Tampilkan postingan dengan label JAPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAPAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2011

Update : Indonesia dan Jepang Sepakat Kerja Sama Pertahanan

0


Peresmian Patung Jendral Sudirman Di kantor menhan jepang di Nippon, Jepang. (Foto: Alutsista)

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa sepaham untuk menggagas rencana kerja sama di bidang pertahanan antara Indonesia dan Jepang.

"Kerja sama antara Indonesia dan Jepang khususnya di bidang ekonomi sudah berjalan dengan sangat baik dan berlangsung cukup lama, maka sekaranglah saatnya untuk membuka kerja sama di bidang pertahanan," ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio yang ikut mendampingi Purnomo Yusgiantoro di Jepang kepada Suara Karya di Jakarta, Senin (17/1).

Gagasan membuka kerja sama pertahanan RI - Jepang disampaikan Menhan saat berkunjung ke kantor Menhan Jepang di Nippon, Jepang.

Sebelumnya, Menhan RI dan Menhan Jepang menyaksikan peresmian patung Pembela Tanah Air (PETA) yang direpresentasikan dengan sosok pahlawan Jenderal Besar Sudir-man. Purnomo maupun Toshimi mengharapkan keberadaan patung Sudirman bisa menjadi simbol kerja sama baik bidang pertahanan RI dengan Jepang. Purnomo juga melakukan kunjungan ke Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan dan Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara.

Wayan Midhio menjelaskan, Indonesia mengapresiasi reformasi pembangunan di bidang pertahanan Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang fleksibel menjalin kerja sama pertahanan dengan beberapa negara di Benua Eropa, Amerika dan Asia.

Atas dasar itu pula, Indonesia siap menjalin kerja sama pertahanan di berbagai divisi dengan Jepang. "Indonesia siap untuk melakukan kerja sama di berbagai sektor di bidang pertahanan," kata Wayan mengutip pernyataan Purnomo.

Sementara itu, Jepang mendapat penjelasan tentang sistem pertahanan di Indonesia. Menhan Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, TNI mengalami perubahan signifikan dalam 12 tahun terakhir setelah reformasi. TNI lebih menghormati hak asasi manusia serta tidak lagi berpolitik dan berbisnis. Ke depan, TNI diproyeksikan menjadi militer yang lebih profesional sebagai alat pertahanan negara.

Namun demikian, Purnomo mengakui, di balik upaya pemerintah membangunan sistem pertahanan melalui profesionalisme TNI belum didukung industri pertahanan dalam negeri yang masih tertinggal.

Karena itu, Purnomo menawarkan kerja sama kepada Jepang dalam pembangunan proyek four in one. Empat bidang itu adalah pembangunan Pusat Misi Pasukan Perdamaian (PMPP), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan standby forces berupa pasukan batalion mekanis (mechanism battalion) yang siap dikerahkan setiap saat.

Galang Dukungan

Di luar substansi menggagas kerja sama pertahanan, kunjungan Purnomo ke Jepang untuk meminta dukungan agar Indonesia bisa menjadi Ketua ASEAN Defence Minister Meeting (ADMM) 2011. ADMM akan membahas masalah Laut Cina Selatan dan berbagai isu terkait dengan ASEAN Security Community.

Selain itu, Purnomo meminta dukungan Jepang agar membantu Indonesia sebagai co-host dalam Disaster Relief Exercise (DIREX) 2011 di Manado, Sulawesi Utara. "Meminta dukungan ini sekaligus mengundang Menhan Jepang untuk hadir dalam Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) pada bulan April 2011," ujar Wayan.

Terkait rencana latihan yang melibatkan 27 negara ASEAN Regional forum (ARF) dalam DIREX 2011, Jepang punya peran sebagai co-host.

Sebelum melakukan lawatan ke Jepang, Purnomo melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan Thailand Jenderal Prawit Wongsuwan yang membicarakan masalah hubungan bilateral dan dukungan kepada Indonesia sebagai penyelenggara pertemuan ADMM 2011.

Sumber: SUARA KARYA


Sabtu, 15 Januari 2011

Pasukan AS di Jepang dan Korsel Siap Hadapi Korut

0

ist

Seoul, Jumat - Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengakhiri kunjungan ke Asia dengan menyinggahi Seoul, Korea Selatan, Jumat (14/1). Salah satu masalah krusial yang ditekankan Gates adalah pasukan AS di Jepang dan Korsel akan terus dipertahankan demi menghadapi provokasi Korea Utara ”yang suka perang”.

Berbicara sebelum menemui Menteri Pertahanan Korsel Kim Kwan-jin, ia mengatakan akan berdiskusi dengan Kim untuk menciptakan bentuk koordinasi yang baik dan erat sebelum menghadapi setiap provokasi yang mungkin dilakukan Korut dan sekutunya, China, pada masa mendatang.

Washington dan Seoul menuduh Pyongyang menorpedo sebuah kapal perang Korsel pada Maret 2010 yang menewaskan 46 pelautnya. Pyongyang membantah tuduhan itu. Meski demikian, serangan yang paling menyakitkan bagi Korsel adalah ketika Korut menghujani Pulau Yeonpyeong di perbatasan dua negara serumpun itu pada 23 November 2010. Dua marinir dan dua warga sipil Korsel tewas saat itu.

Washington memiliki 28.500 tentara di Korsel. Gates juga mengatakan, meski didukung kekuatan militer, AS tetap mengutamakan pendekatan diplomatik terhadap Korut.

Dalam pembicaraan dengan para pejabat Jepang, Kamis, Gates membahas penyusunan kembali ”postur kekuatan” militer AS-Jepang menanggapi ancaman Korut dan China. Pembicaraan Gates di Tokyo dan Beijing terpusat, sebagian, pada Korut. Uji coba pesawat tempur China baru-baru ini juga dilihatnya sebagai unjuk kekuatan.

Sumber : KOMPAS


Jumat, 14 Januari 2011

RI Perluas Kerja Sama Pertahanan Dengan Jepang

0

Ist

Jakarta - Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan dan memperluas kerja sama pertahanan dengan Pemerintah Jepang di masa mendatang.

Peningkatan dan perluasan kerja sama kedua negara menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dengan mitranya Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa di Tokyo.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI I Wayan Midhio yang menyertai kunjungan dua hari Menteri Purnomo ke Negeri Matahari Terbit itu Jumat, kepada ANTARA mengatakan, selama ini kerja sama pertahanan kedua negera baru sebatas pertukaran perwira militer kedua pihak.

"Itu pun jumlahnya belum banyak, baru satu hingga tiga orang saja. Nah kedepan akan tingkatkan jumlahnya, agar banyak perwira TNI yang belajar di Jepang terutama di Akademi Militer Yokoshuka," katanya, menambahkan.

Midhio mengatakan, Indonesia ingin kerja sama pertahanan kedua negara dapat diperluas dalam bentuk yang lain, seperti latihan dan operasi bersama.

Kedua negara sepakat peningkatan dan perluasan kerja sama pertahanan dilakukan atas dasar hubungan saling menghormati dan saling memberi manfaat antara kedua pihak.

Sebelumnya, kedua negara juga sepakat untuk terus meningkatkan kerja sama pertahanan, khususnya keamanan maritim antara lain di Selat Malaka.

Selain membahas peningkatan dan perluasan kerja sama pertahanan kedua negara, dibahas pula perkembangan persiapan pelaksanaan latihan penanggulangan bencana alam ASEAN atau "ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise" (ARF-DIREx) di Manado, Sulawesi Utara, pada Maret 2011, dimana Indonesia dan Jepang menjadi tuan rumah bersama.

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Jepang, Menteri Pertahanan kedua negara juga hadir meresmikan patung PETA (Pembela Tanah Air), sebagai pendiri cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Patung dengan tinggi dua meter itu di bangun di salah satu ruang di Kantor Kementerian Pertahanan Jepang.

Sumber: ANTARA


Senin, 10 Januari 2011

Halangi Cina-Korut, Jepang dan AS Gelar Latihan Perang Laut

0

Ist

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO--Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, Senin (10/1) menggelar latihan perang di Laut China Timur yang melibatkan kapal-kapal perang Amerika Serikat, demikian kata Kementerian Pertahanan Jepang.

USS Carl Vinson (CVN-70), salah satu supercarrier (kapal induk) kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS yang mampu membawa 90 pesawat jet tempur dan helikopter serta dikawal beberapa kapal perusak AS berpartisipasi dalam pelatihan itu. Pelatihan diadakan di barat pulau Kyushu, kata kementerian.

Saluran TV Jepang NHK mengatakan bahwa latihan ini ditujukan untuk menghalangi operasi angkatan laut yang mungkin dilakukan Korea Utara dan China.

Ketegangan di Semenanjung Korea tetap tinggi setelah penembakan terhadap pulau utara Korea Selatan Yeonpyeong pada November. Insiden menewaskan empat orang termasuk warga sipil.

Pada Desember, Seoul mengadakan latihan militer besar-besaran yang melibatkan ratusan personil militer dan lebih dari 100 jenis senjata, termasuk tank, rudal anti-tank, helikopter dan jet tempur.

Korea Utara kemudian memperingatkan lawan atas "perang suci" yang akan digelarnya dan bisa jadi bakal menggunakan penangkis nuklir. Sebelumnya pada Januari, Pyongyang mengusulkan Seoul untuk memulai perundingan "tanpa syarat" untuk memperbaiki hubungan yang tegang antara kedua negara.

Sumber: Republika


Sabtu, 18 Desember 2010

Jepang Perbarui Pertahanan Sebesar 2.527 Triliun Rupiah

0

Kapal Selam Jepang.

TOKYO – Jepang mengesahkan versi terbaru kebijakan pertahanan nasionalnya, Jumat (17/12). Versi terbaru kebijakan pertahanan ini dirancang khusus untuk membuat negara itu lebih sanggup menghadapi militer China yang kekuatannya makin meraksasa. Di bawah kebijakan pertahanan yang dinamakan Garis Besar Program Pertahanan Nasional itu, Jepang akan mengalokasikan dana sebesar 23,49 triliun yen ( 2.527 triliun rupiah) untuk anggaran pertahanan selama lima tahun, terhitung mulai April 2011.

Anggaran ini akan membuat militer Jepang lebih sanggup untuk melakukan ekspansi pengamanan hingga ke wilayah perbatasannya dengan China, yaitu dengan meningkatkan jumlah pesawat tempurnya yang ada di Pulau Okonawa dan penambahan jumlah pasukan mereka di pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan China. Pembaharuan kebijakan pertahanan di atas merupakan yang pertama kalinya dilakukan Jepang dalam enam tahun terakhir, serta yang pertama kalinya juga dilakukan Jepang di bawah pemerintahan Perdana Menteri Naoto Kan.

“Saya kira kami telah berhasil membuat kebijakan pertahanan yang lebih tepat untuk menghadapi makin rentannya situasi keamanan di kawasan ini,” kata Menteri Pertahanan Jepang, Toshimi Kitazawa. China menanggapi pengesahan kebijakan baru pertahanan Jepang di atas dengan memfokuskan pada aspek positif pertumbuhan militer dan ekonominya ke tingkat global.

“Kami tak ingin menjadi ancaman bagi bangsa mana pun. Perkembangan China justru membawa peluang berbagi kesejahteraan bagi semua negara, termasuk Jepang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Jiang Yu, dalam laman resmi kementerian tersebut.

Sejak masa Perang Dingin, Jepang sebelumnya hanya memfokuskan kemampuan pertahanannya ke arah utara, yaitu lebih dari 1.000 tank disiagakan untuk menghadapi potensi serangan Uni Soviet dan Rusia. Namun, berdasarkan kebijakan baru di atas, Jepang akan menurunkan jumlah tank-tank di atas. Sebaliknya, Jepang meningkatkan jumlah kapal selamnya menjadi 22 buah.

Sumber: KORAN JAKARTA


Jumat, 17 Desember 2010

Jepang Khawatirkan Kebangkitan Militer Cina

0

Armada Angkatan Laut China.

TOKYO, (PRLM).- Jepang menyebut kebangkitan militer Cina sebagai sumber kekhawatiran internasional. Kesimpulan tersebut terncantum dalam kajian pertahanan pemerintah Jepang, yang telah disetujui oleh kabinet.

Wartawan "BBC" di Tokyo mengatakan dari kajian ini terlihat Jepang mengubah kebijakan pertahanan, untuk disesuaikan dengan perubahan keseimbangan kekuatan di Asia. Kekuatan militer akan lebih difokuskan di pulau-pulau selatan, dekat dengan Cina. Penguatan di selatan ini diiringi dengan pengurangan kekuatan di wilayah utara.

Sejak "Perang Dingin" pemerintah Jepang memberikan perhatian yang besar di wilayah utara untuk mengantisipasi invasi Rusia. Jumlah tank akan dikurangi sepertiga namun kapal selam akan ditambah. Demikian juga dengan jet tempur.

Kajian pertahanan ini juga menyebut Korea Utara sebagai faktor penyebab ketidakstabilan karena rudal dan program nuklir yang dijalankan pemerintah Pyongyang. Untuk mengantisipasi kemungkinan serangan Korut, Jepang akan menempatkan pencegat rudal di seluruh negeri dan jumlah kapal perang yang bisa menembak rudal akan ditambah.

Kekuatan militer Jepang lebih besar dari Inggris namun undang-undang dasar mereka tidak membolehkan militer melakukan serangan.

Kajian yang akan dipakai sebagai dasar penyusunan kebijakan pertahanan selama sepuluh tahun ke depan ini akan diikuti secara seksama oleh sejumlah negara di Asia. Beberapa kalangan mengatakan agresi Jepang di Perang Dunia II belum sepenuhnya dilupakan oleh sejumlah negara Asia.

Sumber: PIKIRAN RAKYAT


Sabtu, 11 Desember 2010

Jepang akan Gunakan Pencegah Rudal Terbaru

0

Rudal pencegah Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3)

TOKYO--MICOM: Jepang berencana akan menggunakan senjata canggih pencegah rudal pada markas pertahanan udaranya di seluruh negara untuk menepis ancaman rudal balistik milik Korea Utara. Demikian dilaporkan Kyodo News, Sabtu (11/12).

Pengunaan rudal pencegah Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) berada di bawah kebijakan pertahanan lima tahun baru yang akan diumumkan pada awal pekan depan, menurut Kyodo, mengutip para pejabat pemerintah dan pertahanan. Rudal PAC-3, yang dirancang untuk melumpuhkan peluru rudal darat, akan ditempatkan pada seluruh ke enam gugusan rudal pertahanan udara di markas udara Pasukan Bela Diri Jepang, yang saat ini baru melengkapi tiga gugusan, kata Kyodo.

Aksi tersebut dilakukan ditengah meningginya ketegangan di Semenanjung Korea menyusul serangan artileri Korut ke pulau perbatasan dengan Korea Selatan bulan lalu, dan peningkatan berkala pasukan militer dan aktivitas angkatan laut China.

Kemarin Jepang dan Amerika Serikat menyelesaikan latihan militer bersama terbesar dengan mengunjuk kemampuan persenjataan setelah AS dan Korsel melakukan hal serupa guna menekan Pyongyang. Kebijakan baru juga akan menentukan rudal penghancur Aegis dengan rudal pencegah Standard Missile-3, serta menambah jumlah kapal selam dari 16 menjadi 22 unit guna meningkatkan kewaspadaan di barat daya Jepang.

Jumlah kapal pengawal akan ditingkatkan dari 47 menjadi 48, sementara pesawat terbang operasional besar akan dikurangi dari 350 menjadi 340 karena menggunakan pesawat transportasi berukuran lebih besar. Kebijakan tersebut akan mengatur pengurangan tank dan artileri sebagai upaya mengubah fokus dari operasi darat menjadi pertahanan maritim, menurut laporan media lokal.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Kamis, 02 Desember 2010

Jepang-AS Akan Latihan Perang Bareng

0


TOKYO, KOMPAS.com — Jepang akan mendemonstrasikan hubungannya dengan Amerika Serikat dalam latihan militer besar bersama hanya beberapa hari setelah AS dan Korea Selatan unjuk kekuatan di tengah ketegangan di Semenanjung Korea, kata para pejabat, Kamis (2/12/2010).

Sebelumnya diumumkan latihan militer Keen Sword (Pedang Tajam), yang direncanakan sebelum serangan artileri Korea Utara terhadap sebuah pulau Korea Selatan pada pekan lalu, akan dimulai Jumat, 10 Desember 2010, tutur seorang juru bicara kementerian pertahanan.

Untuk menunjukkan solidaritas dengan Seoul, Konstitusi Pasifik akan mengundang para petugas militer Korea Selatan untuk pertama kalinya menyaksikan latihan-latihan itu, demikian diberitakan media massa Jepang. "Ternyata menjadi saat baik untuk menunjukkan ikatan antara Jepang dan Amerika Serikat," kata seorang pejabat senior kementerian pertahanan kepada harian Yomiuri Shimbun.

Latihan perang AS-Korea Selatan itu berakhir hari Rabu. Sekitar 34.000 personel militer Jepang dengan 40 kapal perang dan 250 pesawat akan bergabung dengan lebih dari 10.000 personel AS dengan 20 kapal perang dan 150 pesawat udara dalam latihan tersebut, kata pejabat pertahanan.

Latihan AS-Jepang terbesar sejak tahun 2007 itu akan berlangsung di perairan pulau selatan Jepang, dekat dengan pantai selatan Korea Selatan, menurut para pejabat. Dengan pengamatan perwira militer Korea Selatan terhadap latihan Jepang-AS itu, Tokyo berharap untuk menunjukkan solidaritasnya dengan ketiga negara, ujar kantor berita Kyodo dan Jiji Press.

Jepang mengirimkan tentara dalam kapasitas pengamat untuk mengambil bagian dalam latihan gabungan AS-Korea Selatan pada Juli, yang diadakan setelah tenggelamnya kapal perang Cheonan, sebuah korvet angkatan laut berbobot 1.200 ton Korea Selatan, demikian Kementerian Pertahanan Jepang. Sebuah penyelidikan internasional menyalahkan Korea Utara atas tenggelamnya kapal itu, yang menewaskan 46 pelaut Korea Selatan.

Manuver bersama akan jauh lebih besar dari sebuah latihan angkatan laut yang diadakan oleh Washington dan Seoul pekan ini, sebagai unjuk kekuatan setelah Pyongyang mengejutkan dunia dengan serangan artileri mematikan di sebuah pulau di perbatasan Korea Selatan. Jepang telah siaga tinggi sejak serangan tersebut dan Perdana Menteri Naoto Kan menginstruksikan menterinya untuk tinggal di Tokyo selama latihan AS-Korea Selatan di Laut Kuning untuk mempersiapkan setiap keadaan darurat.

Jepang sangat bergantung pada Amerika Serikat untuk keamanan karena di bawah Konstitusi Pasifik, yakni militer tidak diperkenankan menyerang wilayah musuh. "Latihan antara Jepang dan Amerika Serikat ini telah menjadi rutinitas, acara berulang selama bertahun-tahun," begitu pernyataan Angkatan Udara AS. Mereka menambahkan bahwa latihan dimaksudkan untuk meningkatkan kerja sama antara pasukan AS dan Jepang.

Setelah serangan 23 November Pyongyang di Pulau Yeonpyeong, yang menewaskan empat orang, China mengusulkan enam negara yang terlibat dalam perundingan denuklirisasi yang macet menyelenggarakan pertemuan darurat tentang krisis tersebut. Namun, sebaliknya Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan telah bersepakat untuk mengadakan pembicaraan sendiri di Washington pada 6 Desember 2010. Para anggota lain dari perundingan enam pihak adalah China, Korea Utara, dan Rusia.

Sumber: KOMPAS


Media Jepang: Akhir Tahun Korut Serang Korsel

0

Korea Utara menyerang Pulau Yeonpyeong di Korea Selatan (AP Photo/Yonhap)

VIVAnews - Korea Utara (Korut) dikhawatirkan kembali menyerang Korea Selatan (Korsel) akhir tahun ini. Lima pulau Korsel di dekat perbatasan kedua negara bakal menjadi sasaran awal Korut, yang menggempur Pulau Yeonpyeong melalui rentetan tembakan artileri pada 23 November lalu.

Demikian kabar yang muncul di media massa Korsel dan Jepang. Harian Jepang, Tokyo Shimbun, pada Kamis 2 Desember 2010 mengabarkan bahwa Korut akan kembali melakukan serangan atas Korsel akhir tahun ini.

Informasi itu diperoleh dari seorang sumber Tokyo Shimbun, yang tidak ingin disebutkan namanya. Dia mengaku mendapat kabar itu setelah berbicara dengan seorang pejabat Korut. Sumber tersebut mengatakan bahwa Korut akan mengincar provinsi Gyeonggi di baratlaut Korsel dan akan menyerang kapal perang Korsel di Laut Kuning.

Sementara itu kantor berita Korsel, Yonhap, mengungkapkan bahwa peluang Korut untuk kembali melancarkan serangan ke Korsel sangatlah besar. Lima pulau Korsel dekat perbatasan di Laut Kuning diduga bakal menjadi sasaran utama serangan Korut berikutnya. Informasi itu dilontarkan Kepala Badan Intelijen Korsel, Won Sei-hoon.

“Korut didesak banyak kalangan dalam negeri untuk melakukan tindakan gegabah lagi menjelang suksesi kekuasaan dan di tengah buruknya perekonomian,” ujar Won, Rabu 1 Desember 2010.

Won mengatakan bahwa informasi itu dia peroleh dari sebuah rekaman percakapan pejabat Korut Agustus lalu. Dia menjelaskan bahwa lima pulau Korsel di dekat perbatasan dengan Korut di perairan Laut Kuning terancam bahaya.

“Korut seringkali membuat ancaman yang mengintimidasi. Kami berharap semoga warga sipil tidak menjadi korban serangan Korut,” ujar Won.

Ancaman dari Korut bukanlah sesuatu yang baru. Hampir setiap hari pemerintah Korut melalui kantor beritanya, KCNA, memperingatkan kehancuran bagi Korsel.

Sebelumnya, Korut mengancam akan kembali menggempur Korsel jika tetap melaksanakan latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat akhir pekan lalu. Korsel dan AS tetap berlatih, namun tidak ada ancaman serius dari Korut setelah insiden Yeonpyeong.

Sumber: VIVANEWS


Rabu, 24 November 2010

MENHAN RI: Indonesia-Jepang Upayakan Tingkatkan Kerjasama Pertahanan

0


Jakarta, DMC – Kerja sama Indonesia dan Jepang sebaiknya tidak hanya pada sektor ekonomi namun diupayakan ditingkatkan pada sektor pertahanan, demikian disampaikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, saat menerima kunjungan kehormatan dari anggota Senat Jepang, Yosuke Kondo, yang juga sebagai wakil Partai Demokrat Jepang di Kantor Kemhan RI, Jakarta, Senin(22/11). Saat ini kerja sama yang dibangun antara Jepang dan Indonesia sebagian besar pada sektor energi, baik gas maupun pertambangan lainnya.

Lebih lanjut Menhan menyampaikan hubungan kerja sama antara Indonesia dan Jepang sangat penting, disamping mengingat historis kedua negara pada masa Kemerdekaan. Saat ini Jepang telah membuka kesempatan kepada beberapa siswa militer Indonesia untuk belajar di Akademi Militer Yokoshuka Jepang.

Sebagai langkah konkret kerja sama tersebut, Kementerian Pertahanan Indonesia juga akan berkunjung ke Jepang pada waktu yang akan datang, dengan membawa dua agenda diantaranya terkait pembicaraan lanjut mengenahi rencana latihan bersama kedua negara dalam penanggulangan bencana yang akan digelar pada bulan Maret tahun 2011. Sedangkan agenda kedua adalah meresmikan patung PETA (Pembela Tanah Air), sebagai pendiri cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

Pada latihan penanggulangan bencana yang rencananya akan dilaksanakan di Sulawesi Utara dengan mengundang 27 negara ASEAN REGIONAL FORUM (ARF). Jepang pada acara tersebut akan bertindak sebagai Co Chair dan Indonesia sebagai tuan rumah, selanjutnya untuk kesuksesan kegiatan tersebut diperlukan pertemuan yang khusus membahas mekanisme pelaksanaan.

Pada akhir pertemuan, baik Menhan maupun Mr Yosuke sepakat bahwa pembangunan perbatasan masing-masing negara sangat perlu ditingkatkan dengan kehadiran patroli keamanan maupun pembangunan sektor ekonomi serta peran aktif masyarakat, sebagai upaya menangkal masuknya pihak asing yang bermaksud menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah negara masing-masing, khususnya Migas.

Turut mendampingi Menhan, Karo Tata Usaha Laksma TNI Ir. Yuhastihar dan Karo Humas Brigjen TNI I Wayan Midhio, sedangkan mendampingi Mr Yosuke, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri dan Atase Pertahanan Jepang untuk Indonesia Kolonel Sugimoto.

Sumber: DMC


Rabu, 17 November 2010

Cina Kirim Kapal Patroli ke Laut Cina Timur

0

illustrasi

BEIJING, (PRLM).- Cina mengirim sebuah kapal patroli perikanan yang dilengkapi helikopter untuk mematroli Laut Cina Timur yang disengketakan. Demikian dilaporkan media Selasa (16/11), persis ketika ketegangan negara itu dan Jepang tampaknya mereda menyangkut perairan itu.

Kapal patroli perikanan itu yang pertama dilengkapi dengan helikopter, sudah meninggalkan kota pelabuhan selatan Guangzhou menuju Laut Cina Timur untuk satu misi yang bisa berlangsung selama 20 hari, kata kantor berita Xinhua.

Cina mengirim kapal-kapal ke perairan itu pada kesempatan-kesempatan terdahulu, kata media pemrintah itu, di tengah-tengah pertikaian dengan Jepang menyangkut satu tabrakan kapal yang menyebabkan hubungan kedua negara tegang.

Jepang menahan seorang nakoda kapal penangkap ikan Cina diperairan yang disengketakan setelah kapalnya menabrak sebuah kapal penjaga pantai Jepang awal September. Ia kemudian dibebaskan.

Di sela-sela KTT regional di Jepng akhir pekan lalu, kedua pihak tampaknya melakukan satu tindakan setelah sengketa itu ketika Presiden Cina Hu Jintao melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Naoto Kan.

Hu berjanji Cina akan tetap melakukan kebijakan bertetangga baik, sementara kekhawatiran muncul akibat tindak tanduk yang agresif di Asia Pasifik.

Sumber : PIKIRAN RAKYAT


Jumat, 12 November 2010

Jepang Kirim Tentara ke Pulau Yonaguni

0

TOKYO, KOMPAS.com - Tokyo akan mengirim sekitar 100 tentara ke sebuah pulau Jepang yang terpencil di Laut China Timur, di tengah kecemasan yang meningkat karena kegiatan angkatan laut China, demikian menurut laporan, Jumat.

Tentara-tentara darat itu akan digelar di pulau Yonaguni, di ujung paling barat Jepang, untuk melakukan patroli pantai dan pengawasan pada kapal-kapal angkatan laut China, kata beberapa pejabat pertahanan Jepang seperti dikutip oleh kantor berita Jiji. Tokyo akhirnya merencanakan untuk menggandakan jumlah tentara yang ditempatkan di Yonaguni, yang kira-kira 100 kilometer di timur Taiwan, kata laporan itu.

Menteri Pertahanan Toshimi Kitazawa Kamis menekankan pentingnya untuk meningkatkan pertahanan di daerah-daerah pulau, termasuk Yonaguni, pada pertemuan komisi keamanan Dewan Perwakilan Rakyat, lapor Jiji. Kementerian pertahanan telah minta 30 juta yen (365.000 dolar) dari anggaran tahun depan untuk "riset persiapan" mengenai masalah itu, kata laporan tersebut.

Militer Jepang secara tetap telah mengirim pesawat patroli ke wilayah itu tapi tidak memiliki fasilitas pengawasan tetap di Yonaguni. Aktivitas angkatan laut China yang meningkat telah memicu pemikiran kembali pertahanan di mana Jepang telah mempertimbangkan pengiriman lagi pasukan ke pulau-pulau selatannya yang tersebar dan jauh dari pangkalan era Perang Dingin di Utara dekat Rusia.

Dalam insiden April tahun ini, satu armada kecil kapal besar China mendekati sekelompok pulau yang disengketakan di Laut China Timur dan mengirim sebuah helikopter yang terbang di atas kapal angkatan laut Jepang yang sedang mengawasi gerakan mereka. Wilayah itu sering menjadi titik masalah antara Jepang dan China. Hubungan keuda negara telah sangat tegang sejak Jepang menangkap seorang kapten kapal pukat harimau China dekat rangkaian pulau yang disengketakan September lalu, yang memicu serangkaian protes dari Beijing.

Ketegasan China yang meningkat, khususnya di Laut China Selatan, juga telah menyebabkan kegugupan di antara negara-negara tetangga lainnya dan AS, yang juga berselisih dengan China karena masalah perdagangan dan keuangan.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 03 November 2010

Sengketa Wilayah Panaskan Asia

0



BEIJING, SELASA - Konflik perebutan wilayah di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara tampak semakin seru dan bakal terus memanas. Perseteruan tidak lagi hanya melibatkan dua negara raksasa Asia Timur, China-Jepang, tetapi juga beberapa negara di Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Rusia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di Hanoi menawarkan keinginan untuk menjadi penengah dalam penuntasan konflik Kepulauan Senkaku (versi Jepang) atau Kepulauan Diaoyu (versi China) di Laut China Timur.

Niat itu membuat China berang. Beijing menyebut ide itu salah total. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Ma Zhaoxu, Kepulauan Diaoyu adalah milik China. Klaim dan sengketa soal itu adalah urusan kedua negara.

”AS berkali-kali mencoba mengaplikasikan perjanjian pertahanan dengan Jepang ke dalam isu Kepulauan Diaoyu. Hal itu jelas salah. Kami mendesak AS segera mengoreksi posisi salah itu,” ujar Zhaoxu.

Salah satu perjanjian pertahanan Jepang-AS adalah kewajiban AS untuk melindungi Jepang jika terancam.

Sengketa wilayah China-Jepang sempat memuncak karena nelayan China memasuki dan menangkap ikan dengan leluasa di Senkaku. Kapten nelayan China ditangkap. Kemudian Perdana Menteri Jepang Naoto Kan melepas kapten itu tanpa dikenakan tuduhan apa pun.

Hal ini memicu kemarahan publik Jepang yang menganggap pemerintahnya ”lembek” menghadapi China.

Dengan China, Jepang belum selesai berurusan. Jepang menghadapi persoalan dengan Rusia. Presiden Rusia Dmitry Medvedev berkunjung ke Kepulauan Kuril, di dekat Kepulauan Hokkaido. Wilayah itu masih dipersengketakan. Jepang mengklaim empat pulau dari gugusan kepulauan itu sebagai wilayahnya.

Jepang berencana menarik sementara waktu Dubes Jepang untuk Rusia Masaharu Kono, seperti disampaikan Menlu Seiji Maehara.

Selama ini sengketa perbatasan yang dialami Jepang membuat pemerintahan PM Kan ”pusing kepala”. Popularitasnya pun turun. Dari jajak pendapat terakhir oleh surat kabar Nikkei, popularitas PM Kan turun sampai 31 poin dalam sebulan.

Taiwan perkuat diri

Kini Asia juga semakin repot dengan isu sengketa. Taiwan kini mengembangkan sistem rudal canggih. Setiap pelurunya mampu membawa ratusan bom klaster. Rudal ”Wan Chien” atau ”Sepuluh Ribu Pedang” itu juga bisa menghancurkan pelabuhan kapal laut, sistem radar, dan artileri serta pasukan musuh.

Taiwan mengeluarkan 97 juta dollar AS untuk membiayai pengembangan rudal itu. Menteri Pertahanan Taiwan berencana menginvestasikan 15 miliar dollar Taiwan dua tahun ke depan untuk menjadikan rudal itu sebagai bagian persenjataan jet-jet tempur sehingga bisa menyerang China dari jarak jauh.

Sumber: KOMPAS


Senin, 01 November 2010

Kunjungan Presiden Rusia ke Pulau Sengketa Picu Kemarahan Jepang

0

Kepulauan Kuril

KUNASHIR--MICOM: Presiden Rusia Dmitry Medvedev sampai di Kepulauan Kuril pada Senin (1/11), dalam kunjungan pertama pemimpin Rusia di wilayah yang menjadi pusat perselisihan sejak lama dengan Jepang.

Kunjungan yang dilakukan menjelang kedatangan Medvedev ke Jepang untuk pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) segera dikecam oleh Perdana Menteri Jepang Naoto Kan. "Jepang tetap dalam posisinya bahwa empat pulau Kuril Utara masuk ke dalam wilyah Jepang, kunjungan presiden Medvedev ke sana sangat disesalkan," kata Kan kepada parlemen.

Pemimpin Kremlin itu terbang ke pulau Kunashir tempai ia dijadwalkan mengunjungi stasiun energi panas bumi, bertemu dengan warga lokaL, dan melakukan inspeksi ke beberapa tempat konstruksi, kata seorang pejabat.

Kepulauan Kuril yang terletak di utara kepulauan Hokkaido telah berada di bawah wewenang Moskow sejak kepulauan tersebut direbut pasukan Soviet pada akhir Perang Dunia II namun Tokyo mengklaim empat pulau di bagian selatan masuk ke dalam wilyah Jepang.

Pada September, Medvedev menyebut pulau-pulau itu sebagai "wilayah yang sangat penting bagi negara kita" dan mengatakan bahwa "kami tentu akan pergi ke sana dalam waktu dekat" memicu peringatan dari Jepang mengenai hubungan yang dapat memburuk. Menteri Luar Negeri Jepang Siji Maehara merespon kunjungan itu sebagai kunjungan yang akan "sangat menyakiti hubungan kedua negara".

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada Sabtu bahwa kunjungan tersebut seharusnya tidak berdampak pada hubungan kedua negara. "Presiden merencanakan kunjungan domestik di wilayah negara kami secara independen," katanya menambahkan bahwa ia tidak melihat "hubungan" kunjungan tersebut dengan hubungan antara Moskow dan Tokyo.

Perselisihan itu telah mencegah Rusia dan Jepang menandatangani perjanjian perdamaian untuk secara resmi mengakhiri Perang Dunia II, menghambat perkembangan hubungan mereka. Sengketa di sekitar empat pulau di bagian selatan --yang dalam bahasa Rusia disebut Iturup, Shikotan, Habomai, dan Kunashir namun dikenal secara koletif di Jepang sebagai Wilayah Sebelah Utara.

Jepang telah menolak dengan keras saran yang menyebut Rusia akan memberikan dua dari empat pulau atau saran mengenai kedua negara dapat membangun empau pulau itu bersama-sama, berkeras agar keempat pulau dikembalikan.

Pada 1956, Uni Soviet menandatangani deklarasi yang menawarkan untuk mengembalikan dua pulau terkecil, namun pembicaraan tidak pernah berlanjut. Di bawah presiden Boris Yeltsin, Rusia kembali memunculkan rencana yang membuat geram kubu nasionalis dan komunis.

Presiden Vladimir Putin sejak 2004 beberapa kali memunculkan kemungkinan teoritis bahwa Rusia dapat menyerahkan dua dari empat pulau sengketa di Kepulauan Kuril kepada Jepang. Setelah Medvedev terpilih pada 2008, Jepang menyerukan kepadanya agar menunjukkan "keinginan kuat untuk mengatasi masalah ini," namun tidak ada terobosan yang tercipta.

Pada Oktober 2009, Maehara yang sebelumnya menjabat sebagai menteri pertanahan, mengulang kembali bahwa pulau-pulau itu telah direbut dengan "pendudukan ilegal", memicu kemarahan dari Moskow. Awal tahun ini, parlemen Jepang meloloskan Undang-undang yang menyebut pulau-pulau tersebut sebagai "bagian kesatuan" dari negara dan mengatakan parlemen akan "melakukan usaha pulau-pulau itu."

Kementerian luar negeri Rusia merespon hal tersebut dengan mengatakan UU itu "tidak dapat diterima". Pejabat tinggi Rusia, termasuk Lavrov telah mengunjungi pulau-pulau itu. Pada 2005, Parlemen Eropa mengadopsi resolusi yang mendesak Rusia mengembalikan pulau-pulau tersebut yang dinamakan Wilayah Sebelah Utara, kepada Jepang.

Sumber: MEDIA INDONESIA


China Dituduh Meniru "Lebensraum" Nazi

0

JAKARTA, KOMPAS.com - China memang terbilang agresif, terutama dalam konteks ”memperluas” wilayah teritorial. Boleh jadi hampir semua negara yang ”bertetangga” dengan ”Negeri Tirai Bambu” itu sudah pernah mengalami sikap China itu.

Jepang, Taiwan, dan sedikitnya lima negara (empat di antaranya negara anggota ASEAN) di kawasan perairan Laut China Selatan berseteru dengan China.

Jika China berebut gugus kepulauan Senkaku (versi Jepang) atau Diaoyu (versi China) di perairan Laut China Timur, di perairan Laut China Selatan China ”merebut” dua gugus kepulauan, Spratly dan Paracel, dengan Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Semua gugus kepulauan dan perairan itu kaya sumber daya alam dan menjadi jalur lalu lintas perekonomian dunia yang strategis.

Menanggapi agresivitas seperti itu, mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyamakan tindakan China saat ini seolah menerapkan prinsip dasar filosofi seorang Adolf Hitler, lebensraum atau ruang (untuk) hidup. Kecaman keras itu disampaikannya pada pertengahan Oktober saat berkunjung ke Washington, Amerika Serikat, seperti dikutip Bangkok Post.

Abe menyebutkan, sejak era 1980-an strategi militer China dilandasi konsep ”Perbatasan Strategis”. Ide tersebut dinilai sangat berbahaya karena mengartikan perbatasan dan zona ekonomi eksklusif sebuah negara ditentukan oleh kekuatan militer.

”Ada yang mengasosiasikan hal ini dengan konsep Hitler, lebensraum. Dalam konteks China, sepanjang ekonomi negara itu terus berkembang, dominasi soal wilayah juga akan bertambah,” ujar Abe.

Hitler percaya, bangsa Jerman layak mendapat ruang atau tanah kekuasaan (di luar Jerman), terutama di kawasan timur Slavia (Polandia), untuk hidup dan berkembang lebih besar. Menurut penilaian Abe, dalam isu perebutan wilayah, China tidak ada bedanya dengan Hitler.

Abe geregetan tidak hanya terhadap China, tetapi juga kepada pemerintahan PM Naoto Kan yang dinilai ”lembek” karena melepas kapten kapal nelayan China, yang ditangkap saat melanggar wilayah dan bahkan menabrak dua kapal patroli Jepang, beberapa waktu lalu.

Peringatan

Pada Minggu (31/10) Abe tiba di Taipei, Taiwan. Dia berkunjung bersamaan dengan peresmian jalur penerbangan baru Tokyo-Taipei. Abe telah dijadwalkan bertemu Presiden Taiwan Ma Ying Jeou. Tidak disebutkan apa tujuan kunjungan itu, tetapi diduga kuat Abe sedang mendekati Taiwan.

Selain itu, dalam pertemuan informal di sela-sela jadwal resmi Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Hanoi, Vietnam, Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi dan Menlu Jepang Seiji Maehara sepakat untuk ”berbaikan” dalam konteks sengketa wilayah.

Keduanya sama-sama menilai perlu untuk meningkatkan level pembicaraan ke tingkat lebih tinggi. Dalam KTT Ke-8 Pertemuan Asia-Eropa di Brussels, Belgia, beberapa waktu lalu, PM Jepang Naoto Kan dan PM China Wen Jiabao bertemu secara ”tak sengaja”, juga menyinggung isu sengketa wilayah itu.

Namun, masalah tak kunjung selesai. China adalah satu-satunya negara penghasil dan pengekspor utama mineral langka, yang sangat dibutuhkan oleh industri produk teknologi tinggi, terutama di Jepang. China menggunakan ”kartu truf” dengan menghentikan secara de facto ekspor mineral langka itu.

China membantah hal itu telah dijadikan sebagai ”senjata diplomatik”, terutama dalam menghadapi Jepang. Klarifikasi tersebut bahkan kembali dilontarkan oleh China melalui menteri luar negerinya saat bertemu Menlu AS Hillary Clinton di KTT ASEAN, kemarin.

Namun, kalangan industri di Jepang sudah telanjur ”menjerit” menghadapi ”kebijakan” yang dilancarkan China tadi. Tidak hanya itu, negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, pun ketar-ketir. Maklum, 97 persen pasokan mineral langka itu berasal dari China.

Menyikapi kondisi tersebut, Hillary memperingatkan para negara pengimpor mineral langka bahwa ”perilaku” China seperti itu harus dijadikan semacam peringatan dini atau sekadar wake up call agar bersama-sama mulai mencari alternatif sumber pasokan lain.

Seruan Hillary ada benarnya. Jika kondisi seperti sekarang terus berlarut-larut, Jepang bakal kehabisan stok mineral langka pada Maret atau April 2011. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Yoshikatsu Nakayama, beberapa waktu lalu.

Mengutip situs telegraph.co.uk, Pemerintah Jepang kini mulai mendekati sekaligus merancang kerja sama soal pertambangan mineral langka dengan Vietnam. Selain China, Vietnam memiliki cadangan mineral langka di dalam tanahnya. Jepang ingin mengamankan pasokan mineral itu.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 27 Oktober 2010

Jepang Antisipasi Ancaman Militer China

0

Kapal Selam Soryu Class Milik Armada Angkatan Laut Jepang

TOKYO, SELASA - Khawatir akan perkembangan kekuatan militer dan langkah ekspansif China di kawasan Asia Timur, Kementerian Pertahanan Jepang berencana menambah jumlah armada kapal selamnya dari 16 menjadi 22 kapal selam. Langkah itu ditempuh demi menyeimbangkan kekuatan armada Angkatan Laut China.

Namun, rencana penambahan kapal salam belum akan terealisasi karena pengajuannya baru dilakukan pada bulan Desember. Penambahan kapal selam diperkirakan akan berlangsung selama empat tahun ke depan.

Total armada kapal selam yang dimiliki Jepang setelah penambahan diyakini masih kalah jauh dari jumlah kapal selam yang dimiliki China.

Armada AL China diyakini memiliki setidaknya 60 kapal selam. Walau kalah jumlah, armada kapal selam Jepang diyakini punya kelengkapan lebih, dengan sistem persenjataan yang jauh lebih baik dan sulit dideteksi (radar) lawan.

Armada kapal selam Jepang itu juga dibantu armada kapal selam milik Amerika Serikat, yang sejak lama beroperasi di kawasan tersebut.

Saat ini kekuatan AL China telah menjadi yang terbesar di kawasan Asia. Peran AL China juga diperluas dari sebelumnya, seperti rencana mengambil alih Taiwan demi mendorong pengaruh China di Pasifik.

AL China juga sekaligus bertugas melindungi kepentingannya menjaga rute-rute maritim vital. Tugas-tugas signifikan AL China itu amat dimungkinkan mengingat kenaikan persentase anggaran belanja pertahanan China per tahun yang bisa mencapai angka dua digit.

Menurut seorang profesor hubungan internasional dari Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, Takehiko Yamamoto, langkah yang ditempuh Pemerintah Jepang menunjukkan adanya keinginan kuat negeri ”Matahari Terbit” itu untuk menandingi pertumbuhan armada perang AL China. Penambahan itu sekaligus juga bisa meningkatkan kerja sama operasi Jepang-Amerika Serikat.

”Para perencana militer Jepang benar-benar khawatir dengan perkembangan AL China yang saat ini tengah mengembangkan konsep Angkatan Laut Perairan Biru (Blue-Water Navy). Hal ini memungkinkan armada AL China bisa beroperasi lebih jauh dari garis pantai. Kondisi itu tentu saja menciptakan ketidakamanan (terutama bagi Jepang),” ujar Takehiko.

Takehiko menambahkan, situasi semacam itu tidak hanya akan menambah ketegangan, tetapi juga dapat memicu bentrokan di antara kedua negara di sekitar Kepulauan Okinawa di selatan Jepang. Di lokasi ini kapal-kapal selam armada AL China kerap terdeteksi.

Bisa benturan dengan AS

Potensi benturan serupa bisa terjadi hingga Guam, AS, yang juga menjadi pangkalan kapal-kapal selam negeri ”Paman Sam” di kawasan Pasifik.

Sikap Pemerintah China juga semakin keras atas AS. China mendesak AS untuk menjaga jarak dari kawasan perairan di sekitar Laut Kuning, Laut China Timur, dan Laut China Selatan. Negeri ”Tirai Bambu” itu mengklaim kawasan tersebut sebagai eksklusif miliknya. Sebelumnya China juga sangat menentang latihan militer yang digelar AS dan Korea Selatan di perairan Laut Kuning.

Kawasan perairan Laut Kuning terletak di sebelah timur laut pantai China. Pemerintah Beijing keberatan dengan latihan perang itu karena diikuti dengan kehadiran dan keterlibatan kapal induk AS, USS George Washington.

China menganggap hal ini sebagai sebuah provokasi yang serius. Hal itu sama artinya dengan AS menempatkan Beijing dalam jangkauan serangan jet-jet tempur F-18.TOKYO, SELASA - Khawatir akan perkembangan kekuatan militer dan langkah ekspansif China di kawasan Asia Timur, Kementerian Pertahanan Jepang berencana menambah jumlah armada kapal selamnya dari 16 menjadi 22 kapal selam. Langkah itu ditempuh demi menyeimbangkan kekuatan armada Angkatan Laut China.

Namun, rencana penambahan kapal salam belum akan terealisasi karena pengajuannya baru dilakukan pada bulan Desember. Penambahan kapal selam diperkirakan akan berlangsung selama empat tahun ke depan.

Total armada kapal selam yang dimiliki Jepang setelah penambahan diyakini masih kalah jauh dari jumlah kapal selam yang dimiliki China.

Armada AL China diyakini memiliki setidaknya 60 kapal selam. Walau kalah jumlah, armada kapal selam Jepang diyakini punya kelengkapan lebih, dengan sistem persenjataan yang jauh lebih baik dan sulit dideteksi (radar) lawan.

Armada kapal selam Jepang itu juga dibantu armada kapal selam milik Amerika Serikat, yang sejak lama beroperasi di kawasan tersebut.

Saat ini kekuatan AL China telah menjadi yang terbesar di kawasan Asia. Peran AL China juga diperluas dari sebelumnya, seperti rencana mengambil alih Taiwan demi mendorong pengaruh China di Pasifik.

AL China juga sekaligus bertugas melindungi kepentingannya menjaga rute-rute maritim vital. Tugas-tugas signifikan AL China itu amat dimungkinkan mengingat kenaikan persentase anggaran belanja pertahanan China per tahun yang bisa mencapai angka dua digit.

Menurut seorang profesor hubungan internasional dari Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, Takehiko Yamamoto, langkah yang ditempuh Pemerintah Jepang menunjukkan adanya keinginan kuat negeri ”Matahari Terbit” itu untuk menandingi pertumbuhan armada perang AL China. Penambahan itu sekaligus juga bisa meningkatkan kerja sama operasi Jepang-Amerika Serikat.

”Para perencana militer Jepang benar-benar khawatir dengan perkembangan AL China yang saat ini tengah mengembangkan konsep Angkatan Laut Perairan Biru (Blue-Water Navy). Hal ini memungkinkan armada AL China bisa beroperasi lebih jauh dari garis pantai. Kondisi itu tentu saja menciptakan ketidakamanan (terutama bagi Jepang),” ujar Takehiko.

Takehiko menambahkan, situasi semacam itu tidak hanya akan menambah ketegangan, tetapi juga dapat memicu bentrokan di antara kedua negara di sekitar Kepulauan Okinawa di selatan Jepang. Di lokasi ini kapal-kapal selam armada AL China kerap terdeteksi.

Bisa benturan dengan AS

Potensi benturan serupa bisa terjadi hingga Guam, AS, yang juga menjadi pangkalan kapal-kapal selam negeri ”Paman Sam” di kawasan Pasifik.

Sikap Pemerintah China juga semakin keras atas AS. China mendesak AS untuk menjaga jarak dari kawasan perairan di sekitar Laut Kuning, Laut China Timur, dan Laut China Selatan. Negeri ”Tirai Bambu” itu mengklaim kawasan tersebut sebagai eksklusif miliknya. Sebelumnya China juga sangat menentang latihan militer yang digelar AS dan Korea Selatan di perairan Laut Kuning.

Kawasan perairan Laut Kuning terletak di sebelah timur laut pantai China. Pemerintah Beijing keberatan dengan latihan perang itu karena diikuti dengan kehadiran dan keterlibatan kapal induk AS, USS George Washington.

China menganggap hal ini sebagai sebuah provokasi yang serius. Hal itu sama artinya dengan AS menempatkan Beijing dalam jangkauan serangan jet-jet tempur F-18.

Sumber: KOMPAS


Minggu, 24 Oktober 2010

GFI Bahas Dampak Militerisme Jepang

0

Pendudukan Tentara Jepang Di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Dampak militerisme Jepang di kawasan Asia Pasifik akan dibahas dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Global Future Institute pada 25 Oktober di Jakarta.

Menurut keterangan pers Global Future Institute (GFI) di Jakarta, Sabtu, aksi penjajahan Jepang di Indonesia selama tiga setengah tahun, pada 1942-1945, memberikan dampak yang begitu besar, terutama dalam hal kekerasan terhadap masyarakat sipil.

Kekerasan seperti perbudakan seks (jugun lanfu) dan kerja paksa (romusha) merupakan beberapa kasus yang sangat memilukan dan membekas bagi masyarakat Indonesia.

Seminar yang bertema "65 Tahun Kapitulasi Jepang Dalam Perang Asia Pasifik: `Comfort Women, Romusha, dan Sejarah Kelam Militerisme Jepang di Asia Pasifik`", berupaya mengkritisi aksi Jepang pada masa lalu dan prospek dari dampak yang berkembang saat ini.

Pada seminar itu akan dibeberkan fakta pada masa lalu dan penyelesaian penggantian pampasan perang oleh Jepang.

Selain itu, seminar ini juga akan membahas perkembangan militerisme Jepang saat ini yang meningkat sehingga diduga memanaskan konstelasi politik di Asia Pasifik.

Menurut keterangan, peningkatan militerisme Jepang saat ini juga diduga dipicu oleh modernisasi kekuatan militer China yang membuat AS sebagai sekutu Jepang di Asia mendesak Angkatan Bersenjata Jepang untuk mengimbangi penguatan militer China.

Seminar itu akan menghadirkan beberapa ahli sebagai pembicara, antara lain, Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, TM Hamzah Thayeb, wartawan Algemeen Dagblad, Hilde Janssen serta pejabat dari Ditjen Rehabilitasi Lanjut Usia Departemen Sosial.

Berkepentingan

GFI memandang Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia Pasifik yang sangat berkepentingan untuk mengingatkan kembali sepak-terjang militer Jepang maupun serangkaian tindak kejahatan perang yang dilakukan dalam kurun waktu antara 1942-1945.

Indonesia bukan satu-satunya negara di kawasan Asia Pasifik yang menderita sebagai korban dari militerisme dan kejahatan perang Jepang. Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Singapore, Filipina, Myanmar (Birma) dan Korea Selatan juga mengalami nasib yang sama.

GFI didirikan pada tanggal 11 oktober 2007. GFI berdiri atas prakarsa lima orang anggota pendiri: Hendrajit, Harri Samputra Agus, Adriyanto, Joko Wiyono, dan Hamzah Fansyuri.

Gagasan yang melatarbelakangi berdirinya GFI adalah karena saat ini dirasa perlu untuk memberdayakan politik luar negeri Indonesia di tengah-tengah semakin menajamnya persaingan berskala global di antara Negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Uni Eropa, dan Rusia.

Sebagai Negara yang sejak awal kemerdekaan menganut politik luar negeri yang bebas dan aktif, GFI beranggapan sudah selayaknya bagi Indonesia untuk mampu mengantisipasi perubahan-perubahan global di kemudian hari. Maka, GFI bertekad melalui program dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, menciptakan suatu situasi yang kondusif agar politik luar negeri Indonesia bisa ikut mempengaruhi perkembangan pada skala global dengan memobilisasi seluruh sumber daya nasional yang kita miliki.


Sumber: YAHOO


Jumat, 22 Oktober 2010

Jepang akan menambah enam kapal selam untuk armada AL nya

0

Kapal Selam soryu class II milik AL Jepang

Angkatan laut Jepang berencana menambah enam armada kapal selam baru, untuk dorongan kemampuan pertahanan karena meningkatkan kegiatan militer oleh tetangga China, menurut laporan pada hari Kamis.

Kementerian Pertahanan jepang ingin armada kapal selam yang lebih besar untuk meningkatkan kemampuannya untuk patroli terutama Cina Timur Laut, di mana baris teritorial dengan Cina sering meletus, Kyodo News, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya.

Rencana ini akan melihat ukuran dari peningkatan armada kapal selam dari 16 saat ini ke 22, kata Kyodo. Jiji Press melaporkan bahwa pelayanan yang dimaksudkan untuk memperluas armada untuk "lebih dari 20" kapal selam.

Rencana ini akan dijabarkan dalam program pertahanan dasar Jepang untuk fiskal 2011 sampai 2015, yang direncanakan akan disusun pada Desember, kata Kyodo.

Kementerian berencana untuk membeli satu kapal selam baru setiap tahun sementara memperpanjang masa dekomisioning kapal yang ada, kata Kyodo.

Kementerian sedang mempertimbangkan mempensiunkan kapal perang lain seperti penyapu ranjau, untuk meringankan dampak anggaran dari pembelian kapal selam, kata Kyodo.

Perubahan akan memberikan Jepang Maritime Self-Defense Force, sebagai angkatan laut secara resmi dikenal, kemampuan kapal selam terbesar dibanding setiap saat sejak pemerintah mengadopsi program pertahanan pertama tahun 1976, Kyodo menambahkan.

Seorang pejabat pertahanan Jepang menolak untuk mengomentari laporan, namun mengatakan kepada AFP bahwa pelayanan berencana untuk memperpanjang masa dekomisioning kapal selam yang ada.

Laporan datang pada saat ketegangan meningkat dengan Cina atas pulau-pulau yang disengketakan dan kegiatan peningkatan Beijing militer di wilayah itu.

Angkatan laut Cina telah semakin diperbanyak ke daerah-daerah dekat perairan teritorial Jepang dalam unjuk kekuatan oleh raksasa Asia yang sedang berkembang pesat.

Hubungan antara Tokyo dan Beijing sangat tegang setelah Jepang menahan seorang kapten kapal ikan Cina di dekat sekelompok pulau yang disengketakan di Laut Cina Timur enam minggu lalu, memicu aksi protes dari Beijing.

Dalam insiden tegang pada bulan April tahun ini, sebuah armada Cina dekat dengan kepulauan Jepang di Laut Cina Timur dan mengirimkan sebuah helikopter kapal angkatan laut Jepang pemantauan gerakan mereka.

ketegasan Beijing meningkat, terutama di Laut Cina Selatan, telah menyebabkan kegelisahan di antara negara-negara tetangga lainnya serta Amerika Serikat, yang juga bertentangan dengan Cina atas masalah perdagangan dan mata uang.

Sumber: space war


Sabtu, 16 Oktober 2010

Rusia Sepakati Kerja Sama Nuklir dengan Jepang

0

PLTN

MOSKOW--MICOM: Pemerintah Rusia menyetujui satu perjanjian kerja sama energi nuklir untuk penggunaan damai dengan Jepang, menurut pernyataan yang disiarkan dalam situs pemerintah Jumat (15/10).

Penandatanganan perjanjian pada Mei 2009 itu disebut sebagai terobosan dalam hubungan ekonomi antara kedua negara, yang secara teknik masih dalam status perang sejak tidak adanya traktat perdamaian resmi ditandatangani antara Moskow dan Tokyo setelah Perang Dunia II.

Sehubungan dengan kesepakatan itu, Rusia dan Jepang giat melakukan pertukaran informasi mengenai keamanan nuklir, kerja sama dalam pengembangan deposit uranium, merancang, membangun dan mengoperasikan reaktor-reaktor air-ringan, dan dalam pembuangan sampah nuklir.

Sergei Kiriyenko, yang memimpin perusahaan nuklir dikendalikan negara Rosatom, mengatakan bahwa perjanjian itu memuluskan jalan bagi pembangunan proyek patungan senilai miliaran dolar antara kedua negara.

Kesepakatan Rusia-Jepang itu ditetapkan untuk jangka waktu 25 tahun. Jika di antara kedua pihak tidak ada yang menarik diri dari perjanjian pada akhir jangka waktu, proyek patungan itu akan menjadi permanen.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Senin, 11 Oktober 2010

Jepang Tinjau Ulang Larangan Ekspor Senjata

0

F-2 Buatan Jepang-LM

HANOI, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Jepang Toshimi Kitazawa mengatakan ia akan berjuang untuk melakukan peninjauan ulang terhadap pelarangan ekspor senjata Jepang, seperti dilaporkan kantor berita Kyodo, tindakan yang dapat menambah ketegangan dalam hubungan Jepang-China.

Kitazawa juga menyebut "mencari kerja sama untuk meningkatkan keamaman maritim" dalam pertemuan dengan menteri pertahanan se-Asia Pasifik di Hanoi, dalam laporan pada Minggu (10/10/2010) malam.

Hubungan Tokyo-Beijing telah menegang setelah Jepang pada September menahan kapten kapal penangkap ikan China yang bertabrakan dengan kapal Penjaga Pantai Jepang di dekat kepulauan yang masih mereka sengketakan.

Kitazawa dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan China Liang Guanglie, Menteri Pertahanan Amerika Serika Robert Gates, dan tokoh lain pada Senin di sela-sela pertemuan menteri pertahanan se-Asia Pasifik di ibu kota Vietnam. Pembicaraan dengan Liang akan menjadi pertemuan tingkat menteri pertama sejak China menangguhkan pertemuan di tingkat tinggi sebagai respon atas penahanan kapten kapal warga negaranya.

Dua negara dengan tingkat perekonomian terbesar di Asia tersebut telah melakukan tindakan untuk meredakan ketegangan berkaitan dengan sengketa atas pulau tak berpenghuni di Laut China Timur, disebut Diaoyu dalam bahasa China dan Senkaku dalam bahasa Jepang. Nahkoda yang ditahan sudah kembali ke China setelah dibebaskan.

Kitazawa menyebutkan ia akan bicara kepada Gates kalau ia akan "berusaha untuk melakukan peninjauan ulang" atas larangan ekspor senjata Jepang, sebut Kyodo dalam laporannya pada Minggu malam.

"Kita tidak dapat hanya duduk dan menonton basis produksi pertahanan program teknologi kita merosot dalam situasi dimana kaki dan tangan kita terikat," Kyodo mengutip pernyataan Kitazawa.

Jepang memiliki larangan ekspor di hampir seluruh bentuk persenjataan. Usaha untuk menijau ulang larangan ini menghadapi penentangan dari dalam negeri pada masa lalu.

Sumber: KOMPAS




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin