Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

TNI AL Akan Uji Persenjataan Strategisnya

0


Rudal Yakhont Dipasang di KRI Oswald Siahaan-354.


Metrotvnews.com, Jakarta: TNI Angkatan Laut akan menguji sejumlah persenjataan strategisnya. Seperti peluru kendali untuk memastikan kesiapan alat utama sistem persenjataan dan personel matra laut dalam mengantisipasi berbagai ancaman sesuai perkembangan lingkungan strategis yang terjadi.

"Uji persenjataan itu dimaksudkan untuk meningkatkan manajemen pemeliharaan, perawatan, perbaikan yang efektif guna mencapai kesiapsiagaan yang optimal," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di sela-sela rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut (KSAL) 2011 di Jakarta, Selasa (25/1).

Ia menambahkan, salah satu persenjataan strategis yang akan diuji adalah peluru kendali Yakhont buatan Rusia. Beberapa kehandalan Yakhont yang tidak dimiliki rudal antipermukaan TNI-AL sebelumnya adalah Yakhont mempunyai kecepatan maksimum hingga 2,5 Mach. Ditambah lagi Yakhont punya jangkauan tembak sangat jauh, tak tanggung-tanggung 300 kilometer.

"Dua kemampuan tadi yang hingga kini belum dimiliki jajaran rudal antikapal TNI-AL. Yakhont dapat ditembakan dari Surabaya ke sasaran di Yogyakarta," ungkap Kasal.

Seperti diketahui TNI-AL mempunyai rudal Exocet MM30/40, Harpoon dan C802. Tapi di balik itu, Yakhont mempunyai bobot dan dimensi yang terbilang bongsor di kelasnya. Harga satu unit Yakhont ditaksir sekitar 1,2 juta dolar AS.

Saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont yaitu enam pada kapal jenis fregat dan 10 di kapal perang Korvet. Masing-masing Fregat dipasang delapan unit Yakhont, sedangkan Korvet sebanyak empat unit. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya.

KSAL menambahkan, sasaran tembak dari uji coba sejumlah persenjataan strategis itu adalah kapal perang yang tidak lagi digunakan. Uji coba akan dilaksanakan di Samudra Indonesia pada Februari.

Pada kesempatan yang sama, KSAL mengatakan, pihaknya masih menunggu keputusan Kementerian Pertahanan terkait pengadaan dua kapal selam baru yang telah direncanakan sejak lama.

"Kita telah menyampaikan spesifikasi teknik dan spesifikasi operasional kapal selam yang kami butuhkan. Sekarang prosesnya masih di Kementerian Pertahanan. Di sana akan dibahas lagi di Tim Evaluasi Pengadaan yang akan menentukan kapal selam jenis apa yang akan dibeli dan digunakan TNI Angkatan Laut. Apapun yang diberikan kami terima," kata Soeparno.

Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai 700 juta dolar Amerika Serikat, yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009.

"Kami sudah tentukan spesifikasi teknisnya, serta kemampuan dan efek penggentar yang lebih dari yang dimiliki negara tetangga," kata KSAL.

Pada tender pertama, dari empat negara produsen kapal selam yang mengajukan tawaran produk mereka, seperti Jerman, Prancis, Korea Selatan, dan Rusia, TNI Angkatan Laut telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia.

Rencananya, dari dua pilihan itu akan diuji kembali, mana spesifikasi kapal selam yang sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Laut oleh Kementerian Pertahanan.

Sumber: METRO TV


Wuih! Misil Supersonik Masuk Jajaran Persenjataan KRI

2

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-Mulai 2011, TNI AL makin percaya diri dengan masuknya misil Yakhont di jajaran persenjataan KRI. Yakhont, yang dipasang di KRI Oswald Siahaan 354, tidak asing lagi di dunia maritim internasional. Misil antikapal berkecepatan supersonik buatan Rusia ini memiliki daya jelajah hingga 300 kilometer.

Uji coba penembakan Yakhont akan dilakukan tahun ini. "Nanti kita coba. Ini sedang persiapan," kata Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana (TNI) Soeparno, di Mabes TNI AL, Cilangkap, Selasa (25/1). Ia tak menyebut tanggal pastinya. Menurut dia, misil Yakhont bisa menembak sasaran di Yogyakarta dari Surabaya.

Misil ini memiliki kemampuan yang tak dimiliki misil lain, yakni kecepatan maksimum 2,5 Mach. Menurut Wikipedia, Yakhont digunakan tiga negara: Rusia, Vietnam, dan Indonesia. Rusia juga akan menjual Yakhont ke Suriah.

Soeparno mengatakan sasaran ujicoba Yakhnot adalah KRI tua buatan Amerika Serikat. Untuk pemusnahan itu, TNI AL perlu mendapat izin dari AS. "Sasarannya sudah disetujui oleh AS. Jadi, sasarannya adalah satu kapal yang dihapus," katanya.

Asisten Perencanaan KSAL, Laksamana Muda (TNI) Among Margono, mengatakan Yakhont merupakan misil strategis. "Untuk membeli saja melalui tujuh instansi di Rusia dan harus dengan persetujuan Presiden Rusia," katanya.

Sumber: REPUBLIKA


Kamis, 20 Januari 2011

AS "Dirayu" Tingkatkan Jangkauan Rudal Korsel

0

Rudal Korea Selatan.

SEOUL, RABU - Korea Selatan berencana meningkatkan daya jangkau peluru kendali yang mereka miliki untuk mengantisipasi sikap agresif negara tetangga, Korea Utara.

Upaya itu juga sekaligus untuk meningkatkan efek penggentar bagi Korut. Untuk merealisasikan niat tersebut, Korsel akan bekerja sama dan berkonsultasi dengan negara sekutunya, Amerika Serikat.

Langkah negosiasi dilaporkan sudah digelar kedua negara sejak akhir tahun lalu. Jika jadi dilakukan, daya jelajah peluru kendali Korsel bakal meningkat dari hanya mencapai radius 300 kilometer menjadi lebih dari 1.000 kilometer.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Rabu (19/1), menolak berkomentar. Namun, Perdana Menteri Korsel Han Seung-soo pernah menyampaikan di depan parlemen Korsel soal pentingnya upaya tersebut, apalagi menyusul langkah uji coba peluncuran peluru kendali Korut pada April 2009.

Sayangnya isu itu tidak mengemuka dan berlanjut dalam pertemuan keamanan bilateral tahun 2009. Ketika itu AS khawatir upaya tersebut hanya akan memicu perlombaan senjata di kawasan timur laut Asia.

Akan tetapi, isu tersebut kembali mencuat dan dinilai mendesak untuk segera direalisasikan, terutama pasca-serangan terhadap kapal perang Korsel, diduga dilakukan Korut. Dalam insiden itu 46 prajurit Angkatan Laut Korsel tewas.

Serangan Korut kembali terjadi saat mereka menyerang Pulau Yeonpyeong, Korsel, dan menewaskan empat orang dengan tembakan ratusan peluru artileri meriam Korut.

Saat ini diyakini Korut memiliki sedikitnya 1.000 peluru kendali dengan berbagai macam tipe dan 800 peluru kendali balistik. Kebanyakan dari peluru kendali itu diarahkan langsung ke Seoul atau ke sejumlah daerah lain di Korsel. Sejumlah peluru kendali Korut diketahui memiliki daya jelajah menengah, hingga 3.000 kilometer.

Hal itu berarti Korut memiliki kemampuan ”menghajar” basis militer AS yang ada di Jepang dan di Guam. Pada April 2009 Korut menguji coba tiga peluru kendali balistik antarbenua mereka. Salah satu peluru kendali itu melintas terbang di atas wilayah udara Jepang dan mendarat di Samudra Pasifik.

Dalam tur kunjungan kawasannya pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Robert Gates memperkirakan dalam lima tahun mendatang Korut sudah menguasai peluru kendali balistik antarbenua, yang mampu menjangkau negaranya. Dari sanalah kemudian muncul pernyataan Gates bahwa Korut telah menjadi ancaman langsung bagi AS.

Lebih lanjut, untuk bisa menjalankan rencananya meningkatkan daya jelajah peluru-peluru kendalinya, Korsel harus terlebih dahulu mendapat persetujuan AS untuk merevisi pakta perjanjian bilateral kedua negara, yang ditetapkan tahun 2001. Dalam pakta itu disebutkan, peluru kendali balistik Korsel dibatasi hanya memiliki daya jelajah maksimal 300 kilometer dan membawa bahan peledak sampai 500 kilogram.

”Saat ini pembicaraan tentang hal itu masih sangat awal dan dini, terutama untuk bisa mengetahui apakah rencana tersebut bisa dilakukan atau tidak,” ujar salah seorang sumber dari dalam pemerintahan Korsel.

Selama ini AS menjamin pertahanan Korsel dengan menggelar 30.000 personel pasukan militernya di kawasan tersebut.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 18 Januari 2011

Gelar Uji Coba Rudal, Presiden Taiwan Kecewa

0

Taipei - Taiwan menggelar uji coba rudal secara besar-besaran. Namun beberapa kegagalan mewarnai uji coba tersebut. Ada beberapa rudal yang gagal mengenai target. Melihat itu, Presiden Taiwan Ma Ying-jeou yang mengawasi langsung uji coba tersebut kecewa.

Dalam latihan penembakan rudal yang diliput oleh pers itu, sebanyak 19 rudal diuji coba di pangkalan militer Jiupeng di Pingtung County, Taiwan, hari ini.

Namun lima dari 19 rudal tersebut meleset dari sasaran. Presiden Ma kecewa dengan kegagalan itu.

"Saya tidak cukup puas dengan hasilnya," ujar Ma kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (18/1/2011).

"Beberapa rudal meleset dari target, dan kita perlu meninjau apakah kesalahan-kesalahan ini sifatnya mekanisme atau menusiawi. Kita juga perlu menggelar latihan-latihan kembali guna meningkatkan kemampuan militer kita," tandas Ma.

Latihan rudal ini dilakukan di pangkalan militer yang biasanya dijaga ketat. Uji rudal ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di depan insan pers dalam satu dekade. Dikatakan Ma, hal ini dilakukan untuk lebih memberikan transparansi menyangkut urusan militer dan mengizinkan publik melihat kesiapan militer Taiwan.

Uji rudal ini dilakukan Taiwan hanya beberapa hari setelah uji coba pesawat tempur siluman J-20 generasi baru China. Pesawat tempur tersebut terbukti berhasil menghindari deteksi radar.

Sumber: DETIK


Senin, 17 Januari 2011

Taiwan Gelar Latmil Berpeluru Tajam

0

Ist

TAIPEI, KOMPAS.com - Angkatan Bersenjata Taiwan akan menggelar latihan pertahanan udara dengan peluru tajam pada Selasa di Pangkalan Udara Jiupeng yang terletak di selatan Pingtung, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan pada Senin (17/1/2011).

Presiden Ma Ying-jeou akan menyaksikan uji coba tersebut dalam kapasitasnya sebagai pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata Taiwan, menurut kementerian itu dalam satu pernyataan.

Karena percobaan tersebut dilakukan menjelang uji coba pesawat tempur siluman China yang dapat menghindari radar, beberapa analis militer setempat menduga latihan pertahanan udara Taiwan yang akan menggunakan peluru tajam itu dilakukan untuk menunjukkan tekad mereka dalam membela keamanan nasionalnya.

Namun, pihak kementerian mengatakan bahwa uji coba tersebut telah lama dijadwalkan tanpa pertimbangan khusus apa pun.

Sejalan dengan proyek efektivitas dan restrukturisasi, para unit militer akan menjalankan tes kesiapan tempur secara berkala beserta evaluasinya sejak 2006 lalu.

Di antara 12 unit militer yang dilibatkan dalam latihan perang Selasa tersebut adalah Brigade Kavaleri Udara Angkatan Darat 602, Brigade Korps Marinir 77, dan Skuadron Udara 427, ungkap kementerian itu.

Latihan tersebut akan meliputi taktik tempur, strategi tempur, serangan balik udara, serta percobaan untuk menembakkan berbagai rudal udara, termasuk Tien-kung, Hawk, Sparrow, Stinger, Tien-chien I berjarak pendek yang diluncurkan dari kendaraan, dan misil udara ke udara, menurut kementerian.

Uji coba itu terbuka bagi liputan media untuk membantu meningkatkan kesadaran keamanan di kalangan masyarakat, demikian pernyataan kementerian tersebut.

Hal itu akan menjadi yang pertama dalam delapan tahun terakhir bahwa wartawan diundang untuk meliput latihan militer di Pangkalan Udara Jiupeng yang terkenal dengan penjagaan ketatnya, menurut laporan beberapa media.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 11 Januari 2011

India Tawarkan Kerjasama Pembuatan Rudal

0

Rudal Brahmos

JAKARTA--MICOM: Pemerintah India menawarkan kerjasama pembuatan rudal ke Indonesia. Tawaran itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut India Laksamana Nirmal Kumar Verma saat melakukan kunjungan resmi ke Kemenhan, Jakarta, Selasa (11/1).

"India ingin menawarkan kerjasama. Nah, sejauh mana kemampuan kita karena yang berkali-kali ditawarkan ke kita rudal Brahmos. Itu sudah dibuat dan ditawarkan ke kita. Kita sudah beli yang asli. Rudal Yakhont. Mudah-mudahan kedepan kita bisa kerjasama," kata Kapuskom Publik Brigjen I Wayan Midhio.

Kerjasama itu, dinilai dia bisa menguntungkan program seribu roket yang sedang digagas oleh Indonesia. Dikombinasikan dengan kemampuan pembuatan rudal India, ia menyatakan roket Indonesia berpeluang menjadi rudal.

"Indonesia sudah mampu membuat roket. Tahun 2011-2014 kita buat seribu roket. Kalau kita buat pengaturnya, nanti kita buat rudal. Nah, kita jajaki apa yang ditawarkan mereka," jelasnya.

Industri pertahanan India, menurut dia, sudah lebih maju dibandingkan Indonesia. India bahkan sudah mampu memproduksi kapal selam, rudal, korvet dan kapal induk. Fokus industri pertahanan India saat ini adalah membangun air defence carrier, yakni teknologi pesawat anti serangan udara. "Kita sendiri saat ini spare part radar dan parasut kita membeli dari mereka," tukasnya.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Jumat, 07 Januari 2011

Perancang Rudal Patriot Meninggal Dunia

0



MOSKOW--MICOM: Kepala perancang peluru kendali Patriot Zdzislaw Starostecki meninggal dunia di Amerika Serikat (AS) dalam usia 91 tahun. Hal itu dilaporkan Radio milik Polandia, Jumat (7/1) .

Starostecki meninggal dunia di rumahnya di Sarasota, Florida pada malam Tahun Baru. Dia lahir di Lodz pada 1919 dan berjuang bagi negaranya saat operasi militer September 1939 yang bernasib buruk. Sewaktu dia berusaha kabur dari Polandia yang dijajah, Starostecki tertangkap pasukan Uni Soviet dan dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun. Setelah itu dia diasingkan ke Siberia untuk bekerja sebagai penambang emas di Kolyma.

Starostecki dibebaskan pada 1941 karena amnesti resmi saat kebangkitan invasi Jerman dibawah Hitler. Dia meninggalkan Uni Soviet dan bertugas di Kesatuan Kedua Rakyat Polandia pada operasi militer Italia.

Setelah belajar di Inggris, dia berpindah ke AS bersama istri dan kedua anaknya. Kemudian Starostecki dipekerjakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertahanan milik Angkatan Darat AS.

Pada 1980 dia menjabat sebagai kepala perancang program peluru kendali Patriot. "Ironisnya, rudal yang dulu pernah dirancang olehnya saat ini akan dioperasikan di Polandia sebagai bagian sistem keamanan yang disepakati dengan AS," ungkap radio tersebut.

Sumber: MI-COM


Senin, 03 Januari 2011

WikiLeaks: Iran Bisa Serang Israel 12 Menit

0


Peluncuran misil Iran Qiam-1. AP/Iranian Defense Ministry,Vahid Reza Alaei, HO

TEMPO Interaktif, Yerusalem - Situs pembocor dokumen rahasia WikiLeaks terus mengeluarkan kawat diplomatik milik pemerintah Amerika Serikat. Dalam kawat terbaru, terungkap, pemerintah Iran memiliki misil yang bisa menghancurkan Israel hanya dalam rentang waktu 10 hingga 12 menit.

Dalam kawat diplomatik yang dikirim Kedutaan AS di Tel Aviv ke Washington tersebut, Kepala Staf Pertahanan Israel, Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi mengatakan kemampuan Iran itu di hadapan delegasi anggota kongres AS yang dipimpin Ike Skelton pada November 2009. Menurut Ashkenazi pemerintah Iran memiliki 300 misil yang bisa menyerang Israel dalam waktu 12 menit.

Meski Iran ancaman bagi Israel, dalam kawat tersebut diungkapkan Ashkenazi lebih khawatir dengan kekuatan Hamas yang mengendalikan Gaza dan perbatasan barat Israel. Dia juga cemas dengan kekuatan Hezbollah di Lebanon. Menurut Ashkenazi Hezbollah punya 40 ribu roket. "Sedangkan Hamas kemungkinan juga mampu membombardir Tel Aviv, kota terpadat Israel," kata Ashkenazi.

Untuk mengantisipasi serangan Hamas dan Hezbolla, Ashkenazi mengungkapkan telah mempersiapkan diri. Bahkan untuk perang skala besar sekali pun. "Serangan-serangan roket itu merupakan ancaman serius bagi kami, karena itu kami menyiapkan diri, termasuk menyiapkan roket-roket untuk pertahanan," kata dia.

Sumber: TEMPO


Selasa, 21 Desember 2010

Pakistan Uji Coba Rudal Berkemampuan Nuklir

0

(Ist)

Islamabad (ANTARA News/AFP) - Pakistan, Selasa berhasil melakukan uji coba penembakan rudal jarak menengah yang dapat membawa hulu ledak-hulu ledak nuklir dan konvensional, kata militer.

Militer dalam satu pernyataan mengatakan rudal Ghauri Hatf 5, dengan jangkauan tembak 1.300 km dapat membawa hulu-hulu ledak konvensional dan lainnya.

Peluncuran itu dilakukan oleh kelompok rudal strategi komando "Army Strategic Force" pada akhir pelatihan lapangan yang bertujuan untuk menguji kesiapan operasional pasukan itu, kata pernyataan tersebut.

Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani, ketua Komite Gabungan Kepala Staf Jendral Khalid Shahmeem Wyne dan para perwira senior militer lainnya dan para ilmuwan menyaksikan uji coba itu, kata pernyataan tersebut.

"Anda telah membuat negara bangga dan kami menghormati anda atas kerja keras anda," kata Gilani kepada para ilmuwan dan para teknisi.

Gilani mengatakan Pakistan dapat bangga atas kemampuan pertahanannya dan penangkalan nuklirnya yang dapat dipercaya.Kemampuan ini, tambahnya merupakan dasar dari kebijakan keamanan Pakistan dan terus meningkatkannya.

"Uji coba itu menunjukkan kredibilitas dari strategi penangkalan minimum, yang adalah tonggak dari kebijakan keamanan kita dan untuk menjamin perdamaian di kawasan itu," katanya.

Gilani mengatakan Pakistan adalah satu negara yang bertangggung jawab dengan kemampuan nuklir yang sangat dipercaya dan tidak memiliki tujuan agresi terhadap negara manapun.

India dan Pakistan-- yang pernah terlibat tiga kali perang, dua antaranya di wilayah Kashmir -- secara rutin melakukan uji coba rudal sejak dua negara itu melakukan uji coba senjata nuklir mereka tahun 1998.

Persenjataan Pakistan termasuk rudal-rudal jarak pendek, menengah dan jauh.

"Tidak diragukan bahwa angkatan bersenjata Pakistan sangat profesional, bermotivasi dan dapat sepenuhnya mengamankan keamanan Pakistan terhadap semua tipe agresi," kata Gilani.

Sumber: ANTARA


Sabtu, 11 Desember 2010

Jepang akan Gunakan Pencegah Rudal Terbaru

0

Rudal pencegah Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3)

TOKYO--MICOM: Jepang berencana akan menggunakan senjata canggih pencegah rudal pada markas pertahanan udaranya di seluruh negara untuk menepis ancaman rudal balistik milik Korea Utara. Demikian dilaporkan Kyodo News, Sabtu (11/12).

Pengunaan rudal pencegah Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) berada di bawah kebijakan pertahanan lima tahun baru yang akan diumumkan pada awal pekan depan, menurut Kyodo, mengutip para pejabat pemerintah dan pertahanan. Rudal PAC-3, yang dirancang untuk melumpuhkan peluru rudal darat, akan ditempatkan pada seluruh ke enam gugusan rudal pertahanan udara di markas udara Pasukan Bela Diri Jepang, yang saat ini baru melengkapi tiga gugusan, kata Kyodo.

Aksi tersebut dilakukan ditengah meningginya ketegangan di Semenanjung Korea menyusul serangan artileri Korut ke pulau perbatasan dengan Korea Selatan bulan lalu, dan peningkatan berkala pasukan militer dan aktivitas angkatan laut China.

Kemarin Jepang dan Amerika Serikat menyelesaikan latihan militer bersama terbesar dengan mengunjuk kemampuan persenjataan setelah AS dan Korsel melakukan hal serupa guna menekan Pyongyang. Kebijakan baru juga akan menentukan rudal penghancur Aegis dengan rudal pencegah Standard Missile-3, serta menambah jumlah kapal selam dari 16 menjadi 22 unit guna meningkatkan kewaspadaan di barat daya Jepang.

Jumlah kapal pengawal akan ditingkatkan dari 47 menjadi 48, sementara pesawat terbang operasional besar akan dikurangi dari 350 menjadi 340 karena menggunakan pesawat transportasi berukuran lebih besar. Kebijakan tersebut akan mengatur pengurangan tank dan artileri sebagai upaya mengubah fokus dari operasi darat menjadi pertahanan maritim, menurut laporan media lokal.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Uji Rudal India Ganggu Penerbangan Haji

0


MADINAH--MICOM: Uji peluru kendali (rudal) India telah mengganggu penerbangan haji, seperti yang dialami Kelompok Terbang (Kloter) 27a embarkasi Jakarta (JKG), yang tertahan di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis Madinah (AMAA) karena pesawat terlambat datang.

Pesawat Garuda yang harus mengangkut Kloter 27a itu terlambat tiba di Madinah, kata Duty Manager Garuda di Stasiun Bandara Madinah, Bambang Suwito Adji di Bandara AMAA, Madinah, Jumat (10/12).

Latihan militer dan peluncuran roket di India menjadi sebab pesawat Garuda yang akan mengangkut jamaah asal Jakarta itu menjadi ditunda keberangkatannya. Di India, sedang latihan perang dan peluncuran roket dengan area yang luas dan waktu yang panjang, kata Bambang Suwito Adji.

Menurut Bambang, penerbangan yang berasal dari arah timur yang menuju Timur Tengah semuanya terganggu akibat aktivitas militer tersebut. Termasuk pesawat Garuda milik jamaah kloter 27a yang sebenarnya sudah berangkat dari Bandara Soekarno Hatta.

"Saat masuk di India dicegat dan diminta untuk kembali. Akhirnya pesawat memutar kembali ke Cengkareng," terang Bambang seraya mengatakan kemungkinan ada tiga kloter yang terlambat masuk Madinah. Atas kejadian tersebut, pihak Garuda langsung berkoordinasi dengan Jakarta terkait adanya larangan tersebut. Akhirnya, pesawat diberangkatkan kembali dan akan tiba di Madinah sekira pukul 20.30 waktu Saudi.

"Mereka akan memutar melalui Himalaya atau India utara," papar Bambang. Bagi Garuda, persoalan semacam ini biasa dalam dunia penerbangan. Peristiwa ini dinamakan air block space dan tidak perlu ada kekhawatiran berlebih. Yang penting pilot bisa menghindar dari zona bahaya yang diperingatkan. "Kita mohon maaf jika akhirnya telat. Saya kira bisa masuk ternyata pesawat memutar lagi ke Jakarta," urai Bambang.

Namun Bambang menegaskan jika latihan perang tersebut hanya mengganggu perjalanan berangkat dari Indonesia ke Madinah. Sementara untuk perjalanan sebaliknya akan lancar, karena latihan militer sudah selesai. Seperti diketahui India memang sedang melakukan uji coba rudal supersonik atas kerjasama dengan Rusia. Rudal yang dinamakan BarhMos ini sukses dilakukan peluncuran di negara bagian Orissa.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Jumat, 10 Desember 2010

India Gagal Uji Senjata Rudal Nuklir

0


BHUBANESWAR, KOMPAS.com - India Jumat (10/12/2010) gagal melakukan uji senjata versi upgrade rudal balistik Agni-II jarak menengah yang berkemampuan nuklir.

"Agni-II plus dari darat ke darat itu ditembakkan dari sebuah peluncur mobile di Pulau Wheeler, di lepas pantai barat negara bagian Orissa, tetapi segera jatuh ke laut tak lama setelah ditembakkan," kata sumber tersebut.

Hal itu tidak segera jelas mengapa uji rudal itu gagal. Rudal itu memiliki dua tingkat, keduanya didorong oleh propelan padat.

Mampu membawa hulu ledak konvensional atau nuklir satu-ton, Agni-II adalah salah satu dari serangkaian rudal yang dikembangkan sebagai strategi pencegahan terhadap dua negara tetangga bersenjata nuklir, yakni China dan Pakistan.

Agni-II memiliki jangkauan normal 2,000-2,500 kilometer (1,250-1,500 mil) dan India telah berhasil menguji sebuah varian Agni-III dengan jangkauan hingga 3,000-3,500 kilometer.

Peng-upgrade-an Agni-II plus memiliki sistem navigasi yang diperbaiki dan bertujuan menjembatani kesenjangan antara kedua rudal dengan kisaran jarak 2,500-3,000 kilometer.

Sumber: KOMPAS


Kamis, 02 Desember 2010

India melakukan uji rudal jelajah BrahMos

0


India berhasil melakukan ujicoba peluncuran rudal jelajah supersonik BrahMos dari sebuah pangkalan militer di pantai timur laut negara bagian Orissa pada Kamis, Dikutip dari Press Trust of India (PTI).

Rudal jelajah supersonic dengan kemampuan uji penembakan dari sebuah peluncur bergerak pukul 11.00 waktu setempat (05:30 WIB) dari Test Range Terpadu di Chandipur. "Uji coba ini berhasil," kata dari sumber pertahanan PTI tanpa merinci.

Akhirnya uji BrahMos pada tanggal 5 September rudal jelajah mencapai target pada kecepatan supersonik dalam mode steep-dive untuk pertama kalinya. Didirikan pada tahun 1998, BrahMos Aerospace Ltd, perusahaan patungan Rusia-India untuk memproduksi rudal jelajah supersonik oleh Rusia Mashinostroyenie NPO-3M55 Yakhont dirancang (SS-N-26).

Rudal BrahMos memiliki jangkauan 290 km (180 mil) dan dapat membawa hulu ledak konvensional hingga 300 kg (660 lbs). Bisa efektif terlibat sasaran dari ketinggian rendah 10 meter (30 kaki) dan yang memiliki kecepatan maksimum 2,8 Mach.

Sumber: RIA / MIK


Rabu, 01 Desember 2010

Rusia Bantah Tempatkan Rudal Dekat Perbatasan NATO

0

Rudal taktis Iskander-M

REPUBLIKA.CO.ID, Moskow--Surat kabar Wall Street Journal dalam sebuah artikel yang disiarkan, Selasa (30/11) mengatakan bahwa Amerika Serikat meyakini Rusia memindahkan "sejumlah hulu ledak nuklir taktis jarak dekatnya ke fasilitas-fasilitas dekat sekutu NATO dalam musim semi baru-baru ini."

Namun, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Selasa, membantah rumor media bahwa Rusia telah menggelar rudal nuklir jarak dekatnya di dekat perbatasannya dengan negara-negara NATO. "Kami tidak mengusung rudal apapun di wilayah Kaliningrad," kata Jenderal Nikolai Makarov, mengomentari laporan itu, sebagaimana dikutip dari RIA Novosti-OANA.

Moskow sejak lama menentang penggelaran fasilitas pertahanan rudal NATO di dekat perbatasannya, dengan mengklaim mereka akan mengancam keamanan dan merusak strategi keseimbangan pasukan di Eropa. AS menghapus rencana-rencana sebelumnya pada September lau untuk penempatan sistem pertahanan antirudal di Republik Czech dan Polandia.

Moskow menyambut baik langkah itu, dan Presiden Dmitry Medvedev mengatakan kemudian bahwa Rusia akan mencabut rencana-rencana untuk menggelar rudal taktis Iskander-M di Wilayah Kaliningrad, yang berbatasan dengan para anggota NATO, Polandia dan Lithuania.

Sistem Iskander-M (NATO melaporkan dengan nama SS-26 Stone) ddilengkapi dengan dua propelan padat tingkat satu 9M723K1 rudal berpemandu dengan kemampuan "kuasi-balistik". Rudal ini memiliki jangkauan 400 km (250 mil) dan dilaporkan dapat membawa hulu ledak konvensional dan nuklir.

Sumber: REPUBLIKA


Senin, 29 November 2010

Korut Siagakan Rudal ke Arah Korsel

0

illustrasi

YEONPYEONG, MINGGU - Suasana tegang di kawasan Semenanjung Korea terasa sepanjang Minggu (28/11), menyusul krisis yang kembali terjadi dan terus memanas di wilayah itu dalam sepekan terakhir.

Korea Utara dilaporkan langsung menyiagakan sejumlah peluru kendali darat ke darat miliknya di sepanjang Laut Kuning. Peluru-peluru kendali itu diyakini diarahkan dan akan ditembakkan langsung ke Korea Selatan jika ketegangan memuncak dan perang pecah.

Sikap itu dilakukan Pyongyang beberapa jam setelah dimulainya latihan perang besar-besaran antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pyongyang marah karena latihan perang itu jadi juga digelar. Sebelumnya mereka mengancam akan melakukan serangan ”tak berbelas kasih” jika latihan perang tersebut digelar di kawasan sengketa.

Selasa pekan lalu Korut membombardir sebuah pulau berpenghuni di teritorial Korsel, Pulau Yeonpyeong, dengan peluru meriam artilerinya. Serangan itu menewaskan dua warga sipil dan dua prajurit marinir Korsel. Sekitar 13 menit setelah serangan itu, Korsel baru membalas menembak.

Provokasi serupa bukan pertama kali dilakukan Korut pasca-gencatan senjata kedua Korea pada 27 Juli 1953. Delapan bulan sebelumnya sebuah kapal perang Angkatan Laut Korsel tenggelam terkena torpedo, yang diyakini dilepaskan Korut. Sebanyak 46 pelaut Korsel tewas dalam peristiwa itu.

Korut memang terkenal dengan sikapnya yang sulit ditebak. Bahkan, pasca-serangan artilerinya ke Pulau Yeonpyeong, Korut balik menyalahkan Korsel jika sampai serangan itu memakan korban jiwa. Menurut Korut, korban jiwa jatuh lantaran Korsel sengaja menempatkan penduduk sipil di pulau yang masih menjadi sengketa itu dan menjadikan mereka tameng hidup.

Dalam latihan perang besar-besaran yang digelar Korsel dan AS kali ini, sejumlah kekuatan dan alat perang dikerahkan sebagai bentuk unjuk kekuatan.

Angkatan perang Korsel mengerahkan sedikitnya tiga kapal perang jenis perusak, fregat, dan sejumlah pesawat tempur antikapal selam, sementara AS mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir USS George Washington, yang membawa 75 pesawat tempur dan lebih dari 6.000 personel militer. Disebut-sebut empat kapal perang AS lainnya akan datang menyusul.

Lebih lanjut Menteri Pertahanan Korsel yang baru, Kim Kwan-jin, meminta para jurnalis segera keluar dari Pulau Yeonpyeong menyusul situasi yang dinilainya tidak bisa diduga. Pemerintah Korsel mengaku tidak dapat menjamin keselamatan para jurnalis mengingat kemungkinan provokasi dalam bentuk serangan lanjutan dari Korut sangat sulit diprediksi. Kantor berita Korsel, Yonhap, memperkirakan sekitar 400 jurnalis meliput di pulau itu.

Latihan perang AS-Korsel di sekitar pantai barat Semenanjung Korea memang telah lama menjadi isu sensitif, terutama bagi Korea Utara. Tambah lagi, kawasan itu memang masih menjadi wilayah dengan batas laut yang masih dipersengketakan kedua negara. Pyongyang juga menganggap latihan perang yang digelar AS-Korsel sebagai pamer kekuatan militer dan alat perang masing-masing, ini sebuah bentuk intimidasi.

Walau ketegangan terus terjadi, suasana di pusat kota Seoul, Korsel, berjalan normal. Puluhan ribu orang bahkan memenuhi kawasan pusat perbelanjaan Myongdong, berbelanja dan menikmati makan dan minum di kafe-kafe yang ada di sana. Ketegangan juga dilaporkan tidak sampai mengganggu jadwal penerbangan dan pelayaran sipil.

”Saya khawatir, tetapi tidak sampai merasa harus tetap tinggal di rumah. Saya tidak yakin perang terjadi. Mereka sama-sama merasa perang tidak berguna,” ujar Eunhye Kim, penjaga bioskop di Seoul.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 26 November 2010

Di Bawah Ancaman Rudal Taepodong

0

Rudal Taepodong II

Empat tahun silam, tepatnya Senin, 9 Oktober 2006, Korea Utara melakukan uji peledakan nuklir untuk pertama kalinya. Dengan uji tersebut, Korut menjadi negara kedelapan yang menyatakan diri sebagai negara nuklir setelah AS (1945), Rusia (1949), Inggris (1952), Perancis (1960), RRC (1964), India (1974), dan Pakistan (1998). Israel diyakini memiliki sekitar 200 senjata nuklir, tapi itu tak pernah dinyatakan secara terbuka.

Kita ingat, reaksi dunia atas uji nuklir Korut itu amat hebat. Nuklir Korut telah mengguncangkan keseimbangan di Asia Timur. Waktu itu tebersit kekhawatiran, bagaimana kalau Jepang dan Korea Selatan lalu mengikuti jejak Korut?

Memang saat itu muncul perkiraan, daya ledakan nuklir Korut lebih rendah dibandingkan dengan uji nuklir pertama negara lain, yaitu 1 kiloton atau kurang. Padahal biasanya uji nuklir pertama menghasilkan daya ledak 10 kiloton-60 kiloton. (NYT Online, 10/10/06)

Selain masalah daya ledak, Korut juga masih perlu mengubah bom yang dapat diledakkan menjadi hulu ledak untuk dipasang di pucuk rudal kebanggaan mereka yang bernama Taepodong.

Meskipun jalan panjang masih harus dilalui Korut untuk menyempurnakan sistem senjata nuklirnya, yang sudah diperlihatkan negara ini kepada dunia amat menggentarkan. Tentu Jepang dan Korsel adalah dua negara yang paling cemas dengan situasi ini.

Dalam situasi keseimbangan kekuatan yang berubah inilah, tanpa diduga-duga, Selasa (23/11) lalu, Korut menembakkan artileri ke Pulau Yeonpyeong, ketika Korsel melakukan latihan militer tahunan yang diikuti oleh 70.000 pasukan. Serangan yang menewaskan dua tentara Korsel ini tak ayal lagi memicu baku tembak dalam salah satu bentrok paling serius antara dua musuh bebuyutan ini dalam puluhan tahun terakhir.

Dari pihak Korsel, Korut bukan sekali ini saja memprovokasi. Beberapa tahun terakhir provokasi Korut, termasuk dua kali uji nuklir, beberapa kali uji peluncuran rudal, serta penenggelaman sebuah kapal perang Korsel pada Maret silam yang menewaskan 46 pelautnya.

Sebaliknya, pihak Korut berpandangan bahwa latihan militer Korsel merupakan simulasi invasi Selatan ke Utara, dan ”satu cara untuk memprovokasi perang”. Menurut Korut, latihan tersebut melibatkan sejumlah kekuatan AS meskipun hal ini dibantah oleh Korsel.

Yeonpyeong yang terletak 3 kilometer dari garis batas utara (ini batas laut yang tidak diakui oleh Korut), dan hanya 12 km dari pantai Korut, kini menjadi pangkalan sekitar 1.000 marinir Korut. Angkatan Laut Korsel sudah mengoperasikan kapal ”patroli pembunuh” kelas terbaru yang dilengkapi dengan rudal di Laut Barat, atau yang juga dikenal sebagai Laut Kuning. (IHT, 24/11)

Menyusul insiden provokasi di atas, kuasa-kuasa besar yang aktif mengupayakan perdamaian di Semenanjung Korea lalu menyerukan agar konflik diselesaikan secara nonmiliter, dan Korut mau kembali ke meja perundingan enam pihak yang memfokuskan diri pada upaya denuklirisasi di Semenanjung.

Namun, seiring dengan itu, AS segera mengirimkan gugus kapal induk George Washington dari pangkalannya di selatan Tokyo, Rabu lalu. Kapal induk bertenaga nuklir yang mengangkut lebih dari 75 pesawat dan 6.000 awak ini akan bergabung dengan latihan militer Korsel hingga Rabu pekan depan.

Ancaman nuklir

Di luar penembakan artileri, yang tentu amat mengkhawatirkan adalah eskalasi yang bisa memicu ancaman Kim Jong Il di awal tulisan ini.

Selain kecanggihan teknologi alat utama sistem senjata, kemakmuran Korsel memungkinkan disediakannya latihan lebih memadai.

Kondisi yang tidak simetri ini dengan cerdik coba dijungkirkan Korut dengan mengembangkan kemampuan nuklir dan rudal. Untuk nuklir, Korut terbukti punya program penyempurnaan dan perluasan. Guru besar Universitas Stanford, Siegfried S Hecker, yang mengunjungi Korut melihat dengan mata kepala sendiri adanya fasilitas modern untuk pengayaan nuklir.

Adapun untuk rudal, sejak tahun 2006 Korut telah menguasai rekayasa rudal. Berbasis rudal Scud buatan Rusia, Korut telah berhasil mengembangkan rudal balistik jarak pendek, jarak sedang (Nodong), dan jarak jauh (Taepodong).

Butuh pengakuan


Meski serangan artileri ke Pulau Yeonpyeong merupakan provokasi yang mencemaskan, sebagian pengamat tidak yakin bahwa itu merupakan langkah serius Korut untuk melancarkan perang besar-besaran. Seperti telah terjadi sebelum ini, setiap kali punya keinginan tersembunyi, penguasa Korut yang masih bercorak Stalinis ini lalu membuat move militer yang mengagetkan. Kali ini pun provokasi dikaitkan dengan masih acuhnya AS terhadap Korut. Kemungkinan kedua, langkah Korut kali ini dimaksudkan untuk mengamankan proses suksesi dari Kim Jong Il ke Kim Jong Un, yang bagaimanapun mengandung potensi instabilitas di dalam negeri Korut.

Dengan pengerahan armada kapal induk, kombinasi AS-Korsel secara militer telah menjadi Goliath menghadapi David (Korut) yang kecil. Ini pun pola asimetri yang kini juga sering dijumpai dalam konflik modern. (Lihat The Sling and the Stone – On War in the 21st Century, Col Thomas Hammes, 2006)

Tetapi, lebih dari situasi asimetris, respons ”mengerahkan otot lebih besar untuk menggentarkan lawan” yang mungkin justru tak diharapkan oleh Korut inilah yang secara psikologis bisa memicu frustrasi Korut yang lebih serius. (IHT, 25/11)

Dalam hal ini, sebetulnya yang paling terancam adalah Korsel.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 20 November 2010

NATO Setujui Sistem Perlindungan Ancaman Rudal

0

illustrasi

LISBON - Presiden AS Barack Obama dan aliansinya di NATO pada Jumat telah setuju untuk menciptakan perlindungan bagi warga Eropa terhadap ancaman serangan rudal dengan sistem radar dan penangkal, serta mengundang Rusia untuk turut ambil bagian.

Kesepakatan tersebut mendorong para anggota NATO untuk mengaktifkan sistem antirudal untuk menembak jatuh misil yang mungkin datang dari musuh dan mendesak Moskow untuk mengintegrasikan sistem pertahanan mereka dengan sistem yang dimiliki NATO. Demikian dilansir AFP, Sabtu (20/11/2010).

Keberhasilan mencapai kesepakatan pada hari pertama memberikan dorongan bagi para pemimpin NATO, untuk memulai hari kedua dengan lebih baik di mana mereka akan coba membuat kesepakatan mengenai rencana mengakhiri perang di Afghanistan.

"Untuk kali pertama, kami berhasil mencapai kesepakatan untuk mengembangkan kapabilitas pertahanan yang cukup kuat untuk melindungi semua wilayah dan populasi negara-negara NATO, seperti halnya di AS," cetus Obama pada forum tersebut.

Rusia sendiri mengkritik keras rancangan perlindungan rudal AS sebelumnya, karena melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap kredibilitas tindak pencegahan nuklir bersama. Moskow telah meminta dicabutnya rancangan tersebut.

Walaupun begitu, 28 perwakilan di NATO berharap kali ini Presiden Dmitry Medvedev dapat mencapai kesepakatan dengan pakta pertahanan tersebut. Ini akan menjadi pertemuan pertama pihak Rusia dengan NATO sejak Moskow terlibat perang di Georgia pada 2008.

Sumber : OKEZONE


Jumat, 19 November 2010

Rudal Brahmos Jadi Inspirasi

0

Rudal Brahmos Dipajang Di Indo Defence 2010

Apa yang tersisa dari sebuah pameran alat utama sistem senjata (alutsista) bagi Indonesia. Sebuah inspirasi. Paling tidak begitulah yang tersirat dari semangat Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat mengelilingi pameran Indo Defence, Indo Aerospace, dan Indo Marine 2010 (IDAM) Expo and Forum 2010 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Kamis (11/11) sore lalu. Dia meniti dari satu stan ke stan lain. Hampir semua stan dia kunjungi.

Takjub. “Ke depan Indonesia harus bisa meniru teknologi ini,” ujar Purnomo. Salah satu senjata yang tak henti-hentinya membuat Purnomo takjub adalah rudal penjelajah supersonik Brahmos buatan BrahMos Aerospace, sebuah perusahaan hasil patungan India dan Rusia. Brahmos sendiri merupakan akronim dari nama sungai Brahmaputra di India dan Moscova (Moskwa) di Rusia. Purnomo sebenarnya sudah pernah melihat aksi Brahmos tahun lalu pada ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM) di Bangkok, Thailand.

Pada pertemuan para Menteri Pertahanan se-Asia Tenggara ini, rudal Brahmos menampakkan diri dan beraksi. Setahun kemudian, saat Brahmos dipamerkan lagi di Indonesia, ketakjuban Purnomo masih tinggi. Dia tetap takjub saat menatap layar televisi yang menampilkan aksi rudal seharga 3 juta dollar AS atau 27 miliar rupiah ini menghancurkan target. Bagaimana tidak takjub, rudal ini diklaim sebagai rudal tercepat di dunia.

Dalam brosurnya, Brahmos Aerospace dengan bangga mengedepankan jargon “Misil yang Teristimewa”. Dengan kecepatan maksimal 2,8 mach atau setara dengan 3.430 kilometer per jam, Brahmos memang yang terdepan. Rudal supersonik tercanggih buatan Amerika, Harpoon, pun tiga kali lebih lambat dari Brahmos. Mengerikan. Tambah menakjubkan lagi, Brahmos memiliki jangkauan maksimal 290 kilometer dan dapat membawa hulu ledak konvensional hingga 300 kilogram.

India sudah sukses meluncurkan rudal ini di landasan laut dan darat. Ke depan, BrahMos Aerospace akan mencoba memperluas landasan dengan mencoba menempelkannya di badan Sukhoi Su-30MKI Flanker-H (udara) maupun di badan kapal selam (bawah laut). Bakal tambah mengerikan. “Indonesia saja baru bisa mengembangkan rudal dengan jangkauan maksimal 14 kilometer,” kata Purnomo. Itu pun baru akan diluncurkan pada 2014.

Namun begitu, Purnomo bangga bisa mendatangkan teknologi alutsista terbaik di dunia. Setidaknya, keberadaan IDAM Expo akan membuat Indonesia berkaca pada perkembangan persenjataan negara lain.

Alih Teknologi

Proses alih teknologi industri pertahanan yang diperkirakan berlangsung hingga 2025 mendatang diharapkan sempurna. Dan Indonesia dalam rentang 15 tahun itu diharapkan mampu menyamai prestasi yang saat ini ditorehkan India. “Selain bisa olah raga mengelilingi setiap stan, saya banyak belajar dari pameran senjata ini. Kita lihat kemajuan yang kita punya kemudian kita lihat juga kemajuan yang mereka punya. Setelah itu, kita bisa mengukur kekuatan sendiri,” jelasnya.

Tak pelak, pameran yang diikuti lebih dari 400 peserta dari 38 negara ini benar-benar membuat inspirasi untuk terus meningkatkan kelengkapan alutsista kita. Tujuannya bukan semata-mata untuk berperang, tetapi memperkuat pertahanan Indonesia.

Sumber : Koran Jakarta


Kamis, 18 November 2010

Jet Pakistan Dipersenjatai Rudal China

0

BEIJING, KOMPAS.com - Pakistan memastikan akan membeli rudal dan sistem penerbangan buatan China untuk mempersenjatai 250 pesawat tempur jenis JF-17 Thunder sebagai upaya kerja sama militer yang lebih erat dengan China, lapor media negeri itu, Kamis (18/11).

Panglima Angkatan Udara Pakistan (PAF), Marsekal Rao Qamar Suleman, mengatakan kepada harian Global Times bahwa sistem radar dan rudal jarak-menengah SD-10 buatan China akan digunakan pada jet tempur yang dikembangkan bersama oleh kedua negara. "PAF tidak berencana untuk menggunakan perlengkapan tempur dan persenjataan buatan Barat pada pesawatnya untuk sementara ini," ujar Suleman sebagaimana dikutip harian tersebut.

Pakistan juga akan membeli empat rudal darat ke udara sebagai upaya penguatan kerja sama dengan China untuk membantu meningkatkan angkatan bersenjatanya, ujar Suleman kepada harian China Daily dalam wawancara terpisah. Dia menyatakan hal itu di sela-sela Pameran Kedirgantaraan tahunan Zhuhai, yang sedang dilaksanakan di China selatan.

Para pakar pertahanan China melayangkan komentar mereka dengan mengatakan kerja sama yang dilakukan tidak menargetkan negara manapun serta tidak membandingkan persetujuan yang dihasilkan atas kunjungan Presiden AS, Barack Obama, ke India pada November, ujar China Daily. Nilai kesepakatan yang dibuat saat kunjungan Obama merupakan persetujuan awal seharga 4,1 miliar dollar AS bagi Angkatan Udara India untuk membeli sepuluh pesawat angkut C-17 Globe Master yang dibuat oleh perusahaan pesawat raksasa AS Boeing.

Pakistan telah berencana mempersenjatai jet tempur JF-17 milik mereka dengan rudal buatan firma Thales SA dari Perancis dengan persetujuan yang dilaporkan seharga 1,2 miliar euro atau 1,6 miliar dollar AS. Namun para pejabat di Perancis menegaskan kepada AFP, April, bahwa persetujuan itu ditunda tanpa keterangan yang jelas. Harian Perancis, Le Monde, mengabarkan bahwa persetujuan itu digagalkan untuk menghindari rusaknya hubungan dengan India, yang merupakan pesaing nuklir Pakistan.

China adalah mitra Pakistan yang kuat dan pemerintah Pakistan sangat tergantung kepada pemerintah China atas kebutuhan pertahanan dan infrastrukturnya. PAF memiliki sebuah armada pesawat buatan China termasuk F-7PG dan A-5, selain pesawat buatan AS F-16 dan Mirage buatan Perancis. Pesawat jet berteknologi menengah JF-17, yang dijuluki jet Thunder, dirakit secara gabungan dengan China.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 16 November 2010

RI–China Jajaki Kerja Sama Produksi Rudal

0

Rudal C-705

JAKARTA (SINDO) – Indonesia menjajaki kerja sama produksi peluru kendali (rudal) dengan Republik Rakyat China. Pemerintah telah menawarkan kerja sama tersebut dalam pameran pertahanan beberapa hari lalu.

“Misalnya pengadaan misil C 802 dan C 705. Kalau mau perbanyak, kenapa tidak dibangun di Indonesia saja,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kantor Kementerian Pertahanan kemarin. Purnomo mengatakan, kebutuhan akan rudal jenis tersebut cukup besar untuk ditempatkan di kapal-kapal perang milik TNI Angkatan Laut.Penjajakan kerja sama ini selaras dengan strategi pembangunan industri pertahanan.

Menurut Purnomo, pengadaan alat utama sistem persenjataan yang belum dapat diproduksi di dalam negeri sedapat mungkin diupayakan transfer teknologi untuk meningkatkan content lokal dan substitusi impor. “Yang belum bisa untuk dalam negeri, kita akan joint production dulu pelan-pelan kemudian kita dapat lisensi jadi kita ingin yang kita impor itu kita substitusi pelan-pelan sehingga impornya berkurang,local content-nya naik, pada suatu saat nanti kita bisa ekspor,”katanya.

Namun, lanjut Purnomo, kerja sama produksi bersama rudal tersebut belum dapat dipastikan dalam waktu dekat karena masih cukup banyak tahapan yang harus dijalani.“ Tentunya China pun masih hitung-hitungan investasinya akan seperti apa,”ujarnya. Ketika ditanyakan peningkatan kerja sama militer dengan Chi-na apakah muncul tekanan dari negara- negara tertentu,Purnomo menegaskan, Indonesia menjalin kerja sama berdasarkan prinsip bebas aktif.

“Kita lakukan kerja sama militer kepada siapa saja. Prinsip kita million friends zero enemy. Dan saya kira mereka juga mengapresiasi cara-cara kita itu,”ujarnya. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan, pihaknya telah mengirimkan tim untuk melihat fasilitas pendidikan dan latihan pasukan khusus di negara itu.

Kerja sama antarpasukan khusus TNIdanmiliterChinaitubisa dilakukan dalam berbagai bentukdi antaranya latihan bersama atau pendidikan perwira. “Kerja sama pasukan khusus antara militer Indonesia dan China juga menyangkut kerja sama pemberantasan terorisme,” katanya.

Sumber : SINDO




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin