Tampilkan postingan dengan label USA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2011

Menhan : F-16 TNI AU Akan Diupgrade Block 32

0

Jakarta, 28/1/2011 (Kominfo-Newsroom) Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan keputusan untuk menerima hibah pesawat tempur F16 dari Amerika belum final namun demikian pemerintah masih melakukan pertimbangan yang tepat terutama pengalokasian anggaran antara beli dan hibah.

“Kita memang memerlukan pesawat ini, karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Apalagi seluruh wilayah nusantara memang kesulitan,” katanya di Jakarta, Kamis (27/1).

Menurut Purnomo, kesiapan pengamanan udara seluruh nusantara, di bawah 30 pesawat tempur perharinya. Perhitungan ideal untuk Indonesia diperlukan 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron. “Singapura dengan wilayah yang tidak begitu besar memiliki F16 tiga skuadron. Australia punya 80 pesawat F18,” katanya.

Purnomo mengatakan bahwa pengalaman perang Trikora, yang dapat menggetarkan itu karena kekuatan laut dan udara kuat. “Kita berencana membeli 6 pesawat F16 (@60 juta dollar). Jika kita alokasikan untuk meretrofit 24 pesawat hibah, maka akan masih menguntungkan,” katanya.

Menhan lebih lanjut menjelaskan, alasan Amerika menawarkan hibah F16 kepada Indonesia karena pesawat tersebut termasuk dalam pesawat dikonservir dalam mengurangi anggaran pertahanan Amerika Serikat dan bersamaan dengan kedatangan pesawat F22.

“Pesawat F16 yang ditawarkan AS masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, Kasau Marsekal TNI Iman Sufaat menjelaskan awalnya dari surat TNI AU 2009. Dijawab pada 2010 bersamaan dengan kunjungan Kasau ke Kasau Amerika mengungkapkan Thailand pernah mendapatkan 30 unit F16. Hibah ini gratis. Namun Block 15 dan block 25 perlu diupgrade lagi karena avioniknya sudah tua.

“Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar. Barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F16,” kata Kasau.

Imam mengatakan, anggaran 6 pesawat block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil 24 pesawat F16. Jika di upgrade ke block 32 akan lebih baik dari block 52. “Yang Program F16 tidak mengambil anggaran Sukhoi,” ujarnya.

Dia menambahkan pesawat tempur F5 juga akan tetap diganti. Sukhoi pun yang enam belum ada alokasinya. “F16 yang kita punya pun akan diupgrade ke block 32. Untuk biaya pemeliharaan. Satu jam terbang hanya 70 juta. Sedangkan Sukhoi 500 juta dan peralatannya cukup rumit,” ungkapnya.

Menurut dia Retrofit satu tahun 8 pesawat. Akan sangat menguntungkan dan mempercepat pemenuhan MEF. Untuk Sukhoi ada anggaran 84 juta dollar.

Sumber: KOMINFO


Kamis, 27 Januari 2011

Ekspor Alat Militer Ilegal, Warga China Dihukum 97 Bulan Penjara

0

BOSTON--MICOM: Seorang warga China telah dijatuhi hukuman 97 bulan penjara, Rabu (26/1), setelah diyakini tahun lalu telah mengekspor secara tidak sah perlengkapan militer ke China selama beberapa tahun.

Beberapa pejabat Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) di Boston mengatakan bahwa Zhen Zhou Wu, 46, telah melakukan perjalanan ke AS dengan visa bisnis yang digunakan
berdasar tahunan dan telah mengekspor ke China serangkaian barang.

Barang-barang tersebut mencakup komponen elektronik militer dan elektronik sensitif yang digunakan dalam radar bertahap militer, perang elektronik, dan sistem rudal. Beberapa pabrik militer dan lembaga riset militer China termasuk di antara yang menerima peralatan yang terdakwa ekspor.

Hukuman itu adalah yang kedua dalam sepekan dalam kasus keamanan yang melibatkan China, hanya beberapa hari setelah Presiden China Hu Jintao merampungkan kunjungannya di AS. Wu melakukan ekspor tidak sah ke China sebanyak 14 kali antara 2004 dan 2007 dan mengajukan dokumen pelayaran palsu pada Depatemen Perdagangan AS dari 2005 hingga 2007.

Wu memiliki dan mengontrol sebuah perusahaan, Chitron Electronics Inc. di Walthan, Massachusetts, AS, dan menggunakan perusahaan itu untuk mendapatkan peralatan yang terlarang dari para pemasok AS dan mengekspor barang itu ke China melalui Hong Kong.

Peralatan yang diekspor itu digunakan dalam perang elektronik, radar militer, pengendalian kebakaran, peralatan panduan dan kontrol militer, sistem rudal, dan komunikasi satelit. "Terdakwa dan perusahaan itu telah melanggar undang-undang ekspor AS dan mengkompromikan keamanan nasional kami selama lebih dari satu dasawarsa," kata penuntut AS Carmen Ortiz.

Pada Jumat, seorang pria Michigan telah dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena berusaha untuk mendapatkan pekerjaan pada badan intelijen AS CIA agar supaya ia dapat menjadi mata-mata untuk China.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Dikecam AS Soal Vonis Ringan, Menhan Tak Bisa Berbuat Apa-apa

0

Jakarta - Amerika Serikat (AS) mengecam vonis ringan yang dijatuhkan pada tiga anggota TNI yang menganiaya warga Papua. Menjawab kecaman ini, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro tidak bisa melakukan intervensi.

"Dari sistem kita sudah ada peradilan militer, agama dan TUN, itu penjurunya ke MA. Menteri tidak bisa intervensi," kata Purnomo di sela-sela rapat bersama Komisi I DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (27/1/2010).

Menurut Purnomo, kasus tersebut saat ini masih dalam proses banding. Selaku lembaga eksekutif, tidak ada kewenangan untuk mencampuri kewenangan yudikatif.

Sebetulnya, kata Purnomo, jaksa sudah menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman cukup berat. Namun, keputusan hakim rupanya berkata lain.

"Sebenarnya jaksa sudah nuntut lebih, kalau nggak salah 2,5 tahun. Tapi kalau hakim sudah memutuskan bagaimana. Bukan soal pantas atau tidak pantas, tapi proses yudikatif, kita nggak bisa intervensi," papar dia.

3 Tentara penganiaya warga Papua yang videonya termuat di Youtube telah divonis 8,9 dan 10 bulan penjara. AS mengecam vonis yang dianggap terlalu toleran tersebut.

"Hukuman itu tidak mencerminkan keseriusan terhadap penganiayaan dua warga Papua seperti terlihat di video tahun 2010," ujar Jubir Deplu AS Philip Crowley dalam pesan Twitternya seperti dilansir AFP, Rabu (26/1/2011).

"Indonesia harus memastikan pasukan bersenjatanya bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang terjadi. Kami prihatin dan terus mengikuti kasus ini," imbuh Crowley.

Pada Senin 24 Januari, tiga anggota TNI Kodam Cenderawasih, Kesatuan 753 AVT/Nabire, yang terlibat penganiayaan yang videonya beredar di Youtube, divonis 8, 9, dan 10 bulan penjara. Mereka terbukti bersalah menganiaya dan melangar perintah atasan.

Ketiga anggota TNI itu adalah Serda Irianto Rizqianto, Pratu Thamrin Mahangiri dan Pratu Yapson Agu. Mereka dinyatakan hakim terbukti melanggar Pasal 103 KUHP Militer perihal melanggar perintah atasan. Ketiganya dinyatakan terbukti melakukan tindakan kekerasan saat menginterogasi warga di Pos TNI Gurage Puncak Jaya, sebagaimana terekam dalam video yang beredar di Youtube.

Sumber: DETIK


AS Hibahkan 24 Pesawat F-16, DPR Khawatir Intervensi

0

F-16 Block 52

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-DPR khawatir dengan rencana TNI yang akan menerima hibah 24 pesawat tempur F16 dari Amerika Serikat. Hibah itu dikhawatirkan bisa menambah ketergantungan Indonesia kepada AS.

DPR juga tidak ingin hibah F16 ini mengganggu rencana pembangunan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) dari dalam negeri.

"Saya berharap Hibah tak mengganggu MEF. Jangan sampai justru menjadi beban. Bisa menjadi beban fiskal keuangan dalam negeri," kata anggota Komisi I DPR Mohammad Syahfan B Sampurno dalam Rapat Kerja dengan Panglima TNI dan Menteri Pertahanan di gedung DPR, Kamis (27/1).

"Jangan sampai dengan iming-iming hibah 24 F16 dengan kualifikasi standar dan tak diimbangi kemampuan malam hari, retrofit-nya (penambahan teknologi baru) juga mahal 1 juta AS per unit. Berarti 24 juta AS sebanyak 24 unit," katanya.

Rencana penerimaan hibah F16 ini terungkap dalam Rapat Kerja dengan Komisi I. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (TNI) Imam Sufaat, rencana penerimaan hibah F16 termasuk dalam pesawat yang dikonservir karena pengurangan anggaran," kata Imam menjelaskan.

Menurut Imam, F16 yang akan dihibahkan ini memiliki masa pakai masih lama. "Pesawat ini masih bisa terbang waktu dibawa ke Arizona. Jam terbangnya masih sekitar 4 ribu sampai 5 ribu jam terbang. Masih sekitar 20 sampai 25 tahun bisa digunakan," kata Imam.

Menurut Imam, hibah ini gratis. "Untuk upgrade satu pesawat 10 juta dollar, harga barunya 60 juta dollar. Operasionalnya sudah terbukti di Timur Tengah. Keunggulannya teruji. Maintenance lebih gampang daripada Sukhoi. Kita juga sudah biasa merawat F16," katanya.

Imam menambahkan, anggaran untuk membeli 6 pesawat F16 jenis Block 52 akan lebih menguntungkan dengan mengambil hibah 24 pesawat F16 Block 15 dan 25. "Kita memerlukan pesawat ini karena kesiapan pesawat yang ada sangat minim. Seluruh wilayah nusantara memang kesulitan," katanya.

Menurut Imam, kesiapan TNI AU saat ini di bawah 30 pesawat tempur per harinya. "Perhitungan kami 180 pesawat tempur per hari atau 12 skuadron," ujar Imam. Pengalaman Perang Trikora, kata Imam, Indonesia bisa menggetarkan musuh karena kekuatan laut dan udara kuat, beda ketika Perang Timor Timur.

Sumber: REPUBLIKA


KSAU: Hibah F-16 Tunggu Jawaban AS

0

F-16 TNI AU.

Yogyakarta (ANTARA News) - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, kepastian hibah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat untuk Indonesia masih menunggu jawaban dari pemerintah negara adidaya itu.

"Kami berharap segera ada jawaban mengenai hal itu," katanya di sela rapat pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Senin.

Ia mengatakan, pihaknya telah mengajukan permintaan kepada AS terkait dengan hibah 24 pesawat tempur F-16 pada 2009, tetapi hingga kini belum ada jawaban dari si pemberi hibah.

"Belum adanya jawaban dari AS, kemungkinan karena banyak negara yang juga mengajukan permintaan hibah pesawat tempur F-16. Mereka juga ingin mendapatkan hibah pesawat tersebut," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, pihaknya melakukan pendekatan khusus kepada pihak yang berwenang di AS agar permintaan Indonesia mengenai hibah pesawat tempur F-16 disetujui dan direalisasikan secepatnya.

Ia mengatakan, TNI AU juga akan membeli pengganti pesawat OV-10 Bronco, helikopter, dan pesawat F-5, karena ada dana tambahan percepatan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sebesar Rp4 triliun.

"Dana tambahan tersebut, selain digunakan untuk pengadaan alutsista juga dipakai untuk perawatan dan pembelian suku cadang alutsista. Hal itu sesuai dengan program perencanaan strategis pembangunan TNI AU 2010-2014," paparnya.

Sumber: ANTARA


Rabu, 26 Januari 2011

AS Kecam Vonis Pelaku Video Kekerasan Papua

0

VIVAnews - Vonis ringan terhadap tiga anggota TNI penganiaya warga Papua, yang terekam dalam video, dikritik keras oleh Pemerintah Amerika Serikat. Vonis masing-masing 8,9, dan 10 bulan yang dijatuhkan hakim dianggap tak layak. Kritik tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Philip Crowley, dalam akun Twitter-nya, @PJCrowley, Rabu, 26 Januari 2011.

"Vonis yang dikeluarkan pengadilan militer Indonesia tidak merefleksikan keseriusan dalam penanganan kekerasan terhadap dua warga Papua seperti yang dipertontonkan dalam video tahun 2010," kata Crowley.

Ditambahkan Crowley, kondisi itu sangat memprihatinkan. "Indonesia harus memastikan angkatan bersenjatanya bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia. Kami sangat prihatin dan akan terus mengikuti kasus ini," tambah dia.

Pada sidang pembacaan vonis yang digelar Senin lalu, 24 Januari 2011, Majelis hakim Pengadilan Militer Jayapura yang diketuai Letkol Adil Karo-karo dan anggota Letkol Affandi dan Mayor Herry, menjatuhkan vonis penjara 10 bulan kepada Serda Irwan Riskiyanto sebagai Komandan Pos, yang bertanggung jawab penuh saat itu. Adapun Pratu Yakson Agu dijatuhi hukuman sembilan bulan dan Pratu Thamrin Mahangiri delapan bulan. Vonis itu dipotong masa tahanan.

Hakim memutuskan, ketiganya terbukti melakukan kekerasan dan menyiksa dua warga Papua bernama Anggun Pugukiwo dan Telenggen Gire pada 27 Mei 2010. Penyiksaan dilakukan di belakang Pos TNI Gurage Tingginambut Puncak Jaya, sesuai dengan yang terekam di video, yang lalu beredar di dunia maya.
Saat itu ketiga prajurit itu sedang bertugas di kampung Gurage, Distrik Tingginambut, Puncak Jaya.

Sumber: VIVA NEWS


Jet Tempur China Bikin Gerah Amerika Serikat

0

JAKARTA--MICOM: Uji terbang jet tempur siluman J-20 oleh China pada 11 Januari telah menyita perhatian banyak pihak, terutama karena itu terjadi di saat kunjungan Menteri Pertahanan AS Robert Gates ke China.

Peluncuran jet siluman China itu mengundang banyak pertanyaan, dan jawabnya kompleks.

Para analis militer sebenarnya telah lama mengetahui bahwa China mengembangkan sebuah pesawat tempur sekelas pesawat tempur siluman F-22 Raptor milik AS.

Namun mereka tidak pernah menyangka bakal menyaksikan penampilan terbaru jet siluman China ini Desember, lapor Aviation Week and Space Technology.

Sejumlah uji kecepatan pesawat itu di darat dalam mana roda depannya berhasil terangkat dari tanah, diteruskan oleh uji terbang pertamanya ke angkasa.

China telah meluncurkan video jet baru itu saat masih di darat, tinggal landas, dan mendarat di Chengdu.

Mengutip seorang analis Hongkong, New York Times melapokan bahwa pesawat tempur tersebut terbang sekitar 15 menit di atas pangkalan udara.

Dilengkapi dua sirip sayap berbeda seperti juga dipunyai F-22, jelas sudah pesawat ini memang diunjukkan sebagai wahana perang siluman.

The Timesjuga melaporkan bahwa pesawat ini mampu membawa banyak misil dan dapat terbang jarak jauh setelah lebih dulu melakukan pengisian bahan bakar di udara.

Demonstrasi terbang pesawat ini mengkhawatirkan sejumlah analis karena inilah kali pertama F-22 mendapat tantangan. F-22 sendiri menduduki peringkat atas dalam jajaran angkatan udara AS.

"Kita sudah terbiasa berada di dunia di mana angkatan udara kita dominan," kata analis Rand Corporation Roger Cliff kepada Newsweek. "Namun dominasi itu kini dipertanyakan."

Sekali J-20 dipergelarkan, dalam skenario itu, maka wahana-wahana perang udara top AS akan kehilangan keunggilannya dari pesawat-pesawat silumen yang mereka miliki. Intinya, mereka kini tidak lagi menguasai angkasa. "Tidak secepat itu," sergah Aviation Week.

Radar baru lebih bertenaga yang menggunakan larik penskala yang secara elektronis aktif, bisa menjejak target-target siluman, dan dengan cepat menyesuikan diri dengan teknologi siluman.

"Antisiluman akan mengubah semua desain pesawat siluman," kata majalah itu seraya menyebutkan AS mungkin sudah memiliki radar yang bisa melacak pesawat siluman.

Lebih dari itu, penyempurnaan teknologi pesawat siluman itu memerlukan waktu.

AS sendiri memulai program F-22 pada 1980an.

Sekilas, tampak siluman dari jet China itu seperti tambal sulam, kata analis Grup Teal Richard Aboulafia kepada Wall Street Journal.

Dia berpendapat bahwa China boleh saja menggelarkan pesawat tempur baru di dekade ini, namun teknologi militer AS tetap lebih baik.

Kalimat ini provokatif dan ini biasanya dilontarkan pada era perlombaan senjata, demikian Science Daily (21/1).

Sumber: MEDIA INDONESIA


Selasa, 25 Januari 2011

AS tidak Terlibat Patroli di Selat Malaka

0

Ist

JAKARTA--MICOM: Amerika Serikat tidak terlibat dalam pengawasan terhadap perairan Selat Malaka. AS hanya membantu dalam hal peralatan pengawasan.

Demikian diungkapkan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di Jakarta, Selasa (25/1).

"Kita dengan Singapura dan Malaysia, Amerika tidak ada," kata Soeparno dalam jumpa pers di sela-sela pelaksanaan Rapat Pimpinan TNI AL di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Selasa (25/1).

Pengawasan yang dilakukan secara bersama-sama ini, sambungnya, dilakukan rutin setiap tahun. "Setiap tahun ada patroli koordinasi. Patroli secara bersama-sama terus dilakukan," jelasnya.

Indonesia, kata Soeparno, merasa keberatan jika AS turut serta dalam pengawasan Selat Malaka. "Justru Amerika mau masuk, kita keberatan. Wong, ini daerah kita," ujarnya.

Meski demikian, pemerintah 'Negeri Paman Sam' turut membantu menyediakan peralatan yang dibutuhkan untuk mengawasi salah satu perairan tersibuk di dunia itu.

"Amerika membantu menyediakan alat-alat seperti radar. Tetapi membantu untuk turut berpatroli, tidak ada," pungkasnya.

Sumber: MEDIA INDONESIA


KSAU Ajak KPK Awasi Pembelian Pesawat

0

C-130 Milik Angkatan Udara Australia.

SLEMAN- Kepala Staff Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut mengawasi proyek pengadaan pesawat yang sedang dilakukan instansinya. Ajakan ini merupakan komitmennya dalam upaya pemberantasan korupsi. “Malah bagus karena saat ini era keterbukaan. Kami tentu juga butuh petunjuk agar tak terjadi kesalahan,” ujar Imam. disela-sela rapat pimpinan TNI AU di Gedung Sabang Merauke Kompleks Akademi Angkatan Udara Jogjakarta, kemarin (25/1).

Seperti diketahui, tahun 2011 ini TNI AU siap melakukan pengadaan sejumlah pesawat guna melengkapi kekurangan yang terjadi saat ini. Kucuran dana dari pemerintah akan dimaksimalka untuk pengadaan pesawat tempur berbagai jenis, baik pesawat tempur atau helikopter.

Menurut Imam, hingga tahun 2014 pemerintah menganggarkan hingga Rp 51 triliun untuk tiga angkatan bersenjata. TNI AU mendapat dana sekitar Rp 4 triliun pada tahun 2011. ”Dana inilah yang akan digunakan untuk melengkapi kekurangan sekaligus pemeliharaan pesawat,” paparnya.

Imam menjelaskan pembelian pesawat awalnya mengandalkan anggaran kredit ekspor. Namun hal itu dikurangi dan diganti pendanaan dalam negeri. Selama ini TNI AU selalu membeli pesawat dari luar negeri. Seperti produk Casa 212 dan Helikopter Puma. Selama ini stok di Indonesia tidak ada, sementara jika ada kerusakan maka pesawat grounded. Dan harus menunggu pesanan di luar negeri yang bisa makan waktu hingga lebih satu tahun. “Jika di Indonesia ada, dan cocok serta memenuhi kebutuhan, tentu kami akan gunakan produk dalam negeri,” katanya.

Tahun 2011 ini, kata Imam, TNI AU kembali akan memanfaatkan pesawat produk Industri Pesawat Terbang Negara (IPTN) misalnya helikopter Couger. Termasuk pesawat-pesawat latihan. Hanya saja untuk persenjataan dan amunisi masih harus impor dari luar negeri karena sangat rumit.

“Persenjataan itu riskan dan harus dilakukan uji fungsi dan kelayakan. Indonesia belum bisa buat itu, jadi terpaksa beli keluar negeri,” ucapnya.

Selain pembelian baru, TNI AU rencananya juga akan menerima hibah pesawat tempur jenis
F-16 dari Amerika Serikat. “Rencanya ada 24 unit F-16 yang akan dihibahkan. Kami masih menunggu jawaban pihak Amerika Serikat. Ini memang permintaan kami sejak tahun 2009 ,” paparnya.

Selain dari Amerika Serikat, imbuh Imam, Indonesia juga akan mendapat hibah dari Australia sebanyak 8

unit pesawat Hercules. Ia mengungkapkan akan melakukan pembicaraan soal hibah dengan petinggi angkatan udara Australia pada 27 Januari mendatang. “Pihak Australia akan hadir di Indonesia,” kata perwira tinggi TNI AU berpangkat bintang empat itu.

Kedelapan unit pesawat Hercules hibah dari Australia itu guna melengkapi armada milik TNI AU yang saat ini berjumlah 21 unit. Imam mengatakan jumlah pesawat pengangkut pasukan itu saat ini masih kurang, sedikitnya 9 unit. “Setidaknya butuh 30 pesawat Hercules. Dua unit untuk tangki, dua untuk VIP, dan sisanya mengangkut operasional pasukan sekitar 2 batalyon,” papar KSAU.

Mengingat dalam waktu dekat akan mendapat hibah 8 unit dari Australia, maka TNI AU hanya butuh 1 unit lagi pesawat Hercules. Lebih lanjut Marsekal Imam Sufaat , kebutuhan pesawat di Indonesia terbilang masih cukup besar untuk pertahanan negara. ”Jumlah pesawat yang dimiliki TNI belum ideal untuk pertahanan Negara,” tandasnya.

Sumber: RADAR JOGJA


AS Menyetujui Pemusnahan Enam Kapal Perang TNI-AL

0

KRI Teluk Langsa 501

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Amerika Serikat telah menyetujui pemusnahan enam kapal perang TNI Angkatan Laut buatan Negeri Paman Sam, yang telah berusia diatas 30 tahun.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Seoparno di sela-sela Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut menjawab ANTARA di Jakarta, Selasa mengatakan, pemusnahan enam kapal perang angkut buatan AS itu akan dilakukan di Indonesia.

"Terlalu repot jika harus mengembalikan kapal-kapal itu ke produsennya. Meski mereka (AS-red) sangat berat hati, namun mereka setuju kapal-kapal itu dimusnahkan," ujarnya.

Dengan berseloroh, Soeparno mengemukakan, enam kapal LST dan LDP buatan AS itu sudah rata-rata usia 64-70 tahun. Bahkan militer AS jika bertemu kapal itu akan memberikan hormat sebagai bentuk penghormatan kepada `senior`-nya. Jadi kapal-kapal itu sudah saatnya diganti.

Keenam LST itu, KRI Teluk Langsa 501, KRI Teluk Bayur 502, KRI Teluk Kau 504, KRI Teluk Tomini 508, KRI Teluk Ratai 509, KRI Teluk Saleh 510 eks AL Amerika Serikat buatan tahun 1942-1945. Keenam kapal itu dioperasikan Komando Lintas Laut Militer.

Tentang recana penggantian keenam kapal itu, Kasal mengatakan, pihaknya telah memprogramkan pengadaan dari PT PAL.

"Itu kan kapal angkut, jadi kita bisa adakan dari PT PAL. Toh saat ini PT PAL telah berhasil membuat satu kapal LPD yakni KRI Banjarmasin, dan tengah mengerjakan kapal serupa kedua yakni KRI Banda Aceh," papar Soeparno.

Kasal menegaskan, dalam Rapat Pimpinan TNI AL 2011 pihaknya akan memantapkan program modernisasi alatutama sistem senjata dalam kerangka mewujudkan kekuatan pokok minimum, secara bertahap 2010-2014 hingga 2024. "Kita akan jalankan itu," ujarnya, menegaskan.

Soeparno mengatakan, dalam mordernisasi alat utama sistem persenjataanya ada tiga langkah yang dilakukan yakni memusnahkan yang sudah tidak layak operasional, dan menggantinya dengan yang baru serta meningkatkan kapasitas dan daya mampu alat utama sistem senjata yang masih laik operasional.

Untuk pengadaan baru, dilakukan dengan memprioritaskan produksi dalam negeri. "Jika belum bisa sepenuhnya diproduksi di dalam negeri, kita lakukan produksi bersama dengan persyaratan alih teknologi," ujarnya.

Sumber: YAHOO


Senin, 24 Januari 2011

Pesawat Siluman China Ternyata Gunakan Teknologi AS

0


J-20 Setelah Melakukan Ujicoba.

BRUSSELS - China baru-baru saja memamerkan kemampuan mereka memproduksi sebuah pesawat tempur siluman. Namun diyakini pesawat canggih tersebut menggunakan teknologi yang dimiliki Amerika Serikat (AS).

Kecurigaan ini dilayangkan oleh kalangan militer Serbia, yang menilai kemungkinan besar pesawat siluman produksi China itu dibuat dari pesawat tempur siluman F-117 Nighthawka milik AS. Pesawat itu jatuh saat perang di Serbia tahun 1999.

F-117 Nighthawks merupakan pesawat tempur siluman pertama yang dibuat di dunia. Saat operasi pengeboman NATO di Serbia saat perang Kosovo, pesawat itu jatuh tertembak pada tanggal 27 Maret 1999. Pilot dari pesawat itu berhasil menyelamatkan diri dari pesawat dan diselamatkan oleh pihak militer AS.

Insiden jatuhnya Nighthawks itu merupakan pertama kalinya terjadi bagi pesawat yang disebut-sebut tidak tersentuh. Pihak Pentagon menyatakan jatuhnya pesawat tersebut terjadi lewat kombinasi taktik dan keberuntungan dari misil SA-3 dari Rusia.

Puing-puing pesawat canggih itu tersebar di wilayah pertanian. Warga sipil pun langsung memungut puing-puing dari pesawat untuk dijadikan cendera mata.
Puing-puing inilah yang dicari oleh intelijen China dan mengumpulkannya dari warga yang memiliki puing pesawat siluman tersebut.

"Saat itu, pihak intelijen kami melakukan ada beberapa agen China memasuki wilayah kami untuk mencari puing F-117. Mereka membeli puing pesawat tersebut dari petani setempat. Kami meyakini pihak China menggunakan puing-puing tersebut untuk membangun teknologi pesawat siluman mereka," ungkap Panglima Militer Kroasi Laksamana Davor Domazet-Loso seperti dikutip Associated Press, Senin (24/1/2011).

Sumber: OKEZONE


Sabtu, 22 Januari 2011

Belum Ada Penawaran Resmi Kerjasama Antikapal Selam AS - RI

0

Ist

Walau sudah bekerja sama dalam sistem pengawasan maritim terintegrasi, AS belum menawarkan kerja sama pengamanan laut-dalam dari kapal selam. ”Kita sudah kerja sama integrated maritime surveillance system untuk Selat Malaka dan Laut Sulawesi,” kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kamis (20/1), dalam konferensi pers seusai rapat pimpinan TNI. Kerja sama ini mencakup pengamanan untuk lalu lintas kapal di permukaan laut. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyatakan telah ada 12 stasiun pengamanan di Selat Malaka. Di Laut Sulawesi ada dua dan akan ditambah lagi. Menurut Agus, terkait kerja sama antara RI dan AS untuk antikapal selam, TNI belum mendapat penawaran resmi. ”Belum ada,” katanya.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 21 Januari 2011

China tidak Ingin Lomba Senjata

0

Presiden China Hu Jintao Dan Presiden AS Barack Obama Melakukan Kerjasama Bilateral(Foto: SINDO)

WASHINGTON--MICOM : Presiden China Hu Jintao mengatakan China tidak tertarik ikut dalam lomba senjata atau menerapkan dominasi militer terhadap negara-negara lain.

"Kami tidak ikut dalam perlombaan senjata atau menciptakan ancaman militer terhadap negara manapun," kata pemimpin China itu dalam sebuah pidato di depan para pemimpin kalangan pengusaha Amerika, Kamis (20/1) waktu setempat.

Hu meminta kerjasama Amerika mengenai masalah ekonomi dan keamanan.

Di hari ketiga lawatannya ke Amerika Hu bertemu dengan sejumlah politisi dan ditanyai mengenai sejumlah isu.

"China tidak akan pernah mencari dominasi atau melaksanakan kebijakan ekspasionis," kata Hu dalam pidatonya.

Pemimpin China itu menambahkan bahwa hubungan Amerika dan China sudah lama "berjalan mulus dan tumbuh dengan stabil" ketika kedua negara saling mempertimbangkan kepentingan mereka.

Sebelumnya pada hari Kamis Ketua DPR Amerika John Boehner, pemimpin Partai Republik, menyebutkan bahwa China perlu memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap hak intelektual dan memperbaiki catatan hak asasi manusia dalam pertemuan dengan Hu di parlemen Amerika.

Hu mengakui bahwa China masih perlu melakukan lebih banyak upaya terkait HAM.

Sumber: MEDIA INDONESIA


BIN Bantah Keterlibatan CIA

0

Logo BIN

JAKARTA (SINDO) - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto membantah testimoni Gayus Tambunan mengenai adanya keterlibatan anggota Central Intelligence Agency (CIA) bernama John Jerome Grice dalam pembuatan paspor palsu.Menurut Sutanto, testimoni Gayus mengada-ada.

“Jangan percaya hal yang mengada-ada. Semua sudah tahu jawabannya.Jadi jangan percaya,” ujar Sutanto setelah menghadiri sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden,Jakarta,kemarin. Sutanto tidak menjelaskan apakah BIN sudah melakukan cek silang ke CIA terkait pengakuan Gayus tersebut.Mantan Kapolri ini hanya mengingatkan bahwa tugas cek silang ada pada kepolisian serta Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum,bukan instansinya.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo menegaskan, pihaknya akan menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam berhasilnya Gayus berangkat ke Singapura, termasuk pembuat paspor. “Kalau ada warga negara yang membantu (pasti kami tindak). Nanti kami kembangkan,” kata Kapolri. Di tempat yang sama, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengungkapkan, berdasarkan penelusuran keimigrasian,John Jerome Grice tidak berada di Indonesia, tapi sudah keluar beberapa bulan yang lalu.

“Melalui pintu imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.Ke mananya saya lupa, pokoknya keluar Indonesia,”ucapnya. Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kantor Wakil Presiden mengatakan bahwa pihaknya akan bertemu pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk mengecek kebenaran testimoni Gayus soal keterlibatan agen CIA.

Sumber: SINDO


Kamis, 20 Januari 2011

AS "Dirayu" Tingkatkan Jangkauan Rudal Korsel

0

Rudal Korea Selatan.

SEOUL, RABU - Korea Selatan berencana meningkatkan daya jangkau peluru kendali yang mereka miliki untuk mengantisipasi sikap agresif negara tetangga, Korea Utara.

Upaya itu juga sekaligus untuk meningkatkan efek penggentar bagi Korut. Untuk merealisasikan niat tersebut, Korsel akan bekerja sama dan berkonsultasi dengan negara sekutunya, Amerika Serikat.

Langkah negosiasi dilaporkan sudah digelar kedua negara sejak akhir tahun lalu. Jika jadi dilakukan, daya jelajah peluru kendali Korsel bakal meningkat dari hanya mencapai radius 300 kilometer menjadi lebih dari 1.000 kilometer.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Rabu (19/1), menolak berkomentar. Namun, Perdana Menteri Korsel Han Seung-soo pernah menyampaikan di depan parlemen Korsel soal pentingnya upaya tersebut, apalagi menyusul langkah uji coba peluncuran peluru kendali Korut pada April 2009.

Sayangnya isu itu tidak mengemuka dan berlanjut dalam pertemuan keamanan bilateral tahun 2009. Ketika itu AS khawatir upaya tersebut hanya akan memicu perlombaan senjata di kawasan timur laut Asia.

Akan tetapi, isu tersebut kembali mencuat dan dinilai mendesak untuk segera direalisasikan, terutama pasca-serangan terhadap kapal perang Korsel, diduga dilakukan Korut. Dalam insiden itu 46 prajurit Angkatan Laut Korsel tewas.

Serangan Korut kembali terjadi saat mereka menyerang Pulau Yeonpyeong, Korsel, dan menewaskan empat orang dengan tembakan ratusan peluru artileri meriam Korut.

Saat ini diyakini Korut memiliki sedikitnya 1.000 peluru kendali dengan berbagai macam tipe dan 800 peluru kendali balistik. Kebanyakan dari peluru kendali itu diarahkan langsung ke Seoul atau ke sejumlah daerah lain di Korsel. Sejumlah peluru kendali Korut diketahui memiliki daya jelajah menengah, hingga 3.000 kilometer.

Hal itu berarti Korut memiliki kemampuan ”menghajar” basis militer AS yang ada di Jepang dan di Guam. Pada April 2009 Korut menguji coba tiga peluru kendali balistik antarbenua mereka. Salah satu peluru kendali itu melintas terbang di atas wilayah udara Jepang dan mendarat di Samudra Pasifik.

Dalam tur kunjungan kawasannya pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Robert Gates memperkirakan dalam lima tahun mendatang Korut sudah menguasai peluru kendali balistik antarbenua, yang mampu menjangkau negaranya. Dari sanalah kemudian muncul pernyataan Gates bahwa Korut telah menjadi ancaman langsung bagi AS.

Lebih lanjut, untuk bisa menjalankan rencananya meningkatkan daya jelajah peluru-peluru kendalinya, Korsel harus terlebih dahulu mendapat persetujuan AS untuk merevisi pakta perjanjian bilateral kedua negara, yang ditetapkan tahun 2001. Dalam pakta itu disebutkan, peluru kendali balistik Korsel dibatasi hanya memiliki daya jelajah maksimal 300 kilometer dan membawa bahan peledak sampai 500 kilogram.

”Saat ini pembicaraan tentang hal itu masih sangat awal dan dini, terutama untuk bisa mengetahui apakah rencana tersebut bisa dilakukan atau tidak,” ujar salah seorang sumber dari dalam pemerintahan Korsel.

Selama ini AS menjamin pertahanan Korsel dengan menggelar 30.000 personel pasukan militernya di kawasan tersebut.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 19 Januari 2011

Jet J-20, KFX, dan Pertahanan Negara

0

Ist

Bagi dunia penerbangan militer, kabar mutakhir yang banyak menjadi wacana hangat adalah tentang jet siluman (tak kasatradar) rancangan China, J-20. Selain itu sebenarnya juga ada kabar tentang pesawat tempur rancangan India, yakni light combat aircraft (LCA).

Untuk jet terakhir ini, Kementerian Pertahanan India, pekan silam, mengeluarkan izin (clearance) operasi awal bagi pesawat tempur serbaguna yang dikembangkan sendiri oleh India ini yang kini diberi nama ”Tejas”.

Bagi pengamat luar, keputusan di atas seperti menyiratkan bahwa militer India semakin bergerak menuju ke arah kemandirian (Sushant Singh, The Wall Street Journal, 18/1). Namun, hal itu tampaknya tidak melukiskan hal sebenarnya karena, dari seluruh perlengkapan militer India, kandungan lokal hanya 30 persen dan selebihnya merupakan produk impor. Tejas juga tak bisa dijadikan contoh karena proyek sudah dimulai pada 1969 hingga malah memunculkan pertanyaan apakah India sebenarnya serius mengembangkan kemampuan domestik di bidang pertahanan.

Sebaliknya terjadi pada China. Didorong kemajuan ekonomi, yang lalu memberi banyak dana untuk litbang militer, serta ambisi menjadi kuasa utama dunia, China konsisten untuk menguasai desain dan rekayasa, dari mainan anak-anak, produk teknologi informasi komunikasi komersial, seperti telepon seluler dan laptop, hingga pesawat terbang canggih.

J-20 dan F-22

Dari hasil rekayasa China, satu karya yang hangat dibicarakan seiring dengan lawatan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates ke Beijing, pertengahan Januari lalu, adalah jet yang didaku China berkemampuan mengelak dari radar.
J-20 merupakan jet tempur bermesin dua yang disebut-sebut masuk kategori jet tempur generasi kelima, setara dengan jet F-22 Raptor dan F-35 Lightning II. Seperti diberitakan (Kompas, 7/1), J-20 bahkan punya badan lebih besar dan panjang, menyiratkan ia diproyeksikan mengangkut senjata lebih banyak dan menjangkau sasaran lebih jauh.

J-20 terbang perdana pada 11 Januari 2011 di Chengdu, yang—bersama Shenyang di Provinsi Liaoning dan Xi’an di Provinsi Shaanxi—merupakan pangkalan industri kedirgantaraan China yang paling maju (China Daily, Asia Weekly, 14-20/1).

Memang dari penerbangan perdana kemarin orang belum bisa menyimpulkan, apakah J-20 benar-benar merupakan pesawat tempur generasi kelima. Sekadar catatan, dalam dunia penerbangan militer, definisi generasi kelima masih sering diperdebatkan. Namun, satu hal sudah jelas, jet generasi kelima merupakan pesawat tempur yang supercanggih. Selain memiliki teknologi stealth yang membuatnya sulit dideteksi radar, ia juga berkemampuan manuver unggul, demikian pula avionik (elektronika penerbangan) yang maju. Komputer penerbangan yang ada di pesawat membuat pesawat juga terintegrasi dengan medan tempur, bisa mengkaji situasi dengan cepat.

Dewasa ini, satu-satunya jet tempur yang punya kemampuan seperti itu adalah F-22 Raptor yang kini dioperasikan AU AS (USAF) untuk mempertahankan keunggulan udara (air supremacy) adidaya satu-satunya.

China, yang memandang pertahanan negaranya juga harus tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonominya, melihat keunggulan udara seperti AS juga harus dimiliki. Kini, meski masih harus membuktikan kemampuan J-20, China setidaknya sudah bisa membuktikan, ia bisa membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir ini. Sejumlah analis mengatakan, penerbangan perdana J-20 menjadi petunjuk bahwa China membuat kemajuan lebih cepat daripada yang diduga orang dalam membuat tandingan F-22 (Reuters/Jakarta Post, 12/1).

Melihat munculnya program jet tempur supercanggih, negara lain, seperti Jepang, jelas tak bisa berpangku tangan. Setelah permintaan membeli F-22 sejauh ini ditolak AS, Jepang sempat memperlihatkan niat untuk membuat sendiri jet tempur siluman.
Negara lain peminat F-22 adalah Australia. Namun, sebagaimana Jepang, Australia, sebagai sekutu dekat AS, pun masih belum diizinkan membeli jet yang dihitung dari biaya pengembangannya merupakan jet tempur paling mahal di dunia, dengan harga satuan sekitar 250 juta dollar AS (sekitar Rp 2,25 triliun). Berikutnya, seiring penambahan produksi, harga F-22 disebut menjadi 130 juta dollar AS per unit (Kompas, 25/7/2007).
Secara kemampuan, F-22 bisa melumpuhkan jet tempur apa pun di dunia sekarang ini. Lawan tak akan pernah tahu, F-22 ada di mana dan akan datang menyerang dari arah mana, tetapi tahu-tahu ia akan jadi sasaran rudal udara-ke-udara (seperti AIM-120 AMRAAM) yang dibawa F-22.

Memetik pelajaran

Dewasa ini, Indonesia juga tengah mengembangkan kerja sama dengan Korea Selatan untuk membuat jet tempur canggih generasi 4,5. Ini berarti, kemutakhiran pesawat di atas F-16C/D, tetapi masih di bawah F-22 atau F-35.

Sebagian kalangan memang masih mempertanyakan kemanfaatan program ini, dari sisi biaya ataupun dari sisi pemilihan mitra. Pada era munculnya jet tempur canggih, seperti F-22 atau J-20, membuat jet seperti KFX yang digagas Korsel-Indonesia terkesan kehilangan relevansi. Namun, di pihak lain, ada sejumlah faktor positif untuk mendukung program semacam ini.

Selain memajukan kemandirian, melalui program semacam KFX bisa dikembangkan pula kemampuan rekayasa insinyur penerbangan Indonesia, yang berikutnya diharapkan bisa menghasilkan spin-off atau manfaat ikutan, yang memicu produk atau kemampuan lain.
Namun, satu hal juga dapat ditarik dari program seperti J-20, yaitu proyek pertahanan yang dilaksanakan dengan biaya mahal ini tak lalu menghasilkan produk seperti LCA Tejas India. Pemerintah dan industri nasional harus sepenuhnya mendukung program nasional ini dan menjadikannya ujung tombak penguasaan teknologi serta alutsista yang dibutuhkan negara.

Sumber: KOMPAS


Senin, 17 Januari 2011

Indonesia Jamin Keamanan Selat Malaka

0

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono

JAKARTA, tribunkaltim.co.id - Pemerintah Indonesia menjamin keamanan wilayah perairannya, terutama di wilayah yang berbatasan dengan Selat Malaka dan Laut China Selatan, demikian Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono saat menerima Panglima Armada Pasifik Amerika Serikat Laksamana Patrick M Walsh di Jakarta, Senin.

Melalui juru bicaranya, Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul, Panglima TNI mengatakan, untuk mengamankan Selat Malaka Indonesia telah menjalin kerja sama patroli terkoordinasi dengan Malaysia, Singapura dan Thailand.

"Kerja sama patroli terkoordinasi tersebut, telah mampu menekan tingkat kejahatan laut di Selat Malaka secara signifikan," katanya.

Sedangkan untuk keamanan di Laut China Selatan, Indonesia akan berkoordinasi dengan China secara intensif bilateral maupun multilateral dalam kerangka kerja sama ASEAN+3.

Di kawasan Asia Pasifik termasuk ASEAN dan Indonesia, jaminan keamanan "Sea Lines Of Communication" (SLOC) atau Garis-garis Perhubungan Laut (GPL), merupakan hal pokok bagi para pengguna laut di dua kawasan yang menjadi fokus perhatian dunia tersebut.

Terkait hal itu, Indonesia dituntut untuk dapat memberikan jaminan keamanan di Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Philip, perairan Natuna dan jalur-jalur laut yang dikenal sebagai ALKI (Alur laut kepulauan Indonesia).

Semisal, Armada Pasifik AS yang akan menuju wilayah teluk/Timur Tengah, mengharapkan kemudahan untuk menggunakan ALKI timur-barat melalui Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Natuna, Selat Singapura dan Selat Malaka sebagai jalur pendekat.

Pemerintah AS telah membantu peningkatan keamanan wilayah perairan RI dengan pemasangan lima radar intai di sepanjang Selat Malaka, untuk mengamankan selat terpadat di dunia tersebut.

Pembangunan lima radar yang terintegrasi dalam sistem pengintaian maritim terintegrasi (Integrated Maritime Surveillance System/IMSS).

AS juga membangun tujuh radar bantuan Amerika Serikat (AS), di Selat Makassar, guna mendukung pengamanan di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Bantuan radar Itu bertujuan mendukung komitmen bersama ASEAN tentang pertahanan dan keamanan maritim bagi kawasan ASEAN.

Sumber: TRIBUN


Panglima Armada Pasifik AS Kunjungi RI

0

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Armada Pasifik Amerika Serikat Laksamana M Patrick Senin (17/1/2011) pagi tiba di Jakarta untuk kunjungan dua harinya di Indonesia.

Setibanya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Patrick langsung mengadakan pertemuan tertutup dengan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.

"Pertemuan dilaksanakan di ruang VVIP Base Operations Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, kata Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul, juru bicara TNI, Senin, di Jakarta.

Selain mengadakan kunjungan kehormatan kepada Panglima TNI, Patrick juga dijadwalkan melakukan kegiatan serupa kepada Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno.

Iskandar mengatakan, fokus pembicaraan seputar evaluasi kerja sama kedua negara terutama di bidang militer dan pertahanan yang telah berjalan baik.

Dibicarakan pula upaya peningkatan yang dapat dilakukan kedua pihak di masa depan, seiring dengan perkembangan lingkungan strategis kawasan, lanjut Iskandar.

Komando Armada Pasifik AS telah melakukan berbagai kegiatan kerja sama dengan sejumlah negara kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia, didasari saling pengertian dan saling percaya.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 15 Januari 2011

Pasukan AS di Jepang dan Korsel Siap Hadapi Korut

0

ist

Seoul, Jumat - Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengakhiri kunjungan ke Asia dengan menyinggahi Seoul, Korea Selatan, Jumat (14/1). Salah satu masalah krusial yang ditekankan Gates adalah pasukan AS di Jepang dan Korsel akan terus dipertahankan demi menghadapi provokasi Korea Utara ”yang suka perang”.

Berbicara sebelum menemui Menteri Pertahanan Korsel Kim Kwan-jin, ia mengatakan akan berdiskusi dengan Kim untuk menciptakan bentuk koordinasi yang baik dan erat sebelum menghadapi setiap provokasi yang mungkin dilakukan Korut dan sekutunya, China, pada masa mendatang.

Washington dan Seoul menuduh Pyongyang menorpedo sebuah kapal perang Korsel pada Maret 2010 yang menewaskan 46 pelautnya. Pyongyang membantah tuduhan itu. Meski demikian, serangan yang paling menyakitkan bagi Korsel adalah ketika Korut menghujani Pulau Yeonpyeong di perbatasan dua negara serumpun itu pada 23 November 2010. Dua marinir dan dua warga sipil Korsel tewas saat itu.

Washington memiliki 28.500 tentara di Korsel. Gates juga mengatakan, meski didukung kekuatan militer, AS tetap mengutamakan pendekatan diplomatik terhadap Korut.

Dalam pembicaraan dengan para pejabat Jepang, Kamis, Gates membahas penyusunan kembali ”postur kekuatan” militer AS-Jepang menanggapi ancaman Korut dan China. Pembicaraan Gates di Tokyo dan Beijing terpusat, sebagian, pada Korut. Uji coba pesawat tempur China baru-baru ini juga dilihatnya sebagai unjuk kekuatan.

Sumber : KOMPAS


Jumat, 14 Januari 2011

ARINC Melakukan Retrofit C-130 TNI AU Senilai $ 63.7 Juta

0

Hercules Milik TNI AU

ARINC - Annapolis(WDN/MIK) : LLC hari ini mengumumkan telah memenangkan kontrak sebesar $ 63.700.000 (USD) untuk memodernisasi lima Pesawat C-130B TNI AU. ARINC memenangkan tender karena penawaran yang kompetitif pada bulan Desember lalu.

Program retrofit ini mencakup modifikasi struktural dan elektronik dengan kemampuan baru dan teknologi pada airframes pesawat C-130B yang sudah berumur 30 tahun. Pekerjaan akan dilakukan oleh ARINC yang merupakan subkontraktor yang telah dipilih oleh Indonesia. Pekerjaan akan dimulai pada kuartal pertama 2011 dan diperkirakan akan memakan waktu 32-36 bulan. ARINC sendiri merupakan salah satu pemasok utama pesawat angkut Hercules untuk TNI AU.

Ini merupakan kontrak kedua ARINC yang telah diterima baru-baru ini untuk melakukan retrofit pesawat C-130B Milik TNI AU. Pada bulan Juli 2010, ARINC menerima kontrak dari U.S. Air Force Foreign Military Sales (FMS) untuk melakukan program pemeliharaan pada pesawat C-130H yang dulu pernah digunakan oleh Indonesia untuk bantuan bencana dan bantuan kemanusiaan. Dan pesawat tersebut saat ini sedang melakukan pemeliharaan modifikasi ARINC di Oklahoma.

"ARINC sangat senang untuk melakukan memodernisasi armada C-130B TNI AU tersebut karena digunakan untuk kemanusiaan," kata Michael Young, Wakil Presiden ARINC, Aerospace Systems Engineering & Support. "Kami berharap untuk memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan airlift TNI AU, dan membantu mereka untuk memenuhi tujuan-tujuan dan misi operasi."

"Kontrak ini menunjukkan berbagai penghargaan kemampuan ARINC atas kemampuan dan kemauan kita untuk menjadi pemimpin dalam mendukung militer," kata Rob Moore, ARINC Senior Direktur Pengembangan Usaha sistem ruang angkasa. ARINC telah menghabiskan sekitar 18 bulan untuk membawa proyek ini membuahkan hasil. "

ARINC Incorporated merupakan sebuah anak perusahaan dari Carlyle Group, menyediakan alat komunikasi, teknik dan solusi integrasi yang diperuntukan untuk komersial dan pertahanan negara di seluruh dunia. Dengan kantor pusat regional di London dan Singapura, yang berbasis di Annapolis, Maryland, ARINC memiliki sertifikat ISO 9001: 2008.

Sumber: ARINC




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin