Tampilkan postingan dengan label TAIWAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAIWAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

Gelar Uji Coba Rudal, Presiden Taiwan Kecewa

0

Taipei - Taiwan menggelar uji coba rudal secara besar-besaran. Namun beberapa kegagalan mewarnai uji coba tersebut. Ada beberapa rudal yang gagal mengenai target. Melihat itu, Presiden Taiwan Ma Ying-jeou yang mengawasi langsung uji coba tersebut kecewa.

Dalam latihan penembakan rudal yang diliput oleh pers itu, sebanyak 19 rudal diuji coba di pangkalan militer Jiupeng di Pingtung County, Taiwan, hari ini.

Namun lima dari 19 rudal tersebut meleset dari sasaran. Presiden Ma kecewa dengan kegagalan itu.

"Saya tidak cukup puas dengan hasilnya," ujar Ma kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (18/1/2011).

"Beberapa rudal meleset dari target, dan kita perlu meninjau apakah kesalahan-kesalahan ini sifatnya mekanisme atau menusiawi. Kita juga perlu menggelar latihan-latihan kembali guna meningkatkan kemampuan militer kita," tandas Ma.

Latihan rudal ini dilakukan di pangkalan militer yang biasanya dijaga ketat. Uji rudal ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di depan insan pers dalam satu dekade. Dikatakan Ma, hal ini dilakukan untuk lebih memberikan transparansi menyangkut urusan militer dan mengizinkan publik melihat kesiapan militer Taiwan.

Uji rudal ini dilakukan Taiwan hanya beberapa hari setelah uji coba pesawat tempur siluman J-20 generasi baru China. Pesawat tempur tersebut terbukti berhasil menghindari deteksi radar.

Sumber: DETIK


Senin, 17 Januari 2011

Taiwan Gelar Latmil Berpeluru Tajam

0

Ist

TAIPEI, KOMPAS.com - Angkatan Bersenjata Taiwan akan menggelar latihan pertahanan udara dengan peluru tajam pada Selasa di Pangkalan Udara Jiupeng yang terletak di selatan Pingtung, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan pada Senin (17/1/2011).

Presiden Ma Ying-jeou akan menyaksikan uji coba tersebut dalam kapasitasnya sebagai pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata Taiwan, menurut kementerian itu dalam satu pernyataan.

Karena percobaan tersebut dilakukan menjelang uji coba pesawat tempur siluman China yang dapat menghindari radar, beberapa analis militer setempat menduga latihan pertahanan udara Taiwan yang akan menggunakan peluru tajam itu dilakukan untuk menunjukkan tekad mereka dalam membela keamanan nasionalnya.

Namun, pihak kementerian mengatakan bahwa uji coba tersebut telah lama dijadwalkan tanpa pertimbangan khusus apa pun.

Sejalan dengan proyek efektivitas dan restrukturisasi, para unit militer akan menjalankan tes kesiapan tempur secara berkala beserta evaluasinya sejak 2006 lalu.

Di antara 12 unit militer yang dilibatkan dalam latihan perang Selasa tersebut adalah Brigade Kavaleri Udara Angkatan Darat 602, Brigade Korps Marinir 77, dan Skuadron Udara 427, ungkap kementerian itu.

Latihan tersebut akan meliputi taktik tempur, strategi tempur, serangan balik udara, serta percobaan untuk menembakkan berbagai rudal udara, termasuk Tien-kung, Hawk, Sparrow, Stinger, Tien-chien I berjarak pendek yang diluncurkan dari kendaraan, dan misil udara ke udara, menurut kementerian.

Uji coba itu terbuka bagi liputan media untuk membantu meningkatkan kesadaran keamanan di kalangan masyarakat, demikian pernyataan kementerian tersebut.

Hal itu akan menjadi yang pertama dalam delapan tahun terakhir bahwa wartawan diundang untuk meliput latihan militer di Pangkalan Udara Jiupeng yang terkenal dengan penjagaan ketatnya, menurut laporan beberapa media.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 07 Januari 2011

Taiwan Pantau Jet Tempur Siluman China

0


TAIPEI, KOMPAS.com — Kementerian Pertahanan Taiwan, Jumat (7/1/2011), mengatakan, pihaknya memantau ketat pengembangan jet tempur siluman pertama China dan akan terus mengupayakan pengadaan pesawat canggih dari Amerika Serikat.

"Kami tengah mencermati situasi itu secara saksama dan terus mengumpulkan informasi yang relevan," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Yu Sy-tue. Ia menanggapi laporan baru-baru ini bahwa China telah merampungkan sebuah prototipe jet tempur siluman, J-20.

Washington sejauh ini meremehkan pentingnya pesawat tempur baru itu. Seorang pejabat tinggi Angkatan Laut AS memperkirakan, butuh waktu bertahun-tahun sebelum jet tempur itu benar-benar bisa diopersikan.

Namun, ancaman mungkin memang terasa lebih tajam di Taiwan, yang telah lebih dari 60 tahun hidup di bawah ancaman invasi China, saat suatu laporan militer tahun lalu mengakui bahwa Beijing memiliki jet tempur yang lebih baik ketimbang yang dimiliki negara pulau itu. "Taiwan perlu memperkuat pertahanan udaranya terkait dengan perkembangan yang tidak seimbang antarkedua belah pihak. Kami perlu pesawat tempur canggih dan kami akan menegaskan niat kami untuk membeli jet dari Amerika Serikat," katanya.

Taipei mengajukan kepada pemerintah AS untuk membeli 66 unit jet tempur F-16 C/D pada awal tahun 2007. Namun, para pengamat mengatakan, Washington menarik ulur kesepakatan itu karena takut akan kemarahan Beijing. China menentang setiap penjualan senjata ke Taiwan, yang dianggap sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu proses reunifikasi. Hal tersebut dilakukan dengan kekerasan jika perlu meskipun kedua belah pihak berpisah sejak tahun 1949 setelah perang saudara dan diperintah secara terpisah sejak itu.

Taiwan berpendapat masih perlu mempertahankan diri meskipun dalam beberapa tahun belakangan meningkatkan hubungan dengan China daratan.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 03 November 2010

Taiwan Arahkan Rudal ke Pangkalan Udara China

0

Rudal Wan Chien

Taiwan mengembangkan sistem rudal canggih yang dapat menyerang pangkalan udara dan pelabuhan di China, dalam usaha untuk menghentikan invasi China, lapor media setempat, Selasa (2/11).

Sistem rudal "Wan Chien" atau "Sepuluh Ribu Pedang", yang sejauh ini menelan biaya hampir tiga miliar dolar Taiwan (97 juta dolar AS) telah menjalani uji coba operasi awal tahun ini, lapor surat kabar Defence Technology Monthly.

Masing-masing rudal membawa lebih 100 hulu ledak bom tandan yang dapat menimbulksn puluhan lobang kecil di jalur pacu bandara, membuatnya tidak bisa digunakan, kata majalah itu.

Rudal itu juga dirancang untuk ditujukan ke pelabuhan-pelabuhan, pangkalan-pangkalan rudal dan radar serta lokasi pasukan menjelang suatu invasi atas pulau itu, kata majalah tersebut.

Kementerian pertahanan berencana untuk menyediakan dana 15 miliar dolar Taiwan pada tahun 2011 dan 2012 untuk melengkapi Pasukan Pertahanan Pribuminya (IDF) dengan sistem baru itu, katanya.

Sistem itu dapat diproduksi secara massal serta diintegrasikan dengan jet-jet IDF untuk mengursngi risiko mengirim jet-jet Taiwan ke China, karena dapat ditujukan ke sasaran-sasaran China dari satu arah, tambahnya.

Pakar militer Lin Yu-fang, seorsng anggota parlemen dari partai Kuomintang (KMT) yang berkuasa mengemukakan kepada AFP telah ada "beberapa kemajuan" pada proyek "Wan Chien" tetapi dia tidak bersedia merinci.

Para pakar Taiwan memperkirakan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China sekarang memiliki lebih 1.600 rudal yang diarahkan ke pulau itu.

Hubungan antara Taiwan dan tetangga raksasanya itu membaik yang ditandai dengan KMT yang bersahabat dengan Beijing berkuasa di Taipei tahun 2008.

Tetapi China masih menganggap pulau itu bagian dari wilayahnya menunggu disatukan kembali, jika perlu dengan kekuatan militer, yang memicu Taipei mencari senjata pertahanan yang lebih canggih terutama dari Amerika Serikat.

Washington Januari lalu mengumumkan satu paket senjata untuk Taiwan yang termasuk rudal-rudal Patriot, helikopter-helikopter Black Hawk dan peralatan untuk jet-jet tempur F-16, tetapi tidak kapal selam atau pesawat tempur baru.

Seorang jurubicara pertahanan tidak dapat segera diminta komentarnya.

Sumber: HARIAN ANALISA


Sengketa Wilayah Panaskan Asia

0



BEIJING, SELASA - Konflik perebutan wilayah di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara tampak semakin seru dan bakal terus memanas. Perseteruan tidak lagi hanya melibatkan dua negara raksasa Asia Timur, China-Jepang, tetapi juga beberapa negara di Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Rusia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di Hanoi menawarkan keinginan untuk menjadi penengah dalam penuntasan konflik Kepulauan Senkaku (versi Jepang) atau Kepulauan Diaoyu (versi China) di Laut China Timur.

Niat itu membuat China berang. Beijing menyebut ide itu salah total. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Ma Zhaoxu, Kepulauan Diaoyu adalah milik China. Klaim dan sengketa soal itu adalah urusan kedua negara.

”AS berkali-kali mencoba mengaplikasikan perjanjian pertahanan dengan Jepang ke dalam isu Kepulauan Diaoyu. Hal itu jelas salah. Kami mendesak AS segera mengoreksi posisi salah itu,” ujar Zhaoxu.

Salah satu perjanjian pertahanan Jepang-AS adalah kewajiban AS untuk melindungi Jepang jika terancam.

Sengketa wilayah China-Jepang sempat memuncak karena nelayan China memasuki dan menangkap ikan dengan leluasa di Senkaku. Kapten nelayan China ditangkap. Kemudian Perdana Menteri Jepang Naoto Kan melepas kapten itu tanpa dikenakan tuduhan apa pun.

Hal ini memicu kemarahan publik Jepang yang menganggap pemerintahnya ”lembek” menghadapi China.

Dengan China, Jepang belum selesai berurusan. Jepang menghadapi persoalan dengan Rusia. Presiden Rusia Dmitry Medvedev berkunjung ke Kepulauan Kuril, di dekat Kepulauan Hokkaido. Wilayah itu masih dipersengketakan. Jepang mengklaim empat pulau dari gugusan kepulauan itu sebagai wilayahnya.

Jepang berencana menarik sementara waktu Dubes Jepang untuk Rusia Masaharu Kono, seperti disampaikan Menlu Seiji Maehara.

Selama ini sengketa perbatasan yang dialami Jepang membuat pemerintahan PM Kan ”pusing kepala”. Popularitasnya pun turun. Dari jajak pendapat terakhir oleh surat kabar Nikkei, popularitas PM Kan turun sampai 31 poin dalam sebulan.

Taiwan perkuat diri

Kini Asia juga semakin repot dengan isu sengketa. Taiwan kini mengembangkan sistem rudal canggih. Setiap pelurunya mampu membawa ratusan bom klaster. Rudal ”Wan Chien” atau ”Sepuluh Ribu Pedang” itu juga bisa menghancurkan pelabuhan kapal laut, sistem radar, dan artileri serta pasukan musuh.

Taiwan mengeluarkan 97 juta dollar AS untuk membiayai pengembangan rudal itu. Menteri Pertahanan Taiwan berencana menginvestasikan 15 miliar dollar Taiwan dua tahun ke depan untuk menjadikan rudal itu sebagai bagian persenjataan jet-jet tempur sehingga bisa menyerang China dari jarak jauh.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 12 Oktober 2010

Taiwan Kembangkan Pesawat Tanpa Awak

0

Pesawat tanpa Awak Buatan Taiwan In-Cheung-2 (Foto: www.global-military.com)

TAIPEI, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Taiwan, Selasa (12/10/2010), mengatakan, negara itu sedang mengembangkan pesawat pemantau tanpa awak. Pernyataan tersebut menunjukkan, perlombaan senjata dengan China tidak berakhir meski hubungan membaik.

Yu Sy-tue, juru bicara untuk Menteri Pertahanan Kao Hua-chu, mengatakan kepada AFP bahwa Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Chung Shan di dekat Taipei telah memulai penelitian mengenai pesawat tidak berawak, tanpa merinci lebih lanjut. Kao melalui juru bicara itu menyangkal laporan bahwa Taiwan telah menjadikan prioritas utama untuk memiliki Global Hawk, pesawat tanpa awak berdaya terbang tinggi, sekaligus dengan pesawat jet tempur dari Washington.

Pesawat, yang dapat dikendalikan dari jarak jauh dan bertugas memantau serta melakukan misi menyerang, tampak sebagai pengganti pesawat mata-mata U-2 yang sudah usang. Militer China sudah terlebih dahulu menggunakan pesawat udara tanpa awak.

Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou, menekankan pada akhir pekan bahwa negara pulau tersebut akan tetap membeli persenjataan dari Washington karena tidak bisa semata-mata bergantung pada penguatan hubungan dengan China guna memastikan keamanannya.

Pesawat jet tempur F-16 C/D merupakan daftar prioritas perbelanjaan persenjataan utama untuk menggantikan armada F-5 untuk mengimbangi kemampuan militer China yang terus dikembangkan.

Ma telah terpilih tahun 2008 dengan janji memperbaiki ekonomi Taiwan, utamanya melalui peningkatan perdagangan dengan China. Selama jabatannya, hubungan antara Taiwan dan China telah membaik, tetapi China tetap menolak melepas kemungkinan menggunakan kekuatan bila pulau tersebut mendeklarasikan kemerdekaan.

Penjualan F-16 C/D ke Taiwan pasti akan memicu kegusaran Beijing, yang bereaksi sangat marah saat Amerika Serikat pada Januari lalu mengumumkan paket persenjataan senilai 6,4 miliar dollar AS kepada negara pulau tersebut.

Sumber: KOMPAS


Senin, 11 Oktober 2010

Meski Membaik Taiwan Tetap Beli Senjata

0

Jangkauan Misil Hsuing Feng 2E

TAIPEI, KOMPAS.com - Taiwan akan tetap membeli senjata di luar negeri karena pihaknya tidak dapat tergantung hanya pada memperbaiki hubungan dengan China untuk menjamin keamanannnya.

"Tentu, untuk keamanan Taiwan kita tidak dapat menempatkan harapan kita pada hanya memperbaiki hubungan dengan China," kata Presiden Ma Ying-jeou dalam pidato Hari Nasional di Taipei, Minggu (10/10/2010).

"Karena itu adalah kebutuhan kita dan kebijakan kita yang tidak tidak dapat diubah untuk membangun satu kemampuan pertahanan yang independen dan tetap membeli dari luar negeri senjata-senjata pertahanan yang tidak dapat kita produksi sendiri."

Ma dipilih dengan janji memperbaiki ekonomi Taiwan, terutama dengan meningkatkan pertukaran dengan China.

Selama ia berkuasa, hubungan antara Taiwan dan China menghangat dengan cepat dan kini berada dalam persahabatan paling erat sejak tahun 1949, ketika kedua pihak terpecah pada akhir perang saudara.

"Kita akan tetap memperluas pertukaran ekonomi, kebudayaan dan sosial untuk meningkatkan saling percaya," kata Ma.

AS Januari lalu menyetujui paket senjata senilai 6,4 miliar dolar termasuk helikopter-helikopter, pertahanan-pertahanan anti rudal dan kapal-kapal penyapu ranjau untuk Taiwan, yang juga masih mendesak untuk membeli jet-jet tempur F-16.

China, yang berikrar akan menyatukan kembali Taiwan yang memiliki pemerintah sendiri itu, mengecam keras penjualan senjata itu dan kini mulai kembali menghentikan pertukaran militer dengan AS.

Bulan lalu, PM China Wen Jiabao yang dikutip media yang berpusat di Taipei menyatakan, rudal-rudal China daratan yang diarahkan ke Taiwan pada satu saat akan dipindahkan. Ma menyambut baik niat Wen ini, dalam pidatonya itu.

"Pihak berwenang China daratan belum lama ini membuat sebuah pernyataan tentang penarikan rudal-rudal itu. Kami kira ini adalah satu tindakan positif bagi hubungan antara Taiwan dan China dan kita mengharapkan hal itu akan direalisasikan segera," kata Ma.

Para pakar Taiwan memperkirakan militer China menggelarkan lebih dari 1.600 rudal yang diarahkan ke pulau itu.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 08 Oktober 2010

Taiwan Membutuhkan F-16 C/D Dan Mempertimbangkan F-35 Untuk Menghalau Rudal China

0

F-16 C/D Blok 52 Buatan US

Taiwan sangat membutuhkan pesawat tempur F-16 C/D dari Amerika Serikat untuk melawan rudal Cina daratan tumbuh dan ancaman pesawat, Wakil Menteri Pertahanan Nasional Andrew Yang mengatakan 6 Oktober.

Dia kengatakan kepada harian AS The Washington Times bahwa Taiwan membutuhkan model F-16 lebih baru untuk menggantikan senjata tua dalam rangka meningkatkan pertahanan udara dan keamanan secara keseluruhan, menambahkan bahwa militer juga ingin membeli lebih maju F-35 jet di masa depan .

"Kami memiliki sekitar 90 F-5 sebagai bagian dari pesawat pertahanan udara kita, dan jelas [mereka] sangat membutuhkan penggantian," katanya. Yang sedang dalam kunjungan empat hari untuk menghadiri sebuah konferensi industri pertahanan di Cambridge, Maryland.

Yang mengatakan China daratan saat ini menyebarkan antara 1.200 dan 1.400 rudal balistik dan jelajah terhadap Taiwan, sebagian besar yang menargetkan pangkalan angkatan udara dan aset militer besar.

Seperti Beijing kemungkinan akan menggunakan kekuatan udara untuk mencoba mengendalikan wilayah udara atas Taiwan dan melakukan serangan amfibi berikut operasi rudal, "melindungi kemampuan militer kita sangat penting sehingga kita masih bisa memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balik," kata Yang.

Dia menambahkan bahwa kemampuan pertahanan Cina daratan merupakan menjadi perhatian utama bagi Taiwan. Permintaan untuk F-16 dengan demikian "rasional dan dibenarkan," katanya.

Sumber: Taiwan Today / MIK


Selasa, 07 September 2010

Perisai Pertahanan Rudal Taiwan Siap Pada 2011

0

Taipei (ANTARA News/AFP) - Taiwan mengharapkan perisai pertahanan rudalnya yang banyak diantisipasi akan siap tahun depan setelah membeli senjata-senjata terdepan seharga sekitar 300 miliar dolar Taiwan (9,4 miliar dolar Amerika Serikat).

Enam deretan rudal Patriot III yang akan membentuk kekuatan sistim itu akan menerangkan kira-kira separuh biaya yang dihubungkan dengan proyek tersebut, demikian surat kabar China Times.

Sistim radar peringatan dini jarak jauh, seharga sekitar 40 miliar dolar Taiwan, akan memungkinkan militer untuk mendeteksi dan melacak rudal balistik dan rudal jelajah yang baru masuk, kata surat kabar tersebut.

Sementara Patriot III dan radar itu buatan AS, sistim perisai pertahanan rudal tersebut juga akan mencakup rudal balistik taktis produksi lokal yang dikembangkan dari rudal yang ada yang dikenal sebagai "Tienkung", atau Sky Bow.

Kementerian pertahaan menolak mengomentari mengenai laporan itu.

Beberapa pakar militer memperkirakan Tentara Pembebasan Rakyat China sekarang ini memiliki lebih dari 1.600 rudal yang ditujukan ke pulau itu.

Hubungan antara Taiwan dan tetangga raksasanya telah meningkat dengan mencolok sekali sejak Presiden Ma Ying-jeou dari Kuomintang yang bersahabat dengan Beijing memegang tampuk pemerintahan d Taipei pada 2008.

Tapi China masih menganggap Taiwan sebagai wilayah yang sedang menunggu untuk disatukan, dengan kekuatan jika perlu, yang mendorong Taipei untuk mencari lagi pesenjataan pertahanan terdepan, sebagian besar dari AS.

Washington telah mengumumkan pada Januari lalu, paket senjata untuk Taiwan, yang mencakup rudal Patriot, helikopter Black Hawk, dan peralatan untuk jet tempur F-16 Taiwan, tapi tidak ada kapal selam atau pesawat tempur baru.

Beijing telah menanggapi dengan marah terhadap perjanjian senjata itu, yang bernilai 6,4 miliar dolar AS, yang menghentikan kontak militer dan keamanan dengan AS.

Sumber: ANTARA


Selasa, 31 Agustus 2010

Hubungan dengan China Panas, Taiwan Siapkan Misil

0

misil jarak jauh Hsiungfeng 2E(foto: freerepublic.com)

TAIPEI - Pemerintah Taiwan dikabarkan akan segera mengerahkan misil mereka pada akhir tahun ini. Kondisi ini menandakan ketegangan berlanjut antara Taiwan dan China, meskipun hubungan kedua negara tersebut saat ini cenderung hangat.

Taiwan sudah memulai produksi massal dari misil jarak jauh Hsiungfeng 2E setelah pihaknya memperoleh komponen utama yang dibutuhkan untuk memproduksi misil tersebut. Pejabat Taiwan Lin Yu-Fang memastikan, jika pemerintahnya akan mengerahkan misil tersebut akhir tahun ini.

Lin sendiri yang merupakan anggota dari Partai Kuomintang, menolak untuk menyebut spesifikasi jarak yang dapat ditempuh oleh misil tersebut. Dia juga menolak memberi tahu berapa jumlah misil yang akan dikerahkan oleh negaranya. Demikian diberitakan AFP, Selasa (31/8/2010).

Sebelumnya pada 2008 lalu, Presiden Taian Ma Ying-Jeou memerintahkan produksi masal sekira 300 misil Hsiungfeng 2E. Misil ini dikembangkan oleh Institut Sains dan Teknologi Chungshan dan diperkirakan memiliki jarak tempuh sekira 800 kilometer.

Misil tersebut dapat diluncurkan dari darat maupun laut. Misil ini diyakini dapat menyentuh bandara dan pangkalan militer di sebelah tenggara China, termasuk kota-kota seperti Shanghai dan Hong Kong.

Sumber: OKEZONE


Rabu, 25 Agustus 2010

AS Setuju Jual Teknologi Radar ke Taiwan

0

illustrasi (foto: www.globalsecurity.org)

Washington (ANTARA News/Reuters) - Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan peralatan radar pertahanan ke Taiwan, dan tindakan ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan diri pulau yang otonom, dan Pentagon menilai dilampaui secara cepat oleh China.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, P.J. Crowley, pada Selasa mengemukakan bahwa pihaknya telah diberi tahu Kongres, mereka telah menyetujui izin ekspor pada perusahaan swasta untuk menjual peralatan itu ke Taipei.

"Keputusan untuk menyetujui izin eskpor itu akan memungkinkan ekspor komersial ke Taiwan, peralatan pertahanan, data teknis dan barang-barang pertahanan untuk mendukung sistem radar pertahanan Taiwan yang ada dan meningkatkan radar yang ada pada pesawat tempur pertahanan asli Taiwan yang ada," kata Crowley pada konferensi pers.

"Pengabsahan skspor itu konsisten sepenuhnya dengan kebijakan Satu-China AS," katanya.

Crowley tidak menyebut perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penjualan itu, yang kecil dibandingkan dengan perjanjian senjata senilai 6,4 miliar dolar yang Presiden Barack Obama usulkan pada Taiwan Januari lalu.

Dewan bisnis AS-Taiwan menolak menyebutkan secara khusus penjual-penjualnya.

Satu laporan Pentagon pekan lalu mengatakan China telah meningkatkan militernya yang mencemaskan Taiwan, yang China anggap sebagai provinsi pembangkang sejak berakhirnya perang saudara China pada 1949 dan mengatakan pada suatu hari akan dipersatukan dengan wilayah lain negara itu, dengan kekuatan jika diperlukan.

Laporan itu, yang Beijing katakan telah mengancam untuk merusak lagi hubungan militer AS-China yang sudah tegang, mencatat bahwa ada penambahan kekuatan China melawan Taiwan terus tak berkurang dan rudal-rudal jarak pendeknya semakin akurat.

AS membuka hubungan diplomatik dengan Beijing pada 1979, tapi tetap diwajibkan oleh undang-undang untuk memberi Taiwan dengan senjata untuk pertahanan diri.

China telah menangguhkan pertukaran militer dengan AS pada Januari setelah Obama memberi tahu Kongres kemungkinan penjualan senjata ke Taiwan senilai 6,4 miliar dolar yang, jika diselesaikan, dapat mencakup helikopter-helikopter Black Hawk, rudal anti-misil dam kapal pemburu ranjau.

Pada Juni, Beijing menampik kunjungan untuk memperbaiki hubungan yang diusulkan kepada China oleh Menteri Pertahanan AS Robert Gates, dan ketegangan itu diperbesar oleh latihan angkatan laut bersama AS-Korea Selatan belum lama ini di perairan dekat pantai China.

Sumber: ANTARA


Kamis, 05 Agustus 2010

AS Siap Lego Dua Kapal Perang Bekas

0

ilustrasi

KOMPAS.com — Amerika Serikat (AS) menawarkan dua kapal perang bekasnya kepada Taiwan. Kapal berbanderol total 40 juta dollar AS itu, kata pihak AS, bisa dipakai Taiwan untuk memperkuat diri andai China memperkuat basis tempurnya.

Kapal perang itu jenisnya kapal perusak (frigate). Kelasnya, Perry.

Kendati demikian, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Taiwan Hsia Yu-teh mengisyaratkan tidak buru-buru menerima tawaran dari AS. "Kami tengah membuat delapan kapal perusak sejak 2008. Kapal-kapal itu akan diluncurkan pada 2013," kata Yu-teh sebagaimana warta AFP pada Kamis (5/8/2010).

Lebih lanjut, menurut Yu-teh, negaranya juga tengah mempersiapkan kapal-kapal selam konvensional untuk makin menambah kemampuan peralatan angkatan perangnya. Termasuk di sini adalah penyediaan kapal patroli bersenjata lengkap.

Kendati demikian, upaya pembangunan armada laut itu difokuskan untuk menjaga keamanan Selat Taiwan. Apalagi, sejak Kuomintang yang pro-China berkuasa di Taiwan, Presiden Ma Ying-joeu sudah menjalin hubungan perbaikan dengan China daratan demi meningkatkan perdagangan dan pariwisata.

Hubungan China dan Taiwan memang belumlah berjalan mulus. Soalnya, China masih menganggap Taiwan adalah salah satu dari provinsinya. Sementara Taiwan memproklamasikan diri sebagai negara sendiri sejak 1949.

Berangkat dari situlah, kedua negara acap berlomba membenahi sistem pertahanan. China, pada 2001 hingga 2008, misalnya, sudah menambah fasilitas persenjataannya dari 300 mencapai 1.400 peluru kendali.

Sementara itu, dengan dukungan AS, Taiwan juga sempat membenahi peralatan perangnya. Pada Januari tahun ini, AS sudah siap menawarkan paket untuk Taiwan berupa rudal-rudal Patriot, helikopter Black Hawk, dan perlengkapan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.

Sumber: KOMPAS


Senin, 19 Juli 2010

Cina Bakal Siapkan 2 Ribu Misil Mengarah ke Taiwan

0

Polisi dan tentara Cina berdiri dekat tank dan truk pengangkut misil, di lapangan Tiananmen, saat latihan parade peringatan 60 tahun partai Komunsi Cina awal Oktober nanti (18/9). Foto: REUTERS/David Gray

TEMPO Interaktif, Taipei -Cina bakal punya 2 ribu misil ditujukan kepada rivalnya Taiwan menjelang akhir tahun ini, beberapa ratus lebih banyak dibanding jumlah saat ini, meskipun hubungan dagang kedua negara makin erat. Demikian menurut sebuah studi pertahanan negeri pulau itu, hari ini.

Menurut laporan periodik yang dipublikasikan oleh Kementrian Pertahanan Laut Taiwan, persiapan Beijing untuk membuat Taiwan lebih jauh di belakang dalam keseimbangan kekuatan militer terhadap lawan politiknya bisa menghancurkan 90 persen infrastruktur di pulau itu.

Peningkatan dari perkiraan hari ini 1000-1400 rudal bisa meningkatkan ketegangan setelah dua tahun dialog antara kedua rival yang telah jelas membuka jalan untuk penerbangan sipil langsung dan sebuah kesepakatan laiknya suatu perdagangan bebas pada Juni lalu.

“Meskipun kami meneken perjanjian perdagangan, itu tak akan ada kemajuan dalam hal-hal tentang militer,” ujar Hsu Yung-ming, profesor ilmu politik di Soochow University, Taipei, hari ini.

Cina sering mengklaim kedaulatan atas pulau Taiwan dan tidak meninggalkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau itu ke pangkuannya.

Sumber: TEMPO


Rabu, 02 Juni 2010

Rudal Taiwan Bisa Menjangkau Beijing

0


TAIPEI, KOMPAS.com — Taiwan, menurut sebuah laporan yang terbit Rabu (2/6/2010), akan menguji coba sebuah rudal yang dapat menghantam Beijing.

Kementerian Pertahanan Taiwan segera membantah berita tentang rudal darat ke darat yang berjangkauan tembak menengah, tetapi mengatakan riset sedang dilakukan mengenai berbagai sistem senjata. Rudal yang didesain untuk mencapai sasaran sejauh 2.000 kilometer itu akan diluncurkan pada Kamis dan Jumat dari Chiupeng, satu pangkalan di Taiwan selatan yang dijaga ketat, kata majalah Next Magazine yang berpusat di Taipei.

Jika berhasil, proyek senjata bersandi "Ching Sheng" itu akan memasuki tahap produksi massal, kata majalah yang biasanya mengutip dari sumber yang mengetahui dengan baik. Laporan tersebut melanjutkan, Kementerian Pertahanan berencana menggelar 150 rudal seperti itu, lebih dari 240 rudal jelajah yang ada sekarang, untuk membentuk satu dari penangkal-penangkal utama pulau itu menghadapi serangan China.

Rudal jangkauan menengah itu juga bisa digunakan untuk menyerang kota-kota besar China lainnya, seperti Shanghai dan Chongqing serta pangkalan-pangkalan rudal balistik di China timur dan tenggara. "Riset dan pengembangan berbagai sistem senjata telah dilakukan sesuai rencana," kata seorang pejabat kementerian kepada AFP, tetapi menambahkan, "Isi berita itu tidak benar."

Ketegangan di Selat Taiwan mereda sejak Presiden Taiwan, Ma Ying Jeou, dari Partai Kuomintang, yang bersahabat dengan China berkuasa tahun 2008, berjanji akan meningkatkan hubungan perdagangan dan mengizinkan lebih banyak wisatawan China mengunjungi pulau itu. Beijing masih menolak menghentikan penggunaan kekuatan militer terhadap Taiwan seandainya pulau itu mengumumkan kemerdekaan secara resmi, yang membuat pulau itu berusaha memiliki lebih banyak senjata pertahanan.

Pulau itu memiliki pemerintah sendiri sejak melepaskan diri dari daratan China pada akhir perang saudara tahun 1949. Majalah itu memberitakan, China telah meningkatkan jumlah rudalnya yang diarahkan ke pulau itu dari 300 unit tahun 2001 menjadi 1.400 unit tahun 2008.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 19 Mei 2010

Taiwan Tak Akan Saingi China

0


TAIPEI, KOMPAS.com — Presiden Taiwan Ma Ying-jeou, Rabu (19/5/2010), mengatakan, pihaknya tidak akan terlibat pacuan senjata dengan China meskipun pihaknya menghadapi ancaman-ancaman. Menurutnya, hal ini ditengarai oleh upaya daratan untuk membentuk armada udaranya.

"Taiwan akan membentuk 'satu pasukan kecil tapi elite' untuk mempertahankan diri pada saat pihaknya terus mempromosikan hubungan perdagangan dengan China," kata Ma dalam konferensi pers memperingati tahun kedua pelantikannya. "Kami mungkin tak bisa terlibat dalam pacuan senjata dengan China. Kami tak ingin membeli armada udara karena China. Kami telah membatasi sumber daya nasional, dan kami telah memanfaatkan mereka dengan sebaik-baiknya," katanya menambahkan.

"Kami telah memelihara pasukan kecil tapi elite, kecil tapi kuat untuk mempertahankan diri kami, untuk menangkal secara efektif ancaman-ancaman serta meningkatnya pembiayaan yang dikeluarkan daratan untuk upayanya menyerang Taiwan," imbuhnya.

Hubungan antara Taiwan dan daratan telah meningkat sejak Ma mengambil alih kekuasaan pada 2008, yang berikrar akan meningkatkan hubungan perdagangan dan turisme kedua negara. Pemerintahnya juga akan menandatangani perjanjian perdagangan dengan China bulan depan.

Sementara itu, Taiwan akan terus berupaya untuk membeli jet-jet tempur F-16 dari Amerika Serikat untuk menggantikan armada F-5 yang sudah tua, serta memperkuat pertahanan udaranya, kata Ma menambahkan.

Kepala Keamanan Nasional Taiwan mengatakan, akhir tahun lalu, bahwa China telah mulai membangun kapal induk udara pertama, suatu gerakan yang menyebabkan para analis memperingatkan akan terbentuknya keseimbangan militer antara kedua pihak.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan bahwa China terus membangun militernya untuk menghadapi pulau meskipun hubungan mereka makin membaik. Dalam hal ini, China menyebarkan lebih dari 1.300 rudal balistik dan jelajahnya. "Kami tidak menganggap ancaman-ancaman militer China ringan, dan kami tak akan mengubah strategi kami untuk pencegahan yang efesien. Namun, kami tak bisa untuk tidak memperbaiki hubungan karena rudal-rudal atau karena kami berisiko kalah dalam persaingan," kata Ma.

Ma mengatakan, dia tidak mengesampingkan untuk bertemu dengan para pemimpin China, tetapi menandaskan bahwa tidak ada rencana dan tidak ada jadwal untuk tindakan seperti itu.

Beijing masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu bersatu kembali, dengan kekerasan jika perlu, meskipun pulau itu telah berpemerintahan sendiri sejak 1949.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 14 Mei 2010

Taiwan Inginkan Jet Tempur AS

0


Sebuah Pesawat F-16


TAIPEH, KOMPAS.com - Pemerintah Taiwan, Kamis (13/5), mengatakan, pulau itu akan tetap berusaha untuk memperoleh jet-jet tempur Amerika Serikat (AS) kendati hubungannya dengan China membaik.

"Kebijakan kementerian (untuk memperoleh jet-jet itu) sangat jelas dan kami akan terus mengusahakannya," kata Wakil Menteri Pertahanan Taiwan, Andrew Yang, dalam sidang parlemen ketika diminta komentarnya mengenai sebuah laporan bahwa Amerika Serikat mendesak Taiwan untuk memperkuat pertahanan udaranya.

"Mengefektifkan pertahanan udara adalah satu komponen penting jika Taiwan ingin tetap mempertahankan pulau itu," kata berita laporan itu yang disiarkan pekan ini oleh Dewan Bisnis AS-Taiwan di Washington. Dewan itu mengatakan jet-jet tempur F-16C/D cocok bagi keperluan pertahanan Taiwan tetapi memperingatkan bahwa peluang untuk membeli jet-jet baru hampir tutp karena berdasarkan kontrak terakhir, F-16 akan dikirim pada akhir tahun 2013.

"Penting sekali untuk mencapai perjanjian segera dengan adanya ketidakseimbangan tempur yang meningkat, sehingga pengiriman pesawat itu ke Taiwan mungkin akan dimulai tahun 2014," kata laporan itu.

Taiwan mengajukan permohonan kepada pemerintah AS untuk membeli 66 jet tempur F-16 awal tahun 2007, tetapi para pengamat mengatakan Washington menangguhkan perjanjian itu karena khawatir akan dikecam Beijing. Presiden Taiwan Ma Ying jeou menekankan bahwa pulau itu membutuhkan jet-jet secepat mungkin untuk menggantikan armada F5 yang sudah tua dan untuk menjamin keamanan wilayah udaranya.

China menentang setiap penjualan senjata kepada Taiwan, yang dianggapnya sebagai bagian wilayahnya yang pada satu saat akan disatukan kembali, jika perlu dengan kekuatan militer. Taiwan melepaskan diri dari kekuasaan China setelah perang saudara tahun 1949. Tetapi hubungan mereka membaik ketika Ma berkuasa tahun 2008 yang berikrar akan meningkatkan hubungan perdagangan dan turisme dengan Beijing.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 11 Mei 2010

Taiwan: Laporan Fighter GAP dengan China

0


AS-Taiwan Dewan Bisnis mendorong untuk segera menyetujui 66 F-16C / D fighter, yang masih tidak disetujui oleh AS sejak permintaan oleh Taiwan pada tahun 2006.

TAIPEI - Sebuah laporan yang dikeluarkan 11 Mei oleh Bisnis AS-Taiwan yang berbasis di Washington. Dewan menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan udara Taiwan kemampuan pertahanan dalam menanggapi ancaman tumbuh oleh Cina.

AS-Taiwan Dewan Bisnis mendorong untuk membeli 66 F-16C / D Fighter, yang masih menunggu oleh AS sejak permintaan oleh Taiwan pada tahun 2006. (Verdy Pierre / AFP melalui Getty Images)

"Neraca Daya Laut di Selat Taiwan" jelas merupakan permohonan untuk pembelian 66 F-16C / D Blok 50/52 fighter, sekarang masih menunggu persetujuan oleh pemerintah AS sejak permintaan awal Taiwan pada tahun 2006.

Perlu dicatat, dewan mewakili kepentingan bisnis dari perusahaan-perusahaan pertahanan AS dan bukan AS kebijakan luar negeri.

Laporan ini mendorong rilis terhadap apa yang dilihatnya. Dengan yang terakhir pemesanan F-16 berdasarkan kontrak yang dijadwalkan untuk pengiriman pada akhir tahun 2013, bersama dengan proses produksi yang membutuhkan waktu 36 bulan, pemerintah AS harus membuat keputusan segera merilis, laporan tersebut.

Pada bagian, laporan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) melaporkan kekuatan udara Taiwan akan dikeluarkan pada bulan Januari diKongres AS, kata Rupert Hammond-Chambers, presiden, AS-Taiwan Dewan Bisnis.

Laporan DIA, yang tertera oleh Undang-undang Amerika, akan diterbitkan dalam bentuk diklasifikasikan akhir tahun ini.

"Karena sebagian besar analisis Departemen Pertahanan mengenai hal ini diklasifikasikan, AS-Taiwan Dewan Bisnis merasa penting bahwa masyarakat memiliki analisis yang lebih substansial untuk mempertimbangkan, menyebabkan produksi laporan ini," katanya.

administrasi Obama harus mempertimbangkan implikasi dari ketidakmampuan Taiwan untuk melindungi wilayah udara sendiri dan biaya potensial dari suatu kebutuhan "AS untuk mengisi kekosongan yang dalam konflik mungkin," katanya, mencatat beban meningkat terhadap pasukan AS di Alaska, Okinawa dan Guam untuk memenuhi ancaman lain terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.

persediaan saat ini Taiwan terdiri dari 18 skuadron tempur dengan kekuatan nominal 387 fighter US, asal-usul Perancis: 145 F-16A/Bs, 126 Pertahanan Fighters (IDF), 56 Mirage 2000-5s dan 60 F-5E/Fs.

Laporan ini mencatat F-5s dijadwalkan untuk pensiun pada tahun 2014 dan armada Mirage menderita dari biaya pemeliharaan yang tinggi dan tingkat ketersediaan kronis rendah.

Laporan ini menunjukkan biaya per jam penerbangan dari pesawat tempur Mirage "lebih dari tiga" yang dari IDF dan "lima kali" bahwa F-16a / B Meskipun imajinasi terdiri dari hanya 17 persen dari armada tempur, biaya operasional mereka "mengkonsumsi hampir 59%" dari total operasi dan anggaran pemeliharaan. Ketersediaan minimal sekitar 58 persen dan sekarang jam terbang 8 pilot sekitar 15 jam per bulan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa dalam lima-10 tahun depan, kekuatan tempur Taiwan akan turun dari 387 menjadi 327-271, masing-masing, seperti F-5 dan Mirage fighter yang dihapus.

Pada saat yang sama, armada tempur Cina akan terus memodernisasi dan memperluas di luar armada pesawat saat ini lebih dari 700 pertempuran dalam jangkauan operasional Taiwan, "dengan ratusan cadangan lebih siap."

"Mengingat ukuran armada pesawat tempur Cina dikerahkan di seberang Taiwan, jumlah minimal pesawat tempur Taiwan harus operasional lapangan pada awal perlawanan seharusnya tidak kurang dari 360-400 pesawat, atau kira-kira ukuran nominal gaya sekarang," kata laporan.

Laporan ini memperingatkan bahwa selambat-lambatnya 2014, Taiwan tidak akan lagi memiliki pesawat tempur yang dibutuhkan untuk memenuhi "persyaratan operasional mempertahankan ruang udara dari ancaman militer Cina."

pejabat pertahanan Taiwan dan sumber industri pertahanan ini menunjukkan adanya penolakan dari pejuang baru bisa memaksa Taiwan untuk mengembangkan postur serangan mendahului.

Laporan ini tidak melihat Taiwan mengembangkan kemampuan deep-strike "" yang didorong oleh "perlu untuk menetralisir sasaran militer bernilai tinggi." Ini termasuk sekitar 1.300 rudal balistik jarak pendek bertujuan Taiwan, serta fasilitas C2, pangkalan udara, stasiun radar dan unit rudal darat ke udara mampu memukul pesawat atas Taiwan.

Hal ini termasuk program penelitian dan pengembangan utama untuk dua serangan rudal darat: sebuah rudal jelajah darat-serangan dan rudal balistik taktis.

Namun, sumber-sumber pertahanan Taiwan sebelumnya telah menunjukkan program-program ini melayani sebagai taktik untuk memaksa Washington untuk merilis senjata ke Taiwan dan sebagai cadangan dalam pelukan kasus yang tidak disetujui.

Salah satu contohnya adalah perlawanan dilanjutkan oleh Amerika Serikat untuk melepaskan AGM-88 High-speed Rudal Anti-Radiasi. Sebagai tanggapan, Taiwan mengembangkan varian sendiri anti-radiasi, 2A-TC.

Meskipun Cina dan Taiwan adalah memperbaiki hubungan dan diharapkan untuk menandatangani Perjanjian Kerangka Kerjasama Ekonomi segera, laporan ini memperingatkan bahwa situasi politik masih cair dan tidak pasti di masa depan.

Penurunan "kuantitatif signifikan" merupakan celah "fighter" antara China dan Taiwan yang mengekspos pulau untuk "pemerasan politik Cina sebagai langkah kedua belah pihak ke arah dialog politik."

Cina terus menggunakan "wortel dan tongkat" untuk pendekatan negosiasi dan tidak berusaha untuk mengurangi ancaman militer ke Taiwan.

Sumber di Taipei hati-hati bahwa pemilihan presiden pada tahun 2012 mendatang bisa melihat pro-kemerdekaan Partai Progresif Demokratik kembali berkuasa, menghasilkan reaksi kekerasan oleh Cina.

Sumber: DN/@MIK


Kamis, 29 April 2010

Andai China Serang Taiwan

0


TAIPEI, KOMPAS.com — Lebih dari 6.500 tentara Taiwan, termasuk pasukan elite khusus, Kamis (29/4/2010), ikut ambil bagian dalam pelatihan militer terbesar di pulau itu dalam tahun ini. Mereka melakukan simulasi hari-H serangan China terhadap pulau tersebut.

Sekitar 4.900 prajurit, dibantu pesawat-pesawat jet tempur F-16 dan helikopter tempur Super Cobra, dikerahkan di dekat Chialutang, sebuah desa pantai di Taiwan selatan, pada saat mereka mempertahankan pantai itu dari serangan musuh.

"Jika perang pecah, maka Pantai Chialutang tampaknya akan dijadikan tempat pendaratan bagi pasukan China," kata seorang letkol militer kepada AFP, setelah latihan selama sehari. Dia hanya memperkenalkan dirinya bernama panggilan Tai.

Beberapa kilometer di daratan, 1.200 prajurit infantri melakukan simulasi pertahanan terhadap pasukan musuh, yang didrop dari udara untuk mendukung serangan pantai.

Sementara itu, di kota pelabuhan Huko di utara pulau tersebut, 400 tentara ikut ambil bagian dalam latihan kemampuan militer untuk pasukan khusus gerak cepat yang menempuh jarak jauh. Hal itu dikatakan oleh juru bicara militer.

Terakhir, pulau itu menyelenggarakan pelatihan militer serupa pada Desember 2008. Namun, pelatihan tersebut hanyalah permainan perang komputer.

Hubungan-hubungan antara Taipei dan Beijing telah membaik, terutama sejak Ma Ying-jeou dari Partai Kuomintang yang bersahabat dengan China mengambil alih kekuasaan pada 2008 dan berikrar untuk meningkatkan hubungan perdagangan serta mengizinkan kedatangan turis China.

Namun, Beijing tidak memutuskan untuk menggunakan kekuatan terhadap pulau itu, yang mereka anggap sebagai bagian dari wilayahnya, meskipun telah diperintah secara terpisah sejak perang sipil berakhir pada 1949.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 28 Maret 2010

Taiwan Siaga setelah Insiden Tenggelamnya Kapal Korsel

0

KOROR--MI: Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengatakan Sabtu bahwa ia telah menginstruksikan pihak militer untuk siaga setelah menerima laporan tentang tenggelamnya kapal patroli Angkatan Laut Korea Selatan di laut antara China dan semenanjung Korea.

Ma, yang sedang mengadakan kunjungan ke Palau, diberitahu stafnya tentang insiden itu Jumat malam dan jumpa pers yang diadakannya terputus. Ia segera mengadakan pertemuan darurat dengan pihak keamanan dan memerintahkan mekanisme keamanan nasional Taiwan diaktifkan.

Pada Sabtu pagi, Presiden Ma mengadakan sidang dengan para pejabat di Taipeh, termasuk Wakil Presiden Vincent Siew, Menteri Pertahanan Nasional Kao Hua-chu, Perdana Menteri Wu Den-yih dan Ketua Legislatif Wang Jin-pying, kata juru bicara Kantor Kepresidenan Lo Chih-chiang, yang menyertai Ma dalam lawatan diplomatik ke negara-negara sekutu Pulau Pasifik.

Ma memutuskan untuk melawat ke Palau sebelum terbang kembali Sabtu malam, kata Lo. Presiden Ma tiba di Palau sekitar Jumat siang sebagai bagian dari lawatan enam hari ke seluruh enam negara yang menjadi sekutu Taiwan di Pasifik Selatan. Ma telah mengunjungi Marshall Islands, Karibati, Tuvalu, Nauru dan Kepulauan Solomon.

Menurut laporan-laporan kantor berita asing, kapal AL Korea Selatan dengan 104 personel di dalamnya tenggelam di lepas pantai barat negara itu setelah ledakan yang belum diketahui.

Sebanyak 48 pelaut telah diselamatkan, kata seorang perwira militer kepada AFP. Sementara itu, seorang juru bicara militer Korea Selatan mengatakan, hingga sejauh ini belum ada indikasi bahwa Korea Utara terlibat dalam insiden itu, kata laporan-laporan. Sebelumnya stasiun TV Korea Selatan "SBS" melaporkan kapal patroli militer Korea Selatan dihantam torpedo Korea Utara sebelum tenggelam.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Selasa, 23 Maret 2010

Pesawat Rusia Langgar Wilayah, Taiwan Berang

0


TAIPEI - Taiwan menuduh jika sebuah pesawat pembom Rusia memasuki wilayah udara mereka secara ilegal. Pemerintah Taiwan sendiri marah besar karena angkatan udara mereka gagal mencegah pesawat tersebut masuk ke wilayah mereka.

Radar Taiwan mendeteksi pesawat Rusia berjenis Tupolev TU-95 yang dapat membawa bom jarak jauh. Pesawat tersebut dideteksi sekira 285 kilometer timurlaut Taiwan pada 28 Januari lalu.

"Pesawat tersebut memasuki wilayah Taiwan sebentara," ungkap Kepala Angkatan Laut Taiwan Mayor Jenderal Wang Hsuan-Chou. "Kami mengira pesawat tersebut dianggap tidak berbahaya jadi mengatasinya dengan prosedur damai, yakni memintanya pergi dari wilayah udara Taiwan secara baik-baik," tambah Mayjen Wang seperti dikutip AFP, Selasa (23/3/2010).

Wang menyatakan, setelah diberi peringatan, pesawat tersebut akhirnya berbelok arah menuju Okinawa di Jepang. Namun Wang menolak berkomentar mengapa pesawat yang dapat memuat 15 ton bom, dianggap tidak berbahaya.

Pernyatan Wang tersebut langsung mengundang kritik dari parlemen Taiwan. Mereka bertanya-tanya mengapa Angkatan Udara Taiwan tidak mengirim pesawat tempur mereka untuk mengusir pesawat pembom tersebut. Parlemen Taiwan sendiri mengkhawatirkan kemungkinan pesawat tersebut dapat menjatuhkan berton-ton bom ke wilayah daratan Taiwan.

Menjaga wilayah mereka agar tetap aman merupakan tanggung jawab dari Militer Taiwan. Wajar jika mereka selalu dituntut untuk waspada, mengingat jarak Taiwan dengan rivalnya China hanya beberapa menit melalui jalur udara.

China sendiri memang masih menjadi ancaman laten bagi Taiwan. Negeri Tirai Bambu tersebut menganggap Taiwan sebagai provinsi mereka. China bahkan menyebutkan jika pihaknya tidak segan-segan untuk mengerahkan kekuatan militer mereka untuk merebut kembali Taiwan.

Sumber: OKEZONE




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin