Tampilkan postingan dengan label KAPAL INDUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAPAL INDUK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2011

Membaca Ambisi China di Lautan

0

Ist

Seorang tentara Angkatan Laut China berjalan melalui kapal rudal Varyag yang berada di dok Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China, 20 April 2010. Dalam waktu dekat, China akan meluncurkan kapal induknya yang dibangun dari kapal induk setengah jadi eks Ukraina.

Tahun 2011 akan menjadi tahun bersejarah bagi China. Jika tak ada perubahan rencana lagi, negeri Tirai Bambu itu akan meluncurkan kapal induk pertamanya, setahun lebih awal dari perkiraan.

Seorang pejabat pemerintah pusat China mengatakan kepada Reuters, kapal induk pertama China itu akan diluncurkan sekitar awal Juli. ”Periode sekitar tanggal 1 Juli, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Partai Komunis, adalah salah satu kemungkinan waktu (peluncuran kapal) itu,” tutur pejabat yang meminta tak disebut namanya ini.

China akan menjadi negara ketiga di Asia, setelah India dan Thailand, yang memiliki armada kapal induk. Namun, jangan bandingkan kapal induk baru ini dengan INS Viraat (berbobot 28.700 ton dalam kondisi muatan penuh; panjang 226,5 meter) milik India atau HTMS Chakri Naruebet (11.486 ton; 182,65 meter) milik Kerajaan Thailand.

Kapal induk China—yang menurut Jane’s Fighting Ships akan diberi nama Shi Lang, yakni nama laksamana China dari Dinasti Qing pada abad ke-17—berbobot 67.500 ton dengan panjang 300 meter. Dibandingkan dengan kapal induk super (supercarrier) kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, Shi Lang lebih pendek 32 meter.

Kapal ini dibangun dari bekas kapal induk Uni Soviet, Varyag, yang pembangunannya terhenti pada awal 1990-an seiring bubarnya negara adidaya komunis itu. Kapal ini sekelas dengan kapal induk Admiral Kuznetsov, yang masih menjadi satu-satunya kapal induk yang dioperasikan AL Rusia sampai saat ini.

Tahun 1998, sebuah perusahaan swasta Makau membeli kapal setengah jadi itu seharga 20 juta dollar AS dari Pemerintah Ukraina. Informasi awalnya, kapal ini akan dijadikan kasino terapung di pelabuhan Makau.

Namun, pada perkembangannya, kapal yang belum memiliki mesin, kemudi, dan perlengkapan komunikasi serta navigasi ini ternyata ditarik ke sebuah galangan kapal milik Pemerintah China di Pelabuhan Dalian, China timur laut.

Badan kapal yang mulai berkarat pun dibersihkan dan belakangan dicat dengan warna khas kapal-kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Diduga, China membangun sendiri kapal itu menjadi kapal operasional, sebagai bagian dari latihan sebelum memproduksi kapal induk yang 100 persen buatan China.

Jika disamakan dengan Admiral Kuznetsov, Shi Lang akan mampu mengangkut 41 pesawat, terdiri atas 17 pesawat sayap tetap (fixed-wing) sekelas Sukhoi Su-33 dan Sukhoi Su-25, dan 24 helikopter (rotary wing) sekelas Kamov Ka-27. China dikabarkan sudah memesan 50 pesawat Su-33, dengan spesifikasi mampu tinggal landas dari kapal induk, kepada Rusia.

Kapal ini belum menggunakan sumber tenaga nuklir dan tak memiliki sistem ketapel uap untuk meluncurkan pesawat, seperti kapal-kapal induk utama AS. Sebagai gantinya, di ujung geladak kapal dilengkapi dengan ski-jump, atau landasan yang menyudut ke atas, membantu pesawat ”meloncat” untuk mengudara.

Sebelumnya, Dinas Intelijen AL AS memperkirakan, kapal eks Varyag itu akan digunakan sebagai basis latihan pada 2012, sebelum China meluncurkan sendiri kapal induk buatannya setelah 2015. Menurut Michael Mazza, peneliti senior dari Center for Defense Studies (www.defensestudies.org), China berencana membangun empat kapal induk—dua kapal bertenaga nuklir dan dua kapal konvensional—dalam 15 tahun.

Peluncuran kapal induk berkekuatan penuh menandai era baru strategi militer China dan membuktikan ambisi lama negara itu untuk membangun kekuatan AL ”Laut Biru” (blue-water navy), yakni AL yang mampu beroperasi jauh ke tengah samudra, memproyeksikan kekuatan militer China jauh dari rumah.

Syarat keunggulan

Ambisi ini, menurut artikel yang ditulis Ian Storey dan You Ji di GlobalSecurity.org, sudah ada sejak era Laksamana Liu Huaqing, Panglima AL China dan Wakil Ketua Komisi Militer Sentral era 1980-an.

Menurut Liu, setelah China menguasai strategi ”Laut Hijau”, (kekuatan angkatan laut untuk mempertahankan laut teritorial dan garis pantai), China harus menguasai strategi ”Laut Biru”, dengan tujuan mampu memproyeksikan kekuatan hingga kawasan barat Samudra Pasifik.

Liu percaya, satu-satunya cara menjalankan strategi ”Laut Biru” adalah dengan memiliki armada kapal induk yang mampu membawa pesawat tempur, karena keunggulan di laut hanya bisa diraih melalui superioritas dari udara. Sementara gagasan pesawat yang tinggal landas dari wilayah China daratan dan dilanjutkan dengan mengisi bahan bakar di udara dianggap terlalu rentan dari serangan musuh yang mampu menerbangkan pesawat pemburu dari kapal induk mereka.

Namun, ambisi Liu ini tak bisa langsung dikerjakan waktu itu karena pada era 1980-an, Tentara Pembebasan Rakyat China masih konsentrasi menahan ancaman Uni Soviet. Baru setelah raksasa komunis itu bubar (1991), China bisa mengalihkan perhatian ke kawasan Laut China Selatan dan Taiwan.

China membutuhkan kekuatan laut yang tangguh untuk menghadapi konflik di kawasan selatan dan tenggara ini. Gagasan membangun AL ”Laut Biru” yang diperkuat kapal induk pun bangkit lagi.

Untuk mewujudkan ambisinya itu, China membeli tak kurang dari empat kapal induk bekas, yakni HMAS Melbourne dari Australia (dibeli tahun 1985) dan tiga kapal eks Uni Soviet/Rusia, yakni Minsk (1998), Varyag (1998), dan Kiev (2000). China berniat membangun sendiri kapal induknya dengan mempelajari rancang bangun kapal-kapal induk itu. Tawaran kontrak penjualan kapal induk dari Spanyol dan Perancis ditolak oleh China.

Sebelumnya, para pengamat militer menilai, proyek kapal induk China ini terlalu ambisius dan tak akan mampu berbuat banyak untuk menandingi armada kapal induk AS, satu-satunya potensi musuh utama China jika meletus konflik di Taiwan, Korea, dan Laut China Selatan. Alih-alih coba menandingi armada AL AS, pengamat memprediksi China akan menjalankan strategi perang asimetris, yakni dengan mengembangkan peluru kendali (rudal) pelumpuh kapal induk.

Generasi terbaru rudal balistik antikapal milik China, Dong Feng (Angin Timur) DF 21D, yang mampu melesat dengan kecepatan Mach 10 dan berdaya jelajah 3.000 kilometer, diperkirakan akan mulai diuji coba tahun ini dan akan operasional dalam 3-5 tahun mendatang.

Mengubah Asia Timur jauh

Namun, kabar bahwa China juga akan meluncurkan kapal induk pertamanya tahun ini membuktikan ambisi lama itu belum hilang dan pengembangan misil pembunuh kapal induk itu hanyalah satu bagian dari strategi besar China di lautan.

Meski China selalu berkilah program pengembangan militernya adalah untuk tujuan damai dan pertahanan diri, pengoperasian armada kapal induk oleh China tak bisa tidak akan mengubah peta kekuatan di kawasan Asia Timur-Asia Tenggara.

Mazza mengingatkan, kapal induk mewakili kemampuan memproyeksikan kekuatan, yakni membawa kekuatan militer keluar dari wilayah negara itu ke titik mana pun yang ia kehendaki. Jadi sudah tidak melulu menjadi kekuatan bertahan suatu negara.

Dengan klaim teritorial China terhadap Kepulauan Spratly dan Paracel di Laut China Selatan dan Taiwan, dukungannya terhadap Korea Utara, dan konflik teritorial panas dengan Jepang beberapa waktu lalu, pengoperasian armada kapal induk China akan makin menguatkan dugaan selama ini bahwa China tak akan ragu-ragu menggunakan ”diplomasi kapal perang” untuk memaksakan kehendaknya sebagai kekuatan dominan di kawasan.

Storey dan You menambahkan, negara-negara anggota ASEAN, terutama yang bersengketa langsung dengan China dalam urusan Spratly dan Paracel, akan memperkuat kerja sama militer dengan AS. Sementara Jepang hampir dapat dipastikan akan membangkitkan kembali program kapal induknya, yang pernah terbukti sangat menakutkan di era Perang Dunia II.

Kawasan Asia Timur Jauh pun memasuki realitas baru. Di tata dunia baru ini, akan berada di manakah posisi Indonesia?

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 11 Desember 2010

Dana Cekak, Proyek Kapal Induk Rusia Terbengkalai

0

MOSKOW--Informasi proyek armada angkatan laut Rusia diungkap oleh salah satu perwira tingginya, Jumat (10/12). Menurut si perwira, saat ini Moskow kekurangan anggaran untuk membentuk armada kapal induk baru seperti dijanjikan Kremlin.

"Program persenjataan negara untuk 2011-2020 tidak memadai untuk pembangunan kapal induk," kata seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan Rusia yang tidak mau disebutkan namanya kepada kantor berita Interfax.

Ia mengatakan pendanaan saat ini hanya memungkinkan militer merancang kapal induk tersebut namun tidak dilanjutkan dengan pembangunan kapalnya,

"Hanya kemudian -- setelah menyelesaikan rancangan canggih kapal induk -- dapatkah kita meneliti tentang keuntungan dibangunnya kapal tersebut," kata pejabat itu.

Uni Soviet memiliki lima kapal induk pada masa kejayaannya namun Rusia kini hanya tinggal memiliki satu, kapal induk Admiral Kuznetsov.

Hal tersebut sangat jauh dibandingkan dengan 11 kapal induk Amerika Serikat yang beroperasi dan enam kapal induk cadangan lainnya, ditambah tiga buah kapal kini sedang dalam masa pembuatan, menurut Dinas Riset Kongres AS.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan akan mengangkat pamor maritim negaranya sebagai salah satu program militer yang diumumkan dengan meriah pada 2008.

Kepala Staf Angkatan laut Vladimir Vysotsky mengatakan pada tahun yang sama bahwa Rusia berencana untuk membangun enam kapal induk baru -- masing - masing tiga armada untuk Samudra Pasifik dan wilayah utara Rusia.

Sumber: REPUBLIKA


Jumat, 19 November 2010

Komisi I : Indonesia Butuh Pesawat Tempur Dan Kapal Induk

0

illustrasi Kapal Induk Admiral Buatan Rusia

Komisi I DPR Bidang pertahanan akan mendukung pemerintah untuk mengevaluasi apakah mau atau tidak untuk menerima hibah f-16 dari AS, kata Anggota Komisi I.

"Jika pemerintah melakukan pengkajian untuk memutuskan akan menerima atau tidak menerima hibah tersebut, kita akan menerima keputusannya," kata anggota Komisi I DPR Nurhayati Ali Assegaf pada hari Kamis, seperti dilansir kantor berita Antara.

hibah tersebut harus tidak membebani anggaran negara, katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah harus membeli pesawat baru jika anggaran diperbolehkan.

Nurhayati mengatakan Indonesia membutuhkan pesawat tempur untuk menjaga wilayahnya dan kapal induk untuk mendukung misi kemanusiaan selama bencana.

Sumber : The Jakarta Post


Sabtu, 04 September 2010

USS George Washington Kunjungi Filipina

0

MANILA, KOMPAS.com - Kapal induk Angkatan Laut dari Armada ke-7 Amerika Serikat, George Washington, berlabuh di Teluk Manila pada Sabtu (4/9/2010) pagi untuk memulai kunjungan empat hari.

Militer Filipina menilai bahwa lawatan kapal induk AS itu akan meratakan jalan untuk memperkuat hubungan militer antara kedua negara.

Kapal induk pengangkut pesawat tempur yang membawa sekitar 5.000 anggota awak itu sebelumnya telah diberi izin oleh pemerintah Filipina untuk melakukan kunjungan dan disambut oleh para pejabat militer Filipina.

Para awak kapal itu akan berpartisipasi dalam sejumlah acara bersama rekan mereka dari Angkatan Laut Filipina, kata biro urusan publik kapal induk tersebut dalam satu pernyataan.

Para pelaut kapal induk juga akan mengadakan acara resepsi di kapal di kapal dengan mengundang para pejabat pemerintah dan militer Filipina.

Pada Agustus 2009, kapal induk George Washington juga datang ke Filipina untuk kunjungan serupa.

Selama kunjungan, sekitar tujuh juta dollar AS dihabiskan untuk biaya hotel, jalan-jalan di tempat wisata, belanja dan kegiatan lainnya, menurut departemen luar negeri Filipina.

Filipina adalah jajahan kolonial Spanyol sejak abad ke-16, dan Jenderal Emilio Aguinaldo mendeklarasikan kemerdekaan Filipina pada 12 Juni 1898 atas bantuan AS yang mendepak Spanyol dalam perang Amerika-Spanyol. Negara itu dijalankan sesuai hukum AS pada tahun yang sama dan diberikan pemerintahan sendiri pada 1935.

Negara itu diduduki oleh Jepang dalam Perang Dunia II dan hukum AS itu ditetapkan kembali setelah Jepang menyerah pada 1945. Setahun kemudian, pada 4 Juli 1946, Fiilipina menjadi negara merdeka.

Terdapat indikasi kuat bahwa AS ingin mengadakan kembali kehadiran militer di negara kepulauan di Pasifik itu setelah pemerintah AS sebelumnya pimpinan George W. Bush melancarkan perang anti-teror internasional menyusul serangan teroris pada 11 September 2001 terhadap AS.

Kendati AS sejauh ini belum menetapkan pangkalan militer di Filipina, pelatihan militer antara kedua pihak meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini.

Saat ini, sekitar 500 personel pasukan elite AS di tempatkan di kawasan Mindanao, Filipina selatan sesuai perjanjian "Visiting Forces Agreement" pada 1999.

Pasukan khusus dari unit-unit militer dan pertahanan AS itu berada di wilayah Filipina dalam waktu singkat untuk pelatihan militer yang disetujui oleh pemerintah Filipina dan AS.

Sumber: KOMPAS


Senin, 19 Juli 2010

Kapal Induk AS Merapat ke Korsel

0

SEOUL, KOMPAS.com - Sebuah kapal induk Amerika Serikat (AS) dan tiga kapal perusak akan mengunjungi Korea Selatan pekan ini menjelang latihan angkatan laut gabungan untuk menghadapi Korea Utara setelah tenggelamnya sebuah kapal perang Seoul.

Para pejabat, Senin (19/7), mengatakan, kapal induk USS George Washington yang berbobot mati 97.000 ton, yang berpangkalan di Yokosuka, Jepang akan tiba di kota pelabuhan Busan, Rabu, untuk persinggahan lima hari.

Tiga kapal perusak dari kelompok tempur kapal induk itu, termasuk USS McCampbell, juga akan mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Korsel pada hari yang sama. "Kedatangan kami di sini adalah satu bukti kekuatan aliansi kami dan kesiapan kami yang tetap untuk mempertahankan Korsea Selatan," kata perwira komandan kapal induk AS itu, David Lausman, dalam sebuah pernyataan.

Seoul dan Washington akan melakukan latihan perang bulan ini untuk menghadapi Korea Utara (Korut). Rincian-rincian menyangkut latihan gabungan yang telah direncanakan itu akan diumumkan pekan ini apabila Menteri Pertahanan AS Robert Gates dan Menlu Hillary Clinton mengunjungi Seoul.

Mereka akan melakukan perundingan dengan sejawat-sejawat mereka Rabu utuk menunjukkan solidaritas di tengah-tengah ketegangan dengan Korut menyangkut tenggelamnya sebuah kapal perang Korea Selatan, Cheonon, pada Maret lalu. Korsel dan AS sekutunya, yang mengutip hasil penyelidikan satu tim internasional, menuduh Korut mentorpedo kapal perang itu yang menewaskan 46 pelautnya.

Korut membantah terlibat dalam insiden itu dan mengatakan sebuah pernyataan Dewan Keamanan PBB pada 9 Juli-- yang mengecam serangan itu tanpa menyebut nama pelakunya, tidak benar.

Sumber: KOMPAS


Kapal Induk AS Merapat ke Korsel

0

SEOUL, KOMPAS.com - Sebuah kapal induk Amerika Serikat (AS) dan tiga kapal perusak akan mengunjungi Korea Selatan pekan ini menjelang latihan angkatan laut gabungan untuk menghadapi Korea Utara setelah tenggelamnya sebuah kapal perang Seoul.

Para pejabat, Senin (19/7), mengatakan, kapal induk USS George Washington yang berbobot mati 97.000 ton, yang berpangkalan di Yokosuka, Jepang akan tiba di kota pelabuhan Busan, Rabu, untuk persinggahan lima hari.

Tiga kapal perusak dari kelompok tempur kapal induk itu, termasuk USS McCampbell, juga akan mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Korsel pada hari yang sama. "Kedatangan kami di sini adalah satu bukti kekuatan aliansi kami dan kesiapan kami yang tetap untuk mempertahankan Korsea Selatan," kata perwira komandan kapal induk AS itu, David Lausman, dalam sebuah pernyataan.

Seoul dan Washington akan melakukan latihan perang bulan ini untuk menghadapi Korea Utara (Korut). Rincian-rincian menyangkut latihan gabungan yang telah direncanakan itu akan diumumkan pekan ini apabila Menteri Pertahanan AS Robert Gates dan Menlu Hillary Clinton mengunjungi Seoul.

Mereka akan melakukan perundingan dengan sejawat-sejawat mereka Rabu utuk menunjukkan solidaritas di tengah-tengah ketegangan dengan Korut menyangkut tenggelamnya sebuah kapal perang Korea Selatan, Cheonon, pada Maret lalu. Korsel dan AS sekutunya, yang mengutip hasil penyelidikan satu tim internasional, menuduh Korut mentorpedo kapal perang itu yang menewaskan 46 pelautnya.

Korut membantah terlibat dalam insiden itu dan mengatakan sebuah pernyataan Dewan Keamanan PBB pada 9 Juli-- yang mengecam serangan itu tanpa menyebut nama pelakunya, tidak benar.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 04 Mei 2010

Russia to upgrade Admiral Gorshkov for India on time

0


Russia will keep to the time period specified in the contract for the retrofit of the Admiral Gorshkov aircraft carrier for the Indian Navy, the head of Russia's united shipbuilding corporation said on Tuesday.

"We are catching up with the retrofit of the Admiral Gorshkov," Roman Trotsenko said. "We will fulfill the obligations Russia has undertaken."

The two countries have signed a deal on upgrading the Admiral Gorshkov aircraft carrier, following an earlier statement from the Indian government's security committee that it would allocate $2.3 billion to retrofit the ship.

The initial refit agreement of $750 million went up by an additional $1.5 billion. In line with the contract, the aircraft carrier will be handed over to India by 2012.

The Admiral Gorshkov is a modified Kiev-class aircraft carrier, originally named Baku. The ship was laid down in 1978 at the Nikolayev South shipyard in Ukraine, launched in 1982, and commissioned with the Soviet Navy in 1987.

It was renamed after the collapse of the Soviet Union in 1991. In 1994, following a boiler room explosion, the Admiral Gorshkov sat in dock for a year for repairs. In 1995, it briefly returned to service and in 1996 was finally withdrawn and put up for sale.

The ship has a displacement capacity of 45,000 tons. It has a maximum speed of 32 knots and an endurance of 13,500 nautical miles (25,000 km) at a cruising speed of 18 knots.

From: RIA


Selasa, 20 April 2010

Carrier Enterprise Back After Nearly Two Years

0

After two years in overhaul, the USS Enterprise - the U.S. Navy's oldest active aircraft carrier - returned to sea this weekend and, having successfully completed more than two days of sea trials, was redelivered to the Navy on Monday.
Tugs spray a salute as the Enterprise returns from successful sea trials on Monday. (Northrop Grumman)

"The trials went extremely well, the ship performed incredibly well," said Jim Hughes, Northrop Grumman's vice president for aircraft carrier overhauls. No new problems emerged during the trials, he noted. "We didn't walk away with any new work items, which is amazing."

The extent of the work needed to refurbish the ship grew almost from the moment it entered Northrop's Newport News, Va., shipyard in April 2008 for what was planned to be a 16-month overhaul, originally scheduled to end in August 2009. "Emergent and supplemental work" - the phrase used by Naval Sea Systems Command - meant the work package continued to grow, along with the money being spent to recondition the ship, which first entered service in 1961. The original $453 million budget was increased in leaps and bounds, topping out at nearly $662 million. At least a dozen supplemental contracts were issued to pay for the additional work - the last issued on April 15.

All that, the Navy says, to get one more full deployment out of the ship, which is now planned to be decommissioned in 2012.

"Enterprise is an extremely complex ship that required an extraordinary effort on the part of the shipbuilding team and the ship's crew to get her through the availability and back in the fight," Capt. Ron Horton, the ship's commanding officer, said in a news release.

The delays in returning Enterprise to service caused the fleet to rejigger other carrier deployments, with some ships forced to remain at sea a few weeks longer and others needing to shift deployment and overhaul schedules.

Overhaul work on the Big E included dry docking the ship, tank blasting and coating, hull preservation, propulsion and ship system repairs and limited enhancements to various hull, mechanical and electrical systems.

One continuing problem that contributed to the delays and cost growth was the need to rebuild far more motors on the ship than originally planned.

"We had to make new casings for pumps, make new motors," Hughes said, speaking by telephone Monday from the carrier as it returned to Newport News. "Turbine generators had been performing well coming in to the availability," he said, "but we had to pull motors and get them rewound. There were a lot of motor rewinds."

Another focus of the overhaul was the ship's steam power plant.

"Almost all of the major components on the steam propulsion plant got touched," Hughes said. "Those were the biggest things we didn't have a choice about."

The ship's six air conditioning plants also needed special attention, he said, as well as infrastructure like piping and electrical cabling. "Things that have been in there for 50 years, we really started to have some issues with that," he said.

The sea trials revealed no significant problems, Hughes said, and the ship was redelivered without any operational restrictions.

The carrier now will begin a series of equipment and crew certifications and begin training in preparation for its deployment, expected to take place next year.

From: DN


Rabu, 17 Februari 2010

Russia, India to sign additional accord on Admiral Gorshkov aircraft carrier

0


Russia and India are to sign an additional agreement on a contract to upgrade the Admiral Gorshkov aircraft carrying cruiser, a Russian military cooperation service top official said Monday.

"The document will be signed in February-March this year," deputy service director Alexander Fomin said.

Moscow and New Delhi had been wrangling over the final cost of the project to upgrade the aircraft carrier since Russia said it had underestimated the cost of modernization, and asked for an additional $1.2 billion, an amount India called "exorbitant."

Under the original $1.5-billion 2004 contract between Russia's state-controlled arms exporter Rosoboronexport and the Indian Navy, which includes delivery of MiG-29K Fulcrum carrier-based fighters, work on the aircraft carrier was to be completed in 2008.

In December, it was reported India would pay Russia $2.3 billion to refit the Admiral Gorshkov.

After long-running delays and disputes, India offered in February 2008 to raise the refit costs for the aircraft carrier, docked at the Sevmash shipyard in northern Russia for the past 12 years, by up to $600 million. Russia said it was not satisfied with the proposal.

The Admiral Gorshkov is a modified Kiev-class aircraft carrier, originally named Baku. The ship was laid down in 1978 at the Nikolayev South shipyard in Ukraine, launched in 1982, and commissioned with the Soviet Navy in 1987. It was renamed after the collapse of the Soviet Union in 1991.

In 1994, following a boiler room explosion, the Admiral Gorshkov sat in dock for a year for repairs. After a brief return to service in 1995, it was finally withdrawn from service in 1996 and put up for sale.

The ship has a displacement capacity of 45,000 tons. It has maximum speed of 32 knots and an endurance of 13,500 nautical miles (25,000 km) at a cruising speed of 18 knots.

Sumber: RIA


Russia, India to sign additional accord on Admiral Gorshkov aircraft carrier

0

Russia and India are to sign an additional agreement on a contract to upgrade the Admiral Gorshkov aircraft carrying cruiser, a Russian military cooperation service top official said Monday.

"The document will be signed in February-March this year," deputy service director Alexander Fomin said.

Moscow and New Delhi had been wrangling over the final cost of the project to upgrade the aircraft carrier since Russia said it had underestimated the cost of modernization, and asked for an additional $1.2 billion, an amount India called "exorbitant."

Under the original $1.5-billion 2004 contract between Russia's state-controlled arms exporter Rosoboronexport and the Indian Navy, which includes delivery of MiG-29K Fulcrum carrier-based fighters, work on the aircraft carrier was to be completed in 2008.

In December, it was reported India would pay Russia $2.3 billion to refit the Admiral Gorshkov.

After long-running delays and disputes, India offered in February 2008 to raise the refit costs for the aircraft carrier, docked at the Sevmash shipyard in northern Russia for the past 12 years, by up to $600 million. Russia said it was not satisfied with the proposal.

The Admiral Gorshkov is a modified Kiev-class aircraft carrier, originally named Baku. The ship was laid down in 1978 at the Nikolayev South shipyard in Ukraine, launched in 1982, and commissioned with the Soviet Navy in 1987. It was renamed after the collapse of the Soviet Union in 1991.

In 1994, following a boiler room explosion, the Admiral Gorshkov sat in dock for a year for repairs. After a brief return to service in 1995, it was finally withdrawn from service in 1996 and put up for sale.

The ship has a displacement capacity of 45,000 tons. It has maximum speed of 32 knots and an endurance of 13,500 nautical miles (25,000 km) at a cruising speed of 18 knots.

Sumber: RIA




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin