Tampilkan postingan dengan label CHINA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHINA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Januari 2011

Ekspor Alat Militer Ilegal, Warga China Dihukum 97 Bulan Penjara

0

BOSTON--MICOM: Seorang warga China telah dijatuhi hukuman 97 bulan penjara, Rabu (26/1), setelah diyakini tahun lalu telah mengekspor secara tidak sah perlengkapan militer ke China selama beberapa tahun.

Beberapa pejabat Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) di Boston mengatakan bahwa Zhen Zhou Wu, 46, telah melakukan perjalanan ke AS dengan visa bisnis yang digunakan
berdasar tahunan dan telah mengekspor ke China serangkaian barang.

Barang-barang tersebut mencakup komponen elektronik militer dan elektronik sensitif yang digunakan dalam radar bertahap militer, perang elektronik, dan sistem rudal. Beberapa pabrik militer dan lembaga riset militer China termasuk di antara yang menerima peralatan yang terdakwa ekspor.

Hukuman itu adalah yang kedua dalam sepekan dalam kasus keamanan yang melibatkan China, hanya beberapa hari setelah Presiden China Hu Jintao merampungkan kunjungannya di AS. Wu melakukan ekspor tidak sah ke China sebanyak 14 kali antara 2004 dan 2007 dan mengajukan dokumen pelayaran palsu pada Depatemen Perdagangan AS dari 2005 hingga 2007.

Wu memiliki dan mengontrol sebuah perusahaan, Chitron Electronics Inc. di Walthan, Massachusetts, AS, dan menggunakan perusahaan itu untuk mendapatkan peralatan yang terlarang dari para pemasok AS dan mengekspor barang itu ke China melalui Hong Kong.

Peralatan yang diekspor itu digunakan dalam perang elektronik, radar militer, pengendalian kebakaran, peralatan panduan dan kontrol militer, sistem rudal, dan komunikasi satelit. "Terdakwa dan perusahaan itu telah melanggar undang-undang ekspor AS dan mengkompromikan keamanan nasional kami selama lebih dari satu dasawarsa," kata penuntut AS Carmen Ortiz.

Pada Jumat, seorang pria Michigan telah dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena berusaha untuk mendapatkan pekerjaan pada badan intelijen AS CIA agar supaya ia dapat menjadi mata-mata untuk China.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 26 Januari 2011

Jet Tempur China Bikin Gerah Amerika Serikat

0

JAKARTA--MICOM: Uji terbang jet tempur siluman J-20 oleh China pada 11 Januari telah menyita perhatian banyak pihak, terutama karena itu terjadi di saat kunjungan Menteri Pertahanan AS Robert Gates ke China.

Peluncuran jet siluman China itu mengundang banyak pertanyaan, dan jawabnya kompleks.

Para analis militer sebenarnya telah lama mengetahui bahwa China mengembangkan sebuah pesawat tempur sekelas pesawat tempur siluman F-22 Raptor milik AS.

Namun mereka tidak pernah menyangka bakal menyaksikan penampilan terbaru jet siluman China ini Desember, lapor Aviation Week and Space Technology.

Sejumlah uji kecepatan pesawat itu di darat dalam mana roda depannya berhasil terangkat dari tanah, diteruskan oleh uji terbang pertamanya ke angkasa.

China telah meluncurkan video jet baru itu saat masih di darat, tinggal landas, dan mendarat di Chengdu.

Mengutip seorang analis Hongkong, New York Times melapokan bahwa pesawat tempur tersebut terbang sekitar 15 menit di atas pangkalan udara.

Dilengkapi dua sirip sayap berbeda seperti juga dipunyai F-22, jelas sudah pesawat ini memang diunjukkan sebagai wahana perang siluman.

The Timesjuga melaporkan bahwa pesawat ini mampu membawa banyak misil dan dapat terbang jarak jauh setelah lebih dulu melakukan pengisian bahan bakar di udara.

Demonstrasi terbang pesawat ini mengkhawatirkan sejumlah analis karena inilah kali pertama F-22 mendapat tantangan. F-22 sendiri menduduki peringkat atas dalam jajaran angkatan udara AS.

"Kita sudah terbiasa berada di dunia di mana angkatan udara kita dominan," kata analis Rand Corporation Roger Cliff kepada Newsweek. "Namun dominasi itu kini dipertanyakan."

Sekali J-20 dipergelarkan, dalam skenario itu, maka wahana-wahana perang udara top AS akan kehilangan keunggilannya dari pesawat-pesawat silumen yang mereka miliki. Intinya, mereka kini tidak lagi menguasai angkasa. "Tidak secepat itu," sergah Aviation Week.

Radar baru lebih bertenaga yang menggunakan larik penskala yang secara elektronis aktif, bisa menjejak target-target siluman, dan dengan cepat menyesuikan diri dengan teknologi siluman.

"Antisiluman akan mengubah semua desain pesawat siluman," kata majalah itu seraya menyebutkan AS mungkin sudah memiliki radar yang bisa melacak pesawat siluman.

Lebih dari itu, penyempurnaan teknologi pesawat siluman itu memerlukan waktu.

AS sendiri memulai program F-22 pada 1980an.

Sekilas, tampak siluman dari jet China itu seperti tambal sulam, kata analis Grup Teal Richard Aboulafia kepada Wall Street Journal.

Dia berpendapat bahwa China boleh saja menggelarkan pesawat tempur baru di dekade ini, namun teknologi militer AS tetap lebih baik.

Kalimat ini provokatif dan ini biasanya dilontarkan pada era perlombaan senjata, demikian Science Daily (21/1).

Sumber: MEDIA INDONESIA


Senin, 24 Januari 2011

Pesawat Siluman China Ternyata Gunakan Teknologi AS

0


J-20 Setelah Melakukan Ujicoba.

BRUSSELS - China baru-baru saja memamerkan kemampuan mereka memproduksi sebuah pesawat tempur siluman. Namun diyakini pesawat canggih tersebut menggunakan teknologi yang dimiliki Amerika Serikat (AS).

Kecurigaan ini dilayangkan oleh kalangan militer Serbia, yang menilai kemungkinan besar pesawat siluman produksi China itu dibuat dari pesawat tempur siluman F-117 Nighthawka milik AS. Pesawat itu jatuh saat perang di Serbia tahun 1999.

F-117 Nighthawks merupakan pesawat tempur siluman pertama yang dibuat di dunia. Saat operasi pengeboman NATO di Serbia saat perang Kosovo, pesawat itu jatuh tertembak pada tanggal 27 Maret 1999. Pilot dari pesawat itu berhasil menyelamatkan diri dari pesawat dan diselamatkan oleh pihak militer AS.

Insiden jatuhnya Nighthawks itu merupakan pertama kalinya terjadi bagi pesawat yang disebut-sebut tidak tersentuh. Pihak Pentagon menyatakan jatuhnya pesawat tersebut terjadi lewat kombinasi taktik dan keberuntungan dari misil SA-3 dari Rusia.

Puing-puing pesawat canggih itu tersebar di wilayah pertanian. Warga sipil pun langsung memungut puing-puing dari pesawat untuk dijadikan cendera mata.
Puing-puing inilah yang dicari oleh intelijen China dan mengumpulkannya dari warga yang memiliki puing pesawat siluman tersebut.

"Saat itu, pihak intelijen kami melakukan ada beberapa agen China memasuki wilayah kami untuk mencari puing F-117. Mereka membeli puing pesawat tersebut dari petani setempat. Kami meyakini pihak China menggunakan puing-puing tersebut untuk membangun teknologi pesawat siluman mereka," ungkap Panglima Militer Kroasi Laksamana Davor Domazet-Loso seperti dikutip Associated Press, Senin (24/1/2011).

Sumber: OKEZONE


Jumat, 21 Januari 2011

China tidak Ingin Lomba Senjata

0

Presiden China Hu Jintao Dan Presiden AS Barack Obama Melakukan Kerjasama Bilateral(Foto: SINDO)

WASHINGTON--MICOM : Presiden China Hu Jintao mengatakan China tidak tertarik ikut dalam lomba senjata atau menerapkan dominasi militer terhadap negara-negara lain.

"Kami tidak ikut dalam perlombaan senjata atau menciptakan ancaman militer terhadap negara manapun," kata pemimpin China itu dalam sebuah pidato di depan para pemimpin kalangan pengusaha Amerika, Kamis (20/1) waktu setempat.

Hu meminta kerjasama Amerika mengenai masalah ekonomi dan keamanan.

Di hari ketiga lawatannya ke Amerika Hu bertemu dengan sejumlah politisi dan ditanyai mengenai sejumlah isu.

"China tidak akan pernah mencari dominasi atau melaksanakan kebijakan ekspasionis," kata Hu dalam pidatonya.

Pemimpin China itu menambahkan bahwa hubungan Amerika dan China sudah lama "berjalan mulus dan tumbuh dengan stabil" ketika kedua negara saling mempertimbangkan kepentingan mereka.

Sebelumnya pada hari Kamis Ketua DPR Amerika John Boehner, pemimpin Partai Republik, menyebutkan bahwa China perlu memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap hak intelektual dan memperbaiki catatan hak asasi manusia dalam pertemuan dengan Hu di parlemen Amerika.

Hu mengakui bahwa China masih perlu melakukan lebih banyak upaya terkait HAM.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Rabu, 19 Januari 2011

Jet J-20, KFX, dan Pertahanan Negara

0

Ist

Bagi dunia penerbangan militer, kabar mutakhir yang banyak menjadi wacana hangat adalah tentang jet siluman (tak kasatradar) rancangan China, J-20. Selain itu sebenarnya juga ada kabar tentang pesawat tempur rancangan India, yakni light combat aircraft (LCA).

Untuk jet terakhir ini, Kementerian Pertahanan India, pekan silam, mengeluarkan izin (clearance) operasi awal bagi pesawat tempur serbaguna yang dikembangkan sendiri oleh India ini yang kini diberi nama ”Tejas”.

Bagi pengamat luar, keputusan di atas seperti menyiratkan bahwa militer India semakin bergerak menuju ke arah kemandirian (Sushant Singh, The Wall Street Journal, 18/1). Namun, hal itu tampaknya tidak melukiskan hal sebenarnya karena, dari seluruh perlengkapan militer India, kandungan lokal hanya 30 persen dan selebihnya merupakan produk impor. Tejas juga tak bisa dijadikan contoh karena proyek sudah dimulai pada 1969 hingga malah memunculkan pertanyaan apakah India sebenarnya serius mengembangkan kemampuan domestik di bidang pertahanan.

Sebaliknya terjadi pada China. Didorong kemajuan ekonomi, yang lalu memberi banyak dana untuk litbang militer, serta ambisi menjadi kuasa utama dunia, China konsisten untuk menguasai desain dan rekayasa, dari mainan anak-anak, produk teknologi informasi komunikasi komersial, seperti telepon seluler dan laptop, hingga pesawat terbang canggih.

J-20 dan F-22

Dari hasil rekayasa China, satu karya yang hangat dibicarakan seiring dengan lawatan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates ke Beijing, pertengahan Januari lalu, adalah jet yang didaku China berkemampuan mengelak dari radar.
J-20 merupakan jet tempur bermesin dua yang disebut-sebut masuk kategori jet tempur generasi kelima, setara dengan jet F-22 Raptor dan F-35 Lightning II. Seperti diberitakan (Kompas, 7/1), J-20 bahkan punya badan lebih besar dan panjang, menyiratkan ia diproyeksikan mengangkut senjata lebih banyak dan menjangkau sasaran lebih jauh.

J-20 terbang perdana pada 11 Januari 2011 di Chengdu, yang—bersama Shenyang di Provinsi Liaoning dan Xi’an di Provinsi Shaanxi—merupakan pangkalan industri kedirgantaraan China yang paling maju (China Daily, Asia Weekly, 14-20/1).

Memang dari penerbangan perdana kemarin orang belum bisa menyimpulkan, apakah J-20 benar-benar merupakan pesawat tempur generasi kelima. Sekadar catatan, dalam dunia penerbangan militer, definisi generasi kelima masih sering diperdebatkan. Namun, satu hal sudah jelas, jet generasi kelima merupakan pesawat tempur yang supercanggih. Selain memiliki teknologi stealth yang membuatnya sulit dideteksi radar, ia juga berkemampuan manuver unggul, demikian pula avionik (elektronika penerbangan) yang maju. Komputer penerbangan yang ada di pesawat membuat pesawat juga terintegrasi dengan medan tempur, bisa mengkaji situasi dengan cepat.

Dewasa ini, satu-satunya jet tempur yang punya kemampuan seperti itu adalah F-22 Raptor yang kini dioperasikan AU AS (USAF) untuk mempertahankan keunggulan udara (air supremacy) adidaya satu-satunya.

China, yang memandang pertahanan negaranya juga harus tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonominya, melihat keunggulan udara seperti AS juga harus dimiliki. Kini, meski masih harus membuktikan kemampuan J-20, China setidaknya sudah bisa membuktikan, ia bisa membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir ini. Sejumlah analis mengatakan, penerbangan perdana J-20 menjadi petunjuk bahwa China membuat kemajuan lebih cepat daripada yang diduga orang dalam membuat tandingan F-22 (Reuters/Jakarta Post, 12/1).

Melihat munculnya program jet tempur supercanggih, negara lain, seperti Jepang, jelas tak bisa berpangku tangan. Setelah permintaan membeli F-22 sejauh ini ditolak AS, Jepang sempat memperlihatkan niat untuk membuat sendiri jet tempur siluman.
Negara lain peminat F-22 adalah Australia. Namun, sebagaimana Jepang, Australia, sebagai sekutu dekat AS, pun masih belum diizinkan membeli jet yang dihitung dari biaya pengembangannya merupakan jet tempur paling mahal di dunia, dengan harga satuan sekitar 250 juta dollar AS (sekitar Rp 2,25 triliun). Berikutnya, seiring penambahan produksi, harga F-22 disebut menjadi 130 juta dollar AS per unit (Kompas, 25/7/2007).
Secara kemampuan, F-22 bisa melumpuhkan jet tempur apa pun di dunia sekarang ini. Lawan tak akan pernah tahu, F-22 ada di mana dan akan datang menyerang dari arah mana, tetapi tahu-tahu ia akan jadi sasaran rudal udara-ke-udara (seperti AIM-120 AMRAAM) yang dibawa F-22.

Memetik pelajaran

Dewasa ini, Indonesia juga tengah mengembangkan kerja sama dengan Korea Selatan untuk membuat jet tempur canggih generasi 4,5. Ini berarti, kemutakhiran pesawat di atas F-16C/D, tetapi masih di bawah F-22 atau F-35.

Sebagian kalangan memang masih mempertanyakan kemanfaatan program ini, dari sisi biaya ataupun dari sisi pemilihan mitra. Pada era munculnya jet tempur canggih, seperti F-22 atau J-20, membuat jet seperti KFX yang digagas Korsel-Indonesia terkesan kehilangan relevansi. Namun, di pihak lain, ada sejumlah faktor positif untuk mendukung program semacam ini.

Selain memajukan kemandirian, melalui program semacam KFX bisa dikembangkan pula kemampuan rekayasa insinyur penerbangan Indonesia, yang berikutnya diharapkan bisa menghasilkan spin-off atau manfaat ikutan, yang memicu produk atau kemampuan lain.
Namun, satu hal juga dapat ditarik dari program seperti J-20, yaitu proyek pertahanan yang dilaksanakan dengan biaya mahal ini tak lalu menghasilkan produk seperti LCA Tejas India. Pemerintah dan industri nasional harus sepenuhnya mendukung program nasional ini dan menjadikannya ujung tombak penguasaan teknologi serta alutsista yang dibutuhkan negara.

Sumber: KOMPAS


Selasa, 11 Januari 2011

Gates Perbaiki Hubungan Militer Dengan Cina

0



TEMPO Interaktif, BEIJING – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates hari ini, Selasa (11/01), bertemu Menteri Luar Negeri Cina, Yang Jiechi, di Beijing, Cina. Pertemuan ini berlangsung sebelum Gates bertemu Presiden Cina, Hu Jintao.

Kepada reporter yang meliput pertemuannya dengan Yang, Gates mengatakan Amerika Serikat yakin kunjungan kenegaraan yang dilakukannya akan menjadi langkah besar dalam hubungan Amerika dan Cina ke depannya. Sedangkan Yang mengatakan, kedatangan Gates di Cina menunjukkan bahwa semua hubungan kedua negara sudah diperbaiki.

Gates sebenarnya berencana datang ke Cina Juni tahun lalu. Tapi batal gara-gara Cina memprotes langkah Amerika yang menjual senjata ke Taiwan. Adapun kunjungan Gates ini bertujuan memulihkan langsung kontak antar militer, yang terputus setelah penjualan senjata Januari tahun lalu.

Sumber: TEMPO


Cina Uji Coba Pesawat Siluman J-20

0


Pesawat tempur Cina J-20. AP/Kyodo News

TEMPO Interaktif, Beijing - Cina mulai melakukan uji coba secara resmi terhadap pesawat jet tempur silumannya. Pesawat siluman bernama J-20 itu terbang dari pangkalan udara di Chengdu selama 15 menit pada Selasa 11 Januari 2011.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates yang bertemu Presiden Cina Hu Jintao membenarkan penerbangan uji coba ini. Gates hari ini, Selasa (11/01), juga bertemu Menteri Luar Negeri Cina, Yang Jiechi, di Beijing, Cina.

Pada Kamis pekan lalu sebuah laporan menyebutkan, pesawat tempur siluman Cina telah terbukti tidak tertangkap radar. Bahkan laporan itu menyebutkan pesawat J-20 yang membawa misil sudah sampai ke wilayah Guam tanpa diketahui Amerika Serikat. Namun kabar ini kemudian dibantah Gates.

Foto-foto pesawat J-20 sejak pekan lalu sudah bocor di internet. Situs Aviation Week menyebut pesawat ini sudah mengudara dan akan resmi beroperasi pada 2017.

Beberapa ahli pesawat mengatakan jet tempur siluman Cina memiliki bodi lebih besar dari jet siluman yang sudah ada. "J-20 dikemudikan satu orang, dua mesin, lebih berat dan besar dari Sukhoi T-50 dan F-22," kata seorang ahli di situs Aviation Week.

Ted Galen Carpenter, seorang ahli pertahanan di Institut Cato, Washington mengatakan pesawat tempur Cina ini tidak akan membawa perubahan. "Keseimbangan kekuatan dunia tidak akan berubah dalam 10 tahun mendatang, namun secara psikologi dan simbol memang penting," ujarnya. Menurut dia, Cina selama ini terganggu dengan kehadiran militer Amerika di halaman belakang mereka.

Sumber: TEMPO


Update : Siluman Baru Cina Menandingi F-22 Raptor

0

J-20

TEMPO Interaktif, Beijing - Jajaran pesawat jet tempur generasi kelima kini semakin ramai dengan kehadiran Chengdu J-20, pesawat jet stealth pertama Cina. Dengan panjang 23 meter, pesawat yang dijuluki elang hitam itu jauh lebih besar dan berat dibandingkan dengan pesawat sejenisnya, semisal F-22 Raptor milik Amerika Serikat dan Sukhoi T-50 dari Rusia.

Kemunculan Chengdu J-20 cukup mengejutkan militer Barat, yang menduga pesawat itu baru rampung pada 2017-2019. Pesawat yang terungkap keberadaannya lewat sejumlah foto jarak jauh itu adalah perpaduan antara teknologi mesin Rusia dan desain bodi pesawat mirip F-22 yang dapat menghindari deteksi radar.

Pesawat bermesin kembar dengan satu awak itu memiliki rentang sayap sekitar 14 meter, dan diperkirakan memiliki berat 34-36 ribu kilogram ketika lepas landas. Para analis militer memperkirakan pesawat prototipe itu menggunakan mesin Saturn 117S buatan Rusia. Namun Cina mengklaim dua mesin turbofan berdaya dorong 13.200 kilogram/WS-10 yang dilengkapi dengan nozzle thrust vector controlled (TVC) ini sepenuhnya buatan dalam negeri.

Belum adanya keterangan resmi dari pemerintah Cina tentang pesawat tempur generasi kelima itu membuat sejumlah analis militer Barat masih meraba-raba kemampuan J-20 atau JXX. Mereka memperkirakan pesawat itu memiliki kemampuan jelajah dan kecergasan yang masih berada di bawah pesawat F-22 buatan Lockheed Martin, tapi mempunyai anjungan senjata dan tangki bahan bakar yang lebih besar.

Dari foto-foto yang diambil di sekitar Chengdu Aircraft Design Institute di Provinsi Sichuan, sebelah barat Cina, tempat pesawat itu dikembangkan, diperlihatkan bahwa J-20 mempunyai bodi yang panjang dan lebar dengan sayap utama berbentuk delta, canard, kanopi berbentuk gelembung, dan saluran pembuangan mesin konvensional berbentuk melingkar. Dalam tes runway, bagian depan pesawat itu berujung tajam seperti F-22 Raptor, namun badan dan ekornya mirip prototipe Sukhoi T-50.

Matthew Buckley, pilot jet tempur Angkatan Laut Amerika, yakin J-20 memiliki kemampuan siluman yang hebat bila dilihat dari bentuk luar pesawat yang berlekuk-lekuk, mengindikasikan teknologi stealth di dalamnya. Pesawat itu juga tak banyak dilengkapi dengan komponen eksternal, seperti tangki bahan bakar dan misil. "Pesawat itu dirancang untuk mengurangi tanda-tanda yang dapat terbaca radar," ujarnya. "Pesawat itu mempunyai teknologi stealth yang hebat. F-18 yang saya pakai terlihat seperti truk besar dalam radar. Pesawat itu ada kemungkinan sama sekali tidak tampak."

Richard Fisher, senior fellow hubungan militer Asia di International Assessment and Strategy Center, think tank keamanan di Washington, menyatakan bahwa pejabat Cina mengaku program itu bertujuan menandingi F-22 Raptor. "Pesawat itu memiliki potensi besar mengalahkan F-22, dan jauh lebih unggul dibanding F-35," katanya.

Fisher menyoroti teknologi stealth Chengdu J-20 dan kemampuannya melakukan super-cruise atau terbang dengan kecepatan supersonik tanpa perlu menggunakan afterburner yang menyedot banyak bahan bakar. Dia mengatakan J-20 mempunyai kemampuan supermanuver karena mesin thrust-vectored yang membuatnya bisa membelok tajam.

Sang "elang hitam" dianggap sebagai langkah luar biasa Angkatan Udara Cina, yang selama ini masih mengandalkan pesawat buatan asing. "Pesawat itu akan segera mengadakan penerbangan perdananya dalam waktu dekat," kata Peter Felstead, editor Jane's Defence Weekly.

Meski masih beberapa tahun lagi sebelum J-20 dapat beroperasi, pesawat itu telah membuat Amerika Serikat merasa was-was bakal kehilangan dominasi di kawasan Pasifik. Namun Duta Besar Cina untuk Inggris, Liu Xiaoming, menegaskan bahwa negerinya tak berambisi menyaingi kekuatan militer Amerika di Pasifik barat. "Kami bukanlah rival Amerika," ujarnya. "Kami percaya Amerika dan Cina dapat bekerja sama di kawasan itu."

Sumber: TEMPO


Senin, 10 Januari 2011

China: Teknologi Militer Kami Tertinggal

0

Pesawat tempur siluman J-20 milik China

BEIJING, KOMPAS.com — Teknologi militer China tertinggal puluhan tahun dibandingkan dengan perlengkapan pasukan keamanan tercanggih di dunia dan tidak mengancam negara mana pun. Menteri Pertahanan China Liang Guanglie menegaskan hal itu, Senin (10/1/2011), setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates.

Gates, Minggu, memulai kunjungan empat hari ke Beijing yang akan berakhir Rabu, seminggu sebelum kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao ke Washington.

"Upaya-upaya yang kami lakukan dalam penelitian dan pengembangan sistem persenjataan tidak bertujuan untuk menargetkan negara ketiga atau negara mana pun di dunia, dan sama sekali tidak bertujuan untuk mengancam negara mana pun di dunia," ujar Liang Guanglie kepada wartawan setelah melakukan pembicaraan dengan Gates.

Para pejabat AS telah memerhatikan perkembangan pesat program rudal balistik antikapal China, yang dapat menantang kapal induk pengangkut pesawat tempur AS. China juga bersiap untuk meluncurkan kapal induk pertamanya akhir tahun ini, lebih cepat dari sejumlah perkiraan. Pekan lalu China juga diduga senjaga membocorkan sejumlah foto di internet dari sebuah prototipe sebuah jet tempur siluman pertama negara itu, yaitu J-20.

Sumber: KOMPAS


Halangi Cina-Korut, Jepang dan AS Gelar Latihan Perang Laut

0

Ist

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO--Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, Senin (10/1) menggelar latihan perang di Laut China Timur yang melibatkan kapal-kapal perang Amerika Serikat, demikian kata Kementerian Pertahanan Jepang.

USS Carl Vinson (CVN-70), salah satu supercarrier (kapal induk) kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS yang mampu membawa 90 pesawat jet tempur dan helikopter serta dikawal beberapa kapal perusak AS berpartisipasi dalam pelatihan itu. Pelatihan diadakan di barat pulau Kyushu, kata kementerian.

Saluran TV Jepang NHK mengatakan bahwa latihan ini ditujukan untuk menghalangi operasi angkatan laut yang mungkin dilakukan Korea Utara dan China.

Ketegangan di Semenanjung Korea tetap tinggi setelah penembakan terhadap pulau utara Korea Selatan Yeonpyeong pada November. Insiden menewaskan empat orang termasuk warga sipil.

Pada Desember, Seoul mengadakan latihan militer besar-besaran yang melibatkan ratusan personil militer dan lebih dari 100 jenis senjata, termasuk tank, rudal anti-tank, helikopter dan jet tempur.

Korea Utara kemudian memperingatkan lawan atas "perang suci" yang akan digelarnya dan bisa jadi bakal menggunakan penangkis nuklir. Sebelumnya pada Januari, Pyongyang mengusulkan Seoul untuk memulai perundingan "tanpa syarat" untuk memperbaiki hubungan yang tegang antara kedua negara.

Sumber: Republika


AS Akan Respons Kemajuan Militer China

0


Foto jet tempur siluman China, J-20, yang diduga sengaja dibocorkan ke publik.

BEIJING, KOMPAS.com — Amerika Serikat mengatakan akan merespons kemampuan militer China yang meningkat pesat dengan membangun kekuatannya sendiri di sekitar wilayah tersebut.

Robert Gates, Menteri Pertahanan AS, mengatakan hal itu saat tiba di Beijing, China, Minggu (9/1/2011), untuk mengikuti perundingan selama empat hari. Perundingan itu sendiri bertujuan memperbaharui hubungan angkatan bersenjata AS dan China. Namun, kunjungan tersebut telah dibayang-bayangi serangkaian pengumuman China tentang pertumbuhan kekuatan teknologi rudalnya, kemampuan angkatan laut, dan inisiatif pertahanan lain.

Kunjungan itu merupakan yang pertama oleh seorang Menteri Pertahanan AS sejak tahun 2000 dan terjadi saat ketegangan meningkat di wilayah tersebut. Kunjungan itu juga terjadi hampir setahun setelah China menghentikan kontak militer dengan Washington menyusul penjualan senjata ke Taiwan.

Di tengah hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan yang berada pada titik terendah dalam beberapa dekade, Beijing telah dibuat marah oleh latihan militer bersama AS-Korea Selatan di dekat pantainya. Sementara itu, Washington dibuat prihatin oleh meningkatnya keinginan China dalam melenturkan otot militernya. Sepuluh hari lalu, Jepang mengungkapkan bahwa negara itu telah menyiagakan jet tempurnya 44 kali dalam sembilan bulan terakhir sebagai tanggapan atas susupan Angkatan Udara China ke wilayah udara Jepang.

"Saya prihatin dengan perkembangan rudal antikapal dan rudal balistik (China) sejak saya menduduki jabatan ini," kata Gates seperti dikutip Telegraph. "Perkembangan itu jelas berpotensi menjadikan sejumlah kemampuan kami berada dalam risiko dan kami harus memberi perhatian pada hal tersebut. Kami harus menanggapi secara tepat dengan program kami sendiri."

Kamis lalu, Gates mengumumkan anggaran militer untuk lima tahun ke depan, yang akan mencakup pendanaan bagi pembangunan generasi baru pembom jarak jauh serta bagi jammers elektronik dan radar baru.

Berbagai kemajuan terbaru yang dibuat militer China telah menggelisahkan Washington. China tengah mengembangkan rudal balistik antikapal yang sudah dijuluki sebagai "pembunuh kapal induk". Perkembangan itu menjadi kekhawatiran mendalam bagi AS yang bergantung pada kapal induk bagi proyek kekuasaannya di wilayah tersebut.

Pekan lalu, Beijing juga mengumumkan apa yang tampaknya menjadi prototipe dari sebuah jet tempur siluman. Sementara itu, ada pula spekulasi bahwa China akan meluncurkan kapal induk pertamanya pada akhir tahun ini, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sementara anggaran pertahanan China dan program pengembangan senjatanya tetap terselubung kerahasiaan. Banyak pengamat yakin, teknologi militer China tetap satu generasi di belakang AS.

Sumber: KOMPAS


Sabtu, 08 Januari 2011

China Bisa Terlalu Percaya Diri

0

J-20

sydney, jumat - Analisis intelijen, yang disusun lembaga-lembaga intelijen Australia, mengungkapkan kekhawatiran bahwa China bisa terlalu percaya diri dengan kekuatannya sehingga akan membesar-besarkan kejadian sepele menjadi konflik besar yang mengganggu stabilitas kawasan.

Analisis itu mengemuka dalam sebuah taklimat antara dinas intelijen Office of National Assessments (ONA), badan intelijen militer Defence Intelligence Organisation (DIO), Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan Australia pada 2006.

Hasil taklimat itu disampaikan oleh pejabat Departemen Luar Negeri Australia kepada Kedutaan Besar AS di Canberra. Kawat diplomatik dari Kedubes AS mengenai isi taklimat tersebut menjadi salah satu kawat yang bocor di WikiLeaks dan dimuat harian Sydney Morning Herald, Jumat (7/1).

Informasi intelijen Australia juga menunjukkan, banyak hal ditutup-tutupi oleh China terkait tujuan dan program pengembangan militernya. Salah satunya adalah belanja militer China pada 2006, yang ternyata mencapai 70 miliar dollar AS (Rp 632,1 triliun) atau dua kali lipat dari jumlah yang diumumkan.

China selalu berdalih program pengembangan militernya bertujuan untuk pertahanan diri dan bukan untuk menyerang negara lain. Namun, pihak intelijen Australia berpendapat, pembangunan kekuatan militer China itu sudah melebihi kebutuhan untuk pertahanan diri dan menghadapi konflik dengan Taiwan.

Pembangunan kekuatan militer ini, ditambah dengan kurangnya pengalaman Tentara Pembebasan Rakyat China, meningkatnya rasa nasionalisme rakyat China, dan semakin tingginya harapan untuk menaikkan status China di pentas global, bisa membawa Beijing terlalu percaya diri dengan kekuatan militernya.

”Ada potensi kesalahpahaman, yang bisa berujung pada salah perhitungan serius atau krisis, dan kejadian-kejadian sepele bisa meningkat eskalasinya dengan cepat,” ungkap isi analisis itu.

China belakangan mengejutkan dunia dengan publikasi rencana peluncuran kapal induknya yang pertama, uji coba rudal pembunuh kapal induk, dan penampilan pesawat siluman pertama buatan China.

Sumber: KOMPAS


Jet Siluman China dan AU Kita

0


J-20

Sejak Perang Teluk 1991, dunia militer dibuat terpesona oleh kekuatan udara. Seolah membenarkan apa yang dulu diramalkan.

Para penganjur kekuatan udara, seperti Giulio Douhet, William Mitchell, atau Alexander de Seversky, pernah meramalkan, perang dapat dimenangi oleh kekuatan udara. Meski tak semuanya sepakat, apa yang terjadi dewasa ini membesarkan keyakinan itu.

AS, Rusia, dan Perancis, serta kemitraan Inggris-Italia-Jerman-Spanyol, memperlihatkan capaian mengesankan dalam pembuatan jet tempur pada pengujung abad ke-20. Namun, ingin jadi yang paling unggul di udara, AS memelopori pembuatan jet tempur yang lebih canggih lagi, melibatkan teknologi stealth, yang membuat pesawat tak bisa atau amat sulit dideteksi oleh radar lawan.

Setelah mewujudkan dalam pesawat F-117 Nighthawk (yang kini sudah dipensiun), AS kini mengoperasikan pesawat keunggulan udara paling maju di dunia, yakni F-22 Raptor.

Rusia, yang menjadi seteru utama semasa Perang Dingin, sebenarnya juga tak mau kalah. Ia juga punya program jet tempur canggih, seperti Su-47 Berkut atau Su-37, yang punya kemampuan membelok-belokkan dorongan jet (thrust vectoring), yang menambah kelincahan manuvernya.

Kemarin kita baca di harian ini, China juga mengembangkan jet siluman yang diberi kode J-20. Langkah China masuk akal karena tanpa didukung oleh pesawat paling mutakhir, yang dikategorikan sebagai pesawat tempur generasi kelima, percuma saja kekuatan yang ada.

Kita juga tidak bisa mengabaikan semua perkembangan di atas, yaitu munculnya jet canggih tidak kasatradar dan juga keyakinan akan semakin pentingnya kekuatan udara. Hanya saja, pada sisi lain, kita juga paham bahwa program apa pun menyangkut kekuatan udara selalu mahal. Jangankan F-22 yang harganya sekitar Rp 2,7 triliun sebuahnya, untuk membangun satu skuadron Sukhoi Su-30 yang sebuahnya sekitar Rp 450 miliar dengan senjata lengkap saja kita sudah terengah-engah.

Namun, di tengah kendala yang ada, kita tetap harus serius memikirkan masalah ini karena meski ada tesis bahwa perang menjadi semakin mahal dan tak terjangkau oleh kebanyakan negara, irasionalitas bisa muncul sewaktu-waktu. Dan, manakala hal semacam itu terjadi, kekuatan udara diyakini akan memainkan peran menentukan.

Kini, meski masih diliputi pro-kontra, kita juga punya program mengembangkan sendiri kemampuan membuat pesawat tempur bersama dengan Korea Selatan. Kita menempuh langkah itu, mengingat di dunia praktis tidak ada negara—di luar negara-negara yang bersekutu—yang bersedia berbagi teknologi kedirgantaraan militer yang dikembangkan dengan biaya mahal.

Sumber: KOMPAS


Jumat, 07 Januari 2011

Taiwan Pantau Jet Tempur Siluman China

0


TAIPEI, KOMPAS.com — Kementerian Pertahanan Taiwan, Jumat (7/1/2011), mengatakan, pihaknya memantau ketat pengembangan jet tempur siluman pertama China dan akan terus mengupayakan pengadaan pesawat canggih dari Amerika Serikat.

"Kami tengah mencermati situasi itu secara saksama dan terus mengumpulkan informasi yang relevan," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Yu Sy-tue. Ia menanggapi laporan baru-baru ini bahwa China telah merampungkan sebuah prototipe jet tempur siluman, J-20.

Washington sejauh ini meremehkan pentingnya pesawat tempur baru itu. Seorang pejabat tinggi Angkatan Laut AS memperkirakan, butuh waktu bertahun-tahun sebelum jet tempur itu benar-benar bisa diopersikan.

Namun, ancaman mungkin memang terasa lebih tajam di Taiwan, yang telah lebih dari 60 tahun hidup di bawah ancaman invasi China, saat suatu laporan militer tahun lalu mengakui bahwa Beijing memiliki jet tempur yang lebih baik ketimbang yang dimiliki negara pulau itu. "Taiwan perlu memperkuat pertahanan udaranya terkait dengan perkembangan yang tidak seimbang antarkedua belah pihak. Kami perlu pesawat tempur canggih dan kami akan menegaskan niat kami untuk membeli jet dari Amerika Serikat," katanya.

Taipei mengajukan kepada pemerintah AS untuk membeli 66 unit jet tempur F-16 C/D pada awal tahun 2007. Namun, para pengamat mengatakan, Washington menarik ulur kesepakatan itu karena takut akan kemarahan Beijing. China menentang setiap penjualan senjata ke Taiwan, yang dianggap sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu proses reunifikasi. Hal tersebut dilakukan dengan kekerasan jika perlu meskipun kedua belah pihak berpisah sejak tahun 1949 setelah perang saudara dan diperintah secara terpisah sejak itu.

Taiwan berpendapat masih perlu mempertahankan diri meskipun dalam beberapa tahun belakangan meningkatkan hubungan dengan China daratan.

Sumber: KOMPAS


Rabu, 05 Januari 2011

China Gagas Pesawat Tempur Siluman

0

J-20

BEIJING--MICOM: China tampaknya telah menyelesaikan purwarupa (prototype) pesawat tempur siluman pertamanya, media memberitakan pada Rabu (5/1) dan menyoroti modernisasi militer Beijing menjelang kunjungan menteri pertahanan Amerika Serikat.

Foto yang dipublikasikan di dunia maya dan sumber militer China yang dikutip oleh media Jepang menunjukkan model dari pesawat tempur J-20 yang telah selesai dengan percobaan terbang dilakukan pekan lalu di landasan pacu di bagian barat daya China.

China berencana memulai uji coba penerbangan J-20 secepatnya pada bulan ini dengan rencana untuk mengoperasikan jet itu secara resmi pada awal 2017, tulis surat kabar Jepang Asahi Shimbun mengutip sumber militer China.

Pesawat tempur tersebut dilengkapi dengan peluru kendali besar dan dapat mencapai Guam dengan cara mengisi bahan bakar di udara meski masih memerlukan 10-15 tahun untuk mengembangkan teknologinya hingga setara dengan pesawat tempur siluman AS F-22.

"Meski berusaha keras untuk meningkatkan teknologinya hingga mencapai lautan terbuka, militer China berusaha mempercepat dengan melakukan modernisasi angkatan udaranya," tulis Asahi Shimbun. "Tindakan tersebut mungkin dapat berdampak pada keseimbangan militer di Asia Timur."

Pada akhir 2009, Wakil Kepala Angkatan Udara China, Jenderal He Weirong mengatakan pesawat tempur siluman negara tersebut akan dioperasikan antara tahun 2017-1019. Pejabat di Departemen Pertahanan China menolak untuk segera berkomentar mengenai berita tersebut.

AS saat ini menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan pesawat tempur siluman generasi selanjutnya--F-22. Pada Januari 2010, Rusia memperkenalkan pesawat baru yang yang disebut-sebut sebagai saingan bagi jet AS yang dikembangkan oleh Sukhoi.

Sumber: MEDIA INDONESIA


Minggu, 02 Januari 2011

Membaca Ambisi China di Lautan

0

Ist

Seorang tentara Angkatan Laut China berjalan melalui kapal rudal Varyag yang berada di dok Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, China, 20 April 2010. Dalam waktu dekat, China akan meluncurkan kapal induknya yang dibangun dari kapal induk setengah jadi eks Ukraina.

Tahun 2011 akan menjadi tahun bersejarah bagi China. Jika tak ada perubahan rencana lagi, negeri Tirai Bambu itu akan meluncurkan kapal induk pertamanya, setahun lebih awal dari perkiraan.

Seorang pejabat pemerintah pusat China mengatakan kepada Reuters, kapal induk pertama China itu akan diluncurkan sekitar awal Juli. ”Periode sekitar tanggal 1 Juli, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Partai Komunis, adalah salah satu kemungkinan waktu (peluncuran kapal) itu,” tutur pejabat yang meminta tak disebut namanya ini.

China akan menjadi negara ketiga di Asia, setelah India dan Thailand, yang memiliki armada kapal induk. Namun, jangan bandingkan kapal induk baru ini dengan INS Viraat (berbobot 28.700 ton dalam kondisi muatan penuh; panjang 226,5 meter) milik India atau HTMS Chakri Naruebet (11.486 ton; 182,65 meter) milik Kerajaan Thailand.

Kapal induk China—yang menurut Jane’s Fighting Ships akan diberi nama Shi Lang, yakni nama laksamana China dari Dinasti Qing pada abad ke-17—berbobot 67.500 ton dengan panjang 300 meter. Dibandingkan dengan kapal induk super (supercarrier) kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat, Shi Lang lebih pendek 32 meter.

Kapal ini dibangun dari bekas kapal induk Uni Soviet, Varyag, yang pembangunannya terhenti pada awal 1990-an seiring bubarnya negara adidaya komunis itu. Kapal ini sekelas dengan kapal induk Admiral Kuznetsov, yang masih menjadi satu-satunya kapal induk yang dioperasikan AL Rusia sampai saat ini.

Tahun 1998, sebuah perusahaan swasta Makau membeli kapal setengah jadi itu seharga 20 juta dollar AS dari Pemerintah Ukraina. Informasi awalnya, kapal ini akan dijadikan kasino terapung di pelabuhan Makau.

Namun, pada perkembangannya, kapal yang belum memiliki mesin, kemudi, dan perlengkapan komunikasi serta navigasi ini ternyata ditarik ke sebuah galangan kapal milik Pemerintah China di Pelabuhan Dalian, China timur laut.

Badan kapal yang mulai berkarat pun dibersihkan dan belakangan dicat dengan warna khas kapal-kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Diduga, China membangun sendiri kapal itu menjadi kapal operasional, sebagai bagian dari latihan sebelum memproduksi kapal induk yang 100 persen buatan China.

Jika disamakan dengan Admiral Kuznetsov, Shi Lang akan mampu mengangkut 41 pesawat, terdiri atas 17 pesawat sayap tetap (fixed-wing) sekelas Sukhoi Su-33 dan Sukhoi Su-25, dan 24 helikopter (rotary wing) sekelas Kamov Ka-27. China dikabarkan sudah memesan 50 pesawat Su-33, dengan spesifikasi mampu tinggal landas dari kapal induk, kepada Rusia.

Kapal ini belum menggunakan sumber tenaga nuklir dan tak memiliki sistem ketapel uap untuk meluncurkan pesawat, seperti kapal-kapal induk utama AS. Sebagai gantinya, di ujung geladak kapal dilengkapi dengan ski-jump, atau landasan yang menyudut ke atas, membantu pesawat ”meloncat” untuk mengudara.

Sebelumnya, Dinas Intelijen AL AS memperkirakan, kapal eks Varyag itu akan digunakan sebagai basis latihan pada 2012, sebelum China meluncurkan sendiri kapal induk buatannya setelah 2015. Menurut Michael Mazza, peneliti senior dari Center for Defense Studies (www.defensestudies.org), China berencana membangun empat kapal induk—dua kapal bertenaga nuklir dan dua kapal konvensional—dalam 15 tahun.

Peluncuran kapal induk berkekuatan penuh menandai era baru strategi militer China dan membuktikan ambisi lama negara itu untuk membangun kekuatan AL ”Laut Biru” (blue-water navy), yakni AL yang mampu beroperasi jauh ke tengah samudra, memproyeksikan kekuatan militer China jauh dari rumah.

Syarat keunggulan

Ambisi ini, menurut artikel yang ditulis Ian Storey dan You Ji di GlobalSecurity.org, sudah ada sejak era Laksamana Liu Huaqing, Panglima AL China dan Wakil Ketua Komisi Militer Sentral era 1980-an.

Menurut Liu, setelah China menguasai strategi ”Laut Hijau”, (kekuatan angkatan laut untuk mempertahankan laut teritorial dan garis pantai), China harus menguasai strategi ”Laut Biru”, dengan tujuan mampu memproyeksikan kekuatan hingga kawasan barat Samudra Pasifik.

Liu percaya, satu-satunya cara menjalankan strategi ”Laut Biru” adalah dengan memiliki armada kapal induk yang mampu membawa pesawat tempur, karena keunggulan di laut hanya bisa diraih melalui superioritas dari udara. Sementara gagasan pesawat yang tinggal landas dari wilayah China daratan dan dilanjutkan dengan mengisi bahan bakar di udara dianggap terlalu rentan dari serangan musuh yang mampu menerbangkan pesawat pemburu dari kapal induk mereka.

Namun, ambisi Liu ini tak bisa langsung dikerjakan waktu itu karena pada era 1980-an, Tentara Pembebasan Rakyat China masih konsentrasi menahan ancaman Uni Soviet. Baru setelah raksasa komunis itu bubar (1991), China bisa mengalihkan perhatian ke kawasan Laut China Selatan dan Taiwan.

China membutuhkan kekuatan laut yang tangguh untuk menghadapi konflik di kawasan selatan dan tenggara ini. Gagasan membangun AL ”Laut Biru” yang diperkuat kapal induk pun bangkit lagi.

Untuk mewujudkan ambisinya itu, China membeli tak kurang dari empat kapal induk bekas, yakni HMAS Melbourne dari Australia (dibeli tahun 1985) dan tiga kapal eks Uni Soviet/Rusia, yakni Minsk (1998), Varyag (1998), dan Kiev (2000). China berniat membangun sendiri kapal induknya dengan mempelajari rancang bangun kapal-kapal induk itu. Tawaran kontrak penjualan kapal induk dari Spanyol dan Perancis ditolak oleh China.

Sebelumnya, para pengamat militer menilai, proyek kapal induk China ini terlalu ambisius dan tak akan mampu berbuat banyak untuk menandingi armada kapal induk AS, satu-satunya potensi musuh utama China jika meletus konflik di Taiwan, Korea, dan Laut China Selatan. Alih-alih coba menandingi armada AL AS, pengamat memprediksi China akan menjalankan strategi perang asimetris, yakni dengan mengembangkan peluru kendali (rudal) pelumpuh kapal induk.

Generasi terbaru rudal balistik antikapal milik China, Dong Feng (Angin Timur) DF 21D, yang mampu melesat dengan kecepatan Mach 10 dan berdaya jelajah 3.000 kilometer, diperkirakan akan mulai diuji coba tahun ini dan akan operasional dalam 3-5 tahun mendatang.

Mengubah Asia Timur jauh

Namun, kabar bahwa China juga akan meluncurkan kapal induk pertamanya tahun ini membuktikan ambisi lama itu belum hilang dan pengembangan misil pembunuh kapal induk itu hanyalah satu bagian dari strategi besar China di lautan.

Meski China selalu berkilah program pengembangan militernya adalah untuk tujuan damai dan pertahanan diri, pengoperasian armada kapal induk oleh China tak bisa tidak akan mengubah peta kekuatan di kawasan Asia Timur-Asia Tenggara.

Mazza mengingatkan, kapal induk mewakili kemampuan memproyeksikan kekuatan, yakni membawa kekuatan militer keluar dari wilayah negara itu ke titik mana pun yang ia kehendaki. Jadi sudah tidak melulu menjadi kekuatan bertahan suatu negara.

Dengan klaim teritorial China terhadap Kepulauan Spratly dan Paracel di Laut China Selatan dan Taiwan, dukungannya terhadap Korea Utara, dan konflik teritorial panas dengan Jepang beberapa waktu lalu, pengoperasian armada kapal induk China akan makin menguatkan dugaan selama ini bahwa China tak akan ragu-ragu menggunakan ”diplomasi kapal perang” untuk memaksakan kehendaknya sebagai kekuatan dominan di kawasan.

Storey dan You menambahkan, negara-negara anggota ASEAN, terutama yang bersengketa langsung dengan China dalam urusan Spratly dan Paracel, akan memperkuat kerja sama militer dengan AS. Sementara Jepang hampir dapat dipastikan akan membangkitkan kembali program kapal induknya, yang pernah terbukti sangat menakutkan di era Perang Dunia II.

Kawasan Asia Timur Jauh pun memasuki realitas baru. Di tata dunia baru ini, akan berada di manakah posisi Indonesia?

Sumber: KOMPAS


Kamis, 30 Desember 2010

200 Personel Kapal Perang China Kunjungi KRI Tanjung Nusanive-973

0

JAKARTA (Pos Kota) – Personel 3 kapal perang Angkatan Laut China yang tergabung dalam Satgas Chinese Navy Task Force (CNTF) berjumlah 200 personel melaksanakan kunjungan ke Kapal perang TNI AL KRI Tanjung Nusanive-973 di Dermaga Kolinlamil Tanjung Priok Jakarta.kemarin ,

Para personel yang berkunjung tersebut adalah personel yang mengawaki kapal perang Angkatan laut China dari ABK kapal perang LPD 998, DDG 170 dan AOE 887, melaksanakan kunjungan ke Indonesia sandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Kunjungan angkatan laut China yang tergabung dalam satgas CNTF dengan perwira tertua Senior Capt Chen Lin selaku Wadan satgas CNTF didampingi Perwakilan Athase Pertahanan China untuk Indonesia Major Chong. diterima secara langsung oleh Komandan KRI Tanjung Nusanive-973 Letkol laut (P) Heri Widodo didampingi beberapa perwira di Ball room KRI Tanjung Nusanive-973.

Dalam kesempatan tersebut didepan personel Angkatan laut China , Komandan KRI Letkol laut (P) Heri Widodo menyampaikan selamat datang di kapal perang TNI AL KRI Tanjung Nusanive-973, salah satu unsur kapal perang jajaran Komando Lintas Laut Militer.

Lebih lanjut dalam kesempatan tersebut disampaikan paparan secara garis besar tentang KRI Tanjung Nusanive-973 sebagai kapal perang jenis bantu angkut personel yang bertugas melaksanakan angkutan laut militer dalam rangka melaksanakan tugas pokok Kolinlamil.

Selain itu disampaikan beberapa spesifikasi kapal perang dan jumlah personel yang mengawaki mulai dari tingakat perwira, bintara dan tamtama.

Usai kegiatan pengenalan kapal perang tersebut para tamu personel angkatan laut China diberikan kesempatan berkeliling ke ruang –ruang kapal dengan dipandu oleh para ABK KRI untuk melihat secara langsung berbagai fasilitas dan peralatan yang dimiliki kapal perang KRI Tanjung Nusanive-973.

Para ABK KRI Tanjung Nusanive-973 maupun ABK Kapal perang China menggunakan kesempatan ini sebagai sarana untuk lebih mengenal dan sekaligus berdialok tukar-menukar pengalaman sebagai prajurit angkatan laut.

Sementara itu Senior Capt Chen Lin selaku Wadan satgas CNTF didampingi Perwakilan Athase Pertahanan China untuk Indonesia Major Chong dan beberapa perwira mengadakan ramah-tamah dengan Komandan KRI Tanjung Nusanive-973 Letkol Laut (P) Heri Widodo didampingi beberapa perwira KRI di Long Room Perwira.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan tukar menukar Cindera Mata Komandan KRI dengan Wadan satgas CNTF .dan dilanjutkan dengan membuat foto-foto para ABK kedua Negara di dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

Sumber: POS KOTA


Minggu, 19 Desember 2010

Hadapi AS, Selandia Baru Minta Bantuan China Dan Perancis

0

Foto: David Lange. (smh.com.au)

WELLINGTON - Mantan pemerintah Selandia Baru merayu China dan Prancis untuk melakukan upaya membatasi pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Australia di kawasan Pasifik. Demikian laporan yang mengutip bocoran kawat diplomatik WikiLeaks.

Pihak Selandia Baru juga mengatakan mereka telah mengesahkan undang-undang anti-nuklir dengan alasan penghematan biaya pertahanan serta alasan ideologis yang selalu diungkapkan ke publik. Kebijakan ini yang menimbulkan keretakan dengan Washington.

Seperti dilansir AFP pada Sabtu (18/12/2010), kawat diplomatik tahun 2004 itu diberi judul "Apa Yang Tidak Bisa Kita Katakan dalam Misi Kita". Kawat tersebut mengatakan Partai Buruh yang juga merupakan partai berkuasa di Selandia Baru pada awal dekade 2000an menggoda China dan Prancis membantu mereka membatasi pengaruh AS dan Australia di kawasan Pasifik.

Dalam sebuah kunjungan yang dilakukan Wakil Menteri Perdagangan China, Menteri Perdagangan Selandia Baru Jim Sutton mengklaim China sebagai mitra dagang yang paling penting dan berharga bagi Selandia Baru. Klaim tersebut telah membuat para pejabat Australia bertanya-tanya.

Pemerintah dari Partai Buruh, yang kala itu dipimpin David Lange, juga merupakan faktor mengapa Washington dan Wellington tidak memiliki hubungan yang terlalu baik. Lange adalah pihak yang memperkenalkan undang-undang anti nuklir pada dekade 1980an. Kebijakan yang tidak disukai AS itu terus dipertahankan hingga beberapa dekade.

Kawat tersebut juga mengungkapkan sejumlah pejabat pemerintahan senior Selandia Baru mengatakan kepada para pejabat AS bahwa mereka sesungguhnya mengetahui kebijakan (anti nuklir) akan membuat mereka dikeluarkan dari aliansi ANZUS (Australia, New Zealand, United States). Namun Selandia Baru justru senang dengan keputusan ini. Mereka mengatakan dengan keluar dari ANZUS, Selandia Baru akan dapat menghemat pengeluaran pertahanan di tengah masa krisis ekonomi dan fiskal.

Sumber: OKEZONE


Sabtu, 18 Desember 2010

Jepang Perbarui Pertahanan Sebesar 2.527 Triliun Rupiah

0

Kapal Selam Jepang.

TOKYO – Jepang mengesahkan versi terbaru kebijakan pertahanan nasionalnya, Jumat (17/12). Versi terbaru kebijakan pertahanan ini dirancang khusus untuk membuat negara itu lebih sanggup menghadapi militer China yang kekuatannya makin meraksasa. Di bawah kebijakan pertahanan yang dinamakan Garis Besar Program Pertahanan Nasional itu, Jepang akan mengalokasikan dana sebesar 23,49 triliun yen ( 2.527 triliun rupiah) untuk anggaran pertahanan selama lima tahun, terhitung mulai April 2011.

Anggaran ini akan membuat militer Jepang lebih sanggup untuk melakukan ekspansi pengamanan hingga ke wilayah perbatasannya dengan China, yaitu dengan meningkatkan jumlah pesawat tempurnya yang ada di Pulau Okonawa dan penambahan jumlah pasukan mereka di pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan China. Pembaharuan kebijakan pertahanan di atas merupakan yang pertama kalinya dilakukan Jepang dalam enam tahun terakhir, serta yang pertama kalinya juga dilakukan Jepang di bawah pemerintahan Perdana Menteri Naoto Kan.

“Saya kira kami telah berhasil membuat kebijakan pertahanan yang lebih tepat untuk menghadapi makin rentannya situasi keamanan di kawasan ini,” kata Menteri Pertahanan Jepang, Toshimi Kitazawa. China menanggapi pengesahan kebijakan baru pertahanan Jepang di atas dengan memfokuskan pada aspek positif pertumbuhan militer dan ekonominya ke tingkat global.

“Kami tak ingin menjadi ancaman bagi bangsa mana pun. Perkembangan China justru membawa peluang berbagi kesejahteraan bagi semua negara, termasuk Jepang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Jiang Yu, dalam laman resmi kementerian tersebut.

Sejak masa Perang Dingin, Jepang sebelumnya hanya memfokuskan kemampuan pertahanannya ke arah utara, yaitu lebih dari 1.000 tank disiagakan untuk menghadapi potensi serangan Uni Soviet dan Rusia. Namun, berdasarkan kebijakan baru di atas, Jepang akan menurunkan jumlah tank-tank di atas. Sebaliknya, Jepang meningkatkan jumlah kapal selamnya menjadi 22 buah.

Sumber: KORAN JAKARTA


Jumat, 17 Desember 2010

Jepang Khawatirkan Kebangkitan Militer Cina

0

Armada Angkatan Laut China.

TOKYO, (PRLM).- Jepang menyebut kebangkitan militer Cina sebagai sumber kekhawatiran internasional. Kesimpulan tersebut terncantum dalam kajian pertahanan pemerintah Jepang, yang telah disetujui oleh kabinet.

Wartawan "BBC" di Tokyo mengatakan dari kajian ini terlihat Jepang mengubah kebijakan pertahanan, untuk disesuaikan dengan perubahan keseimbangan kekuatan di Asia. Kekuatan militer akan lebih difokuskan di pulau-pulau selatan, dekat dengan Cina. Penguatan di selatan ini diiringi dengan pengurangan kekuatan di wilayah utara.

Sejak "Perang Dingin" pemerintah Jepang memberikan perhatian yang besar di wilayah utara untuk mengantisipasi invasi Rusia. Jumlah tank akan dikurangi sepertiga namun kapal selam akan ditambah. Demikian juga dengan jet tempur.

Kajian pertahanan ini juga menyebut Korea Utara sebagai faktor penyebab ketidakstabilan karena rudal dan program nuklir yang dijalankan pemerintah Pyongyang. Untuk mengantisipasi kemungkinan serangan Korut, Jepang akan menempatkan pencegat rudal di seluruh negeri dan jumlah kapal perang yang bisa menembak rudal akan ditambah.

Kekuatan militer Jepang lebih besar dari Inggris namun undang-undang dasar mereka tidak membolehkan militer melakukan serangan.

Kajian yang akan dipakai sebagai dasar penyusunan kebijakan pertahanan selama sepuluh tahun ke depan ini akan diikuti secara seksama oleh sejumlah negara di Asia. Beberapa kalangan mengatakan agresi Jepang di Perang Dunia II belum sepenuhnya dilupakan oleh sejumlah negara Asia.

Sumber: PIKIRAN RAKYAT




 

Pindah Ke mik-news.blogspot.com Copyright © 2010 theme is Designed by admin