Tampilkan postingan dengan label Pesawat Bomber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Bomber. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010

PERLOMBAAN SENJATA Batas Itu Telah Tercapai?

0



Pesawat tempur F-22 Raptor milik Angkatan Udara AS terbang di atas Pangkalan Udara Kadena, Jepang, 24 Februari 2010. Departemen Pertahanan AS telah menghentikan pemesanan pesawat canggih ini karena harganya terlalu mahal dan tidak terpakai di medan tempur Irak dan Afganistan.

Dalam dunia persilatan dikenal pepatah di atas langit masih ada langit. Selama ini, pepatah tersebut seolah juga berlaku dalam perlombaan senjata di dunia. Namun, bahkan langit pun memiliki batas teratas.

Sebuah laporan di majalah The Economist edisi 28 Agustus ini mengungkap fakta, yang meski sudah bisa diduga dalam kondisi perekonomian dunia saat ini, tetapi tetap mengejutkan.

Negara-negara yang selama ini dikenal sebagai adidaya dalam hal militer, mulai memikirkan ulang strategi pengembangan persenjataan mereka karena biaya yang makin mencekik leher. Benarkah batas langit itu telah tercapai?

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Robert Gates telah memerintahkan penghentian produksi pesawat tempur F-22 Raptor, akhir tahun ini. Dengan demikian, total jumlah produksi pesawat tempur tercanggih itu hanya akan berhenti di angka 187 unit. Padahal, pada awal produksinya dulu, pesawat itu diperkirakan paling tidak akan diproduksi hingga 750 unit.

Di Eropa, pesanan untuk pesawat Eurofighter Typhoon, yang dikembangkan Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol, juga merosot. Hal yang sama juga dikhawatirkan terjadi pada proyek pesawat F-35 Joint Strike Fighter (JSF) yang dikembangkan bersama antara AS dan Eropa.

Krisis keuangan dunia, perubahan ancaman konflik global, hingga kemajuan teknologi sendiri menjadi beberapa faktor yang memicu negara-negara maju tersebut memikirkan ulang strategi militer mereka, termasuk dalam hal kelengkapan senjata.

Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg, minggu ini, mengumumkan akan memangkas jumlah personel angkatan bersenjatanya, dari sekitar 247.000 personel menjadi hanya sekitar 165.000 personel. Rencana ini adalah bagian dari rencana Jerman untuk menghemat anggaran pertahanan hingga sebesar 8,3 miliar euro (Rp 95,8 triliun) hingga 2014.

Keterbatasan

Menurut Guttenberg, pihaknya akan berkonsentrasi pada pengembangan pasukan yang kecil, tetapi berkualitas lebih baik dan lebih operasional.

Langkah serupa juga dilakukan Inggris, yang berencana memotong belanja pertahanan 10-20 persen dalam lima tahun mendatang. Spanyol juga menyatakan akan mengurangi hingga 9 persen dan Italia 10 persen.

Karena keterbatasan anggaran pertahanan, saat ini Perancis hanya mengoperasikan satu kapal induk, yakni kapal induk Charles de Gaulle. Inggris juga hanya mempertahankan dua kapal induk berukuran sedang, yakni HMS Invincible dan HMS Ark Royal, tetapi menurut The Economist, dua kapal tersebut sering berlayar tanpa membawa pesawat.

Di belahan lain Eropa, Belanda telah menghentikan program pengintaian maritim, Denmark telah meninggalkan armada kapal selamnya, dan negara- negara Baltik tidak lagi memiliki angkatan udara (AU) yang bisa diandalkan kecuali mengandalkan pesawat-pesawat dari sekutu NATO untuk mengamankan ruang udara mereka.

Amerika sendiri, sebagai pemimpin dan patron Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kewalahan mengelola pengeluaran militernya meski dengan anggaran pertahanan sebesar 700 miliar dollar AS per tahun (sekitar Rp 6,3 kuadriliun, atau hampir setara dengan anggaran pertahanan negara sedunia digabung jadi satu).

Gates mengatakan, ia akan mengurangi sedikitnya 50 perwira tingginya untuk menghemat biaya. Saat ini, angkatan bersenjata AS memiliki lebih dari 900 perwira tinggi setingkat jenderal dan laksamana. Selain itu, ia juga akan menghapus komando gabungan angkatan (joint-forces command), memotong anggaran para kontraktor, dan mengurangi staf di kantor departemen pertahanan sendiri.

Masalah biaya ini juga disebut-sebut menjadi salah satu alasan percepatan penarikan mundur pasukan AS dari Irak, khususnya untuk memusatkan tenaga dan biaya bagi perang di Afganistan.

Makin tinggi


Wajar saja negara-negara ini mengeluhkan anggaran pertahanan karena harga dan biaya perawatan persenjataan terbaru saat ini sama sekali tidak bisa dibilang murah, bahkan untuk ukuran kocek mereka.

Harga pesawat F-22 Raptor saat ini mencapai 160 juta dollar AS (Rp 1,4 triliun) per unit, atau 350 juta dollar AS (Rp 3,2 triliun) per unit jika termasuk ongkos pengembangan pesawat itu ke depan. Bandingkan dengan harga pendahulunya, F-16 Fighting Falcon, yang ”hanya” 50 juta-60 juta dollar AS (Rp 450 miliar) per unit.

Harga pesawat pengebom siluman B-2 Spirit lebih tinggi lagi, yakni sekitar 2 miliar dollar AS (hampir Rp 18 triliun) per unit. Itu sebabnya, AU AS akhirnya hanya membeli 20 unit B-2 dari total 132 unit yang direncanakan sebelumnya.

Harga pesawat (dan senjata berteknologi tinggi lain, seperti kapal perang) ini dari generasi ke generasi akan terus meningkat seiring dengan makin mahalnya teknologi yang harus dicangkokkan ke dalamnya. Peningkatan harganya bahkan disebut jauh di atas laju inflasi atau pertumbuhan produk domestik bruto negara produsen.

Dalam sebuah analisis, pakar industri penerbangan AS, Norman Augustine, pernah membuat ekstrapolasi harga pesawat tempur ini berdasarkan tren yang terjadi saat ini, dan kesimpulannya: ”Pada tahun 2054 seluruh anggaran pertahanan hanya cukup untuk membeli satu pesawat.”

Tidak terpakai

Selain mahal, pesawat-pesawat berteknologi tinggi ini belum tentu terpakai di medan perang yang sesungguhnya. Dalam rapat dengan Komisi Angkatan Bersenjata Senat AS dua tahun lalu, Gates mengatakan, F-22 Raptor belum pernah terpakai dalam satu misi pun selama perang di Irak dan Afganistan.

”Faktanya, kita saat ini menghadapi dua perang, di Irak dan Afganistan, dan pesawat F-22 itu belum pernah terpakai di satu misi pun dalam dua perang tersebut,” ungkap Gates, seperti dikutip majalah Time (www.time.com, 7 Februari 2008).

Alih-alih, para perwira tinggi militer AS di lapangan justru mengaku puas dengan performa pesawat tak berawak (drone atau UAV, unmanned aerial vehicle), yang berharga beberapa kali lebih murah dan tidak berisiko menewaskan pilot, dalam menghadapi gerilyawan Taliban di Afganistan dan perbatasan Pakistan.

Kekuatan udara AS memang tak terkalahkan dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan invasi ke Irak pada tahun 2003. Namun, begitu pasukan darat AS menduduki Irak selama 7,5 tahun kemudian, mereka tak mampu mengendalikan sepenuhnya kondisi di dalam negeri Irak sampai misi perang dihentikan hari Selasa (31/8) lalu.

Zaman memang sudah berubah sejak era Perang Dingin berakhir. Dulu, dalam konteks mencari perimbangan kekuatan, terjadi perlombaan senjata, baik dalam hal teknologi maupun jumlah, antara Blok Barat dan Blok Timur.

Kini, tanpa F-22 dan B-2 pun, kekuatan udara AS sudah tak ada yang menandingi di dunia ini, apalagi ”sekadar” untuk menyerang negara dunia ketiga, seperti Irak atau Afganistan.

Fakta terbaru ini mengingatkan, dalam perang, keunggulan teknologi dan anggaran melimpah belum tentu menjadi faktor penentu kemenangan.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 17 September 2010

HOT ISSUE Rusia Tawarkan TU22M3 Ke RI, Akankah Jadi DETERRENCE Di Asia?

0

Topik ini saya posting karena Ada Permintaan dari rekan-rekan Pembaca setia MAJU INDONESIA KU untuk itu saya akan posting sekilas tentang TU-22m3 Backfife

Tupolev Tu-22M3 Backfire C Bomber - Missile Carrier




Tupolev Tu-22M3 Backfire C merupakan Sebuah pesawat khusus. Secara konseptual, pesawat tersebut merupakan pesawat supersonik yang lebih besar untuk tahun 1960-an seperti rekannya RAF bomber V, dengan persenjataan yang lebih modern setara dengan RAF's Blue rudal Avro Steel Mk.1 supersonik. Backfire tetap dalam produksi hingga 1993, dan diberi jam terbang rendah, armada TU-22m3 Rusia masih memiliki jam terbang yang lebih sedikit daripada jam terbang armada AS B-1B Lancer.

Pendahuluan


Dengan paparan publik baru-baru ini turbofan Xian PLA H-6K cruise pembawa rudal Badger jelas bahwa PLA bergerak maju dengan perencanaan untuk membuat armada pembom strategis dengan mencapai lebih dari warisan H-6 varian Badger, di bawah naungan dari "Second Island Chain Strategy". Armada ini meliputi upgrade surplus Angkatan Udara Rusia pesawat Tu-22M3 Backfire C dan Tu-95MS Bear H, dan baru-baru ini sedang membangun Tu-160 Blackjacks. Pada tahun 2005 Kepala Staf Udara Angkatan Udara Rusia akan mengamati perkembangan pesawat Tu-22M3 Backfire C dan Tu-95MS Bear H dimana disisa produksinya akan di ekspor ke China

Dalam hal waktu untuk biaya penyebaran dan akuisisi, Backfire merupakan pesaing kuat dalam setiap flyoff yang kompetitif diantara pesawat sejenis. Bila mempunyai potensi dalam dampak strategis Backfire maka akan diupgrade kemampuannya terus menerus.



Tupolev Tu-22M3 Backfire C

Merupakan Varian terbaru dari Backfire dari generasi ketiga model Tu-22M3 Backfire C yang tetap diproduksi sampai 1993.

Asal-usul paling awal dari Backfire di TU-22 Tu yang sebelumnya bernama Blinder, yang digunakan untuk menyaingi B-58 Hustler milik AS.

Varian Backfire pertama merupakan subtipe Tu-22m-0, dimana menggunakan F-4 Phantom seperti pengaturan inlet, inlet terowongan yang panjang, sayap geometri variabel, dan sisi B-1A, tidak seperti tandem Tu-22 Blinder . Sepasang NK-144-22 fans afterburning, umum ski-144 Tu-Concord dipekerjakan. Backfire merupakan calon mewarisi Rudal supersonik Raduga tunggal Kh-22/AS-4 sebagai senjata utamanya. pengujian Penerbangan berkembang bersamaan dengan produksi yang masih terbatas, dan hanya 10 yang dibangun sampai akhir 1972.

Ketidakpuasan dengan Backfire baseline mengarah ke desain ulang luas, di bawah penunjukan Tu-22m-1 atau Backfire A. Aerodinamika yang disempurnakan, dan mengurangi berat sebasar £ 6.500, rentang mengalami peningkatan sebesar 60 inci dan merelokasikan pada bagian speedbrake. Tapi hanya di buat 9 pesawat sampai akhir 1972.

Tetapi tidak sampai situ saya, mereka memproduksi Tu-22m-2 atau Backfire type B ditunjuk 45-02, merupakan varian yang produksi secara massal. Dan lebih ringan £ 3000 dari Backfire type A , dan didukung oleh sepasang baru-22 mesin NK. Dengan dorongan lebih, Backfire B bisa mengangkat sampai dengan 24 ton senjata, termasuk muatan dari tiga Rudal Kh-22/AS-4. Pesawat membawa ekor kubah dengan dipasangkan-23 senjata NR, gunsight sebuah PRS-3 Argon-2 radar mulai dan remote TV. PNA-B Rubin / Down Beat radar serangan ini dirancang untuk memberikan lebih dari 300 derajat cakupan meniru instalasi HP Victor, dan dilengkapi dengan remote ventral bombsight TV yang diatur oleh Avro Vulcan. Dal'naya Aviatsia IOC dicapai pada tahun 1974, dengan resimen penerbangan AV-MF angkatan laut menerima Backfire B pada tahun 1976. Pada akhir produksi pada tahun 1983, tidak kurang dari 211 prototype dibangun.



Backfire type B dianggap tidak memadai dan desain awal mulai bekerja pada Tu-22M3 membaik atau Backfire C yang ditunjuk Pasal 45-03, dan terbang perdana pada tahun 1977, setelah melalui persidangan dari mesin-25 lebih kuat NK dalam badan pesawat Backfire B. Rancangan ulang sangat luas, termasuk beberapa penggunaan struktur titanium untuk mengurangi berat badan kosong, yang dipimpin oleh Biro Tupolev's Designer Wakil Kepala Boris E Levanovich. Perubahan yang paling terlihat adalah adopsi dari F-15 gaya menggenjot produksinya inlet, dan inlet tambahan direvisi. Kurang terlihat adalah perubahan desain sayap, memungkinkan menyapu 65 derajat, lebih dari varian sebelumnya. Mengubah bentuk hidung dan membentang dimasukkan desain probe revisi pengisian bahan bakar. perubahan lebih lanjut dilakukan untuk ekor vertikal, undercarriage, pistol paket defensif dan avionik. Selama pertengahan 1990-an penulis membahas Tu-22M3 dengan Levanovich, yang bersikeras bahwa produksi pesawat tempur memiliki radius hi-hi-hi dari 4.000 km (2.160 NMI) dengan muatan tiga Rudal Kh-22M/AS-4, yang jauh melebihi perkiraan Barat saat itu.



Kemampuan defensif terdapat di sektor belakang dimana di ekor pesawat terdapat barbette-9A-802, yang dilengkapi dengan senapan GSH-23 tunggal, dan PRS-4km ditingkatkan Kripton / Box Tail mulai kamera radar dan remote TV.

Selain itu perbaikan avionik yaitu dengan menggunakan Avtomat 3 Radar Receiver yang merupakan Peringatan dini, dengan varian internal KNIRTI SPS-171/172 Sorbstiya bertahap jammer wideband array (lihat gambar) dan AG-56 generator nosie otomatis juga dilakukan. SPS-171/172 ini diklaim menyediakan mode kebisingan dan penipuan jamming, dan tersedia berbentuk polong sebagai L-005 untuk Su-27/30. The uku-9A-802 barbette ekor itu dilengkapi dengan senapan GSH-23 tunggal, didukung oleh sebuah radar Kripton PRS-4km ditingkatkan / Tail Box mulai dan kamera remote TV. Perut dan punggung Rudal yang menggunakan inframerah L-082-UL seri MAK dengan Pendekatan Sistem Peringatan (MAWS) menara dipasang dibanyak pesawat.



merupakan kh-22



Merupakan Roket KH-22N





Desain Dalam Pesawat Tu 22m3 backfire


Designation
Type



TA-6
APU
TACh-1V
Automatic Fuel Balance Management System
NK-45
Navigation System
ABSU-145M
Autopilot
RV-5
Low Altitude Radar Altimeter (Dual)
RV-18G
Radio Altimeter
ARM-15M
ADF
ARK-U2
ADF
DISS-7
Doppler Nav
RSBN-PKV
TACAN
R-832M
UHF Comm
R-847
HF Comm
ARP-69
ILS
GRP/MRP-66
ILS



Leninets PNA-D
Attack Radar
SMKRITs
RORSAT Targeting Datalink Receiver (Molniya satcom)
OPB-15T
Remote Optical Bombsight
AFA-15
Strike Camera



Avtomat 3
Radar Warning Receiver (Ural suite)
SPS-171/172
Defensive ECM (Ural suite)
AG-56
ECM Automatic Noise Generator (Ural suite)
L-082 MAK UL
IR Missile Approach Warning System (Ural suite)
APP-50
Chaff/Flare Dispenser (Ural)
PRS-4KM Kripton
Tail Warning/Fire Control Radar
TP-1
Tail Warning/Fire Control TV System


Persenjataan TU 22M3 Backfire

Designation
Type



1 x Kh-22
Centreline ASCM on BD-45F Adaptor
2 x Kh-22
Outboard ASCM on BD-45K Adaptors
6 x Kh-15
ASCM on rotary launcher
4 x Kh-15
ASCM external stations
6-8 x Kh-55/65
ALCM external stations
1 x GSh-23
UKU-9A-802 barbette gun / 1200 rounds



BD-45F
Weapons Adaptor Kh-22 Centreline
BD-45K
Weapons Adaptor Kh-22 Wing Glove
MBD3-U9
Weapons Adaptor
BD6-105A
Weapons Adaptor
KD3-22RD
Weapons Adaptor
KD-3-22M
Weapons Adaptor
KD4-105AD
Weapons Adaptor



69 x FAB-100
250 lb dumb bomb
69 x FAB-250
500 lb dumb bomb
42 x FAB-500
1,000 lb dumb bomb
8 x FAB-1500
3,000 lb dumb bomb
2 x FAB-3000
6,000 lb dumb bomb
24 x FAB-500/8 x FAB-1500
1,000 lb/3,000 lb dumb bomb
24 x FAB-500/1 x Kh-22
1,000 lb dumb bomb/ASCM
42 x 500 kg naval mines
-
8 x 1500 kg naval mines
-

Perbandingan Backfire C terhadap F-111, Tu-160 Blackjack dan Tu-95MS Bear H



Posisi Backfire C antara F-111 dan B-1B dalam ukuran dan kemampuan, dan dengan kemungkinan upgrade senjata masa mendatang akan memberikan kemampuan serupa



Bagan ini membandingkan strategis Backfire terhadap tanker didukung F-111.Tanpa F-111, jumlah F/A-18As atau JSFs secara efektif dua kali lipat, dan tuntutan tanker hampir dua kali lipat. Jika nomor yang berguna dozen tiba di wilayah tersebut, rencana saat ini untuk struktur gaya RAAF akan menghasilkan kemampuan RAAF strategis tidak relevan dalam pertempuran.





Perjalanan Backfire C

Sumber di Eropa Timur mengamati bahwa Angkatan Udara Rusia telah direncanakan untuk beberapa waktu untuk melengkapi C Backfire dengan kemampuan presisi senjata konvensional, meniru tren yang sedang dikejar dengan armada bomber AS berat. Tidak ada laporan belum bahwa hal ini terwujud, karena situasi berbahaya anggaran Rusia wajah. Dengan pengalaman dari desain kaca kokpit Su-27SKM Legend dan yang lebih baru Su-35BM paket, tidak akan ada masalah untuk desainer Rusia dalam perkuatan kokpit kaca.

Sangat tidak mungkin bahwa Rusia akan setuju untuk ekspor-Kh 55 / AS-15 Kent cruise rudal strategis atau Kh-15A/R/S / AS-16 bantingan atau SRAM-ski sebagai bagian dari paket ekspor, meskipun anti -kapal Kh-65 telah ditawarkan untuk ekspor. Telah diketahui bahwa PLA diperoleh sampel Kh-55SM melalui Ukraina awal dekade.

varian konvensional dari Kh-22 itu tampaknya ditawarkan ke India dan tidak akan hadir ada masalah besar untuk ekspor. Memang, sebagai PLA-AF dan PLA-N baik mengoperasikan varian dari Styx / Ulat yang menggunakan mesin roket terkait erat dan propelan yang sama, Kh-22 akan sangat mudah bagi Tentara Pembebasan Rakyat untuk mendukung dan beroperasi. Kita tidak perlu heran jika PLA memilih untuk lisensi membangun Kh-22 seperti yang seharusnya cepat diasimilasikan diberi infrastruktur untuk memproduksi C-601/611. KH-22 tetap merupakan senjata anti-pelayaran yang tangguh dan dengan bimbingan presisi, serangan senjata tanah sangat potensial.

Integrasi perangkat keras pemanfaatan £ 1000 KAB-500L dan £ 3.000 bom KAB-1500L laser Paveway-ski dipandu akan relatif sederhana, bagi-FAB 1500. Adaptasi putaran sembilan yang ada-250 rak FAB untuk membawa enam KAB-500 adalah layak. Sebuah laser polong thermal imaging penargetan seperti Sapsan-E bisa dilakukan secara eksternal, tetapi juga dikemas ke dalam bombsight ada fairing bawah dek penerbangan, memanfaatkan layar masih ada Senjata Officer untuk bombsight OBP-15T remote. Pengaturan terakhir menawarkan drag lebih rendah dan bidang lebih baik hal, tetapi akan memerlukan integrasi jendela tambahan infra-merah transmissive, menghasilkan kemasan mirip dengan EOTS JSF. Seperti pengaturan mungkin akan menarik karena ganda sebagai hari / malam pemandangan thermal imaging untuk menggantikan OBP-15T, dan dengan integrasi lebih lanjut melalui HUD dapat memberikan kemampuan penetrasi malam.

Clearance api-dan-lupa KAB-500/1500Kr GBU-8-ski akan menyajikan sedikit kesulitan, namun retargeting bertingkat akan memerlukan tambahan kabel ke sarung tangan dan stasiun masuk perut. The GBU KAB-1500TK-15-ski akan membutuhkan integrasi polong Tekon APK-9, sudah dibawa oleh Su-30MKK dan Su-27SKU.

GPS baru / Glonass dibantu inertially dipandu KAB-500-an-E 'JDAM-ski berdasarkan kit-500 KAB saat ini sedang terintegrasi pada Su-27SKM, Su-30MK dan Su-35BM, dengan KAB-E tahun 1500-an-integrasi sekarang direncanakan. Senjata-senjata ini akan memerlukan perangkat lunak dan kabel perubahan untuk mengintegrasikan, dan pada dasarnya akan meniru kemampuan JDAM pada pembom AS berat.

Tidak ada hambatan mendasar untuk mengintegrasikan senjata KAB keluarga di C Backfire, dan prospek perkembangan dana PLA wishlist tersebut sebelum mungkin akan sangat menarik bagi kas RuAF kekurangan. Dapat dikatakan ini mungkin telah menjadi motivasi di balik RuAF perwira senior secara terbuka menganjurkan ekspor Backfire ke Cina.

sumber India mengklaim bahwa integrasi dari seri Krypton Kh-31/AS-17, diadopsi oleh PLA-AF untuk Su-30MKK, merupakan prospek mungkin untuk direncanakan dan kemudian dibatalkan India Backfire sewa C. Sebagai senjata persediaan untuk PLA-AF, itu adalah perkembangan lain mungkin. klaim serupa juga dibuat untuk Kharpunski Kh-35U, dan juga bisa diintegrasikan untuk bersama-sama kereta pada peluncur yang cocok. Varian dari rak bom yang ada dilengkapi dengan tandem-58 peluncur AKU akan dengan mudah mengakomodasi baik Kh-31 dan Kh-35U dalam konfigurasi drag rendah.

Hal ini diharapkan bahwa PLA-AF akan berusaha untuk membawa ALCMs direncanakan pada C. Backfire Karena senjata ini serupa dalam ukuran dan berat seri FAB/KAB-1500, pengaturan kereta yang sama eksternal diharapkan. Sebagai senjata Cina akan memiliki persyaratan perangkat lunak yang unik, kemungkinan besar akan kemudian selain daripada sebelumnya untuk setiap pesawat yang diekspor.


PLA-AF sudah mengoperasikan L-005 Sorbtsiya berbentuk polong dan kemungkinan bahwa upgrade blok dari jammer SPS-171/172 akan dilakukan untuk membawa mereka ke konfigurasi yang sama. Hal ini akan memberikan kesamaan yang cukup besar dalam basis dukungan, dan dalam mode pemrograman jamming ke firmware tertanam.

Jika sistem penargetan laser dipasang, akan ada tekanan jangka kecil dekat untuk meng-upgrade sistem radar serangan. Keadaan saat pembangunan radar multimode Rusia yang terbaik dicontohkan oleh B004 Leninetz bertahap array di bek-34 Su, dan Tihkomirov NIIP BAR dan yang lebih baru E Irbis di Flankers Su-30MK/35BM, semua yang telah Ground / Maritim Pindah Indikator target dan Synthetic Aperture Radar kemampuan resolusi tinggi pemetaan. Sebuah upgrade blok sinyal PNA-D dan data prosesor vs penggantian dengan radar Su-30 derivatif akan menyajikan sebuah dilema yang menarik bagi para perencana PLA-AF. Volume radome stabil gimbal dan fleksibilitas yang cukup besar hadiah untuk retrofits. Dari pilihan yang tersedia, yang paling ambisius jelas akan melibatkan mengintegrasikan varian gimballed dari B004 di bek's.

Hal ini sangat jelas bahwa PLA-AF akan memiliki berbagai pilihan dalam blok upgrade avionik dan upgrade senjata untuk Backfire C











Catatan kaki:

KH-22 Burya merupakan kontemporer dari Avro Blue Steel Mk.1 merupakan saingan terberat Strike Vulcan RAF. Rudal Soviet itu Namun lebih besar, lebih cepat dan lebih lama , dan berkembang di berbagai peran dan misi tidak seperti rudal Inggris, terbatas pada serangan nuklir





Tu-22M3 Backfire C MAKS 2005
Tupolev Bureau Images








Semoga salah satu penawaran Rusia kepada RI TU 22 M3 Backfire, bakal menhidupkan macan tidur asia dgn pengaktifan kembali squadron pembom jarak jauh TNI AU

Sumber: APA


Kamis, 10 Juni 2010

Russian strategic bombers complete record duration flight

0

Russian strategic bombers complete record duration flight

Two Russian Tu-160 Blackjack strategic bombers have carried out a record-breaking 23-hour patrol with a planned flight range of 18,000 kilometers (over 11,000 miles), an Air Force spokesman said on Thursday.

"This mission was the second maximum range flight ever conducted by this type of aircraft. A Tu-160 carried out a similar mission last year and stayed in the air for 21 hours," Lt. Col. Vladimir Drik said.

"The current mission set a record by exceeded the duration of the previous flight by two hours, managing around 23 hours with a range of 18,000 kilometers," the official said.

The bombers flew along the Russian borders and over neutral waters in the Arctic and Pacific Oceans.

They practiced instrumental flight and carried out two in-flight refuelings from Il-78 aerial tankers.

The planes landed at their base in Engels in the Volga region at 10.00 Moscow time (08.00 GMT) on Thursday.

The Tu-160 Blackjack is a supersonic, variable-geometry heavy bomber, designed to strike strategic targets with nuclear and conventional weapons deep in continental theaters of operation.

From: RIA


Jumat, 09 April 2010

Russian bombers conduct another Pacific patrol mission

0

Two Russian Tu-95MS Bear strategic bombers have carried out a routine patrol flight over the Pacific Ocean, the Defense Ministry said on Friday.

"Two Tu-95MS strategic bombers took off from Ukrainka Airbase on April 8 and carried out patrols over neutral waters in the Pacific Ocean and near the Aleutian Islands," Lt. Col. Vladimir Drik said.

During the 15-hour mission, the crews practiced instrumental guidance flights and in-flight refueling.

All flights by Russian aircraft are performed in strict compliance with international law on the use of airspace over neutral waters, without intruding in the airspace of other states.

However, the Russian bombers were shadowed by Canadian F/A-18 Hornet fighter jets during the patrols.

Russia resumed strategic bomber patrol flights over the Pacific, Atlantic and Arctic oceans in August 2007, following an order from then-President Vladimir Putin.

Ukrainka Airbase is one of the largest strategic air force bases in Russia's Far East.

From: RIA


Selasa, 23 Maret 2010

Pesawat Rusia Langgar Wilayah, Taiwan Berang

0


TAIPEI - Taiwan menuduh jika sebuah pesawat pembom Rusia memasuki wilayah udara mereka secara ilegal. Pemerintah Taiwan sendiri marah besar karena angkatan udara mereka gagal mencegah pesawat tersebut masuk ke wilayah mereka.

Radar Taiwan mendeteksi pesawat Rusia berjenis Tupolev TU-95 yang dapat membawa bom jarak jauh. Pesawat tersebut dideteksi sekira 285 kilometer timurlaut Taiwan pada 28 Januari lalu.

"Pesawat tersebut memasuki wilayah Taiwan sebentara," ungkap Kepala Angkatan Laut Taiwan Mayor Jenderal Wang Hsuan-Chou. "Kami mengira pesawat tersebut dianggap tidak berbahaya jadi mengatasinya dengan prosedur damai, yakni memintanya pergi dari wilayah udara Taiwan secara baik-baik," tambah Mayjen Wang seperti dikutip AFP, Selasa (23/3/2010).

Wang menyatakan, setelah diberi peringatan, pesawat tersebut akhirnya berbelok arah menuju Okinawa di Jepang. Namun Wang menolak berkomentar mengapa pesawat yang dapat memuat 15 ton bom, dianggap tidak berbahaya.

Pernyatan Wang tersebut langsung mengundang kritik dari parlemen Taiwan. Mereka bertanya-tanya mengapa Angkatan Udara Taiwan tidak mengirim pesawat tempur mereka untuk mengusir pesawat pembom tersebut. Parlemen Taiwan sendiri mengkhawatirkan kemungkinan pesawat tersebut dapat menjatuhkan berton-ton bom ke wilayah daratan Taiwan.

Menjaga wilayah mereka agar tetap aman merupakan tanggung jawab dari Militer Taiwan. Wajar jika mereka selalu dituntut untuk waspada, mengingat jarak Taiwan dengan rivalnya China hanya beberapa menit melalui jalur udara.

China sendiri memang masih menjadi ancaman laten bagi Taiwan. Negeri Tirai Bambu tersebut menganggap Taiwan sebagai provinsi mereka. China bahkan menyebutkan jika pihaknya tidak segan-segan untuk mengerahkan kekuatan militer mereka untuk merebut kembali Taiwan.

Sumber: OKEZONE


Sabtu, 20 Maret 2010

Russian strategic bombers complete 3-day efficiency drills

0


Russian Tu-95MS Bear strategic bombers have completed a series of efficiency drills, an Air Force spokesman said on Friday.

"During three-day exercises, Tu-95MS Bear strategic bombers and Il-78 aerial tankers practiced various types of flight drills, including in-flight refueling," Lt. Col. Vladimir Drik said.

The flights were conducted in poor weather conditions over the Arctic from air bases in Engels in the Volga region and Ryazan located in central Russia.

Russia resumed strategic bomber patrol flights over the Pacific, Atlantic and Arctic oceans in August 2007, following an order from then-President Vladimir Putin.

From: RIA




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin