Tampilkan postingan dengan label PERTAHANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTAHANAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Januari 2011

INDONESIA MANTAPKAN KERJA SAMA PERTAHANAN ASEAN

0

Forum Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ASEAN Defences Ministers Meeting /ADMM) 2010 Tahun Lalu.


Jakarta, Indonesia memantapkan kerja sama pertahanan dengan negara-negara ASEAN melalui forum Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ASEAN Defences Ministers Meeting /ADMM) 2011.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungan kerjanya ke Malaysia, Filipina dan Brunei Darussalam, Rabu.

Dalam kunjungan kerjanya ke tiga negara ASEAN itu, Wakil Menteri Pertahanan RI juga menyampaikan secara resmi undangan ADMM 2011 yang penyelenggaraannya akan dilakukan di Jakarta karena Indonesia sebagai Ketua Forum Pertahanan ASEAN 2011.

Di Malaysia Wamenhan Sjafrie diterima Menteri Pertahanan, Dato` Seri Ahmad Zahid bin Hamidi dan Wakil Menteri Pertahanan Malaysia Datok Abdul Latiff Ahmad. Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup itu Wamenhan menyampaikan sejumlah agenda ADMM 2011 dalam rangka meningkatkan kerja sama pertahanan dua negara dan dengan beberapa negara ASEAN lainnya.

Hal serupa juga disampaikan saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Filipina Voltaire T. Gazmin. Di akhir pertemuan Wamenhan memberikan cindera mata berupa satu pucuk senapan serbu SS2-V1 kaliber 5.56x45 mm dengan berat 3,4 Kg buatan PT. PINDAD sebagai bagian dari kerja sama industri pertahanan.

Usai mengunjungi Malaysia dan Filipina, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin berkunjung ke Brunei Darussalam untuk hal yang sama. Ia menyampaikan ADMM ke-5 akan diadakan 18-20 Mei 2011.

Operasi Militer Selain Perang

Dalam forum ADMM 2011, Indonesia mengusulkan kerja sama pertahanan dan militer antarnegara ASEAN hendaknya difokuskan pada operasi militer selain perang (OMSP), dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Beberapa isu yang patut menjadi perhatian ASEAN dalam lima tahun mendatang adalah pemberantasan terorisme, keamanan maritim, operasi kemanusiaan dan penanganan bencana (humantarian assistance and disaster relief/HADR), operasi pemeliharaan perdamaian, kesehatan militer (military medicine), infeksi penyakit, ketahanan pangan dan pemanasan global.

Terkait itu, tutur Wamenhan , prioritas kerja sama "military to military" antarnegara ASEAN dalam lima tahun mendatang, juga akan dikembangkan untuk mendukung kegiatan OMSP tersebut.

Sumber: DEPHAN


Selasa, 18 Januari 2011

Update : Indonesia dan Jepang Sepakat Kerja Sama Pertahanan

0


Peresmian Patung Jendral Sudirman Di kantor menhan jepang di Nippon, Jepang. (Foto: Alutsista)

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa sepaham untuk menggagas rencana kerja sama di bidang pertahanan antara Indonesia dan Jepang.

"Kerja sama antara Indonesia dan Jepang khususnya di bidang ekonomi sudah berjalan dengan sangat baik dan berlangsung cukup lama, maka sekaranglah saatnya untuk membuka kerja sama di bidang pertahanan," ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio yang ikut mendampingi Purnomo Yusgiantoro di Jepang kepada Suara Karya di Jakarta, Senin (17/1).

Gagasan membuka kerja sama pertahanan RI - Jepang disampaikan Menhan saat berkunjung ke kantor Menhan Jepang di Nippon, Jepang.

Sebelumnya, Menhan RI dan Menhan Jepang menyaksikan peresmian patung Pembela Tanah Air (PETA) yang direpresentasikan dengan sosok pahlawan Jenderal Besar Sudir-man. Purnomo maupun Toshimi mengharapkan keberadaan patung Sudirman bisa menjadi simbol kerja sama baik bidang pertahanan RI dengan Jepang. Purnomo juga melakukan kunjungan ke Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan dan Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara.

Wayan Midhio menjelaskan, Indonesia mengapresiasi reformasi pembangunan di bidang pertahanan Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang fleksibel menjalin kerja sama pertahanan dengan beberapa negara di Benua Eropa, Amerika dan Asia.

Atas dasar itu pula, Indonesia siap menjalin kerja sama pertahanan di berbagai divisi dengan Jepang. "Indonesia siap untuk melakukan kerja sama di berbagai sektor di bidang pertahanan," kata Wayan mengutip pernyataan Purnomo.

Sementara itu, Jepang mendapat penjelasan tentang sistem pertahanan di Indonesia. Menhan Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, TNI mengalami perubahan signifikan dalam 12 tahun terakhir setelah reformasi. TNI lebih menghormati hak asasi manusia serta tidak lagi berpolitik dan berbisnis. Ke depan, TNI diproyeksikan menjadi militer yang lebih profesional sebagai alat pertahanan negara.

Namun demikian, Purnomo mengakui, di balik upaya pemerintah membangunan sistem pertahanan melalui profesionalisme TNI belum didukung industri pertahanan dalam negeri yang masih tertinggal.

Karena itu, Purnomo menawarkan kerja sama kepada Jepang dalam pembangunan proyek four in one. Empat bidang itu adalah pembangunan Pusat Misi Pasukan Perdamaian (PMPP), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan standby forces berupa pasukan batalion mekanis (mechanism battalion) yang siap dikerahkan setiap saat.

Galang Dukungan

Di luar substansi menggagas kerja sama pertahanan, kunjungan Purnomo ke Jepang untuk meminta dukungan agar Indonesia bisa menjadi Ketua ASEAN Defence Minister Meeting (ADMM) 2011. ADMM akan membahas masalah Laut Cina Selatan dan berbagai isu terkait dengan ASEAN Security Community.

Selain itu, Purnomo meminta dukungan Jepang agar membantu Indonesia sebagai co-host dalam Disaster Relief Exercise (DIREX) 2011 di Manado, Sulawesi Utara. "Meminta dukungan ini sekaligus mengundang Menhan Jepang untuk hadir dalam Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) pada bulan April 2011," ujar Wayan.

Terkait rencana latihan yang melibatkan 27 negara ASEAN Regional forum (ARF) dalam DIREX 2011, Jepang punya peran sebagai co-host.

Sebelum melakukan lawatan ke Jepang, Purnomo melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan Thailand Jenderal Prawit Wongsuwan yang membicarakan masalah hubungan bilateral dan dukungan kepada Indonesia sebagai penyelenggara pertemuan ADMM 2011.

Sumber: SUARA KARYA


Jumat, 14 Januari 2011

RI Perluas Kerja Sama Pertahanan Dengan Jepang

0

Ist

Jakarta - Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan dan memperluas kerja sama pertahanan dengan Pemerintah Jepang di masa mendatang.

Peningkatan dan perluasan kerja sama kedua negara menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dengan mitranya Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa di Tokyo.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI I Wayan Midhio yang menyertai kunjungan dua hari Menteri Purnomo ke Negeri Matahari Terbit itu Jumat, kepada ANTARA mengatakan, selama ini kerja sama pertahanan kedua negera baru sebatas pertukaran perwira militer kedua pihak.

"Itu pun jumlahnya belum banyak, baru satu hingga tiga orang saja. Nah kedepan akan tingkatkan jumlahnya, agar banyak perwira TNI yang belajar di Jepang terutama di Akademi Militer Yokoshuka," katanya, menambahkan.

Midhio mengatakan, Indonesia ingin kerja sama pertahanan kedua negara dapat diperluas dalam bentuk yang lain, seperti latihan dan operasi bersama.

Kedua negara sepakat peningkatan dan perluasan kerja sama pertahanan dilakukan atas dasar hubungan saling menghormati dan saling memberi manfaat antara kedua pihak.

Sebelumnya, kedua negara juga sepakat untuk terus meningkatkan kerja sama pertahanan, khususnya keamanan maritim antara lain di Selat Malaka.

Selain membahas peningkatan dan perluasan kerja sama pertahanan kedua negara, dibahas pula perkembangan persiapan pelaksanaan latihan penanggulangan bencana alam ASEAN atau "ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise" (ARF-DIREx) di Manado, Sulawesi Utara, pada Maret 2011, dimana Indonesia dan Jepang menjadi tuan rumah bersama.

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Jepang, Menteri Pertahanan kedua negara juga hadir meresmikan patung PETA (Pembela Tanah Air), sebagai pendiri cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Patung dengan tinggi dua meter itu di bangun di salah satu ruang di Kantor Kementerian Pertahanan Jepang.

Sumber: ANTARA


Rabu, 12 Januari 2011

TNI Ingin Latihan Bersama dengan India

0

Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, pihaknya menginginkan kerja sama bidang latihan dan operasi bersama militer India dapat ditingkatkan di masa mendatang.

"Kami mengharapkan kerja sama antara kedua negara di bidang latihan dan operasi yang selama ini telah terjalin dengan baik khususnya di angkatan laut kedua negara dapat ditingkatkan," katanya, saat menerima Kepala Staf Angkatan Laut India Laksamana Nirmal Kurma Verma di Jakarta, Rabu.

Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI Kolonel Minulyo Suprapto menambahkan, angkatan laut kedua negara telah lama melakukan latihan bersama terutama di wilayah batas perairan kedua negara.

"Diharapkan kerja sama latihan bersama dan operasi antara angkatan laut kedua negara dapat ditingatkan menjadi lebih luas lagi di masa mendatang," katanya.

Selama kunjungan empat harinya di Indonesia, Laksamana Verma selain mempererat kerja sama militer kedua negara, juga berkeinginan menjajaki kerja sama industri pertahanan antara kedua pihak.

Selain melakukan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Verma juga dijadwalkan mengunjungi Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) dan Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya.

Tidak itu saja, Laksamana Verma juga akan melakukan penjajakan ke beberapa Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia dan PT PAL.

Sebelumnya, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio usai pertemuan, mengatakan, industri pertahanan India lebih maju dibandingkan Indonesia terutama dalam industri kimia, elektronika, mekanika, dan perbekalan.

"Bahkan, mereka sudah mampu membuat rudal, kapal selam dan kapal induk. Kita masih menjajaki apa yang bisa dikerjasamakan untuk industri pertahanan kedua negara," katanya.

Kemungkinan kerja sama pertahanan RI-India telah dilakukan sejak beberapa tahun silam yang selanjutnya dikukuhkan melalui ratifikasi nota kesepahaman kerja sama kedua negara bidang pertahanan yang diwujudkan dalam Joint Defence Committee.

Sumber: ANTARA


Selasa, 11 Januari 2011

Kemhan Reorganisasi Internal

0

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertahanan melakukan reorganisasi internal dalam serangkaian pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan instansi pertahanan.

Perubahan struktur organisasi Kementerian Pertahanan itu didasarkan pada Peraturan Menteri Pertahanan No 16/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertahanan.

"Perubahan struktur organisasi itu berlaku efektif mulai Januari 2011," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Medhio di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, perubahan struktur organisasi Kementerian Pertahanan itu juga disesuikan dengan pola dan tingkat ancaman yang dihadapi baik secara internal, regional maupun global.

Dijelaskan Medhio, pola dan tingkat ancaman yang berkembang saat ini bersifat asimetris dan nontradisional, seperti terorisme dan konflik perbatasan.

"Semua itu, tidak semata dapat diselesaikan melalui kekuatan militer tetapi juga diplomasi dan langkah lainnya," katanya.

Ia menegaskan, reorganisasi Kementerian Pertahanan itu untuk mencapai efektifitas organisasi dalam memaksimalkan penyelenggaraan pertahanan negara sesuai UU RI No3/2002 tentang Pertahanan Negara.

Pada struktur organisasi Kementerian Pertahanan yang baru terjadi perampingan struktur direktorat jenderal yang semula lima menjadi empat ditjen.

Keempat ditjen itu adalah Ditjen Perencanaan Pertahanan yang mengurus anggaran pertahanan, Ditjen Strategi Pertahanan yang mengurus strategi pertahanan secara keseluruhan.

Terdapat pula Ditjen Potensi Pertahanan yang mengurusi bela negara termasuk komponen cadangan dan komponen pendukung.

"Dan terakhir Ditjen Potensi Pertahanan yang bertugas mengurusi manajemen dan administrasi TNI," kata Medhio.

Perampingan itu disertai dengan penguatan organisasi di masing-masing ditjen seperti penambahan unit, ujarnya, menambahkan.

Selain perubahan struktur Ditjen, terdapat perubahan organisasi Sertjen Kemhan yang semula terdiri atas enam biro menjadi lima biro.

Sumber: ANTARA


Rabu, 05 Januari 2011

Wamenhan Pimpin Pra Rapim Kemhan Tahun 2011

0


Jakarta, DMC - Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, Selasa pagi (4/1) membuka sekaligus memimpin langsung kegiatan Pra Rapat Pimpinan (Pra Rapim) Kemhan, Tahun 2011 di Kantor Kemhan RI, Jakarta Pusat. Kegiatan Pra Rapim saat ini dihadiri oleh sekitar 83 peserta yang berasal dari pejabat esselon I dan II sebagai penentu kebijakan Satuan Kerja (Satker) yang ada di lingkungan Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Mabes Angkatan, serta Universitas Pertahanan (UNHAN).

Dalam pengarahannya, Wamenhan mengatakan esensi dari kegiatan Pra Rapim Kemhan 2011 ini adalah suatu konsolidasi dalam menghadapi Rapat Pimpinan (Rapim) Kemhan di tahun 2011 pada tanggal 6 Januari 2011 mendatang. Adapun agendanya antaralain, penyampaian refleksi dan evaluasi kebijakan Tahun 2010 dari setiap pejabat esselon I sebagai penentu kebijakan. Menurut Wamnehan, hal tersebut dimaksudkan sebagai referensi bagi Menteri Pertahanan didalam merumuskan kebijakan pertahanan negara tahun 2011 yang akan disampaikan pada rapim Kemhan 2011 mendatang.

Selain itu agenda lainnya adalah pembahasan pemutakhiran data-data dalam rangka program pendekatan dan pencapaian Kekuatan Pokok Minimal atau MEF (Minimum Essential Force) untuk memenuhi kebutuhan Alutsista TNI pada tahun 2011. Selain itu juga untuk memformulasikan perencanaan Blue Book kebutuhan alutsista dengan menggunakan pinjaman luar negeri yang berperiode 2010-2014.

Diharapkan Wamenhan, pembahasan agenda saat ini akan memberikan manfaat yang besar didalam merumuskan bobot dari Rapim Kemhan nanti. Diharapkan juga adanya masukan-masukan yang ada kaitannya dengan kebijakan-kebijakan dan pemutakhiran data mengenai kebutuhan alutsista untuk tahun 2011.

Penyelenggaraan kegiatan Pra Rapim 2011 dilaksanakan dalam rangka merumuskan kebijakan Pertahanan Tahun 2011 dan pembahasan Updating MEF (Minimal Esensial Force) untuk Tahun 2011-2014. Disamping itu pada kegiatan tersebut juga di bahas tentang refleksi dan evaluasi kebijakan tahun 2010 dari masing-masing Satuan Kerja penentu kebijakan dengan dihadapkan pada kebijakan umum Pertahanan Negara yang telah ditetapkan oleh Presiden. Sehingga nantinya diharapkan akan diketemukan Formulasi kebijakan pertahanan Tahun. 2011 setelah melalui suatu diskusi dari masing-masing peserta.

Terkait proses untuk memformulasi rumusan kebijakan pertahanan Tahun 2011 tersebut juga melibatkan urusan-urusan perencanaan dari Mabes TNI dan Mabes Angkatan yang sejak awal penetuan kebijakan pertahanan tahun 2010 telah terlibat.

Melalui proses diskusi yang melibatkan semua Satker di Kemhan dan UNHAN perencana di Mabes TNI dan Angkatan diharapkan tersusun Kebijakan Pertahanan Negara tahun 2011 yang lebih komprehensif, tepat sasaran dan sesuai tantangan dan ancaman yang dihadapai dimasa yang akan datang.

Mengenai evaluasi kebijakan tahun 2010 Universitas Pertahanan (UNHAN), Rektor Unhan, Mayjen TNI Syarifudin Tippe selain menyampaikan evaluasi terhadap pembangunan empat Program Studi (Prodi Strategi Perang Semesta, Prodi Manajemen Pertahanan, Prodi Ekonomi Pertahanan dan Prodi Manajemen Bencana ) yang menyertai berdirinya UNHAN. Rektor Unhan juga menyampaikan kegiatan penting yang telah dilaksanakan pada tahun 2010, seperti pelaksanaan Seminar Internasional, pelaksanaan Simposium Nasional tentang kedaulatan NKRI, UNhan telah berhasil menjadi Co-Chaiman pada 14th ARF HDUCIM di NDU Washington DC.

Terkait rencana kegiatan tahun 2011, Rektor menjelaskan beberapa kegiatan yang telah dirintis, seperti penyususnan Naskah Akademik posisi ilmu pertahanan dalam rumpun keilmuan, rencana penyelenggaraan Jakarta Internasional Defence Dialoue (JIDD) dan rencana penyelenggaraan 15th ASEAN Regional Forum Heads Of Defense University /College/Institute Meeting.

Bidang Strategi

Ditjen Strategi Pertahanan (Strahan) menyampaikan beberapa hal yang menonjol seperti analisis Strategi masih diperlukannya penajaman kembali regulasi mekanisme transformasi informasi komunitas intelijen, kebijakan pembangunan Kekuatan Pertahanan Minimal Essential Force (MEF) masih terbatasnya dukungan anggaran dan singkronisasi Shopping list Alutsista, Kerjasama Internasional disampaikan terkait dengan proses penyiapan ketentuan dari pelaksanaan ADMM 2011 mendatang dan bidang Wilhan dijelaskan tentang telah ditandatanganinya pertukaran Ratifikasi hasil perundingan batas laut teretorial RI-Singapura serta penanganan 10 Outstanding Boudary Problems batas darat RI – Malaysia.

Bidang Pengawasan dan Pengendalian

Itjen Kemhan menyoroti bahwa selama pelaksanaan tahun anggaran 2010, satker-satker di lingkungan Kemhan RI, dalam melaksanakan program-programnya, masih belum secara optimal menerapkan manajemen mulai dari aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan sampai dengan evaluasi dan pelaporan. Inspektorat baik dari internal (dhi Kemhan RI) ataupun eksternal (BPK RI) masih menemui adanya dugaan penyimpangan proses pengadaan barang dan jasa yang dilaksanakan oleh satker-satker di lingkungan Kemhan, hal ini tentunya .dapat mempengaruhi akuntabilitas kinerja Kemhan secara keseluruhan.

Sehingga pada tahun 2011 ini, segenap pimpinan dan personel di lingkungan Kemhan dituntut dapat meningkatkan daya pikir dan inovasi guna memformulasikan kebijakan Kemhan sehingga mampu memperoleh hasil yang diharapkan. Selain itu diharapkan para satker dapat melakuakan pembenahan manajemen dan administrasinya secara menyeluruh ke depan, khususnya pengelolaan Barang Milik Negara, sebagai upaya mendukung Laporan keuangan Kemhan dan TNI, pada akhirnya opini disclaimer “wajar tanpa pengecualian” dapat tercapai.

Bidang Perencanaan

Ditjen Renhan dalam refleksi kebijakannya terus memprioritaskan kelanjutan pembangunan Minimum Essential Force (MEF) melalui modernisasi alutsista TNI AD, AL dan AU dengan total kebutuhan anggaran sebesar Rp. 279, 86 trilyun, di mana tahun 2010 merupakan awal perdana program tersebut dengan anggaran sebesar 42. 310,14 Milyar rupiah. Untuk memepercepat pencapaian MEF telah disetujui tambahan anggaran sebesar Rp. 57 Triliun, dengan rincian Tahun 2010 sebesar Rp. 7 Trilun, Tahun 2011 sebesar Rp. 11 Trilun, Tahun 2012 sebesar Rp.12 Triliun, Tahun 2013 sebesar Rp. 13 Triliun dan tahun 2013 sebesar 14 Triliun.

Dan pada tahun anggaran 2011 total anggaran yang direncakan sebesar Rp. 47.498.500.000 dengan perincian belanja pegawai sebesar Rp. 22.583.830.000, belanja barang sebesar Rp.10.193.790.000 dan belanja modal sebesar Rp. 14.720.880.000

Sedangkan hal mendapat sorotan Ditjen Renhan adalah terealisasinya pembayaran tunjangan kinerja bagi personel TNI dan Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Kemhan dan TNI serta tunjanagn khusus prbatasan bagi prajurit dan PNS yang bertugas di wilayah pulau-pulau kecil terluar dan wilayah perbatasan NKRI. Saat ini terdapat 12 pulau terluar yang dijaga oleh TNI dari 92 pulau terluar yang ada dan tiga wilayah perbatasan darat, di mana prajurit yang menjaga dirasa perlu mendapatkan tunjangan tersebut. Namun demikian, Renhan mengharapkan adanya up dating data secara kuantitatif, sehingga penyaluran tunjangan dapat tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bidang Kekuatan Pertahanan

Ditjen Kuathan melihat perlu peningkatan pengembangan Sistem Manajemen Akuntabilitas Barang Milik Negara (SIMAK BMN) dengan melengkapi piranti lunak atau kerasnya. Dan dalam perencanaan kebutuhan materiel terutama pengadaan alat kesehatan masih belum sesuai dengan rencana kebutuhan yang dialokasikan.

Hal ini terkait dengan upaya penertiban BMN dan upaya untuk memperoleh opini WTP dari BPK. Ditjen Kuathan mengharapkan adanya kesinambungan anggaran untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pengembangan SIMAK BMN ke depan.

Bidang Potensi Pertahanan

Ditjen Pothan sebagai pelaksana tugas dan fungsi Kemhan dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang potensi pertahanan telah menyusun RUU tentang Komponen Pendukung dan Bela Negara serta Rancangan Peraturan Presiden tentang Komponen Cadangan dan Bela Negara, serta kegiatan sosialisasi terhadap produk tersebut.

Namun mengingat RUU Kompenen Cadangan yang diajukan Kemhan belum mendapatkan pengesahan dari DPR, Ditjen Pothan mengharapkan perlunya intensitas pendekatan terhadap Dewan dalam rangka mempercepat pengesahan RUU Komponen Cadangan.

Bidang Pendidikan dan Pelatihan

Sebagai unsur pelaksana tugas dan fungsi dalam penyelanggaran bidang pendidikan dan pelatihan di bidang pertahanan, Badiklat Kemhan selama tahun 2010, secara umum telah menjawab peningkatan kompetensi personel Kemhan/TNI yang dibutuhkan organisasi atau untuk menjawab sistem di lingkungan Kemhan yaitu pemenuhan jabatan struktural dan fungsional tertentu atau umum. Kegiatan workshop bagi pejabat baru eselon II, II dan IV tentang Sistem Pertahanan Negara dan atau ketrampilan melalui Geladi Olah Krida Nusantara Jaya juga telah mampu diselenggarakan oleh Badiklat Kemhan RI, selain penyelenggaraan pendidikan yang rutin dilaksanakan.

Bidang Penelitian dan Pengembangan

Balitbang menyoroti keterbatasan anggaran dan keterbatasan tekhnologi dalam pembuatan prototipe Rudal jelajah Surface to Surface berjarak 100-150 km kurang efektif, mengingat pembuatan litbang harus terpadu antara sistem peluncuran dan pengendalian. Litbang juga mengharapkan program pembuatan Warhead Impact Fuze untuk rudal, pembuatan material komposit alumminium paduan, Glade Smart Bomb, Alkom Manfapack dan Alkompur Ruset UHF yang saat ini masih pada taraf model, dilanjutkan sampai dengan taraf prototype pada tahun 2011.

Bidang Sarana Pertahanan

Badan sarana Pertahanan dalam evaluasi prgram kerjanya tahun 2010 telah berhasil melibatkan Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang dan badan Usaha Milik negara Industri Pertahanan dalam peningkatan kemampuan dan inovasi membuat rancang bangun serta mendorong dan mensinegiskan industri pertahanan lelaui revilatisasi industri pertahanan dalam negeri. Selain itu beberapa alutsista dengan tekhnologi canggih juga telah berhasil didatangkan untuk memperkuat TNI, beberapa diantaranya pesawat Shukoi untuk TNI AU, Helikopter MI35P untuk TNI AD dan Tank BMP3F untuk TNI AL. Baranahan melalui direktorat konstruksi juga telah memulai pembangunan PMPP yang diharapkan siap beroperasi pada tahun 2013.

Selanjutnya dari pihak Mabes TNI dan Angkatan yang diwakili oleh para Staf Perencanaan telah menyampaikan kebutuhan alutsista TNI pada Tahun 2010-2014 secara rinci dengan pengadaan Multiyear system. Dalam pengadaan alutsista tersebut juga ditentukan alutsista mana saja yang akan diadakan di dalam negeri dan pengadaan luar negeri. Pada dasarnya pengadaan alutsista TNI tersebut telah melalui pembahasan bersama dengan Menhan beserta angkatan.

Sementara itu pada sesi tanggapan Pra Rapim 2011 yang dipimpin oleh Wamenhan, telah dibahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengadaan alutsista TNI untuk tahun 2011 hingga 2014. berbagai masukan telah dibahas dengan mendapatkan hal yang proporsional. Penuturan Wamenhan terkait dengan pengintegrasian sistem dan peralatan yang ada di masing-masing matra dan penekanan pada fungsi matra pada pelaksanaan tugas secara umum.

Pada bagian akhir sebelum Pra Rapim 2011 ditutup, Wamenhan menekankan agar ada keseragaman sistematika pengadaan Alutsista dan sarana prasarana, sehingga ada data yang factual terkait dengan alokasi anggaran pada masing-masing bagian yang direncanakan.

Sumber: DMC


Minggu, 02 Januari 2011

Menhan Dinilai Berhasil, Hadiahnya Anggaran Alutsista Jadi Rp 20 Triliun

0

Ist


RMOL.DPR cukup puas dengan prestasi yang ditorehkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama 2010. Sebagai hadiahnya para politisi Senayan itu akan berupaya menaikkan anggaran alat utama sistem senjata (alusista) mencapai Rp 20 Triliun.

Hal ini diungkapkan Ketua Ko­misi I DPR Mahfudz Siddiq ke­pada Rakyat Merdeka, di Ja­karta, kemarin.

Menurutnya, alusista yang ada saat ini kurang memadai. Wa­laupun Indonesia tidak sedang ter­ancam perang, namun alutsista yang bagus sangat diperlukan untuk memperkuat pertahanan di tanah air.

“Kalau 2010 anggaran untuk alusista yang diajukan Rp 10 trliun, maka tahun ini DPR akan me­ngupayakan supaya bisa men­jadi Rp 20 triliun. Yang bisa di­kabulkan pada APBN 2011 kan baru Rp 12 triliun. Kita akan meng­upayakan adanya tambahan Rp 9 triliun lagi,” katanya.

Kenaikan anggaran alusista tersebut juga ada didasarkan pada pe­nilaian Badan Pemeriksa Ke­uangan (BPK) terhadap akun­tabilitas TNI terhadap efektifitas kinerjanya.

“Kinerja TNI kan sudah ada peningkatan. Mereka tinggal me­lanjutkan program matra terpadu. Kalau akuntabilitas mereka ba­gus, BPK bisa memberikan pe­nilaian yang bagus,” ujarnya.

Kendati memberikan apresiasi atas pencapaian TNI tahun 2010 lalu, Mahfudz, menilai masih ba­nyak hal yang harus diselesaikan TNI. Setidaknya pada tahun ini me­lanjutkan proses reformasi yang telah direncanakan.

Anggota DPR dari daerah pe­milihan Jawa Barat VIII ini, se­lama tahun 2010 lalu TNI telah mengalami peningkatan di dalam upaya melakukan pengamanan di wilayah laut.

Dalam pandangan politisi PKS ini, peran TNI dalam mengontrol wilayah perbatasan dengan ne­gara-negara tetangga sudah cu­kup bagus. Mengapa demi­kian? masih banyak terjadi kasus illegal fi­shing, dan illegal logging yang me­manfaatkan wilayah per­batasan. “Setahu saya, kerugian negara yang diakibatkan illegal log­ging mencapai sekitar Rp 18 triliun,” ucapnya.

Panglima TNI Agus Suhartono, mengungkapkan prestasi yang dicapai lembaganya selama 2010 antara lain yang menonjol adalah sum­bangan ke kas negara melalui barang sitaan, dan penyelamatan kekayaan negara.

“Operasi penegakan hukum laut telah berhasil memberikan kontribusi Rp 37,9 miliar dari hasil putusan pengadilan (berupa denda atau perampasan barang bukti), dan menyelamatkan po­tensi kerugian negara sekitar Rp 13 triliun,” katanya.

Selain itu, kata Agus, untuk operasi perang, seluruh Konti­ngen Garuda yang dikirimkan ke berbagai negara berhasil meraih penghargaan dari PBB.

Menurut Agus, pada tahun 2010 TNI sudah cukup berhasil dal­am mengemban tugasnya.

Sejauh ini situasi pertahanan ke­amanan di wilayah-wilayah NKRI sudah cukup stabil, dan kon­dusif.

“Sejauh ini, seluruh wilayah In­do­nesia dalam kondisi yang baik. Wilayah perbatasan wilayah kita dengan Negara-negara te­tangga sudah berhasil kita jaga, se­hingga bisa semakin menjadi kondusif,” ujarnya.

Beberapa upaya yang dila­ku­kan TNI pada 2010, kata dia, adalah memperkuat organisasi TNI, guna meningkatkan sistem per­tahanan. Hal ini dilakukan dengan cara pembinaan terhadap para personel TNI, ataupun de­ngan cara memperbaiki pem­binaan logistik yang ada.

Dijelaskannya, peningkatan personel dilakukan dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan, pembinaan mental, profe­sio­nalisme, kemampuan fisik dan tem­pur, sampai pengetahuan ma­salah hukum. Dikatakan Agus, ke­semua upaya tersebut ber­tu­juan untuk memperkuat ke­mam­puan prajurit dalam menjaga keamanan wilayah.

Sedangkan untuk pelaksanaan pembinaan logistik diwujudkan melalui berbagai kegiatan modernisasi alusista TNI, dengan maksud supaya TNI memiliki alutsista yang handal, dan layak pakai, guna mendukung pelak­sa­naan tugas operasi TNI, baik untuk perang maupun kegiatan ke­amanan lainnya.

“Dengan terus dilakukannya pembinaan terhadap prajurit dan keburuhan logistik kita, kea­manan wilayah NKRI bisa terja­ga dengan baik, dengan tetap menjunjung tinggi pro­fe­sio­nalisme prajurit, dan tidak me­langgar hukum,” tuturnya.

Penyelamatan potensi kerugian negara hingga Rp 13 triliun, lanjutnya, membuktikan kalau tingkat pelanggaran yang terjadi masih cukup tinggi. Masalah itu terjadi karena sistem perizinan yang ada masih perlu dperbaiki lagi. Sebab masih terjadi tum­pang tindih wilayah perizinan penangkapan ikan. Untuk me­ngatasi hal ini lembaganya akan be­rkoordinasi dengan Ke­men­terian Perikanan dan Kelautan.

Soal modernisasi alusista, Agus menegaskan, lembaganya pada tahun ini akan memberikan per­hatian khusus terhadap ang­garannya. “Sebagian besar me­mang dialokasikan khusus untuk modernisasi alusista. Tujuannya supaya kita bisa mendekati Mi­nimum Essensial Forces (MEF-red)”, ungkapnya.

Untuk mewujudkan MEF, lanjutnya, TNI berencana mela­kukan penghapusan terhadap alusista yang dianggap tidak layak, peningkatan kemampuan com­bat, dan pengadaan alutsista baru, baik dengan membeli atau­pun dengan menerima hibah.

“Program modernisasi ini akan mengutamakan peningkatan combat capability dari unit-unit tempur yang dianggap masih bisa digunakan. Seperti kapal perang yang dari Belanda, badannya dianggap masih bagus, tapi sen­jatanya sudah sangat keting­galan,” ungkapnya.

Bekas Irjen (Inspektur Jendral-red) Departemen Pertahanan ini menuturkan, modernisasi terse­but dilakukan dengan meng­upa­yakan pemanfaatan industri da­lam negeri, dengan tetap me­la­kukan kerjasama dengan indutri militer luar negeri. Hal ini dila­kukan karena saat ini industri dalam negeri belum bisa mandiri. “Kita berharap ke depan industri militer kita bisa mandiri, se­hingga kita tidak perlu tergantung terhadap bantuan asing,” ucap­nya.

“Sebaiknya Segera Lakukan Modernisasi”


Al Araf, Pengamat Militer Imparsial

Pengamat Militer dari Impar­sial, Al Araf mendukung pe­nam­bahan anggaran alusista yang digagas DPR, agar bisa me­me­nuhi standar Minimum Esesial Force.

“Sistem persenjataan negara lain juga terus berkembang. Kita sebaiknya segera lakukan moder­ni­sasi supaya bisa memper­ta­hankan kedaulatan negara In­donesia,” ka­tanya, kemarin.

Makanya dia cukup maklum dengan usulan Kemenhan pernah meminta tambahan anggaran sampai Rp 150 triliun. Menu­rut­nya, sistem persenjataan yang dimiliki Indonesia saat ini sudah ketinggalan dari Negara lain.

“Dengan keterbatasan ang­garan yang ada, TNI sudah mela­kukan visinya dengan baik, dan bekerja secara profesional. Tugas sudah dilakukan dengan baik, seperti penanganan Ambalat dan pengiriman angkatan perdamaian ke Lebanon,” katanya kepada Rakyat Merdeka.

Meski begitu, transparansi anggaran TNI patut mendapat per­hatian melalui pengawasan yang ketat, mengingat porsinya san­gat besar. Bila tidak, bisa ra­wan dari kebocoran anggaran.

Makanya dia mengingatkan, dalam setiap pengadaan barang dan jasa harus memperhatikan kebutuhan di lapangan, bukan TNI didikte negara produsen atau vendor pengadaan persenjataan.

“Pengadaan alusista sebaiknya dikaitkan untuk kepentingan jangka panjang, bukan jangka pendek. Jangan beli senjata yang tidak cocok dengan kondisi negara kita,” ujarnya.

“Program Dipantau UKP4 Tercapai ”

Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan

Tidak hanya DPR yang memuji kinerja TNI pada tahun 2010, Menteri Pertahanan, Purnomo Yus­giantoro juga mengakuinya. Dia menilai pecapaian prestasi TNI sesuai dengan desain Ren­cana dan Strategi Pertahanan Ne­gara.

“Program yang dipatok pe­me­rintah dan dipantau Unit Kerja Pre­siden bidang Pengawasan dan Pe­ngendalian Pembangunan (UKP4), tercapai semua,” kata Pur­nomo dalam jumpa pers “Ref­leksi Kinerja Kementerian Per­ta­hanan 2010,” di Kantor Kemhan, Jakarta Pusat, Kamis lalu.

Target yang telah sesuai de­ngan desain Rencana dan Strategi Pertahanan Negara 2010-2014 itu antara lain, optimalisasi peng­gu­naan alusista produksi dalam ne­geri, pembentukan Komite Ke­bijakan Industri Pertahanan (KKIP), penyusunan draf RUU Revitalisasi Industri Pertahanan, dan RUU Keamanan Nasional, serta pemberian tunjangan khu­sus prajurit TNI yang bertugas di pulau terluar, dan perbatasan.

Menurutnya, pada tahun per­tama kinerja Kabinet Indonesia Ber­satu II, lembaganya fokus pa­da tiga hal yaitu menjaga ke­dau­latan, menjaga keutuhan NKRI, dan menjaga keselamatan bangsa.

“Kami fokus pada kesejah­teraan rakyat, dan fekonomi yang bisa mendukung peningkatan ke­sejahteraan rakyat. Tema kita adalah pengelolaan kebijakan pe­r­tahanan negara pro kesejah­te­raan,” terangnya.

Di bidang legislasi, seluruh RUU bidang pertahanan negara te­lah masuk dalam prolegnas Ta­hun 2010-2014. Bahkan untuk RUU Komponen Cadangan men­jadi prioritas utama.

“Kemhan juga telah me­nyelesaikan dua RUU Keamanan Nasional dan RUU Revitalisasi In­dustri Pertahanan. Kedua RUU ini masuk dalam prioritas, ter­masuk RUU Rahasia Negara,” ungkapnya.

Dalam bidang kerja sama, Kem­han juga mengadakan kerja sama dengan berbagai negara. Misalnya, dengan Amerika Se­rikat dalam hal peningkatan ker­ja sama pertahanan yang me­li­batkan Kopassus. “Dengan Bru­nei Darussalam, Pakistan, dan Ko­rea Selatan. Dengan Korea Selatan. Kita kerja sama dalam pro­duksi dan pemasaran proyek pe­ngembangan jet tempur KF-X atau F-33,” bebernya.

Selain itu, lanjutnya, Kemhan juga berupaya meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI pada 2010 dengan menaikkan tun­jangan lauk-pauk dari Rp 35 ribu menjadi Rp 40 ribu per hari.

“Tunjangan remunerasi yang diberlakukan per Juli 2010 juga telah dicairkan pada akhir Desember 2010 dan diberikan secara rapel,” ucapnya.

Dengan lembaga negara lain, Purnomo mennerangkan, Kem­han sedang menyelesaikan nota kesepahaman bersama Ke­menterian Kesehatan, agar pra­ju­rit TNI dapat berobat dan me­meriksakan kesehatannya di Pus­kesmas dan rumah sakit milik pe­merintah dengan mendapatkan tambahan dua persen tunjangan ke­sehatan dari gaji pokok.

Berawal Dari Badan Keamanan Rakyat

Sekilas Tentang TNI

Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir dalam kancah per­juangan bangsa Indonesia mem­pertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang ber­ambisi untuk menjajah In­do­nesia kem­bali melalui kekerasan senjata. TNI merupakan per­kembangan or­ganisasi yang berawal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya pada tanggal 5 Oktober 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan un­tuk memperbaiki susunan yang se­suai dengan dasar militer in­ter­national, di­rubah menjadi Tentara Republik In­donesia (TRI).

Untuk mempersatukan dua ke­kuatan bersenjata yaitu TRI se­ba­gai tentara regular dan badan-badan perjuangan rakyat, maka pada tanggal 3 Juni 1947 Pre­siden mengesahkan dengan resmi berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Upaya menyatukan organisasi angkatan perang dan Kepolisian Negara menjadi organisasi Ang­katan Bersenjata Republika Indonesia (ABRI) pada tahun 1962 merupakan bagian yang penting dari sejarah TNI pada dekade tahun enampuluhan.

Menyatunya kekuatan Ang­katan Bersenjata di bawah satu ko­mando, diharapkan dapat men­capai efektifitas dan efisiensi dalam melaksanakan perannya, serta tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan kelompok po­litik tertentu.

Peran, Fungsi dan Tugas TNI juga mengalami perubahan sesuai de­ngan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004. TNI berperan se­bagai alat negara di bidang per­ta­hanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. TNI sebagai alat pertahanan ne­gara, berfungsi sebagai: pe­nang­kal terhadap setiap bentuk an­cam­an militer dan ancaman ber­senjata dari luar dan dalam negeri ter­hadap kedaulatan, keutuhan wi­layah, dan keselamatan bang­sa, penindak terhadap setiap ben­tuk ancaman sebagaimana di­maksud di atas, dan pemulih terhadap kondisi keamanan ne­gara yang terganggu akibat ke­kacauan keamanan.

Tugas pokok TNI adalah mene­gakkan kedaulatan negara, mem­pertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik In­donesia yang berdasarkan Pa­n­casila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi se­genap bangsa dan seluruh tum­pah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Tugas pokok itu dibagi 2(dua) yaitu: operasi militer untuk pe­rang dan operasi militer selain pe­rang. Dalam bidang reformasi in­ternal, TNI sampai saat ini masih terus melaksanakan reformasi internalnya sesuai dengan tun­tutan reformasi nasional.

Sumber: RAKYAT MERDEKA


Membaca Ambisi China di Lautan

0

Ist

Seorang tentara Angkatan Laut China berjalan melalui kapal rudal Varyag yang berada di dok Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China, 20 April 2010. Dalam waktu dekat, China akan meluncurkan kapal induknya yang dibangun dari kapal induk setengah jadi eks Ukraina.

Tahun 2011 akan menjadi tahun bersejarah bagi China. Jika tak ada perubahan rencana lagi, negeri Tirai Bambu itu akan meluncurkan kapal induk pertamanya, setahun lebih awal dari perkiraan.

Seorang pejabat pemerintah pusat China mengatakan kepada Reuters, kapal induk pertama China itu akan diluncurkan sekitar awal Juli. ”Periode sekitar tanggal 1 Juli, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Partai Komunis, adalah salah satu kemungkinan waktu (peluncuran kapal) itu,” tutur pejabat yang meminta tak disebut namanya ini.

China akan menjadi negara ketiga di Asia, setelah India dan Thailand, yang memiliki armada kapal induk. Namun, jangan bandingkan kapal induk baru ini dengan INS Viraat (berbobot 28.700 ton dalam kondisi muatan penuh; panjang 226,5 meter) milik India atau HTMS Chakri Naruebet (11.486 ton; 182,65 meter) milik Kerajaan Thailand.

Kapal induk China—yang menurut Jane’s Fighting Ships akan diberi nama Shi Lang, yakni nama laksamana China dari Dinasti Qing pada abad ke-17—berbobot 67.500 ton dengan panjang 300 meter. Dibandingkan dengan kapal induk super (supercarrier) kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, Shi Lang lebih pendek 32 meter.

Kapal ini dibangun dari bekas kapal induk Uni Soviet, Varyag, yang pembangunannya terhenti pada awal 1990-an seiring bubarnya negara adidaya komunis itu. Kapal ini sekelas dengan kapal induk Admiral Kuznetsov, yang masih menjadi satu-satunya kapal induk yang dioperasikan AL Rusia sampai saat ini.

Tahun 1998, sebuah perusahaan swasta Makau membeli kapal setengah jadi itu seharga 20 juta dollar AS dari Pemerintah Ukraina. Informasi awalnya, kapal ini akan dijadikan kasino terapung di pelabuhan Makau.

Namun, pada perkembangannya, kapal yang belum memiliki mesin, kemudi, dan perlengkapan komunikasi serta navigasi ini ternyata ditarik ke sebuah galangan kapal milik Pemerintah China di Pelabuhan Dalian, China timur laut.

Badan kapal yang mulai berkarat pun dibersihkan dan belakangan dicat dengan warna khas kapal-kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Diduga, China membangun sendiri kapal itu menjadi kapal operasional, sebagai bagian dari latihan sebelum memproduksi kapal induk yang 100 persen buatan China.

Jika disamakan dengan Admiral Kuznetsov, Shi Lang akan mampu mengangkut 41 pesawat, terdiri atas 17 pesawat sayap tetap (fixed-wing) sekelas Sukhoi Su-33 dan Sukhoi Su-25, dan 24 helikopter (rotary wing) sekelas Kamov Ka-27. China dikabarkan sudah memesan 50 pesawat Su-33, dengan spesifikasi mampu tinggal landas dari kapal induk, kepada Rusia.

Kapal ini belum menggunakan sumber tenaga nuklir dan tak memiliki sistem ketapel uap untuk meluncurkan pesawat, seperti kapal-kapal induk utama AS. Sebagai gantinya, di ujung geladak kapal dilengkapi dengan ski-jump, atau landasan yang menyudut ke atas, membantu pesawat ”meloncat” untuk mengudara.

Sebelumnya, Dinas Intelijen AL AS memperkirakan, kapal eks Varyag itu akan digunakan sebagai basis latihan pada 2012, sebelum China meluncurkan sendiri kapal induk buatannya setelah 2015. Menurut Michael Mazza, peneliti senior dari Center for Defense Studies (www.defensestudies.org), China berencana membangun empat kapal induk—dua kapal bertenaga nuklir dan dua kapal konvensional—dalam 15 tahun.

Peluncuran kapal induk berkekuatan penuh menandai era baru strategi militer China dan membuktikan ambisi lama negara itu untuk membangun kekuatan AL ”Laut Biru” (blue-water navy), yakni AL yang mampu beroperasi jauh ke tengah samudra, memproyeksikan kekuatan militer China jauh dari rumah.

Syarat keunggulan

Ambisi ini, menurut artikel yang ditulis Ian Storey dan You Ji di GlobalSecurity.org, sudah ada sejak era Laksamana Liu Huaqing, Panglima AL China dan Wakil Ketua Komisi Militer Sentral era 1980-an.

Menurut Liu, setelah China menguasai strategi ”Laut Hijau”, (kekuatan angkatan laut untuk mempertahankan laut teritorial dan garis pantai), China harus menguasai strategi ”Laut Biru”, dengan tujuan mampu memproyeksikan kekuatan hingga kawasan barat Samudra Pasifik.

Liu percaya, satu-satunya cara menjalankan strategi ”Laut Biru” adalah dengan memiliki armada kapal induk yang mampu membawa pesawat tempur, karena keunggulan di laut hanya bisa diraih melalui superioritas dari udara. Sementara gagasan pesawat yang tinggal landas dari wilayah China daratan dan dilanjutkan dengan mengisi bahan bakar di udara dianggap terlalu rentan dari serangan musuh yang mampu menerbangkan pesawat pemburu dari kapal induk mereka.

Namun, ambisi Liu ini tak bisa langsung dikerjakan waktu itu karena pada era 1980-an, Tentara Pembebasan Rakyat China masih konsentrasi menahan ancaman Uni Soviet. Baru setelah raksasa komunis itu bubar (1991), China bisa mengalihkan perhatian ke kawasan Laut China Selatan dan Taiwan.

China membutuhkan kekuatan laut yang tangguh untuk menghadapi konflik di kawasan selatan dan tenggara ini. Gagasan membangun AL ”Laut Biru” yang diperkuat kapal induk pun bangkit lagi.

Untuk mewujudkan ambisinya itu, China membeli tak kurang dari empat kapal induk bekas, yakni HMAS Melbourne dari Australia (dibeli tahun 1985) dan tiga kapal eks Uni Soviet/Rusia, yakni Minsk (1998), Varyag (1998), dan Kiev (2000). China berniat membangun sendiri kapal induknya dengan mempelajari rancang bangun kapal-kapal induk itu. Tawaran kontrak penjualan kapal induk dari Spanyol dan Perancis ditolak oleh China.

Sebelumnya, para pengamat militer menilai, proyek kapal induk China ini terlalu ambisius dan tak akan mampu berbuat banyak untuk menandingi armada kapal induk AS, satu-satunya potensi musuh utama China jika meletus konflik di Taiwan, Korea, dan Laut China Selatan. Alih-alih coba menandingi armada AL AS, pengamat memprediksi China akan menjalankan strategi perang asimetris, yakni dengan mengembangkan peluru kendali (rudal) pelumpuh kapal induk.

Generasi terbaru rudal balistik antikapal milik China, Dong Feng (Angin Timur) DF 21D, yang mampu melesat dengan kecepatan Mach 10 dan berdaya jelajah 3.000 kilometer, diperkirakan akan mulai diuji coba tahun ini dan akan operasional dalam 3-5 tahun mendatang.

Mengubah Asia Timur jauh

Namun, kabar bahwa China juga akan meluncurkan kapal induk pertamanya tahun ini membuktikan ambisi lama itu belum hilang dan pengembangan misil pembunuh kapal induk itu hanyalah satu bagian dari strategi besar China di lautan.

Meski China selalu berkilah program pengembangan militernya adalah untuk tujuan damai dan pertahanan diri, pengoperasian armada kapal induk oleh China tak bisa tidak akan mengubah peta kekuatan di kawasan Asia Timur-Asia Tenggara.

Mazza mengingatkan, kapal induk mewakili kemampuan memproyeksikan kekuatan, yakni membawa kekuatan militer keluar dari wilayah negara itu ke titik mana pun yang ia kehendaki. Jadi sudah tidak melulu menjadi kekuatan bertahan suatu negara.

Dengan klaim teritorial China terhadap Kepulauan Spratly dan Paracel di Laut China Selatan dan Taiwan, dukungannya terhadap Korea Utara, dan konflik teritorial panas dengan Jepang beberapa waktu lalu, pengoperasian armada kapal induk China akan makin menguatkan dugaan selama ini bahwa China tak akan ragu-ragu menggunakan ”diplomasi kapal perang” untuk memaksakan kehendaknya sebagai kekuatan dominan di kawasan.

Storey dan You menambahkan, negara-negara anggota ASEAN, terutama yang bersengketa langsung dengan China dalam urusan Spratly dan Paracel, akan memperkuat kerja sama militer dengan AS. Sementara Jepang hampir dapat dipastikan akan membangkitkan kembali program kapal induknya, yang pernah terbukti sangat menakutkan di era Perang Dunia II.

Kawasan Asia Timur Jauh pun memasuki realitas baru. Di tata dunia baru ini, akan berada di manakah posisi Indonesia?

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 01 Januari 2011

Kemhan Optimalkan Penggunaan Industri Dalam Negeri

0




JAKARTA (Suara Karya): Pembangunan pertahanan Indonesia akan terus diprioritaskan melalui produksi dalam negeri. Hal ini sejalan dengan program Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang mengarah pada pengelolaan pertahanan yang prokesejahteraan rakyat.

Demikian disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, saat pemaparan Refleksi Kinerja Akhir Tahun 2010 Kementerian Pertahanan, di Jakarta, Kamis (30/12).

"Industri pertahanan jika bisa akan dibangun dari dalam negeri. Karena, hal ini akan berdampak baik, serta memberikan efek ganda, yakni untuk pertumbuhan perekonomian dan juga mampu membuka lapangan pekerjaan," ujarnya.

Sampai sejauh ini, ujar dia, pencapaian kinerja Kemhan pada 2010 telah berjalan sesuai dengan target yang tercantum di dalam Rencana Strategis Pertahanan Negara (Renstra Hanneg) 2010-2014.

Antara lain, menyangkut optimalisasi penggunaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) produksi dalam negeri, pembentukan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), penyusunan draf RUU Revitalisasi Industri Pertahanan dan RUU Keamanan Nasional, serta pemberian tunjangan khusus prajurit TNI yang bertugas di pulau terluar dan perbatasan.

Purnomo mengakui, ada sejumlah program yang belum dapat dicapai pada tahun 2010. Namun, untuk program-program yang dipatok pemerintah dapat tercapai semua.

"Ada beberapa program yang belum dapat direalisasikan pada tahun ini karena ada yang bersifat multiyears. Sampai sejauh ini program yang dipatok pemerintah dapat kita selesaikan dan ini terus dipantau Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

Dia menyebutkan, pencapaian dari sisi regulasi, Kementerian Pertahanan telah menyelesaikan dua RUU pada tahun 2010, yaitu RUU Keamanan Nasional dan RUU Revitalisasi Industri Pertahanan. Sementara itu, untuk bidang kerja sama, Kemhan juga mengadakan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam hal peningkatan kerja sama pertahanan dan dibukanya hubungan kerja sama yang melibatkan Kopassus.

Selain AS, Kemhan juga menjalin kerja sama dengan sejumlah negara lainnya, yakni Brunei Darussalam, Pakistan, dan Korea Selatan. Terkait kerja sama dengan Korea Selatan, dilakukan menyangkut produksi dan pemasaran proyek pengembangan jet tempur KF-X.

"Untuk produksi jet-jet tempur akan dilakukan setelah studi kelayakan selesai dikerjakan pada akhir 2012. Pada proyek produksi ini nantinya Indonesia akan menggunakan fasilitas industri pertahanan PT Dirgantara Indonesia dan bekerja sama dengan Industri Korea Aerospace Industries," katanya.

Super Puma

Terkait upaya peningkatan kesejahteraan prajurit TNI yang juga ditetapkan menjadi prioritas tahun 2010, pemerintah telah menaikkan tunjangan lauk-pauk dari Rp 35.000 menjadi Rp 40.000 per hari. Tunjangan remunerasi yang diberlakukan per Juli 2010 juga telah dicairkan pada akhir Desember 2010 dan diberikan secara rapel.

Sementara itu, pemerintah menargetkan mampu memiliki Super Puma sebanyak 9 unit yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia (DI) dalam waktu dekat ini.

"Sampai saat ini, baru sebanyak tujuh unit, termasuk satu yang kita serahkan saat ini. Sedangkan, dua unit sisanya masih dikerjakan PT DI," ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di sela acara penyerahan satu unit Helikopter NAS-332 Super Puma kepada Skuadron Udara 8 Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/12).

Dia menyebutkan, enam unit yang sebelumnya sudah telah dibuat PT DI, sebanyak empat unitnya digunakan bagi SAR dan dua unit lainnya diperuntuk bagi VVIP.

Purnomo menilai, pihaknya menggandeng PT DI dalam pembuatan helikopter tersebut, karena sejalan dengan upaya pemerintah memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri sebagai upaya memperkuat pertahanan Indonesia.

Menurut Purnomo, penyediaan Helikopter Super Puma itu, dalam rangka meningkatkan kemampuan pertahanan, pada 2010 ini telah disusun cetak biru pertahanan (minimum essential force/MEF).

Sumber: SUARA KARYA


Jumat, 31 Desember 2010

Panglima TNI : Hampir 50 persen anggaran itu untuk alutsista

0

Ist

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Dalam menyongsong pertambahan tahun, TNI berniat akan meningkatkan perlengkapan alutsista. Yang menjadi prioritas bagi angkatan adalah yang secara fokus menggunakan alat seperti tank, kapal laut dan pesawat tempur.

Demikian dikatakan oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Mabes TNI, Jakarta.

"Ada tiga tahapan yang kami lakukan untuk memperbaiki sistem persenjataan di TNI," ungkap Laksamana Agus Suhartono, Jumat (31/12/2010).

Langkah pertama yang akan dilakukan adalah penghapusan alutsista yang dinilai tidak berfungsi. Sedang langkah kedua yang akan diambil adalah peningakatan alutsista serta pengadaan alautsista baru.

Secara umum untuk anggaran pada 2011, TNI mendapat anggaran yang besar dari pemerintah setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Kemendiknas.

Agus Suhartono mengatakan sebagian anggaran TNI ini akan di gunakan untuk peningkatan alutsista.

"Hampir 50 persen anggaran itu untuk alutsista," terangnya.

Sumber: Tribun


Kamis, 30 Desember 2010

ELANG KHATULISTIWA BERSIH DIRI, BERSIH ALUT SISTA

0

Komandan Skadron Udara 1 Lanud Supadio Letkol Pnb Tjahya Elang Migdiawan (depan/tengah) ikut serta dalam acara memandikan pesawat Hawk 100/200 di Shelter Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Kamis (30/12).

Tidak terasa hampir setahun sudah kita jalani tahun 2010 ini. Tentunya banyak suka dan duka yang telah kita alami sepanjang tahun ini. Dan sebentar lagi kita akan mamasuki pergantian tahun yaitu tahun 2011. Sudah menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Indonesia menjelang pergantian tahun mengadakan acara guna menyongsong pergantian tahun. Masyarakatpun bebas memilih acara dan tempat yang menjadi pilihannya untuk merayakan pergantian tahun ini.

Tak terkecuali bagi Skadron Udara 1 Lanud Supadio yang populer dengan sebutan ”Elang Khatulistiwa”, dipenghujung tahun ini dibawah komando Komandan Skadron Udara (Danskadud) 1 Letkol Pnb Tjahya Elang Migdiawan dan anggota membersihan Alat Utama Sistem Senjata (Alut sista) yaitu pesawat Hawk 100/200 di Shelter Skadud 1, Kamis (30/12). Semua pesawat Hawk 100/200 yang dimiliki Skadud 1 dibersihkan secara bersamaan oleh anggota Skadron Udara 1. Tak tanggung-tanggung Danskadud 1 pun ikut serta membersihkan pesawat Hawk 100/200 yang menjadi kebanggaan TNI AU khususnya dan masyarakat Kalbar pada umumnya.

”Sejak setahun yang lalu kegiatan membersihkan pesawat seperti saat ini telah kita laksanakan dan hal ini terus kita agendakan dan menjadi tradisi menjelang akhir tahun. Sebenarnya dalam hal membersihkan pesawat telah rutin kita laksanakan namun momentum akhir tahun ini yang menjadi terasa istimewa”, jelas Danskadud 1 disela-sela kegiatan membersihkan pesawat.

Disisi lain, lanjut Danskadud 1 membersihkan atau mencuci pesawat ini dapat diartikan juga sebagai bersih diri. Ditahun ini tentunya banyak hal yang telah kita lalui baik yang positif maupun yang negatif. Hal ini tentunya menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing. Hal-hal yang menjadi kesalahan haruslah dijadikan pelajaran berharga bagi kita. Dan semoga ditahun 2011 yang sebentar lagi kita capai, sikap dan perbuatan kita lebih baik ditahun sebelumnya.

Selain itu kegiatan ini juga merupakan implementasi rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa dimana selama tahun ini Skadron Udara 1 telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan lancar dan aman sehingga zero accident dapat tercapai. ”Semua ini tentunya berkat dukungan, dedikasi, loyalitas dan kerja keras seluruh anggota Skadron Udara 1 Lanud Supadio yang telah bekerja keras dan saling dukung mendukung satu sama yang lain sehingga program kerja dan tugas yang dibebankan kepada Skadron Udara 1 dapat tercapai dengan baik dan semoga ditahun 2011 hal yang sama juga dicapai Skadron Udara 1”, tambah Danskadud 1.

Sumber: TNI AU


Kemenhan Terapkan Zero Growth Policy untuk Personel

0



Dari kiri: Ketua BPK Hadi Poernomo, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, dalam acara penyerahan hasil audit BPK ke Kementerian Pertahanan di Jakarta (7/6).

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kementerian Pertahanan mulai tahun ini menerapkan 'zero growth policy', atau kebijakan pertambahan pegawai sebesar nol persen. Kebijakan ini selaras dengan keinginan DPR tentang perampingan jumlah pegawai negeri sipil di seluruh instansi pemerintahan.

"Sudah ditetapkan pemerintah kita menetapkan zero growth, bukan berarti tidak melakukan rekrutmen personel baru," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dalam acara konferensi pers refleksi akhir tahun di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (30/12).

Kementerian, lanjutnya, akan tetap melakukan rekrutmen personel baru, tetapi hanya sebatas menggantikan posisi lowong yang ditinggalkan personel sebelumnya. "Kalau ada yang keluar 10 personel, yang masuk 10 personel. Kalau ada yang pensiun 20, maka yang masuk 20 orang," kata dia.

Purnomo mengatakan, kementerian yang dipimpinnya sampai tahun ini tercatat memiliki total 460 ribu personel. Sebanyak 300 ribu personel adalah prajurit TNI Angkatan Darat, 100 ribu personel TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara. "Sisanya 60 ribu adalah pegawai negeri sipil," ujarnya.

Untuk menyesuaikan dengan kebijakan baru tersebut, kata Purnomo, kementeriannya beserta TNI juga akan melakukan restrukturisasi dan penempatan personel secara lebih tepat. "Kita akan lakukan right sizing, yaitu untuk efektifitas dari personel yang ada," ujarnya.

Sumber: TEMPO


Penyerapan Anggaran Kementerian Pertahanan 100 Persen

0


Dari kiri: Ketua BPK Hadi Poernomo, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, dalam acara penyerahan hasil audit BPK ke Kementerian Pertahanan di Jakarta (7/6). TEMPO/Subekti.

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kementerian Pertahanan dan TNI selama tahun 2010 mampu menyerap seluruh anggaran yang dialokasikan dari APBN. Kementerian juga akan terus meningkatkan kemampuan penyerapan anggaran seiring peningkatan anggaran pada tahun depan.

"Ke depan akan ada terus peningkatan anggaran," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dalam konferensi pers refleksi akhir tahun di Kantor Kementerian Pertahanan, Kamis (30/12).

Penyerapan anggaran, kata Purnomo, digunakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan, khususnya untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

"Kita akan terus lakukan pembangunan alutsista yang sebelumnya sempat terhenti," kata dia. Apalagi, Kabinet Indonesia Bersatu jilid kedua mendukung kementeriannya untuk mengembangkan alutsista.

Realisasi anggaran Kementerian Pertahanan tahun 2010 mencapai Rp 42,9 triliun. Tahun depan, anggarannya naik 10,72 persen menjadi Rp 47,5 triliun atau 3,86 persen dari APBN tahun 2011.

Kenaikan anggaran akan digunakan untuk fokus ke enam bidang yang menjadi prioritas kementerian, yakni pengembangan kekuatan pokok minimum, industri pertahanan nasional, pencegahan kejahatan di laut, meningkatkan rasa aman, modernisasi keamanan nasional, dan peningkatan kualitas kebijakan keamanan nasional.

Untuk hasil pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh BPK, Purnomo mengatakan, kementerian yang dipimpinnya menyabet predikat Wajar dengan Pengecualian. "Tentunya tahun mendatang kita ingin agar bisa memperoleh predikat Wajar Tanpa Pengecualian," ujarnya.

Sumber: TEMPO


Kamis, 23 Desember 2010

DPR Harus Cepat Selesaikan Regulasi Pertahanan

0

JAKARTA – Tak adanya rancangan undang-undang (RUU) terkait pertahanan yang diselesaikan DPR dikhawatirkan akan menghambat reformasi di bidang pertahanan. DPR harus menyelesaikan empat RUU yang saat ini sangat dibutuhkan di bidang pertahanan, yakni RUU Intelijen, RUU Rahasia Negara, RUU Komponen Cadangan, dan RUU Revitalisasi Industri Pertahanan.

“Minimal tahun 2011 ini ada salah satu yang sudah selesai. Jika tidak, saya khawatir DPR saat ini tidak ada bedanya dengan DPR pada periode sebelumnya. Tidak ada satu pun RUU yang diselesaikan untuk bidang pertahanan,” kata pengamat militer dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jaleswari Pramo dhawardani, seusai diskusi “Refleksi Akhir Tahun” di Jakarta, Rabu (22/12).

Pembentukan UU, menurut nya, sangat penting dilakukan karena hanya dengan regulasi pemerintah bisa mene rapkan mekanisme dan ke wenangan. Untuk itu, dia ber harap DPR menyerapnya dengan cepat. Untuk revitalisasi industri pertahanan, misalnya, pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan, tidak bisa menentukan regulasi yang baik untuk menumbuhkan kembali geliat industri pertahanan. “Industri pertahanan itu bukan industri biasa. Perlu proteksi, penganggaran yang khusus.

Kita harus melihatnya dalam jangka panjang,” jelasnya. Sementara itu, pengamat militer dari Universitas Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie, meminta pemerintah mengubah strategi pertahanan yang diterapkan selama ini, yakni dari strategi pertahanan darat ke strategi pertahanan maritim dan udara. “Pertahanan kita sesungguhnya adalah di laut dan udara,” ujarnya.

Pemerintah dinilai tak serius merancang strategi pertahanan yang tepat. Padahal, seharusnya pemerintah melihat Indonesia bukan dari dalam, tapi dari luar. “Kita harus mengamankan apa yang kita punya. Tidak ada alasan dari pemerintah karena terbatasnya anggaran. Masa anggaran untuk pemilu saja bisa, kenapa untuk pertahanan tidak bisa?” katanya.

Sumber: KORAN JAKARTA


Selasa, 21 Desember 2010

Seminar Nasional Pusat Kekuatan Strategik Bangsa Indonesia

0


JAKARTA (Pos Kota) – Pusat kekuatan strategik bangsa merupakan faktor yang sangat penting dan strategis di dalam mempertahankan tetap tegaknya suatu negara dari berbagai ancaman yang dapat membahayakan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian dikatakan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., pada saat membuka Seminar Nasional Pusat Kekuatan Strategik (Strategic Center of Grafity) Bangsa Indonesia di Aula Gatot Subroto Mabes TNI Cilangkap Jakarta, yang diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian Strategis (Pusjianstra) TNI dalam rangka membangun kembali dan memelihara pusat kekuatan strategik bangsa Indonesia.

Seminar ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan berupa pemikiran, pendapat, saran dan solusi dari peserta seminar tentang Pusat Kekuatan Strategik Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk mencari solusi yang dapat diaplikasikan dalam rangka membangun kembali (rekonstruksi) dan memelihara Pusat Kekuatan Strategik Bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai Ancaman Globalisasi Abad 21.

Diikuti oleh Pejabat TNI di lingkungan Mabes TNI dan Angkatan, Para Menteri/Direktur Kementerian, Pejabat Lemhannas RI, Wantannas RI dan Kepolisian RI serta Kepala/Pimpinan/Staf Lembaga Swadaya Masyarakat, Tokoh Veteran RI dan Mahasiswa Pasca Sarjana UI. Dengan Tema, “Membangun kembali Pusat Kekuatan Strategik Bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman Globalisasi Abad 21”. Sasaran yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan seminar sehari ini adalah menghasilkan produk hasil seminar berupa konsep startegik membangun kembali (rekonstruksi) dan upaya memelihara Pusat Kekutatan Strategik Bangsa Indonesia dalam menghadapi Ancaman Globalisasi Abad 21, sebagai sumbangan pemikiran TNI kepada bagsa dan negara.

Bertindak selaku pembicara, antara lain: Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen (Purn) Purbo S. Suwondo, DR. Anhar Gonggong dan DR. Andi Widjajanto, S.Sos,., M.Sc., MS. Sedangkan Keynote Speaker adalah Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., yang dalam makalahnya menyatakan bahwa TNI sudah mengkaji dan mencoba memformulasikan pusat kekuatan strategik bangsa Indonesia yaitu semangat persatuan kesatuan Indonesia yang berdasarkan Pancasila, merupakan resultante dari kepemimpinan nasional yang berkarakter negarawan, karakteristik bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan memiliki semangat juang yang tidak mengenal menyerah, serta kekuatan dan kemampuan nasional yang harus dimiliki bangsa Indonesia untuk membangun ketahanan nasional dalam rangka memperoleh kebebasan bermanuver dan bertindak yang tidak dapat didikte dan diintervensi oleh pihak manapun.

Diharapkan melalui kegiatan seminar ini dapat diformulasikan dan disepakati bersama rumusan Pusat Kekuatan Strategik Bangsa Indonesia untuk membangun dan mengisi kembali serta memeliharanya guna terwujudnya kemampuan, kekuatan dan ketahanan Bangsa Indonesia dalam rangka tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, aman dan sejahtera yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 di Abad 21. Sehingga di masa mendatang tidak salah lagi dalam menafsirkan Pusat Kekuatan Strategik Bangsa Indonesia.

Sumber: POS KOTA


Pesawat Tempur TNI AU Dilengkapi ACMI

0

air combat maneuvering instrumentation (ACMI).

JAKARTA (Suara Karya): TNI Angkatan Udara (AU) melengkapi armada pesawat tempurnya dengan teknologi air combat maneuvering instrumentation (ACMI). Teknologi canggih pabrikan Cubic, Amerika Serikat (AS) dipasang pada sayap pesawat tempur guna memonitor latihan penerbang tempur yang sedang melaksanakan pertempuran udara.

"ACMI merupakan alat yang dapat merekam data-data pergerakan pesawat selama latihan penerbangan. Data-data tersebut nantinya dapat digunakan untuk menganalisa latihan yang dilaksanakan baik secara real time maupun keperluan setelah selesai penerbangan," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsma TNI Bambang Samoedro kepada Suara Karya di Jakarta, Senin (20/12).

Pada medio Desember 2010, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, meresmikan ACMI di Lanud Iswahjudi. ACMI menyediakan advanced Rangeless/ Autonomous ACMI Training yang memungkinkan para penerbang berlatih dengan bantuan global position satellite (GPS).

Teknis pemasangan ACMI pada sayap pesawat tempur. Gerakan pesawat tempur akan termonitor oleh ground station melalui pemancar yang telah terkoneksi dengan ACMI. Setiap manuver udara pesawat tempur akan terukur sehingga para pilot bisa mengevaluasi atas kekurangannya.

"Inti komponen teknologi dari ACMI adalah instrumentation pod yang dipasang di wing tip weapon station. Pod tersebut mengumpulkan semua data dan pergerakan pesawat selama penerbangan kemudian merekam dan mengirim informasi tersebut ke ground station untuk real time monitoring terhadap kejadian-kejadian selama latihan dan breefing setelah latihan pada layar monitor di ruang debrief," ujar Bambang.

Saat ini, Indonesia baru punya empat unit ACMI. Rencananya, pada tahun 2011, TNI AU akan menambah lagi menjadi delapan unit. "TNI AU akan mencoba latihan pertempuran udara empat lawan empat," ujarnya.

Pada sisi lain, Bambang mengatakan, para penerbang tempur TNI AU akan diikutkan kursus penerbang tempur untuk meningkattkan kemampuan terbang tempurnya. Pada kursus ini akan dibekali pengetahuan taktik tempur serta kualifikasinya.

Pembenahan Armada

Secara terpisah, pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto mengatakan, perkembangan pola taktik pertempuran TNI AU harus diimbang terhadap pembenahan armada tempur yang dimiliki, seperti sumber daya manusia (SDM) dan alat utama sistem senjata (alutsista).

"Penerbang tempur dapat mempelajarai dan melaksanakan berbagai macam taktik pertempuran udara besar karena kualitas dan kuantitas pesawat mencukupi," ujarnya.

Pada era 1970, Indonesia pernah mengalami suatu masa "asal bisa terbang", karena kesiapan kekuatan pesawat yang turun drastis.

Sekarang ini, menurut dia, pemerintah mulai terdorong untuk membeli pesawat tempur canggih dari luar negeri, seperti Sukhoi (Rusia) dan F-16 (AS). kemampuan pemerintah untuk membeli pesawat tempur mulai terdongkrak.

"Rencana pemerintah bekerja sama dengan Korea Selatan untuk membangun pesawat tempur KFX diharapkan bisa mendorong kekuatan pertahanan menunju ideal," ujarnya.

Sumber: SUARA KARYA


Indonesia & Perancis Melakukan Kerjasama Pertahanan

0

(Ist)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Prancis, di Jakarta, Selasa, akan menggelar Forum Konsultasi Bilateral II tingkat pejabat senior.

Menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin, forum konsultasi regular tersebut ditujukan untuk mengidentifikasikan upaya bersama guna meningkatkan dan memperkuat kerja sama bilateral antara Indonesia dan Prancis dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya.

Dalam bidang politik, kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerjasama kearah pembentukan sebuah kemitraan strategis antara Indonesia dan Prancis.

Selain itu kedua delegasi juga membahas upaya peningkatan kerja sama dalam bidang pertahanan dan kontra-terorisme.

Sementara itu, untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara, pertemuan tersebut membahas upaya peningkatan dan pengoptimalan kerja sama di bidang perdagangan, investasi serta di bidang energi dan mineral.

Di bidang sosial budaya, kedua negara sepakat untuk terus mengembangkan kerja sama yang telah terjalin selama ini khususnya di sektor pendidikan, pariwisata dan pertukaran kebudayaan.

Selain membahas mengenai hubungan bilateral, kedua delegasi juga bertukar pandangan terkait isu-isu internasional yang berkembang saat ini.

Dalam pertemuan Forum Konsultasi Bilateral (FKB) tersebut juga akan ditandatangani "Financial Protocol on Strengthening BMKG Climate and Weather Services Capacity" yang berupa pinjaman lunak senilai 30 juta Euro untuk pembiayaan proyek peningkatan kapasitas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Proyek tersebut diharapkan akan dapat membantu BMKG dalam meningkatkan sistem operasional Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika di Indonesia sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Dalam pertemuan tersebut Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Retno L.P Marsudi, sementara itu Delegasi Perancis dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Prancis, Pierre Sellal.

Sumber: ANTARA


Senin, 20 Desember 2010

Komisi I : Kapal Selam Korsel Paling Mungkin Direalisasikan Di tanah Air

0

DSX 3000 Merupakan Prototype Kapal Selam Korse;.

JAKARTA – Kerja sama dengan Korea Selatan (Korsel) paling mungkin direalisasikan untuk proyek pengadaan kapal selam di Tanah Air. Korsel dinilai paling baik dan pas karena sudah tidak asing lagi dengan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia. Kedua negara ini sudah sering bekerja sama di bidang pertahanan.

“Tarik-menarik antara Korsel dan Rusia memang kuat. Namun, Korsel sudah berpengalaman bekerja sama dengan Indonesia. Paling mutakhir, kedua negara ini bekerja sama dalam mengembangkan pesawat tempur jenis KFX yang diharapkan lebih mo dern dari pesawat tempur F16,” kata Ketua Centre for Security and Defence Studies Koesnadi Kardi saat dihubungi di Jakarta, Minggu (19/12).

Koesnadi mengatakan kapal selam yang berasal dari Rusia sebenarnya canggih, namun kapal jenis Kilo tersebut masih sebatas prototipe. “Masa kita mau membeli kapal selam yang belum tahu kemampuannya,” ujar dia. Pembelian kapal selam, tam bah dia, sedikit susah kare na membutuhkan dana yang besar. Selain itu, Indonesia hanya membutuhkan empat kapal selam.

Kendala-kendala ter sebut membuat banyak ne gara menolak melakukan transfer teknologi. Menunggu Sementara itu, Direktur Teknik dan Industri Kementerian Pertahanan Agus Suyarso mengatakan teknologi kapal selam seperti apa yang diinginkan TNI AL untuk mendukung sistem keamanan dan pertahanan di kawasan laut Indonesia belum diketahui secara jelas.

Kementerian Pertahanan belum bisa mengetahui dengan negara mana Indonesia akan bekerja sama untuk pengadaan alutsista seharga sekitar 2,7 triliun rupiah ini. “Kami sedang menunggu, user (TNI AL, red.) inginnya kapal selam seperti apa. Jika sudah ditentukan, baru kita akan mempertimbangkannya secara komprehensif,” katanya.

Agus tak begitu mengetahui kapan TNI AL akan memberikan spesifi kasi kapal selam yang dibutuhkan ke Kementerian Pertahanan. Kapal selam memang sangat dibutuhkan Indonesia, terutama untuk menjaga daerah-daerah perbatasan strategis, seperti Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Sunda, dan Selat Makassar. Indonesia hanya memiliki dua kapal yang saat ini tak bisa digunakan karena sedang diperbaiki.

Dua kapal selam tersebut adalah buatan Jerman tahun 1981 dengan kelas U 209/1300 yang diberi nama KRI Cakra dan KRI Nanggala. Karena amat dibutuhkan, Kementerian Pertahanan sempat mewacanakan akan membeli empat kapal selam dari negara produsen kapal selam. Ada beberapa negara yang dibidik, yakni Korsel, Prancis, Jerman, dan Rusia.

Agus tak menampik jika produk Perancis belum teruji. Hal itu diperlihatkan dengan tidak maksimalnya produk mereka saat Malaysia memesannya. Namun, Agus belum bisa memastikan negara mana yang akan dimintai kerja sama. Sebelumnya, Komisi I DPR berharap Kementerian Pertahanan membeli satu paket kapal selam dari satu negara agar memungkinkan adanya transfer teknologi.

Januari atau Februari 2011 ini pemerintah diminta sudah menetapkan negara mana yang dipilih untuk bekerja sama. “Kami berharap kerja sama yang akan dijalin bisa menguntungkan Indonesia dan bisa mengikutsertakan industri pertahanan dalam negeri sebagai langkah revitalisasi,” kata Ketua Komisi 1 DPR Mahfudz Siddiq.

Sumber: Koran Jakarta


Minggu, 19 Desember 2010

Hadapi AS, Selandia Baru Minta Bantuan China Dan Perancis

0

Foto: David Lange. (smh.com.au)

WELLINGTON - Mantan pemerintah Selandia Baru merayu China dan Prancis untuk melakukan upaya membatasi pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Australia di kawasan Pasifik. Demikian laporan yang mengutip bocoran kawat diplomatik WikiLeaks.

Pihak Selandia Baru juga mengatakan mereka telah mengesahkan undang-undang anti-nuklir dengan alasan penghematan biaya pertahanan serta alasan ideologis yang selalu diungkapkan ke publik. Kebijakan ini yang menimbulkan keretakan dengan Washington.

Seperti dilansir AFP pada Sabtu (18/12/2010), kawat diplomatik tahun 2004 itu diberi judul "Apa Yang Tidak Bisa Kita Katakan dalam Misi Kita". Kawat tersebut mengatakan Partai Buruh yang juga merupakan partai berkuasa di Selandia Baru pada awal dekade 2000an menggoda China dan Prancis membantu mereka membatasi pengaruh AS dan Australia di kawasan Pasifik.

Dalam sebuah kunjungan yang dilakukan Wakil Menteri Perdagangan China, Menteri Perdagangan Selandia Baru Jim Sutton mengklaim China sebagai mitra dagang yang paling penting dan berharga bagi Selandia Baru. Klaim tersebut telah membuat para pejabat Australia bertanya-tanya.

Pemerintah dari Partai Buruh, yang kala itu dipimpin David Lange, juga merupakan faktor mengapa Washington dan Wellington tidak memiliki hubungan yang terlalu baik. Lange adalah pihak yang memperkenalkan undang-undang anti nuklir pada dekade 1980an. Kebijakan yang tidak disukai AS itu terus dipertahankan hingga beberapa dekade.

Kawat tersebut juga mengungkapkan sejumlah pejabat pemerintahan senior Selandia Baru mengatakan kepada para pejabat AS bahwa mereka sesungguhnya mengetahui kebijakan (anti nuklir) akan membuat mereka dikeluarkan dari aliansi ANZUS (Australia, New Zealand, United States). Namun Selandia Baru justru senang dengan keputusan ini. Mereka mengatakan dengan keluar dari ANZUS, Selandia Baru akan dapat menghemat pengeluaran pertahanan di tengah masa krisis ekonomi dan fiskal.

Sumber: OKEZONE


Sabtu, 18 Desember 2010

Jepang Perbarui Pertahanan Sebesar 2.527 Triliun Rupiah

0

Kapal Selam Jepang.

TOKYO – Jepang mengesahkan versi terbaru kebijakan pertahanan nasionalnya, Jumat (17/12). Versi terbaru kebijakan pertahanan ini dirancang khusus untuk membuat negara itu lebih sanggup menghadapi militer China yang kekuatannya makin meraksasa. Di bawah kebijakan pertahanan yang dinamakan Garis Besar Program Pertahanan Nasional itu, Jepang akan mengalokasikan dana sebesar 23,49 triliun yen ( 2.527 triliun rupiah) untuk anggaran pertahanan selama lima tahun, terhitung mulai April 2011.

Anggaran ini akan membuat militer Jepang lebih sanggup untuk melakukan ekspansi pengamanan hingga ke wilayah perbatasannya dengan China, yaitu dengan meningkatkan jumlah pesawat tempurnya yang ada di Pulau Okonawa dan penambahan jumlah pasukan mereka di pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan China. Pembaharuan kebijakan pertahanan di atas merupakan yang pertama kalinya dilakukan Jepang dalam enam tahun terakhir, serta yang pertama kalinya juga dilakukan Jepang di bawah pemerintahan Perdana Menteri Naoto Kan.

“Saya kira kami telah berhasil membuat kebijakan pertahanan yang lebih tepat untuk menghadapi makin rentannya situasi keamanan di kawasan ini,” kata Menteri Pertahanan Jepang, Toshimi Kitazawa. China menanggapi pengesahan kebijakan baru pertahanan Jepang di atas dengan memfokuskan pada aspek positif pertumbuhan militer dan ekonominya ke tingkat global.

“Kami tak ingin menjadi ancaman bagi bangsa mana pun. Perkembangan China justru membawa peluang berbagi kesejahteraan bagi semua negara, termasuk Jepang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Jiang Yu, dalam laman resmi kementerian tersebut.

Sejak masa Perang Dingin, Jepang sebelumnya hanya memfokuskan kemampuan pertahanannya ke arah utara, yaitu lebih dari 1.000 tank disiagakan untuk menghadapi potensi serangan Uni Soviet dan Rusia. Namun, berdasarkan kebijakan baru di atas, Jepang akan menurunkan jumlah tank-tank di atas. Sebaliknya, Jepang meningkatkan jumlah kapal selamnya menjadi 22 buah.

Sumber: KORAN JAKARTA




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin