucano. “Sudah ada dalam anggaran, tinggal realisasinya” ujarnya. Super Tucano merupakan pesawat dengan kemampuan counter insurgency atau pesawat serang antigerilya.

Pesawat buatan Embraer Defense System Brasil ini sekaligus dapat difungsikan mengintai dan menjaga perbatasan Dia pun mengingatkan, dalam pembelian pesawat intai tersebut pemerintah dan TNI harus mengupayakan ada proses alih teknologi. “Jangan beli ketengan tapi harus ada transfer teknologi,”ujarnya. Di bagian lain, Marsdya Edy Harjoko menyatakan TNI akan mengirimkan kembali pasukan perdamaian Kontingen Garuda ke Republik Demokratik Kongo.

Sumber: SINDO


Jumat, 15 Oktober 2010

TNI Berharap Pemerintah Segera Beli Pesawat Intai

0

illustrasi pesawat pengintai SaaB 340 AEW

Jakarta - Tentara Nasional Indonesia (TNI) merasa untuk mendukung kinerja dalam mengawasi daerah perbatasan memerlukan tambahan peralatan. Penambahan yang diharapkan antara lain berupa pembelian pesawat intai.

"Negara kita banyak berbatasan dengan negara tetangga. Baik darat dan laut, sehigga kita memerlukan pesawat intai," ujar Kepala Staf Umum TNI, Marsekal Madya Edy Harjoko, usai melepas Kontingen Garuda ke Kongo, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (15/10/2010).

Menurut Edy, belum diketahui besarnya anggaran untuk membeli pesawat intai. Namun diharapkan hal ini dapat dimasukkan pada tahun anggaran 2011.

"Kita sesuaikan dengan anggaran kita. Minimum kita memiliki 3 atau 4 pesawat," jelas jendral bintang tiga ini.

Edy menambahkan, hingga saat ini belum akan diputuskan akan membeli dari negara mana pesawat intai TNI nantinya. Namun Edy mengaku sejauh ini sudah ada beberapa penawaran yang masuk.

"Membeli dari negara mana belum kita tentukan. Tapi sudah ada masukan, kira-kira semacam brosur," kata Eddy.

Lebih lanjut Edy mengatakan, direncanakan akan ada squadron khusus untuk pesawat intai ini. Kemungkinan lokasi yang dipilih adalah daerah yang memiliki perbatasan darat dengan negara tetangga.

"Kita baru merencanakan satu squadron. Ditempatkan di daerah yang berbatasan darat langsung dengan negara tetangga, Kalimantan," tutup Eddy.

Sumber: DETIK


Jumat, 01 Oktober 2010

KEMHAN RI UPAYAKAN ALIH TEKNOLOGI 'SUPER TUCANO'

0


Jakarta - Kementerian Pertahanan RI tengah mengupayakan adanya alih teknologi dalam pengadaan pesawat "Super Tucano EMB-314" yang akan menggantikan pesawat OV-10 Bronco TNI Angkatan Udara, kata Sekjen Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto di Jakarta, Rabu.

Kepada ANTARA ia mengemukakan, klausul mengenai alih teknologi itu akan dimasukkan dalam kontrak pengadaan 16 unit "Super Tucano" bagi TNI Angkatan Udara. "Karena itu, masih memerlukan waktu agar kontraknya selesai dan pengadaan `Super Tucano` dapat segera dilaksanakan," ujar Eris.

Ia mengungkapkan, pihak Embraer Brasil sebagai produsen "Super Tucano" hanya mengizinkan PT DI untuk mengerjakan sejumlah pekerjaan non aeronautika. Sedangkan Kemhan RI terutama PT DI menginginkan, Embraer memberikan ijin untuk pembuatan suku cadang pesawat.

"Dengan begitu, jika sewaktu-waktu TNI Angkatan Udara sebagai pengguna, memerlukan suku cadang pesawat akan lebih cepat dan murah. Tidak perlu kita harus menunggu lama. Ini yang masih kita negosiasikan. Setelah disepakati kedua pihak, baru kita masukkan dalam kontrak agar ada dasar hukum yang jelas dan tidak timbul masalah di waktu mendatang," kata Eris.

Ia menambahkan, pihaknya memahami kebutuhan TNI Angkatan Udara untuk segera mengganti pesawat OV-10 yang telah lama dihanggarkan namun Kementerian Pertahanan tidak mau gegabah. "Pemerintah telah menetapkan dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, harus menyertakan alih teknologi. Ini yang sedang diupayakan pula dalam pengadaan pesawat Super Tucano dan lainnya," ujar Eris menegaskan.

Sebelumnya, Asisten Perencanaan kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Ery Biatmoko mengatakan, dalam kurun waktu 2005-2024 TNI Angkatan Udara berencana mengganti sejumlah pesawat tempur dan angkut yang telah memasuki usia pakai 20-30 tahun, seperti OV-10 Bronco yang kini telah di-"grounded", Hawk MK-53, F-5 Tiger dan F-16 Fighting Falcon. Untuk pengganti Hawk MK-53, maka Mabes TNI Angkatan Udara mengajukan tiga jenis pesawat yang sudah dicoba yakni T-50, Yak 130 dari Rusia dan L-159B dari Ceko.

Ia mengemukakan, pengadaan pengganti pesawat OV-10 Bronco sangat mendesak mengingat pesawat tempur taktis buatan North American Rockwell itu sudah dikandangkan sejak medio 2007 lalu. "Kalau terlalu lama, kasihan adik-adik penerbang kita. Jadi, jika lebih cepat akan lebih baik. Kemampuan penerbang kita terjaga dan kesiapan operasional juga bertambah," kata Ery yang ditemui di tempat kerjanya.

Indonesia mulai menggunakan pesawat itu sejak 1976, dan terbukti efektif saat diterjunkan dalam operasi militer di Timor-Timor, Aceh dan Kalimantan Barat.

Kini aktivitas di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdurahman Saleh, Malang, yang merupakan markas pesawat OV-10 Bronco, hanya sekadar memelihara pesawat-pesawat yang ada. Para pilot pesawat OV-1O Bronco kini memelihara kemampuan terbangnya dengan menjadi instruktur atau menjalani konversi ke jenis pesawat lain.

Sumber: DEPHAN


Jumat, 03 September 2010

TNI AU Membeli 16 Pesawat Super Tucano Dan 3 Sukhoi

0

Super Tucano

VIVAnews - Malaysia tidak hanya sering melakukan pelanggaran perbatasan di wilayah laut, bahkan juga pelanggaran lain seperti di udara sering terjadi, khususnya di perbatasan.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Imam Sufaat menyatakan, pelanggaran yang dilakukan negeri Jiran itu sering terjadi di wilayah perbatasan.

"Tidak pernah masuk wilayah kita, tapi melanggar wilayah perbatasan yang masih dipersengketakan itu sering," kata Imam Sufaat ketika ditanya VIVAnews, Selasa malam.

Pesawat yang sering melanggar itu, kata Kasau, kebanyakan adalah pesawat-pesawat kecil, contoh pernah terjadi di Ambalat, itupun sudah diselesaikan secara diplomasi.

Karena itulah, untuk menjaga kedaulatan NKRI, TNI AU melalui radarnya tetap melakukan patroli rutin secara intensif.

"Jadi saat ini, untuk pengawasan perbatasan kita tidak ada masalah, setiap hari melakukan patroli udara untuk mengawasi (Pesawat Malaysia). Kita selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk," tuturnya.

Sedangkan, untuk menunjang kekuatan patroli, TNI Angkatan Udara membeli 16 pesawat Super Tucano dari Brasil. Pesawat tersebut akan digunakan untuk patroli keamanan di daerah-daerah perbatasan. TNI AU juga membeli 3 pesawat Sukhoi untuk menggantikan pesawat jenis MK-53.

Menurut Imam, Super Tucano menggantikan pesawat tempur taktis OV-10 Bronco North American Rockwell. TNI AU akan memanfaatkannya untuk pengamanan di daerah perbatasan. Pesawat juga dipakai untuk memantau penebangan liar, yang selama ini sulit terpantau.

Sumber: VIVA NEWS


Jumat, 21 Mei 2010

SIMULASI PESAWAT CASSA 212 MENDARAT DARURAT

0


LANUD ABD SALEH (21/5),- Pesawat Cassa 212 milik Sekadron Udara 4 Lanud Abd Saleh sebelum landing di Lanud Abd Saleh mengalami accident, salah satu engine sebelah kiri mengalami kerusakan dan terbakar. Pesawat membawa 33 orang penumpang dan 7 orang diantaranya mengalami luka berat dan berhasil mendarat darurat di ujung runway Lanud Abd Saleh, Kamis (20/5).

Tower mendapat informasi accident tersebut langsung mengerahkan tim Pemadam Kebakaran (PK) Lanud Abd Saleh dan menyiapkan 3 unit mobil PK yang masing-masing ditempatkan di ujung landasan (Runway 17) dan accident dapat dikuasai selama kurang lebih 10 menit.

Setelah pesawat diamankan oleh unsur pengamanan dari Lanud, dengan melalui pintu darurat, para korban berhasil dievakuasi oleh Tim SAR dari Lanud dan secepatnya dilarikan ke rumah sakit Lanud Abd Saleh dengan 2 buah Ambulance milik Rumkit untuk mendapatkan pertolongan medis. Berkat kesiapan pasukan operasi dan crash team Lanud Abd Saleh accident tersebut dapat diatasi dengan cepat dan lancar.

Skenario di atas merupakan bentuk latihan crash team dalam rangka Latihan Garuda Perkasa 2010. Latihan crash team ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan keterampilan personel Lanud Abd Saleh tentang prosedur penanganan accident pesawat dan cara-cara pengoperasian peralatan yang digunakan oleh kesatuan kerja crash team.

Latihan ini rutin dilaksanakan setiap tahun, hal ini dimaksudkan agar setiap personel tanggap dan senantiasa siap melakukan tugasnya dengan benar apabila sewaktu-waktu terjadi emergency pesawat di Lanud Abd Saleh.

Sumber: TNI


Selasa, 04 Mei 2010

2010, Investasi PTDI Rp248 Miliar

0


JAKARTA - Total investasi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada tahun ini sebesar Rp248 miliar, melonjak jauh dari 2009 sebesar Rp11 miliar.

"Investasi PTDI tahun ini Rp248 miliar itu berasal dari pinjaman," ujar Direktur Keuangan PTDI Hermawan Adimulya usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, di Jakarta, Selasa (4/5/2010).

Hermawan menuturkan pinjaman tersebut berasal dari non-cash loan (pinjaman non-tunai) dalam bentuk LC (Letter of Credit) dari dua bank BUMN, yaitu BNI, dan BRI. "Kami pinjam dalam bentuk non-cash loan. Kalau cash tidak bisa karena neraca keuangan kami masih negatif, jadi tidak ada yang mau mengasih pinjaman," tuturnya.

Dia menyebutkan, pinjaman dari BNI sebesar USD130 juta dan BRI sebesar USD 38 juta. Menurutnya, pinjaman kepada kedua bank tersebut sudah dilakukan sejak 2007, namun dengan pinjaman awal yang masih rendah. "Kami pinjam dari 2007, awalnya USD 50 juta, lalu naik USD100 juta, dan sekarang mencapai USD 130 juta," jelasnya.

Menurutnya, investasi tersebut akan digunakan untuk penggantian dan revitalisasi fasilitas produk, pengembangan bisnis perawatan pesawat, pengembangan teknologi, dan pengembangan pesawat CN235 NG, N219, dan Amphibi Sea Star. "Investasi juga untuk menggantikan alat-alat yang sudah kuno," tukasnya.

Dari total investasi tersebut, dia mengatakan, Rp161 miliar merupakan untuk pengembangan produk baru dan Rp87 miliar untuk bisnis yang telah ada. "Untuk ke depannya, pada 2011 kami berencana investasi Rp377 miliar dengan rincian Rp239 miliar untuk pengembangan produk baru dan Rp138 miliar untuk existing business," paparnya.

Selanjutnya, pada 2012 PTDI akan berencana investasi Rp425 miliar dan 2013 sebesar Rp475 miliar.

Sumber: OKEZONE


Rabu, 28 April 2010

Pengajuan Pengganti OV-10 Bronco Diproses Ulang

0


OV-Broco
JAKARTA (Suara Karya): Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Iman Sufaat menyatakan, pengajuan penggantian pesawat tempur latih jenis OV-10 Bronco ke Mabes TNI sudah diproses ulang. Karena, pengajuan penggantian ada tahap pertama tidak lengkap dan memenuhi aturan.

"Pengganti OV-10 itu kita sudah proses ulang, dari awal lagi. Pengajuan yang pertama tidak lengkap dan terpaksa harus diproses dari awal sampai kepada proses penawaran harga. Pada hari Jumat (23/4), kita sudah ajukan ke Mabes TNI," ujar KSAU kepada Suara Karya di sela-sela penutupan Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) di Halim Perdanakusuma Jakarta, Minggu (25/4).

Ia mengharapkan, pembelian pesawat tempur latih Super Tucano dari Brazil sebagai pengganti OV-10 Bronco segera diproses Mabes TNI dan dapat direalisasikan dalam tahun ini. "Pesawat OV-10 sejak 2007 sudah tidak lagi beroperasi. Dan sekarang ini kita sangat memerlukan adanya pengganti sejenis," ucap KSAU.

Pesawat Super Tucano, menurut Imam, memenuhi kriteria kebutuhan kekuatan TNI AU untuk meningkatkan kemampuan latih personel TNI AU dalam mempertahankan kedaulatan udara RI. Pesawat ini memenuhi kriteria, yakni pesawat taktis ringan, counter insurgency, remote air control, pengamatan dari udara bersenjata.

Dia mengatakan, TNI AU mengajukan untuk membeli 16 unit Super Tucano. Rencana pengguannya secara bertahap, yakni empat masuk ke perawatan, empat untuk latihan, delapan untuk trouble.

"Artinya, pemakaian tidak sekaligus. Ada yang dipakai dalam sehari dua-tiga kali, dan ada masuk dalam perawatan. Jadi bentuknya seperti peramida," katanya.

Sembilan Hercules

Selain mengajukan penggantian OV-10 Bronco, Imam mengatakan, TNI AU akan mengajukan penggantian sembilan jenis pesawat angkut, Hercules type B yang kini telah berusia 45 tahun.

Pemberitahuan dari pihak produsen Amerika Serikat baru-baru ini, pesawat angkut Type B yang dimiliki TNI AU itu hanya bisa bertahan lima tahun lagi.

"Hercules kita yang tipe B umurnya sudah 45 tahun. Jadi, menurut Tim dari Amerika, ini hanya bisa bertahan hanya lima tahun lagi. Jadi, air frame-nya hanya sampai umur 50 tahun," ujarnya.

Ia mengatakan, AS sudah mau lagi bertanggungjawab atas kerusakan maupun kejadian yang menimpa Hercules Type B yang dimiliki TNI, apabila masih tetap dipergunakan. Material dari pesawat itu telah masuk kategori tua dan tidak mamu lagi untuk diergunakan sebagai pesawat angkut.

"Jadi mereka (AS) tidak akan bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Kalau lebih dari itu, material dari pesawat itu sudah gak kuat. Ya. Jadi, ke depan memang kita rencanakan penggantinya," ujar KSAU. Pesawat sejenis yang akan menggantikan Hercules Type B milik TNI AU, yakni Hercules Type A ataupun type C buatan AS. Pesawat ini yang masih kategori pesawat angkut terbaru. Hal ini pun telah dimasukan ke dalam Renstra TNI AU 2010.

"Dalam program renstra sudah harus diganti. Hanya sekarang masalahnya, itu mahal sekali. Kita berencana mengadakan penambahan sembilan Hercules," ujar Imam.

Sumber: SUARA KARYA


Kamis, 01 April 2010

Pesawat Angkatan Laut Amerika Jatuh di Teluk Persia

0

TEMPO Interaktif, Bahrain - Sebuah pesawat Angkatan Laut Amerika jatuh di kawasan Teluk Persia pada hari Rabu (31/3). Pejabat militer mengatakan, salah satu dari empat awak pesawat dinyatakan hilang.

Angkatan Laut Amerika dalam pernyataannya mengungkapkan, pencarian dan upaya penyelamatan sedang berjalan. Tiga awak pesawat berhasil diselamatkan.

Pesawat Hawkeye E-2C, yang terutama digunakan untuk mendeteksi pesawat masuk dalam radar diameter 24-kaki radar diameter, lalu jatuh di Laut Arab Utara. "Terdapat kerusakan mekanik," kata pernyataan itu.

Pesawat ini digunakan sebagai pesawat pemberi perintah dan fungsi kontrol dan dioperasikan dari kapal induk Amerika, Dwight D. Eisenhower.

Turut membantu dalam pencarian awak yang hilang selain Eisenhower adalah beberapa pesawat, helikopter dari rudal perusak yang dipandu USS Carney, dan penambahan beberapa kapal.

Angkatan Laut sedang menyelidiki penyebab kejadian ini.

E-2 Hawkeye adalah pesawat dengan mesin dan turboprop kembar yang dapat membawa sampai lima anggota awak. Hawkeye menyediakan informasi tentang cuaca dan peringatan dini kondisi udara, di samping untuk pengawasan, koordinasi tempur dan operasi pencarian dan penyelamatan.

Pesawat ini menggunakan sistem radar komputerisasi dan sensor pengintaian elektronik untuk memberikan peringatan dini dan untuk mengidentifikasi udara dan potensi musuh dan target yang disasar.

Sumber: TEMPO


Senin, 22 Februari 2010

Pesawat Patroli Korsel Siap Hadapi Korut

0


SEOUL--MI: Angkatan laut Korea Selatan akan menggelar delapan pesawat patroli militer yang canggih lagi tahun ini untuk menghadapi ancaman-ancaman militer Korea Utara atau dari manapun.

Pesawat pertama dari delapan pesawat P-3CK dari Amerika Serikat akan diserahkan kepada satuan angkatan laut, Selasa (23/2), kata satu pernyataan angkatan laut, Senin (22/2).

Perbatasan Laut Kuning yang disengketakan negara itu tegang sejak baku tembak November tahun lalu yang menyebabkan sebuah kapal patroli Korea Utara (Korut) terbakar. Pada akhir Januari Korut menembakkan sekitar 370 peluru ke laut itu dekat garis perbatasan kedua negara.

Pekan lalu, Korut mengumumkan zona baru penembakan pihak angkatan laut lepas pantainya, melarang kapal melintas sampai Senin, walaupun sejauh ini tidak ada penembakan.

Korsel, sekutu dekat AS, telah memiliki delapan pesawat Orion P-3C yang diproduksi Lockheed Martin.
Angkatan laut mengatakan pesawat P-3C yang canggih itu akan dilengkapi senjata dan peralatan pengawas yang lebih baik , seperti rudal-rudal udara ke darat Block II Harpoon, untuk menghantam satuan-satuan artileri pantai musuh atau peluncur-peluncur rudal.

Tidak disebutkan harganya. Kantor Yonhap mengatakan harga delapan pesawat baru itu US$550 juta. Perbatasan Laut Kuning adalah lokasi pertempuran laut yang menelan korban jiwa tahun 1999 dan 2002.

Kendatipun terjadi ketegangan, Korut, Senin (22/2) mengusulkan agar para pejabat militer kedua negara melakukan perundingan 2 Maret untuk mencari jalan memudahkan akses ke satu kawasan industri gabungan di dalam perbatasan Korut.

Korsel mengusulkan perundingan tingkat kerja 23 Februari dan belum memutuskan apakah menyetujui tanggal yang diubah itu.

Perundingan-perundingan militer akan mencari jalan untuk mengurangi hambatan komunikasi lintas perbatasan , kemudahan bea cukai dan perjalanan ke kawasan industri Kaesong , tempat 42.000 warga Korut bekerja di 110 pabrik industri ringan yang dibiayai Korsel.

Sumber: MEDIA INDONESIA




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin