Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

2014, Lapan Orbitkan Empat Satelit

0


Jakarta, Lapan.go.id - Salah satu sasaran utama kinerja Lapan pada 2011 ialah peluncuran satelit Twinsat (Lapan-A2 dan Lapan-Orari) untuk mitigasi bencana. Pengembangan satelit terus berlanjut, hingga pada 2014, Lapan akan memiliki empat satelit buatan sendiri meskipun dalam skala kecil. Selama ini, 10 satelit milik Indonesia masih buatan luar negeri.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Lapan Dr. Adi Sadewo Salatun, M. Sc. saat rapat kerja Menteri Riset dan Teknologi serta jajaran Kepala Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) dengan Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Komisi VII, Gedung Nusantara Lantai I, Senin (17/1).

Selain pengembangan satelit, Lapan juga bersiap melakukan studi kelayakan sarana dan prasarana stasiun peluncuran di Pulau Enggano, menguji statik roket RX-550, serta membahas RUU Keantariksaan dengan DPR. Roket RX-550 saat ini sedang dalam proses pengujian bekerjasama dengan BATAN dan dijadwalkan selesai paling lambat Maret 2011. “Jika semuanya telah siap, maka peluncuran RX-550 merupakan peluncuran roket paling besar sampai saat ini,” ujar Adi.

Dalam rapat tersebut, Kepala Lapan menyampaikan realisasi program utama Lapan 2010. Untuk bidang roket, telah dilakukan integrasi dan pengujian subsistem satelit mikro Lapan-A2 dan Lapan-Orari. Di bidang roket, Lapan mengembangan kemampuan roket nasional untuk keperluan riset ilmiah.

Kemudian, di bidang penginderaan jauh (inderaja), lapan mengembangkan model pemanfaatan data satelit inderaja untuk pengembangan wilayah, pemantauan dan inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan, serta operasi pelayanan informasi mitigasi bencana (Simba).

Sementara itu di bidang sains antariksa dan atmosfer, Lapan menyuplai model atau data akurat tentang cuaca antariksa, prosedur standar peringatan dini dan mitigasi cuaca antariksa, serta layanan informasi pemanfaatan sains atmosfer. Selain itu, Lapan mendukung penguatan kelembagaan iptek dan regulasi kebijakan pengembangan kedirgantaraan nasional (harmonisasi RUU Keantariksaan).

Sumber: LAPAN


Minggu, 16 Januari 2011

Melebihi Target, Satelit Pertama Buatan Indonesia Masih Mengorbit!

0


Jakarta, Lapan.go.id - Lapan-Tubsat, satelit pertama buatan Indonesia, berulang tahun ke-4 pada 10 Januari 2011. Padahal, dalam rancangan awal, satelit ini diperkirakan hanya akan berusia tidak lebih dari dua tahun. Ternyata masa hidup satelit ini melampaui target. Keberhasilan ini merupakan suatu pembuktian bahwa engineer Indonesia mampu membuat satelit yang andal.

Menurut Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Prof. Dr. Ing. Soewarto Hardhienata, Dipl. Ing., Lapan-Tubsat masih berfungsi dengan baik dan masih terus memberikan gambar dari ruang angkasa. ”Bahkan, jika tidak ada anomali, Lapan-Tubsat masih akan terus beroperasi hingga beberapa tahun lagi,” ujarnya. Soewarto mengatakan, ”ini merupakan hal yang luar biasa bagi sebuah satelit mikro karena banyak satelit semacam ini hanya berusia dua tahun” ia mengungkapkan.

Lapan-Tubsat merupakan satelit mikro atau satelit berukuran kecil dengan bobot 57 kg. Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub. Satelit tersebut melewati wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari. Selama empat tahun, Lapan-Tubsat telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana misalnya gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan perkembangan jembatan Suramadu.

Bahkan, menurut Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara Lapan, Chusnul Tri Judianto, ST, Lapan dapat mengambil gambar letusan Gunung Merapi pada 2010. Saat itu, satelit-satelit penginderaan jauh milik negara-negara maju, tidak dapat mengambil gambar gunung itu karena seluruh wilayah udara di Merapi tertutup awan akibat erupsi.

”Inilah kelebihan Lapan-Tubsat. Satelit ini dapat digerakkan, sehingga mampu 'melirik' dari sisi samping wilayah yang ingin dilihat. Pada satu hari itu, hanya Lapan-Tubsat yang berhasil melihat Merapi dari 650 kilometer di atas permukaan bumi,” ujar Chusnul.

Program pengembangan satelit terus berkembang. ”Sekarang, penguasaan teknologi satelit sudah berjalan di Indonesia dan ini akan terus dilanjutkan,” Soewarto menjelaskan. Saat ini, Lapan sedang membangun dua satelit yaitu Lapan-A2 dan Lapan-Orari. Kedua satelit yang disebut Twin-Sat atau Satelit Kembar berorbit ekuatorial, sehingga akan melewati Indonesia lebih banyak dari Lapan-Tubsat, yaitu 14 kali per hari. Kedua satelit akan mengemban misi untuk mitigasi bencana. Rencananya Twin Sat akan diluncurkan pada 2011 ini dengan menggunakan roket India.

Lapan-A2 akan membawa muatan AIS (Automatic Identification System) untuk mengindentifikasi kapal laut di perairan Indonesia dan kamera video dengan cakupan tiga kali lebih lebar dari Lapan-Tubsat. Lapan-Orari akan membawa muatan voice repeater dan APRS Repeater untuk komunikasi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) saat bencana. Satelit ini juga akan membawa ADI star (Attitute Determination Instrument). Instrumen ini akan mengeluarkan cahaya seperti bintang yang terlihat dari bumi dengan mata telanjang. ADI star bertujuan untuk menguji sistem pengendalian sikap satelit. Mantan Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara Lapan, Drs. Toto Marnanto Kadri, menjelaskan apabila cahaya menyorot ke titik yang sama selama satelit lewat di tempat yang ditentukan, artinya sistem pengendalian sikap satelit berjalan dengan baik.

Lapan-Orari juga akan membawa Imager Experiment . Hasil muatan ini akan menyerupai data citra satelit penginderaan jauh. Imager pada Lapan-Orari masih bersifat eksperimen. ”Nantinya, imager tersebut akan digunakan pada satelit Lapan berikutnya, yaitu Lapan-IPB,” ujar Toto. Satelit Lapan-IPB adalah satelit kerja sama Lapan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Satelit ini nanti akan mendukung program ketahanan nasional di bidang pangan.

Indonesia sangat memerlukan satelit. Toto memaparkan, Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas sehingga membutuhkan suatu alat pengamatan dan komunikasi yang dapat mencakup seluruh wilayah. ”Satelit merupakan alat yang paling baik untuk kebutuhan tersebut karena biayanya murah,” kata Toto.

Soewarto menegaskan, kunci untuk penguasaan teknologi ini adalah sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan dan transfer teknologi dari para peneliti senior kepada peneliti junior.

Sumber: LAPAN


Selasa, 04 Januari 2011

Lapan Siap Uji Statik Roket Pengorbit Satelit

0

Ist

Jakarta, Kompas - Roket pengorbit satelit berdiameter 550 mm atau 0,55 meter telah berhasil dirancang bangun Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Uji Statik roket RX-550 ini akan dilaksanakan akhir Januari setelah menjalani uji struktur.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewo Salatun di Jakarta, Senin (3/1), menjelaskan, pembuatan RX-550 ini melibatkan PT Krakatau Steel dalam tahap rekayasa. Keterlibatan industri strategis ini dalam pencetakan moncong roket atau nozzle.

Sementara itu, fabrikasi propelan dari material padat ini dilakukan bertahap, yaitu dengan mempertimbangkan ukurannya yang relatif besar, keterbatasan fasilitas yang dimiliki Lapan, dan keamanan proses.

Sutrisno, Kepala Bidang Propelan Lapan, mengatakan, pembuatan propelan yang terdiri dari delapan bagian ini dimulai September 2010. Setiap bagian atau segmen itu kemudian disatukan menjadi bentuk yang utuh.

Pemeriksaan struktur roket RX-550 yang dipamerkan dalam Indo Defence di Jakarta, November lalu, menurut Adi, dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional yang memiliki fasilitas non destructive test (NDT). Pengetesan ini untuk memeriksa hasil pengelasan pada sambungan setiap segmen dan kemungkinan adanya keretakan pada struktur.

Rencana uji statik RX-550 pada akhir Januari 2011 ini, menurut Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata, mundur dari jadwal semula, pertengahan Desember lalu. ”Pengunduran ini menyesuaikan pergeseran pelaksanaan NDT menggunakan sinar X. Kalau uji sinar X hasilnya baik, baru dilakukan uji statik,” ujar Soewarto.

Di Kabupaten Garut

Uji statik akan dilaksanakan di Instalasi Uji Terbang Roket di pantai selatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Jika uji statik ini berhasil, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan RX-550 untuk uji terbang. Sebelum itu, data uji statik akan dimasukkan dalam simulasi komputer untuk melihat sistem aerodinamika roket. ”Dalam simulasi, roket harus mampu masuk ke orbit pada ketinggian 200 kilometer,” ungkap Adi.

Sistem simulasi komputer ini akan dilaksanakan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia yang memiliki fasilitas tersebut.

Apabila pengujian ini tidak menunjukkan hasil yang memadai, diameter roket harus ditingkatkan. Selain itu juga perlu dilakukan peremajaan sistem pencampur propelan atau mixer untuk dapat membuat bahan bakar roket yang dapat meluncur hingga ketinggian di atas 230 kilometer. Dalam mempersiapkan peluncuran roket ini, Lapan juga akan bekerja sama dengan PT Pindad.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 26 November 2010

PANGLIMA: TREND ANCAMAN KEDEPAN WILAYAH UDARA ADALAH SATELIT MATA-MATA

0

Jakarta, 24/11/2010 (Kominfo Newsroom) Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan pelanggaran terhadap wilayah udara nasional, peredaran satelit mata-mata serta kemungkinan terjadinya perang elektronika baik dalam skala terbatas maupun luas dan terbuka, menjadi trend ancaman dewasa ini dan ke depan.

Pelaksanaan latihan Hanudnas Tutuka 2010, menjadi salah satu upaya dan jawaban untuk mengetahui sampai sejauh mana tingkat kemampuan dan batas kemampuan Kohanudnas dalam merespon ancaman-ancaman tersebut, sekaligus menjaga, menjamin dan memenuhi kepentingan NKRI.

Oleh karenanya, tugas-tugas Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dihadapkan dengan kemajuan perkembangan lingkungan strategis ke depan akan semakin berat dan komplek.

“Hal ini ditandai dengan sering munculnya berbagai ancaman terhadap wilayah udara nasional,” kata Panglima saat penutupan Gladi Lapangan Hanudnas “Tutuka” XXXIV tahun 2010, di ruang Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) Mako Kohanudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (24/11).

Gladi Lapangan Hanudnas ”Tutuka” XXXIV tahun 2010 kali ini menjadi sarana mengasah kemampuan taktik dan strategi, komando dan pengendalian serta manajerial lintas angkatan.

Dengan berakhirnya latihan ini, diperoleh hasil adanya kesamaan pelaksanaan operasional antar matra dalam rangka meningkatkan profesionalisme prajurit TNI. Disamping itu, hasil latihan ini dapat dijadikan sebagai bahan penyempurnaan doktrin operasi udara serta doktrin pendukung lainnya.

Panglima TNI berharap latihan seperti ini dilaksanakan secara berkesinambungan, efektif dan efisien, sehingga profesionalisme prajurit dan satuan TNI, dapat dipelihara dan ditingkatkan sesuai dengan hakekat ancaman yang dihadapi.

Selain itu, Panglima TNI menghendaki agar terus melakukan evaluasi dan konsolidasi pasca latihan agar terwujud kesesuaian dan keserasian antara hasil latihan dengan kondisi riil kesatuan. “Dengan demikian, kita akan dapat melaksanakan pengembangan dan pembinaan satuan secara terus menerus dan berkesinambungan,” katanya.

Sumber: KOMINFO


Rabu, 24 November 2010

AS Luncurkan Satelit Mata-mata Terbesar di Dunia

0

Roket Delta 4-Heavy Membawa Satelit Mata-Mata

INILAH.COM, New York –Amerika Serikat (AS) meluncurkan satelit mata-mata yang diklaim sebagai satelit terbesar yang pernah ada. Satelit ini diluncurkan menggunakan roket terkuat di dunia.

Satelit ini merupakan bagian dari operasi sangat rahasia AS. Dikabarkan, AS menggunakan satelit ini untuk kegiatan mata-mata. Sayangnya, pemerintah AS tak mau mengungkapkan lebih jauh karena masalah keamanan.

Roket yang membawa satelit ini ke orbit Delta 4-Heavy diluncurkan ke luar angkasa pada 17.58 waktu setempat. Roket itu diluncurkan dari Cape Canaveral Air Force Station di Florida dan merupakan roket tak berawak.

Brigadir Jenderal Angkatan Udara Ed Wilson menyaksikan peluncuran roket itu. Setelah roket diluncurkan, ia mengungkapkan, “Misi rahasia ini untuk membantu memastikan sumber daya NRO vital terus memperkuat pertahanan nasional kita,” seperti dikutip dari TG Daily.

Delta 4-Heavy merupakan roket berbahan bakar cair terkuat di AS. Roket ini memiliki tinggi 235 kaki (71,6 meter), dan selama peluncuran roket ini menciptakan lebih dari dua juta tenaga dorong. Delta 4-Heavy digunakan AS sejak 2004.

Sumber : INILAH


Selasa, 16 November 2010

Satelit Telkom-3 Diluncurkan Tahun 2012

0

illustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk memperkokoh posisinya sebagai pemain terkemuka di bisnis telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berniat meluncurkan satelit Telkom-3 pada tahun 2012. Satelit senilai 170 juta dollar AS tersebut, disiapkan sebagai pengganti satelit Telkom-2.

Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno berharap, keberadaan satelit baru itu membantu Telkom merangkul pelanggan baru. Di pasar seluler, jumlah pelanggan TLKM per akhir September 2010 bertambah 17 persen jika dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi 93 juta pelanggan. Sedang penggguna internet tumbuh 56 persen year on year (yoy) dari 979.000 menjadi 1,5 juta pelanggan. Adapun pelanggan CDMA (Flexi) naik 13 persen menjadi 16,8 juta pelanggan.

Saat ini, Telkom masih menguasai pangsa pasar telekomunikasi domestik. Perinciannya, 99 persen pasar sambungan tetap (fixed line), 57 persen untuk fixed wireless, seluler 47 persen, serta layanan data dan internet hingga 70 persen.

Satelit bersama

Selain Telkom-3, Telkom juga akan meluncurkan satelit baru bekerjasama dengan PT Indosat Tbk. Di bursa saham, sempat beredar spekulasi rencana peluncuran ini batal. Namun isu pembatalan itu dibantah Telkom maupun Indosat.

Vice President & Marketing Communications Telkom Eddy Kurnia mengatakan, proyek kerjasama satelit tetap berjalan sesuai dengan nota kesepahaman yang telah diteken kedua perusahaan.

Head of Public Relations Indosat Djarot Handoko menyatakan, kerjasama kini memasuki tahap pembahasan teknis. "Kami masih menyeleksi delapan pembuat satelit, mayoritas asing," ujar dia. Hasil seleksi baru ketahuan pada Januari 2011 mendatang. Setelah itu, baru Telkom dan Indosat merundingkan biaya yang harus ditanggung masing-masing.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 17 Oktober 2010

RI Kembangkan Riset Kapal Pemandu Satelit

0

Kapal pemandu satelit China, Yuanwang 5

Sebelumnya Indonesia mengirim SDM andal untuk ikut dalam pelatihan di kapan Yuanwang 3.

VIVAnews - Pemerintah Indonesia saat ini tengah melakukan riset dan pengembangan di bidang perkapalan untuk pemandu satelit, roket, dan benda antariksa. Riset itu termasuk di antaranya mengendalikan roket dari bumi.

Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Suryapranata, mengatakan Indonesia sebelumnya telah mengirim sumber daya manusia (SDM) andal untuk ikut dalam pelatihan di kapal Yuanwang 3 pada 2007.

"Kedatangan kapal Yuanwang 5, yang kini tengah berlabuh di dermaga Tanjung Priok karena kerja sama bidang antariksa antara China dan Indonesia melalui LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)," kata Suharna di sela pertemuan dengan dua astronot China, Nie Haisheng dan Zhai Zhigang di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu 16 Oktober 2010.

Kapal Yuanwang 5 merupakan satu dari enam kapal di China yang memiliki fasilitas untuk memandu, menjajaki, dan mengendalikan dari jarak jauh wahana yang diluncurkan di antariksa, termasuk satelit.

Dengan teknologi yang dimiliki China, Suharna berharap, Indonesia dapat memanfaatkan kerja sama yang saat ini sudah terjalin.

Ia berharap antara China dan Indonesia tetap memperkuat kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan riset. Dia pun menyakini, dengan kerja sama yang kuat dalam bidang ilmu dan teknologi akan memberikan landasan yang kuat bagi hubungan ekonomi dan politik kedua negara.

"Kementerian bidang riset dan teknologi siap memberikan dukungan yang diperlukan untuk membangun kerja sama ini," tuturnya.

Selama ini, menurut Suharna, Kementerian Riset dan Teknologi bersama LAPAN dan Kementerian Pendidikan Nasional telah menjalankan program space mindedness di tingkat nasional.

Program itu di antaranya melalui lomba poster, penyuluhan tentang space wheater (cuaca antariksa), pameran Indo Defence, lomba roket air dan kompetisi Roket Uji Muatan (RUM).

Dia pun berharap, dengan berbagai program pengembangan riset dan teknologi yang sedang dilakukan pemerintah, pemuda Indonesia antusias untuk terus mengembangkannya.

"Saya berharap pelajar Indonesia bisa turut mengembangkan riset dan teknologi tinggi yang mampu mengantarkan Indonesia menjadi salah satu negara yang maju di bidang iptek," ujarnya.

Sumber: VIVANEWS


Sabtu, 16 Oktober 2010

Replika Shenzou-7 dan Yuan Wang 5 Meriahkan PP IPTEK

0

Replika Shenzhou-7 (Foto:ninfinger.org)

JAKARTA - Menristek, Suharna Surapratna bertemu dengan dua astronot China, Nie Haisheng dan Zhai Zhigang di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Bersama dengan Menristek, tak kurang dari 500 orang pelajar SLTP se-Jabodetabek ikut berpartisipasi dialog interaktif dengan dua astronot China tersebut.

"Kami berterima kasih atas kehadiran para astronot China atas kehadiran mereka yang akan memicu kecintaan generasi muda Indonesia terhadap iptek kedirgantaraan sekaligus memotivasi
para generasi muda untuk mempelajari bidang ilmu tersebut," ujar Menristek Suharna, Suharna Surapratna, di acara 'Bersama Antariksawan, Jelajahi Angkasa' di PP Iptek, TMII, Jakarta, Sabtu (16/10/2010).

Menurut Menristek Suharna, selama ini Kementerian Riset dan Teknologi, bersama LAPAN dan Kementrian Pendidikan Nasional telah menjalankan program 'space-mindedness' di tingkat nasional, antara lain melalui lomba poster, penyuluhan tentang 'space-wheater', pameran Indodefence, lomba roket air, dan Kompetisi Roket Uji Muatan (RUM). Bahkan, RUM akan dilombakan di forum APRSAF (Forum Lembaga Antariksa Regional Asia Pasifik).

"Tahun ini adalah tonggak penting hubungan Indonesia-China, karena kita merayakan 60 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara," ujar Zhang Qi Yue, Duta Besar China untuk Indonesia.

Acara 'Bersama Antariksawan, Jelajahi Angkasa.' yang digelar ini diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Kementerian Riset dan Teknologi, Kedubes China untuk Indonesia dan PP Iptek ini, dihadiri oleh Duta Besar China untuk Indonesia Zhang Qi Yue, Ketua Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China, Sukamdani Sahid Gitosardjono, Direktur Utama TMII serta Direktur PP Iptek Sukro Muhab. Pertemuan dan dialog interaktif antara astronot China bersama Menristek dan para pelajar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan kehadiran mereka di Indonesia sejak Rabu (13/10) lalu.

Dalam acara ini pula, pihak China melalui Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China, memberikan replika/miniatur Shenzou-7 dan kapal Yuan Wang 5 kepada PP Iptek, untuk dijadikan wahana pembelajaran iptek di sana.

Sumber: OKEZONE


Kamis, 07 Oktober 2010

Satelit untuk Amankan Laut

0

Foto Hasil Satelit LAPAN

Pangkal pinang, Kompas - Badan Koordinasi Keamanan Laut bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dalam pemanfaatan teknologi pengindraan jarak jauh. Teknologi itu diharapkan meningkatkan efektivitas pengawasan, pengamanan, dan penegakan hukum di wilayah perairan Indonesia.

Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Laksamana Madya Y Didik Heru Purnomo dan Deputi Pengindraan Jarak Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Nur Hidayat, Rabu (6/10) di Pangkal Pinang, Bangka Belitung (Babel). Acara itu disaksikan Gubernur Babel Eko Maulana Ali.

Hasil pengindraan jarak jauh menggunakan citra satelit diterima dua stasiun bumi milik Bakorkamla di Pulau Bangka dan Bitung. Dari pengindraan itu bisa diketahui wilayah yang memiliki potensi perikanan dan perlu mendapat pengawasan ketat. Teknologi itu juga memungkinkan melacak kapal, mengidentifikasi kapal, serta memindai tumpahan minyak dan pencemaran dari limbah kapal.

Kerja sama Bakorkamla dan Lapan berlangsung untuk lima tahun ke depan. Pemanfaatan sistem pengindraan jarak jauh itu akan diperluas di sejumlah wilayah perairan Indonesia.

”Kerja sama ini diharapkan bisa membantu penegakan hukum di laut, khususnya di sekitar Selat Bangka dan Laut Natuna, terkait pencurian ikan,” kata Didik.

Eko Maulana berharap gangguan kapal ikan asing di perairan Babel ke depan tiada lagi.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 25 September 2010

Kapsul Soyuz Mendarat di Kazakhstan

0

illustrasi

Liputan6.com, Almaty: Setelah sempat tertunda, kapsul Soyuz yang membawa tiga awak kosmonot dari stasiun luar angkasa mendarat selamat di padang rumput Kazakhstan. Demikian dikatakan pejabat Rusia di Almaty, Kazakhstan, Sabtu (25/9).

Pejabat Rusia yang enggan disebutkan namanya mengatakan, pemulangan astronot asal Amerika Serikat Tracy Caldwell Dyson serta dua kosmonot Rusia Alexander Skvortsov dan Mikhail Kornienko sempat tertunda sehari dari jadwal. Penundaan terjadi karena kendala teknis yang dihadapi saat kapsul melakukan undocking.

Beberapa sumber menyebutkan, kesalahan sinyal dalam sistem komputerisasi pesawat menjadi penyebabnya. Sementara itu, puluhan helikopter Rusia terlihat terbang mengawal kapsul itu menjelang pendaratan.

Sumber: LIPUTAN 6


GPS Militer AS Dituduh Jadul

0

Satellite GPS Milik Angkatan Udara Amerika

Liputan6.com, Denver: Perangkat teknologi Global Positioning System (GPS) milik Angkatan Udara Amerika Serikat dituding jadul dan dipertanyakan kehandalannya. Demikian laporan Auditor Resmi Kongres AS (GAO) di Denver, Amerika serikat, Jumat (24/9).

GAO menyebutkan, satelit GPS terbaru yang diluncurkan AU beberapa waktu lalu mundur 3,5 tahun dari jadwal. Laporan itu juga menyebutkan, penundaan peluncuran bisa menyebabkan layanan sistem satelit terganggu dikarenakan 24 satelit masih menggunakan model lama dan dikhawatirkan tidak dapat beroperasi sebelum diganti yang baru.

Kolonel David Buckman, Komanda, Pangkalan Udara di Peterson, membenarkan isi laporan itu. Tetapi, laporan tersebut dinilai terlalu pesimistis. Bahkan, Buckman mengklaim seluruh 31 satelit yang dimiliki AS saat ini dalam keadaan baik dan mampu beroperasi sebagaimana mestinya.

"Saya pikir, teknologi GPS kita masih sangat kuat," ujar Buckman.

Sumber: LIPUTAN 6


Minggu, 05 September 2010

Rusia dan India Teken Kerjasama Navigasi Satelit

0

Satelit Glonass System (Foto: RIA)
Moskow, (tvOne)

Perusahaan Rusia dan India menandatangani sebuah kesepakatan bisnis baru. Kerjasama ini membuka peluang bagi bus-bus India untuk dipandu sistem navigasi satelit Rusia, Sabtu (4/9).

Laporan Kantor Berita Interfaxmenyatakan, kerja sama "HBL Power Systems" (India) dan "Navigation Information Systems" (NIS) Rusia itu menggunakan sistem satelit "Glonass" dan "GPS".

Dengan adanya kerja sama bisnis itu, bus-bus India juga akan dilengkapi dengan teknologi pemantau otomatis dan sarana pembuatan program dan pengubahan rute dan analisis efisiensi.

Sistem "Glonass" yang dioperasikan Kementerian Pertahanan Rusia itu dikembangkan tahun 1980-an oleh Angkatan Darat Uni Soviet untuk menyaingi sistem navigasi satelit GPS milik Amerika Serikat.

Sumber: TV ONE


Walah, Satelit China Sikut Wahana Lain

0

illustrasi

INILAH.COM, Jakarta - Sebuah satelit China kemungkinan telah dengan sengaja menyikut pesawat ruang angkasa lain, selama manuver rahasia di orbit dekat bumi, menurut analis.

Operasi tersebut memungkinkan China untuk berlatih prosedur mempertemukan stasiun ruang angkasa di masa depan dengan pesawat ruang angkasa lain, serta belajar tentang pembentukan terbang satelit, kata Brian Weeden, mantan analis orbital AU AS dan sekarang penasihat teknis untuk Secure World Foundation.

Tes pertemuan satelit itu juga untuk pemeriksaan satelit lain dengan lebih dekat, tidak seperti demonstrasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain di masa lalu.

Menurut Weeden, satelit China SJ-12 melakukan minimal enam set manuver antara 20 Juni hingga 16 Agustus. Selama manuver tersebut, satelit dibuat lewat dekat SJ-06 Zaku, satelit China yang lebih tua dan diluncurkan pada bulan Oktober 2008.

Perilaku satelit itu tidak sesuai dengan profil untuk tes anti-satelit, Weeden menulis dalam analisis untuk Space Review.

Namun dia menambahkan bahwa sifat misterius dari uji itu bisa berpengaruh pada persepsi kepercayaan dan keamanan di ruang angkasa.

"Tidak ada bukti ada kerusakan pada satelit atau pecahan, jadi aku tidak akan menggambarkannya sebagai sebuah tabrakan," kata Weeden pada SPACE.com. "Lebih terlihat seperti benjolan."

Sumber: INILAH


Sabtu, 21 Agustus 2010

Bakorkamla Diminta Fasilitasi Pengawasan Laut Via Satelit

0

TEMPO Interaktif, BANDUNG - TNI Angkatan Laut mengusulkan agar Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) memfasilitasi penyewaan fasilitas citra satelit untuk mengawasi kawasan perairan Indonesia. ”Bakorkamla kita harapkan menyewa satelit citra, dengan demikian kita bisa mengetahui kapal-kapal yang memiiki izin dan yang tidak sebagai dasar kita menegakkan hukum di laut,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Agus Suhartono saat di Bandung.

Penggunaan citra satelit itu sudah diusulkan. Hanya yang jadi masalah, papar Agus, biaya sewa satelitnya yang mahal. Biaya itu memberatkan jika dibebankan pada institusi yang berkepentingan baik itu TNI AL atau Kementerian Kelautan dan Perikanan. ”Toh hasilnya bukan untuk Angkatan Laut, bukan untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, tapi semua isntisusi itu mengunkan itu,” katanya.

Agus mengatakan, saat ini pengawasan perairan Indonesia atas kehadiran kapal asing masih mengandalkan kehadiran kapal perang TNI AL. Memperbanyak kapal perang untuk mengawasi lautan Indonesia jadi tidak efektif mengingat luas perairan Indonesia.

Di sisi lain, lanjutnya, TNI AL mengalami kendala keterbatasan kekuatan kapal perangnya yang rancangannya saat ini hanya untuk mengawasi terus-menerus wilayah yang masuk kategori rawan strategis. ”Daerah yang tidak kiat anggap rawan, kita masih laksanakan patroli sekali-kali,” katanya.

Menurut Agus, penggunaan teknologi itu akan efektif untuk mengawasi perairan Indonesia dari pencurian ikan ilegal yang menjadi masalah Indonesia saat ini. Sistem pengawasn kapal penangkap ikan legal saat ini mengandalkan sistem yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan pemasangan transponder pada kapal penangap ikan yang memiliki ijin tangkap.

Sistem milik Kementerian Kelautan itu hanya mampu mendeteksi kapal penangkap ikan yang berijin legal. Padahal, paparnya, yang diinginkan adalah mendeteksi kapal penangkap ikan yang ilegal. Fasilitas pengawasan via citra satelit dinilainya bisa menambal kelemahan itu.

Dengan memadukan dua sistem itu, dia meyakini, Indonesia bisa dengan mudah membedakan mana kapal penangkap ikan yang tidak berijin. ”Usul itu terus kita bahas, hanya sekarang ini kita masih peru bicara, mari kita adakan bersama-sama,” katanya.

Sumber: TEMPO


Rabu, 18 Agustus 2010

Indonesia-India Bentuk Komite Bilateral Antariksa

0

Liputan6.com, Bogor: Pemerintah Indonesia dan India menjalin proyek kerja sama dalam bidang antariksa. Pembentukan komite bilateral tersebut adalah wujud implementasi dari proyek kerja sama bidang teknologi dan aplikasi antariksa. Kedua tim komite hadir di Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, pertengahan Agustus ini.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia mengajukan permohonan kepada India untuk memindahkan kepemilikan stasiun TT & C Lapan-ISRO (Lembaga Antariksa India) di Biak, Papua, kepada Indonesia. Kesepakatan tersebut tertuang dalam Rapat Komite Kerja Sama Indonesia dan India yang digelar di Bali, yang ditandatangani Sekretaris Utama Lapan Bambang Koesoemanto dan Direktur ISTRAC (Jaringan Komando dan Tracking ISRO SK Shivakumar.

Keinginan Indonesia tak langsung diamini. Sebab proses perpindahan kepemilikan harus dilakukan di level pemerintahan, yang memakan proses diplomasi antarpemerintah selama dua bulan. Bila disetujui, India akan menyiapkan proposal persetujuan untuk perpindahan stasiun TT & C tadi.

Sejalan dengan proses perpindahan kepemilikan satelit, India meminta Indonesia mengembangkan kerja sama di beberapa bidang kedirgantaraan. Di antaranya meliputi identifikasi tempat pembangunan antena TT & C satelit baru dengan ketinggian 40 meter di Biak, pengoperasian stasiun bumi satelit yang dapat dipindahkan, perolehan data satelit penginderaan jauh IRS, Cartosat, dan Oceansat-2.

Sumber: LIPUTAN6


Senin, 02 Agustus 2010

Lapan Akan Bangun Bandar Antariksa di Bengkulu

0

RX-420

Jakarta - Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) akan meluncurkan roket pengorbit satelit (RPS) yang pertama pada 2014 mendatang. Guna mewujudkan hal itu, Lapan terlebih dulu akan membangun bandar antariksa di Bengkulu.

"Guna meluncurkan RPS, Lapan memerlukan bandar antariksa profesional yang berfungsi sebagai fasilitas untuk meluncurkan roket pengantar satelit ke orbitnya," kata Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilisnya pada detikcom, Senin (2/8/2010).

Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu dianggap sebagai tempat yang pas untuk pembangunan bandar antariksa. Pasalnya, Enggano memiliki populasi penduduk yang tidak terlalu banyak dan tidak berhubungan langsung dengan wilayah negara lain. Selain itu, Enggano juga memiliki luas wilayah yang luas dan lingkungan aman.

"Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memenuhi persyaratan sebagai bandar antariksa. Untuk itulah, Lapan dan Pemerintah Provinsi Bengkulu akan bekerja sama membangun fasilitas peluncuran roket di pulau tersebut," katanya.

Enggano dianggap cukup ideal karena memiliki kawasan luas yang masih kosong. Selain letaknya strategis, pulau yang berada di selatan Bengkulu ini juga berhadapan langsung dengan laut bebas, yaitu Samudera Hindia.

Dengan demikian, wilayahnya aman dan memiliki risiko yang kecil akibat kegiatan peluncuran roket. Selain bekerja sama untuk fasilitas peluncuran roket, kedua instansi juga akan bekerja sama dalam bidang teknologi dirgantara lainnya. Bidang tersebut adalah pemanfaatan data penginderaan jauh dan sains antariksa untuk pengembangan provinsi Bengkulu, serta pengembangan sumber daya manusia.

Sebelumnya, Lapan telah memiliki fasilitas peluncur satelit di Pameungpeuk, Jawa Barat. Fasilitas tersebut selama ini digunakan untuk meluncurkan berbagai roket eksperimen hasil penelitian dan pengembangan Lapan. Namun, untuk meluncurkan roket pengorbit satelit yang berukuran besar, Lapan membutuhkan bandar antariksa yang lebih luas.

Untuk mewujudkan terbangunnya bandar antariksa di Pulau Enggano, Lapan dan Pemerintah Provinsi Bengkulu akan menandatangani naskah kerja sama pada Senin, 2 Agustus 2010 pukul 09.00 WIB di kantor pusat Lapan, Jl. Pemuda Persil No. 1, Rawamangun, Jakarta Timur.

Sumber: DETIK


Kamis, 29 Juli 2010

Lapan Turut Membuat Satelit

0

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) terlibat dalam pembuatan dua satelit, Micro-STAR dan EO-STAR, yang didanai Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Rancang bangun dan rekayasa dua satelit tersebut merupakan bagian dari kerja sama multilateral Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF) yang bertujuan mengembangkan satelit di kawasan Asia Pasifik atau Satellite Technology for the Asia Pacific Region (STAR). Program ini melibatkan lembaga antariksa dari Malaysia, Thailand, Vietnam, Korea, dan India. Hal itu disampaikan Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara Lapan Toto Marnanto Kadri dalam Pertemuan Grup untuk Koordinasi Program STAR di Jakarta, Rabu (28/7). Satelit mikro berbobot 50 kg hingga 100 kg ini akan diluncurkan tahun 2013 diboncengkan pada satelit besar dengan roket India. Satelit Micro-STAR akan membawa muatan antara lain alat GPS, sensor seismo, dan pengindraan jauh. Sementara peluncuran satelit kembar Lapan A-2 dan Lapan A-3, hasil rancang bangun dan rekayasa ahli Lapan, dijadwalkan diluncurkan dengan roket India tahun depan. Program lanjutan dalam kerja sama STAR adalah pembuatan satelit berkategori kecil atau berbobot 300 kg-500 kg.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 22 Juli 2010

LAPAN Akan Bangun Stasiun Peluncuran Satelit

0

Pulau Enggano

Bengkulu (ANTARA News) - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan membangun stasiun peluncuran satelit di Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Rencana itu disampaikan Sekretaris Utama LAPAN Bambang Kusumanto usai menggelar pertemuan dengan Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin di Gedung Daerah, Bengkulu, Kamis.

"Pertemuan hari ini untuk mematangkan rencana pembangunan stasiun peluncuran satelit di Pulau Enggano dan kami membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah," katanya kepada wartawan.

Bambang mengatakan untuk tahap pertama akan dilakukan penandatanganan nota kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan LAPAN pada 2 Agustus di Jakarta.

Selanjutnya, kata dia, akan dibentuk tim untuk melakukan sejumlah kajian dan survei untuk menentukan lokasi pembangunan stasiun peluncuran.

"Kami akan membuat studi kelayakan yang membutuhkan waktu enam bulan, kemudian analisis mengenai dampak lingkungan dan diharapkan pada 2011 sudah dimulai pembangunan fisik," katanya.

Selama ini, kata Bambang, LAPAN meluncurkan satelit ke sejumlah orbit melalui stasiun peluncuran Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Namun kapasitas stasiun peluncuran roket tersebut terbatas seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di sekitar lokasi peluncuran sehingga menimbulkan risiko yang lebih besar.

"Stasiun peluncuran di Enggano ini rencananya lebih besar dari kapasitas di Pameungpeuk dan lokasinya juga strategis dan penduduknya masih sedikit," katanya.

Sementara itu Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin menyambut baik rencana LAPAN tersebut karena akan membantu pemerintah dalam mengawasi pulau terluar itu.

"Kami mendukung penuh rencana ini dan akan disosialisasikan kepada masyarakat di Pulau Enggano bahwa keberadaan stasiun peluncuran satelit ini tidak membahayakan jiwa mereka," katanya.

Agusrin mengatakan luas areal yang dibutuhkan untuk membangun stasiun tersebut sekitar 200 hektare (ha) dari 40 ribu ha luas pulau yang berjarak 106 mil dari Kota Bengkulu itu.

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang dihuni lebih dari 2.600 jiwa masyarakat adat yang terbagi dalam lima suku besar yakni Kaitora, Kaahua, Kauno, Kaharuba dan Kaharubi.


Sumber: ANTARA


Rabu, 23 Juni 2010

Israel Luncurkan Satelit Mata-Mata

0


YERUSALEM - Israel meluncurkan satelit militer yang dapat ditugaskan untuk memata-matai. Satelit tersebut diketahui sudah diluncurkan pada Selasa 22 Juni kemarin.
Gambar Foto Dari Satelit Mata-Mata Israel (Photos : www.foxnews.com)


Menurut media setempat, satelit tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu mengawasi program nuklir Iran. Satelit bernama Ofek 9 tersebut diluncurkan melalui pangkalan militer Angkatan Udara Israel Palmachim di Tel Aviv. Demikian diberitakanAssociated Press, Rabu (23/6/2010).

Satelit tersebut nantinya akan bergabung dengan tiga satelit lainnya yang sudah mengorbit di angkasa. Satelit tersebut dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi yang memungkinan negara Yahudi tersebut dapat mengawasi secara dekat lawan mereka, Iran.

Selama ini, Iran memang dituduh menjalankan aktivitas nuklir yang dinilai berbahaya bagi dunia. Bersama dengan negara-negara barat, Israel yakin program nuklir Iran ditujukan untuk membuat senjata nuklir. Tuduhan ini tentunya ditepis keras oleh Iran.

Sumber: OKEZONE


Perancangan Satelit Nano Ajak Mahasiswa

0

INSPIRE SATELITE NANO Buatan INDONESIA


Jakarta, Kompas - Kemampuan mahasiswa Indonesia dalam teknologi mekatronika—terutama robotik—di dunia terbukti dalam kemenangan di beberapa kancah kompetisi internasional. Karena itu, mereka akan dilibatkan dalam perancangan muatan roket dan pembuatan satelit nano.

Hal ini disampaikan Suryo Hapsoro Tri Utomo, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, dalam jumpa pers tentang Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010.

Korindo ketiga ini digelar Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Kemdiknas, Universitas Gadjah Mada, dan Kabupaten Bantul di Pantai Pandansimo, Srandakan, Bantul, Yogyakarta. 26-28 Juni 2010.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Soewarto Hardhienata mengatakan, dalam perancangan satelit nano oleh kalangan mahasiswa, peneliti Lapan akan memberikan pelatihan dan pendampingan.

Lapan sendiri saat ini lebih memfokuskan pada perancangan satelit mikro yang berbobot 10 kg hingga mendekati 100 kg. Adapun satelit nano berukuran di bawah 10 kg.

Dalam program pendidikan dan pelatihan perancangan satelit nano itu, Suryo mengharapkan hasilnya telah dapat dicapai tahun 2014.

Satelit nano ini, kata Soewarto, dapat ditumpangi bersama satelit mikro Lapan A-2 dan Lapan A-3 (Lapan-Orari) pada roket India yang akan diluncurkan pada 2014.

Dihubungi di tempat terpisah, Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun mengatakan, satelit kembar Lapan tersebut pada hari Minggu (20/6) berhasil meluncurkan roket untuk uji komponen multimisi di Pamengpeuk, Banten. Peluncuran ini pada ketinggian suborbital–satu tahap menuju orbit.

Dalam uji terbang, sinyal satelit Lapan-Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) dapat diterima para anggota Orari yang berada di Lampung dan Bali.

Kompetisi rancang bangun

Korindo 2010 yang diadakan setiap tahun merupakan ajang kompetisi di bidang rancang bangun muatan roket bagi mahasiswa Indonesia yang bertujuan menyiapkan bibit unggul di bidang teknologi dirgantara, khususnya peroketan.

Kompetisi tahun ini, kata Endro Pitowarno, bertema Homing Meteo Payload, yakni rancang bangun payload (muatan roket) yang mampu kembali atau menuju sasaran yang telah ditentukan setelah terpisah dari roket peluncur. Dalam hal ini mereka dituntut untuk merancang sistem propeler dan kendalinya.

Korindo 2010 akan diikuti 53 tim dari 38 peserta yang kemudian diseleksi hingga tinggal 40 tim. Kompetisi ini terdiri tiga tahap seleksi, yaitu uji fungsional muatan, uji terbang muatan, dan presentasi data hasil uji terbang.

Untuk pertama kalinya, kompetisi ini akan disaksikan pengamat dari Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF), dari Jepang dan Malaysia.

Korindo 2010 diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Lapan, Universitas Gadjah Mada, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan institusi Akademi Angkatan Udara.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin