Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

KSAU Ajak KPK Awasi Pembelian Pesawat

0

C-130 Milik Angkatan Udara Australia.

SLEMAN- Kepala Staff Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut mengawasi proyek pengadaan pesawat yang sedang dilakukan instansinya. Ajakan ini merupakan komitmennya dalam upaya pemberantasan korupsi. “Malah bagus karena saat ini era keterbukaan. Kami tentu juga butuh petunjuk agar tak terjadi kesalahan,” ujar Imam. disela-sela rapat pimpinan TNI AU di Gedung Sabang Merauke Kompleks Akademi Angkatan Udara Jogjakarta, kemarin (25/1).

Seperti diketahui, tahun 2011 ini TNI AU siap melakukan pengadaan sejumlah pesawat guna melengkapi kekurangan yang terjadi saat ini. Kucuran dana dari pemerintah akan dimaksimalka untuk pengadaan pesawat tempur berbagai jenis, baik pesawat tempur atau helikopter.

Menurut Imam, hingga tahun 2014 pemerintah menganggarkan hingga Rp 51 triliun untuk tiga angkatan bersenjata. TNI AU mendapat dana sekitar Rp 4 triliun pada tahun 2011. ”Dana inilah yang akan digunakan untuk melengkapi kekurangan sekaligus pemeliharaan pesawat,” paparnya.

Imam menjelaskan pembelian pesawat awalnya mengandalkan anggaran kredit ekspor. Namun hal itu dikurangi dan diganti pendanaan dalam negeri. Selama ini TNI AU selalu membeli pesawat dari luar negeri. Seperti produk Casa 212 dan Helikopter Puma. Selama ini stok di Indonesia tidak ada, sementara jika ada kerusakan maka pesawat grounded. Dan harus menunggu pesanan di luar negeri yang bisa makan waktu hingga lebih satu tahun. “Jika di Indonesia ada, dan cocok serta memenuhi kebutuhan, tentu kami akan gunakan produk dalam negeri,” katanya.

Tahun 2011 ini, kata Imam, TNI AU kembali akan memanfaatkan pesawat produk Industri Pesawat Terbang Negara (IPTN) misalnya helikopter Couger. Termasuk pesawat-pesawat latihan. Hanya saja untuk persenjataan dan amunisi masih harus impor dari luar negeri karena sangat rumit.

“Persenjataan itu riskan dan harus dilakukan uji fungsi dan kelayakan. Indonesia belum bisa buat itu, jadi terpaksa beli keluar negeri,” ucapnya.

Selain pembelian baru, TNI AU rencananya juga akan menerima hibah pesawat tempur jenis
F-16 dari Amerika Serikat. “Rencanya ada 24 unit F-16 yang akan dihibahkan. Kami masih menunggu jawaban pihak Amerika Serikat. Ini memang permintaan kami sejak tahun 2009 ,” paparnya.

Selain dari Amerika Serikat, imbuh Imam, Indonesia juga akan mendapat hibah dari Australia sebanyak 8

unit pesawat Hercules. Ia mengungkapkan akan melakukan pembicaraan soal hibah dengan petinggi angkatan udara Australia pada 27 Januari mendatang. “Pihak Australia akan hadir di Indonesia,” kata perwira tinggi TNI AU berpangkat bintang empat itu.

Kedelapan unit pesawat Hercules hibah dari Australia itu guna melengkapi armada milik TNI AU yang saat ini berjumlah 21 unit. Imam mengatakan jumlah pesawat pengangkut pasukan itu saat ini masih kurang, sedikitnya 9 unit. “Setidaknya butuh 30 pesawat Hercules. Dua unit untuk tangki, dua untuk VIP, dan sisanya mengangkut operasional pasukan sekitar 2 batalyon,” papar KSAU.

Mengingat dalam waktu dekat akan mendapat hibah 8 unit dari Australia, maka TNI AU hanya butuh 1 unit lagi pesawat Hercules. Lebih lanjut Marsekal Imam Sufaat , kebutuhan pesawat di Indonesia terbilang masih cukup besar untuk pertahanan negara. ”Jumlah pesawat yang dimiliki TNI belum ideal untuk pertahanan Negara,” tandasnya.

Sumber: RADAR JOGJA


Jumat, 14 Januari 2011

ARINC Melakukan Retrofit C-130 TNI AU Senilai $ 63.7 Juta

0

Hercules Milik TNI AU

ARINC - Annapolis(WDN/MIK) : LLC hari ini mengumumkan telah memenangkan kontrak sebesar $ 63.700.000 (USD) untuk memodernisasi lima Pesawat C-130B TNI AU. ARINC memenangkan tender karena penawaran yang kompetitif pada bulan Desember lalu.

Program retrofit ini mencakup modifikasi struktural dan elektronik dengan kemampuan baru dan teknologi pada airframes pesawat C-130B yang sudah berumur 30 tahun. Pekerjaan akan dilakukan oleh ARINC yang merupakan subkontraktor yang telah dipilih oleh Indonesia. Pekerjaan akan dimulai pada kuartal pertama 2011 dan diperkirakan akan memakan waktu 32-36 bulan. ARINC sendiri merupakan salah satu pemasok utama pesawat angkut Hercules untuk TNI AU.

Ini merupakan kontrak kedua ARINC yang telah diterima baru-baru ini untuk melakukan retrofit pesawat C-130B Milik TNI AU. Pada bulan Juli 2010, ARINC menerima kontrak dari U.S. Air Force Foreign Military Sales (FMS) untuk melakukan program pemeliharaan pada pesawat C-130H yang dulu pernah digunakan oleh Indonesia untuk bantuan bencana dan bantuan kemanusiaan. Dan pesawat tersebut saat ini sedang melakukan pemeliharaan modifikasi ARINC di Oklahoma.

"ARINC sangat senang untuk melakukan memodernisasi armada C-130B TNI AU tersebut karena digunakan untuk kemanusiaan," kata Michael Young, Wakil Presiden ARINC, Aerospace Systems Engineering & Support. "Kami berharap untuk memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan airlift TNI AU, dan membantu mereka untuk memenuhi tujuan-tujuan dan misi operasi."

"Kontrak ini menunjukkan berbagai penghargaan kemampuan ARINC atas kemampuan dan kemauan kita untuk menjadi pemimpin dalam mendukung militer," kata Rob Moore, ARINC Senior Direktur Pengembangan Usaha sistem ruang angkasa. ARINC telah menghabiskan sekitar 18 bulan untuk membawa proyek ini membuahkan hasil. "

ARINC Incorporated merupakan sebuah anak perusahaan dari Carlyle Group, menyediakan alat komunikasi, teknik dan solusi integrasi yang diperuntukan untuk komersial dan pertahanan negara di seluruh dunia. Dengan kantor pusat regional di London dan Singapura, yang berbasis di Annapolis, Maryland, ARINC memiliki sertifikat ISO 9001: 2008.

Sumber: ARINC


Rabu, 12 Januari 2011

Angkatan Udara RI-AS Mantapkan Kerja Sama

0

Ist

Jakarta: TNI Angkatan Udara dan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) akan terus memantapkan kerja sama terutama dalam bentuk pendidikan dan latihan bersama. Pemantapan kerja sama itu terungkap dalam kunjungan kehormatan Atase Udara AS untuk Indonesia, Kolonel Kevin A Booth ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Rabu (12/1).

Dalam pertemuan dengan Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI M. Nurullah, Booth menyampaikan keinginannya untuk dapat terus menjalin kerja sama yang makin erat dengan TNI Angkatan Udara yang telah berjalan baik selama ini. Pertemuan yang berlangsung tertutup itu juga membahas rancangan kerja sama dalam bentuk latihan bersama antarkedua pihak yang telah rutin dilakukan.

Kepala Penerangan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Mayor Sus Ali Umri Lubis mengatakan, salah satu latihan bersama yang rutin dilaksanakan adalah "Teak Iron" yang melibatkan pesawat angkut kedua angkatan udara. "Materi latihan bersama itu antara lain teknik penerjunan dan distribusi logistik, menggunakan pesawat angkut berat C-130 Hercules," katanya.

Di bidang pendidikan, kedua angkatan udara juga kerap melakukan pertukaran perwira untuk belajar di sekolah staf dan komando di masing-masing angkatan udara.

Sumber: METRO TV


Selasa, 11 Januari 2011

Pilot Akan Sapu Radius 60 Mil Laut

0

PADANG, KOMPAS.com — Pesawat Cassa NC-212 U-611 dari Skuadron Udara 600 Wing Udara 1 Puspenerbal Juanda, Surabaya, Selasa (11/1/2011) pagi ini, akan dikerahkan untuk mencari titik kapal ikan FV Sankara 02 asal Sri Lanka yang terombang-ambing di Samudra Hindia.

Untuk pencarian kapal yang dilaporkan mati mesin sejak 29 Desember 2010 itu, pesawat tersebut bakal menyapu radius 60 mil laut.

Kapten Laut (P) Moh Ramli yang memiloti pesawat tersebut, Senin malam, memastikan hal itu sekaligus mengoreksi jarak lokasi kapal itu dari Kota Padang.

Menurut Ramli, jarak lokasi terombang-ambingnya kapal itu dari Kota Padang diperkirakan sekitar 220 mil laut. "Pencarian akan dilakukan dalam radius 60 nautical mile," kata Ramli.

Kapal penangkap ikan sepanjang 36 kaki asal Sri Lanka itu terombang-ambing di tengah ganasnya Samudra Hindia akibat mesin mati sejak 29 Desember lalu. Posisi terakhir kapal bernama FV Sankara 02 dengan lima awak itu diketahui berada pada titik sekitar 230 mil laut arah barat daya Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yang dikoreksi menjadi 220 mil laut dari Kota Padang.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 04 Januari 2011

Korsel Tambah Kekuatan Pesawat Anti Kapal Selam

0

Pesawat pengintai P-3CK Korsel

SEOUL--MICOM: Korea Selatan (korsel) mengirimkan lima pesawat patroli anti-kapal selam untuk menjaga kemungkinan potensi serangan Korea Utara, menurut satu laporan Selasa (4/1), di tengah tingginya ketegangan di perbatasan laut yang disengketakan.

Pihak militer Sabtu mengirimkan lima pesawat pengintai P-3CK sebagai tambahan 11 pesawat anti-kapal selam yang telah beroperasi mematroli pantai timur dan lepas laut barat, kata surat kabar Joong Ang Ilbo.

Langkah itu "bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi kapal-kapal selam setelah terjadinya serangan kapal selam Korea Utara terhadap kapal perang Cheonan," kata surat kabar itu mengutip seorang pejabat militer.

Seoul, merujuk pada hasil investigasi multinasional, menyalahkan Pyongyang menorpedo kapal perangnya, Cheonan, pada Maret 2010, yang menewaskan 46 pelaut, namun tuduhan tersebut dibantah keras Korea Utara.

"Dengan pengiriman tambahan pesawat pengintai maritim itu kami bisa mengintensifkan pemantauan gerakan-gerakan kapal selam Korea Utara di Laut Timur dan Laut Kuning," kata pejabat itu.

Pesawat tersebut, yang dijuluki "pembunuh kapal selam" berkemampuan mendeteksi dan menyerang kapal-kapal selam, menjadi bagian dalam latihan-latihan militer besar termasuk pelatihan angkatan laut bersama dengan Amerika Serikat pada Juli lalu, menurut surat kabar itu.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Jumat, 31 Desember 2010

N219, Pesawat untuk Landasan Pendek

0

Replika N-219 (DS)

Penerbangan perintis masih akan menjadi andalan Indonesia untuk membuka keterisolasian daerah-daerah terpencil, baik yang ada di pegunungan maupun pulau-pulau kecil. Untuk itu, dibutuhkan pesawat komuter yang sesuai dengan kondisi geografis dan sosioekonomi setempat.

Banyak daerah terpencil di Indonesia yang memiliki landasan pacu pesawat terbang sangat pendek. Lokasi daerah yang berada di punggung gunung, seperti Papua atau pulau-pulau kecil yang sempit, membuat sulit dibangun landasan pacu yang panjang. Bahkan, akibat kendala geografis itu, banyak daerah yang masih sulit dijangkau dengan menggunakan pesawat-pesawat perintis sekalipun.

Saat ini terdapat 72 persen atau 715 bandar udara dan lapangan terbang di Indonesia yang panjang landas pacunya kurang dari 800 meter. Sebanyak 70 persen atau 60 pesawat perintis dengan kapasitas 9-20 penumpang sudah berumur di atas 20 tahun.

Penerbangan perintis itu menghubungkan 89 bandar udara atau lapangan terbang yang ada di 14 provinsi dan melayani 118 rute penerbangan. Setiap tahun, subsidi negara untuk menutupi biaya operasional penerbangan perintis itu mencapai Rp 240 miliar.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar di Jakarta, Selasa (28/12), mengatakan, kebutuhan pesawat berkapasitas 9-20 penumpang di Indonesia saja hingga 20 tahun mendatang mencapai 97 unit untuk penerbangan sipil dan 105 pesawat untuk keperluan khusus.

Pesawat N219

Menjawab kebutuhan akan pesawat kecil yang bisa menyesuaikan dengan berbagai keterbatasan kondisi geografis yang ada, PT Dirgantara Indonesia (DI) mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 penumpang. Pesawat ini dirancang sesederhana mungkin, tetapi tidak mengurangi aspek keselamatan penerbangan.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso menyatakan, jika pesawat N219 ini nanti terwujud, akan menjadi pesawat tercanggih di kelasnya. Desain pesawat sejenis rata-rata dibuat pada 1950-an.

Pesawat ini akan menggunakan teknologi era 2000-an. Beberapa kecanggihan yang ada dalam pesawat ini, antara lain, menggunakan desain dan analisis aerodinamik hasil penelitian terbaru, desain pesawat seluruhnya menggunakan komputer, serta penggunaan bahan rangka pesawat yang ringan tetapi tetap kuat.

Selain itu, pesawat juga dilengkapi dengan sistem navigasi penerbangan elektronik berbasis personal computer yang murah dan global positioning system (GPS). Dengan peralatan ini, ketika pesawat menghadapi cuaca buruk, hujan deras, ataupun awan tebal, posisi gunung-gunung yang ada di depan ataupun landasan pacu pesawat tetap dapat terdeteksi.

N219 mampu didaratkan pada landasan berumput sepanjang 600 meter. Adapun pesawat sejenis Casa C-212 hanya bisa mendarat di landasan sepanjang 800 meter, sedangkan DHC-6 Twin Otter bisa mendarat di landasan sepanjang 600 meter, tetapi kapasitas angkutnya lebih kecil.

Mesin pesawat yang menggunakan produk Pratt & Whitney ini dirancang untuk tetap berkinerja baik pada daerah dengan tekanan udara rendah dan suhu tinggi.

”Di pegunungan yang tekanan udaranya rendah dan kondisi suhu tinggi yang membuat kerapatan udara kurang akan mengurangi kinerja mesin. Pengurangan kinerja mesin N219 tidak sedrastis pesawat sejenisnya hingga membuatnya lebih stabil,” ungkap Direktur Aerostruktur PT DI Andi Alisjahbana.

Meski termasuk mesin pesawat generasi lama, Pratt & Whitney dipilih karena lebih banyak teknisi yang memahaminya dan suku cadang banyak tersedia. Jika digunakan mesin pesawat generasi baru, dipastikan perawatannya akan lebih susah dan mahal.

Walau demikian, keamanan pesawat tetap jadi prioritas. Posisi sayap dan mesin yang ada di atas membuat mesin cukup terlindung dari debu atau kerikil saat mendarat. Ban pesawat juga didesain tetap ada di luar pesawat, tak dimasukkan dalam badan pesawat saat terbang sehingga tidak perlu khawatir ban tak keluar saat akan mendarat.

Daya angkut dan jelajah

Kapasitas angkut pesawat juga lebih besar dibandingkan pesawat sejenis, yaitu 2.318 kilogram. Ini akan menjawab keluhan sejumlah penumpang di daerah pedalaman yang sering protes saat barang bawaannya tidak terangkut.

Jarak tempuh maksimal pesawat adalah 1.539 kilometer. Namun, pesawat dirancang untuk terbang beberapa kali (multi hop) pada jarak yang lebih pendek, sesuai karakter penerbangan perintis, tanpa perlu mengisi bahan bakar di setiap pemberhentian. Ini untuk mengantisipasi terbatasnya persediaan bahan bakar di daerah pedalaman.

Bagian dalam pesawat juga mudah diubah dalam waktu singkat untuk disesuaikan dengan kebutuhan, apakah akan mengutamakan angkutan penumpang atau barang. Pengubahan yang cepat ini memungkinkan penggunaan pesawat ini untuk angkutan evakuasi medik dari daerah bencana atau untuk keperluan militer.

”Pesawat ini merupakan jawaban atas cemoohan berbagai pihak bahwa PT DI (dulu Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN) hanya bisa membuat teknologi tinggi yang tidak bisa diaplikasikan sesuai kebutuhan bangsa,” ungkap Andi.

Pesawat yang kini dalam proses penyelesaian desain awal ini diharapkan dapat diproduksi pada 2013 dengan catatan tidak ada masalah pendanaan dalam pengembangan dan produksinya. Penggunaan pesawat N219 diharapkan dapat menggantikan pesawat-pesawat perintis yang sudah tua serta menjadi media alih teknologi dari ahli rekayasa dan teknisi pesawat era 1980- 1990 kepada generasi muda.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 30 Desember 2010

BPPT serahkan model N-219 ke Dirgantara

0

N-219

JAKARTA: BPPT menyerahkan hasil pengujian model aerodinamika pesawat N-219 kepada PT Dirgantara Indonesia setelah dikembangkannya sejak 2007.

Penandatanganan serah terima hasil uji coba Aerodinamika Model pesawat udaya N-219 tersebut, dilakukan hari ini oleh Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar dengan Direktur PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso.

Budi menuturkan pesawat baru ini merupakan alat pengangkut untuk jangka pendek dengan 19 penumpang. Bisa gunakan di daerah-daerah yang sulit dilewati pesawat besar, yang harus mendarat di landasan yang luas dan besar.

"Program ini penting, sebagai jembatan bagi generasi insinyur kita untuk membuat pesawat baru dari N-250, kini menjadi N-219. Tiap satu generasi perlu media pekerjaan, di mana generasi yang lama bisa alihkan ilmunya ke generasi berikutnya. Kalau tidak, akan muncul gap yang lama dan hilang," ungkapnya.

Dia mengatakan generasi pembuat N-219 ini adalah penerus dari orang-orang yang sudah dilatih oleh BJ Habibie dulu. "Diharapkan mereka akan memberikan ilmunya kepada generasi lebih muda. Dan mudah-mudahan generasi berikutnya ini bisa mendesain pesawat perintis yang lebih bagus lagi," lanjut Budi.

Kepala BPPT Marzan menuturkan pengujian pesawat udara ini dilakukan di Laboratorium Aero-Gasdinamika dan Getaran BPPT di Serpong. "BPPT dengan SDM dan fasilitasnya mendukung pelaksanaan rancangbangun pesawat N-219, melalui kegiatan pengujian. Sementara PT DI berdasarkan kemampuan dan pengalamannya melakukan desain dan memproduksi N-219 ini," ujarnya.

Menurut Marzan, N-219 ini dirancang menyesuaikan kondisi geografis Indonesia, yang merupakan negara kepulauan, mempunyai banyak gunung dan berbukit-bukit. Ditambah lagi dengan karakteristik infrastruktur di daerah pedalaman, misalnya landasar pendel dan terbatas.

Pesawat turboprop 12-19 penumpang ini, katanya, mempunyai potensi pasar yang sangat besar, terutama di negara-negara Asia Pasifik, yang mempunyai banyak airport kecil.

Berdasarkan hasil penelitian oleh DI dan Kementerian Perindustrian, ujar Marzan, potensi kebutuhan pesawat kapasitas 19 penumpang versi sipil di Indonesia mencapai 97 pesawat. Sementara kebutuhan versi special mission di Indonesia mencapai 105 pesawat.

"Sekarang yang perlu dipikirkan adalah darimana dana untuk memproduksinya, yang diperkirakan 25 unit pesawat membutuhan biaya sekitar Rp1 triliun. Untuk itu perlu dibicarakan bersama para pemangku kebijakan terkait. Mudah-mudahan 2012 bisa terwujud N-219."

Sumber: BISNIS


Selasa, 14 Desember 2010

Melintas Tanpa Izin Pesawat Malaysia Ditahan di Surabaya

0


Pesawat BAE 146-200

SURABAYA, KOMPAS.com — Sebuah pesawat carteran dari Malaysia diamankan di Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya, Selasa (14/12/2010) sekitar pukul 17.00. Pesawat itu diamankan karena diduga melintas di wilayah udara Indonesia tanpa izin.

Hingga sekitar pukul 19.00 tadi, penumpang pesawat masih berada di bandara untuk dimintai keterangan. Petugas masih mencari data dan identitas pesawat, serta para penumpangnya. "Benar ada pesawat yang melintas tanpa izin. Sekarang masih diperiksa," kata Komandan Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut Juanda Kolonel Laut (P) Supranyoto saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Pesawat tersebut terbang dari Dili dengan tujuan Kuala Lumpur, Malaysia. Namun, pesawat melintas tanpa izin dan kini diperiksa di Bandara Juanda, Surabaya. Dia belum mengetahui persis, baik mengenai jumlah penumpang pesawat maupun identitas masing-masing. Hal ini karena pihaknya hanya membantu proses pemeriksaan. Sementara itu, penanganan kasus berlangsung di Pangkalan TNI Angkatan Udara Surabaya.

Secara terpisah, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Surabaya Kolonel (Pnb) Johannes Berchmans SW enggan memberi komentar. Menurut dia, kasus tersebut masih bersifat tertutup. Dia juga belum berkenan membeberkan identitas pesawat dan para penumpangnya.

"Belum tahu, belum tahu siapa saja di sana. Masih akan kami data," ujarnya singkat.

Berdasarkan Informasi yang beredar, pesawat carter berjenis BAE 146-200 itu mengangkut keluarga Kerajaan Melaka, Malaysia. Penahanan dilakukan atas perintah Kementerian Luar Negeri karena tidak adanya diplomatic clearance, security clearance, dan flight approval.

Sejauh ini belum diperoleh konfirmasi dari pihak Kementerian Luar Negeri. Telepon genggam Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene tidak bisa dihubungi.

Sumber: KOMPAS


Senin, 06 Desember 2010

PT DI Akan Produksi N-219 Pada Tahun 2013

0

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah menargetkan memroduksi prototipe pesawat perintis berkapasitas relatif kecil untuk menghubungkan daerah-daerah yang tidak bisa diakses jalur darat mulai 2013.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Bappenas, Kementerian Perhubungan dan BPPT terkait produksi pesawat jenis N219 yang isinya 19 penumpang yang bisa mendarat pada landasan sederhana paling tidak tahun 2013," kata Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan, PT Dirgantara Indonesia paling tidak akan ditugasi membangun dua unit pesawat jenis berharga sekitar 3,8 juta dolar AS per unit tersebut tiga tahun mendatang.

Menurut dia, pemerintah sekurang-kurangnya harus mengucurkan modal awal sebesar 40 juta dolar AS untuk produksi awal pesawat yang dirancang mengangkut orang dan barang tersebut.

"Kalau menurut PT DI, untuk mencapai BEP (break even point) harus menjual 27 pesawat. Modalnya sekitar 250 juta dolar AS, tapi untuk modal dasar pembangunan butuh 40 juta dolar AS," katanya.

Pemerintah, kata dia, juga akan menyiapkan skema subsidi untuk operasi pesawat-pesawat penumpang berkapasitas kecil itu di daerah-daerah baru yang belum terakses moda transportasi darat dan laut.

"Mungkin nanti akan ada subsidi untuk tiket atau avtur," katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dan maskapai penerbangan membeli pesawat-pesawat kecil produksi PT Dirgantara Indonesia tersebut dan mengoperasikannya ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan keterhubungan antarwilayah dan selanjutnya memicu pertumbuhan ekonomi daerah-daerah yang sebelumnya terasing karena keterbatasan akses transportasi.

"Pemerintah mendorong ini karena jumlah pesawat yang beroperasi ke daerah-daerah yang ada di Papua, Sulawesi, dan Sumatera cenderung makin sedikit, padahal masyarakat di daerah sangat membutuhkan," demikian Soerjono.

Sumber: ANTARA


Kamis, 02 Desember 2010

5 Pesawat Hercules Latihan Terbang Formasi

0



MALANG (Pos Kota) – Dengan meningkatnya kesiapan pesawat C-130 Hercules yang dimiliki, maka Skadron Udara 32 melaksanakan training formasi 5 pesawat dengan tujuan untuk meningkatkan dan memelihara kemampuan awak pesawat Skadron Udara 32 yang dilaksanakan sejak Selasa hingga Kamis (2/12) ini.

Adapun kesiapan pesawat C-130 B/H/BT yang berada dibawah perawatan Skadron Udara 32 sebanyak 6 pesawat, masing-masing dengan Nomor registrasi A-1305, A-1308, A-1313, A-1315, A-1316 dan satu pesawat tanker dengan nomor registrasi A-1310, yang memiliki kemampuan pengisian bahan bakar di udara (air refueling).

Formation Flight dengan Call sign “HERKY FLIGHT” ini, berada dibawah supervisi Komandan Lanud Abdulrachman Saleh, Marsekal Pertama TNI A. Dwi Putranto dengan bimbingan Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Kolonel Pnb Eko Dono Indarto, S.IP., pesawat pertama dengan Nomor registrasi A-1315 diawakioleh Komandan Skadron Udara 32, Letkol Pnb Wayan Superman, serta Kapten Pnb Dodik Supriyanto dan Kapten Pnb Miftahul Hidayat selaku Flight Leader.

Pesawat kedua dengan nomor registrasi A-1305 diawaki oleh Kepala Seksi Operasi Skadron Udara 32, Mayor Pnb R. Kusmayadi dan Kapten Pnb Ari Susiono berperan sebagai Deputy Lead. Pesawat ketiga dengan nomor registrasi A-1308 diawaki oleh Kepala Ruang Operasi Lanud Abdulrachman Saleh, Letkol Pnb M. Arifin dan Kapten Pnb Taufik Nur Cahyanto.

Sedang pesawat keempat yang juga sebagai leader Elemen 2 dengan nomor registrasi A-1316 diawaki oleh Kepala Seksi Operasi dan Latihan Lanud Abdulrachman Saleh, Mayor Pnb Hermawan Widhianto dan Kapten Pnb Suryo Anggoro, dan pesawat terakhir atau kelima dengan nomor registrasi A-1313 diawaki oleh Komandan Flight Ops B Skadron Udara 32, Mayor Pnb Sugeng Budiono dan Kapten Pnb Heru Wardhana.

Secara psikologis, pelaksanaan penerbangan formasi ini telah memberikan kebanggaan tersendiri kepada personil Skadron Udara 32. Kerja keras anggota Skadron Udara 32 di bawah kendali Kepala Seksi Pemeliharaan Skadron Udara 32, Mayor Tek Sidik Dhani B.N., telah menunjukkan hasil yang nyata, yaitu 6 pesawat yang siap terbang dan siap operasi. Tiada kebanggaan yang lain dari personil Skadron Udara 32, selain menyaksikan pesawat yang mereka rawat berhasil mengudara dan dapat melaksanakan misi penerbangan.

Sumber: POS KOTA


Selasa, 30 November 2010

Penerbang TNI AU-Singapura Tempur di Udara

0


JAKARTA (Pos Kota) – Pertempuran udara (Dog Fight) antara penerbang-penerbang tempur TNI AU dan RSAF baik satu lawan satu maupun satu lawan dua akan terjadi di wilayah udara Rembiga NTB.

Pertempuran tersebut dilakukan dalam Latihan bersama (Latma) dengan sandi ”Elang Indopura 16/10” antara TNI AU dengan Republic of Singapore Air Force (RSAF) di Lanud Ngurah Rai Bali, selama dua minggu.

Dalam Air Manuver Exercise (AMX) TNI AU mengerahkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, sedangkan RSAF mengerahkan pesawat jenis F-16 Fighting Falcon Blok D yang berpangkalan di Tindal Air Force Base (AFB) Australia dan F-5 Tiger.

Tujuan latihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para penerbang tempur dalam melaksanakan operasi udara bersama dan kerjasama kedua negara khususnya kedua Angkatan Udara.

Sebelum pelaksanaan AMX dilakukan penerbangan Observasi pengenalan wilayah latihan dengan Route Ngurah Rai-Rembiga.

Selain F-16 TNI AU dan F-16 serta F-5 RSAF, kedua Angkatan Udara juga menyiapkan pesawat lainnya diantaranya, TNI AU juga menyiapkan pesawat F-5 Tiger II dan SU-30 MK sebagai pesawat escort dan RSAF menyiapkan F-15 SG, serta didukung pesawat angkut C-130 Hercules dan pesawat helikopter SAR SA-330 Puma.

Sebelum pelaksanaan AMX, telah dilaksanakan pula kegiatan Command Post Exercise (CPX) selama empat hari (19-22/10) di Payalebar Air Force Base Singapura.

Sumber: POS KOTA


Sabtu, 27 November 2010

Venezuela Beli 12 Pesawat Transpor China

0

Pesawat Angkut Y-8

KARAKAS--MICOM: Venezuela berencana akan membeli 12 pesawat transpor Y-8 dari China, kata seorang pejabat militer senior, Jumat (26/11), yang menambah satu daftar pembelian peralatan pertahanan dari negara Asia itu.

Mayjen Jorge Oropeza mengatakan pemerintah sedang merundingkan pembelian antara 10 dan 12 pesawat transpor jarak menengah yang memiliki jangkauan terbang 7,5 jam.

"Pesawat-peswat Y-8 ini akan menambah operasi-operasi kami dengan Hercules C-130," katanya. Jangkauan terbang pesawat-pesawat itu meluas di seluruh Amerika Selatan dan ke Spanyol.

Ia tidak mengungkapkan dana bagi pengadaan pesawat-pesawat itu.

Presiden Venezuela Hugo Chavez telah membeli perangkat keras militer miliaran dolar Amerika Serikat dari Rusia dan China untuk mengganti peralatan yang sudah usang.

Embargo senjata yang diberlakukan Amerika Serikat menyebabkan armada udara Venezuela tidak bisa diperbaiki.

China tahun ini mengirim 18 jet latih K-8 ke negara Amerika Selatan itu dan juga menjual satu jaringan radar.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 24 November 2010

CN 235 Pesanan KCG Terbang Perdana

0

Pesawat CN 235 pesanan Korean Coast Guard.

BANDUNG, KOMPAS.com - Tepat pukul 09.25, Rabu (24/11/2010), pesawat pertama CN 235 pesanan Korean Coast Guard (KCG) melakukan penerbangan perdana di Lanud Husein Sastranegara Bandung. Ini merupakan satu dari empat CN 235 pesanan Korea Selatan untuk tahap kedua dari PT Dirgantara Indonesia (DI). Pada pembelian tahap pertama, Korsel sudah menerima delapan pesawat CN 235 buatan PT DI.

Eddy Suherman, Production Engineering PT DI kepada Kompas.com mengatakan pesawat yang dipiloti oleh QA Supriyadi dan kopilot Esther Saleh tinggal landas dengan mulus didukung cuaca Kota Bandung yang cerah.

Kontrak penjualan empat pesawat CN 235 untuk Korsel itu mencapai 90 juta dollar AS. Penyerahan pesawat akan dilakukan secara bertahap mulai akhir Desember 2010 hingga Maret 2011.

Sumber: KOMPAS


Kasau Tinjau Kesiapan Pesawat CN-235

0

JAKARTA (Pos Kota) – Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP, meninjau kesiapan operasional pesawat CN-235 Skadron Udara 2, Wing I Lanud Halim Perdanakusuma. Selasa (23/11).

Dalam peninjauannya tersebut Kasau berdialog langsung dengan Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb. Muhamad Mujid yang didampingi oleh Pangkoopsau I Marsda TNI Dede Rusamsi dan Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI M. Nurullah.

Kasau mengharapkan kesiapan pesawat CN-235 produksi dalam negeri tersebut lebih ditingkatkan guna mendukung kesiapan operasional TNI Angkatan Udara maupun mendukung tugas-tugas lainnya termasuk pengangkutan kebutuhan dalam penanggulangan bencana alam.

Kasau juga mengingatkan kepada pejabat terkait harus jujur dan bertanggung jawab dalam mengelola manajerial dalam mendukung operasional Alutsista TNI Angkatan Udara.

Sumber: POS KOTA


TNI AU prioritaskan pesawat angkut

0

Pesawat Hercules C-130 TNI AU

Boyolali (Espos)–TNI AU akan memprioritaskan pengadaan pesawat angkut ketimbang pesawat jenis lain. Hal itu dilakukan karena melihat kondisi Indonesia rawan bencana.

Pernyataan itu diungkapkan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI AU Imam Sufaat SIP seusai melantik 159 perwira pada acara Pelantikan dan Penyumpahan Perwira TNI AU Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Angkatan ke-13 Tahun 2010 di Lapangan Dirgantara Lanud Adi Soemarmo, Selasa (23/11).

“Bila melihat kondisi Indonesia rawan bencana semacam ini, kemungkinan pengadaan pesawat angkut cukup masuk akal. Kemungkinan pesawat itu sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Selain itu, dia juga menuturkan hibah pesawat F-16 dari Amerika Serikat dilakukan atas dasar permintaan TNI AU.

“Pengadaan pesawat F16 ini adalah permintaan kami. Karena ada pesawat milik AS yang tidak dipakai. Oleh karena itu, kami mengajukan permintaan. Selain Indonesia, Thailand telah mendapat hibah pesawat itu,” imbuhnya.

Masih menurut Imam, Indonesia mendapat alokasi 30 pesawat. Tetapi, Indonesia mengambil 24 pesawat dan sisanya nanti. Pesawat-pesawat itu akan diletakkan di Madiun.

“Kami meletakkan pesawat di sana (Madiun-red) karena fasilitas dan perawatan sudah tersedia lengkap. Lagi pula bila membuat lokasi baru membutuhkan biaya besar dan itu tidak mungkin,” ujarnya.

Lagipula, bila Indonesia mendapat hibah pesawat itu sangat menguntungkan karena dapat menghemat jutaan dolar. Selain itu, TNI AU pun menyiasati dengan memilih pesawat dengan jam terbang 200 jam. Padahal, maksimal jam terbang sebuah pesawat adalah 4.000 jam.

“Jadi, masih dapat digunakan 5-30 tahun. Kalau kami beli baru harga berkisar US$55 juta-US$60 juta. Pesawat itu bisa langsung dipakai. Tetapi tetap perlu di-update, seperti sistem senjata, navigasi dan lainnya,” pungkasnya.

Sumber: SOLO POST


Selasa, 23 November 2010

Alutsista yang dimiliki TNI ke depan harus multifungsi

0

Indonesia Menaruh Minat Untuk Pengadaan Pesawat Angkut A400 M Dimasa Yang Akan Datang

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI, Nurhayati Ali Assegaf, mengatakan, pihaknya memberi penghargaan kepada TNI karena telah bekerja cepat dalam menangani korban bencana alam, termasuk letusan Gunung Merapi.

"Komisi I memberikan apresiasi kepada TNI yang bekerja sigap membantu para korban letusan Gunung Merapi. Dari awal sudah duluan membantu korban, menyiapkan dapur umum, mampu menghibur korban sehingga tidak makin sedih dan kesepian," kata Nurhayati di Jakarta, Minggu.

Ia menambahkan, apresiasi tersebut disampaikannya setelah mendapat paparan dari Pangdam Diponegoro Brigjen TNI Langgeng Sulistyono.

"Tentunya, setelah mendengarkan paparan dari Pangdam, Komisi I mendalami paparan tersebut dan menyaksikan sendiri di lapangan bagaimana kerja TNI sebagaimana yang dipaparkan oleh Pak Langgeng. Kita berikan apresiasi karena kerja TNI sangat cepat dan bagus, koordinasi yang terukur," kata dia.

Ditambahkannya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diharapkan bisa meningkatkan kerja sama dengan TNI dalam menanggulangi bencana karena TNI terlatih dan mampu menghadapi persoalan dengan cepat.

"BNPB juga harus seperti TNI, bekerja cepat, terlatih dan bisa bekerjasama dengan TNI," ujar Nurhayati yang juga Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ini.

Terkait dengan penanggulangan bencana yang dilakukan oleh TNI, anggota Komisi I dari Fraksi Partai Demokrat ini berharap Alat Utama Sistem Persenjataan atau Alutsista yang dimiliki TNI ke depan harus multifungsi.

"Peran TNI harus didukung dengan dana dan peralatan yang memadai. Komisi I berharap agar Alutsista yang akan dibeli haruslah multifungsi, bisa sebagai alat perang dan juga bisa sebagai alat untuk misi kemanusiaan, membawa bantuan bagi korban bencana seperti pembelian pesawat Hercules," ujar dia.

Nurhayati beserta beberapa orang anggota Komisi I DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta, pekan lalu. Dalam kunjungan kerja tersebut, Komisi I banyak mendapatkan masukan dari TNI terkait bencana dan juga memantau secara langsung kerja TNI di lokasi bencana Gunung Merapi.

Sumber: ANTARA


Selasa, 16 November 2010

Lanud Husein Dukung Kegiatan Terjun Malam Paradas

0

SISWA paradas TNI Angkatan Darat sedang memasuki pesawat C-130 Hercules A-1319 di Apron Lanud Husein S.. untuk melakukan penerjunan malam hari.

BANDUNG, (PRLM).- Sebagai pangkalan pendukung operasi, Lanud Husein Sastranegara Bandung siap mendukung setiap kegiatan yang berkaitan dengan operasi, seperti halnya kegiatan penerbangan. Demikian juga pada kegiatan penerbangan penerjunan malam, siswa Para Dasar (Paradas) TNI Angkatan Darat dari Pusdik Kopassus Batujajar, Bandung, Lanud Husein Sastranegara membantu kelancaran program tersebut.

Dukungan diawali dengan briefing penerbangan yang dipimpin oleh Kepala Dinas Opersi Lanud Husein Sastranegara, Letkol Nav Triswan Larosa, S.sos. Kegiatan penerjunan malam itu diikuti 403 siswa paradas selama tiga hari yang sebelumnya telah melaksanakan penerjunan pada siang hari.

Kegiatan penerjunan menggunakan pesawat C-130 Hercules A-1319 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim, Jakarta, dengan Pilot Mayor Pnb Pata. Latihan terjun malam tingkat para dasar dengan dropping area Pusat Pendidikan Kopassus, Batujajar, Bandung, sementara take off/landing pesawat dilaksanakan di Appron Lanud Husein S..

Pada penerjunan malam hari para siswa dilepas dari ketingian 10.000 feet yang dibagi dalam lima sortie. Menurut Kapten Inf Nanang selaku kordinator dari Pusdik Kopassus, terjun malam ini merupakan suatu keharusan bagi para siswa untuk bekal di kesatuan nantinya.

Sumber: PIKIRAN RAKYAT


Senin, 15 November 2010

Menhan: Biaya Perawatan Prioritas Pembahasan

0

F-16 Block 52

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) belum memastikan untuk menerima hibah pesawat angkut dan pesawat tempur dari beberapa negara. Termasuk 24 unit pesawat tempur canggih F-16 yang akan dihibahkan pemerintah Amerika Serikat (AS). Sebab, Indonesia harus memikirkan dan menganggarkan biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya perawatan.

"Pesawat angkut dan pesawat tempur yang akan dihibahkan itu sudah pernah dipakai. Tentunya, kita harus pertimbangkan juga biaya perawatan dan biaya upgrade yang akan dikeluarkan," ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bila pesawat yang akan dihibahkan dalam kondisi rusak parah, maka Indonesia harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk memulihkan pesawat itu sehingga layak terbang. Hal sama pada pesawat tempur F-16, Indonesia terlebih dahulu mengecek jenis dan type blok pesawat tersebut untuk disesuaikan dengan F-16 yang sudah dimiliki TNI.

Purnomo mengatakan, jika pesawat dihibahkan type blok-15, maka masih harus di-upgrade. F-16 terbaru adalah jenis blok-53. "Semakin tinggi kita upgrade, semakin besar ongkosnya. Sekarang, kita hitung-hitungan dan melihat spesifikasi teknis melalui spesifikasi ekonomis," ujar Menhan.

Ia menambahkan, hibah pesawat F-16 membutuhkan satu proses yang tidak bisa cepat karena ini di bawah naungan Access Defence Article (IDE), yang mesyaratkan kedua belah pihak wajib saling mendalami.

Misi Kemanusiaan

Selain F-16 dari AS, Purnomo mengatakan, Indonesia mendapat tawaran hibah pesawat angkut jenis Hercules C-130 dari Norwegia dan Australia. Pesawat Hercules yang ditawarkan kedua negara itu belum dalam kondisi sepenuhnya layak terbang. "Kita sudah cek dan kondisinya lumayan parah. Retrofit kalau masih memungkinkan tidak apa-apa, tapi kalau ongkos lebih mahal tidak usah," katanya.

Purnomo menyatakan, Indonesia tak spontanitas menerima tawaran hibah pesawat dari beberapa negara tanpa melakukan pengecekan terhadap kualitas dan kuantitas pesawat serta mempertimbangan anggaran perawatan. "Persoalan hibah-mengibah tidak bisa sembarangan. Kita lihat dulu kondisi pesawatnya, kalau rusak berat kan juga nggak bisa," ujarnya.

Sekarang ini, Wakil Ketua DPR Anis Matta menilai, keberadaan pesawat angkut masih lebih penting dibandingkan pesawat tempur. Pasalnya, pesawat angkut bisa diberdayakan untuk mengemban misi kemanusiaan.

"Dalam 10 tahun terakhir ini, Indonesia tertimpa musibah bencana alam. Kondisi ini juga perlu kita perhatikan hingga ke depan untuk persiapan. Karena itu, salah satu persiapannya memperbanyak pesawat angkut, seperti Hercules," ujarnya.

Sumber : SUARA KARYA


Sabtu, 13 November 2010

Menhan : SEJUMLAH NEGARA TAWARKAN HIBAH HERCULES KE INDONESIA

0

Hercules C-130 J Milik AU Norwegia

Jakarta, 12/11/2010 (Kominfo-Newsroom) Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengakui banyak tawaran hibah pesawat angkut jenis Hercules C130 untuk TNI dari sejumlah negara. Namun, harus dipilah-pilah kondisi pesawatnya guna menghindari biaya tinggi.

"Kita sudah cek di beberapa negara itu, wah itu parah sekali, kalau masih memungkinkan tidak apa-apa, tapi kalau ongkos lebih mahal tidak usah," katanya di Jakarta, Jumat (12/11).

Menurut Purnomo, semua itu disesuaikan dengan kemampuan anggaran, sehingga perlu pertimbangan kuantitas dan kualitasnya. Persoalan hibah menghibah tidak bisa sembarangan. "Kita lihat dulu kondisi pesawatnya, kalau rusak berat kan juga nggak bisa," tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan tawaran hibah hercules bukan hanya dari Amerika saja, tapi Jadi Norwegia dan Australia. Dia mencontohkan Australia menawarkan hibah ke Indonesia tapi itu menunggu pesawat barunya C130 seri C datang. Jadi ada proses selama menunggu sembari proses birokrasi juga harus dipenuhi.

Menurutnya, proses pembicaraan hibah sudah ada dari tingkat paling tinggi hingga ke menteri. Proses dilakukan petahapan. "Aturannya memang begitu. tidak mudah, memang, tapi terus kita percepat," ujarnya.

Lebih lanjut Purnomo mengatakan pihaknya juga sudah berbicara mengenai operasi perang dan non perang untuk membantu bencana alam. Dicontohkan KRI Suharso sebagai kapal jenis landing platform dock (LPD) efektif untuk operasi kesehatan di daerah. "Tahun depan akan kita pakai di Wakatobi. Tapi KRI Suharso peralatannya minim, sehingga kita katakan mau nggak Menteri Kesehatan dan Menteri Kesra mengajukan ke Menteri Keuangan, " ujarnya.

Jika itu dapat di-share, ujarnya, KRI Suharso bisa pakai untuk operasi kesehatan dalam bakti sosial dalam Sail Wakatobi mendatang.

Sumber : KOMINFO


Jumat, 12 November 2010

Singapore's C-130 upgrade makes progress

0


A major programme to upgrade the capabilities of the Republic of Singapore Air Force's 10 Lockheed Martin C-130 Hercules transports made a significant advance recently, with the redelivery of its first modified example.

Handed over by Singapore Technologies Aerospace in late September, the C-130B had undergone an extensive flight deck upgrade using technology provided by Rockwell Collins Communications.

"With this upgrade, the RSAF gains a modern digital cockpit enabling greater mission effectiveness for their C-130 fleet and providing them with access to global airspace," says Dave Nieuwsma, head of mobility and rotary wing solutions at Rockwell Collins.

The upgrade includes a new flight management system, central engine displays to replace analogue gauges, improved voice communications, digital autopilot and flight director and a digital weather radar.

Flightglobal's MiliCAS database says the air force operates five C-130H transports and five KC-130B/H tankers. "This aircraft will be on a par with the RSAF's younger fleet of C-130H aircraft in terms of mission availability," ST Aero says.

From : FG




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin