Tampilkan postingan dengan label NATO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NATO. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2010

Rusia Bantah Tempatkan Rudal Dekat Perbatasan NATO

0

Rudal taktis Iskander-M

REPUBLIKA.CO.ID, Moskow--Surat kabar Wall Street Journal dalam sebuah artikel yang disiarkan, Selasa (30/11) mengatakan bahwa Amerika Serikat meyakini Rusia memindahkan "sejumlah hulu ledak nuklir taktis jarak dekatnya ke fasilitas-fasilitas dekat sekutu NATO dalam musim semi baru-baru ini."

Namun, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Selasa, membantah rumor media bahwa Rusia telah menggelar rudal nuklir jarak dekatnya di dekat perbatasannya dengan negara-negara NATO. "Kami tidak mengusung rudal apapun di wilayah Kaliningrad," kata Jenderal Nikolai Makarov, mengomentari laporan itu, sebagaimana dikutip dari RIA Novosti-OANA.

Moskow sejak lama menentang penggelaran fasilitas pertahanan rudal NATO di dekat perbatasannya, dengan mengklaim mereka akan mengancam keamanan dan merusak strategi keseimbangan pasukan di Eropa. AS menghapus rencana-rencana sebelumnya pada September lau untuk penempatan sistem pertahanan antirudal di Republik Czech dan Polandia.

Moskow menyambut baik langkah itu, dan Presiden Dmitry Medvedev mengatakan kemudian bahwa Rusia akan mencabut rencana-rencana untuk menggelar rudal taktis Iskander-M di Wilayah Kaliningrad, yang berbatasan dengan para anggota NATO, Polandia dan Lithuania.

Sistem Iskander-M (NATO melaporkan dengan nama SS-26 Stone) ddilengkapi dengan dua propelan padat tingkat satu 9M723K1 rudal berpemandu dengan kemampuan "kuasi-balistik". Rudal ini memiliki jangkauan 400 km (250 mil) dan dilaporkan dapat membawa hulu ledak konvensional dan nuklir.

Sumber: REPUBLIKA


Sabtu, 20 November 2010

NATO Setujui Sistem Perlindungan Ancaman Rudal

0

illustrasi

LISBON - Presiden AS Barack Obama dan aliansinya di NATO pada Jumat telah setuju untuk menciptakan perlindungan bagi warga Eropa terhadap ancaman serangan rudal dengan sistem radar dan penangkal, serta mengundang Rusia untuk turut ambil bagian.

Kesepakatan tersebut mendorong para anggota NATO untuk mengaktifkan sistem antirudal untuk menembak jatuh misil yang mungkin datang dari musuh dan mendesak Moskow untuk mengintegrasikan sistem pertahanan mereka dengan sistem yang dimiliki NATO. Demikian dilansir AFP, Sabtu (20/11/2010).

Keberhasilan mencapai kesepakatan pada hari pertama memberikan dorongan bagi para pemimpin NATO, untuk memulai hari kedua dengan lebih baik di mana mereka akan coba membuat kesepakatan mengenai rencana mengakhiri perang di Afghanistan.

"Untuk kali pertama, kami berhasil mencapai kesepakatan untuk mengembangkan kapabilitas pertahanan yang cukup kuat untuk melindungi semua wilayah dan populasi negara-negara NATO, seperti halnya di AS," cetus Obama pada forum tersebut.

Rusia sendiri mengkritik keras rancangan perlindungan rudal AS sebelumnya, karena melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap kredibilitas tindak pencegahan nuklir bersama. Moskow telah meminta dicabutnya rancangan tersebut.

Walaupun begitu, 28 perwakilan di NATO berharap kali ini Presiden Dmitry Medvedev dapat mencapai kesepakatan dengan pakta pertahanan tersebut. Ini akan menjadi pertemuan pertama pihak Rusia dengan NATO sejak Moskow terlibat perang di Georgia pada 2008.

Sumber : OKEZONE


Minggu, 07 November 2010

English News : NATO missile defense shield in Turkey may threat Iran, Russia - experts

0

NATO missile defense shield in Turkey may threat Iran, Russia

Possible deployment of the elements of NATO missile defense shield in Turkey is targeted against Iran and may pose a threat to Russia's security, Russian experts said on Saturday.

Earlier on Saturday Turkish media said Ankara would agree to deploy a missile-defense system on its territory if its three conditions were accepted.

First, the Turkish authorities insist on building NATO, but not the U.S. missile defense system. Second, the anti-missile shield should be deployed in the all alliance's states-members. And third, Turkey would not allow NATO to turn it into the alliance's frontline state as it was during the Cold War.

"Turkey wants to be equally respected both in the West and in the East...Turkey wants to entrench itself as a key empire of the entire continent," Sergei Demidenko of the Institute of Strategic Studies and Analysis said.

"Geographically Turkey is the closest to Iran, while politically it is one of Iran's enemies," another Russian leading political expert, the head of the Institute of Political Studies, Sergei Markov said. "It is Iran's enemy because Turkey is the ally of the United States...but first of all they both [Turkey and Iran] compete for the leadership in the Islamic world."

The President of the Academy on Geopolitical Affairs, Leonid Ivashov said the ongoing deployment of the anti-missile defense shield in Europe is aimed to "neutralize Russia's nuclear missile potential."

"We do not have other powers, except of the nuclear missile potential, to protect even the single parts of our territories," Ivashov said.

Meanwhile, the Turkish Foreign Minister, Ahmet Davutoglu, while commenting on Turkey's plans to deploy anti-missile shield said that NATO should exclude any formula that confronts Turkey with a group of countries in its threat definitions and planning.

"We do not want a Cold War zone or psychology around us," Davutoglu added.

Turkey's decision over missile defense system on its soil will be announced at the upcoming NATO summit in Lisbon due to be held on November 18-19.

From : RIA


Rabu, 27 Oktober 2010

MIKHAIL GORBACHEV NATO Sudah Pasti Keok

0

KOMPAS.com — Para petinggi NATO hendaknya makin sering mendengar petuah Mikhail Gorbachev. Mantan orang nomor satu di Uni Soviet itu sudah mewanti-wanti kalau pasukan militer di bawah NATO bakal keok alias kalah total dalam peperangan di Afganistan.

Sudah barang tentu, omongan Gorbachev yang sohor dengan perestroika dan glasnost itu bukan pepesan kosong. Soalnya, Uni Soviet pun pernah jeblok di Afganistan hingga akhirnya memilih hengkang dari Negeri Mullah.

"Hal yang bisa dilakukan kini adalah membantu Afganistan pulih dari kondisi pascaperang," katanya sebagaimana warta media AP dan AFP pada Rabu (27/10/2010).

Gorbachev memuji keputusan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang mulai menarik mundur pasukan AS pada musim panas tahun depan. Namun, selain memuji, Gorbachev melontarkan kritik terhadap keterlibatan Amerika di Afganistan pada dua dekade lalu.

"Dengan bantuan keuangan dari Arab Saudi, Amerika melatih kelompok-kelompok militan yang kini meneror Afganistan dan terlebih lagi Pakistan," kata Gorbachev.

"Dengan kondisi itu, Amerika akan lebih sulit keluar dari masalah ini. Tapi adakah alternatif lain? Vietnam yang lain? Mengirim setengah juta pasukan? Itu tidak akan menyelesaikan masalah," tambah Gorbachev.

Sejauh ini, jumlah pasukan NATO di Afganistan mencapai 150.000 personel. Dari jumlah itu, 90.000 personel adalah pasukan asal Amerika Serikat.
Sejak invasi ke Afganistan pada 2001, lebih dari 2.000 prajurit NATO tewas. Dari jumlah itu, 1.350 orang adalah pasukan Amerika Serikat.

Sumber: KOMPAS


Rusia Ingatkan NATO

0

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia menginginkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menahan diri dalam pengerahan pasukan "penting" di negara-negara anggota baru blok militer tersebut dan telah menyusun rancangan persetujuan hukum yang mengikat guna mengatasi dampak tersebut, kata suatu laporan pada Rabu (27/10/2010).

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov telah menyerahkan rancangan tersebut kepada Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen pada Desember lalu, namun kedua pihak belum dapat mencapai kesepakatan terkait pengertian "pasukan tempur penting" itu, tulis harian berbahasa Rusia Kommersant.

"Pasukan NATO akan melakukan modernisasi sehingga situasi militer penentuan Barat bagi kami telah berubah." kata wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov seperti dikutip harian tersebut.

"Jadi bila tidak ada ancaman akan suatu konflik, maka perlu ada pernyataan tertulis mengenai sesuatu demi menciptakan kepastian adanya jaminan militer bagi kami," imbuhnya.

Persetujuan itu akan menetapkan pengurangan pasukan di negara anggota baru NATO seperti Slovenia dan Kroasia.

Sumber dari markas NATO di Brussel mengonfirmasi tulisan harian itu dengan mengatakan bahwa NATO telah menerima usulan Rusia namun mengatakan masih belum jelas apakah akan berlanjut ke persetujuan yang mengikat atau tidak karena masih terdapat ketidaksepakatan kedua pihak mengenai jumlah pasukan.

Duta besar Rusia untuk NATO Dimtry Rogozin mengatakan kepada Kommersant bahwa definisi "pasukan tempur penting" dapat berarti pengurangan secara permanen atau pengerahan sementara brigade manuve, batalion helikopter atau resimen udara.

Hal itu juga bisa merujuk pengerahan lebih dari 41 tank tempur, 188 kendaraan lapis baja atau 24 pesawat jet tempur dan helikopter tempur dan pasukan lainnya. "Gagasan utama kami adalah untuk mengubah kewajiban politik menjadi kewajiban hukum," tambah Rogozin sembari mengatakan Rusia tidak akan menjadi subjek dari perjanjian tersebut karena Rusia tidak melakukan ekspansi ke arah barat.

Dalam pertemuan puncak NATO di Lisabon pada 19-20 November direncanakan akan mempertimbangkan konsep strategis baru blok militer tersebut dan juga akan mendiskusikan penetapan suatu aliansi perisai rudal bersama.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev pekan lalu setuju untuk ikut serta dalam pertemuan puncak itu meski ia menekankan Moskwa perlu untuk mendengar lebih banyak mengenai ide tentang perisai rudal tersebut.

Rusia dan negara-negara Barat masih berselisih faham terkait perlucutan senjata konvensional di Eropa, situasi di Georgia setelah perang Rusia-Georgia pada 2008, dan tentang perluasan pengaruh NATO di Eropa Timur.

Koran Kommersant mengutip sumber di kementerian luar negeri, mengatakan Rasmussen berencana mengunjungi Moskwa pada 5 November.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 24 Oktober 2010

Rusia Inginkan Kesamaan Dalam Perisai Rudal NATO

0

Perisai Rudal Nato

Berlin (ANTARA News) - Rusia terbuka pada pembicaraan mengenai perisai rudal Eropa yang direncanakan, tapi ingin memainkan peran yang sama dalam pembangunannya, demikian Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov kepada mingguan Jerman Der Spiegel.

"Hal paling penting bagi kami adalah pertama-tama untuk menetapkan apa ancaman sebenarnya terhadap Eropa, dan kedua adalah melihat Rusia membuat pijakan yang sama sebagai peserta," kata Serdyukov dalam wawancara yang direncanakan dipublikasikan secara penuh, Senin.

"Hanya dengan demikian sistem pertahanan anti-rudal itu dapat diterapkan dengan cara yang memuaskan setiap orang," ia menekankan kepada mingguan Jerman itu.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev akan menghadiri pertemuan puncak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bulan depan di Lisabon dan mengatakan, Selasa, bahwa Moskow telah bersiap untuk membicarakan perisai anti-rudal yang diusulkan aliansi itu.

Rencana Amerika Serikat (AS) sebelumnya untuk mengerahkan sitem anti-rudal di beberapa bekas negara satelit bekas Uni Soviet di Eropa Timur telah membuat marah Kremlin, tapi NATO sekarang mengharapkan untuk mengurangi keraguan dengan memasukkan Moskow ke dalam perencanaan sistem yang lebih luas.

Washington bersikeras perisai itu adalah untuk menjaga diri dari ancaman dari "negara-negara jahat" seperti Iran, dan tidak ditujukan untuk mengganggu pengelakan nuklir Rusia.

"Kami akan memeriksa gagasan mengenai usul ini secepat," kata Medvedev setelah pembicaraan di tempat peristirahatan Deauville di Prancis dengan Presiden Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

"Tapi saya pikir NATO sendiri harus memutuskan bagaimana mereka melihat Rusia ikut sistem ini, apa yang negara ini akan berikan, bagaimana perjanjian mungkin dicapai dan bagaimana bekerja lebih lanjut."

"Hanya setelah menguji proposal ini kami akan dapat memberikan jawaban seperti bagaimana kami akan bekerja selanjutnya dalam hubungan dengan pertahanan rudal Eropa."

"Untuk sementara, taruhan dan ancaman dianggap berbeda," ujar Serdyukov kepada mingguan Der Spiegel.

"Kami tidak menyetujui semua pendapat Barat mengenai kapasitas program nuklir Iran," tegasnya.

Medvedev telah lama mengajukan apa yang ia perkirakan akan menjadi strategi keamanan bersama Eropa yang menyatukan benua itu yang pernah terpisah antara blok Barat dan blok Soviet.

Prancis, Jerman dan negara besar lain Barat telah setuju untuk membicarakan hal itu, tapi juga tetap terikat pada visi NATO mengenai pakta Atlantik-Eropa yang mencakup AS dan Kanada, dengan dewan NATO-Rusia melekat padanya.

Namun Serdyukov mengatakan bahwa dalam waktu dekat kedua bekas saingan Perang Dingin itu akan melihat satu sama lain jauh lebih sebagai mitra.

Sumber: ANTARA


Minggu, 19 September 2010

NATO Berencana Rampingkan Komando Militer

0

BRATISLAVA--MI: NATO berikrar akan merampingkan komando militernya yang belum efektif pada saat para pemimpin militernya bertemu di Slovakia, untuk membahas modernisasi aliansi keamanan negara-negara Atlantik Utara itu.

Kepala Komite Militer NATO, Giampaolo Di Paola, Minggu (19/9) mengatakan bahwa
komando baru akan lebih fleksibel, ramping namun efektif. Dia mengatakan, ia tidak bisa memberikan detil karena hasil pertemuan itu harus disetujui dulu oleh 28 negara anggota persekutuan.

Banyak negara anggota yang menyoroti masalah pengurangan anggaran. Pemerintah-pemerintah kini sedang menghadapi kesulitan pilihan, dan NATO telah mengetahui hal itu, kata Di Paola kepada para wartawan.

Para kepala militer juga membahas situasi di Afghanistan, yang menyelenggarakan pemungutan suara bagi pemilu parlemen, Sabtu (18/9). Pertemuan tersebut terjadi menjelang konferensi tingkat tinggi (KTT) aliansi di Lisabon pada 19-20 November.

Komite Militer membahas konsep strategi baru aliansi, satu dokumen yang akan diputuskan di Lisabon mengenai ancaman-ancaman baru yang dihadapi NATO, yaitu antara lain serangan dunia maya, rudal dan terorisme yang akan menggantikan tantangan saat ini yang mulai diberlakukan sejak 1999.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Sabtu, 18 September 2010

Brasil Tolak Peran NATO

0


Rio de Janeiro, Rabu - Menteri Pertahanan Brasil Nelson Jobim Made menegaskan penolakan atas campur tangan militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara atas keamanan di Amerika Latin. Brasil menyatakan, kawasan merupakan tanggung jawab sejumlah negara di Amerika Latin.

”Keberadaan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) di kawasan ini tidak tepat,” kata Jobim, Kamis (16/9), kepada wartawan Brasil sebagaimana dikutip kantor berita UPI. ”Cara-cara pengamanan di dua sisi Atlantik jelas berbeda,” ujar Jobim.

Brasil menentang manuver NATO, terutama Amerika Serikat, yang berniat menancapkan kuku pertahanan di kawasan. Brasil juga ingin mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan di kawasan lewat sebuah kursi permanen di Dewan Keamanan PBB, yang diupayakan Presiden Brasil Luiz Inacio ”Lula” da Silva lewat lobi-lobi dengan sejumlah anggota PBB.

Sejak 2008, Lula da Silva sudah mencanangkan program regenerasi militer. Hal ini juga terkait dengan penemuan sejumlah lokasi pertambangan minyak di Brasil. Pengembangan kekuatan militer juga didorong kesadaran Brasil sebagai salah satu kekuatan utama kawasan yang sedang bertumbuh.

Brasil ingin menekankan hubungan yang setara dengan NATO. Untuk memperkuat ambisi itu, Brasil juga menekankan tentang perlunya kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara di kawasan, termasuk Argentina. ”Brasil ingin menjadi kekuatan utama setelah menyadari posisinya di kawasan,” kata pakar hubungan internasional dari Akademi Angkatan Laut Brasil, Sabrina Medeiros.

Belanja senjata

Sehubungan dengan itu, Brasil kini sedang gencar mengadakan jenis-jenis persenjataan untuk mendukung ambisinya. Kedutaan Besar Inggris di Brasil, Selasa lalu, mengungkapkan, Inggris kini berusaha memenuhi pesanan Brasil untuk membuat 11 kapal perang untuk memperkuat pertahanan laut.

Hal ini ditujukan untuk menjaga cadangan minyak yang banyak ditemukan di lepas pantai negara itu. Brasil pada tahun 2007 menemukan ladang minyak besar di lepas pantai Rio de Jeneiro dan Sao Paulo. Penemuan tersebut dapat membawa Brasil menjadi penghasil minyak terbesar dalam 20 tahun mendatang, yang akan mampu memproduksi 7,9 miliar barrel.

”Menteri Pertahanan Inggris Gerald Howarth telah menyampaikan hal tersebut kepada Panglima Angkatan Laut Brasil Julio Soares de Moura Neto,” ungkap keterangan pers Kedubes Inggris di Brasil.

Howarth mengungkapkan, telah mewaspadai Brasil tentang kemungkinan ada tawaran internasional lain menyangkut pertahanan. Namun, lanjut Howarth, Inggris punya keyakinan tentang bobot kontrak pertahanan Inggris-Brasil karena merupakan proyek antarpemerintah.

Howarth menegaskan, permintaan Brasil bahwa kontrak tersebut meliputi paket alih teknologi secara penuh bukan merupakan halangan.

Ia menambahkan, Inggris memiliki pengalaman luas dalam hal ini, seperti kesepakatan kontrak penjualan pesawat tempur ke India yang juga meliputi alih teknologinya.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 21 Agustus 2010

TNI Belum Berminat, NATO Sudah Pesan

2

Pesawat pengintai tanpa awak SS-5 buatan Indonesia dipamerkan di stand Balitbang pada R&D Ritech Expo 2010 (21/08/2010). Banyak perlengkapan militer yang bisa diproduksi sendiri oleh putera Indonesia. Namun belum ada goodwill pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri.

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia ternyata bisa menciptakan perlengkapan perang secara mandiri. Ini diungkapkan Achmad Joing, salah satu peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) TNI di sela-sela acara R&D Ritech Expo 2010 di Jakarta, Sabtu (21/8/2010).

Salah satunya yang paling sederhana adalah membuat pakaian tentara dari rami, pengganti kapas. Selama ini Indonesia selalu mengimpor kapas sebagai bahan baku kain. Namun, Balitbang TNI menemukan tanaman rami, yang tumbuh di dataran tinggi mempunyai kualitas lebih baik dari kapas. "Rami ini seratnya lebih halus dari kapas, lebih nyaman dipakai, lebih kuat, dan membuat suhu tubuh tetap rendah jadi tentara tidak kepanasan," ujar Achmad.

Pakaian ini telah diteliti dari tahun 2004 sampai 2007. Namun, ternyata Pemerintah Indonesia sampai saat ini masih enggan untuk menggunakan karya anak bangsa ini. Menurut Achmad, sejak dipasarkan tahun 2007, Pemerintah belum melirik pakaian ini, justru mereka mendapatkan pesanan tetap dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

"Pemerintah belum mau pakai ini, malahan yang beli ini adalah NATO, tiap tahun kita mendapatkan order sebanyak 30.000 setel pakaian tentara (topi, baju, celana, dan sepatu)," ujarnya.

Selain pakaian, putra Indonesia juga sudah mampu membuat laras untuk senjata api, baik laras pendek maupun laras panjang. Pesawat pengintai tanpa awak, alat komunikasi militer, panser militer, kapal patroli, sampai rompi antipeluru juga telah diciptakan dari tangan-tangan generasi muda Indonesia. "Semua terbukti lebih baik dan lebih murah," tegas Achmad.

Namun masalahnya, lanjut Achmad, pemerintah tidak memiliki goodwill untuk memberdayakan putra bangsa. "Laras saja kita beli dari Belgia, padahal kita sudah bisa buat laras sendiri yang lebih baik dan lebih murah, ini semua hanya karena tidak adanya goodwill dari pemerintah," ujarnya.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 02 Juli 2010

Parlemen AS Setujui Rp 298,7 T Untuk Tentara AS di Afghanistan

0

Ilustrasi (New York Times)

Jakarta - Parlemen Amerika Serikat (AS) menyetujui dana untuk membiayai penambahan tentara AS di Afghanistan sebesar 33 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 298,7 triliun. Namun hal ini menuai komplain dari kubu Partai Demokrat.

Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (2/7/2010). Jumlah sebanyak itu nyaris sepertiga APBNP 2010 negeri kita yang sekitar Rp 1.000 triliun.

Kubu Partai Demokrat justru terkesan menunda-nunda penggelontoran dana tersebut. Mereka tidak bertindak pada waktunya untuk menggelontorkan dana sebesar 33 miliar dollar AS bagi tentara AS pada 4 Juli seperti yang diminta Pentagon.

Sesuai amandemen, jadwal penarikan tentara AS dari Afghanistan ditunda. Penundaan yang disetujui oleh 162 anggota Parlemen tersebut menjadi suara anti-perang terbesar dalam Parlemen bagi Afghanistan. Namun, 9 anggota Fraksi Partai Demokrat, termasuk Ketua Parlemen Nancy Pelosi, menolaknya.

Pimpinan Parlemen menambahkan miliaran dolar AS dalam pengeluaran non-militer sebelum membahas dana perang ini. Langkah selanjutnya diserahkan kepada Senat, karena Senat juga sedang membahas dana perang dan berencana menyalurkannya pada Mei mendatang.

Baik Parlemen maupun Senat harus menyetujui RUU yang sama, sebelum akhirnya diajukan kepada Presiden Obama untuk ditandatangani. Namun sayangnya, Senat sendiri sedang dalam masa reses hingga 12 Juli.

Parlemen AS menyetujui RUU tentang anggaran yang mencakup hampir 4 miliar dolar AS untuk bantuan ekonomi ke Afghanistan dan Pakistan. Dana perang ini merupakan tambahan bagi dana 130 miliar dolar AS yang telah disetujui Kongres untuk dikirimkan bagi Afghanistan dan Irak tahun ini.

Sumber: DETIK NEWS


Selasa, 25 Mei 2010

Rusia Pesan Kapal Induk NATO

0


MOSKOW (KRjogja.com) - Rusia berencana akan membeli empat kapal induk helikopter buatan Barat dan kini sedang berunding dengan tiga negara NATO mengenai pembelian kapal-kapal itu, kata kantor berita RIA Novosti mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov, Senin (24/5).

"Sekarang kami sedang melakukan perundingan awal mengenai tipe kapal ini dengan tiga negara yaitu Spanyol, Belanda dan Prancis. Kami berencana menandatangani satu kontrak untuk empat kapal itu," kata Serdyukov. Ia tidak menyebutkan kapan perjanjian itu akan ditandatangani.

Rencana pembelian kapal-kapal perang itu didukung penuh Presiden Dmitry Medvedev, tegas Serdyukov.

"Kami kini bekerja sangat serius mengenai masalah ini," katanya.

Rusia semula mengincar kapal-kapal amfibi Mistral Prancis yang berharga 400 sampai 500 juta euro (500,2 sampai 625,23 juta dolar). Moskow kemudian mengatakan pihaknya mungkin akan membeli kapal-kapal yang sama di negara-negara lain jika melihat ada opsi-opsi lebih baik.

Penjualan kapal perang tipe Mistral itu kepada Moskow telah menimbulkan kekhawatiran AS dan negara-negara Eropa Timur anggota NATO (Persekutuan Pertahanan Atlantik Utara).

Pada Agustus 2008 Rusia berperang selama lima hari dengan Georgia. Moskow mengatakan jika pihaknya memiliki Mistral dalam perang itu, maka Rusia akan mencapai tujuan militernya dalam 40 menit bukannya 26 jam.

Komandan pasukan angkatan laut Amerika Serikat di Eropa bulan lalu mengatakan penambahan kapal-kapal perang untuk angkatan laut Rusia tidak akan "secara drastis meningkatkan" kemampuan militernya tetapi penjualan itu akan menimbulkan "Kecemasan lebih besar" jika itu termasuk teknologinya.

Menunjuk secara tegas pada transfer teknologi itu, Serdyukov mengatakan Rusia setuju untuk membeli hanya satu kapal perang yang sepenuhnya dibangun di luar negeri. Ia mengatakan tiga kapal lainnya harus dibangun bersama dengan pembuat-pembuat kapal dalam negeri.

"Berdasarkan syarat-syarat kami, kapal perang keempat harus dibangun di Rusia sepenuhnya."

Serdyukov mengatakan kapal pertama seperti mungkin akan masuk dalam dalam jajaran armada Utara dan Pasifik Rusia.

Uni Sovieet telah membangun kapal-kapal induk helikopter untuk angkatan lautnya yang hebat. Tetapi itu adalah kapal-kapal jelajah yang mengangkut helikopter, yang bukan amfibi dan tidak dapat mengangkut kendaraan-kendaraan lapis baja dan pasukan tambahan untuk operasi-operasi pendaratan.

Sumber: KRJOGJA


Kamis, 06 Mei 2010

Europe-Wide Missile Shield Would Cost $250M

0


illustration anti missile


BRUSSELS - Linking up anti-missile systems to protect NATO's European nations would cost under 200 million euros ($250 million) over 10 years, NATO Secretary General Anders Fogh Rasmussen said May 5.

"We have a sufficient intelligence to know that we're faced with a real threat, with Iranian aspirations as regards missile technology and nuclear programs," Rasmussen said at a news conference at NATO headquarters. "For this additional cost of less than 200 million euros over 10 years, you'll get full coverage geographically as well as protection against the threat we can envisage today.

"It is not a big cost to get real protection against a real threat," he said, adding that there was a growing consensus among NATO allies on the threats they face.

NATO is already developing an anti-missile system to protect its soldiers on missions, but the bigger plan would extend that protection to civilians as well.

Rasmussen said he was "confident" of getting agreement for his plan at a NATO summit in Lisbon in November.

"As far as military feasibility is concerned, our military has investigated that carefully and will present a report to be discussed by ministers," he assured. "They'll have solid ground to take a political decision."

The command and control system would rely on the missile systems that are either already in place or under construction, such as the German and Dutch schemes and the one the United States intends to deploy in eastern Europe.

Rasmussen's plans are different from the "shield" proposed by former U.S. President George W. Bush, which fell amid Russian resistance.

It would "make sense, from political and military perspectives, to speak with Russia," Rasmussen reiterated, after a series of recent overtures to Moscow inviting Russia to create a shared missile defense umbrella stretching from "Vancouver to Vladivostock."

From: DN


Sabtu, 24 April 2010

NATO 'Tinggalkan' Afghan Mulai November

0


Jakarta - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berencana menyerahkan segala urusan pemerintahan dan keamanan di seluruh Afghanistan pada otoritas setempat. Penyerahan tanggung jawab itu akan dimulai pada November mendatang.

"Kami sepakat untuk mulai melakukan transisi," ujat Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen seperti dilansir AFP, Sabtu (24/4/2010).

Pengalihan tampuk kendali ini sudah terjadi di Kabul. Di ibukota Afghanistan itu, otoritas lokal sudah bertanggung jawab atas keamanan dan pemerintahannya.

"Hari ini, kami memiliki roadmap. Pada titik tertentu masyarakat akan melihat perkembangan yang selama ini mereka sering tanyakan," lanjut Rasmussen.

Dia berharap pemerintah Afghanistan dan komunitas internasional dapat mendukung rencana ini dalam konferensi yang digelar di Kabul pada Juli mendatang. Sementara itu serah terima kekuasaan akan berlangsung November saat NATO menggelar pertemuan tahunannya di Lisbon.

Selama masa transisi berlangsung NATO akan bertindak sebagai pengawas. Pasukan di garis depan yang selama ini bertugas memerangi pemberontak akan ditarik ke garis belakang.

Sumber: DETIK COM


Selasa, 09 Februari 2010

Operasi Militer Besar-besaran Segera Dimulai

0

Kandahar, Senin - Komandan pasukan NATO memperingatkan agar kelompok Taliban menyerah. Pasukan AS dan internasional, Senin (8/2), mempersiapkan diri untuk melancarkan operasi besar-besaran ke basis kekuatan Taliban di kota Marjah, Provinsi Helmand.

Operasi di Marjah, yang diberi nama Mushtarak (Bersama), merupakan operasi terbesar sejak Presiden AS Barack Obama mengumumkan penambahan pasukan di Afganistan. Operasi tersebut juga merupakan yang terbesar sejak invasi AS ke negara itu tahun 2001. Diperkirakan operasi dimulai pada pekan ini.

Kelompok Taliban menyatakan memilih tinggal dan berperang melawan. ”Pasukan Afganistan dan pasukan asing telah datang ke wilayah Marjah dan anggota kami juga berada di area itu untuk menembaki mereka dengan roket,” kata Yousuf Ahmadi, juru bicara Taliban, kepada kantor berita AFP dari lokasi yang tidak diketahui.

Ribuan tentara asing dan tentara Afganistan telah berada di sekitar lembah Sungai Helmand untuk menggempur Taliban. Komandan pasukan AS dan pasukan NATO di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, mengatakan, operasi di Marjah tidak dimaksudkan untuk sekadar menewaskan anggota Taliban sebab kebanyakan dari mereka adalah warga lokal miskin yang berperang demi uang daripada dukungan bagi ideologi Taliban.

Menurut McChrystal, keberhasilan operasi itu bergantung pada bagaimana meyakinkan warga sipil bahwa Pemerintah Afganistan akan memperbaiki cara pengelolaan negara saat Taliban sudah ditumpas.

Warga mengungsi

Pada Minggu, pesawat AS menjatuhkan selebaran di atas Marjah untuk memperingatkan warga tentang operasi yang akan dilancarkan. Peringatan itu membuat ribuan warga Marjah khawatir dan meninggalkan kota. Mereka khawatir akan terjebak di tengah pertempuran saat operasi dimulai.

Ghulam Farooq Noorzai, Kepala Departemen Pengungsi Provinsi Helmand, mengatakan, lebih dari 400 keluarga atau sekitar 2.000-3.000 orang telah direlokasi dan masih banyak orang yang sedang berusaha meninggalkan Marjah. Otoritas provinsi telah menyiapkan tenda dan stok makanan untuk 10.000 orang.

Salah seorang warga, Shir Ali Khan, yang tiba kemarin di Lashkar Gah bersama 25 anggota keluarganya menuturkan, dia akan tinggal di kota itu sampai Marjah aman.

”Kami pergi karena banyak sekali pesawat yang terbang dan banyak tentara bergerak maju dan mundur,” tutur Khan.

Para pejabat AS telah lama mengincar Marjah. Di tempat itu, juga di provinsi tetangga, Kandahar, terkonsentrasi gerakan perlawanan Taliban. Di wilayah yang subur itu pula lahan pertanian telah diubah menjadi perkebunan opium.

Sumber: Kompas


Operasi Militer Besar-besaran Segera Dimulai

0

Kandahar, Senin - Komandan pasukan NATO memperingatkan agar kelompok Taliban menyerah. Pasukan AS dan internasional, Senin (8/2), mempersiapkan diri untuk melancarkan operasi besar-besaran ke basis kekuatan Taliban di kota Marjah, Provinsi Helmand.

Operasi di Marjah, yang diberi nama Mushtarak (Bersama), merupakan operasi terbesar sejak Presiden AS Barack Obama mengumumkan penambahan pasukan di Afganistan. Operasi tersebut juga merupakan yang terbesar sejak invasi AS ke negara itu tahun 2001. Diperkirakan operasi dimulai pada pekan ini.

Kelompok Taliban menyatakan memilih tinggal dan berperang melawan. ”Pasukan Afganistan dan pasukan asing telah datang ke wilayah Marjah dan anggota kami juga berada di area itu untuk menembaki mereka dengan roket,” kata Yousuf Ahmadi, juru bicara Taliban, kepada kantor berita AFP dari lokasi yang tidak diketahui.

Ribuan tentara asing dan tentara Afganistan telah berada di sekitar lembah Sungai Helmand untuk menggempur Taliban. Komandan pasukan AS dan pasukan NATO di Afganistan, Jenderal Stanley McChrystal, mengatakan, operasi di Marjah tidak dimaksudkan untuk sekadar menewaskan anggota Taliban sebab kebanyakan dari mereka adalah warga lokal miskin yang berperang demi uang daripada dukungan bagi ideologi Taliban.

Menurut McChrystal, keberhasilan operasi itu bergantung pada bagaimana meyakinkan warga sipil bahwa Pemerintah Afganistan akan memperbaiki cara pengelolaan negara saat Taliban sudah ditumpas.

Warga mengungsi

Pada Minggu, pesawat AS menjatuhkan selebaran di atas Marjah untuk memperingatkan warga tentang operasi yang akan dilancarkan. Peringatan itu membuat ribuan warga Marjah khawatir dan meninggalkan kota. Mereka khawatir akan terjebak di tengah pertempuran saat operasi dimulai.

Ghulam Farooq Noorzai, Kepala Departemen Pengungsi Provinsi Helmand, mengatakan, lebih dari 400 keluarga atau sekitar 2.000-3.000 orang telah direlokasi dan masih banyak orang yang sedang berusaha meninggalkan Marjah. Otoritas provinsi telah menyiapkan tenda dan stok makanan untuk 10.000 orang.

Salah seorang warga, Shir Ali Khan, yang tiba kemarin di Lashkar Gah bersama 25 anggota keluarganya menuturkan, dia akan tinggal di kota itu sampai Marjah aman.

”Kami pergi karena banyak sekali pesawat yang terbang dan banyak tentara bergerak maju dan mundur,” tutur Khan.

Para pejabat AS telah lama mengincar Marjah. Di tempat itu, juga di provinsi tetangga, Kandahar, terkonsentrasi gerakan perlawanan Taliban. Di wilayah yang subur itu pula lahan pertanian telah diubah menjadi perkebunan opium.

Sumber: Kompas




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin